Mengapa setiap orang Kristen bertanggungjawab atas hidupnya

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18-19

Dalam ayat di atas, Paulus menggambarkan sebuah konflik antara apa yang ia inginkan dan apa yang ia lakukan. Jika ia menginginkan apa yang baik, ia justru melakukan apa yang tidak ia inginkan. Ada dua tafsiran dalam hal ini, yang pertama ialah bahwa Paul menyatakan keadaannya sebelum dia lahir baru. Tafsiran yang lain menyatakan bahwa ini adalah keluhan hidupnya setelah lahir baru. Penafsiran yang kedua adalah yang benar.

Dalam ayat Roma 7: 15 dia menggambarkan pergumulan itu: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Dia ingin berbuat baik, tetapi dia akhirnya berbuat jahat. Dia memiliki pikiran yang ingin berbuat baik, tetapi tubuh yang jahat. Mengapa? Karena, seperti yang akan segera kita lihat, jika Roh Kudus merusaha membimbingnya, ada kekuatan lain yang bekerja di dalam dirinya.

“Dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik” (Roma 7:18). Paulus mengklarifikasi pernyataannya dengan mengatakan bahwa dia berbicara tentang daging, sifat berdosa, bukan sifat barunya di dalam Kristus (Roma 7:20). Semua hal baik dalam kehidupan Paulus berasal dari Kristus yang hidup di dalam dirinya, bukan berasal dari Paulus sendiri. Yang baik datang dari sifat baru, yang buruk berasal dari yang lama, dan kehidupan Kristiani setiap umat percaya selalu menghadapi perjuangan melawan pengaruh yang lama. Karena itulah, selama hidup di dunia kita juga berjuang melawan pengaruh dosa.

Paulus adalah orang yang sudah lahir baru, tetapi dia bukannya tanpa dosa. Dia ingin berbuat baik, tetapi terkadang dia berbuat dosa. Dosa di dalam dirinya sering membajak keinginannya untuk mengikuti firman Tuhan, membuatnya melakukan hal-hal yang sebaliknya tidak ingin ia lakukan. Paulus meringkasnya dalam ayat 21-23: “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Sebagai seorang Kristen, dia ingin melakukan yang benar yang sesuai dengan petunjuk Roh Kudus, tetapi terkadang itu merupakan pergumulan.

Pikiran Paulus berperang melawan tubuhnya yang telah dipengaruhi oleh dosa. Ia sadar bahwa ia tidak boleh mendukakan Roh Kudus dan harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, tetapi ia sering merasa lemah. Meskipun dia ingin berbuat baik, namun dosa dalam dirinya terkadang menyebabkan dia melakukan hal-hal yang dia benci. Jadi dia mengeluh, seperti yang dia katakan dalam Roma 8:23, menunggu penebusan tubuhnya, kebangkitan dan kemenangan akhir atas sifatnya yang berdosa.

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” Roma 8: 22-23

“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Bagaimana aku bisa melepaskan diri dari sifat berdosa yang bergumul di dalam diriku? Paulus tahu dari mana pembebasannya akan datang: “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Roma 7: 25a). Paulus, seperti kita, sedang dalam proses untuk dibebaskan dari dosa. Ini adalah perjuangan seumur hidup, tetapi kemenangan adalah pasti, terima kasih kepada Tuhan! Bagaimana itu bisa terjadi? Itulah yang dibahas Paulus di pasal 8 – hidup dalam Roh, meluas hingga kekekalan. Di situlah pertempurannya yang akan dimenangkan bersama Kristus.

Paulus mengakhiri pasal ini dengan ringkasan: “Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa” (Roma 7: 25b). Bahkan setelah dia berbicara tentang pembebasan yang diberikan kepadanya oleh Kristus, Paulus menggunakan metafora dari orang yang terbelah: ada aku yang sebenarnya, dan ada dosa yang tinggal di dalam aku. Ada perjuangan antara pikiran dan tubuh. Dia sudah menjadi hamba Kristus, tetapi terkadang dia gagal dan menjadi hamba dosa. Dia memiliki pikiran yang baru, tetapi tubuh yang tua, dan dia menantikan semua itu menjadi baru!

