Arti mujizat bagi orang Kristen

“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” 2 Timotius 1: 9-10

Mujizat adalah sesuatu yang terjadi diluar apa yang bisa dijangkau dengan pikiran manusia, yang dipercayai sebagai suatu hal supranatural yang berasal dari Tuhan. Semua orang Kristen percaya adanya mujizat yang dilakukan Tuhan, walaupun sering ada perbedaan pengertian mengenai detailnya.

Diantara dua posisi ekstrim, ada orang Kristen yang percaya dan mengharap mujizat bisa terjadi kapan saja dalam setiap segi kehidupan manusia, dan ada yang percaya bahwa mujizat hanya terjadi secara unik pada zaman sebelum Alkitab tertulis.

Memang dalam hidup di dunia, manusia sering mengalami saat-saat dimana kemampuannya tidak lagi dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Untuk mereka yang beriman, adalah normal jika mereka berseru meminta tolong kepada Tuhan. Seingkali jika hal yang diharapkan itu datang, orang menerimanya sebagai mujizat Tuhan yang mengabulkan doa-doa mereka.

Bagi orang lain, mujizat belum tentu datang langsung dari Tuhan karena Ia bisa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Tuhan yang maha kasih dan maha kuasa bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk menolong umatNya. Pertolongan yang terjadi karena usaha manusia tidaklah meniadakan kasih Tuhan yang memungkinkan hal itu terjadi.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mereka yang mengharapkan mujizat langsung dari Tuhan seringkali menekankan pentingnya iman yang teguh. Malahan, ada yang percaya bahwa jika apa yang diminta tidak terjadi, itu disebabkan oleh kelemahan iman. Padahal, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa agar bukan kehendak kita yang terjadi, tetapi kehendakNya. Yesus juga mengajarkan bahwa ukuran iman tidak menentukan apa yang akan terjadi.

“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Walaupun demikian, tidaklah benar jika manusia mengharapkan mujizat terjadi di setiap saat dan tempat menurut kehendak mereka; karena jika memang demikian, mujizat itu terjadi karena usaha manusia dan bukannya menurut kehendak Tuhan. Tuhan tidak dapat diperintah manusia untuk melakukan segala hal yang dimaui mereka. Dari awalnya, Tuhan melakukan suatu mujizat untuk tujuan khusus sesuai dengan maksud dan waktu Tuhan sendiri.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Mereka yang berharap akan pertolongan Tuhan dimanapun dan kapanpun, tidak akan dikecewakan jika pikiran mereka tidak hanya terpusat kepada apa yang mereka maui.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang selalu berharap atas datangnya intervensi Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan sudah melakukan mujizat yang terbesar dalam hidup mereka, dan karena itu tidak perlu mengharapkan adanya Tuhan yang secara totaliter mengontrol hidup mereka. Setiap orang beriman adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan diselamatkan melalui darah Kristus dan sudah lahir baru. Ini adalah mujizat terbesar yang tidak dapat dimengerti oleh dunia.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sejak mulanya. Dengan hidup baru ini kita seharusnya mempunyai perspektif baru tentang adanya tantangan kehidupan. Mujizat demi mujizat tetap terjadi, tetapi hidup baru kita tidak lagi bergantung padanya!

Selamat pagi!

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Mazmur 118: 24

Kata “selamat” dalam bahasa Indonesia mempunyai banyak makna dan penggunaan. Di pagi hari, jika kita bertemu dengan teman atau kolega, “selamat pagi” biasanya saling diucapkan sebagai kebiasaan menyapa yang sopan. Kata “selamat” yang sebenarnya bisa diartikan “terhindar dari musibah” dipakai pula untuk menyambut datangnya hari besar tertentu. Ucapan “selamat” juga diucapkan untuk menunjukkan perhatian dan rasa ikut berbahagia kepada mereka yang memperoleh sesuatu yang baik. Selain itu, untuk orang Kristen, kata “Juru Selamat” dipakai untuk Yesus Kristus yang sudah menyelamatkan mereka. Kata “selamat” mungkin setara dengan kata “shalom” yang dipakai orang Israrel dan berarti “sejahtera”.

Dalam bahasa Inggris, kata sapaan untuk pagi hari adalah “good morning” yang sebenarnya berarti harapan agar orang yang disapa dapat merasakan keindahan pagi hari. Untuk tahun baru, ucapan “happy new year” diucapkan sebagai harapan agar yang disapa dapat mengalami kebahagiaan di tahun baru. Untuk menunjukkan rasa senang atas kesuksesan orang lain, kata “congratulations” dipakai seperti kata “selamat”. Dan kata “the Saviour” dipakai untuk Tuhan Yesus karena Ia sudah menyelamatkan orang yang percaya.

