Tuhan itu adil

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23-24

Hari ini adalah hari terakhir saya di Vancouver dan malam ini saya akan terbang kembali ke Australia. Selama dua minggu di benua Amerika, saya sudah menikmati suasana Natal yang ada, yang umumnya lebih meriah dan lebih megah dari apa yang ada di Australia. Memang tradisi perayaan Natal di musim dingin, seperti yang diungkapkan dalam berbagai lagu dan film, hanya terlihat di belahan utara bumi karena dibelahan selatan musim panas sedang berlangsung.

Musim dingin memang bisa membuat suasana Natal menjadi lebih indah, tetapi itu hanya bisa dirasakan mereka yang punya tempat tinggal yang baik, dengan perapian atau penghangat ruangan. Bagi mereka yang tidak mempunyai keluarga dan hidup di jalanan, musim dingin terasa kejam.

Kepincangan sosial memang ada di negara mana pun, tetapi bisa menimbulkan pertanyaan: Apakah Tuhan itu adil? Bagaimana mungkin orang yang jahat atau curang bisa hidup enak, sedangkan orang yang baik dan jujur sering hidupnya sengsara? Mengapa diantara orang-orang yang kita kenal dari kecil ada yang hidupnya enak dan ada pula yang sakit-sakitan dan bahkan mati muda?

Keadilan Tuhan memang sulit dimengerti manusia. Apalagi untuk mereka yang merasa sudah berusaha untuk hidup baik dan banyak menolong sesama manusia tetapi ternyata kemudian mengalami musibah. Memang kalau dilanjutkan, ada juga yang bertanya mengapa mereka yang hidupnya baik dan banyak menolong sesama manusia tidak akan memperoleh keselamatan tanpa melalui Yesus. Berarti Tuhan itu tidak adil, itu kata mereka.

Ayat diatas menyatakan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan; mereka semuanya patut menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Sejak manusia jatuh kedalam dosa, mereka sudah dihukum dengan hidup berat dan kematian (Kejadian 3: 17-19). Kemarahan Tuhan yang Maha Suci tidak dapat dipadamkan oleh manusia dengan perbuatan baik apapun.

Kedatangan Yesus ke dunia pada hari Natal adalah sesuatu yang sungguh menakjubkan, jika manusia mempunyai pikiran yang sehat. Mengapa Tuhan yang dikatakan Maha Adil itu perlu untuk menyusahkan diri, datang ke dunia dan menderita untuk menyelamatkan manusia yang seharusnya mati? Memang jika kita dengan sejujurnya mengharapkan keadilan Tuhan, kita tidak bisa mendapat kemungkinan untuk tetap hidup dalam kemurahanNya.

Kenyataan bahwa Tuhan itu sangat mengasihi manusia dan juga maha adil ditunjukkan dengan kedatangan Kristus ke dunia yang dengan kematianNya sudah memenuhi tuntutan keadilan Ilahi. Mereka yang merasa Tuhan itu tidak adil seharusnya tidak mempunyai harapan masa depan, karena jika Tuhan hanya Maha Adil dan tidak Maha Kasih, Ia tidak perlu memberi kesempatan bagi mereka yang percaya untuk dibenarkan dalam Yesus Kristus.

Satu hal yang perlu kita sadari adalah Tuhan yang Maha Adil dan Maha Kasih adalah juga Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Ia dengan kuasa dan kebijaksanaanNya tetap berhak untuk menentukan siapa saja yang mendapat panggilan keselamatan. Ia juga yang menentukan apa yang boleh terjadi dalam hidup manusia, termasuk anak-anakNya.

Memang jalan pikiran Tuhan itu tidak dapat kita mengerti sepenuhnya selama kita masih hidup di dunia ini, tetapi hidup kita akan lebih terasa ringan jika kita percaya bahwa keadilanNya dan kasihNya tidak dibatasi oleh keadaan kita pada saat ini. Ia yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana pastilah bisa dan mau terus membimbing dan menguatkan kita hingga tiba saatnya kita berjumpa dengan Nya muka dengan muka.

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Merasa kuat karena lemah

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 40

Tahukah anda jumlah manusia super yang pernah muncul di layar putih, video game atau buku komik? Mungkin anda tahu Superman dan Batman, tetapi di Amerika ada banyak tokoh khayalan lain, seperti Spider-Man, Thor, Hal Jordan, Wonder Woman dan Captain America; jumlah seluruhnya mungkin lebih dari seratus.

Mengapa orang senang menonton atau membaca cerita khayal semacam itu? Mungkin karena orang senang membayangkan adanya superhero yang mempunyai kemampuan luar biasa, yang bisa menegakkan keadilan dan menolong yang lemah. Barangkali juga orang bisa melamun betapa enaknya jika superhero itu bisa menolong mereka yang sedang menghadapi bahaya atau masalah. Mungkin juga karena orang ikut membayangkan betapa hebatnya kalau mereka bisa mempunyai kemampuan yang serupa dalam hidup mereka.

Hidup ini memang tidak mudah dan terkadang penuh tantangan, masalah atau bahaya. Banyak orang yang dalam keadaan semacam itu akan berusaha untuk bertahan dan berjuang seorang diri, karena mereka berharap untuk bisa kuat dan menang seperti superhero. Itu jugalah yang diajarkan para motivator terkenal di berbagai seminar.

Bagi kita yang beriman, superhero kita sudah tentu adalah Yesus Kristus. Bukannya khayalan, Yesus Anak Allah itu benar-benar datang dari surga ke dunia, mati menebus dosa manusia, tapi bangkit lagi pada hari yang ketiga. Adalah kenyataan bahwa Yesus telah mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan membangkitkan orang mati. Dan Ia jugalah yang memberitakan kabar baik, kabar keselamatan, kepada orang yang menderita (Matius 11: 5).

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah Superhero yang sebenarnya. Yesus adalah Tuhan, Tuhan yang juga sudah menciptakan segala sesuatu, yang memelihara segala sesuatu dan yang dari mulanya mempunyai rencana untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ialah kebanggaan kita yang sesungguhnya, karena Ia bisa dan mau menolong mereka yang meyadari kelemahan mereka.

Dalam keangkuhan dan kebodohan kita tidak menyadari kuasa dan kasih Tuhan, tetapi dalam kelemahan kita bisa merasakan kuasaNya seperti apa yang dialami Rasul Paulus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Bermegah dalam Kristus

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6: 14

Kemegahan adalah salah satu yang dicari manusia. Memang setiap orang dari lahir sudah mempunyai naluri untuk mencapai kesuksesan dalam apa yang dilakukannya, supaya ia memperoleh kesempatan untuk merasa bangga akan apa yang sudah dicapainya.

Menurut rumus dunia, setiap orang bisa dan harus berusaha untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan yang dialami tanpa mengucurkan keringat umumnya dimengerti sebagai sesuatu yang tidak perlu dibanggakan. Tetapi dalam kenyataannya orang juga membanggakan hal-hal yang sudah ada sejak dari awalnya, seperti warna kulit, bentuk tubuh, jenis ras, kebangsaan dan sebagainya. Kebanggaan malahan bisa berkembang menjadi kesombongan dan perasaan bahwa apa yang dimiliki orang lain tidaklah sebaik apa yang mereka punyai.

Kebanggaan tidak hanya dalam hal jasmani, tetapi juga dalam hal rohani. Keyakinan bahwa orang Kristen adalah manusia yang terpilih, seringkali membuat mereka merasa bahwa orang lain adalah orang yang dibenci Tuhan, terutama jika orang itu masih hidup bergelimang dalam dosa (Lukas 19: 2-7). Mungkin juga, ada perasaan yang muncul bahwa karena hidup kita nampak lebih saleh daripada hidup orang lain, pastilah Tuhan lebih mencintai diri kita (Lukas 18: 10-14). Bahkan, murid-murid Yesus pun bisa terperosok dalam soal siapa yang terbaik (Lukas 22: 24).

Semua kebanggaan pada umumnya membuat manusia merasa “super” dan lebih baik dari orang lain. Bermegah atas keadaan diri sendiri tidak lain adalah membuat diri kita seperti ilah di hadapan Tuhan. Jika begitu, tidak adakah yang bisa kita banggakan dalam hidup kita sebagai umat Kristen? Tidak adakah sesuatu yang megah dalam hidup kita yang bisa kita sampaikan kepada seisi dunia? Sudah tentu ada! Jika tidak ada yang sesuatu yang hebat dalam hidup kita, bagaimana kita bisa membuat dunia bisa melihat kebesaran Tuhan?

