Adakah perubahan dalam hidup kita?

“Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Roma 6: 19

Adalah menarik jika kita meneliti reaksi manusia terhadap bertambahnya umur. Pada waktu masih kecil seorang anak mungkin berharap akan cepatnya datangnya kedewasaan, karena dengan itu datang “kebebasan”. Walaupun demikian, orang dewasa sering membayangkan betapa enaknya mereka yang masih anak-anak, karena mereka tidak perlu memikirkan berbagai tanggung jawab kehidupan. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah uzur mungkin ingin untuk menjadi muda kembali untuk bisa memulihkan kesegaran tubuh mereka.

Reaksi manusia terhadap umurnya tentunya berbeda-beda. Mungkin saja ada orang yang puas dengan umurnya atau yang ingin tetap berada dalam umur yang sekarang. Tetapi mereka yang realistis tentunya sadar bahwa bertambahnya umur adalah salah satu tanda yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini kita akan mengalami berbagai kejadian, baik yang dikehendaki maupun yang sebenarnya ingin dihindari.

Jika pada waktu muda bertambahnya umur diharapkan bisa menambah kemandirian dan kekuatan, perubahan yang ingin dihindari manusia dengan menanjaknya usia pada umumnya bertalian dengan adanya berbagai masalah kehidupan dan mundurnya kesehatan. Mungkin jarang orang yang memikirkan bahwa bertambahnya umur adalah kesempatan untuk membuat hidup makin sesuai dengan firman Tuhan.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa pada masa lalu kita mungkin sudah membiarkan hidup kita jatuh ke dalam kecemaran dan kedurhakaan. Rasa sedih dan rasa malu atas apa yang sudah kita lakukan mungkin ada, tetapi bagi banyak orang itu adalah sesuatu yang lebih baik dilupakan. Sebaliknya, bertambahnya umur seharusnya mengingatkan kita untuk memakai hidup kita untuk menjadi hamba kebenaran yang membuat kita makin menyerupai Kristus. Tetapi, bagi banyak orang, ini pun adalah sesuatu yang sering dilupakan karena semuanya hanya rencana untuk masa depan. Lalu apakah yang kemudian terjadi? Masa kini berubah menjadi masa lalu, dan masa depan tidak pernah datang karena tidak ada perubahan yang terjadi. Itulah ciri manusia duniawi yang dari lahir hingga mati tidak mengalami perubahan rohani.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Apa yang terlihat indah haruslah diuji

“Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” Kisah Para Rasul 20: 30

Hari ini saya pergi berkeliling kota bersama seorang sanak yang ingin membeli rumah. Di Australia, pada umumnya orang melihat iklan rumah yang dipasarkan melalui internet. Pemilik rumah biasanya memakai jasa agen real estate yang memasarkan rumah itu melalui berbagai media elektronik. Agen itu jugalah yang bisa memberi nasihat kepada pemilik rumah bagaimana mereka membuat penampilan rumah itu lebih menawan bagi para calon pembeli.

Apa saja yang bisa dilakukan oleh seorang pemilik rumah untuk membuat calon pembeli terkesan? Sudah tentu mereka akan berusaha untuk membersihkan rumah sebaik mungkin. Selain itu, pemilik rumah bisa menambal dan mengecat bagian tembok yang berlubang dan membetulkan apa yang rusak supaya tidak nampak kerusakannya. Bahkan ada yang menyewa perabotan tertentu seperti TV raksasa dan piano supaya rumah yang dijual itu kelihatan lebih mentereng. Memang dalam dunia jual beli sangatlah penting bagi penjual rumah untuk memberi kesan baik kepada calon pembeli, dan membuat barang mereka terlihat lebih baik dari aslinya. Sudah tentu calon pembeli yang tidak awas akan bisa tertipu.

Usaha membuat sesuatu lebih baik dari aslinya bukan saja dalam hal jual-beli barang, tetapi juga dalam hal keagamaan. Sejarah membuktikan adanya banyak orang yang jatuh kedalam jebakan pemimpin-pemimpin agama atau sekte, yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar, yang dibungkus sedemikian rupa sehingga terlihat indah dan berguna. Orang yang terbujuk seringkali terjerumus sangat dalam dan sulit untuk disadarkan.

Sebenarnya sejak Yesus meninggalkan dunia ini sudah ada pemimpin-pemimpin kerohanian yang berusaha menarik orang-orang dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Paulus dalam ayat di atas mengingatkan pengikut Kristus bahwa orang-orang semacam itu harus diwaspadai karena mereka bukannya muncul sebagai orang yang tidak mengenal Kristus, tetapi justru terlihat sebagai pengikut Kristus.

Pada zaman sekarang, penyesat-penyesat seperti itu sangat sering muncul dalam kalangan Kristen, dan bahkan dalam gereja-gereja besar. Mereka yang mengajarkan hal-hal yang tidak berdasarkan Alkitab, yang menekankan pengertian mereka sendiri, yang menonjolkan pengalaman pribadi, semuanya untuk menarik umat supaya mengikut mereka, dan bukannya untuk mengikut Kristus. Mereka seringkali terlihat penuh dengan kebijaksanaan yang seolah datang dari Tuhan, tetapi semua itu adalah kepalsuan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mengagumi seorang yang nampak hebat dalam mengajarkan firman Tuhan, tetapi sering membicarakan apa yang baik dan buruk menurut pengertian dan pengalaman mereka sendiri, kita harus mau menguji apa yang disampaikan mereka bersama dengan saudara-saudara seiman yang lain. Kita harus sadar bahwa dengan kekuatan sendiri tidaklah mudah bagi kita untuk membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar. Karena itu kita harus mau untuk saling mendoakan, menguatkan dan mengingatkan agar kita bisa menjauhi guru-guru palsu yang ada di sekitar kita.

“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.” 2 Korintus 11: 13

Jangan biarkan budaya mengalahkan iman

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 26 – 28

Ada berapa jenis denominasi gereja di Australia? Jawabnya: ada banyak – mungkin sekitar 90. Berbagai denominasi itu dapat digolongkan dalam beberapa kelompok besar: Anglican, Catholic, Orthodox, Reformed, Presbyterian, Protestant, Pentecostal dan lain-lain. Banyaknya denominasi itu muncul sehubungan dengan adanya perbedaan latar belakang, budaya, bahasa, dan tentu saja teologi. Bagi sebagian orang, adanya berbagai ragam denominasi dipandang sebagai suatu yang lumrah dan sehat, karena semuanya merupakan bagian tubuh Kristus. Walaupun demikian, sebagian lagi memandang semua itu sebagai suatu kelemahan gereja Kristen yang nampaknya terpecah-belah.

Ada banyak denominasi yang berlatar belakang kebudayaan atau bahasa, misalnya: Antiochan Orthodox Church; Bulgarian Orthodox, Coptic Orthodox,  Free Serbian Orthodox, Greek Orthodox, Macedonian Orthodox, Romanian Orthodox, Russian Orthodox, Syrian Orthodox, Ukrianian Orthodox, Apostolic Catholic Assyrian Church of the East dan lain-lain. Seperti di Indonesia, denominasi baru sering muncul karena adanya gereja yang tidak dapat bergabung dengan denominasi yang ada. Hanya saja, hal membuka gereja dan membentuk denominasi di Australia tidaklah sesulit di Indonesia. Karena adanya kebebasan beragama (religious freedom), setiap orang boleh saja mempunyai kepercayaan apa saja asal saja tidak mengganggu ketertiban masyarakat atau melanggar hukum.

Kebebasan memang sesuatu yang didambakan manusia dan karena itu sering dipakai manusia untuk memilih apa saja yang disukainya. Dalam hal iman, seringkali orang Kristen memakai kebebasannya untuk memilih cara berbakti, cara menyanyi, ataupun jenis bahasa untuk dipakai dalam gereja. Semua itu tentunya terkait pada latar belakang kebudayaan masing-masing. Mereka yang berasal dari Yunani mungkin lebih cocok untuk ke gereja yang memakai cara berbakti dan bahasa Yunani. Begitu pula, beberapa gereja yang berbahasa Indonesia yang ada  di Australia biasanya di kunjungi oleh orang Indonesia. Walaupun demikian gereja yang benar adalah gereja yang mementingkan kebenaran firman Tuhan, bukan gereja yang hanya mencocoki selera atau kebudayaan orang tertentu. Kebudayaan adalah penting tetapi tidak boleh mengubah atau dipakai untuk menerapkan firman Tuhan.

Sayang sekali, dibeberapa negara ada tendensi bahwa kebudayaan tertentu adalah lebih baik, superior, dari kebudayaan lain dalam hal memimpin orang agar menjadi Kristen sejati. Oleh karena itu ada orang Kristen yang mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa lain dan bahkan menjalani kebiasaan bangsa-bangsa itu dengan harapan bahwa mereka akan lebih dapat mengerti firman Tuhan. Mereka berpikir bahwa bangsa-bangsa tertentu adalah bangsa yang istimewa karena adanya hubungan sejarah bangsa itu dengan apa yang ada dalam Alkitab. Dengan demikian, mereka mengharapkan untuk bisa lebih “rohani” jika mereka menjalankan adat istiadat bangsa lain dan menggunakan bahasa -bahasa tertentu untuk berbakti. Mereka tidak sadar bahwa Yesus sudah datang untuk melepaskan manusia dari belenggu adat-istiadat dan hukum yang dibuat manusia, agar bisa memusatkan diri kepada kebenaran firman Tuhan.

