Anak-anak Allah

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 1

Salah satu masalah besar yang dihadapi kaum muda adalah krisis identitas. Menurut ilmu kejiwaan, krisis identitas adalah kegagalan dalam mencapai identitas ego yang umumnya terjadi sewaktu masa remaja. Pada saat itu kaum remaja menghadapi pertumbuhan badan dan perkembangan seksuil. Mereka juga berusaha menyatukan pandangan mereka tentang diri sendiri dan pandangan orang lain tentang mereka. Dalam hal ini, kerapkali mereka merasa bahwa orang lain tidak dapat mengerti tentang keadaan mereka. Karena itu tidaklah mengherankan jika masa remaja bagi mereka terasa membingungkan. Mereka mungkin merasa terkucil dari masyarakat dan hal ini bisa menimbulkan rasa sedih atau marah.

Krisis identitas tidak selalu membuat setiap remaja mengalami masalah. Mereka yang mempunyai orang tua yang bijaksana dan guru yang baik, harus merasa beruntung karena apa yang mereka pelajari bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Sekalipun mereka sering merasa orang lain kurang dapat menyelami hati dan pikiran mereka, perhatian dan kasih yang diterima dari para pembimbing bisa membimbing mereka agar terus tumbuh ke arah kedewasaan.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin pernah juga merasakan krisis identitas. Masyarakat yang tidak mengenal Tuhan sering memandang kita sebagai manusia yang aneh, sok atau munafik. Jika kita berusaha hidup jujur menurut firmanNya, dunia memandang kita aneh karena tidak mau menggunakan kesempatan untuk mencari keuntungan. Jika kita berusaha untuk hidup dalam kebenaran, orang mungkin memandang kita sebagai orang yang sok saleh. Dan jika kita menasihati orang lain agar mengubah cara hidup mereka, mungkin kita dituduh munafik.

Hidup di dunia di antara orang yang tidak berTuhan, yang tidak mengenal Juruselamat Yesus Kristus, dan yang menuruti keinginannya sendiri sering membuat kita bingung. Siapakah kita ini? Mengapa Tuhan menghendaki kita untuk menegaskan adanya perbedaan antara umatNya dan mereka yang tidak mengenal Dia? Bukankah dengan demikian kita justru mengundang banyak musuh, dan menjumpai banyak orang-orang yang tidak menyenangi kita?

Siapakah kita? Ayat di atas menjelaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah, karena kasihNya yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus kita. Karena itu kita tidak boleh ragu akan identitas kita. Sekalipun dunia tidak mengenal kita sebab dunia tidak mengenal Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus, kita tidak boleh ragu atau gentar dalam menjalani hidup kita di dunia. Sebagai anak-anak Allah kita harus bisa bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus untuk menjadi dewasa dalam iman, dan bisa selalu hidup dalam kebenaranNya agar tidak terpengaruh atau terseret oleh arus dunia.

Hidup adalah sebuah perjalanan

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Hidup adalah sebuah perjalanan. Life is a journey. Benarkah? Mungkin mereka yang sekarang ini berada di kapal pesiar Diamond Princess tidak setuju. Sampai saat ini, 3700 penumpang dan awak kapal masih dikarantina oleh pemerintah Jepang di pelabuhan Yokohama karena wabah coronavirus yang sudah menjangkiti lebih dari 200 orang di kapal itu. Karena itu, sejak tanggal 4 Febuari kapal itu tidak diperbolehkan untuk meninggalkan dermaga. Perjalanan yang diharapkan banyak orang, sekarang agaknya sudah kehilangan tujuan.

Mereka yang ingin menikmati perjalanan yang berkesan, mungkin hanya sekali seumur hidup, sekarang harus tinggal terkurung dalam kamar atau dalam kapal setidaknya selama 14 hari. Agak beruntung mereka yang mempunyai kamar yang berbalkon karena mereka masih bisa melihat pemandangan, tetapi bagi mereka yang tinggal di inside cabin, ruang yang di tengah kapal, hanya 4 tembok yang bisa mereka lihat setiap hari. Bagi mereka, hidup bukanlah sebuah perjalanan, tetapi sebuah kurungan.

