Mengabaikan Tuhan besar resikonya

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Dunia ini makin lama makin maju saja dalam hal teknologi. Seiring dengan itu, berbagai produk yang canggih dan mewah muncul dan ditawarkan kepada mereka yang senang memakai berbagai perlengkapan atau gadget yang serba “wah”. Untuk memiliki benda-benda itu tentunya diperlukan uang yang tidak sedikit.

Sebuah HP yang canggih di Australia misalnya, sekarang ini bisa mencapai harga $3800, dan ini mungkin hanya untuk mereka yang kaya. Mereka yang mempunyainya tentu bisa membanggakan ketebalan ukuran dompetnya, tetapi mereka yang kurang mampu mungkin hanya bisa memakai jenis yang murah, barangkali seharga $50 saja. Sudah tentu HP yang mahal sering menjadi incaran orang untuk dijual di pasar gelap.

Bagi banyak orang yang menginginkan barang-barang mewah, tekanan hidup mungkin berkaitan dengan keinginan untuk selalu bisa mendapatkan apa yang terbaik, yang bisa dipamerkan atau show off. Sebaliknya, bagi mereka yang kurang mampu, tekanan hidup mungkin saja berkaitan dengan hal mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk bisa terus bertahan atau survive. Dengan demikian, banyak orang mungkin terpikat untuk melakukan apa pun asal tujuan tercapai. Mereka lupa bahwa mengabaikan Tuhan adalah sikap hidup yang mempunyai resiko besar.

Ayat di atas adalah ayat yang sangat tepat untuk kita yang hidup di zaman dimana banyak orang sudah mengabaikan Tuhan. Banyak orang yang sudah kehilangan rasa takut kepada Tuhan pada akhirnya berani melakukan apa saja asal tujuan tercapai. Bahkan, pengabdian kepada Tuhan mungkin sudah diganti dengan pengabdian kepada hal-hal duniawi seperti pekerjaan, kekayaan, kemasyhuran, kenikmatan dan sebagainya. Karena itu, Tuhan menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang tidak benar, sehingga mereka melakukan kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, kedengkian, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

Pagi ini kita membaca bahwa Tuhan membiarkan manusia yang mengabaikanNya karena sekalipun mereka sudah mengerti akan kehendak Tuhan, mereka menuruti kemauan mereka sendiri (Roma 1: 19 – 21). Dengan demikian, kekacauan dan kehancuran hidup menanti mereka yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan.

Mengapa Tuhan membiarkan manusia yang karena kebodohannya sudah mengabaikanTuhan? Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan itu kejam. Benarkah? Tuhan adalah maha pengasih, tetapi Ia tidak akan memaksa orang yang mengabaikan Dia dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Sebagai Bapa, Ia menantikan kita yang sudah mengabaikan Dia untuk kembali mengenal dan taat kepada Dia. Tetapi, jika kita selalu mengabaikan Dia dan hidup kita menjadi berantakan, itu adalah akibat pilihan kita sendiri.

Iman yang benar adalah iman yang dinyatakan

“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Roma 10: 17

Dari mana datangnya cinta? Menurut pantun lama, cinta datang dari mata, yang kemudian turun ke hati. Mata yang melihat adanya suatu sosok yang menarik, kemudian menimbulkan rasa suka yang diteruskan ke hati. Dengan demikian, cinta yang sedemikian tidaklah jauh berbeda dengan rasa suka ketika orang melihat sebuah mobil baru yang mengkilat dan kemudian bertekad untuk membelinya. Cinta yang hanya berhenti di hati seseorang mungkin hanya membawa rasa suka kepada orang itu saja. Sebaliknya, cinta yang benar bukan saja cinta yang sudah turun ke hati tetapi cinta yang kemudian mengalir keluar sebagai tekad untuk membahagiakan orang yang dicintai untuk selamanya.

Jika pantun cinta di atas adalah menyangkut hubungan antar manusia, bagaimana pula manusia bisa “jatuh cinta”, mempunyai iman kepada Tuhan yang tidak kelihatan? Bagi kita yang tidak pernah menjumpai Kristus, sudah tentu bukan mata jasmani kita yang bisa menimbulkan rasa cinta. Dengan demikian, kita tidak mengasihi Dia karena penampilanNya, tetapi karena apa yang sudah dilakukanNya kepada kita: karena Ia sudah lebih dulu mengasihi kita, dengan mengurbankan diriNya di kayu salib, ganti kita.