Jelas kata selamat mempunyai arti yang luas, terutama bagi umat Kristen. Hanya saja, karena seringnya kita mengucapkannya, mungkin kita jarang memikirkan bahwa maknanya sangat dalam. Seringkali kita mengucapkan kata ini tanpa perlu berpikir lagi. Secara otomatis kata ini keluar dari mulut kita untuk sekedar berbasa basi. Bagi kita orang Kristen, kata ini seharusnya diucapkan dengan kesungguhan karena kita percaya bahwa Tuhanlah sumber keselamatan dan segala kebaikan.

Pagi ini, jika kita mengucapkan “selamat pagi” kepada seseorang, baiklah kita sadar dan mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan apa yang baik dalam hidup kita. Sekalipun kita pada saat ini mengalami kesulitan, tetapi kita tetap menyampaikan harapan agar Tuhan menyertai orang yang kita sapa. Dengan keyakinan dan rasa syukur bahwa Tuhan menjadikan hari ini agar kita bisa merasakan kasihNya, biarlah kita selalu bisa merasakan damai dan sukacita setiap hari dalam keadaan apapun!

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Apakah kita benar-benar sudah dibebaskan?

“Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.” Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. Lukas 8: 39

Dalam Lukas 8: 26-39 diceritakan bahwa ada seseorang yang kerasukan banyak setan. Dengan adanya setan-setan yang menguasai tubuhnya, orang itu menjadi sangat kuat dan bisa mengobrak abrik apa saja, termasuk rantai-rantai yang dipasang orang lain untuk mengekangnya. Semua orang yang disekelilingnya tentu saja takut, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa mengatasi keberingasan orang itu.

Tatkala Yesus bertemu dengan orang itu, setan-setan yang ada dalam diri orang itu justru ketakutan dan memohon agar Yesus tidak menghancurkan mereka. Yesus memperbolehkan setan-setan itu memasuki babi-babi yang kotor, dan seketika itu juga orang yang dulunya ganas berubah menjadi normal dan bahkan ingin menjadi murid Yesus. Tetapi Yesus menyuruhnya ia pergi untuk memberitakan kabar pembebasan dirinya dari kuasa setan kepada semua orang.

Kisah nyata diatas seharusnya bisa kita terima sebagai hal yang sering terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Begitu banyak orang yang hidupnya dikuasai iblis, yang menjadikan mereka budaknya. Mereka dengan tingkah laku dan perbuatannya merusak segala sesuatu yang baik yang ada di sekitarnya; menghancurkan kehidupan orang lain, perasaan orang lain, dan iman orang lain. Mereka dengan bebas melakukan kejahatan, ketidakadilan dan hal-hal yang tidak baik. Mereka membaktikan diri kepada kesuksesan, harta dan kemasyhuran diri sendiri.

Memang sebelum seseorang mengenal Yesus, hidupnya penuh dosa dan dikuasai iblis. Persis seperti orang yang kerasukan setan diatas, ia tidak takut untuk berbuat hal-hal yang jahat. Iblis mengatur hidupnya dan seakan memberinya kesempatan untuk melakukan dan mendapatkan apa saja yang dimauinya. Dengan kekuatan jahat si iblis, hidup orang yang belum bertobat tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Lebih celaka lagi, orang sering tidak sadar bahwa iblis menguasai hidupnya. Itu terjadi sampai pada saat ia bertemu dengan Yesus. Yesuslah yang mempunyai kuasa untuk mengusir kuasa jahat yang ada dalam hidup orang itu dan menjadikannya ciptaan yang baru.

Pagi ini hanya kita yang bisa menyadari apakah hidup kita sudah dibebaskan dari kuasa iblis. Apakah kita sudah berhenti melakukan hal-hal yang tidak baik, yang merusak hidup kita dan hidup orang lain, yang merusak kemuliaan Tuhan. Tuhan yang maha kuasa adalah Tuhan yang mengasihi kita lebih dari apapun, Ia mau mengubah kita menjadi orang-orang yang taat kepadaNya agar kita bisa memberitakan keajaiban yang diperbuatNya dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Jika kita kehilangan semangat

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Sesudah berlibur akhir pekan, tibalah hari Senin. Memang Tuhan maha kasih dan maha bijaksana ketika ia menetapkan hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat dan untuk memuliakan Dia. Tidak dapat dibayangkan bagaimana rasanya jika orang harus bekerja tujuh hari seminggu terus menerus.