Ayat di atas menjelaskan bahwa dalam Yesus, kita adalah anak-anak Allah karena kita semua yang dibaptis dalam Kristus, telah bersatu dengan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kita semua adalah sederajat dan satu di dalam Kristus Yesus. Dengan demikian, setiap orang percaya harus menempatkan firman Tuhan di atas perbedaan yang ada di antara manusia. Firman Tuhan yang universal dan sudah tercetak dalam berbagai bahasa, tidak boleh dipengaruhi oleh latar belakang dan kebudayaan manusia. Biarlah kita boleh dikuatkan melalui kasih karunia Kristus dan bukannya melalui berbagai pengajaran manusia.

“Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing. Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia dan bukan dengan pelbagai makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menuruti aturan-aturan makanan macam itu.” Ibrani 13: 9

 

 

Kemabukan menjauhkan kita dari Tuhan

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam.” 1 Tesalonika 5: 6 – 7

Apakah anda penggemar acara TV? Acara apakah yang paling anda sukai? Acara musik, berita, olahraga atau sinetron? Di Australia, makin banyak orang keranjingan menonton acara kuliner, yaitu acara memasak. Malahan ada TV Channel yang hanya berisi acara masak-memasak dari seluruh penjuru dunia sepanjang hari. Mengapa orang bisa keranjingan acara semacam ini? Ya, memang setiap orang tentu mempunyai kegemaran yang berbeda. Orang memang bisa menggemari acara apa saja, terutama yang ada di cable TV atau TV langganan. Saking banyaknya acara di TV langganan ini, ada orang-orang yang kecanduan menonton, yang menghabiskan waktu di depan TV untuk sekedar melihat acara apa saja yang ada, tanpa menonton sebuah acara dari awal hingga akhir. Aneh bukan? Tetapi itulah namanya kecanduan, dan orang bisa kecanduan apa saja.

Dalam ayat di atas, Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa sebagai pengikut Kristus  mereka jangan gemar “tidur” seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Kata “tidur” disini tentunya dihubungkan dengan keadaan dimana orang tidak sadar akan keadaan di sekelilingnya: mereka tidak menyadari adanya bahaya, kekeliruan dan dosa. Jika orang lain terbuai oleh apa yang ditawarkan dunia dan kemudian tertidur atau mabuk  dalam kegelapan, orang Kristen seharusnya hidup dalam kebenaran, awas akan keadaan di sekitarnya dan selalu menghindari kejahatan dan dosa.

Sungguh menarik bahwa kata “tidur” seolah diidentikkan dengan kata “mabuk”. Padahal kata mabuk dalam Alkitab umumnya dihubungkan dengan kemabukan yang disebabkan oleh minuman keras (Efesus 5: 18). Tetapi memang benar bahwa baik tidur maupun mabuk umumnya terjadi pada waktu malam. Jika orang bisa kecanduan minuman keras dan menjadi pemabuk, orang juga bisa kecanduan untuk hidup tanpa kesadaran akan adanya Tuhan. Manusia memang bisa kecanduan hidup bebas tanpa kesadaran akan firman Tuhan dan dengan demikian hanya menyukai apa yang dikehendakinya.

Kecanduan atau kemabukan manusia dalam menikmati apa yang terlihat menarik bukan saja dalam hal  keranjingan menonton TV,  kegandrungan bermain ponsel, mengejar kekayaan, kenikmatan seksual, menikmati makan-minum ataupun pesta-pora, tetapi juga dalam hal-hal lain yang kelihatannya baik. Manusia bisa saja mabuk bekerja, mabuk melayani, dan bahkan mabuk ke gereja. Mereka yang mabuk, seperti ayat diatas, adalah orang orang yang kehilangan kesadaran akan apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka. Mereka tidak sadar bahwa hidup mereka sudah dikuasai oleh berbagai jenis kegiatan yang mungkin saja terlihat baik, tetapi sebenarnya tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kesadaran akan firmanNya. Mereka juga seperti orang-orang yang tertidur pulas di tengah malam, yang tidak lagi  tertarik untuk bangun dan melihat sinar matahari kebenaran Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai pengikut Kristus kita adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Sebab itu, baiklah kita jangan tidur atau mabuk seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebagai pengikut Kristus, baiklah kita selalu mau menyatakan iman dan kasih kita kepada Tuhan dan sesama, dan berpegang kepada pengharapan dan keselamatan dalam Kristus (1 Tesalonika 5: 5- 8).

“Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” 1 Tesalonika 5: 11

Berdoa dengan roh dan pikiran

“Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” 1 Korintus 14: 15

Di Australia hampir setiap orang mempunyai kendaraan bermotor karena pada umumnya orang memerlukan kendaraan pribadi untuk pergi dari satu ke lain tempat. Berbeda dari Indonesia, kebanyakan pemilik mobil harus bisa menyetir mobilnya sendiri karena gaji supir yang terlalu tinggi. Menurut statistik, setiap empat orang di Australia memiliki tiga mobil, dengan kata lain setiap orang memiliki 0,75 mobil. Dapatlah dimengerti bahwa di kota-kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane, jalan-jalan utama selalu penuh dengan mobil pada jam-jam sibuk (rush hours). Ini berbeda dengan keadaan di jalan bebas (freeway) di luar kota yang umumnya cukup lebar dan lancar.

