“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Matius 5: 6
Jam berapa anda biasanya makan malam? Ada orang yang selalu makan malam pada jam tertentu; lapar atau tidak lapar, itu harus dilakukan. Tetapi ada pula orang yang menunggu sampai perut terasa lapar. Memang jika perut belum lapar, kata orang, makanan yang enak bagaimanapun akan terasa kurang “sreg”. Sebaliknya, jika perut kita lapar dan mulut terasa haus, makanan dan minuman apapun terasa enak dan menyegarkan. Kemampuan untuk merasa lapar adalah berkat Tuhan agar kita bisa merasakan kasih karuniaNya dan bersyukur kepadaNya.
Rasa lapar di perut dan rasa haus di mulut adalah rasa lapar jasmani. Selama di dunia, semua makhluk hidup harus mencukupi kebutuhan jasmaninya. Karena itu, mereka harus mempunyai gairah untuk makan dan minum agar energi baru untuk tubuh bisa diterima dan dipakai untuk pertumbuhan atau kesehatan badan. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia bukannya hanya terdiri dari jasmani saja, tetapi juga rohani. Untuk bisa bertumbuh dalam hal rohani, perlu adanya firman Tuhan yang masuk untuk menyegarkan jiwa kita. Sayang sekali, sebagai makhluk yang paling pandai di alam semesta ini, tidak semua manusia menyadari kebutuhan rohaninya. Kebanyakan orang bisa melihat berbagai kebutuhan jasmani dan mau berjuang mati-matian untuk mencapai kepuasan, tetapi dalam hal rohani mereka agaknya kurang peduli.
Mereka yang sadar akan adanya faktor rohani dalam hidup ini, mungkin mencari kepuasan dari hal-hal yang bukan bersifat kebendaan. Mungkin mereka mencari kebahagiaan dalam pendekatan alam semesta, atau dalam merenungkan ajaran filsuf-filsuf dan guru-guru agama. Bahkan ada juga yang merasa berbahagia jika dapat mengasingkan diri ke tempat yang sepi dan membaca ayat-ayat dari buku suci mereka. Tetapi jika apa yang mereka cari bukanlah kebenaran yang sejati, rasa puas dalam kehidupan tidaklah akan tercapai. Hidup mereka dalam pandangan orang lain mungkin nampak bahagia, tetapi jika mereka tidak mengerti apa arti hidup ini, kekosongan selalu ada dalam hati mereka. Untuk apa hidup ini? Mengapa ada penderitaan dalam hidup? Apa arti keadilan Tuhan? Apa arti segala kepandaian, kesuksesan dan kemegahan yang aku punyai? Siapakah aku ini di antara segala apa yang ada di alam semesta? Kemanakah aku pergi setelah aku mati?
Pagi ini ayat diatas seharusnya menyadarkan kita bahwa jika Tuhan memberikan rasa lapar dan haus dalam hal jasmani kepada kita agar kita bisa menikmati segala berkat makanan dan minuman yang Ia berikan, begitu pula Ia memberikan rasa lapar dan haus untuk rohani kita, agar kita bisa merasakan perlunya bagi kita untuk mendapat kebenaran dari Tuhan yang akan memberi kepuasan dan kedamaian hati.
Banyak orang yang menolak tawaran untuk makan atau minum untuk pertumbuhan rohani mereka karena merasa waktunya belum tepat; dan banyak juga yang tidak mau karena belum merasa lapar atau haus. Ada juga mereka yang hanya mau makan dan minum jika apa yang disajikan sesuai dengan selera mereka. Sekalipun panggilan Tuhan sudah dibisikkan berkali-kali, sebagian tetap mengeraskan hati dan mencoba menutupi rasa lapar dan haus mereka akan kebenaran.
Tahukah anda apa arti hidup anda? Yakinkah anda bahwa anda sudah mencapai segalanya? Ataukah anda masih mendambakan adanya kedamaian, kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup? Tuhan sudah memberikan rasa lapar dan haus akan kebenaran kepada kita, dan karena itu kita harus menyambut karuniaNya dengan kemauan untuk menerima dan menikmati segala berkat rohani yang sudah dipersiapkanNya untuk kita.
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Yohanes 6: 35


Keberhasilan adalah satu hal yang masih diidam-idamkan banyak orang. Walaupun dalam pandangan umum sebagian orang mungkin sudah cukup berhasil dalam hidupnya, banyak diantara mereka yang dianggap sukses masih belum juga puas dengan apa yang sudah dicapainya. Menggantungkan cita-cita setinggi langit mungkin adalah pedoman hidup mereka, dan karena itu seringkali rasa tidak puas timbul, secara sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini, keadaan yang lebih buruk bisa terjadi jika lingkungan yang ada selalu menekankan pentingnya kesuksesan lahiriah sebagai bukti kasih Tuhan.
Bagi mereka yang senang berolahraga atletik atau menontonnya, olahraga jalan cepat seringkali membawa kejutan. Atlit-atlit yang lagi “leading” atau berada didepan, belum tentu bisa memenangkan pertandingan. Jane Saville, seorang atlit pejalan kaki dari Sydney, pada saat mengikuti perlombaan di Olimpiade 2000 di Sydney, berada di posisi terdepan dan hampir mencapai garis finis ketika ia di-diskualifikasi. Kemenangan yang sudah di ambang pintu, tiba-tiba lenyap.
Di Australia ada organisasi yang dinamakan Royal Automobile Club yang ada di berbagai negara bagian. Organisasi ini kebanyakan sudah berumur lebih dari 100 tahun, dan mempunyai tujuan untuk menghimpun para pemilik dan pengemudi mobil dalam segala kegiatan dan kepentingan bermobil. Organisasi yang ada di Queensland misalnya (RACQ) , mempunyai jasa pelayanan di jalan (road assist) yang memberi bantuan kepada mereka yang mengalami kerusakan mobil di jalan, menyediakan asuransi kendaraan dan rumah, dan juga berbagai fasilitas kemudahan lainnya. Selain itu, RACQ menerbitkan majalah bulanan yang berisi ulasan mobil, cara mengemudi di medan tertentu, laporan perjalanan manca negara, dan juga membahas peraturan lalu lintas yang baru atau yang sering disalah-mengertikan.
Suatu perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di luar negeri adalah adanya kuliah melalui internet. Dengan majunya teknologi, seorang murid tidak perlu menghadiri kuliah di universitas, tetapi cukup dengan memutar video rekaman kuliah melalui internet. Semua bahan-bahan kuliah juga tersedia secara elektronik, sehingga murid itu tidak perlu pergi ke perpustakaan atau ke toko buku.
Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36
Pernahkah anda mempelajari ilmu filsafat? Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Filsafat dalam arti aslinya tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan mengutarakan masalah secara terperinci dan mencari solusi untuk itu; dengan memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk memperoleh solusi. Untuk mempelajari ilmu filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.