“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 5: 1

Apa yang sering dipikirkan manusia biasanya adalah hal-hal yang penting dalam hidup mereka. Tetapi, adalah kenyataan bahwa hal yang terpenting dalam hidup sebenarnya belum tentu dipikirkan manusia. Hal itu adalah hal hidup sesudah kehidupan di dunia. The life hereafter.
Sebagian orang berpikir bahwa hidup di dunia adalah sesuatu yang nyata dan karena itu mereka hanya memikirkan apa yang muncul dalam hidup sehari-hari. Mungkin mereka mulai memikirkan soal surga ketika mereka jatuh sakit atau lanjut usia. Tetapi banyak pula yang berpikir bahwa hidup di dunia adalah satu-satunya hidup yang ada. Ada pula mereka yang berpendapat bahwa soal surga adalah hak Tuhan. Karena itu, walaupun mereka tidak mengabaikan soal kerohanian sepenuhnya, mereka juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Pasrah saja, begitulah pikiran mereka.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga orang yang kelihatannya sering memikirkan surga dalam hidupnya, seolah perbuatan mereka di dunia ini adalah kunci ke surga. Mereka ini sepertinya hidup untuk masa depan di surga, tetapi sebenarnya kesibukan mereka adalah kesibukan duniawi. Mereka sibuk berusaha untuk memenuhi “persyaratan” untuk bisa masuk ke surga, seperti yang ditentukan oleh guru-guru agama mereka. Mereka memakai hidup mereka sedemikian rupa untuk membeli karcis ke surga. Mereka berbuat sesuatu agar bisa merasa bahwa mereka sudah diselamatkan.
Bagi umat Kristen, keselamatan hanya merupakan karunia Tuhan dan karena itu tidak ada apapun yang bisa kita perbuat untuk mendapatkannya. Hanya melalui darah Yesus, kita bisa diselamatkan. Hal ini yang sering menimbulkan keraguan apakah kita benar-benar akan ke surga setelah hidup kita di dunia berakhir. Masalahnya, sebagai manusia kita selalu berbuat dosa setiap hari dan karena itu mungkin kita bertanya-tanya, apakah yang membuat kita merasa berbeda dari orang yang lain, yang kelihatannya mempunyai hidup yang lebih “suci” jika dibandingkan dengan hidup kita. Bagaimana kita bisa diselamatkan sedangkan orang lain tidak? Bagaimana kita bisa percaya bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang tertentu sedangkan kita bebas dari hukuman?
Karena keraguan bahwa Tuhan memilih orang-orang yang akan diselamatkanNya dan memberi kemungkinan untuk orang-orang itu untuk memperoleh keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus, banyak orang menjadi kurang yakin akan keselamatannya sendiri. Mereka tidak yakin bahwa dalam keadaan apapun mereka adalah orang pilihan, dan karena itu hidup mereka tidak berisi damai sejahtera. Kalau Tuhan itu baik, tentulah Ia akan menyelamatkan semua orang karena semua orang berdosa. Kalau Tuhan itu adil tentulah orang yang hidupnya lebih baik akan menerima keselamatan sekalipun mereka tidak mengenal Yesus. Apa yang membuat aku bangga bahwa aku mengenal Tuhan satu-satunya yang membawa keselamatan? Aku tidak juga bisa merasakan bahwa aku sudah diselamatkan!
Pagi ini kita belajar dari Roma 5:1 bahwa kita dibenarkan dengan iman kepada Yesus Kristus. Tidak ada perbuatan atau segi kehidupan kita yang bisa menolong kita untuk diselamatkan. Hanya karena pengurbanan Kristus kita mempunyai kesempatan untuk memasuki hidup baru didalam Dia. Hidup baru yang membawa kepada hidup yang kekal. Hidup kitta saat ini mungkin penuh dengan duri dan hari demi hari kita mungkin merasa bahwa kita adalah orang yang gagal. Perasaan yang ada dalam hati kita mungkin hanya rasa sesal dan gundah, dan bukannya damai sejahtera seperti yang dijanjikan Tuhan kepada orang yang dipilihNya. Tetapi kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah berjanji bahwa kita akan merasa diselamatkan, tetapi Ia berjanji bahwa kita akan diselamatkan jika kita mempunyai iman. Itulah yang seharusnya memberi kita keyakinan bahwa bagaimanapun keadaan kita saat ini, Tuhan senantiasa menyertai kita sampai akhir. Itulah juga yang seharusnya membawa rasa damai sejahtera dalam hidup kita!
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24





Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar seperti raksasa, kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat.
Jika anda sempat berkunjung ke Singapura atau Hong Kong, anda akan melihat adanya hal yang mencolok mata setiap hari Minggu. Ribuan pembantu rumah tangga membanjiri taman-taman dan pusat perbelanjaan di kota dan berpiknik disana. Memang hari minggu adalah hari dimana mereka memperoleh kesempatan untuk berlibur setelah bekerja enam hari. Adalah keharusan untuk mereka yang mempunyai pembantu agar memperbolehkan pembantu mereka untuk keluar rumah pada hari Minggu untuk menikmati hari itu.