Alkitab menyatakan bahwa hidup manusia di dunia memang seperti sebuah perjalanan. Itu karena hidup ini harus dijalani setiap orang untuk mencapai tujuan tertentu. Bagi sebagian orang, tujuan hidup selama di dunia adalah sesuatu yang tidak jelas. Bagi orang lain, mencapai tujuan hidup bisa dilakukan dengan santai. Mungkin hidup santai adalah apa yang diinginkan. Sebaliknya, sebagian orang mungkin percaya bahwa tujuan hidup adalah bekerja keras untuk mencapai keberhasilan di dunia. Dalam hal ini, jika tujuan hidup sulit dicapai, rasa sesal dan putus asa mungkin muncul.

Apa sebenarnya tujuan hidup orang Kristen? Orang Kristen yang mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan tentu percaya bahwa manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Mereka sadar bahwa karena Tuhan sudah lebih dulu menyatakan kasihNya dalam diri Yesus, mereka terpanggil untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Dengan demikian tujuan hidup di dunia bukanlah untuk mencapai keuntungan dan kemegahan diri sendiri.

Hidup umat Kristen adalah suatu bagian perjalanan untuk menemui Tuhan di surga. Karena itu selama hidup di dunia, orang Kristen berusaha memusatkan pandangannya ke masa depan, ke arah persekutuan kekal dengan Tuhan dan seluruh umat percaya di surga. Dengan demikian, mereka berusaha untuk menjalani hidup dalam kebenaran. Ini tidak mudah dilakukan karena sebagai manusia yang tidak sempurna, kerapkali mereka mengalami masalah dan kegagalan.

Paulus dalam ayat di atas menyatakan bahwa ia juga harus berjuang untuk bisa hidup menurut kehendak Tuhan. Mungkin terkadang ia merasa lelah dan jemu karena perjalanan hidup yang berat, dan adanya kegagalan atau penderitaan. Walaupun demikian, ia melupakan apa yang di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya. Apa yang sudah terjadi dibiarkannya berlalu, tetapi dengan bersemangat ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu kemuliaan di surga bersama Allah karena kasihNya dalam Kristus Yesus. Hidup orang percaya memang adalah sebuah perjalanan dalam iman!

Teman sehati sependeritaan

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” 1 Korintus 9: 22

Dalam hidup ini mencari teman yang baik tidaklah mudah. Jika kita sedang berjaya, teman mungkin datang tanpa diundang. Tetapi, jika kita lagi dirundung malang, teman yang dulunya terlihat baik belum tentu mau datang. Karena itulah peribahasa menyebutkan bahwa teman sejati adalah teman dalam penderitaan. A friend in need is a friend indeed.

Menjadi teman sejati bagi orang lain adalah panggilan setiap orang Kristen karena perintah Tuhan kepada umatNya untuk mengasihi sesama manusia. Tetapi ini tidak mudah dilaksanakan dengan cara yang benar.

Kebanyakan orang memilih cara yang paling mudah untuk mengasihi orang lain, yaitu dengan menyumbang atau memberi sesuatu yang mungkin dibutuhkan mereka. Dengan demikian, banyak orang yang menempatkan dirinya sebagai penolong orang lain karena bisa membantu orang itu secara jasmani. Bagi gereja pun, cara yang termudah untuk mengasihi orang yang di luar gereja adalah dengan memberi secara materiil. Setiap ada kesempatan, jemaat mengumpulkan uang atau barang untuk diberikan kepada mereka yang terlihat miskin.

Mempunyai perasaan simpati adalah sudah seharusnya. Walaupun demikian, Paulus dalam ayat di atas menegaskan bahwa kita sebagai orang Kristen harus mempunyai rasa empati. Baik simpati maupun empati berasal dari kata Yunani pathos yang berkaitan dengan penderitaan dan perasaan. Tetapi kedua kata ini memiliki perbedaan inti: simpati menggambarkan perasan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihan mereka.

Kepada kita firman Tuhan mengingatkan bahwa jika kita ingin bekerja untuk Tuhan dalam membimbing orang lain ke arah yang benar, kita harus bisa menjadi orang yang sehati sependeritaan dengan mereka yang kekurangan, sakit, takut dan tertindas dan bukan hanya bisa mengulurkan tangan kita dari tempat yang tinggi.

