Benar-benar yakin?

“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 5: 1

Apa yang sering dipikirkan manusia biasanya adalah hal-hal yang penting dalam hidup mereka. Tetapi, adalah kenyataan bahwa hal yang terpenting dalam hidup sebenarnya belum tentu dipikirkan manusia. Hal itu adalah hal hidup sesudah kehidupan di dunia. The life hereafter.

Sebagian orang berpikir bahwa hidup di dunia adalah sesuatu yang nyata dan karena itu mereka hanya memikirkan apa yang muncul dalam hidup sehari-hari. Mungkin mereka mulai memikirkan soal surga ketika mereka jatuh sakit atau lanjut usia. Tetapi banyak pula yang berpikir bahwa hidup di dunia adalah satu-satunya hidup yang ada. Ada pula mereka yang berpendapat bahwa soal surga adalah hak Tuhan. Karena itu, walaupun mereka tidak mengabaikan soal kerohanian sepenuhnya, mereka juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Pasrah saja, begitulah pikiran mereka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga orang yang kelihatannya sering memikirkan surga dalam hidupnya, seolah perbuatan mereka di dunia ini adalah kunci ke surga. Mereka ini sepertinya hidup untuk masa depan di surga, tetapi sebenarnya kesibukan mereka adalah kesibukan duniawi. Mereka sibuk berusaha untuk memenuhi “persyaratan” untuk bisa masuk ke surga, seperti yang ditentukan oleh guru-guru agama mereka. Mereka memakai hidup mereka sedemikian rupa untuk membeli karcis ke surga. Mereka berbuat sesuatu agar bisa merasa bahwa mereka sudah diselamatkan.

Bagi umat Kristen, keselamatan hanya merupakan karunia Tuhan dan karena itu tidak ada apapun yang bisa kita perbuat untuk mendapatkannya. Hanya melalui darah Yesus, kita bisa diselamatkan. Hal ini yang sering menimbulkan keraguan apakah kita benar-benar akan ke surga setelah hidup kita di dunia berakhir. Masalahnya, sebagai manusia kita selalu berbuat dosa setiap hari dan karena itu mungkin kita bertanya-tanya, apakah yang membuat kita merasa berbeda dari orang yang lain, yang kelihatannya mempunyai hidup yang lebih “suci” jika dibandingkan dengan hidup kita. Bagaimana kita bisa diselamatkan sedangkan orang lain tidak? Bagaimana kita bisa percaya bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang tertentu sedangkan kita bebas dari hukuman?

Karena keraguan bahwa Tuhan memilih orang-orang yang akan diselamatkanNya dan memberi kemungkinan untuk orang-orang itu untuk memperoleh keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus, banyak orang menjadi kurang yakin akan keselamatannya sendiri. Mereka tidak yakin bahwa dalam keadaan apapun mereka adalah orang pilihan, dan karena itu hidup mereka tidak berisi damai sejahtera. Kalau Tuhan itu baik, tentulah Ia akan menyelamatkan semua orang karena semua orang berdosa. Kalau Tuhan itu adil tentulah orang yang hidupnya lebih baik akan menerima keselamatan sekalipun mereka tidak mengenal Yesus. Apa yang membuat aku bangga bahwa aku mengenal Tuhan satu-satunya yang membawa keselamatan? Aku tidak juga bisa merasakan bahwa aku sudah diselamatkan!

Pagi ini kita belajar dari Roma 5:1 bahwa kita dibenarkan dengan iman kepada Yesus Kristus. Tidak ada perbuatan atau segi kehidupan kita yang bisa menolong kita untuk diselamatkan. Hanya karena pengurbanan Kristus kita mempunyai kesempatan untuk memasuki hidup baru didalam Dia. Hidup baru yang membawa kepada hidup yang kekal. Hidup kitta saat ini mungkin penuh dengan duri dan hari demi hari kita mungkin merasa bahwa kita adalah orang yang gagal.  Perasaan yang ada dalam hati kita mungkin hanya rasa sesal dan gundah, dan bukannya damai sejahtera seperti yang dijanjikan Tuhan kepada orang yang dipilihNya. Tetapi kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah berjanji bahwa kita akan merasa diselamatkan, tetapi Ia berjanji bahwa kita akan diselamatkan jika kita mempunyai iman. Itulah yang seharusnya memberi kita keyakinan bahwa bagaimanapun keadaan kita saat ini, Tuhan senantiasa menyertai kita sampai akhir. Itulah juga yang seharusnya membawa rasa damai sejahtera dalam hidup kita!

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Mencari kebahagiaan sejati

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Kebahagiaan. Sukacita. Sesuatu yang dicari semua orang, tetapi yang sangat sulit ditemukan. Sekalipun seseorang mempunyai harta dan kekuasaan yang besar, belum tentu ia berbahagia. Kebahagiaan dicari banyak orang dan dengan demikian, banyak guru, orang pandai dan motivator mengajarkan bagaimana cara memperolehnya. Kebanyakan orang berpendapat bahwa kebahagiaan adalah di tangan kita. Kitalah yang bertanggung jawab untuk bisa membuat diri kita sendiri berbahagia. Kebahagiaan bergantung pada kemauan kita sendiri dan reaksi kita terhadap orang-orang dan suasana di sekitar kita. Itulah pendapat umum.

Banyak orang Kristen yang berdoa untuk kesuksesan dan kemakmuran, tetapi mungkin jarang yang berdoa untuk meminta sukacita. Herannya, mereka sering mengucapkan “semoga anda berbahagia” kepada orang lain. Mungkin ada keseganan dan rasa malu jika orang berdoa untuk kebahagiaan karena seyogyanya semua orang Kristen berbahagia. Kenyataannya adalah bahwa semua orang pernah mengalami saat-saat dimana kelihatannya hanya kesusahan yang ada. Benarkah bahwa kita sendiri yang bisa menentukan apakah kita bisa berbahagia? Bahwa kebahagiaan timbul dari diri kita sendiri?

Satu hal yang sangat penting yang mungkin tidak dikenal oleh orang yang belum beriman adalah bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari kita sendiri. Berlawanan dengan ajaran agama lain dan teori manusia, kebahagiaan sejati sebenarnya berasal dari Tuhan. Dalam bahasa Yunani, kata kebahagiaan atau sukacita diterjemahkan sebagai “chara” yang berhubungan dengan kata “charis” yang berarti karunia. Kita tidak dapat merasakan sukacita dengan usaha sendiri, tetapi jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, mata rohani kita bisa terbuka untuk melihat betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Kebahagiaan atau sukacita adalah karunia Tuhan.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Kemampuan untuk melihat hidup dari perspektif yang benar tidaklah dimiliki semua orang. Orang yang bisa benar-benar merasa bersyukur atas hidup mereka tidaklah besar jumlahnya. Kebanyakan orang lebih mudah berfokus kepada apa yang mereka harapkan atau ingini, daripada bersyukur atas apa yang ada. Untuk orang Kristen, kebahagiaan akan datang ketika kita menyadari betapa besar karunia Tuhan dalam hidup kita sekalipun kita sekarang berada dalam kesulitan. Kebahagiaan akan muncul kalau kita bisa merasa cukup dan tidak menguatirkan hal-hal yang di luar kemampuan kita.

Pagi ini, surat Paulus yang ditulisnya dari penjara berbunyi:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberikan karunia sukacita kepada kita yang percaya, agar kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, dan juga bisa memancarkan sukacita ini kepada orang yang di sekitar kita.

Siapa anda?

“Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” Matius 25: 12

Dalam perumpamaan “Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh” yang bisa dibaca dalam Matius 25: 1-13, Yesus mengisahkan soal kerajaan surga yang seperti sepuluh gadis yang menantikan kedatangan mempelai pria. Lima gadis yang bijaksana mempunyai pelita dan minyaknya, sedang lima gadis yang bodoh hanya mempunyai pelita tanpa minyak. Ketika mempelai pria datang, lima gadis yang bodoh datang terlambat karena harus membeli minyak; akibatnya mereka ditolak untuk masuk ke ruang pesta karena pintu sudah tertutup dan mereka tidak dikenali oleh mempelai pria.