Ayat di atas menulis bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Tuhan. Dengan demikian, iman datang dari Tuhan yang melalui Firman Tuhan (Rhema) melalui Yesus Kristus, yaitu Logos atau Tuhan sendiri yang turun ke dunia. Dengan bimbingan Logos, manusia bisa mendengar apa yang difirmankan Tuhan dan kemudian mengerti bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk menuju surga.

Cukupkah bagi manusia untuk mendengar apa yang dikehendaki Tuhan? Cukupkah mereka untuk percaya dalam hati mereka? Bagi banyak orang Kristen, menjadi orang beriman agaknya adalah suatu kebiasaan saja. Apa yang didengar belum tentu dijalankan dalam hidup mereka. Mereka belum tentu mau menyatakan iman mereka dengan tegas melalui hidup mereka. Apa yang ada dalam hati tidak nampak dalam tindak tanduk, perkataan dan perbuatan mereka.

Pagi ini, jika kita ke gereja biarlah kita sadar bahwa jika ada kemauan dalam hati kita untuk mendengarkan firmanNya itu adalah baik. Tetapi, iman yang benar haruslah dinyatakan keluar dalam hidup kita setiap hari.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Jangan mundur dari iman

“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Markus 8: 38

Berita media pagi ini menunjuk pada penurunan jumlah pengikut agama Kristen di Amerika. Hasil survei pada tahun 2018-2019 menyatakan bahwa jumlah itu sekarang hanya 62%, berkurang 10% dari dekade yang lalu. Sebaliknya orang yang mengaku ateis atau agnostik bertambah banyak jumlahnya. Jika pada tahun 2009 hanya 17%, sekarang ada 26%.

Sangat menarik bahwa seperti Indonesia, Amerika mempunyai semboyan “Kepada Tuhan kami percaya” atau “In God we trust“. Agaknya semboyan semacam ini mulai kehilangan maknanya karena orang bisa memilih “tuhan” yang disukainya, dan hanya melakukan kewajiban agama yang dirasakan mudah dan enak saja. Banyak orang malahan canggung atau malu kalau dianggap religius, apalagi fanatik.

Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat ada kecenderungan bahwa agar sukses dalam hidup, orang harus fleksibel dan bisa menerima kepercayaan lain sebagai alternatif untuk mencapai keselamatan di surga. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang mengaku Kristen juga berpendapat bahwa semua agama sama baiknya, dan orang juga bisa hidup baik tanpa beragama.

Jika ada kemunduran agama Kristen di banyak negara barat, di negara lain agama Kristen terlihat berkembang dengan pesat. Dari jumlah pengikutnya, kemajuan agama Kristen di Asia mungkin di anggap sebagai berkat Tuhan. Walaupun demikian, banyaknya orang yang mengaku Kristen bukan berarti bahwa nama Tuhan dipermuliakan. Mereka yang hanya mengaku dengan mulut, belum tentu mempraktikkan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang menyembunyikan kekristenan mereka untuk bisa dengan bebas melakukan kejahatan dan dosa yang dilakukan orang lain, tidak lain adalah orang yang mempermalukan Tuhan.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika kita benar-benar mau menjadi pengikut Kristus, segala tindak-tanduk kita haruslah menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan atas keselamatan yang kita terima. Dengan itu, kita tidak ragu-ragu untuk menjalankan hidup dan tingkah-laku yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kita tidak akan malu menjadi orang Kristen, sekalipun orang lain mencemooh kita. Kita tetap maju dalam iman walaupun banyak orang lain yang sudah meninggalkan kepercayaan mereka. Baik dengan mulut maupun hati kita, kita akan tetap bertahan dalam kasih Kristus untuk selama-lamanya.

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Roma 10: 9 – 11

Keyakinan iman yang benar

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Ayat di atas adalah ayat yang sangat populer di antara umat Kristen. Mereka yang berjuang menghadapi tugas atau masalah yang berat, berusaha membesarkan hati dengan mengucapkan “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Semboyan ini tentu benar: kita akan menang jika Tuhan memang di pihak kita. Pada pihak yang lain, dalam menghadapi masalah tertentu tetaplah perlu dipertanyakan apakah dan kapankah Tuhan di pihak kita.