Sebagai orang Kristen kita tidak cukup untuk menunjukkan belas kasihan kita untuk mereka yang menderita. Kita harus bisa menempatkan diri dalam keadaan mereka dan mempunyai empati atas kesedihan mereka. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk bisa ikut menggumuli perjuangan mereka agar mereka bisa juga merasakan kasih yang sudah kita terima dari Tuhan. Semoga banyak orang bisa menjadi umat Tuhan melalui apa yang baik yang kita lakukan!

Makin lama makin kuat

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4: 16 – 17

Tahukah anda bahwa salah satu penyakit yang jarang disadari orang adalah osteoporosis? Osteoporosis adalah kondisi saat kualitas kepadatan tulang menurun. Kondisi ini membuat tulang menjadi keropos dan rentan retak. Osteoporosis umumnya baru diketahui setelah ditemukan retak pada tulang, setelah pasien mengalami jatuh ringan. Retak pada pergelangan tangan, tulang pinggul, dan tulang belakang adalah kasus yang paling banyak ditemui pada penderita osteoporosis.

Seiring dengan pertumbuhan badan, sejak lahir kepadatan tulang manusia ikut bertambah sampai umur 25 tahun. Dalam tahun-tahun berikutnya, kepadatan tulang manusia cenderung tidak berubah sampai mencapai umur 50 tahun. Setelah itu tulang manusia mulai turun kepadatannya dan tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan manusia untuk menghentikan proses penuaan ini selain memperlambat proses penurunan kepadatan tulang dengan diet sehat dan olahraga. Proses penuaan dan kematian memang tidak bisa dihindari siapa pun.

Menjadi tua bagi banyak orang adalah sebuah penderitaan karena kemampuan fisik yang menurun. Bagi yang masih tergolong muda, tidaklah mudah menghadapi kenyataan bahwa orangtua mereka yang dulunya kuat dan sehat dan sekarang mulai terlihat lemah dan membutuhkan pertolongan mereka untuk berbelanja atau melakukan aktivitas yang lain. Rasa sedih mungkin muncul di hati kita mengapa keadaan lahiriah orang yang kita cintai harus mengalami kemerosotan, tetapi kita mungkin harus bersyukur jika mereka bertambah tua tetapi tetap mempunyai rasa damai dan  syukur. Memang banyak orang tua yang mengerti the art of growing old gracefully. Mereka yang tahu hal ini  biasanya bisa menerima keadaan dan tetap dapat menemukan apa yang baik dalam hidupnya.

Memang, jika kesehatan jasmani itu penting, kesehatan rohani itu ternyata jauh lebih perlu terutama ketika tubuh sudah mulai melemah. Kebahagiaan ternyata tidak identik dengan tubuh yang tegap dan tampang yang memikat. Mereka yang merasa bahwa masa muda adalah masa yang terbaik bagi mereka mungkin tidak sepenuhnya keliru. Masa muda adalah masa yang terbaik jika mereka tidak dapat menemukan apa yang baik di masa tua. Masa muda adalah masa yang terbaik jika orang tidak pernah memikirkan bahwa dengan bertambahnya umur mereka harus bisa mengalami pertumbuhan rohani.

Dalam ayat di atas Paulus menulis bahwa ia tidak menjadi sedih sekalipun manusia lahiriahnya semakin merosot, sebab manusia batiniahnya diperbaharui setiap hari. Ia makin hari makin dekat dengan Tuhannya. Sekalipun sering ia mengalami penderitaan fisik, kemajuan dalam hal kerohanian membuat dia makin sadar bahwa ia makin dekat kepada kemuliaan yang dijanjikan Tuhan di surga. Ini jauh lebih besar dari penderitaannya di dunia. Dengan kesadaran bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan jauh lebih pendek dari hidup kekal yang ada di surga, Paulus tidak merasa bahwa hidup di dunia adalah sesuatu yang harus disesali atau diisi dengan keluh kesah.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita untuk lebih  memusatkan perhatian kepada hidup kerohanian kita. Mempunyai hidup batiniah yang baik adalah mutlak diperlukan agar kita makin mengenal Tuhan yang sudah menyatakan diriNya kepada kita dan makin bisa mengerti akan kasihNya. Manusia lahiriah kita mungkin makin merosot, dan tantangan kehidupan mungkin membuat tubuh jasmani kita lemah, tetapi manusia batiniah kita haruslah tumbuh semakin kuat. Sekalipun banyak tantangan dalam hidup kita, iman kita akan semakin besar dalam persekutuan rohani kita  dengan Tuhan yang mahakasih.