Sebagai pengemudi mobil, saya dulu sering bepergian ke luar kota menempuh jarak ratusan kilometer dalam sehari. Jarak terpanjang yang pernah saya tempuh dalam waktu 9 jam lebih adalah dari Sydney ke Melbourne, yaitu sekitar 880 km. Menempuh jarak sepanjang itu seorang diri, saya harus bertahan menghadapi rasa bosan dan kantuk. Jalan yang panjang, lurus dan sepi memang bisa membuat pengemudi kehilangan konsentrasi. Mengemudi mobil jarak jauh memang seringkali membuat otak beristirahat dan pikiran melantur kemana-mana. Karena tidak ada yang perlu dipikirkan, pengemudi mobil seolah menjadi sebuah robot. Ini tentu saja bisa menimbulkan situasi yang membahayakan dirinya atau orang lain.

Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal di lingkungan gereja, ayat yang mengingatkan orang Kristen untuk memakai baik roh maupun akal  budi dalam berdoa dan memuji Tuhan. Memang dalam keadaan tertentu, suasana bisa membawa mereka yang berdoa dan bernyanyi untuk melakukan hal itu seperti otomatis saja, alias tanpa perlu berpikir. Lebih dari itu ada orang-orang yang sengaja mencari suasana dan kesempatan untuk mengistirahatkan pikirannya dan berusaha bersekutu dengan Tuhan dalam roh saja. Dengan demikian mereka yang terlibat tidak akan mengerti apa yang terjadi pada dirinya atau pada orang lain. Karena pikiran yang kosong atau dikosongkan, hal-hal sedemikian tentu bisa menimbulkan situasi yang kurang baik bagi diri mereka atau orang lain.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kita harus berdoa tanpa memakai pikiran kita. Ajaran yang menganjurkan orang untuk menyepi dan mengosongkan pikiran dalam bersekutu dengan Tuhan bukanlah  berdasarkan firman Tuhan, tetapi berdasarkan pengalaman pribadi orang-orang tertentu dan dengan demikian bersifat empiris saja. Selain itu, berbagai kepercayaan Timur yang berbau mistik juga sering mendorong orang untuk menyepi, mencari tempat-tempat tertentu yang dipercaya sebagai tempat yang sering dikunjungi Tuhan. Lebih dari itu banyak juga aliran gereja baru yang sekarang ini menganjurkan jemaatnya untuk berdoa secara hening (contemplative prayer), dengan mendengarkan lagu-lagu tertentu atau dengan mengucapkan kata-kata tertentu secara terus menerus. Praktik-praktik semacam itu jelas berusaha memisahkan roh dan pikiran.

Baikkah jika kita berdoa dan bersekutu dengan Tuhan dan sesama kita dengan roh saja, sambil mematikan pikiran atau akal budi kita? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dengan jelas menolak hal itu. Manusia yang diciptakan menurut gambar Allah adalah manusia yang lengkap dengan roh dan akal budi. Manusia yang memang berupa rohani dan jasmani tidak seharusnya menghentikan pikirannya untuk bisa mendengarkan suara Tuhan. Pada saat kita mengistirahatkan pikiran kita, kita justru kehilangan kesadaran bahwa yang seharusnya kita hadapi adalah Tuhan yang mahabesar, mahakasih dan mahasuci. Tidaklah mengherankan, dalam suasana mistik seperti itu manusia sulit untuk menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Karena itu, sering terjadi bahwa dalam keadaan sedemikian orang justru bisa tertipu oleh suara-suara mistik yang bukan dari Tuhan.

Hari ini firman Tuhan secara gamblang menyatakan bahwa dalam membina hubungan dengan Tuhan kita, kita haruslah memakai roh dan akal budi kita. Tanpa melalui roh, akal budi kita tidak dapat merasakan kehadiranNya dalam hidup dan hati kita. Tanpa memakai akal budi atau pikiran, kita akan mudah terjerumus dalam tindakan-tindakan yang justru bisa menjauhkan kita dari kebenaran Tuhan. Biarlah kita selalu mau berdoa meminta penyertaanNya agar kita bisa memakai roh dan pikiran kita dengan sebaik-baiknya untuk bisa memuliakan Tuhan dalam menjalani hidup kita hari demi hari.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Berbahagialah bangsa yang percaya kepada Tuhan

“TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri!” Mazmur 33: 10 – 12

Tanggal 1 September adalah permulaan musim semi di Australia. Sekalipun udara masih cukup dingin di Toowoomba, matahari terasa mulai bersinar cukup panjang. Permulaan mesim semi biasanya disambut dengan rasa gembira di negara yang mengalami empat musim, karena pohon-pohon yang mulai tumbuh daunnya sesudah musim dingin berakhir. Dengan demikian, musim semi biasanya adalah musim yang dihubungkan dengan kegembiraan hidup. Walaupun begitu, pikiran saya justru melayang jauh ke benua Eropa dimana musim rontok baru saja dimulai. Bayangan bahwa daun-daun mulai berjatuhan memang bisa membuat hati sedih.