Dalam Alkitab ada banyak kejadian yang menunjukkan kesetiaan Tuhan kepada umatnya. Sebagai contoh, Tuhan berjanji bahwa Ia akan menyertai umat Israel sekalipun Musa harus meninggalkan mereka karena usia tua.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31: 6

Keyakinan bahwa Tuhan selalu beserta umatNya tidak hanya dimiliki oleh orang Kristen. Banyak pengikut agama lain juga yakin bahwa mereka disertai Tuhan dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan, termasuk dalam melakukan apa yang mungkin kurang berkenan atau jahat bagi orang lain. Bahkan ada juga orang yang percaya bahwa karena Tuhan menyertai tim sepakbola favoritnya, pastilah tim itu akan menjadi juara liga!

Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang mahakasih. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan AnakNya agar barangsiapa percaya kepadaNya akan diselamatkan (Yohanes 3: 16). Tetapi, Tuhan adalah oknum yang mahabijaksana, yang mempunyai berbagai rencana yang tidak dapat dipengaruhi oleh kehendak/kelakuan manusia. Kita sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi besok , karena besok ada di tangan Tuhan (Yakobus 4: 14 – 15). Selain itu, Tuhan adalah Oknum yang mahasuci yang tidak dapat menerima tindakan atau kehidupan yang bertentangan dengan firmanNya. Tidaklah mengherankan bahwa Alkitab penuh dengan contoh-contoh dimana karena berbagai sebab, Tuhan tidak selalu berpihak kepada umatNya atau selalu senang menghukum mereka yang terlihat jahat. Sebagai orang percaya, bagaimana kita harus bersikap?

Memang benar bahwa kasih Tuhan adalah sangat besar sehingga Ia tidak mungkin meninggalkan umatNya, tetapi itu jika mereka tetap taat kepadaNya. Sekalipun Tuhan terkadang membiarkan hal yang tidak menyenangkan terjadi pada umatNya (Ayub misalnya), itu tidak berarti bahwa Ia meninggalkan mereka dan berpihak kepada orang yang jahat. Pada pihak yang lain, kita tidak dapat menganggap bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita jika kita sering melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepadaNya. Kita juga tidak dapat mengharapkan bahwa semua orang yang tidak kita sukai akan menerima hukuman Tuhan. Seburuk apapun keadaannya, Tuhan yang mahasabar ingin agar mereka yang tersesat untuk bisa kembali ke jalan yang benar seperti apa yang pernah terjadi pada diri kita.

Ayat di atas menyatakan bahwa kita akan menang jika Tuhan berpihak kepada kita. Dapatkah kita percaya bahwa ini akan selalu terjadi? Tentu! Tuhan berpihak kepada kita jika hidup kita selalu dipakai untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Jika rencana kita sesuai dengan kehendakNya, Tuhan pasti akan memberi kita sebuah kemenangan  pada waktunya!

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.” Pengkhotbah 3: 11a

Iman harus bertumbuh dengan bertambahnya pengalaman

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19 – 20

Seorang kenalan yang baru merayakan hari ulang tahun ke 50 pernikahannya menyatakan bahwa pernikahan adalah suatu hal yang tidak mudah dijalani. Saya setuju. Memang dengan lamanya pernikahan, hubungan suami-istri bukannya tidak lagi mempunyai masalah. Bahkan sebaliknya, dengan berlalunya waktu suami atau istri akan makin dapat melihat sifat pasangannya dan menyadari perbedaan-perbedaan yang ada. Lamanya pernikahan memang bisa membuat dua orang bisa menerima kenyataan bahwa perbedaan harus ada, tetapi mereka bisa saling menghormati, saling menerima dan saling percaya. Hubungan kasih antara suami-istri memang mengalami penyataan (revelation) sepanjang hari sampai saat terakhir.

Jika pencerahan terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, bagaimana pula dengan hubungan antara manusia dan Tuhan? Ayat di atas menujukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi pernyataanNya, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum.