Dari manakah datangnya kekuatanku?

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” 2 Korintus 4: 8 – 10

Berita media tentang wabah coronavirus pagi ini agaknya membuat gundah banyak orang di seluruh dunia. Bukan saja di China, virus ini juga makin menyebar dan memakan korban jiwa di berbagai negara. Memang hal semacam ini tidak bisa dianggap “monopoli” suatu bangsa saja. Di dunia ini selalu ada hal-hal yang membuat manusia dimana pun menderita, baik tua atau muda, lelaki atau wanita, miskin atau kaya.

Jika manusia dimana saja bisa jatuh dalam penderitaan, ada sebuah pertanyaan yang mungkin menggelitik hati nurani kita: apa gunanya menjadi pengikut Kristus? Bagi sebagian orang Kristen, pertanyaan ini mungkin sering ditepis dengan keyakinan bahwa sekalipun orang lain mengalami bencana, orang yang beriman tidak mungkin mengalami hal yang sama. Karena itu mereka mungkin percaya bahwa setiap penderitaan adalah hukuman atas dosa yang dilakukan orang. Di lain pihak, Tuhan selalu memagari umatNya dari semua kesulitan, penderitaan dan bencana. Ini adalah keyakinan yang keliru.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya pernah dan sering mengalami penderitaan dalam hidup mereka. Dalam segala hal mereka ditindas, tetapi mereka tidak putus asa. Mereka dianiaya, namun tidak merasa ditinggalkan sendirian; mereka dihempaskan, namun masih bertahan hidup.

Hal yang sangat berat dalam hidup murid Tuhan pada waktu itu, tentunya masih terjadi di zaman ini sekalipun mungkin lain penyebabnya. Dalam hal ini, masyarakat yang cenderung individualistis saat ini seringkali membuat orang Kristen mudah mengalami hal-hal yang mengguncangkan iman mereka: Tuhan terasa jauh dan teman sehati sulit ditemukan.

Apa yang harus kita lakukan ketika ada masalah besar di depan kita? Bagaimana kita dapat bertahan dalam menghadapi penderitaan, kekurangan, ketakutan, dan rasa sakit? Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya senantiasa mengingat kematian Yesus di dalam hidupnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata.

Paulus dan rekan-rekannya selalu sadar bahwa Yesus sudah pernah mengalami penderitaan yang besar di kayu salib dan bahkan merasakan bagaimana sakitnya ketika Ia dipisahkan dari Allah Bapa. Walaupun Yesus merasakan derita yang luar biasa, Ia yakin akan kasih Bapa dan karena itu Ia tetap setia sampai akhir.

Dengan kebangkitanNya Yesus membuktikan bahwa maut tidak berkuasa atasNya. Bagi Paulus dan rekan-rekannya, Yesus adalah Tuhan dalam mati dan kebangkitanNya. Karena itu, dalam menghadapi segala penderitaan, mereka percaya bahwa pada akhirnya mereka akan menang seperti Yesus dan memperoleh mahkota kehidupan.

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus 1: 12

Masih adakah rasa hormat dan takut kepada Tuhan?

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut.” Ibrani 12: 28

Jika kita memperhatikan hidup umat Kristen di berbagai tempat di dunia, kita dapat melihat bahwa tiap komunitas mempunyai cara dan ciri tertentu dalam berbakti kepada Tuhan. Walaupun demikian, di zaman ini makin sering terlihat di gereja orang yang berbakti atau berdoa dengan santai, seolah-olah mereka pergi ke rumah teman, ke pesta atau ke bioskop. Malahan juga sering terlihat bahwa dalam kebaktian orang sibuk memakai ponselnya untuk berkomunikasi dengan teman yang berada di tempat lain. Agaknya sulit bagi mereka untuk duduk diam sejam dalam seminggu dan untuk sejenak melupakan kesibukan sehari-hari.