Beberapa orang Kristen tidak mengalami banyak pergumulan batin sebelum mereka menjadi percaya. Setelah percaya, mungkin mereka merasa cukup berhasil melakukan semua yang seharusnya mereka lakukan. Mereka tidak sadar bahwa selama hidup perjuangan melawan kedagingan selalu ada. Mereka mungkin tidak sadar bahwa jika mereka berhasil melaksanakan tugas mereka, Tuhanlah yang memungkinkan. Orang Kristen yang lain sering melayani dosa dan tidak bergumul melawannya. Mungkin mereka percaya bahwa semua itu sudah ditetapkan Tuhan, atau mereka merasa tidak perlu atau tidak bisa bertanggungjawab atas hidup mereka. Barangkali mereka yakin bahwa sebagai orang pilihan, mereka tidak dituntut untuk memikul tanggung jawabnya karena penebusan Yesus. Selain pandangan di atas, ada orang Kristen yang menolak adanya pilihan dan tanggungjawab manusia karena dianggap mengurangi kedaulatan Tuhan. Ini sudah tentu pandangan yang tidak benar.

Seperti Paulus dalam Roma 7, pergumulan kita dapat menjadi lebih intensakalau kita benar-benar beriman dan menyadari betapa berbedanya hidup kita dari kehidupan yang kita inginkan bersama Kristus. Paulus mengeluh karena ia sering jatuh, tetapi bukannya ia kemudian menyerah atau mengabaikan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia tahu bahwa sekalipun ia adalah “hamba-hamba yang tidak berguna”, ia tetap harus mempertanggungjawabkan hidupnya.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

Akhir kata, setiap orang Kristen sejati pasti sadar bahwa ia harus melaksanakan tugasnya dalam hidup dan bertanggungjawab atas hidupnya. Adanya dosa yang membuat jatuh, bukanlah alasan bagi mereka untuk menolak untuk bertanggung jawab kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita dapat melaksanakan perintah Tuhan dengan baik, kita harus memunji Tuhan yang dengan Roh-Nya sudah membimbing kita.

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 4-10

Mana yang lebih dulu: penciptaan atau kejatuhan manusia?

“Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, – supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” Roma 9: 11

Bagi sebagian orang Kristen, kepercayaan atas keselamatan mereka adalah sebuah keyakinan. Tetapi, jika mereka ditanya mengapa yakin akan keselamatan mereka, mungkin ada yang menjawab bahwa itu karena mereka sudah hidup baik menurut fiman-Nya. Jawaban ini tidak benar. Sebagian besar orang Kristen dari golongan apa saja akan menjawab bahwa keselamatan mereka semata-mata karena anugerah Tuhan. Walaupun demikian, ada pertanyaan kapankah Tuhan memutuskan untuk memberi keselamatan kepada mereka. Apakah keselamatan kita sudah ditentukan sebelum dunia diciptakan atau sesudahnya?

Para teolog Kristen memang sering berargumentasi tentang urutan di mana Allah menetapkan hal-hal tertentu agar terjadi. Khususnya, mana yang secara logis mendahului: ketetapan untuk pemilihan dan penolakan keselamatan manusia, atau ketetapan untuk menciptakan dunia dan mengizinkan kejatuhan? Sekalipun perdebatan mungkin tampak sama sekali tidak penting dalam hal keselamatan orang percaya, kita tidak boleh menolak untuk belajar dari topik ini. Kita harus menghargai bagaimana pemahaman kita tentang urutan ketetapan Tuhan dapat memengaruhi (atau mungkin mencerminkan) pemahaman kita tentang sifatTuhan, dan juga menentukan cara kita hidup di dunia sebagai orang percaya.

Ada dua pendapat utama mengenai urutan di atas (sebenarnya ada banyak pendapat, tetapi kita hanya membahas dua di antaranya). Supralapsarianisme – supra yang berarti “di atas” atau “sebelum” dan lapsum yang berarti “jatuh”- merupakan pandangan yang berpendapat bahwa ketetapan Tuhan untuk menyelamatkan umat pilihan terjadi sebelum Ia menciptakan dunia dan mengizinkan kejatuhan manusia. Infralapsarianisme, di sisi lain, menegaskan bahwa ketetapan Tuhan untuk menyelamatkan umat pilihan terjadi setelah ketetapan-Nya yang terkait dengan penciptaan dan kejatuhan (infra berarti “di bawah” atau “setelah”).

Pandangan supralapsarian menggarisbawahi kedaulatan Tuhan yang tinggi. Apa alasannya? Sebelum si kembar Yakub dan Esau melakukan sesuatu yang baik atau buruk, Tuhan sudah mengasihi Yakub dan membenci Esau (Roma 9:11). Jadi, menurut pandangan supralapsarian, Tuhan pertama-tama pasti bermaksud untuk menetapkan sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian lagi untuk dibinasakan. Kemudian Tuhan memberikan firman-Nya dan menetapkan kejatuhan manusia agar kemuliaan-Nya dalam pemilihan dan penolakan manusia dapat diwujudkan. Sebagai alasan, pengikut pandangan ini menyatakan bahwa Tuhan yang mahakuasa boleh saja berbuat apa yang dimaui-Nya.