Walaupun hari Minggu dan bahkan Sabtu adalah hari libur di banyak negara, keluhan tentang rasa lelah dan bahkan depresi, sering muncul di zaman ini. Dengan majunya teknologi seharusnya berbagai fasilitas dan sarana makin banyak tersedia, tetapi hidup manusia ternyata tidak menjadi lebih mudah. Di kota besar, justru jumlah orang yang mengalami kesepian dan depresi justru menjadi makin banyak seperti layaknya sebuah epidemi.

Mengapa hidup di zaman modern ini masih juga terasa sulit dan makin berat? Jelas bukan karena kemajuan teknologi atau bertambah pandainya manusia. Kemajuan teknologi, ekonomi, pengobatan, transportasi dan lain-lain, tidak dapat menutupi kemunduran sifat manusia. Justru dengan kemajuan teknologi, makin banyak manusia yang merasa bahwa hidup mereka ada di tangan sendiri. Alkitab memang menulis bahwa hari-hari ini memang adalah masa yang sukar.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” 1 Timotius 3: 2-4

Hidup manusia terasa makin berat karena makin banyak orang yang tidak lagi tunduk kepada Tuhan, sehingga mereka tidak lagi memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Tuhan. Lebih-lebih lagi, banyak pemimpin di dunia yang tidak lagi mengenal Tuhan dan hanya mengabdikan diri kepada uang dan kekuatan militer dan ekonomi, serta menggunakan pengaruh uang demi kesuksesan.

Pagi ini, jika kita merasa lelah dan berbeban berat, marilah kita meneliti hidup kita dalam semua seginya. Apa yang menjadi prioritas hidup kita seharusnya bisa membuat kita makin dekat kepada Tuhan. Jika hati dan pikiran kita selalu terikat kepada hal-hal duniawi, maka perlahan-lahan iman kita akan tergerus arus dosa sehingga tidak akan terasa lagi bahwa kita sudah menjauhi Tuhan sumber kekuatan kita. Dan oleh sebab itu, kita akan sering merasa lelah dan berbeban berat karena kita tidak mendapatkan kelegaan dari Tuhan. Marilah kita memasuki minggu yang baru dengan keyakinan bahwa jika kita selalu berjalan bersama Tuhan, ketenangan hidup pasti akan datang!

Apa cita-cita anda?

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” Kolose 3: 1

Adakah yang anda inginkan untuk masa depan? Apa yang anda cita-citakan? Apakah pengharapan anda untuk anda dan keluarga? Pertanyaan sedemikian sangat umum karena setiap orang memang biasanya mempunyai keinginan tertentu untuk masa depan. Dengan bertambahnya umur, cita-cita itu mungkin berubah karena kesadaran bahwa ada tujuan hidup lain yang lebih baik atau lebih realistis.

Perjuangan untuk mencapai suatu yang berarti dalam hidup memang tidak mudah. Seringkali dalam hidup orang berusaha sekuat tenaga, tetapi apa yang diharapkan tidak kunjung datang sekalipun seluruh waktu, pikiran dan tenaga sudah dikurbankan.

Jika dipikir secara mendalam, setiap manusia dalam mengejar cita-citanya sebenarnya ingin menjadi orang yang layak menurut standar setempat. Tetapi, adakah orang yang bercita-cita untuk menjadi orang yang layak bagi Tuhannya?

Bagi orang Kristen semua orang sudah berdosa, dan karena itu orang hanya bisa menjadi layak bagi Tuhan karena darah Kristus yang sudah ditumpahkan di kayu salib. Sebab itu banyak orang Kristen yang secara sadar maupun tidak, merasa bahwa mereka tidak perlu lagi memikirkan hal menjadi anak Tuhan yang baik. Tuhan sudah menerima mereka sebagai mana adanya, itu saja yang mereka percaya.

Pagi ini kita membaca bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus memikirkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk hidup bersama Kristus di surga. Jika kita selama ini sudah mengurbankan waktu dan hidup kita untuk mengejar cita-cita duniawi, bagaimana pula dengan cita-cita surgawi, yaitu untuk menjadi anak-anak Tuhan yang tidak bercela mulai saat ini juga?

