“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29
Dunia ini makin lama makin maju saja dalam hal teknologi. Seiring dengan itu, berbagai produk yang canggih dan mewah muncul dan ditawarkan kepada mereka yang senang memakai berbagai perlengkapan atau gadget yang serba “wah”. Untuk memiliki benda-benda itu tentunya diperlukan uang yang tidak sedikit.
Sebuah HP yang canggih di Australia misalnya, sekarang ini bisa mencapai harga $3800, dan ini mungkin hanya untuk mereka yang kaya. Mereka yang mempunyainya tentu bisa membanggakan ketebalan ukuran dompetnya, tetapi mereka yang kurang mampu mungkin hanya bisa memakai jenis yang murah, barangkali seharga $50 saja. Sudah tentu HP yang mahal sering menjadi incaran orang untuk dijual di pasar gelap.
Bagi banyak orang yang menginginkan barang-barang mewah, tekanan hidup mungkin berkaitan dengan keinginan untuk selalu bisa mendapatkan apa yang terbaik, yang bisa dipamerkan atau show off. Sebaliknya, bagi mereka yang kurang mampu, tekanan hidup mungkin saja berkaitan dengan hal mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk bisa terus bertahan atau survive. Dengan demikian, banyak orang mungkin terpikat untuk melakukan apa pun asal tujuan tercapai. Mereka lupa bahwa mengabaikan Tuhan adalah sikap hidup yang mempunyai resiko besar.
Ayat di atas adalah ayat yang sangat tepat untuk kita yang hidup di zaman dimana banyak orang sudah mengabaikan Tuhan. Banyak orang yang sudah kehilangan rasa takut kepada Tuhan pada akhirnya berani melakukan apa saja asal tujuan tercapai. Bahkan, pengabdian kepada Tuhan mungkin sudah diganti dengan pengabdian kepada hal-hal duniawi seperti pekerjaan, kekayaan, kemasyhuran, kenikmatan dan sebagainya. Karena itu, Tuhan menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang tidak benar, sehingga mereka melakukan kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, kedengkian, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.
Pagi ini kita membaca bahwa Tuhan membiarkan manusia yang mengabaikanNya karena sekalipun mereka sudah mengerti akan kehendak Tuhan, mereka menuruti kemauan mereka sendiri (Roma 1: 19 – 21). Dengan demikian, kekacauan dan kehancuran hidup menanti mereka yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan.
Mengapa Tuhan membiarkan manusia yang karena kebodohannya sudah mengabaikanTuhan? Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan itu kejam. Benarkah? Tuhan adalah maha pengasih, tetapi Ia tidak akan memaksa orang yang mengabaikan Dia dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Sebagai Bapa, Ia menantikan kita yang sudah mengabaikan Dia untuk kembali mengenal dan taat kepada Dia. Tetapi, jika kita selalu mengabaikan Dia dan hidup kita menjadi berantakan, itu adalah akibat pilihan kita sendiri.
Dari mana datangnya cinta? Menurut pantun lama, cinta datang dari mata, yang kemudian turun ke hati. Mata yang melihat adanya suatu sosok yang menarik, kemudian menimbulkan rasa suka yang diteruskan ke hati. Dengan demikian, cinta yang sedemikian tidaklah jauh berbeda dengan rasa suka ketika orang melihat sebuah mobil baru yang mengkilat dan kemudian bertekad untuk membelinya. Cinta yang hanya berhenti di hati seseorang mungkin hanya membawa rasa suka kepada orang itu saja. Sebaliknya, cinta yang benar bukan saja cinta yang sudah turun ke hati tetapi cinta yang kemudian mengalir keluar sebagai tekad untuk membahagiakan orang yang dicintai untuk selamanya.




Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal, karena merupakan Amanat Agung (the Great Commission) yang diberikan Yesus kepada murid-muridNya. Perintah ini diberikan setelah kebangkitan Yesus dan kesebelas murid Yesus berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Perintah untuk memberitakan Injil adalah perintah Yesus yang terakhir sebelum Ia naik ke surga.
Sudah lama saya sering mengalami rasa masygul setelah membaca berita di media. Adanya orang-orang yang melakukan kejahatan kepada sesama manusia di berbagai tempat membuat saya bertanya-tanya apakah masih ada tempat yang aman di dunia ini. Selandia Baru, misalnya, pernah dianggap sebagai salah satu negara yang paling aman di dunia. Tapi itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Memang sejak dua puluh tahun terakhir ini keadaan dunia berubah luar biasa dengan adanya kekejaman dan kekacauan di berbagai tempat. Mereka yang merasa berada di tempat terlindung justru bisa mengalami kejadian yang mengerikan. Apa yang diharapkan untuk bisa melindungi, ternyata tidak bisa memberi bantuan.