Pada pihak yang lain, posisi infralapsarian menyoroti belas kasihan dan kasih Tuhan. Ayat Roma 9:11, menurut pandangan infralapsarian hanyalah sebuah pernyataan tentang beda kasih Tuhan kepada dua orang, dan tidak ada hubungannya dengan keputusan untuk menyelamatkan yang satu dan membinasakan yang lain. Roma 9:14 menggambarkan pemilihan sebagai Allah yang berbelaskasihan kepada siapa Ia akan berbelaskasihan. Jika demikian, ketetapan Allah untuk menyelamatkan haruslah terjadi setelah ketetapan-Nya untuk mengizinkan kejatuhan; jika tidak, bagaimana belas kasihan bisa muncul sebelum kejatuhan?

Sebenarnya, posisi infralapsarianlah yang diajarkan dalam pernyataan umat Kristen Canons of Dort. Itu terdiri dari pernyataan doktrin Protestan yang diadopsi oleh Sinode Dort yang bertemu di kota Dordrecht pada tahun 1618-19. Meskipun merupakan sinode nasional dari gereja-gereja Reformasi Belanda, sinode ini bersifat internasional, karena tidak hanya terdiri dari delegasi Belanda tetapi juga 26 delegasi dari delapan negara asing.

Tetapi, sampai sekarang sebagian orang Kristen sama sekali tidak (mau) mengerti bagaimana menyerasikan prinsip kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusiawi manusia. Mereka ingin menyelamatkan Tuhan dari tindakan “bebas” manusia (seolah-olah Tuhan perlu diselamatkan) sehingga dengan mengorbankan adanya kewajiban dan peranan manusia, mereka hampir secara eksklusif hanya mempertimbangkan kedaulatan Tuhan. Meskipun Alkitab menekankan tanggung jawab manusia dalam tugas mereka terhadap Tuhan, golongan ini mati-matian akan menyangkal hal ini.

Penafsiran Alkitab melalui kisi-kisi Supralapsarianisme sering menyebabkan kesalahan teologi. Supralapsarianisme menegaskan bahwa ketetapan-Nya dari awal, adalah untuk mengutuk beberapa orang dan menyelamatkan orang lain hanya menurut kehendak-Nya. Padahal, manusia tidak dapat diselamatkan atau dikutuk tanpa kejatuhan. Kaum pendukung Supralapsarianisme mengajarkan bahwa Tuhan menyelamatkan dan menghukum menurut pilihan-Nya dari awalnya, tanpa mempertimbangkan keadaan manusia yang jatuh. Ini berarti meminta pertanggungjawaban makhluk atas dosa yang tidak mereka lakukan, atau yang tidak diperhitungkan kepada mereka. Bagaimana Tuhan bisa mahaadil? Teolog termasyhur R.C. Sproul menulis bahwa ketika manusia menghadap Tuhan untuk diadili, tidak akan ada seorang pun yang bisa mengingkari kesalahan/dosa mereka.

Dalam kenyataannya, pandangan supralapsarian menyebabkan sebagian orang cenderung merasa sudah dipilih untuk ke surga tanpa perlu memikirkan cara hidup mereka, karena ‘nasib’ mereka sudah ditentukan sebelum dunia dijadikan. Ini tentunya tidak dapat dibenarkan. Mengapa begitu?

  • Manusia tidak dapat menjadi objek pilihan Tuhan tanpa terlebih dahulu menjadi entitas yang nyata. Non-entitas tidak bisa menjadi objek kemarahan atau kasih Tuhan.
  • Belas kasihan dan keadilan Tuhan adalah bagian integral dari pilihan dan penolakan Tuhan. Menganggap manusia ditakdirkan, tanpa mempertimbangkan kejatuhan yang dikaitkan dengan mereka, akan menyalahgunakan gagasan tentang keadilan dan belas kasihan Tuhan.
  • Semua manusia dapat dianggap ditakdirkan jika pilihan Tuhan terjadi ketika manusia masih berupa non-entitas. Kalau keputusan Tuhan sudah ada sebelum penciptaan, cara hidup manusia (termasuk cara hidup umat Israel) tidaklah perlu dipersoalkan oleh Tuhan.
  • Dosa bukanlah akibat kutukan, tetapi kutukan adalah akibat dosa. Tuhan tidak mungkin baik, atau bijak, untuk menghukum manusia tanpa alasan. Tanpa kejatuhan Dia tidak akan melakukan hal itu.