Kita boleh bermegah bahwa karena Yesus yang sudah datang ke dunia pada hari Natal adalah Anak Allah yang sudah sudi datang untuk menebus dosa manusia. Karena Yesus, hidup kita tidak lagi dikuasai oleh dosa; dan karena dosa kita sudah ditebus oleh darah Kristus, kita mau mempersembahkan hidup kita untuk Yesus. Inilah suatu kemegahan yang harus bisa kita sampaikan kepada semua orang agar mereka mau menerima anugerah keselamatan yang sudah dimungkinkan oleh darah Yesus di kayu salib.

Kita adalah hamba hukum

“… Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” Matius 20: 26-27

Kemarin siang, selagi berjalan-jalan di daerah China Town di Seattle, tiba-tiba beberapa mobil polisi bermunculan dari segala jurusan. Dengan bunyi sirene yang menjerit-jerit dan lampu biru yang berkedip-kedip, mereka melaju dengan cepat menuju ke satu taman yang tidak jauh dari saya. Pemandangan yang agak menakutkan, mirip adegan film Hollywood tentang hamba hukum yang mengejar bandit.

Dalam bahasa Indonesia istilah “hamba hukum” berarti petugas hukum, pelaksana hukum atau polisi. Istilah semacam ini tidak ada dalam bahasa Inggris walaupun polisi dikenal sebagai “pelaksana hukum” atau “law enforcer”. Sekalipun polisi di Indonesia dinamakan hamba hukum, dalam kenyataannya mereka bukanlah “hamba” tetapi “pemimpin” masyarakat yang mengawasi dan mengatur masyrakat agar menaati hukum yang ada.

Dalam hidup di zaman ini memang tidak ada lagi orang yang mau menjadi hamba siapapun, walaupun pekerjaan sebagai pelayan masih ada di banyak negara. Sekalipun demikian, ayat diatas mengatakan bahwa orang Kristen yang mau menjadi pemimpin harus mau menjadi pelayan atau hamba yang lain. Dalam ayat ini, istilah “pelayan” mengandung arti yang sama dengan istilah “hamba”.

Sebagai orang Kristen sebenarnya kita adalah hamba hukum. Bukan hukum Taurat, tapi hukum kasih. Kita harus melaksanakan hukum utama untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita (Matius 22:37-40), karena kasih karunia Allah yang telah dinyatakan dalam kedatangan Yesus Kristus ke dunia.

Pagi ini biarlah kita diingatkan walaupun dunia ini mengagumi pemimpin-pemimpin besar dan karena itu orang sering ingin untuk memimpin orang lain, seorang pemimpin Kristen adalah hamba hukum kasih, yang taat kepada Tuhan dan mengasihi orang yang dipimpinnya. Ini berarti bahwa jika kita diberiNya kesempatan untuk memimpin, itu bukannya untuk memberi kita kepuasan dan rasa bangga karena kita lebih mampu dari yang lain, tetapi rasa syukur karena kita mendapat karunia untuk melayani dan membimbing sesama kita. Menjadi pemimpin juga bukan untuk meninggalkan kesan baik untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Yesus, Tuhan yang sudah datang ke dunia dan merendahkan diri sebagai manusia biasa.

“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” Lukas 22: 26

Siapa mau menderita?

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Filipi 1: 29

Siapa mau menderita? Pertanyaan aneh yang sudah dapat dipastikan jawabnya. Tidak ada seorang pun yang mau menderita. Apalagi dalam merayakan Natal, banyak yang memilih untuk bergembira dan berpesta sekalipun tidak mengerti makna hari istimewa itu. Mereka yang menyadari arti Natal pun kelihatannya memilih untuk merayakan Natal semeriah dan semewah mungkin, sekedar berusaha untuk membuat kenangan yang tidak mudah terlupakan selama mereka masih hidup.