“….supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Filipi 2: 15

Pernahkah Tuhan mengecewakan anda?

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Matius 11: 6

Setiap orang tentunya pernah kecewa, pernah dikecewakan orang lain, dan pernah mengecewakan orang lain. Kekecewaan yang baik kecil ataupun besar, bisa cepat terlupakan tetapi bisa juga selalu dalam ingatan. Kekecewaan yang mudah terlupakan sering membuat orang mudah terperosok dalam keadaan serupa di masa depan, tetapi rasa kecewa yang tidak kunjung hilang jelas bisa membuat hidup seseorang sengsara.

Sebagai manusia, orang Kristen mungkin juga sering kecewa melihat berbagai peristiwa di dunia. Itu terjadi karena mereka tidak mengerti mengapa sesuatu yang buruk dan menyedihkan harus terjadi. Sebaliknya, sekalipun Yesus pernah menunjukkan rasa sedih ketika melihat apa yang tidak baik, Ia tidak pernah kecewa karena sebagai Tuhan, Ia tahu apa yang akan terjadi. Ketika Ia meminta beberapa murid untuk menemaniNya dalam berdoa di taman Getsemane dan menjumpai mereka sedang tidur, Yesus tidak kecewa. Begitu juga Ia tidak kecewa sewaktu Petrus menyangkali tiga kali. Manusia bisa kecewa, tetapi Tuhan tidak akan bisa dikecewakan seperti manusia.

Manusia kecewa karena pengetahuannya yang terbatas; apa yang diharapkan belum tentu terjadi, sekalipun sudah direncanakan dengan berhati-hati. Tuhan tidak mungkin kecewa karena Ia tahu apa yang akan terjadi dan karena dalam keadaan apapun rencanaNya selalu terjadi.

Tuhan tidak pernah bermaksud mengecewakan atau membuat umatNya menderita. Manusia kecewa dan menderita di dunia karena keterbatasannya. Manusia sering tidak bisa melihat jalan Tuhan dan lupa bahwa Tuhan mempunyai rancangan-rancangan yang harus terjadi pada saatnya. Tuhan sendiri ingin agar semua anakNya mencari kehendakNya dalam hidup di dunia supaya mereka tidak mudah kecewa.

Apa yang dialami seseorang bisa membuatnya kecewa kepada Tuhan. Kekecewaan itu juga bisa menjadi rasa benci atas apa yang terjadi. Rasa tidak berdaya bisa muncul dan berubah menjadi fatalisme, yang membuat orang kehilangan iman dan semangat hidup. Kekecewaan juga bisa membuat orang menolak adanya Tuhan yang maha kuasa.

Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita. Adakah rasa kecewa yang ada dalam hati kita? Adakah keraguan atas kasih Tuhan karena apa yang kita hadapi? Biarlah kita sadar bahwa kekecewaan kita mungkin disebabkan karena kita tidak dapat mengerti apa yang direncanakan Tuhan dan karena kita tidak menyadari bahwa Ia yang maha kasih selalu menyertai kita dalam keadaan apapun.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b

Pujilah Tuhan!

“Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: “Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” 1 Tawarich 17: 16

Dalam kesibukan hidup ini, manusia seharusnya merasa beruntung jika mempunyai saat untuk merenungkan apa yang sudah diberikan Tuhan dalam hidupnya. Mungkin di saat berliburan atau beristirahat. Tetapi, sekalipun ada waktu, kebanyakan orang sering memakainya untuk hal-hal lain yang lebih menarik, seperti berbincang- bincang dengan teman, makan minum, jalan-jalan atau melamunkan sesuatu.

Bagi banyak orang yang hidup dalam kenyamanan, mereka mungkin merasa bahwa semua yang terjadi memang sudah seharusnya. Tetapi, mereka yang hidup dalam kesusahan, yang dalam kekurangan atau sakit, mungkin juga merasa bahwa Tuhan itu tidak ada. Mungkin jarang ada orang yang senantiasa sadar bahwa hari demi hari, dan bahkan detik demi detik, Tuhan mengatur segalanya di jagad raya ini.

Ayat diatas menulis tentang reaksi Daud yang menerima firman Tuhan melalui nabi Natan bahwa dia dan anak cucunya akan menerima berkat Tuhan dan bahkan seluruh bangsa Israel akan menjadi bangsa yang besar dan Mesias akan lahir dari keturunannya. Daud sadar bahwa sebagai manusia ia tidak layak menerima segala apa yang dijanjikan Tuhan itu. Ia heran mengapa dia dan keluarganya mendapat perhatian dari Tuhan yang sedemikian besar. Mengapa Tuhan memilih dia dan keturunannya.