Dengan kemajuan zaman, memang banyak orang Kristen cenderung untuk bersifat “casual” dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Rasa hormat dan takut kepada Tuhan agaknya sudah sangat berkurang, seiring dengan berkurangnya rasa hormat kepada guru, orangtua dan atasan. Dengan demikian, komunikasi dengan Tuhan melalui doa dan mempelajari firmanNya sekarang sudah menjadi beban yang harus dilaksanakan secepat dan sesingkat mungkin.

Pada beberapa kebaktian gereja, rasa hormat dan khusyuk juga sudah berubah menjadi “kebebasan” yang bukan memuliakan Tuhan, tetapi membesarkan manusia. Acara kebaktian untuk Tuhan sudah berubah menjadi show atau tontonan saja. Rasa hormat dan takut kepada Tuhan diganti dengan rasa kagum kepada orang-orang yang mengaku punya pengalaman dan kemampuan tertentu.

Di zaman sekarang memang banyak orang mengaku pernah berjumpa secara langsung dengan Tuhan. Tetapi, sekalipun Tuhan bisa muncul dalam bentuk apapun jika Ia mau, pada dasarnya Ia bukan Oknum yang bisa dijumpai secara jasmani. Hanya Yesus yang pernah melihat Allah (Yohanes 1: 18), sedangkan manusia melalui penampakan oleh Tuhan (theophany) terkadang bisa merasa berjumpa dengan Tuhan. Pada pihak yang lain, semua orang Kristen bisa merasakan perjumpaan dengan Tuhan secara rohani dalam doa dan ibadah yang benar.

Perjumpaan dengan Tuhan bukanlah hal yang kecil. Musa sebagai contoh, mendapat peringatan dari Tuhan ketika ia menjumpaiNya:

Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Keluaran 3: 5 – 6

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Tuhan kita harus menempatkan diri kita dan sesama manusia pada tempat yang seharusnya. Sebagai manusia kita sudah dipilihNya untuk diselamatkan melalui pengurbanan Yesus, dan kita diangkat sebagai anak-anakNya. Walaupun demikian, Tuhan yang di surga adalah Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, kita harus mengucap syukur dan beribadah kepada Dia saja dan menurut cara yang berkenan kepadaNya, yaitu dengan rasa hormat dan takut. Segala pujian dan sembah hanya untuk Dia!

Mengurangi keinginan adalah kunci kebahagiaan

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Bacaan: 1 Timotius 6: 6 – 10

Apa arti kata “ibadah”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Dalam ayat di atas kata “ibadah” dipakai, tetapi dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “godliness” lah yang sering dipakai. Kata ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “kesalehan”, yaitu hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Hidup manusia di dunia bukan hanya diisi dengan perbuatan, tetapi mencakup banyak hal seperti perkataan, pekerjaan, pikiran, tingkah laku, dan sebagainya. Dengan demikian, hidup manusia adalah sesuatu yang bisa membedakan keadaan manusia yang satu dengan yang lain. Mereka yang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, memperoleh hidup baru yang berpusat pada Dia.

Diantara umat percaya yang sudah menerima hidup baru, perbedaan antara orang yang satu dengan yang lain tetap ada karena tiap orang tentunya memiliki tingkat kedewasaan iman yang berbeda. Oleh sebab itu, ada orang Kristen yang hidupnya terlihat berbahagia sekalipun berada dalam perjuangan, tetapi ada juga orang Kristen yang hidupnya enak tetapi tidak menunjukkan adanya sukacita.

Ayat di atas menyebutkan bahwa hidup orang Kristen yang disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Mengapa begitu? Banyak orang yang berpendapat bahwa hidup bahagia bisa tercapai jika orang bisa mencapai apa yang diinginkan. Di zaman ini sering diajarkan bahwa melalui Tuhan berbagai berkat akan datang melimpah kepada mereka yang mau meminta. Tetapi, ayat di atas menyatakan bahwa kebahagiaan justru bisa tercapai dengan mengurangi apa yang diinginkan dari Tuhan.

Hidup dengan rasa cukup memberi keuntungan besar. Tetapi bagaimana mengartikan rasa cukup? Setiap orang tentunya menafsirkan ini menurut ukurannya sendiri. Bagi sebagian orang, rasa cukup sulit dicapai karena adanya keinginan dan kebutuhan yang semakin lama semakin besar. Dengan demikian, rasa bahagia dan rasa puas tentu saja sulit untuk dicapai. Karena itu Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis bahwa jika orang ingin untuk berbahagia, ia justru harus bisa merasa puas dengan apa yang sudah ada.