Hari Natal yang pertama sungguh berbeda dengan hari Natal di zaman ini. Pada waktu Yesus dilahirkan, keadaan disekelilingnya sangat sederhana, untuk tidak dikatakan prihatin. Yesus dilahirkan di kandang hewan dan ditidurkan dalam sebuah palungan. Tidak di sebuah rumah sakit atau gedung mewah. Tetapi kelahiran yang terlihat hina di mata manusia itu memang direncanakan Allah, agar semuanya membawa kenangan yang tidak bisa terlupakan di segala zaman.

Kelahiran seorang Juruselamat yang merupakan kedatangan Tuhan untuk menebus dosa manusia, adalah sesuatu yang sulit dipercaya manusia. Berbeda dengan pesta-pesta Natal yang diadakan nanusia di seluruh dunia, yang berita atau fotonya bisa disebarkan dan dipantau dari seluruh dunia lewat berbagai media. Kelahiran Tuhan di dunia yang sederhana adalah tanda kebesaran kasih Tuhan kepada manusia di dunia. Sebaliknya, perayaan dan acara Natal yang sekarang ada, seringkali adalah tanda kebesaran dan kepentingan manusia.

Kelahiran Yesus sebenarnya bisa terjadi dalam suasana yang nyaman dan bahkan mewah, sama dengan dan bahkan lebih mewah dari perayaan Natal apapun yang dilakukan manusia di zaman ini. Tetapi, kelahiran Yesus dalam suasana prihatin itu adalah permulaan dari pengurbanan dan penderitaan Anak Allah di dunia untuk menebus dosa manusia yang berdosa. Sekali pun hal ini adalah sulit untuk diterima oleh pikiran manusia, kepada orang-orang yang dipilihNya Tuhan sudah memberi pengertian akan hal itu.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang sudah dikaruniai kepercayaan atau iman kepada Yesus, juga diberi karunia tambahan, yaitu untuk bisa menderita bagi Dia. Ini berarti bahwa seperti Yesus, kita yang sudah terpilih menjadi umatNya kemudian akan mampu menghadapi penderitaan dunia dalam menjalani hidup ini untuk membesarkan namaNya. Lebih dari itu, sebagai pengikut Kristus, kita tidak lagi tertarik untuk mencari kebahagiaan duniawi yang semu, tetapi kebahagiaan abadi didalam Dia.

Mengikut Kristus tidak berarti bahwa hidup kita di dunia ini akan dipenuhi kemewahan, kenyamanan, kesuksesan dan kemegahan. Sebaliknya, untuk sebagai anak-anak Tuhan kita seringkali menghadapi tantangan, kesedihan, kekurangan, kesepian dan masalah. Sebagai pengikut Yesus kita juga bisa merasakan dan meringankan penderitaan orang-orang di sekitar kita. Hanya karena kasih Tuhan, semua hal yang kurang nyaman itu justru akan membawa kita lebih dekat kepadaNya.

Pagi ini, marilah kita meneliti hidup kita, terutama dalam menantikan datangnya hari Natal. Mungkin kita sudah bisa merasakan adanya karunia iman kepada Yesus. Tetapi apakah kita juga merasakan adanya karunia untuk menderita bagi kemuliaanNya?

Mungkinkah jatuh cinta sebelum jumpa?

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8-9

Alkisah ada seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Siang malam pemuda ini selalu memikirkan si gadis, karena itu bagi dia makan tak enak, tidur pun tak pulas jadinya. Sepanjang hari pemuda ini memandangi lukisan si gadis, yang kebetulan tergantung pada sebuah tembok didalam sebuah gedung museum di kota Paris. Nama gadis itu adalah Mona Lisa

Bagaimana seorang manusia bisa jatuh cinta kepada sebuah lukisan mungkin mengherankan bagi sebagian orang, tetapi itu sering terjadi terutama di kalangan muda-mudi yang mengagumi bintang film atau penyanyi yang terkenal. Memang untuk orang lain, jatuh cinta kepada seseorang yang tidak pernah dijumpai serasa tidak masuk akal, sebab apa yang ditampilkan dalam lukisan atau foto bukanlah yang benar-benar nyata.

Bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus, kasih kita kepadaNya mungkin juga membuat heran mereka yang tidak percaya kepadaNya. Bagaimana orang bisa mengakui Yesus sebagai Tuhan padahal tidak ada seorangpun yang pernah ke surga dan melihat Dia? Tetapi mereka yang “jatuh cinta” kepada figur-figur rohani yang lain juga hanya pernah melihat lukisan atau patung mereka. Sebagian lagi hanya mendengar kisah dan ajaran mereka.Tetapi, tidak ada satu figur selain Yesus yang datang dari surga dan kembali ke surga untuk membuktikan bahwa Ia benar-benar Tuhan.

Memang agaknya iman kita kepada Yesus yang belum pernah kita lihat itu bisa dikatakan cinta buta seandainya tidak ada bukti nyata bahwa oknum Yesus itu memang ada. Setidaknya ada dua buku terkenal yang mencatat bahwa manusia bernama Yesus atau Isa itu dulu pernah hidup ditengah manusia. Malahan, salah satu buku itu, Alkitab, mencatat bahwa Yesus yang lahir pada hari Natal itu adalah Anak Allah yang disalibkan, mati dan dikuburkan, tetapi bangkit pada hari yang ke tiga dan kemudian naik ke surga. Tidak ada figur surgawi lain yang pernah dijumpai dan hidup diantara manusia dan dilihat manusia pada waktu naik ke surga. Karena itu Yesus adalah satu-satunya yang nyata diantara banyak yang maya.

Pagi ini, jika kita masih sangsi apakah figur Yesus itu memang Tuhan yang patut kita kasihi dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita, kita boleh berpegang pada jaminan keselamatanNya. Sekalipun kita belum pernah melihatNya, kita bergembira dengan sukacita yang tidak terkatakan, karena kita telah mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita!

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Yohanes 14: 3-4

Tidak mungkin untuk tetap netral

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Matius 12: 30

Kemarin malam saya mendapat kesempatan untuk menonton pertandingan ice hockey di Rogers Arena, Vancouver. Tim Predators dari Amerika berhadapan dengan tim Canucks dari Vancouver. Untuk pertama kalinya saya menonton ice hockey, karena di Australia olahraga ini tidak populer. Pertandingan cukup ramai dan menarik; tetapi karena kedua tim bukanlah tim saya, saya bisa bertepuk tangan untuk tim mana saja jika mereka berhasil memasukkan goal (atau kemasukan goal!). Itulah enaknya kalau kita bisa netral, menonton tanpa harus mendukung satu tim.

Dalam ayat di atas Yesus mengatakan bahwa hanya ada dua tim di dunia ini. Tim Yesus dan tim si Jahat. Tiap orang yang tidak mengikut tim Yesus adalah pengikut si Jahat, iblis. Manusia tidak dapat bersikap netral karena ia harus menjadi pendukung satu tim. Jika seseorang tidak mau mendukung Yesus untuk memasyhurkan namaNya dan melebarkan kerajaanNya, ia sebenarnya mengacaukan kegiatan Tuhan dan menjadi musuhNya.

Tidak semua orang sadar bahwa dalam hidup rohani mereka harus secara total mendukung satu tim saja. Satu diantara dua tim yang ada. Yesus datang untuk membawa kabar baik, kabar keselamatan untuk semua orang; dan mereka yang tidak mau mendukung tim Yesus dapat digolongkan sebagai anggota tim yang lain, yang ingin menyaingi Yesus dan mengacau rencanaNya.

Ditengah dunia dengan segala daya tariknya, banyak orang yang ingin hanya menjadi penonton saja, dan karena itu tidak mau terikat pada satu tim. Dengan kebebasan mereka, terkadang mereka mendukung tim Yesus, tetapi mereka juga sering mengagumi tim-tim lain. Apalagi tim Yesus seakan kurang menarik perhatian dan kurang giat untuk berusaha untuk menang. Sebaliknya, tim lain seringkali terlihat lebih giat bekerja untuk menang dan lebih menarik penampilannya; mereka sepertinya mempunyai dedikasi dan disiplin kerja yang lebih baik dari tim Yesus.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa tim Yesus adalah tim yang sudah menang, karena Yesus sudah mengalahkan maut dengan kebangkitanNya. Ia sudah menang dan karena itu semua pengikutNya tidak perlu bekerja dan berbuat sesuatu untuk memperoleh kemenangan. Semua pengikut tim Yesus sudah bisa berlari sambil mengucap syukur menuju ke podium dengan keyakinan bahwa mereka akan menerima mahkota kemenangan yang sudah tersedia. Masihkah kita ragu untuk menjadi anggota Tim Yesus sepenuhnya?