Seperti Daud, seharusnya kita juga heran mengapa Tuhan juga begitu kasih kepada kita. Mengapa sebagai orang berdosa, kita tetap mendapat perhatian Tuhan sehingga kita boleh menerima keselamatan dari Yesus Kristus? Mengapa didalam keadaan dunia yang serba kacau ini kita tetap bisa hidup dan melihat matahari terbit setiap pagi dan menghirup udara segar? Siapakah kita ini sehingga Tuhan mau mendengarkan doa-doa permohonan kita tiap hari?

Pagi ini, jika kita bisa menghitung berkat Tuhan selama ini dalam hidup kita, biarlah rasa takjub itu ada dalam hati dan pikiran kita seperti Daud. Sekalipun dalam hidup kita ada banyak tantangan dan penderitaan, Tuhan sudah menjanjikan suatu yang besar untuk kita di masa depan yaitu kebahagiaan di surga. Seperti Daud, kita harus juga bersyukur bahwa janji dan berkat Tuhan tidak hanya untuk diri kita saja, tetapi juga bagi masa depan anak-cucu kita. Semua sanak kita pun bisa memperoleh keselamatan hanya melalui iman. Biarlah pada hari yang baik seperti ini kita bisa bersyukur kepada Tuhan dan memohon akan berkatNya untuk orang-orang yang kita kasihi.

“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.” 1 Tawarich 17: 27

Pilihlah cara hidup yang baik

….Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” Ulangan 30: 19-20

Tiap tahun, dimanapun kita berada umumnya masyarakat setempat mempunyai kebiasaan untuk pulang kampung pada saat tertentu seperti tahun baru Imlek mendatang, guna menjenguk orang tua dan sanak saudara yang sudah lama tidak dijumpai. Di beberapa negara, arus mudik ini begitu besar sehingga banyak jalan yang macet dan kendaraan umum pun berjubel dengan penumpang.

Pertemuan antara kerabat yang sudah lama berpisah memang bisa membuat semua pihak berbahagia. Sudah tentu masalah kesehatan dan keluarga adalah salah topik pembicaraan yang cukup menarik, tetapi pertemuan semacam itu juga memberi kesempatan untuk tiap orang membandingkan kesuksesan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain. Dalam suasana seperti itu, orang saling mengucapkan harapan agar orang lain makin sukses dan makin kaya di tahun mendatang. Gong xi fa cai. Jarang orang mengucapkan doa harapan agar orang lain bisa menerima berkat dan kasih dari Tuhan di tahun mendatang. Xin Nian Meng En.

Dalam ayat diatas, umat Israel diingatkan agar mereka selalu memilih hidup yang baik yang sesuai dengan perintah Tuhan agar mereka dan keturunan mereka bisa menerima berkat dariNya. Ayat ini sangat menarik karena jelas terlihat hubungan antara iman dan kehidupan di dunia. Ada orang yang percaya bahwa iman adalah untuk kebahagiaan surgawi saja, dan ada orang lain yang percaya bahwa iman akan selalu membawa kenyamanan hidup di dunia. Tetapi ayat diatas mengatakan bahwa jika umat Tuhan mau taat kepadaNya, mereka akan memperoleh hidup yang baik, yang membawa umur panjang. Ini berarti iman orang Kristen bukan hanya untuk keselamatan surgawi saja, tetapi juga selama di dunia.

Dalam hidup di dunia, manusia selalu cenderung untuk mengikuti jalan pikiran mereka sendiri dalam keinginan untuk mencapai kesuksesan dan karena itu banyak yang jatuh kedalam berbagai masalah.

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Pagi ini, jika kita mempunyai rencana untuk bertemu dengan sanak saudara dan teman, biarlah kita sadar bahwa hidup dalam kemakmuran dan kesuksesan tanpa Tuhan pada akhirnya akan membawa kekosongan dan kekecewaan. Tetapi hidup yang menurut firman Tuhan dan yang mengasihi Tuhan akan memberi kepenuhan dan kepuasan hidup di masa mendatang. Semoga Tuhan memberi anda berkat karunia kasihNya. Xin Nian Meng En!

Kasih itu apa?