Berbeda dengan pernyataan Tuhan kepada dunia, hubungan umat Tuhan dan umatNya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari. Tuhan menyatakan diriNya, sifatNya, kehendakNya dan rencanaNya kepada mereka yang beriman kepadaNya. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pernyataan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak menerima penyataan dari Tuhan.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk mendengar suaraNya dan melihat kebesaranNya. Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasaNya dalam hidup setiap umatNya, tetapi tidak semua orang mau menerima dan mendengarkan Dia. Mereka yang bergantung pada diri sendiri cenderung mengabaikan Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umatNya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Dengan pengenalan yang makin mendalam tentang Tuhan, kita tidak akan mudah untuk kaget, kuatir, takut ataupun kecewa jika ada masalah besar yang terjadi dalam hidup kita. Dengan pengertian akan kesucianNya, kita akan bisa makin kuat dalam menghindari godaan iblis. Dengan mengakui kebesaranNya, kita juga makin lama makin menyadari kelemahan dan kekurangan kita, sehingga makin lama kita makin beriman kepadaNya.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu sudah bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh KudusNya setiap hari?

Hari ini, keputusan ada di tangan kita untuk mau membina hubungan yang makin baik dengan Tuhan kita. Tuhan menghendaki setiap umatNya untuk mau membuka diri kepadaNya dan juga mau menerima apa yang dinyatakanNya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, iman kita akan tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang akan datang dengan keyakinan bahwa kasihNya akan senantiasa menyertai kita.

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20

Berapa harga hidupmu?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Markus 8: 37 – 37

Hari ini di media Australia ada kabar bahwa seseorang yang sudah dituduh membunuh seorang tokoh kepolisian dan kemudian dibebaskan setelah dipenjara selama hampir 20 tahun, telah mendapat ganti rugi dari negara sebesar $7 juta. Jumlah yang tidak sedikit untuk seorang yang berumur 74 tahun.

Untuk apa uang sebanyak itu? Tidak ada seorang pun yang tahu! Walaupun begitu, orang itu berkata bahwa ia akan berusaha untuk mempunyai hidup normal lagi. Ia memang mengalami berbagai hal yang menakutkan dari sesama narapidana selama hidup di penjara. Lebih dari itu, ibu dan dua saudara perempuannya meninggal dunia sewaktu ia masih dipenjara.

Sebagian orang mungkin membayangkan bahwa untuk dipenjara dan kemudian dibebaskan dengan uang sebanyak itu adalah keuntungan. Tidak sia-sialah masa penderitaan yang dialaminya. Menjadi seorang jutawan bukanlah mudah dan mungkin kebanyakan orang sudah senang jika bisa pensiun dengan uang sepersepuluhnya. Tetapi, adakah orang yang mau mengalami hal yang sama?

Mungkin tidak ada orang yang dengan sengaja mau dipenjara selama 20 tahun untuk memperoleh uang sebanyak 7 juta dolar. Di penjara, bisa saja nyawa seseorang melayang karena penjara adalah tempat dimana para pembunuh dan penjahat berusaha untuk menjadi penguasa atas sesama narapidana. Belum lagi penyiksaan, pemerkosaan, pelecehan dan penggunaan narkoba yang terjadi setiap hari. Walaupun demikian tentu ada orang yang bersedia hidup dalam suasana yang penuh bahaya dan dosa di luar penjara, demi untuk memperoleh uang dan harta.

Mengapa ada orang yang mau mempertaruhkan apa saja demi harta? Tentu saja karena orang sedemikian tidak mengerti bahaya yang akan dihadapinya. Orang mungkin tidak sadar bahwa ia tidak dapat membeli keselamatan dan kebahagiaan dengan uangnya. Mereka yang mengejar harta justru bisa jatuh ke dalam berbagai godaan dan menempuh hidup yang jauh dari Tuhan. Jika Tuhan yang harus dimuliakan kemudian diabaikan karena manusia lebih mementingkan harta, tidaklah mengherankan jika hidup mereka akan menjadi kosong dan tidak bermakna. Selama manusia masih di dunia dan juga sesudahnya, hidup yang tidak berTuhan adalah hidup yang mati. Manakah yang kita pilih: harta atau nyawa?

Bertahan sampai akhir

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Ibrani 6: 11 -12

Berita olahraga kemarin membuat saya terpesona. Rekor lari maraton dunia lagi-lagi dipecahkan oleh pemegang rekor dunia dari Kenya, Eliud Kipchoge. Kali ini, ia menjadi orang pertama yang bisa menyelesaikan jarak 42.2 km itu dalam waktu kurang dari 2 jam. Suatu prestasi yang luar biasa yang mungkin tidak akan mudah dipecahkan di masa depan.