Perang dunia kedua dimulai di Eropa pada tanggal 1 September 1939 tatkala tentara Jerman menyerbu memasuki Polandia. Ribuan tentara dan penduduk Polandia menjadi korban keganasan tentara Jerman pada waktu itu. Inggris dan Perancis kemudian memaklumkan perang kepada Jerman pada tanggal 3 September, dan beberapa negara lain kemudian ikut menyusul. Perang dunia kedua menyebabkan sekitar 6 juta penduduk Polandia menemui ajalnya sampai akhir perang  di tahun 1945. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, Amerika dan Rusia menjadi negara adikuasa dan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) serta negara Israel kemudian terbentuk.  Bagaimana perang yang terbesar di dunia itu bisa terjadi dan kemudian berakhir dengan hancurnya Hitler dan sekutunya, adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan. Lebih sulit lagi untuk memikirkan apa yang Tuhan kerjakan selama berlangsungnya perang itu.

Adakah peranan Tuhan dalam hidup manusia dan apa yang dilakukanNya dalam menghadapi segala rencana bangsa-bangsa? Ayat di atas menulis bahwa  Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa, tetapi rencanaNya tetap selama-lamanya; rancangan hatiNya turun-temurun. Jelaslah bahwa Tuhan mempunyai rencana tertentu untuk seisi bumi dan jika ada bangsa-bangsa yang berusaha untuk merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendakNya, Tuhan akan menghancurkan rencana-rencana itu. Bagi Tuhan, apa yang tidak sesuai dengan rencanaNya adalah sesuatu yang jahat dan buruk, dan Ia tidak akan memperbolehkan itu terjadi. Sebaliknya, apa yang dirancang Tuhan pasti terjadi sekalipun manusia berusaha menggagalkannya.

Benarkah bahwa Tuhan tetap bekerja mengatur semua orang dan semua bangsa di dunia sampai saat ini? Melihat keadaan dunia sekarang yang sekalipun tidak mengalami perang tetap saja kacau-balau, mungkin ada orang yang menyangka bahwa Tuhan sedang tidur, dan bahkan ada orang yang percaya bahwa Tuhan sudah mati. Mungkinkah manusia sekarang bisa memakai kehendak bebas mereka tanpa persetujuan Tuhan? Bukankah manusia di berbagai negara sekarang bebas untuk menikmati hidup yang bebas dalam hal memakai narkoba, hidup pesta-pora, melakukan aborsi ataupun euthanasia, dan memilih teman hidup apapun? Bukankah negara dan bangsa tidak lagi bisa melarang rakyat melakukan hal yang bisa membuat Tuhan marah?

Ayat di atas menegaskan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang “pilih kasih”. Sebagai Tuhan pemilik alam semesta, tidak ada yang bisa melarangNya untuk lebih mengasihi negara, bangsa dan orang tertentu. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, karena mereka yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri. Mereka yang percaya kepadaNya akan diselamatkan, dan siapa pun yang hidup sesuai dengan firmanNya adalah orang-orang yang berbahagia.

Apa yang bisa kita pelajari dari perang dunia ke dua adalah  adanya bangsa-bangsa yang mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak mau menaati perintahNya. Pada zaman ini, keadaan tetap saja seperti itu,  banyak bangsa mengaku bahwa Tuhan itu ada tetapi dalam perbuatan sehari-hari mereka tidak menunjukkan iman kepada Tuhan yang sudah mengirim AnakNya untuk menebus dosa manusia. Hanya melalui darah Kristus, manusia bisa ditebus dari belenggu dosa dan menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Hanya mereka yang menjadi milikNya akan menjadi milik Yesus dan menerima kebahagiaan kekal sebagai karunia Tuhan.

“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.” Yohanes 17: 9 – 10

Siapakah Bapamu dan siapa pula Pemimpinmu?

“Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Matius 23: 9 – 10

Hari ini adalah Father’s day atau Hari Ayah di Australia. Pada hari ini, dalam keluarga yang merayakannya, para ayah mendapatkan perlakuan istimewa. Anak yang sudah dewasa mungkin mengajak ayahnya untuk menikmati acara kekeluargaan tertentu. Anak-anak yang masih kecil mungkin membuat kartu ucapan selamat Hari Ayah dan kartu ucapan terima kasih kepada ayah-ayah mereka.

Ucapan terima kasih kepada ayah yang menyayangi anak-anaknya sudah tentu adalah sepantasnya. Seorang ayah adalah figur yang selayaknya dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya karena ayah yang baik adalah bapa yang melindungi dan memimpin anak-anaknya. Walaupun demikian Yesus dalam ayat diatas melarang murid-muridNya memanggil siapa pun sebagai bapa karena hanya Tuhan di surga yang pantas disebut Bapa. Mengapa demikian?