Soal pesta pernikahan, tentu ada perbedaan kebiasaan antara jaman dahulu dan sekarang, tetapi jelas bahwa hanya para undangan yang bisa masuk. Juga ada beda besar antara Indonesia dan di Australia. Di Indonesia, pesta pernikahan biasanya megah, dengan jumlah undangan yang besar. Di Australia, dengan jumlah tamu 100 saja, sebuah pesta pernikahan sudah termasuk besar. Seringkali, karena besarnya pesta pernikahan di Indonesia, surat undangan harus dibawa seperti layaknya sebuah karcis bioskop. Hal itu untuk mencegah datangnya tamu yang tidak diundang. Mereka yang tidak dikenal, tidak bisa masuk ke ruang pesta.

Kebaktian gereja di Indonesia juga besar ukurannya jika dibandingkan dengan kebaktian di Australia. Memang hanya satu-dua gereja saja di Australia yang bisa menampung setidaknya 2000 jemaat. Tetapi, baik di Indonesia maupun Australia, orang tidak perlu memakai karcis untuk menghadiri kebaktian hari Minggu. Tua- muda, besar-kecil, semua orang boleh ke gereja sekalipun bukan orang Kristen. Tambahan lagi, untuk menghadiri kebaktian sudah tentu tidak dipungut biaya, dan karena itu soal ke gereja hanya berdasarkan kemauan saja.

Masalahnya, kalau hari Minggu ini kita mau pergi ke gereja, itu untuk apa? Apa sebabnya? Dalam ayat diatas, ada lima gadis yang menunggu datangnya pengantin ingin menghadiri pesta pernikahan tetapi tidak mempunyai kemauan untuk mengisi pelitanya dengan minyak dan tidak pula punya persediaan minyak. Mereka ingin menghadiri pesta pernikahan, tetapi tidak mau membuat persiapan.

Seperti itu juga, ada banyak orang yang ke gereja, tetapi tidak semuanya mau mengisi hidup mereka dengan hal-hal yang baik. Mereka ingin dan bahkan merasa sudah diselamatkan, tetapi tidak mau atau belum bertobat dari hidup lamanya. Iman mereka hanya seperti sebuah fatamorgana. Mereka mungkin percaya bahwa pengurbanan Kristus adalah karunia cuma-cuma yang tinggal mereka iyakan. Tetapi mereka tidak sadar bahwa bukan hal ke gereja, mengikuti misa, atau sudah dibaptis yang menandakan bahwa mereka sudah menerima anugrah keselamatan dan Roh Kudus. Pertobatan dan iman yang benar tidak mereka punyai, seperti minyak yang absen dari pelita gadis-gadis yang bodoh. Karena kebodohan mereka, gadis-gadis itu tidak bisa memasuki ruang pesta. Karena kebodohan yang serupa, sebagian orang akan ditolak untuk masuk ke surga. Bagaimana pula dengan kita?

“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Kisah Para Rasul 2: 38

Mengapa aku ada?

“…semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Pernahkah anda memikirkan mengapa anda ada di dunia ini? Mengapa anda dilahirkan pada saat tertentu dan dalam lingkungan keluarga tertentu? Dan mengapa pula anda harus mengalami kejadian-kejadian tertentu dalam hidup ini? Bagaimana pula dengan mereka yang dilahirkan dalam keadaan yang kurang menyenangkan dan harus hidup dan bahkan mati dalam penderitaan?

Bagi mereka yang selalu berada dalam keadaan nyaman adalah mudah untuk berkata bahwa Tuhan yang Mahakasih tidak berubah dari dulu, sekarang dan selamanya. Tetapi bagi mereka yang mengalami banyak masalah dan penderitaan, sering ada pertanyaan apa maksud Tuhan dengan membiarkan semuanya.

Adalah mudah bagi mereka yang hidup dalam kelimpahan dan kesuksesan untuk berkata bahwa Tuhan memberkati hidup mereka. Juga mungkin mudah bagi mereka yang hidup dalam kesulitan untuk berkata bahwa segalanya sudah ditentukan Tuhan. Tetapi bagi mereka yang masih mau bergulat dalam perjuangan, pertanyaan “mengapa ini harus dihadapi” tetaplah terngiang-ngiang.

Mengapa Tuhan menciptakan kita dalam keadaan kita? Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, nama Tuhan harus kita junjung tinggi. Dialah Sang Pencipta, Dialah yang Mahakuasa.

Mungkin pikiran kita bertanya, mengapa Tuhan harus kita permuliakan kalau hidup kita selalu penuh dengan tantangan. Apalagi, karena dunia yang penuh dosa hidup seringkali menjadi sangat berat. Mengapa Sang Pencipta tidak menciptakan hidup yang penuh kemudahan bagi anak-anakNya?

Tuhan menciptakan manusia dalam satu hari tetapi bukannya memberkati mereka untuk hidup pada hari itu saja. Tuhan menciptakan manusia untuk hari-hari yang akan datang. Hari-hari yang diisi dengan doa, kerja, iman dan pengharapan. Walaupun begitu, jika hidup hari ini tidak seperti yang kita harapkan, kita harus sadar bahwa itu adalah sebagian kecil dari rencana Tuhan untuk kita dan orang di sekitar kita.

Adalah keliru jika kita hanya memusatkan pikiran kita pada apa yang terjadi dan apa yang kita butuhkan hari ini saja. Kita tidak hidup untuk hari ini saja. Manusia diciptakan Tuhan untuk bisa memuliakanNya dalam setiap keadaan, sekarang dan selamanya. Karena itulah pada hari ini kita harus bisa merasa cukup dalam setiap keadaan dan tetap berdoa, bekerja, berharap dan beriman untuk masa depan. Tuhan yang menghendaki kita hidup untuk memuliakanNya adalah Tuhan yang memungkinkan semua yang kita alami untuk kebaikan kita dan orang lain, agar namaNya dapat dipermuliakan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kefanaan adalah keberuntungan

“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” Mazmur 39: 4

Bagi banyak orang, kenyataan bahwa pada suatu saat mereka harus meninggalkan dunia ini adalah suatu hal yang menakutkan, yang tidak perlu dipikirkan. Walaupun demikian, kesadaran bahwa hal itu bisa terjadi lebih awal dari apa yang mereka harapkan membuat sebagian orang sibuk dengan diet, olahraga, vitamin, dan lain-lain. Perbuatan yang sia-sia menurut iman Kristen, karena seorang pun tidak dapat memperpanjang hidupnya dengan sehasta saja (Matius 6: 27). Walaupun demikian, adalah kewajiban untuk setiap orang Kristen untuk memelihara tubuhnya selama masih hidup karena tubuh adalah milik Allah (1 Korintus 6: 19).

Pemazmur diatas seolah memohon Allah untuk membuka rahasia umurnya, agar ia tahu kapan ia akan mati. Kalau permohonan itu memang demikian, itu adalah perbuatan yang sia-sia karena tak ada seorang pun yang tahu waktunya (Pengkhotbah 9: 12). Karena itu, ayat diatas sebenarnya adalah pengakuan akan ketidaktahuan manusia akan masa depannya dan kesadaran akan kefanaannya; bahwa manusia akan mati pada saat yang tidak diketahuinya. Sungguh menyedihkan kedengarannya.

Memang kefanaan manusia adalah akibat dosa. Seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, kutuk Allah tidak bakal ada. Manusia akan hidup bahagia bersama Sang Pencipta selamanya. Walaupun demikian, karena Allah itu Mahakasih, mereka yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal setelah hidup di dunia ini berakhir. Kefanaan membuka pintu menuju kekekalan.

Kefanaan memberi kesadaran bahwa manusia tidak hidup untuk selamanya di dunia ini, tetapi apa yang kekal akan datang sesudahnya. Mereka yang sadar bahwa hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan apa yang akan datang, seharusnya memikirkan apa yang terbaik untuk jangka panjang. Walaupun begitu, banyak orang yang justru berusaha untuk menikmati hidup yang fana ini saja, dan tidak mau memikirkan apa yang datang.

Kefanaan manusia bisa membawa manusia kepada hidup yang benar, yaitu hidup yang berfokus pada kekekalan hidup masa depan. Tetapi kefanaan bagi sebagian orang membuat mereka lupa bahwa jika mereka hanya hidup untuk masa kini, mereka akan hidup terpisah dari Tuhan untuk selamanya di masa depan. Kefanaan memang bisa berakhir dengan kebahagiaan yang kekal atau penderitaan yang kekal. Itu adalah pilihan pribadi tiap orang, tetapi bagi mereka yang hidup dalam Kristus kefanaan jelas adalah keuntungan!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Benarkah kau cinta aku?

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yohanes 21: 15

“I love you” biasanya diucapkan orang kepada orang yang dicintainya. Aku cinta padamu, begitulah ucapan bibir yang seharusnya merupakan ungkapan isi hati orang yang mengucapkannya. Di dunia barat ucapan ini sudah kurang berarti lagi karena banyak penyanyi atau tokoh masyarakat yang gampang-gampangan mengucapkannya didepan publik sekedar untuk membuat kesan baik saja. Enak di telinga, ringan di mulut, kosong di hati.

Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus apakah Petrus mencintaiNya, mengasihiNya, sampai tiga kali. Tiga kali Petrus menjawab dengan jawaban instan otomatis: “I love you”. Petrus menjawab dengan pikirannya dan bukan dengan hatinya. Pikirannya mendorong dia untuk menjawab demikian karena Yesus adalah guru yang sudah dikenalnya sejak lama. Orang baik yang dikaguminya.

Memang soal mencintai seseorang itu tidak mudah. Cinta yang murni, kasih, adalah cinta yang kekal dan tidak tergantung suasana, cinta tanpa pamrih yang mau berkorban. Cinta yang bukan berdasarkan mata dan pikiran, tetapi berdasarkan hati. Cinta yang tidak akan dimiliki manusia jika tidak ada contoh yang diberikan Tuhan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Sebagai orang Kristen kita tahu dan sering membaca betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Dengan pikiran, kita mungkin bisa menerima hal itu, karena iblis pun tahu bahwa Tuhan mengasihi dan melindungi umatnya (Ayub 2: 4-6). Tetapi mungkin kita belum bisa merasakan makna dan konsekuensinya dalam hidup kita.

Cinta dan kasih mudah didefinisikan, tetapi apa yang ada dalam pikiran belum tentu ada dalam hati manusia. Seringkali manusia mencintai orang lain karena “naluri” seperti cinta orang tua kepada anak, “keharusan” seperti dalam hubungan kekeluargaan, “kebiasaan” seperti dalam hubungan antara atasan dan bawahan, dan “kepantasan” seperti ajaran etika dan budaya. Yesus tahu bahwa Petrus masih belum sepenuhnya menggunakan hatinya dalam menjawab pertanyaanNya pada saat itu. Memang Petrus sering hanya memakai pikirannya sendiri selama mengikut Yesus.

Pagi ini, pertanyaan Yesus kepada kita adalah pertanyaan yang dulu ditujukan kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”. Ia bertanya apakah kita mengasihi Dia lebih dari pada siapapun dan apapun, di sepanjang waktu, baik dalam keadaan senang maupun duka.

Tidaklah mudah bagi kita untuk menjawab pertanyaan ini dengan hati kita. Mungkin, seperti Petrus kita bisa menjawab “ya” dengan mulut atau pikiran kita. Tetapi untuk menjawab dengan benar kita harus mempunyai iman dan pengharapan kepadaNya, bahwa Dialah yang lebih dulu mengasihi kita dan menebus dosa kita. Dialah yang menjadi harapan kita di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Untuk bisa menjawab dengan “ya”, seorang juga harus mempunyai hidup baru dan meninggalkan hidup lamanya. Meninggalkan hal-hal yang dulunya menjadi “kekasih” kita, entah itu diri kita sendiri, orang lain, harta kita, pikiran kita ataupun apa saja yang menghalangi kita untuk menjawab dengan hati kita. Hidup baru juga berarti mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Petrus pada akhirnya menyadari bahwa untuk menjawab “ya” tidaklah semudah yang dibayangkannya. Ia sendiri melihat kegagalannya dalam membuktikan janjinya – dengan tiga kali menyangkali Yesus. Tetapi Petrus menjadi manusia baru sepenuhnya setelah melihat penderitaan-penderitaan Yesus untuk menebus dosa manusia. Dengan penguatan Roh Kudus, Petrus bahkan menjadi seorang martir yang memegang janji kasihnya sampai akhir hayat. Bagaimana pula dengan kita?

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”. 1 Yohanes 4: 19

Apakah permintaan terakhir anda?

“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Yohanes 17: 11

Pernahkah anda nonton film TV yang berjudul “I dream of Jeannie”? Film komedi keluarga yang sangat populer di tahun 70an itu menggambarkan kehidupan seorang pria yang berteman dengan jin perempuan yang namanya Jeannie. Seringkali sang pria diganggu oleh jin lucu itu, tetapi terkadang keinginan pria itu terjadi karena Jeannie yang tidurnya didalam sebuah kendi itu bisa bekerja seperti tukang sulap.

Cerita tentang Jeannie diatas mungkin diilhami cerita khayal klasik yang serupa dan lucu yaitu “Aladin dan lampu wasiat” yang muncul di layar putih dan juga dalam musical show. Cerita ini menggambarkan Aladin yang mempunyai jin yang bisa memenuhi 3 permintaan. Tentunya permintaan Aladin yang terakhir adalah permintaan yang terpenting, yang harus dipikirkannya masak-masak karena setelah itu Aladin tidak bisa meminta apa-apa lagi.

Sebagai orang Kristen, kita tentunya tidak menyatakan keinginan kita kepada jin atau setan apapun, melainkan kepada Allah Bapa dalam nama Yesus. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, tiap hari kita berdoa bukan untuk keselamatan kita, tetapi memohon berkatNya untuk hidup dan kebutuhan kita dan juga orang lain. Ada berbagai hal yang kita butuhkan dan kita harus bersyukur karena kita boleh tiap hari memohon apa saja yang baik, dan Tuhan akan memberikan apa yang terbaik yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada batasnya, kita boleh memohon apa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tetapi, jika kita hanya boleh meminta satu hal saja, apa yang akan kita pinta dari Tuhan? Jika kita pada saat terakhir boleh mengajukan satu permintaan saja, apakah permintaan kita?

Dalam ayat Yohanes 17: 11 diatas, Tuhan Yesus meminta satu hal kepada Allah Bapa sebelum Ia menghembuskan nafas terakhir di kayu salib. The last wish, the last request. Hanya satu kesempatan, dan karena itu tentunya permintaan itu adalah untuk hal yang paling penting. Yesus sebenarnya dapat meminta agar pengikutNya memperoleh hidup aman, bahagia dan makmur, mungkin juga untuk kesehatan dan umur panjang untuk mereka yang hidupnya baik. Tetapi Yesus justru berdoa agar mereka tetap bersatu dalam iman kepada Bapa dan Anak, Tuhan kita. Doa permohonan terakhir yang menunjukkan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia menurut Yesus.

Pagi ini, marilah kita bayangkan sekiranya kita hanya mempunyai satu kesempatan untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, apakah yang akan kita minta? Satu kesempatan, satu hal yang paling penting. Apakah kita akan berdoa untuk kekayaan, kesuksesan, kesehatan kita? Masihkah kita berdoa memohon keselamatan kita? Ataukah kita berdoa agar anak cucu kita berhasil karirnya dan hidup makmur? Ataukah kita berdoa agar kita diberikan iman yang teguh sampai akhir hayat? Mungkin juga memohon agar anak cucu kita semuanya menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka?

Doa kita mencerminkan prioritas hidup kita. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan, kesuksesan, kesehatan dan harta duniawi lainnya akan memusatkan hidup mereka pada hal- hal itu. Doa mereka akan berfokus pada hal-hal duniawi. Tetapi mereka yang yakin akan keselamatan mereka akan berdoa untuk keteguhan iman bagi mereka dan orang lain, agar semua orang yang percaya pada akhirnya bisa bersatu di surga. Mereka akan hidup benar dan bekerja melayani Tuhan dan menolong orang-orang di sekitarnya agar bisa mengenal Yesus. Mereka yang menyadari penderitaan Yesus di kayu salib akan mengerti bahwa penderitaan dan perjuangan mereka di dunia bukanlah bandingannya. Bahwa yang terpenting dalam hidup manusia adalah hidup kekal bersama Tuhan kita!

“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Lukas 13: 31

Mission Impossible?

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17: 45

Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di  lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar seperti raksasa, kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat.

Daud yang muda belia dan bertubuh kecil dari bani Israel pada saat itu mengunjungi medan perang. Ia mengajukan diri untuk menjadi lawan Goliat. Walaupun semua orang mencemoohkan dia, Daud akhirnya maju menghadapi Goliat dan berhasil membunuh pendekar Filistin itu dalam beberapa detik saja. Karena kematian Goliat, tentara Filistin menjadi hancur keberaniannya dan dikalahkan olen tentara Israel dengan mudah.

Dua hal yang menarik perhatian adalah, yang pertama, kemauan dan keberanian Daud yang untuk ukuran manusia tidaklah masuk diakal. Yang kedua adalah kemenangan Daud atas Goliat dan kemenangan tentara Israel atas tentara Filistin yang menurut akal sehat tidaklah mudah untuk bisa dimengerti. Mengapa hal yang diluar dugaan bisa terjadi untuk membawa kemenangan bagi bangsa Israel? Bukankah lebih mudah bagi Tuhan untuk membiarkan orang Israel mengalahkan orang Filistin melalui perang yang biasa, yang konvensional?

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kisah diatas:

  1. Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang Mahakuasa yang kepadaNya kita boleh serahkan segala masalah kita. Mission impossible Daud menjadi kemenangan bani Israel karena Tuhan sendirilah yang menghadapi Goliat dan orang Filistin. Demikian juga, Tuhanlah yang akan mengalahkan persoalan-persoalan kita jika kita mau bersandar kepada Dia.
  2. Tuhan mengundang setiap umatNya untuk menjadi seperti Daud yang mempunyai rasa hormat, ketaatan dan iman kepadaNya. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, Ialah yang bisa melakukan hal-hal yang ajaib, yang tidak dapat kita mengerti, untuk kebaikan kita di masa depan.
  3. Tuhan yang Mahabijaksana adalah Tuhan yang mempunyai rencana untuk hidup seluruh manusia dan bahkan alam semesta. Apa yang terjadi dalam hidup kita berjalan sesuai dengan kehendakNya dan terjadi pada waktu yang ditetapkanNya. Hidup kita akan jauh lebih ringan jika kita mau berserah kepadaNya.

Pagi ini, jika kita mempunyai masalah yang besar, kita harus bersedia menjadi seperti Daud ketika menghadapi Goliat. Tuhan yang sudah melindungi kita sampai saat ini, adalah Tuhan yang akan menyertai kita di masa mendatang!

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Eh aspal lagi!

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” 2 Korintus 11: 14

Di zaman ini, melalui berbagai media kita bisa memperoleh berbagai berita aktuil. Berita yang dulunya harus bersumber dari radio, TV dan koran saja, sekarang bisa diperoleh dari mobile phone dan komputer. Memang sejak adanya internet, orang bisa mendapat berita dari mana saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Hal itu memang baik jika berita yang disampaikan adalah berita yang benar, yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, berita palsu atau fake news seringkali membawa kekacauan dan kekuatiran dalam hidup bermasyarakat. Celakanya, orang seringkali menyampaikan berita palsu sedemikian kepada orang lain sekedar untuk berbagi berita. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau berbagai hoax yang muncul dan beredar selama bertahun-tahun masih juga bisa memakan korban baru.

Sebenarnya fake news itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Berita palsu yang diciptakan iblis, membuat Adam dan Hawa terkecoh (Kejadian 3: 4-5). Karena itu, berita palsu yang muncul setiap hari di zaman ini dan yang berusaha mengacaukan masyarakat pada umumnya, dan umat Kristen pada khususnya, sudah dapat dipastikan akan mendapat dukungan iblis. Iblis adalah bapa segala dusta.

“…Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Jika sebuah berita palsu itu terkadang sulit dibedakan dari berita yang benar, dengan penyelidikan yang teliti biasanya orang bisa memutuskan benar tidaknya berita itu. Walaupun demikian, orang seringkali tidak mau menyempatkan diri untuk mempelajari benar tidaknya, tetapi langsung menyampaikan berita itu ke orang lain. Mungkin saja si pengirim menganggap bahwa jika pun berita itu palsu, ia bukanlah pembuatnya dan karena itu ia tidak bersalah. Benarkah?

Apa yang harus kita sadari ialah kekacauan di dunia dan diantara umat Tuhan adalah sesuatu yang dikehendaki iblis. Karena itu, jika kita melakukan hal-hal yang serupa dengan apa yang dilakukan iblis, kita sudah sependapat dengannya; kita seolah sudah menjadi “agen” iblis. Lebih parah dari itu, ada orang-orang yang mengaku Kristen tetapi dengan sengaja memutar balikkan fakta dengan menyebarkan berita palsu. Mungkin saja iblis sudah menyamar sebagai anak-anak Tuhan!

Memang mungkin kita tidak dengan sengaja menyebarkan berita palsu. Kita memang tidak selalu sadar bahwa melalui perbuatan kita, iblis bisa mendapat kesempatan untuk mengacaukan kehidupan manusia, terutama umat Tuhan. Dalam hal ini, iblis sering memanfaatkan kelemahan manusia yang seringkali memilih apa yang tidak baik dalam ketidaktahuannya.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita berpihak kepada Yesus, kita harus awas dan waspada untuk menghindari apa yang tidak baik. Kita harus mempunyai kebijaksanaan dan tanggung jawab untuk bisa membedakan apa yang baik dari yang buruk, apa yang benar dari apa yang palsu. Biarlah Tuhan menolong kita dengan bimbingan Roh Kudus!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Hari Sabat, hari pemberian Tuhan

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Jika anda sempat berkunjung ke Singapura atau Hong Kong, anda akan melihat adanya hal yang mencolok mata setiap hari Minggu. Ribuan pembantu rumah tangga membanjiri taman-taman dan pusat perbelanjaan di kota dan berpiknik disana. Memang hari minggu adalah hari dimana mereka memperoleh kesempatan untuk berlibur setelah bekerja enam hari. Adalah keharusan untuk mereka yang mempunyai pembantu agar memperbolehkan pembantu mereka untuk keluar rumah pada hari Minggu untuk menikmati hari itu.

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa kita harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, manusia tidak akan dapat beristirahat pada hari Minggu. Dunia ini penuh dengan atraksi yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Setelah seminggu orang bekerja, malam Minggu di berbagai kota adalah kesempatan untuk berpesta pora dan bermalam panjang. Karena itu, bagi sebagian orang, hari Minggu adalah kesempatan untuk memperoleh ekstra tidur sesudah begadang. Begitu pula, sebagian manusia yang lain berpikir bahwa hari Minggu adalah hari yang bisa dipakai untuk tidak memikirkan apa-apa, selain rekreasi, makan dan tidur. Mereka tidak suka kalau satu hari yang tersisa dalam seminggu harus dipakai untuk memikirkan kebutuhan rohani.

Hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Tanpa itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik dalam jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1