Untuk bisa berlari secara konsisten dengan kecepatan lebih dari 20 km per jam ini, Eliud harus benar-benar tekun. Beberapa kali ia sudah berusaha, tetapi baru kali ini ia berhasil melakukannya dalam waktu 1 jam 59 menit. Kali ini ia menggunakan 41 pelari pendamping yang secara bergantian memacu kecepatan larinya.

Jika kekuatan (power) dan kecepatan (speed) adalah dua hal yang penting untuk lari jarak pendek, daya tahan (endurance) adalah suatu hal yang mutlak diperlukan untuk lari jarak jauh. Ini adalah kemampuan seseorang melaksanakan gerak dengan seluruh tubuhnya dalam waktu yang cukup lama dan dengan tempo sedang sampai cepat tanpa mengalami rasa sakit dan kelelahan berat.

Kemauan, tekad dan daya tahan yang besar seperti yang bisa dilihat dalam diri Eliud bukan saja dibutuhkan dalam hal berlari, tetapi juga diperlukan dalam tiap perjuangan hidup manusia. Dalam 1 Korintus 9: 24 Paulus menulis bahwa seperti dalam sebuah pertandingan ada banyak peserta yang berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah, umat Kristen juga harus “berlari” dengan bersemangat, sehingga mereka memperoleh hadiah kemuliaan di surga.

Hidup manusia di dunia ini memang tidak mudah. Kesukaran hidup, halangan, penyakit, kekurangan dan berbagai penderitaan lainnya bisa terjadi pada diri siapa pun. Bagi banyak orang, adanya beban hidup yang besar membuat mereka menjadi lamban dan kurang bersemangat untuk hidup. Begitu juga banyak orang Kristen yang kemudian menjadi mundur dalam iman karena adanya kekuatiran dan kesulitan yang tidak teratasi.

Dalam perjalanan hidup yang panjang, memang orang sering sulit untuk membayangkan kapan semua itu akan bisa diakhiri dengan kemenangan. Ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam kesulitan kita harus bisa melihat mereka yang sudah bertahan dalam iman dan menang dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Bagaikan seorang pelari maraton, kita mungkin sering menghitung-hitung jumlah kilometer yang ada di depan kita dan merasa kuatir apakah kita sanggup untuk mencapai garis finis. Tetapi, kita bisa melihat begitu banyak umat Tuhan yang berlari terus dan bertahan hingga akhir. Itu bukan karena daya tahan mereka sendiri, tetapi karena adanya Tuhan yang memberi iman dan kesabaran. Bagaimana dengan diri kita? Biarlah kita bisa mencontoh mereka yang sudah menang dengan selalu memohon penyertaanNya!

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Amanat Agung tidak boleh diabaikan

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal, karena merupakan Amanat Agung (the Great Commission) yang diberikan Yesus kepada murid-muridNya. Perintah ini diberikan setelah kebangkitan Yesus dan kesebelas murid Yesus berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Perintah untuk memberitakan Injil adalah perintah Yesus yang terakhir sebelum Ia naik ke surga.

Perintah ini bukanlah hal yang kecil dan remeh. Perintah ini adalah hal yang khusus ditujukan bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Dengan demikian, semua umat Tuhan seharusnya mengerti bahwa mereka tidak dapat menghindarinya. Sebagai perintah Tuhan, ini tidak dapat ditolak atau diabaikan. Mereka yang tidak diharuskan untuk melaksanakan perintah Tuhan ini tentunya bukan umatNya. Ini tentunya mudah dimengerti karena hanya umat Tuhan yang bisa menjalankannya.

Benarkah ini mudah dimengerti? Sebagai perintah Tuhan hal ini jarang dibicarakan di antara umat Kristen. Di gereja, ajakan untuk mengabarkan memberitakan kabar baik dan membaptis barangkali dianggap tugas penginjil dan pendeta. Seringkali orang Kristen secara tidak sadar hanya memikirkan kebutuhan mereka sendiri dalam kepercayaannya. Mereka puas dengan keselamatan yang sudah diperolehnya dan ke gereja untuk kebutuhan diri sendiri. The Great Commission sudah berubah menjadi the Great Omission, yaitu Pengabaian Besar.