Bapa yang disebutkan dalam Matius 23: 9 adalah Abba dalam bahasa Ibrani. Dalam konteksnya, Abba adalah oknum yang mempunyai kuasa, otoritas dan kontrol atas hidup manusia. Abba jugalah yang bisa memberkati manusia yang menurut perintahNya dan menghukum mereka yang durjana. Oleh karena itu, panggilan Abba dalam arti yang sepenuhnya hanya patut diberikan kepada Tuhan.

Jika panggilan Abba yang dilandasi dengan penyerahan total adalah hanya untuk Allah, sudah tentu Ia menuntut ketaatan dari umatNya yang lebih besar dari ketaatan yang diberikan manusia kepada ayah mereka. Sayang sekali bahwa tidak semua orang menyadari kemahabesaran Tuhan. Sebab sekalipun banyak orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya (Roma 1: 21).

Bagaimana pula dengan ketaatan kepada para pemimpin masyarakat, seperti pemimpin, sekolah, perusahaan, gereja, partai dan negara? Matius 23: 10 menyatakan bahwa kita hanya mempunyai satu Pemimpin yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Pemimpin kita adalah Oknum Ilahi yang sudah berkurban untuk menebus dosa kita dengan darahNya.

Dalam hal ini, Filipi 2: 6 – 11 menyatakan bahwa Yesus yang adalah Allah, telah mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan itu, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Jelaslah bahwa Yesus Kristus adalah Pemimpin sejati umat Kristen.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan siapa yang harus kita muliakan dalam hidup ini. Jika manusia cenderung untuk mengagumi, menghormati, menaati dan mengasihi orang-orang yang mereka pandang luar biasa, Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahakasih adalah jauh lebih mulia dari semuanya. Kepada Allah saja kita patut memanggil Abba dan kepada AnakNya yang tunggal kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk dipimpinNya.

Adakah alasan untuk sombong?

“Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” 1 Korintus 4: 7

Pernahkah anda memikirkan mengapa orang bisa menjadi sombong? Anda mungkin berpendapat bahwa ada banyak hal yang bisa membuat orang pongah: harta, kedudukan, kepandaian, kemampuan, kerupawanan dan sebagainya. Selain itu, hidup kerohanian dan keagamaan pun bisa membuat orang jadi congkak. Jika demikian, apakah yang paling sering membuat orang menjadi sombong?

Sekalipun tidak mudah menjawab pertanyaan ini, agaknya sebuah peribahasa lama mungkin bisa memberi jawabannya. “Seperti katak di bawah tempurung” adalah peribahasa yang menunjuk kepada seseorang yang memiliki pengetahuan atau wawasan yang sempit. Katak yang hidup di bawah tempurung tidak bisa melihat dunia yang ada di sekitarnya. Ia merasa bahwa ia sudah tahu segala sesuatu, sekalipun apa yang bisa dilihatnya hanya apa yang ada di bawah tempurung. Orang yang sombong seringkali tidak menyadari bahwa ada yang jauh lebih besar dari apa yang bisa dilihatnya.

Ayat diatas adalah teguran rasul Paulus kepada sebagian jemaat di Korintus yang sombong. Ia bertanya mengapa mereka begitu bangga dan berlagak seperti orang penting dan orang kaya. Paulus menegur mereka karena semua itu hanya pemberian Tuhan. Paulus bertanya mengapa mereka memegahkan diri, seolah-olah mendapatkan semua itu dengan jerih payah sendiri. Padahal, jika manusia dapat hidup di bumi dan kemudian di surga, itu karena Tuhan yang sudah memberikan karuniaNya dengan cuma-cuma.

Mereka yang tidak bisa melihat kemurahan Tuhan dalam hidupnya adalah orang-orang yang terbatas pengertiannya. Mereka hanya hidup dalam kecupatannya, dan tidak sadar bahwa segala sesuatu ada karena Tuhan. Mereka tidak bisa merasakan adanya Tuhan yang mahabesar, karena mereka hanya bisa melihat apa yang ada dalam hidupnya yang dipengaruhi dosa. Kegelapan yang ada membuat mereka hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat dan dinikmati .

Pagi ini, jika kita bangun dan merasa berbahagia karena adanya keluarga, rumah, kendaraan, makanan, kesehatan, pekerjaan, kedudukan dan segala yang baik, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan yang mahakasih ada di balik semua itu. Kita tidak boleh buta akan kasih dan berkatNya atau merasa bangga seakan semua itu terjadi karena kehebatan kita sendiri. Jika kita bangga, itu adalah karena kita mempunyai Tuhan yang sudah memberikan segala yang baik dalam hidup kita!

Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” 1 Korintus 1: 31

Hal memanjakan orang yang dikasihi

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 37

Hari Minggu mendatang adalah Hari Ayah di Australia (Father’s day). Hari Ayah adalah hari untuk menghormati ayah yang dirayakan pada pekan pertama di bulan September di negara Australia, Selandia Baru, Fiji dan Papua Nugini.  Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Turki, Pakistan, Malaysia, Singapura, Taiwan, Filipina, dan Hongkong, Hari Ayah dirayakan pada hari Minggu di pekan ke tiga bulan Juni. Di Indonesia Hari Ayah dirayakan pada tanggal 12 November sejak tahun 2006.