Paulus melanjutkan dengan menulis bahwa manusia tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan mereka tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Karena itu, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dengan adanya rasa cukup, rasa sukacita akan tumbuh; tetapi tanpa adanya rasa cukup orang akan selalu merasa kurang puas dan kecewa. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang ingin kaya sering terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!

Hal mengampuni kesalahan orang

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Hari ini saya membaca di media bahwa seorang ibu yang kehilangan tiga anak karena ditabrak oleh seorang pengemudi yang sedang mabuk, berkata bahwa ia tidak membenci pembunuh anak-anaknya. Sekalipun ia pada saat ini tidak mau menemui orang itu, ia mau mengampuninya dan hanya berharap agar pengadilan memberi hukuman yang sepantasnya. Bagi saya ini adalah sesuatu yang luar biasa, bahwa kemarahan dan kebencian bisa padam karena adanya kasih dalam hati orang Kristen. Kasih yang sudah diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan oleh umatNya.

Pernahkah anda memaafkan orang yang bersalah kepada anda? Jika ya, apakah anda benar-benar mengampuni orang itu dengan melupakan segala kesalahan dan cacat celanya? Banyak orang yang berkata bahwa mereka bisa mengampuni orang tetapi tidak dapat melupakan perbuatannya. Dengan demikian, bayangan tentang orang itu dan kejahatannya selalu ada dalam pikiran dan tentunya setiap kali muncul bisa menimbulkan kemarahan atau rasa benci yang membuat diri mereka sangat menderita. Tetapi, saya yakin ada orang yang benar-benar bisa mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain. Itu tentu ada sebabnya.

Jika hal mengampuni kesalahan orang lain adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia, bagi Allah yang mahasuci tentunya akan lebih sulit lagi  untuk mengampuni manusia yang berdosa kepadaNya. Karena standar kesucian Allah yang mahatinggi, tidak akan ada seorang pun yang bisa diampuniNya, jika tidak ada penebusan oleh darah Yesus. Karena Yesus sudah mati ganti kita, Tuhan mau mengampuni kita dan melupakan  dosa kita sekali pun kita mempunyai dosa sebesar apa pun.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Bagaimana Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu dapat melupakan sesuatu peristiwa? Banyak orang berpikir bahwa jika Tuhan bisa lupa, Ia bukanlah Oknum yang mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan bisa mengampuni dan melupakan dosa kita karena Ia dengan sengaja tidak mau memikirkan hal itu. Sebagai Tuhan yang mahakasih Ia mengambil keputusan untuk memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada Yesus yang sudah dikaruniakanNya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Dengan demikian, Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita patutlah menghendaki agar manusia mau mengasihi Dia dan sesama kita karena Tuhan mengasihi seisi dunia ini. Dalam hal ini, selama hidup di dunia tentu lebih mudah bagi manusia untuk mengasihi sesama manusia yang bisa dilihatnya daripada mengasihi Tuhan.

Bagi manusia, tidaklah mudah untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah yang Roh dan karena itu jika ada orang yang berkata bahwa ia mengasihi Allah, itu terjadi karena Allah sudah membuka mata rohaniNya. Orang yang sedemikian sudah menjadi ciptaan baru yang mengenal apa yang dikehendaki Allah dan melaksanakan perintahNya. Dengan demikian, mereka yang mengaku mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, perlu bertanya kepada diri sendiri bagaimana ia bisa mengasihi Allah tanpa melakukan apa yang diperintahkanNya.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 1 Yohanes 4: 20

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Yesus sudah datang untuk menebus dosa kita dan karena itu seluruh dosa kita sudah diampuni Tuhan. Mengapa pula kita merasa berat untuk mengampuni sesama kita jika mereka juga dikasihi Tuhan dan diberi kesempatan untuk menerima keselamatan jika mereka mau bertobat?