Memang jika murid-murid Kristus pada waktu itu mengabaikan perintah Tuhan, mungkin saja kekristenan tidak akan maju seperti sekarang. Saat ini agama Kristen adalah agama yang paling besar pengikutnya. Alkitab adalah buku yang paling banyak dicetak di dunia. Dan Yesus Kristus adalah tokoh yang paling dikenal manusia. Seiring dengan itu, iman Kristen sudah membawa pengaruh besar pada perkembangan hukum, etika dan sosial karena Tuhan dalam ajaran Kristen adalah Oknum yang mahakasih, yang ingin agar umat manusia menempuh hidup yang baik dengan mengasihi sesamanya.

Bagaimana orang Kristen bisa secara sengaja mengabaikan perintah Tuhan untuk membawa orang lain kepada Tuhan? Ada banyak sebabnya, antara lain ketakutan akan gangguan orang atau golongan yang berlainan kepercayaan, kekuatiran akan berkurangnya kebebasan hidup, atau pun hilangnya kesempatan untuk menikmati kekayaan atau kenikmatan duniawi. Bagi mereka, menjalankan Amanat Agung adalah tugas yang terlalu berat.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selaku umat Kristen kita harus sadar bahwa Amanat Agung adalah perintah Tuhan, dan itu bukan sekedar anjuran. Semua orang yang mengaku murid Tuhan harus bersedia untuk memberitakan kabar keselamatan melalui segala segi kehidupan mereka. Ini tidak berarti bahwa kita harus bisa mengajar seperti apa yang dilakukan oleh guru agama, penginjil dan pendeta, tetapi kita harus bisa mengajarkan firman Tuhan dengan menjalankan firmanNya dan hidup dengan iman di tengah masyarakat yang belum percaya kepadaNya tanpa rasa takut atau ragu. Hidup kita harus bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dan bisa membawa orang lain kepada pengenalan akan jalan keselamatan satu-satunya. Tuhan Yesus menyertai kita sekalian.

Jangan takut kepada manusia

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” Lukas 12: 4

Sudah lama saya sering mengalami rasa masygul setelah membaca berita di media. Adanya orang-orang yang melakukan kejahatan kepada sesama manusia di berbagai tempat membuat saya bertanya-tanya apakah masih ada tempat yang aman di dunia ini. Selandia Baru, misalnya, pernah dianggap sebagai salah satu negara yang paling aman di dunia. Tapi itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Memang sejak dua puluh tahun terakhir ini keadaan dunia berubah luar biasa dengan adanya kekejaman dan kekacauan di berbagai tempat. Mereka yang merasa berada di tempat terlindung justru bisa mengalami kejadian yang mengerikan. Apa yang diharapkan untuk bisa melindungi, ternyata tidak bisa memberi bantuan.

Dengan keadaan dunia yang serba kacau ini, tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang merasa bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika Tuhan memang ada mana mungkin dunia ini menjadi sangat kacau? Jika Tuhan itu mahakuasa, mengapa Ia tidak menjaga ketertiban dan keamanan dunia? Jika Ia mahakasih mengapa Ia membiarkan umatNya menderita? Jika Tuhan masih ada, Ia pastilah oknum yang tidak peduli atau tidak berdaya!

Dalam kenyataan hidup, mereka yang ingin hidup damai justru seringkali mengalami bencana yang disebabkan oleh orang yang jahat. Mereka yang ingin hidup tertib, seringkali harus menerima kenyataan bahwa ada banyak orang yang justru ingin membuat kekacauan dan kebingungan. Ini bukan saja terjadi dalam negara dan masyarakat, tetapi juga ada dalam lingkungan yang lebih kecil seperti kantor, sekolah, gereja dan juga rumah-tangga. Mereka yang mau mendapatkan apa yang diingininya tidak segan-segan untuk menggunakan kekerasan, ancaman dan paksaan. Memang banyak orang yang percaya bahwa siapa yang kuat, akan menang: the survival of the fittest.