Biasanya Hari Ayah dirayakan dengan pemberian hadiah kepada ayah dan kegiatan kekeluargaan.  Pada banyak keluarga, kaum ayah dianggap sebagai tulang punggung, sandaran, dan pelindung, dan karena itu setahun sekali mereka boleh merasa “dimanjakan” oleh anggota keluarganya. Setahun sekali, seorang ayah boleh merasakan bahwa segala jerih payahnya dihargai oleh anak-istrinya. Perlu dicatat bahwa dalam masyarakat tertentu hal memanjakan orang tua, terutama yang sudah berumur, memang merupakan sesuatu yang diharuskan untuk dilakukan anak-anak setiap hari.

Siapa yang tidak mau dimanjakan? Agaknya semua orang akan senang jika orang lain memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Walaupun demikian, hal memanjakan dalam hidup sehari-hari bisa mempunyai konotasi yang kurang baik. Istilah “orang manja” bisa diartikan sebagai orang yang kurang baik adat kelakuannya karena selalu diberi hati, orang yang tidak pernah ditegur (dimarahi), atau orang dituruti semua kehendaknya. Dalam kenyataannya, setiap orang mempunyai potensial untuk menjadi orang manja karena adanya orang yang memanjakan.

Orang yang memanjakan orang lain biasanya tidak bermaksud buruk, karena mereka biasanya ingin menyatakan kasih sayangnya. Apa yang buruk biasanya berasal dari perasaan ketergantungan kepada orang lain sehingga pemanjaan dilakukan agar mereka menerima balasan atau perhatian dari orang yang dimanjakan. Selain itu, mereka yang memanjakan seringkali merasa bahwa orang yang dimanjakan adalah orang yang patut dikagumi dan dicintai sepenuh hati. Dengan kata lain, orang yang dimanjakan adalah orang yang menjadi pusat hidup mereka.  Ketergantungan dan kekaguman kepada orang lain inilah yang bisa membuat hubungan manusia dengan Tuhan menjadi hal yang kurang penting. Mereka yang selalu dimanjakan pada akhirnya akan merasa bahwa diri mereka adalah yang paling penting.

Dalam kehidupan keluarga, bukan saja suami yang bisa dimanjakan, istri atau anak juga bisa mengalami hal yang serupa. Selain itu, di gereja ada pendeta-pendeta tertentu mengalami pemanjaan jemaatnya, dan di negara-negara tertentu para pemimpin sangat diagung-agungkan rakyatnya. Mereka yang dimanjakan mungkin saja merasa senang dengan perlakuan yang mereka terima dari orang lain, tanpa menyadari bahwa mereka membiarkan terjadinya hal yang dibenci oleh Tuhan.

Pagi ini, ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Tuhan, ia tidak layak bagi Tuhan; dan barangsiapa mengasihi anaknya lebih dari pada Tuhan, ia tidak juga layak bagi Tuhan. Dengan demikian, mereka yang mengagumi orang lain lebih dari Tuhan, mereka yang menaati manusia lebih dari Tuhan, mereka yang bergantung pada manusia lebih dari Tuhan, mereka yang lebih takut kepada manusia lebih dari pada Tuhan, dan mereka yang siap mengurbankan diri untuk manusia lebih dari Tuhan, akan membuat Tuhan cemburu. Apa  yang mungkin dipandang sebagai pernyataan cinta kasih dan pengabdian kepada sesama manusia, bisa menjadi hal yang membuat mereka tidak pantas menjadi pengikut Tuhan.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Markus 12: 30

 

Membina hubungan suami istri

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kolose 3: 18 – 19

old couple in black and white | Elderly couple reminiscing i… | Flickr

Beberapa minggu yang lalu, sepasang suami-istri dari suatu gereja merayakan hari ulang tahun perkawinan  yang ke 50. Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, dan karena itu mereka yang masih sehat dan sempat merayakan “kawin mas” atau golden wedding anniversary tentunya merasa sangat berbahagia, begitu pula dengan sanak keluarga mereka. Bagaimana tidak? Mereka yang berbahagia itu nampaknya tidak lelah, tetapi justru masih sanggup untuk saling memberi perhatian dan kasih sayang untuk tahun-tahun mendatang.

Dalam kenyataannya, perkawinan di Australia seringkali tidak berlangsung lama. Beberapa data mengenai hal ini:

  • Pada tahun 2017 ada 112954 perkawinan
  • Pada tahun 2017 ada 40032 perceraian
  • Ada 2 perceraian tiap 1000 orang penduduk
  • Lama perkawinan rata-rata 12 tahun
  • Usia pada saat perceraian yang paling umum 45,5 tahun (pria) dan 42,9 tahun (wanita).

