“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6
Tidak terasa bulan Desember sudah datang dan dengan itu di banyak negara suasana Natal sudah dapat dirasakan. Semua orang, Kristen dan bukan Kristen, dapat menikmati suasana itu karena semua hotel, pertokoan dan tempat wisata sudah dihias dengan pohon, hiasan dan lampu Natal.
Teringat saya akan masa kecil saya di Indonesia, mendengarkan lagu-lagu natal di radio; seolah hari Natal di luar negeri itu penuh kedamaian, apalagi dengan taburan salju di pohon-pohon dan diatas atap rumah-rumah.
Apa yang dibayangkan dan diharapkan manusia dengan datangnya hari Natal seringkali tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam kenyataannya. Setelah dewasa saya menjadi sadar bahwa adanya Natal belum tentu membawa kedamaian. Di berbagai tempat, perayaan Natal terjadi di tengah peperangan, kemiskinan dan kekacauan. Bahkan, sekalipun banyak yang merayakan Natal di keluarga, di gereja atau negara, kedamaian itu seringkali sukar dirasakan.
Apa guna merayakan Natal jika kedamaian itu tidak ada? Dapatkah kita membayangkan Yesus yang lahir sebagai bayi kecil lemah lembut di palungan?
Yesus sebenarnya datang ke dunia bukan dengan maksud untuk mendamaikan manusia dengan manusia. Ia tidak datang untuk memberi ketenteraman, kepuasan dalam kehidupan duniawi. Ia datang ke dunia untuk memisahkan mereka yang mau didamaikan dengan Allah Bapa, dari mereka yang ingin mendekati Allah dengan cara mereka sendiri.
“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Matius 10: 34-36
Yesus adalah Raja Damai karena Ialah yang membawa damai antara Allah dan umat manusia. Murka Allah terhadap manusia yang tidak mau bertobat dari dosa mereka, terhadap mereka yang merasa dapat membeli karcis ke surga, atau yang merasa hidup mereka sudah cukup baik, tidaklah dapat dipadamkan kecuali melalui penebusan Yesus Kristus.
Pagi ini biarlah kita sadar bahwa walaupun di dunia ini sering kita menjumpai berbagai hal yang tidak membawa kedamaian di antara umat manusia; dalam keluarga, pekerjaan, negara dan bahkan gereja, kita boleh yakin bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah Yang Mahasuci. Dan karena kita sudah mendapatkan kebahagiaan yang tertinggi, kita juga seharusnya dapat membagikan kabar baik itu kepada sesama kita supaya mereka melalui hidup kita, juga dapat memperoleh dan merasakan kedamaian dengan Allah Tuhan kita.
“Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Roma 10: 15b

Pernahkah anda mempertanyakan mengapa untuk Alkitab yang sama ada begitu banyak buku tafsiran yang berbeda? Itulah karena manusia adalah mahluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah mahluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari mahluk-mahluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari mahluk yang lain. Jika mahluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang disekitarnya. Tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.
Pagi ini ketika pesawat Air Canada yang saya tumpangi dari Brisbane mendarat di airport Vancouver, Canada, cuaca mendung dan suhu sekitar 3 derajat Celcius. Namun, lapangan terbang internasional yang cukup besar itu terlihat sibuk, penuh dengan para pelancong yang hilir mudik menuju ke tempat tujuan masing-masing. Memang kota Vancouver adalah kota kosmopolitan yang diminati pelancong mancanegara. Kota terbesar nomer tiga di Canada dengan penduduk sekitar 2 juta ini sebanding dengan kota Brisbane yang juga di peringkat tiga Australia.
Mengenai hal kewarganegaraan saya teringat akan mata pelajaran “Civic” di SMA yang termasuk salah satu mata pelajaran yang saya sukai. Kewarganegaraan dalam Bahasa Latin disebut “Civis”, yang kemudian dalam bahasa Inggris disebut “Civic”, artinya mengenai warganegara atau kewarganegaraan. Dalam mata pelajaran itu, yang paling menarik adalah soal hak dan kewajiban warga negara.
Baru saja di negara bagian Queensland, Australia, diadakan pemilihan umum untuk memilih para pemimpin daerah. Pemilihan umum di Australia seringkali sulit diterka hasilnya karena pendapat masyarakat bisa berubah dengan cepat pada saat-saat menjelang hari pemilu. Mereka yang kecewa dengan calon-calon atau partai tertentu seringkali berubah pikiran dan memilih calon alternatif, sekalipun mereka kurang mengenalnya. Karena itu hasil yang mengejutkan bisa dan sering terjadi.

Sebuah kisah yang mungkin sering diceritakan adalah tentang seorang pemain akrobat yang menyeberangi jeram Niagara diatas sebuah kabel. Banyak penonton yang menyaksikan orang itu dengan perlahan-lahan meniti kabel baja yang terbentang diatas jeram itu merasa berdebar-debar karena jika ia jatuh, niscaya ia akan tewas.