“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Kemarin malam saya menghadiri acara pesta ulang tahun departemen dari sebuah universitas. Di antara para hadirin, saya menjumpai banyak bekas kolega saya yang tidak pernah bertemu sejak 20 tahun yang lalu. Tidaklah mengherankan bahwa percakapan yang ada pada umumnya mengenai apa yang sudah dialami masing-masing sejak saat perpisahan. Di antara mereka ada orang yang kelihatan berhasil dalam karir, tetapi kurang berhasil dalam rumah tangga, dan sebaliknya ada yang nampak berbahagia sekalipun tidak terlihat kaya. Saya tidak meragukan bahwa setiap orang tentunya sudah berusaha untuk menggunakan hidup mereka sebaik mungkin. Tetapi sebaik bagaimana?
Perumpamaan tentang talenta adalah perumpamaan Yesus yang bisa ditemukan dalam Matius 25: 14 – 30 dan Lukas 19: 11 – 27. Perumpamaan ini sering dibahas dalam berbagai khotbah dan renungan, dan biasanya disampaikan sehubungan dengan hal menggunakan talenta atau kemampuan yang dimiliki setiap orang. Seringkali, moral yang diungkapkan adalah untuk tidak menyia-nyiakan berkat Tuhan. Walaupun demikian, perumpamaan ini mungkin lebih tepat untuk ditafsirkan sebagai hal menggunakan hidup dengan baik sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya.
Apapun yang digaris-bawahi dalam mengartikan perumpamaan ini, tidak dapat diragukan bahwa perumpamaan ini dengan tegas menyatakan bahwa apa saja yang Tuhan berikan kepada kita, adalah barang pinjaman yang tidak boleh dipakai hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Dalam hal ini, Tuhan meminjami kita berbagai berkat, kecil maupun besar, yang sesuai dengan kehendakNya; kita harus menggunakan semua itu dengan percaya bahwa Tuhan itu adil.
Talenta diberikan kepada kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan demikian, keberhasilan dan kebahagiaan kita bukanlah hanya diukur dengan apa yang bisa dilihat mata manusia, sebab apa yang bisa kita ukur adalah apa yang sementara dan akhirnya akan musnah. Apa yang tidak bisa musnah adalah kasih, yang tidak akan berkesudahan (1Korintus 13: 8). Maukah kita memakai hidup ini untuk menyampaikan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada orang lain? Itu adalah satu-satunya cara untuk bisa merasakan kasihNya yang makin besar dalam hidup kita.






Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaam yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umatNya.
Pernahkah anda membaca buku Pinokio? Buku bacaan anak-anak yang sangat terkenal ini dikarang oleh Carlo Collodi dari Italia pada abad ke 19. Dongeng Pinokio merupakan suatu cerita edukatif tentang sebuah boneka kayu yang berubah menjadi anak laki-laki. Pinokio yang nakal dan suka berbohong, melalui petualangannya kemudian menjadi anak yang baik dan patuh pada orang tua.