“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15:14
Teringat saya sewaktu berada di Jepang, dengan teman-teman seuniversitas saya sering berbincang-bincang tentang berbagai hal jika lagi senggang. Salah satu bahan pembicaraan adalah mengenai agama dan hidup sesudah mati (life after death). Walaupun kebanyakan teman saya bukan orang religius, seperti orang Jepang lainnya secara tradisi mereka mengaku beragama Shinto dan Budha. Agama Shinto karena itu bermanfaat untuk bisa hidup bahagia di dunia, agama Budha karena itu berguna untuk bisa hidup di surga sesudah mati. Dengan berbekal dua agama ini, mereka merasa siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan.
Bagi kita yang mengikut Kristus, hidup di dunia ataupun di surga adalah berada dalam tangan Tuhan yang mahakuasa. Sebagai ciptaan Tuhan, kita bisa mengharapkan penyertaanNya selagi kita masih hidup di dunia, tetapi kita juga berharap kepada Tuhan yang sama untuk masa depan yang cerah di surga sesudah hidup di dunia ini selesai. Walaupun demikian, iman Kristen tidaklah mengajarkan bahwa hidup kita di dunia ini akan selalu berkelimpahan. Sebaliknya, kita tahu bahwa didalam Tuhan kita akan dikuatkan dalam segala tantangan dan penderitaan selama kita hidup di dunia.
Jika hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan, orang Kristen menyadari bahwa itu bukanlah yang utama. Karena segala sesuatu yang ada di bumi hanyalah sementara, Yesus mengajarkan agar kita mencari apa yang tidak bisa lenyap, yaitu kebahagiaan di surga. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa manusia mempunyai hidup dalam bentuk lain sesudah kematian jasmani. Adakah bentuk kehidupan yang sesuai dengan keadaan di surga?
Bagaimana orang bisa yakin bahwa ada hidup sesudah kematian? Dan bagaimana orang bisa yakin bahwa ia bisa hidup lagi dan bisa ke surga sesudah mati? Tidak ada seorangpun di dunia yang pernah hidup, mati, untuk kemudian bangkit dan naik ke surga. Kecuali Yesus Kristus. Yesus yang turun ke dunia sebagai manusia yang sepenuhnya, Ia jugalah yang kemudian mati disalib dan dikuburkan sebagaimana layaknya manusia. Walaupun begitu, Yesus yang mati kemudian bangkit pada hari yang ketiga, dan itu membuktikan bahwa ada kehidupan yang lain sesudah kematian.
Kebangkitan Yesus juga merupakan pemenuhan janjiNya bahwa seperti Ia bangkit, mereka yang percaya kepadaNya juga akan dibangkitkan dan hidup bersama dengan Dia di surga. Itu adalah janji Tuhan yang benar-benar akan terjadi, karena itu sudah ada terbukti dengan adanya saksi mata, yaitu murid-murid Yesus yang menjumpai kubur yang kosong dan kemudian bertemu dengan Dia yang mempunyai tubuh yang tidak lagi berupa tubuh jasmani.
Pagi hari ini kita merayakan hari kemenangan Yesus atas maut. Dengan kebangkitanNya, iman kita bukanlah hal yang sia-sia. Dosa kita sudah ditebus oleh kematianNya, dan karena kebangkitanNya kita mempunyai harapan masa depan untuk bisa bersama dengan Dia di surga sesudah tugas kita di dunia berakhir. Haleluya!
“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5
Jika anda adalah penggemar opera, pertunjukan musik dan balet, mungkin anda ingat bahwa panggung pertunjukan tradisional umumnya mempunyai tabir (curtain). Tetapi banyak gedung pertunjukan modern di dunia yang sekarang tidak lagi mempunyai tabir seperti itu.
Australia adalah negara peternak domba nomer dua sedunia. Banyak domba yang diekspor ke luar negeri melalui jalur laut, kemudian di proses oleh abatoar setempat guna dijadikan daging konsumsi manusia. Sekalipun tujuan akhir dari ekspor itu adalah pengadaan daging, pemerintah Australia cukup dibuat rikuh dengan adanya berita yang muncul akhir-akhir yang menunjukkan adanya malpraktek terhadap domba-domba Australia di beberapa negara yang mengimpor domba itu. Domba-domba yang seharusnya dipelihara dengan baik sebelum saat penyembelihan sering diperlakukan dengan tidak semestinya, dan cara penyembelihannya juga dianggap tidak manusiawi. Domba-domba yang malang itu seringkali terlihat seperti makhluk yang tidak berdaya dalam cengkeraman manusia yang kejam.
Kejadian terbakarnya katedral Notre Dame di Paris kemarin dulu adalah berita yang membuat banyak orang merasa masygul. Sebagian orang merasa sedih karena bangunan yang sudah berumur ratusan tahun itu merupakan bentuk arsitektur yang luar biasa. Mereka yang merasa ikut memiliki gedung gereja itu merasa sedih karena kerusakan berat yang sudah terjadi.
Pernahkah anda menonton pertandingan gulat? Pertandingan gulat (wrestling) yang ada di TV seringkali hanyalah untuk konsumsi mereka yang senang menonton pertunjukan atau entertainment. Pertandingan gulat yang asli menghadapkan dua orang yang benar-benar bertanding dan bukan hanya berpura-pura bertanding. Karena itu, dalam pertandingan gulat seperti itu cedera sering terjadi.
Tanggal 17 April yang akan datang bangsa Indonesia akan menghadapi pemilihan umum. Sebulan kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Mei, Australia akan mengalami hal yang serupa. Pemilihan umum adalah pelaksanaan demokrasi yang paling nyata dalam sebuah negara, untuk mana manusia harus bersyukur karena adanya kemerdekaan setiap warga untuk menyatakan pendapatnya. Kemerdekaan atau freedom yang dipunyai sebuah bangsa, seringkali hanya bisa dicapai dengan pengorbanan besar. Karena itu, pemilihan umum adalah suatu pesta demokrasi yang harus kita nikmati bersama.
Tiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, dimana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang melakukan pelanggaran hukum? Apakah ia sadar akan adanya hukum? Apakah ia dengan sengaja melanggar hukum? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah sebagian dari apa yang diperdebatkan di depan hakim.
Ingatkah anda akan lagu Gang Kelinci? Lagu lama yang pernah dinyanyikan Lilis Suryani dan Titik Puspa ini menceritakan kehidupan di satu gang di Jakarta. Gang Kelinci yang berada di samping Pasar Baru, Jakarta, adalah daerah yang padat penduduknya dan sempit jalannya. Walaupun demikian, dalam nyanyian itu diutarakan adanya rasa bahagia karena penduduknya rukun dan damai.