“Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” Amsal 15: 3
Pagi ini saya bangun jam 3.30 pagi karena harus ke bandara Chengdu untuk kembali ke Surabaya. Petualangan di Sichuan sudah berakhir kemarin malam dengan acara shopping di pusat pertokoan Global Center yang terbesar di dunia.
Bandara Internasional Chengdu termasuk cukup besar tetapi tidak terlalu sibuk di pagi hari ini. Walaupun demikian, untuk bisa memasuki tempat boarding saya harus melalui 3 mesin x-ray untuk pemeriksaan bagasi. Memang dalam soal keamanan, bandara ini kelihatannya termasuk paling ketat di China. Saya bisa membayangkan betapa sibuknya bandara ini jika para penumpang harus mengantri pemeriksaan ketat seperti ini ketika hari mulai siang.
Semua pemeriksaan keamanan di bandara manapun bertujuan untuk mencegah adanya penumpang yang membawa benda-benda terlarang yang bisa membahayakan penerbangan. Tanpa pemeriksaan x- ray yang ketat, penumpang bisa saja, dengan sengaja atau tidak, membawa benda-benda berbahaya kedalam pesawat. Alat x-ray dalam hal ini memang menjadi alat yang sangat berguna, seperti mata yang mampu melihat apa yang tidak terlihat mata manusia. Hanya saja, alat itu tidak dapat membaca maksud dan pikiran penumpang. Karena itu, kadang-kadang ada saja orang yang sempat membuat kekacauan dalam penerbangan.
Berbeda dengan manusia dengan keterbatasannya, Tuhan mempunyai mata yang tidak hanya bisa melihat apa yang terjadi di dunia dan di jagad raya, tetapi juga bisa melihat apa yang ada dalam hati dan pikiran manusia. Tuhan juga tahu apa yang sudah lampau, yang sekarang ada, dan apa yang akan terjadi.
Sering manusia meragukan kemampuan Tuhan yang maha tahu ini karena seolah Dia tidak peduli dengan adanya orang-orang yang jahat di sekitarnya, dan terutama adanya orang-orang yang menjahatinya. Kalaupun Tuhan itu maha tahu, ada perasaan yang sering muncul bahwa Tuhan itu semena-mena dan kurang mau menunjukkan kasihNya dalam hidup setiap anakNya yang bergumul di dunia.
Pagi ini ayat diatas mengingatkan bahwa kita tidak perlu meragukan bahwa mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik. Tuhan tidak pernah tertidur dan selalu tahu apa yang ada dalam hidup semua orang di dunia. Memang, jika kita sedang berada dalam kesulitan, iman kita mengalami ujian untuk bisa mempercayai kuasa dan kasihNya, karena dengan mata jasmani kita tidak dapat melihat apa arti semuanya dan mengetahui apa yang akan terjadi. Tetapi iman orang percaya adalah karunia Tuhan yang merupakan mata rohani, dengan itu kita bisa melihat apa arti hidup ini dan mempercayai bahwa apa yang akan terjadi di masa depan akan membawa berkat kepada kita.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1
Kemarin siang, dalam perjalanan kembali ke Chengdu, bis kami berhenti di suatu tempat yang merupakan pusat epicenter gempa besar berskala 8 Richter pada tahun 2008. Hampir 100 ribu orang tewas dan lebih dari 300 ribu orang mengalami luka-luka karena gempa itu. Tour leader kami mengungkapkan bahwa rakyat Chengdu merasa bahwa Tuhan memberikan dua hal yang bertentangan kepada mereka: keindahan alam dan bencana alam.
Hari kemarin perjalanan kami dilanjutkan dengan bis menuju gunung Siguniang yang tingginya 6250 meter. Tentunya kami tidak dapat mengunjungi puncak gunung itu, tetapi tempat pemberhentian bis kami sudah berada pada ketinggian lebih dari 4000 meter. Kadar oksigen di udara sudah berkurang dan itu membuat orang sulit bernafas.

Kemarin adalah hari kedua saya di China. Perjalanan rombongan sebanyak 30 orang dengan bis melalui jalan pegunungan Sichuan yang berliku-liku sangat melelahkan. Dengan berkat perlindungan Tuhan kami sampai di hotel pada jam 9.30 malam.
Pagi ini saya berada di Chengdu, China. Perjalanan kesana cukup jauh dan melelahkan dan semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam. Karena itu sekarang saya merasa letih sekali. Kelelahan adalah keadaan yang tidak dapat kita hindari karena keterbatasan manusia.
Doa adalah komunkasi kita dengan Sang Pencipta. Untuk orang Kristen, kesempatan berdoa secara langsung kepada Tuhan adalah berkat karunia yang dimungkinkan oleh kematian Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.
Bersyukur. Rasa syukur. Lebih mudah mengucapkannya daripada melakukannya. Apalagi jika bencana atau kesulitan hidup datang menimpa. Orang mungkin bisa mengadakan acara syukuran akbar, tetapi hidupnya tidak sepenuhnya terisi rasa syukur. Orang juga bisa bersyukur, tetapi rasa syukur itu dinyatakan atas “nasib mujur” yang dialaminya.
Suatu pertanyaan bagi banyak orang yang hidup di dunia ini adalah soal keadilan sosial. Jika seorang mau melihat keadaan di sekitarnya, ia akan bisa melihat bahwa ada banyak ketimpangan keadaan dimana-mana. Ada banyak orang yang hidup menderita karena mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Mungkin bukan karena kesalahan mereka jika begitu banyak orang yang harus bersaing untuk jumlah pekerjaan yang tidak cukup. Sebaliknya, ada orang-orang yang berkedudukan tinggi yang sebenarnya tidak pantas untuk menjabat, bukan saja karena kurangnya prestasi, tetapi juga karena berbagai hal yang tidak baik yang dilakukan mereka. Mengapa Tuhan membiarkan hal itu?