“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” 2 Timotius 1: 9-10
Mujizat adalah sesuatu yang terjadi diluar apa yang bisa dijangkau dengan pikiran manusia, yang dipercayai sebagai suatu hal supranatural yang berasal dari Tuhan. Semua orang Kristen percaya adanya mujizat yang dilakukan Tuhan, walaupun sering ada perbedaan pengertian mengenai detailnya.
Diantara dua posisi ekstrim, ada orang Kristen yang percaya dan mengharap mujizat bisa terjadi kapan saja dalam setiap segi kehidupan manusia, dan ada yang percaya bahwa mujizat hanya terjadi secara unik pada zaman sebelum Alkitab tertulis.
Memang dalam hidup di dunia, manusia sering mengalami saat-saat dimana kemampuannya tidak lagi dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Untuk mereka yang beriman, adalah normal jika mereka berseru meminta tolong kepada Tuhan. Seingkali jika hal yang diharapkan itu datang, orang menerimanya sebagai mujizat Tuhan yang mengabulkan doa-doa mereka.
Bagi orang lain, mujizat belum tentu datang langsung dari Tuhan karena Ia bisa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Tuhan yang maha kasih dan maha kuasa bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk menolong umatNya. Pertolongan yang terjadi karena usaha manusia tidaklah meniadakan kasih Tuhan yang memungkinkan hal itu terjadi.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28
Mereka yang mengharapkan mujizat langsung dari Tuhan seringkali menekankan pentingnya iman yang teguh. Malahan, ada yang percaya bahwa jika apa yang diminta tidak terjadi, itu disebabkan oleh kelemahan iman. Padahal, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa agar bukan kehendak kita yang terjadi, tetapi kehendakNya. Yesus juga mengajarkan bahwa ukuran iman tidak menentukan apa yang akan terjadi.
“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20
Walaupun demikian, tidaklah benar jika manusia mengharapkan mujizat terjadi di setiap saat dan tempat menurut kehendak mereka; karena jika memang demikian, mujizat itu terjadi karena usaha manusia dan bukannya menurut kehendak Tuhan. Tuhan tidak dapat diperintah manusia untuk melakukan segala hal yang dimaui mereka. Dari awalnya, Tuhan melakukan suatu mujizat untuk tujuan khusus sesuai dengan maksud dan waktu Tuhan sendiri.
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11
Mereka yang berharap akan pertolongan Tuhan dimanapun dan kapanpun, tidak akan dikecewakan jika pikiran mereka tidak hanya terpusat kepada apa yang mereka maui.
Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang selalu berharap atas datangnya intervensi Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan sudah melakukan mujizat yang terbesar dalam hidup mereka, dan karena itu tidak perlu mengharapkan adanya Tuhan yang secara totaliter mengontrol hidup mereka. Setiap orang beriman adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan diselamatkan melalui darah Kristus dan sudah lahir baru. Ini adalah mujizat terbesar yang tidak dapat dimengerti oleh dunia.
Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sejak mulanya. Dengan hidup baru ini kita seharusnya mempunyai perspektif baru tentang adanya tantangan kehidupan. Mujizat demi mujizat tetap terjadi, tetapi hidup baru kita tidak lagi bergantung padanya!
Kata “selamat” dalam bahasa Indonesia mempunyai banyak makna dan penggunaan. Di pagi hari, jika kita bertemu dengan teman atau kolega, “selamat pagi” biasanya saling diucapkan sebagai kebiasaan menyapa yang sopan. Kata “selamat” yang sebenarnya bisa diartikan “terhindar dari musibah” dipakai pula untuk menyambut datangnya hari besar tertentu. Ucapan “selamat” juga diucapkan untuk menunjukkan perhatian dan rasa ikut berbahagia kepada mereka yang memperoleh sesuatu yang baik. Selain itu, untuk orang Kristen, kata “Juru Selamat” dipakai untuk Yesus Kristus yang sudah menyelamatkan mereka. Kata “selamat” mungkin setara dengan kata “shalom” yang dipakai orang Israrel dan berarti “sejahtera”.
Dalam Lukas 8: 26-39 diceritakan bahwa ada seseorang yang kerasukan banyak setan. Dengan adanya setan-setan yang menguasai tubuhnya, orang itu menjadi sangat kuat dan bisa mengobrak abrik apa saja, termasuk rantai-rantai yang dipasang orang lain untuk mengekangnya. Semua orang yang disekelilingnya tentu saja takut, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa mengatasi keberingasan orang itu.
Sesudah berlibur akhir pekan, tibalah hari Senin. Memang Tuhan maha kasih dan maha bijaksana ketika ia menetapkan hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat dan untuk memuliakan Dia. Tidak dapat dibayangkan bagaimana rasanya jika orang harus bekerja tujuh hari seminggu terus menerus.
Adakah yang anda inginkan untuk masa depan? Apa yang anda cita-citakan? Apakah pengharapan anda untuk anda dan keluarga? Pertanyaan sedemikian sangat umum karena setiap orang memang biasanya mempunyai keinginan tertentu untuk masa depan. Dengan bertambahnya umur, cita-cita itu mungkin berubah karena kesadaran bahwa ada tujuan hidup lain yang lebih baik atau lebih realistis.
Setiap orang tentunya pernah kecewa, pernah dikecewakan orang lain, dan pernah mengecewakan orang lain. Kekecewaan yang baik kecil ataupun besar, bisa cepat terlupakan tetapi bisa juga selalu dalam ingatan. Kekecewaan yang mudah terlupakan sering membuat orang mudah terperosok dalam keadaan serupa di masa depan, tetapi rasa kecewa yang tidak kunjung hilang jelas bisa membuat hidup seseorang sengsara.
Dalam kesibukan hidup ini, manusia seharusnya merasa beruntung jika mempunyai saat untuk merenungkan apa yang sudah diberikan Tuhan dalam hidupnya. Mungkin di saat berliburan atau beristirahat. Tetapi, sekalipun ada waktu, kebanyakan orang sering memakainya untuk hal-hal lain yang lebih menarik, seperti berbincang- bincang dengan teman, makan minum, jalan-jalan atau melamunkan sesuatu.
Tiap tahun, dimanapun kita berada umumnya masyarakat setempat mempunyai kebiasaan untuk pulang kampung pada saat tertentu seperti tahun baru Imlek mendatang, guna menjenguk orang tua dan sanak saudara yang sudah lama tidak dijumpai. Di beberapa negara, arus mudik ini begitu besar sehingga banyak jalan yang macet dan kendaraan umum pun berjubel dengan penumpang.
Tiap tahun di banyak negara barat orang merayakan hari Kasih Sayang yang adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan perasaan cintanya. Di beberapa negara Asia perayaan ini juga mulai muncul, terutama karena didorong segi komersial. Memberi bunga, coklat atau hadiah kepada orang yang dicintai biasanya merupakan kebiasaan umum. Walaupun begitu, sebagian negara melarang perayaan ini karena diasosiasikan dengan agama Kristen.
Dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah. Kesibukan di kantor, sekolah maupun rumah tangga seringkali membuat kita jenuh. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan.