Apa rancangan Tuhan untuk hidupku?

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Di zaman ini hampir setiap orang yang mampu membeli handphone cerdas akan memiliki berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Facebook, Twitter dan lain-lain. Dengan aplikasi itu mereka akan dapat berkomunikasi dengan teman-teman dan bahkan dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Bukannya hanya untuk saling menyapa, mereka bahkan bisa memperoleh kabar berita, baik yang asli maupun yang palsu. Mereka yang awas akan bisa membedakan berita mana yang benar dari apa yang tidak benar, tetapi mereka yang kurang awas atau kurang peduli akan menerima semua berita sebagai berita aktuil.

Suatu hal yang bisa membuat diri kita prihatin adalah kenyataan bahwa sebagian besar berita yang kita terima dari aplikasi handphone adalah berita kosong tak berarti, lelucon yang membuat orang geli atau berita besar yang mengerikan. Yang terakhir ini biasanya datang sebagai “copas” dari teman yang sumber aslinya sudah tidak dapat dipastikan. Berita buruk yang muncul mungkin dimaksudkan agar kita berhati-hati, tetapi sering juga membuat kita kuatir atau takut.

Manusia memang sering kuatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka yang tidak mengenal Tuhan, mungkin menggunakan segala kesempatan yang ada untuk menikmati hidup selagi masih bisa. Tetapi ada juga yang selalu hidup dalam kekuatiran karena keadaan dunia yang nampaknya semakin buruk. Bagi kita yang mengenal Yesus, mungkin kita ingat bahwa kekuatiran itu tidak berguna.

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Walaupun demikian, mungkin sering juga kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan orang-orang beriman lainnya di masa mendatang, jika keadaan dunia semakin buruk. Ayat dari kitab Yeremia diatas adalah ayat terkenal, yang aslinya untuk umat Israel yang dalam pengasingan, tetapi ayat yang juga sering dipakai untuk menguatkan mereka yang menderita di zaman ini, karena seperti bani Israel, kita pun orang pilihan Tuhan. Bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera untuk umatNya dan bukannya rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.

Tuhan tidak berniat memberi umatNya kecelakaan. Tuhan yang sudah merencanakan penyelamatan manusia sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak mungkin mempunyai rencana buruk untuk mencelakakan mereka. Inilah yang harus kita pegang sebagai iman, bahwa dalam keadaan apapun kasih Tuhan tidak berubah. KasihNya sama, dari dulu, sekarang dan untuk selama-lamanya. Tuhan tidak akan membiarkan kita hancur, karena rencanaNya dari awal adalah membawa setiap umatNya mencapai hidup kekal bersamaNya.

Memang benar bahwa apa yang terjadi di dunia tidak selalu membuat kita merasa dikuatkan. Sebaliknya, banyak hal yang bisa membuat kita takut atau kuatir. Dosa adalah faktor perusak kehidupan nanusia. Tetapi, sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa itu pun ada dalam kuasa Tuhan. God is always in control.

Satu hal yang harus kita mengerti ialah bahwa Tuhan menghendaki umatNya untuk bisa kuat, yakin dan bahkan berbahagia dalam keadaan apapun (Matius 5: 3 – 12). Tetapi iblislah yang ingin membuat kita menderita dan takut sekalipun tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Karena itu, tidaklah mengherankan jika ada banyak berita di media, dan bahkan di gereja, yang bisa menyesatkan dan melemahkan iman kita. Setiap kabar yang membuat kita meragukan rancangan damai sejahtera Tuhan harus mengingatkan kita akan usaha iblis untuk mencerai-beraikan umat Tuhan.

Pagi ini, marilah kita berdoa untuk menyerahkan segala kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Dialah yang mempunyai rancangan yang terbaik untuk setiap orang yang percaya!

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah!, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 1 Petrus 5: 7-9

Alon-alon gak bakal kelakon

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 15-17

Ungkapan “alon-alon asal kelakon” mempunyai arti filosofi yang mendalam di Jawa. Bagi orang Jawa, ungkapan itu sebenarnya bukan berarti “pelan-pelan asal terlaksana”, tetapi maksudnya adalah dalam mengerjakan sesuatu kita tidak perlu gegabah, tetapi penuh dengan kehati-hatian dan pertimbangan guna mencapai tujuan. Masalahnya disini adalah adanya orang-orang yang menggunakan ungkapan ini sebagai alasan untuk bekerja enak-enakan tanpa memikirkan waktu. Karena gaya hidup yang sedemikian, banyak tugas yang tidak dapat dirampungkan pada waktunya. Alon-alon gak bakal kelakon.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang Kristen yang juga menganut paham alon-alon asal kelakon dalam pengertian yang keliru. Bagi mereka, menjadi pengikut Yesus adalah saat dimana mereka dibaptiskan atau mengaku percaya. Setelah itu mereka tidak mempunyai kemauan untuk bertumbuh dalam pengenalan dan pengertian akan kehendak Allah dalam hidup mereka. Orang-orang semacam ini mungkin merasa bahwa asal mengaku percaya kepada Yesus cukuplah, perubahan hidup bisa dipikirkan belakangan, jika ada waktu.

Memang hambatan perkembangan rohani umat Kristen yang sering ditemui adalah soal waktu. Karena kesibukan sehari-hari, orang “tidak sempat” untuk berdoa, membaca Firman, atau mencari kehendak Tuhan dalam apa yang dikerjakan mereka. Akibatnya, tahun demi tahun berlalu, tetapi hidup mereka tidak pernah berubah dari hidup yang lama. Sekali pun setiap manusia dikaruniai waktu yang sama yaitu 24 jam sehari, alasan mereka seringkali “tidak ada waktu”; yang bisa diartikan “tidak ada prioritas”.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk hidup sebagai orang yang bijaksana, yang bisa menggunakan waktu yang ada dengan baik, agar kita bisa mengerti kehendak Tuhan. Bukan menggunakan falsafah “alon-alon asal kelakon” untuk membenarkan rasa acuh tak acuh kita akan firmanNya. Dunia dengan segala daya penariknya saat ini mungkin sudah menghabiskan waktu kita, sehingga hanya sedikit waktu tersisa, itu pun kalau ada, yang bisa dipakai guna lebih mengenali Yesus Juruselamat kita, dan untuk bertumbuh dalam hal-hal yang baik.

Tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama ia akan mempunyai kesempatan untuk berubah dari hidup lama dan kebiasaan lamanya. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika kita berlambat-lambat, kita akan kehilangan kesempatan yang terbaik untuk mengenal Tuhan dengan benar. Alon-alon gak bakal kelakon!

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3: 18

Apakah Tuhan itu pilih kasih?

“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” 1 Tesalonika 4: 1

Adanya orang tua yang pilih kasih, yang mempunyai anak favorit, adalah hal yang sering membuat ketegangan dalam keluarga. Kebanyakan orang tua menolak tuduhan bahwa mereka berat sebelah, lebih menyayangi seorang anak daripada yang lain. Tetapi dalam kenyataannya memang ada berbagai faktor yang menyebabkan seorang bapa atau ibu untuk lebih menyayangi salah satu anaknya. Sebagai contoh dalam Alkitab adalah Yakub dan Esau. Yakub disayangi ibunya, dan Esau lebih disenangi oleh bapanya (Kejadian 25: 28).

Soal favoritisme orang tua itu agaknya bisa dimengerti karena setiap orang tua mempunyai kelemahan. Mungkin sebagai orang tua seharusnya berlaku adil kepada semua anak-anaknya dan tidak pilih kasih. Tetapi setiap orang tua juga mempunyai sifat yang mungkin lebih kompatibel dengan anak tertentu, dan dengan demikian, secara emosi, lebih mudah menyayanginya.

Jika hal pilih kasih diantara manusia adalah hal yang sering kita temui dan bisa dimengerti, pertanyaan apakah Tuhan juga pilih kasih terhadap manusia ciptaanNya seringkali menjadi soal sensitif dan tidak mudah dijawab. Tuhan tentunya mengasihi seluruh manusia di dunia sehingga Ia berusaha untuk menyelamatkan mereka dari hukuman dosa (Yohanes 3: 16). Secara umum, Tuhan yang Mahaadil dan Mahakasih juga memberikan berkat yang sama kepada seisi dunia. Matahari bersinar untuk semua orang, baik bagi mereka yang baik maupun yang jahat (Matius 5: 45).

Tetapi kita harus memisahkan kasih Tuhan kepada orang yang tidak percaya dari kasih Tuhan kepada anak-anakNya karena karunia keselamatan hanya diberikan kepada mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat. Ini adalah suatu hal yang bisa diterima oleh semua orang percaya, karena mereka mendapat perlakuan khusus dari Tuhan. Memang untuk manusia, seringkali hal yang enak bisa dengan mudah diterima sebagai hal yang adil.

Walaupun demikian, jika kita berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan jika dibandingkan dengan anak Tuhan yang lain, pertanyaan akan muncul apakah Tuhan benar-benar adil. Kita tentu percaya bahwa kita semua diselamatkan karena karunia kasih Tuhan yang sama besarnya karena kita semua adalah manusia yang sama-sama berdosa. Tetapi, apakah Tuhan mempunyai perasaan yang berbeda-beda kepada setiap umatNya?

Tuhan memang melihat hidup tiap umatNya secara individual. Ia bereaksi atas kehidupan dan ketaatan setiap orang. Sejarah manusia dalam Alkitab menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang dipilihNya karena ketaatan mereka. Mereka yang karena setia dan kuat dalam iman, mendapat “perhatian khusus” dari Tuhan. Abraham, Daud, Petrus, Paulus adalah sebagian kecil dari umatNya yang membuat Tuhan senang, bukan karena kemampuan, tetapi karena kesetiaan mereka dan kemauan untuk memakai apa yang sudah dikaruniakan Tuhan untuk kemuliaanNya.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan mengasihi semua umatNya, tetapi Ia juga menghargai bagaimana kita hidup. Untuk mereka yang dengan setia mengikut Dia, Tuhan akan memberi mereka karunia -karunia yang memungkinkan mereka untuk bisa kuat dan merasa cukup dalam semua keadaan. Tuhan tidak menjanjikan hidup mulus tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk menghadapi masalah. Lebih dari itu Tuhan seringkali memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka yang mau memakai karunia yang ada untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Kita tahu bagaimana kita harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu mungkin telah kita jalani, tetapi baiklah kita melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi agar Tuhan makin memberkati hidup kita.

Mana yang lebih enak: sukses atau puas?

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 12: 30

Sewaktu saya masih kecil, sekitar umur 8 tahun, ibu saya menanyakan apa cita-cita saya untuk masa depan. Saya dengan yakin dan bangga berkata bahwa saya akan menjadi seorang tentara dan menikah dengan seorang aktris. Pada waktu itu ibu saya dengan setengah bergurau berkata bahwa kalau itu terjadi, hal itu akan membuatnya menangis setiap hari. Dengan bertambahnya umur saya, cita-cita itu terlupakan dan cita-cita lain pun muncul. Tetapi, kalau teringat akan percakapan saat itu saya sekarang masih bisa merasa geli. Memang cita-cita seorang anak dan juga orang dewasa dibentuk melalui konsep pemikiran manusia yang dipengaruhi keadaan sekitarnya. Konsep tentang kesuksesan dan kebahagiaan manusia umumnya berubah dengan umur kita.

Rasul Paulus adalah seorang Yahudi dari kalangan atas. Pada mulanya ia adalah seorang Farisi yang pandai dan bersemangat berapi-api untuk menghancurkan pengikut Kristus. Ia mempunyai banyak teman dan hidup dalam kejayaan manusiawi. Ia adalah manusia yang sukses menurut ukuran setempat pada waktu itu. Tetapi, pertemuan yang ajaib dengan Yesus di perjalanan menuju Damaskus membuat Paulus bertobat dan menyadari bahwa hidup dan kesuksesannya selama itu adalah sia-sia belaka.

Kehidupan Paulus sebagai pengikut Kristus berubah 180 derajat dari kehidupan lamanya. Tidak lagi bisa menikmati kejayaannya, ia malahan menjadi orang buronan yang seringkali harus menderita dan kelaparan (2 Korintus 11: 26-28). Apakah Paulus pernah bercita-cita untuk menjadi orang yang seperti itu? Sudah tentu tidak demikian. Tetapi, kejadian-kejadian yang dialaminya adalah bagian hidupnya sebagai pengikut Yesus.

Apa yang dianggap Paulus sebagai kesuksesan sebelum menerima Kristus ternyata tidak memberinya kebahagiaan dan kepuasan. Sebaliknya, penderitaan yang dialaminya sesudah mengikut Kristus justru membuatnya bahagia dan bangga. Itu karena hidup lamanya yang sudah disalibkan bersama Kristus sehingga ia menerima hidup baru dalam iman (Galatia 2: 19-20).

Pagi ini, mungkin kita masih memikirkan makna hidup kita sampai saat ini. Hari demi hari, tahun demi tahun berlalu, apa yang terjadi mungkin belum membawa kepuasan hati kita. Kesuksesan yang kita kejar, mungkin belum dapat memberi rasa damai dalam kehidupan kita. Rasa kecewa mungkin muncul karena tidak adanya rasa bahagia dalam hidup kita.

Kita harus sadar bahwa kesuksesan dan kenyamanan duniawi bukanlah tujuan hidup orang percaya. Tujuan hidup kita seharusnya untuk memuliakan Tuhan. Ibadah yang disertai rasa cukup akan memberi keuntungan besar (1 Timotius 6: 6), sebab hal itu akan makin mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Adalah kenyataan bahwa lebih sulit untuk mencapai kepuasan dalam hidup, daripada memperoleh kesuksesan. Tetapi kita bisa memohon agar Tuhan memberi kita iman yang teguh untuk bisa belajar merasa cukup dan puas dalam keadaan apapun.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Filipi 4: 11

Mengapa hatiku sedih?

Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka menangislah Yesus. Yohanes 11: 33-35

Mengapa manusia bisa merasa sedih? Mengapa ada kesedihan? Semua orang tidak mengharapkannya, tetapi kesedihan sering muncul tanpa diundang, pada saat yang tidak terduga. Tuhankah pencipta kesedihan? Apakah Ia yang membuat kita mengalami kesedihan?

Tuhan jelas bisa merasa sedih, dan seperti manusia yang diciptakanNya, Ia merasa sedih jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi diantara umatNya. Yesus pun merasa sedih ketika Ia melihat bagaimana Maria, saudara Lazarus, menangisi kematian Lazarus. Tuhan merasa sedih ketika orang-orang yang dikasihiNya mengalami kesedihan dalam hidup mereka.

Jika Tuhan bisa bersedih, apakah Ia yang menciptakan kesedihan di antara umatNya? Sudah tentu tidak, karena jika benar begitu, Ia tidak perlu merasa sedih karena Ia sendiri yang bermaksud untuk membuatnya. Kesedihan, peristiwa yang menyedihkan, dalam hidup umat Tuhan bukanlah ciptaan Tuhan. Kesedihan terjadi karena hilangnya kegembiraan dan kebahagiaan, seperti yang terjadi ketika Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa dan diusir dari taman Firdaus.

Memang hidup manusia di dunia ini selalu mempunyai segi-segi yang menyedihkan. Sekali pun seseorang mencapai apa yang diingininya, baik itu kekayaan, kepandaian, kemasyhuran, kesehatan dan lain-lain, hal-hal yang menyedihkan selalu ada dan akan ada. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah, seringkali tidak dapat mencegah hal-hal yang menyedihkan untuk terjadi dalam hidup mereka. Tetapi, umat Tuhan diberikan kemampuan untuk mencegah lenyapnya kebahagiaan dari hidup mereka, melalui rasa syukur dalam keadaan apapun.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Pagi ini, jika ada rasa sedih dalam hati kita karena adanya hal- hal tertentu, percayalah bahwa Tuhan kita bisa ikut merasakan kesedihan kita. Tuhan kita menghendaki semua umatNya untuk hidup berbahagia dalam hidup mereka. Memang matahari tidak selalu bersinar dalam hidup kita, tetapi matahari bukanlah sumber kebahagiaan kita. Kebahagiaan kita terletak pada Tuhan yang menerbitkan matahari pada waktunya. Kesetiaan dan kasihNya tidak pernah berakhir, dari dulu sampai selama-lamanya. Sekalipun kita tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa itu harus terjadi, kita tetap boleh yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang terbaik untuk seluruh umatNya.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55: 8-9

Apakah pengalaman adalah guru yang terbaik?

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Semakin tua, manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman pribadi yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering abaikan,

Namun, karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, metode empiris mempunyai kelemahan bahwa apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Dalam kehidupan iman, kita dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran.

Pagi ini, jika kita berbakti kepada Tuhan di gereja, kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi seseorang, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan ketenaran untuk manusia dan bukannya memuliakan Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman pribadi, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman Firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkanNya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan apa yang ada dalam Alkitab.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Jika kita membentur tembok

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18

Untuk mereka yang hobinya lari jarak jauh, istilah hitting the wall atau “membentur tembok” tidaklah asing. Istilah ini dipakai untuk mengungkapkan keadaan dimana seorang pelari mengalami kelelahan yang luar biasa – biasanya sekitar kilometer ke 30, sehingga ia merasa tidak dapat terus berlari. Rasanya seperti setengah mati, kejadian ini juga seperti mimpi buruk di tengah malam. Semua pelari sadar akan kemungkinan terjadinya hal ini, berharap untuk tidak terjadi. Mereka melakukan segala apa yang perlu untuk menghindarinya; tetapi kalau sudah terjadi, ini tidaklah bisa dihindari.

Paulus adalah seorang rasul yang suka menggambarkan bahwa hidup orang Kristen adalah seperti seorang atlit, petinju atau pelari yang berjuang untuk menang dalam pertandingan. Itu bukan karena ia adalah seorang olahragawan, tetapi ia sadar bahwa seorang olahragawan perlu mempunyai dedikasi tinggi dalam berlatih dan berlomba. Ia bisa melihat bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, tetapi hidupnya tidak seperti yang seharusnya karena kurangnya dedikasi dan iman.

Seperti seorang pelari yang harus menghadapi berbagai perlombaan, kita tahu bahwa sebagai manusia kita akan mengalami berbagai tantangan kehidupan. Jika seorang atlit harus hidup sehat, giat berlatih dan mempunyai keberanian untuk menghadapi semua pertandingan, orang Kristen harus hidup menurut perintah Tuhan, rajin mempelajari firmanNya dan berani menghadapi tantangan hidup.

Masalahnya adalah adanya satu saat dalam kehidupan kita dimana kita, sekalipun sudah berusaha untuk hidup dalam kebenaran, menghadapi persoalan hidup yang sangat besar, sehingga terasa kita seakan membentur sebuah tembok besar. Apa yang terjadi pada diri kita mungkin tidak bisa dirasakan orang lain karena itulah masalah kita pribadi. Seperti seorang pelari yang merasa akan membentur tembok, keputusan ada ditangan kita, apakah kita akan terus berlari sebisa mungkin, atau berhenti berlari dan meninggalkan perlombaan.

Bagi seorang pelari, perasaan lelah yang datang ketika membentur tembok akan bertambah besar ketika ia melihat bagaimana pelari-pelari lain mendahului, tidak ada seorangpun yang bisa menolong untuk mengatasi kelelahannya. Tetapi dalam hidup, kita yang mempunyai iman kepada Tuhan mengerti bahwa kita tidak akan tertinggal sendirian, karena Tuhan sebenarnya ikut berlari bersama kita sampai garis finish (Matius 28: 20).

Pagi ini biarlah kita menyadari bahwa hidup ini memang terkadang sangat berat, ketika tubuh dan jiwa kita menjerit seakan ingin menyerah. Begitu banyak hal-hal berat yang sudah terjadi selama tahun-tahun yang lalu dan untuk menghadapi tahun-tahun mendatang terasa hati kita menjadi semakin kecil. Pada saat yang demikian, seperti seorang atlit yang bertekad untuk mencapai garis finish, iman kita harus mengambil alih pikiran manusiawi kita. Hidup ini memang penuh tantangan, tetapi kekuatan dan keberanian kita akan datang dalam pengharapan kepada Tuhan yang akan memberi mahkota kehidupan di masa depan.

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Berpihak kepada siapa?

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Matius 12: 30

Di negara bagian Queensland dimana saya tinggal, Sabtu ini adalah hari pemilu. Pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat dalam parlemen Queensland. Pemilihan umum memang hal yang jamak di Australia, karena pemerintah negara bagian maupun federal bisa mengadakan pemilu kapan saja, selagi kesempatan untuk menang cukup besar. Tidak heran jika banyak orang yang bosan ikut pemilu. Tetapi, karena orang yang sengaja tidak ikut pemilu akan didenda, kebanyakan orang ikut pemilu baik secara langsung atau lewat pos.

Di Indonesia, mereka yang tidak ikut pemilu atau tidak memilih siapapun dalam suatu pemilu dinamakan “golput”. Golput (golongan putih) adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap praktik politik dari orang-orang yang kecewa terhadap penyelenggaraan negara dengan cara tidak memilih partai atau legislator (dalam pemilu legislatif) atau Presiden (dalam pemilu Presiden).

Golput sebenarnya bukan hanya ada di Indonesia. Di luar negeri, mereka yang bertekad untuk abstain dalam proses pemilihan bisa saja mengembalikan formulir pemilu tanpa memilih satu calonpun. Mereka yang tidak menyenangi partai-partai atau calon-calon yang sudah berpengalaman, mungkin saja secara ngawur memilih partai “kremi” atau calon yang kurang dikenal sebagai tanda protes.

Dalam kehidupan rohani, golongan putih juga ada. Mereka yang karena tidak mau ikut-ikutan atau tidak bisa mengambil keputusan, memilih untuk tidak aktif dalam kehidupan beragama. Ada pula yang tidak bisa memilih apa yang mereka imani, karena mereka tidak percaya bahwa hanya ada satu pemenang dalam sebuah pemilu. Ada juga yang karena pernah dikecewakan oleh beberapa orang, memilih untuk tidak pilih-pilih karena tidak ada yang bisa dipilih. Ada pula yang tidak mau memilih karena percaya bahwa semua aliran kepercayaan hanya ciptaan manusia.

Dalam agama Kristen pun ada pengikut-pengikut golput. Mereka yang memakai kaos oblong berlambang salib, tetapi hanya duduk diam di pinggir jalan ditengah-tengah kesibukan umat Kristen yang lain. Mereka yang hanya berdiam diri tatkala orang lain berseru “dalam nama Yesus!” atau “hanya melalui Kristus!”. Mereka yang berpikir bahwa hidup adalah terlalu singkat untuk memikirkan doa, kebenaran firman Tuhan dan melaksanakan perintah Yesus, Pemimpin yang benar. Mereka yang merasa hidup sudah aman dan nyaman tanpa menuruti perintah Tuhan.

Pagi ini kita mendengar apa yang diucapkan Pemimpin kita, Tuhan Yesus Kristus, bahwa siapa yang tidak benar-benar menjadi prajuritNya adalah musuh-musuhNya. Tidak ada perkataan yang lebih keras dari itu: mereka yang golput, yang cuma ikut-ikutan, yang tidak mau ikut berperang melawan kuasa dan pengaruh iblis, bukanlah pengikutNya.

Dalam peperangan apapun dan dimanapun, seorang prajurit harus berpihak. Seorang prajurit harus memakai semua senjata yang ada. Seorang prajurit tidak bisa hanya menonton dari jauh ketika yang lain maju bertempur. Seorang prajurit tidak boleh menjadi seperti anggota golput yang tidak dapat atau mau mengambil keputusan. Seperti itu jugalah, iman Kristen kita tidak bisa hanya iman yang kosong yang tidak disertai hidup yang diisi dengan perbuatan-perbuatan yang nyata untuk mendukung perintah Tuhan kita. Yesus tidak dapat menerima orang-orang yang sedemikian.

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3: 16

Makan untuk hidup atau hidup untuk makan?

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Pertanyaan ini mungkin sering kita dengar sehubungan dengan banyaknya promosi makanan di berbagai media. Memang di seluruh dunia makanan khas lokal dipopulerkan untuk menarik pembeli, baik penduduk setempat ataupun turis. Tur kuliner yang sering diadakan dan istilah gastronomi yang menjadi populer menunjukkan bahwa di zaman ini makan bukan sekedar makan, dan makanan bukan sekedar makanan.

Ada banyak orang yang karena faktor ekonomi atau kesehatan, tidak bisa lagi makan semaunya. Untuk mereka, makan mungkin hanya sekedar untuk survive, untuk bisa hidup. Sebaliknya, bagi mereka yang berada dalam keadaan yang memungkinkan, makan bagi mereka bukan hanya untuk hidup, tetapi adanya hidup bisa juga dipakai untuk menikmati makanan. Mereka harus bersyukur karena mereka masih punya kesempatan untuk merasakan berkat Tuhan.

Bagi kita yang percaya kepada Tuhan, sebenarnya makanan itu tidak hanya berbentuk makanan jasmani saja. Karena tubuh yang terdiri dari jasmani dan rohani, kita juga harus mencukupi kebutuhan tubuh dengan makanan jasmani dan rohani. Makan untuk hidup, tetapi sayang ada banyak orang yang sakit atau mati rohaninya karena kurang makan atau tidak mengonsumsi makanan rohani yang baik.

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa firmanNya adalah perlu agar kita bisa hidup di dunia ini. Tetapi, kita harus awas akan adanya banyak orang Kristen yang hidup untuk menikmati makanan rohani yang lagi populer, spektakuler dan enak didengar, tetapi mengandung sesuatu yang dapat merusak iman mereka. Makanan rohani yang tidak sehat biasanya membuat kita menjauhi Tuhan, tetapi makin terikat pada lingkungan atau orang tertentu.

Pagi ini kita belajar bahwa kita makan untuk hidup dan juga hidup untuk makan. Kita makan untuk hidup, tetapi bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap Firman. Lebih dari itu, kita harus sadar bahwa hidup kita juga untuk makan, dalam arti menggunakan hidup kita untuk mendengar dan melaksanakan Firman dengan benar serta memuliakan namaNya.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Aku ingin sukses juga

“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Yakobus 4: 10

Di dunia saat ini, manusia berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan. Keberhasilan manusia umumnya diukur dengan kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan hal-hal serupa. Dari kecil kebanyakan orang tua mengajarkan bahwa hal-hal diatas bisa dicapai anak-anak mereka jika mereka rajin belajar dan mau bekerja keras. Berbagai contoh dan teori ada dalam berbagai media, dan bahkan dikhotbahkan di gereja, tentang bagaimana kita dapat mencapai kesuksesan dalam hidup kita melalui keberanian dan keuletan kita,

Sukses menurut ukuran dunia adalah hal-hal yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepada diri kita. Sukses jugalah yang seolah menentukan harga diri kita di hadapan masyarakat. Sukses mungkin juga membuat kita yang Kristen merasa beruntung bahwa Tuhan lebih mengasihi kita daripada orang lain, seperti Tuhan mengasihi Abraham, Daud dan Salomo, atau orang-orang Kristen ternama dari zaman modern.

Adalah kenyataan hidup bahwa kita lebih banyak mendengar tentang cara bagaimana kita bisa mencapai kesuksesan dan kebahagiaan menurut ukuran manusia, daripada mempelajari apa kata Alkitab tentang hal itu. Alkitab dalam berbagai ayat, selalu menekankan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan akan kita capai melalui kehidupan dalam iman kepada Tuhan.

“Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju. 1 Raja-Raja 2: 3

Apabila kita mengikuti berbagai ceramah umum tentang cara mencapai kesuksesan, selalu yang kita dengar adalah soal percaya diri dan kerja keras untuk mencapai cita-cita kita. Di gereja pun didengungkan nasihat bahwa kita harus mempunyai percaya diri untuk mendekati Tuhan dan berdoa dengan giat agar Tuhan memberkati kita dengan kesuksesan. Kesuksesan itu sendiri jarang dijelaskan apa artinya, padahal kesuksesan di mata Tuhan sangat berbeda dengan apa yang bisa dilihat manusia. Kesuksesan menurut Tuhan adalah kehidupan dalam iman kepadaNya, dan bukan harta duniawi seperti uang, kepandaian dan kemasyhuran, yang justru bisa menjauhkan kita dari Tuhan.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6: 21

Memang dalam hidup di dunia, setiap manusia membutuhkan uang dan kepandaian. Mereka yang bekerja keras akan mendapat hasil yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, jika dunia mengajarkan bahwa keserakahan itu bagus, greed is good, Tuhan menghendaki kita mempunyai rasa cukup dalam hidup kita; sebab dengan rasa cukup kita akan bisa merasakan kesuksesan kita dalam hidup ini. Sebaliknya, mereka yang berhasil menurut ukuran dunia seringkali merasa gagal karena tidak adanya rasa cukup.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Pada saat Yesus akan disalibkan, ia memasuki kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Ia yang Anak Allah, merendahkan diriNya sebagai manusia biasa, rakyat jelata. Jika kita berada bersama orang-orang yang mengelu-elukanNya, mungkin kita bisa merasakan perbedaan antara Yesus dan tokoh-tokoh yang ada. Yesus datang dengan kerendahan hati dan bukan kesombongan. Ia datang ke dunia dan bahkan disalibkan untuk menggenapi kehendak Allah Bapa.

Seperti kesuksesan Yesus berasal dari ketaatanNya kepada Allah Bapa, kesuksesan hidup kita akan terasa dalam ketaatan kita kepada firmanNya dan dalam kerendahan hati kita kepada Tuhan.