“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9: 27 – 28
Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang Kristen yang sejati? Banyak orang yang bukan Kristen, mengatakan bahwa untuk diselamatkan, mereka harus selalu rajin berbuat baik dan menjalankan perintah Tuhan. Selain itu ada juga orang yang mengajarkan bahwa untuk diselamatkan manusia harus hidup suci dan meninggalkan apa yang bersifat keduniawian. Lain dari itu, ada orang yang berpendapat bahwa jika seseorang belum menerima tanda atau karunia tertentu, ia belumlah benar-benar menjadi umat Tuhan. Semua pendapat yang diatas pada hakikatnya menyatakan bahwa untuk menjadi orang Kristen kita haruslah berusaha menjadi orang yang “istimewa”.
Bukankah orang yang bisa menerima keselamatan adalah orang-orang yang sudah mempunyai hidup yang sesuai dengan firman Tuhan? Pertanyaan semacam ini agaknya aneh, tetapi seringkali dianggap sebagai kebenaran oleh orang yang bukan Kristen maupun sebagian orang Kristen. Mereka berpikir bahwa Tuhan hanya bisa menerima orang yang sudah memenuhi syarat kesucianNya. Tuhan yang mahasuci tentunya hanya mau menerima orang yang baik hidupnya. Kelihatannya pendapat ini masuk di akal.
Walaupun begitu, jika benar bahwa hanya orang-orang yang “baik” yang bisa diterima Tuhan, masalahnya adalah apa yang baik menurut standar Tuhan, tidaklah bakal terjangkau manusia. Oleh karena itu, sebenarnya semua orang tanpa terkecuali sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23
Mereka yang merasa sudah menjadi orang-orang yang diselamatkan karena “keistimewaan” mereka sebenarnya adalah orang-orang yang patut dikasihani. Mereka tidak sadar bahwa apapun dan bagaimanapun usaha mereka, keselamatan hanyalah tersedia untuk mereka yang mengaku dengan sungguh-sungguh bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak layak.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9
Kematian Yesus di kayu salib adalah satu-satunya kejadian yang memungkinkan Allah yang mahasuci untuk mengampuni manusia yang penuh dosa untuk diampuni karena Yesus yang tidak berdosa sudah menggantikan manusia untuk menerima hukuman Allah. KematianNya cukup sekali saja karena itu adalah sempurna di hadapan Allah.
Hari ini, jika kita membayangkan apa yang dialami Yesus di kayu salib, kita harus mengerti bahwa apa yang sudah sempurna tidak dapat atau perlu disempurnakan lagi. Apa yang dilakukan Yesus yang sudah memenuhi standar Allah tidak perlu untuk ditambahi perbuatan dan usaha manusia, karena tindakan semacam itu tidak lain hanyalah menunjukkan bahwa manusia belum menerima pengurbanan Yesus sebagai suatu karunia yang sempurna. Dengan demikian, perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah sebuah usaha untuk membeli keselamatan, tetapi adalah pernyataan rasa syukur atas harga penyelamatan yang sudah lunas terbayar. Yesus adalah cukup bagiku. Jesus is enough for me.
Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang juga dikenal sebagai hari kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib (the Lord’s day). Bagi sebagian orang Kristen, hari ini adalah hari perhentian, seperti hari Sabat bagi orang Yahudi dan sebagian umat Kristen. Hari yang diberikan Tuhan untuk manusia. Benarkah? Banyak orang Kristen yang mengira bahwa karena hari itu adalah hari untuk ke gereja, itu adalah hari untuk Tuhan. Tetapi Yesus sendiri yang mengatakan bahwa hari Sabat adalah hari untuk manusia. Mengapa begitu?
Semua hari itu sama, kata orang. Memang tidak ada hari mujur atau hari malang jika orang tidak percaya adanya nasib. Ayat diatas memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi dalam konteks yang lain. Hari baik adalah hari dimana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari dimana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan.
Berita semalam cukup menyedihkan. Walaupun bukan yang pertama untuk saya, berita semacam ini tetap mendatangkan rasa sedih. Seorang pendeta mega-church terkenal di satu negara dijatuhi hukuman penjara karena ia telah melecehkan puluhan anggota gerejanya dengan dalih bahwa ia adalah utusan Tuhan. Berita ini adalah kabar buruk yang untuk sekian kalinya menimpa umat Kristen. Mereka yang mengaku orang Kristen ternyata adalah antek-antek iblis, yang mencelakakan banyak anggota gereja.
Pernahkah anda menonton acara TV yang berjudul “the Indonesian Idol“? Acara lomba nyanyi serupa ini sangat populer di banyak negara. Saya sendiri adalah seorang penggemar the Australian Idol untuk beberapa tahun, sewaktu acara itu masih populer. Acara TV Australia ini berakhir pada tahun 2009 setelah popularitasnya menurun.
Hampir semua orang tentunya mempunyai cita-cita. Bagi kita, cita-cita adalah sebuah impian untuk masa depan, yang mungkin terjadi ataupun tidak. Jika impian menjadi kenyataan, tentu kita merasa senang; tetapi jika cita-cita tidak tercapai setelah menunggu sekian lama, impian kita mungkin tetap tinggal sebagai impian. Memang waktu yang berlalu dengan cepat dan banyaknya tahun yang sudah lewat, bisa secara perlahan-lahan mematikan sebuah cita-cita. Dengan bertambahnya umur, manusia akan makin sulit untuk mencapai cita-cita yang belum tercapai.
Apakah nepotisme itu? Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Istilah ini biasanya dipakai untuk mengutarakan keadaan buruk yang bisa menyebabkan keresahan karena adanya ketidakadilan. Orang yang sebenarnya berprestasi baik, ternyata tidak terpilih untuk menjabat sesuatu kedudukan karena orang yang dipilih adalah teman atau sanak dari orang yang berkuasa. Nepotisme pada hakikatnya adalah diskriminasi atas orang-orang yang bukan tergolong keluarga atau golongan sendiri.
Bekerja sebagai dosen di Australia seperti saya, ada enak dan tidak enaknya. Pekerjaan ini bukanlah seperti pekerjaan lain yang terbatas pada jumlah jam tertentu saja. Mereka yang bekerja di kantor, umumnya mulai bekerja jam 9 pagi dan pulang kerumah sekitar jam 5 sore; dalam sehari mereka bekerja sekitar 7,5 jam. Tetapi, seorang dosen tidak selalu mulai bekerja pada waktu yang sama, karena jam kerja adalah cukup fleksibel. Terkadang saya berangkat ke kantor jam 8 pagi, tetapi bisa juga jam 10 pagi, semua tergantung tugas apa yang harus dikerjakan hari itu. Kebanyakan dosen bisa bekerja dari kantor atau dari rumah dengan memakai komputer, dan biasanya bekerja setidaknya 38 jam dalam seminggu. Tetapi pada saat yang diperlukan, seorang dosen harus bekerja dua kali lebih banyak, misalnya pada saat-saat memeriksa hasil ujian atau mempersiapkan riset.
Jika saya mengingat masa muda, mau tidak mau saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Semasa muda saya ingin cepat-cepat menjadi dewasa, agar orang dewasa mau menghargai pendapat saya dan tidak menganggap saya kurang pengalaman. Sekarang, sesudah menjadi tua, saya ingin kembali menjadi muda, agar orang muda mau menerima pendapat saya dan tidak menganggap saya ketinggalan zaman!