Berdoa itu memang tidak mudah

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Ingatkah anda akan doa pertama yang pernah anda ucapkan? Saya sendiri sudah lupa akan apa yang saya ucapkan sebagai doa makan ketika saya berumur 8 atau 9 tahun. Ketika itu ayah saya mengingatkan agar saya mau mulai berdoa sendiri, dan tidak mengharapkan orang lain mendoakan saya. Doa adalah hubungan komunikasi pribadi antara seseorang dengan Tuhannya dan karena itu harus disampaikan oleh orang yang bersangkutan menurut imannya.

Sebagaimana Yesus sudah mengajar murid-muridNya berdoa, setiap orang Kristen harus mau dan bisa berdoa sendiri, tanpa bantuan orang lain. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan atau dibiasakan. Karena itu banyak orang yang selalu ingin didoakan dan mengharapkan orang lain yang memimpin doa.

Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa adalah lebih baik jika kita berdoa secara kolektif. Dalam hal ini, orang sering mengutip ayat dalam Matius 18: 19 – 20 yang berbunyi “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Tetapi, ayat itu sebenarnya tidak menyebutkan bahwa doa orang banyak akan lebih didengar Tuhan daripada doa perseorangan. Ayat itu bersangkutan dengan pertikaian di antara orang Kristen: mereka yang ingin doanya didengar Tuhan hendaknya mau berdamai dan bersatu hati dengan yang lain sebelum menyampaikan doa mereka.

Doa jelas adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak merasakan kerinduan untuk berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar.

Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Dan ketika hidup penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Tetapi sebagai umat percaya, kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang berdoa.

Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita agar tidak mendukakan Roh Kudus dengan mencoba melarikan diri dariNya. Apa yang harus kita lakukan justru membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan!

Hal mendua hati

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16: 13

Jika ada sesuatu di bumi yang sangat mempengaruhi hidup manusia, itu pastilah uang. Uang yang pada dasarnya adalah alat untuk melakukan transaksi jual beli, sudah sejak dulu menjadi sesuatu yang dibutuhkan masyarakat yang sudah maju budayanya.

Ketergantungan manusia pada uang ada dimana saja. Tanpa uang orang tidak akan dapat membeli apa yang diperlukan dalam hidupnya. Money is everything. Dengan demikian, banyak orang yang menderita karena tidak adanya uang untuk membiayai kebutuhan mereka.

Banyak orang yang percaya bahwa dengan adanya uang, ada kehidupan. Kehidupan itu ada jika uang ada, dan kehidupan ada untuk menghasilkan uang. Money is life and life is money. Karena itu, mereka yang hidup di negara kaya seringkali mengira bahwa mereka yang hidup di negara miskin tidak akan dapat merasakan kebahagiaan. Mereka yang miskin tentunya selalu menjadi bulan-bulanan orang kaya. Itu agaknya karena uang memberi atau dapat membeli kekuasaan. Money is power.

Alkitab mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang dipercaya oleh dunia. Jika dunia menaruh kepercayaaan pada uang, Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah yang mahakaya sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6 – 7).

Kita juga tahu bahwa selama hidup di dunia Yesus mengembara dan tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap.

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 10

Dengan demikian, mereka yang ingin menjadi pengikut Yesus di dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus siap untuk menempatkan Yesus di atas segala-galanya, dan mau menderita untuk melebarkan kerajaanNya. Ini jelas berbeda dengan pandangan umum yang menempatkan uang, kuasa, kesuksesan dan hal-hal duniawi lainnya sebagai pusat kehidupan.

Memang selama hidup di dunia kita memerlukan uang untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup, tetapi kita tidak boleh memusatkan hidup kita hanya untuk mengejarnya. Sebaliknya, kita harus bisa meniru Rasul Paulus yang ingin untuk mengejar pengenalan akan Yesus.

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri …” Filipi 3: 7 – 9

Mengapa Paulus yang pada mulanya mengejar keuntungan duniawi kemudian menganggapnya sebagai sampah? Bukankah itu terlalu ekstrim? Salahkah kita jika ingin mendapatkan kepuasan duniawi dan juga kebahagiaan surgawi? Ayat pembukaan kita jelas menyatakan bahwa pilihan ada di tangan kita, kepada siapa kita menyerahkan hidup kita. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita harus memilih Mamon yang melambangkan uang, kedudukan dan hal-hal duniawi lainnya, atau Tuhan yang mahakuasa. Mana yang anda pilih?