“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4: 8

Benarkah Yesus pilihan anda?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena hampir semua penduduknya tidak beragama Kristen.

Ada berbagai sebab mengapa suatu negara bisa menjadi negara yang mayoritas penduduknya menganut kepercayaan tertentu. Faktor politik, militer, sosial, ekonomi dan budaya seringkali menyebabkan penduduk setempat memilih ajaran agama tertentu, biasanya setelah selang waktu yang cukup lama. Dengan memilih agama tertentu, mereka memilih untuk menyembah atau berbakti kepada Tuhan, dewa, tokoh atau oknum tertentu dengan cara-cara tertentu.

Ketaatan kepada ajaran tertentu menyebabkan manusia berusaha mempertahankan eksistensi kepercayaan mereka karena yakin bahwa pilihan mereka adalah yang paling cocok, paling baik atau paling benar diantara yang baik dan benar. Karena itu, tidak hanya sering terjadi pergesekan antar agama, sekte atau aliran, tetapi ada orang-orang yang berpindah agama karena mereka berusaha memilih apa yang terbaik menurut pikiran mereka. Walaupun begitu, ada juga orang-orang yang percaya bahwa apapun yang dipilih manusia itu tidak jadi soal, karena semua orang bisa memilih menurut kebijakan dari Tuhan dan semua pilihan adalah baik adanya.

Dari ayat diatas, ternyata bahwa sebenarnya manusia tidak dapat memilih untuk mengikut Yesus. Yesuslah yang memilih siapa saja yang akan dijadikanNya sebagai orang beriman. Oleh sebab itu, kita yang sudah mengikut Yesus tidak boleh menyombongkan diri karena itu bukan hasil pemikiran atau perbuatan kita.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. “Efesus 2: 8-9

Kita tidak bisa menganggap pilihan Tuhan adalah setara dengan pilihan-pilihan manusia yang ada di dunia. Sudah tentu pilihan Tuhan adalah pilihan khusus yang benar dan menurut kehendakNya. Karena itu, kita juga tidak perlu heran jika ada orang yang tidak dapat percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, tetapi dengan mudah percaya kepada ajaran lain atau tidak menganut kepercayaan apapun. Sebaliknya, kita harus yakin bahwa siapapun yang dipilihNya akan mendapat kesempatan untuk menyambut panggilan Yesus.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Pagi ini, jika kita merasakan bahwa kita mengenal siapa Yesus itu dan mengakui Dia sebagai Juruselamat kita, kita harus yakin bahwa itu adalah satu hal yang tidak mungkin salah karena Ialah yang sudah memungkinkannya. Biarlah kita selalu bersyukur untuk itu dan juga mau mendoakan mereka yang sudah dipanggilNya agar mereka tidak lagi mencari-cari jalan keselamatan dengan usaha sendiri.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Apa arti Natal bagi kita?

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2: 11-12

Bagi mereka yang merayakan hari Natal, hari-hari yang akan datang adalah saat penantian untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Umumnya orang merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember, walaupun hari itu hanya dipilih manusia untuk memperingati hari yang sebenarnya tidak diketahui kapan tepatnya.

Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena adanya faktor perbedaan agama.

Di negara dimana Natal adalah hari libur nasional, tidak semua yang merayakannya adalah orang Kristen. Di negara barat seperti Australia, Canada dan Amerika, banyak orang yang merayakan Natal karena sekedar tradisi, sebuah kesempatan untuk berlibur dan bersukaria seperti perayaan tahun baru. Walaupun begitu, hari Natal bisa menjadi hari yang penuh kesedihan bagi mereka yang menderita, mengalami sakit, kekurangan, kelaparan, kesepian dan kedinginan.

Bagi umat Kristen pun, perayaan Natal juga mempunyai arti yang berbeda-beda, sekalipun mungkin kurang disadari. Mungkin karena kebiasaan, banyak orang yang merasa dirinya Kristen memerlukan diri untuk ke gereja. Mereka yang biasanya jarang ke gereja, pergi menghadiri kebaktian Natal. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa merayakan hari Natal adalah hak mereka dan satu bagian dari identitas mereka.