Sebenarnya sejak dari kejatuhan manusia, paham bahwa untuk bisa menang manusia harus kuat itu sudah ada. Karena itu dari awalnya manusia yang lebih kuat secara jasmani selalu berusaha mendikte mereka yang lemah. Karena itu jugalah, setiap orang ingin untuk berada di posisi atas agar bisa selalu menang. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang merasa lemah, akan mengalami hidup yang tidak bisa tenang karena dibayangi berbagai ketakutan. Bukan hanya takut untuk dicederai atau disakiti secara fisik, tetapi juga takut untuk mengalami intimidasi dan penghinaan oleh mereka yang lebih kuat. Jika badan bisa dimatikan oleh mereka yang kuat dan jahat, hati bisa dihancurkan oleh mereka yang kejam.

Mereka yang bisa menghancurkan hidup kita tidaklah harus orang yang tidak kita kenal. Ketakutan tidak selalu terjadi karena membayangkan adanya orang-orang yang muncul di tengah kegelapan malam. Tetapi, ketakutan bisa dan sering terjadi karena adanya orang-orang yang kita kenal, yang ada di sekitar kita, dan yang bisa melakukannya di setiap saat. Untuk melawan mereka yang menakutkan mungkin kita tidak sanggup, tetapi hidup dalam ketakutan bisa membuat kita hilang harapan. Hidup dalam ketakutan lambat laun akan menghancurkan kita. Keyakinan bahwa Tuhan masih ada mungkin pelan-pelan menghilang. Kepahitan demi kepahitan datang, dan itu bisa membuat hidup kita sengsara atau lumpuh. Adakah jalan untuk mengatasi rasa takut kita?

Ayat di atas menyatakan bahwa ketakutan kepada sesama manusia haruslah dihilangkan dari pikiran kita. Sebagai orang percaya kita bukannya akan menang dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dari kelemahan kita yang membuat kita bergantung kepada Tuhan.  Memang ada orang-orang yang bisa mencelakai kita, membunuh tubuh kita atau melukai hati kita. Tetapi, semua itu tidak akan dapat menghancurkan iman kita kepada Tuhan yang mahakuasa, yang bisa melihat apapun yang terjadi dalam hidup kita. Hanya kepada Tuhan saja kita harus mempunyai rasa takut karena Dialah yang berkuasa untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendakiNya. Hanya kepada Dia, kita harus menaruh kepercayaan kita. Hanya karena Dia, kita bisa menghilangkan rasa takut kita dalam mengarungi hidup di dunia.

“Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” Lukas 12: 5

Teori dan praktik adalah satu

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Peneguhan sidi (confirmation) adalah bagian dari pengakuan iman dalam banyak gereja. Kata “sidi” berasal dari bahasa Sansekerta, artinya penuh atau sempurna. Pada kebanyakan gereja, setelah melakukan katekisasi (kursus Alkitab), seseorang bisa diteguhkan sebagai anggota gereja melalui peneguhan sidi dalam upacara khusus di hadapan sidang jemaat. Apabila seseorang telah menerima peneguhan sidi, secara gerejawi keanggotaannya sudah penuh.

Untuk sebagian gereja, peneguhan sidi bukan sakramen tapi berkaitan erat dengan sakramen. Baptisan usia dewasa memang bisa dilakukan bersama peneguhan sidi. Jika baptisan usia anak kemudian dilanjutkan dengan sidi sesudah menginjak usia dewasa, maka dalam hal ini peneguhan sidi adalah kesempatan untuk mengakui iman di hadapan jemaat. Selain itu, pengakuan sidi juga merupakan pernyataan bahwa janji orangtua untuk membesarkan anaknya sesuai dengan firman Tuhan telah ditepati, sampai sang anak percaya kepada Yesus Kristus. Melalui peneguhan sidi, seseorang diterima sebagai jemaat yang bertanggung jawab untuk mengambil bagian dalam pelayanan jemaat, dan diijinkan ikut dalam Perjamuan Kudus.

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengikuti upacara sidi, antara lain:

  1. Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  2. Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  3. Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  4. Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari dari pada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga?

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin untuk tidak disertai dengan perbuatan. Iman yang tanpa perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan. Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firmanNya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintahNya?

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Kita sendiri pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa masyarakat di sekitar kita akan membenci kita. Karena itu, kita juga sering memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab seringkali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman. Dengan demikian kita membiarkan hidup kita tinggal dalam dosa pengabaian firman Tuhan. Bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17