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” 1 Korintus 13: 4-6

Tiap tahun di banyak negara barat orang merayakan hari Kasih Sayang yang adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan perasaan cintanya. Di beberapa negara Asia perayaan ini juga mulai muncul, terutama karena didorong segi komersial. Memberi bunga, coklat atau hadiah kepada orang yang dicintai biasanya merupakan kebiasaan umum. Walaupun begitu, sebagian negara melarang perayaan ini karena diasosiasikan dengan agama Kristen.

Hari Kasih Sayang sebenarnya bukan hari besar. Itu adalah kebiasaan umum yang muncul di beberapa negara karena berbagai alasan. Bukan hari libur, dan bukan hari raya Kristen. Malahan, sebagian orang Kristen tidak mau merayakannya karena tidak adanya hubungan antara hari itu dengan Alkitab.

Terlepas dari alasan orang Kristen dalam merayakan atau tidak merayakan hari Kasih Sayang, adalah menarik bahwa kasih sayang serasa perlu didemonstrasikan antara dua orang pada satu hari tertentu dengan sebuah lambang, entah berupa gambar hati, bunga, ataupun cupido (Inggris: cupid).

Cupid adalah dewa cinta Romawi. Sebutan lainnya dalam bahasa Latin bagi dewa ini adalah Amor. Sebagai Amor, ia digambarkan sebagai anak kecil bersayap yang nakal, serta membawa busur dan panah, yang dapat membuat manusia maupun dewa jatuh cinta. Dalam bahasa Yunani, dewa ini dinamakan Eros, dewa cinta erotis dan daya tarik seksual.

Berbeda dengan pengertian kasih sayang duniawi, Alkitab menulis bahwa Allah mengasihi seisi dunia ini sehingga Ia mengirim AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia dengan mati di kayu salib.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Allah ini adalah kasih yang murni, agape, yang berbeda dengan kasih sayang yang mampu diperlihatkan oleh manusia. Kasih yang murni tidak hanya terjadi pada satu hari saja dalam setahun, tetapi berlangsung sepanjang masa. Kasih yang murni itu sabar dan murah hati; dan tidak mudah cemburu. Kasih yang murni tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih yang murni tidak muncul sebagai tindakan atau kelakuan yang melanggar hukum Tuhan.

Mereka yang mempunyai kasih yang murni adalah orang-orang yang dalam hidupnya setiap hari tidak mudah marah, baik di rumah, di kantor dan dimana saja, dan mereka tidak menyimpan kesalahan orang lain. Mereka yang punya kasih yang murni tidak akan bersukacita jika ada ketidakadilan, tetapi karena adanya kebenaran.

Masalahnya disini, adakah orang yang mempunyai kasih yang murni jika kasih yang sedemikian adalah sifat hakiki Allah? Manusia hanya bisa mengasihi jika ia mengenal Allah, sumber kasih.

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” 1 Yohanes 4: 8

Hanya melalui karunia Tuhan, kita dapat menunjukkan kasih karena kasih adalah pemberian Tuhan. Kasih Tuhan sudah diberikan kepada manusia yang beriman dan dinyatakan dengan lambang kayu salib dimana Yesus sudah mati ganti dosa kita. Pagi ini biarlah kita ingat bahwa adalah panggilan kita, orang yang beriman, untuk mengasihi sesama kita – bukan orang tertentu saja, bukan satu hari saja, dan bukan untuk kepentingan kita sendiri.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13: 13

Kelemahan bisa membawa kekuatan

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah. Kesibukan di kantor, sekolah maupun rumah tangga seringkali membuat kita jenuh. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan.

Soal merasa lelah dan lemah, jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Cerita kuno sering menggambarkan seorang suami yang pulang dari kantor dan melihat keadaan rumah yang porak poranda, mengomel karena merasa istri yang di rumah tidak bisa mengatur rumah tangga. Tidak heran jika sang istri yang sudah seharian bekerja keras di rumah, merasa sedih dan bahkan marah karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.

Paulus dalam ayat diatas mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Sudah sewajarnya ia merasa kuatir dengan adanya jemaat Korintus, yang sudah lama dibimbingnya, disesatkan oleh rasul-rasul palsu yang mungkin dianggap hebat dengan segala yang dibanggakan mereka.

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasihNya kepada Paulus sudah cukup. Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Pagi ini jika kita bangun dari tidur dan merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi. Apalagi jika penghargaan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini.

Tetapi, jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, dan juga dengan adanya jemaat di Korintus yang tidak menghargai segala pengurbanannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b