Sekalipun banyak orang yang merayakan hari Natal, peristiwa kelahiran Yesus hanya mempunyai arti pada mereka yang sudah terpanggil menjadi anggota keluarga Allah. Hanya mereka yang sudah benar-benar menjawab panggilan Yesus Kristus untuk bertobat dan menempuh hidup baru akan menjadi anak-anak Allah seperti Yesus dan karena itu bisa mengerti arti kelahiran Yesus di dunia.

Ada banyak orang yang percaya Yesus adalah seorang tokoh yang penting, orang yang baik hati dan guru yang pengajarannya sangat berguna. Tetapi orang semacam itu seringkali juga percaya bahwa ada orang-orang lain yang juga baik pengajarannya dan besar amalnya. Bagi mereka, kenyataan bahwa Allah telah menurunkan AnakNya yang tunggal sebagai manusia biasa, dan bahkan lahir sebagai bayi di palungan, tidaklah bisa dimengerti walau bagaimanapun indah kisahnya. Untuk mereka, Yesus, Anak Allah yang Mahasuci itu agaknya sebanding dengan tokoh-tokoh agama lainnya. Karena itu, kepercayaan kepada Yesus mungkin tidak ada bedanya dengan kepercayaan kepada pemimpin agama yang lain, walaupun mereka memilih untuk merayakan hari Natal daripada merayakan hari besar agama lain.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan yang turun ke dunia sebagai manusia hanya mempunyai arti sepenuhnya bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Tidak ada nama lain di bumi yang bisa dibandingkan dengan nama Yesus, Anak Allah, dan karena itu kita harus beriman hanya kepada Yesus.

Mengapa peduli?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Masa remaja adalah masa yang membawa kenangan bagi setiap orang. Kenangan yang manis ataupun yang pahit dari masa itu biasanya tidak mudah terlupakan sekalipun kita sudah berusia lanjut. Apalagi pengalaman yang lucu atau konyol, selalu membuat kita tersenyum atau meringis setiap kali itu muncul dalam pikiran kita.

Mungkin juga kita teringat bahwa masa remaja adalah masa dimana kita biasanya cenderung sensitif atas apa yang dikatakan orang lain mengenai tubuh, pakaian, makanan dan apa saja yang kita lakukan. Kalau ada sedikit komentar orang lain tentang hal-hal itu, kita mungkin kepikiran, tersinggung, marah atau tidak bisa tidur.

Sesudah menjadi dewasa, orang lebih bisa mengatasi rasa sensitif atas pendapat orang lain. Mungkin kita bisa berkata “emangnya gue peduli”, jika ada hal- hal yang kurang cocok untuk telinga kita. Malahan, bagi sebagian orang Kristen soal menebalkan kulit muka adalah bagian dari kehidupan dan pekerjaan mereka. Untuk bisa bertahan dan sukses dalam hidup orang harus tahan bantingan, begitulah nasihat yang sering diajarkan. Sekalipun masyarakat melihat kita berbuat hal-hal yang kurang baik, kita dianjurkan untuk tidak terlalu memikirkannya. Cuek saja!

Ayat diatas menegaskan bahwa masyarakat melihat apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Terutama jika mereka tahu bahwa kita adalah orang yang mengaku Kristen, mereka mungkin membayangkan bahwa kita tentunya tidak sama dengan orang lain yang bukan Kristen. Dalam kenyataannya, banyak orang yang mungkin tidak tahu adanya orang-orang Kristen disekitar mereka karena tingkah laku, etika dan cara hidup orang-orang Kristen itu tidak berbeda, dan malahan lebih buruk, dari orang lain yang bukan Kristen.

Pagi ini ayat diatas mengingatkan kita bahwa kita harus peduli akan apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang tingkah laku, etika dan cara hidup kita. Kita harus merasa sensitif dan bukannya tidak peduli atas pandangan masyarakat, karena mereka dapat melihat apakah kita benar-benar menaati Tuhan dan mengasihi sesama kita. Biarlah masyarakat bisa melihat kepedulian kita dan menjadi pengikut Kristus seperti kita!