Di Indonesia mungkin angka perceraian tidaklah seburuk itu karena perceraian sering dianggap membawa aib bagi keluarga. Sebab itu banyak orang yang sebenarnya sudah bercerai secara batin sekalipun masih tinggal di bawah satu atap.

Mengapa perceraian mudah terjadi? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab karena adanya berbagai faktor yang bisa mempengaruhi hubungan antara suami dan istri. Selain faktor usia, ekonomi, pendidikan, kesehatan, agama, kebudayaan dan agama, ada juga faktor-faktor dari luar yang bisa menghancurkan perkawinan.

Adanya persoalan hidup yang berbagai ragam sebenarnya adalah jamak karena itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Walaupun demikian, persoalan yang kecil bisa menjadi besar dan persoalan yang bagaimana pun bisa menghancurkan rumah tangga jika tidak segera diatasi.  Dengan demikian, jelas bahwa perkawinan akan mudah hancur jika tidak ada ikatan yang kuat antara suami dan istri dan komunikasi yang baik dan jujur di antara keduanya.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibahas sebagai pedoman hidup keluarga di kalangan orang Kristen, tetapi juga ayat yang sering menyebabkan perbantahan antara suami dan istri. Mengapa demikian? Dalam ayat itu ada disebutkan bahwa seorang istri harus tunduk kepada suami dan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya. Bagi sebagian kaum wanita, kata “tunduk” sering dipikirkan sebagai kesediaan untuk menjadi seperti hamba yang mau melakukan apa saja yang diminta tuannya. Lebih dari itu, sebagian orang menyangka bahwa istri harus menuruti apa saja yang dimaui suami, sekalipun itu bukan hal yang benar atau yang baik. Tambahan lagi, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa tidaklah patut untuk seorang istri merasa lebih pandai, lebih mampu atau lebih bijaksana dari suaminya.

Di zaman modern ini banyak kaum wanita yang memandang bahwa ayat diatas sudah ketinggalan zaman. Bagi sebagian, keharusan untuk tunduk itu dianggap sebagai penyebab kekacauan rumah tangga. Pada pihak yang lain, ada yang berpendapat bahwa kekacauan rumah tangga terjadi karena istri yang selalu tunduk sehingga suami bebas untuk berbuat semaunya. Lalu bagaimana mungkin kata “tunduk” itu bisa muncul dalam Alkitab tidak hanya di kitab Kolose, tetapi juga di kitab Efesus dan Petrus? Dan mengapa “tunduk” merupakan perintah kepada istri, sedang “kasih” ditujukan kepada suami?

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5: 24 – 25

Hubungan antara suami dan istri dalam Alkitab ternyata dipakai untuk melambangkan hubungan antara jemaat dan Kristus. Seperti indahnya hubungan antara jemaat dengan Kristus, begitu juga hubungan antara istri dan suami bisa menjadi indah dan langgeng jika mereka menyadari fungsi masing-masing. Seorang suami mempunyai kewajiban untuk melindungi dan mengasihi istrinya seperti Kristus sudah lebih dulu mengurbankan diriNya untuk jemaatNya.

Seorang istri yang merasakan besarnya kasih dan dedikasi sang suami akan bisa dengan sungguh hati menghormati dia. Hal ini mirip dengan jemaat yang mengasihi Kristus karena Ia lebih dulu berkurban. Seorang istri dengan senang hati mau memberikan kesempatan kepada sang suami untuk memimpin rumah-tangga jika sang suami mau melakukan tugasnya. Ini seperti jemaat yang menurut kepada pimpinan Kristus.

Pada kenyataannya, banyak suami yang tidak sadar bahwa ia harus bisa mencontoh Kristus yang mau berkurban untuk jemaatNya. Mereka lupa bahwa jika mereka mau menjadi pemimpin, itu bukanlah berarti menjadi majikan. Seorang suami yang baik akan mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, sama seperti Kristus yang mengasihi jemaat (Efesus 5: 28 – 29). Pada pihak yang lain, ada juga istri yang selalu ingin untuk ikut berfungsi sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan bahkan memandang rendah kemampuan sang suami.

Hubungan suami istri menurut Alkitab bukanlah seperti apa yang diajarkan oleh dunia. Pada saat ini orang cenderung untuk menuntut haknya dan dengan demikian mudah jatuh ke dalam pertikaian. Jika suami hanya menuntut ketaatan istri dan istri hanya menuntut kesabaran dan kasih sayang suami, hidup rumah tangga hanya berisi hal tuntut-menuntut. Sebaliknya, hidup suami istri menurut Alkitab adalah berdasarkan kewajiban.

Baik suami maupun istri harus ingat akan kewajiban mereka, dan berlomba-lomba untuk lebih dulu berbuat baik bagi yang lain. Baik suami maupun istri harus sadar bahwa setiap orang mempunyai kelemahan-kelemahan tersendiri. Dalam hidup berumah tangga kekuatan akan datang dari kasih dan kemurahan hati pasangan hidup kita. Inilah kunci kesuksesan dan kebahagiaan rumah tangga!

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35