Pagi ini, kita melihat bahwa Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dan karya-karya-Nya kepada kita dan membawa kita ke dalam dua pengertian yang berbeda. Satu pengertian menunjukkan kepada kita Tuhan dari sudut pandang ketetapan-ketetapan-Nya. Yang lainnya adalah perspektif tindakan dan keinginan Tuhan dalam aktivitas alam manusia. Menolak yang satu dengan mengorbankan yang lain bisa membuat kita jatuh ke pandangan ekstrem. Sebagaimana Charles Spurgeon (1834-1892) pernah berkata: “Tidak seorang pun akan mendapatkan pandangan yang benar tentang Injil sampai dia tahu bagaimana melihat dua garis sekaligus.” Sebuah kebenaran yang akan kita lihat ketika kita berjumpa dengan Tuhan. Sementara kita hidup di dunia, kita harus menerima kenyataan bahwa Tuhan 100% berdaulat atas apa pun yang sudah dan akan terjadi, dan manusia 100% harus bertanggungjawab kepada Tuhan atas hidup dan perbuatan mereka seperti apa yang terjadi pada Adam dan Hawa.

Tidak berbuat baik adalah berbuat dosa

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Semua orang yang beragama apa pun tentunya tahu bahwa dosa adalah sesuatu yang harus dihindari. Secara umum mereka mengerti bahwa berbuat dosa adalah melakukan apa yang tidak baik dalam pandangan atau ajaran agama masing-masing. Jika mereka melakukan hal yang jahat, itu adalah dosa; sebaliknya jika mereka melakukan hal yang baik, itu membawa pahala.

Dalam banyak hal, apa yang baik dan yang buruk bagi manusia mana pun adalah sama. Hal membunuh, mencuri, berbohong dan semacamnya biasanya juga diatur oleh hukum negara, dan karena itu orang berusaha untuk tidak melakukannya. Walaupun demikian, hukum negara biasanya tidak mengatur atau mengharuskan orang untuk berbuat baik. Karena itu, selama tidak ada hukum yang mengharuskan hal atau tindakan tertentu, orang bisa memilih apa yang akan dikerjakannya. Dalam hal ini, jika tidak ada insentif untuk berbuat baik, orang biasanya tidak mau repot untuk melakukannya.

Hal berbuat baik biasanya diatur oleh etika. Etika mengajarkan apa yang baik dan yang buruk dalam hidup bermasyarakat. Adanya etika adalah baik, tetapi tiap bangsa atau masyarakat mempunyai etika tersendiri sehingga apa yang dianggap baik di satu tempat, mungkin adalah sesuatu yang tidak baik di tempat lain. Etika biasanya tidak diatur hukum, sehingga perbuatan yang dianggap buruk tidaklah mengundang hukuman negara, sekalipun mungkin ada sanksi sosialnya.

Bagi orang Kristen, etika Kristen adalah prinsip baik-buruk yang dilandaskan pada Alkitab. Karena itu, etika Kristen seharusnya tidaklah bergantung pada tempat atau masa. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang mempunyai perbedaan etika karena mereka mempunyai pergumulan yang berbeda dalam hal penerapan firman Tuhan. Mereka mungkin sependapat dalam hal-hal yang buruk atau dosa, tetapi mungkin berbeda dalam usaha untuk melakukan apa yang baik bagi Tuhan dan sesama.

Salahkah jika orang tidak melakukan hal yang baik? Banyak orang berpendapat bahwa mereka boleh memilih untuk “abstain” alias tidak ikut campur dalam berbuat baik. Dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10: 30 – 37), baik imam maupun orang Lewi tidak mau menolong orang Samaria yang menjadi korban perampokan. Bagi mereka, menolong orang lain dan berbuat baik adalah sebuah pilihan dan bukan keharusan. Mereka tidak merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada orang Samaria itu. Dan pada zaman sekarang, banyak orang Kristen yang melakukan hal yang serupa: mereka tidak merasa bertanggung jawab atas adanya hal- hal yang buruk disekitar mereka, apalagi kalau ada risiko yang besar jika mereka mencoba melakukan apa yang baik atau memperbaiki apa yang buruk.

Ayat diatas adalah apa yang seharusnya membuat kita sadar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus memegang etika yang sejalan dengan Alkitab. Alkitab bukan hanya menyatakan bahwa perbuatan buruk adalah dosa, tetapi juga jelas menerangkan bahwa jika tidak melakukan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama, kita juga berbuat dosa. Menjadi orang Kristen bukan saja pasif dalam arti tidak berbuat dosa, tetapi juga aktif dalam berbuat baik tanpa mengharapkan pahala!

Sebelum ayat ini, Yakobus telah menunjukkan bahwa rencana manusia tanpa mengakui kehendak Tuhan adalah jahat. Itu adalah bentuk membual dan hanya cocok dengan sikap sombong manusia. Kemudian, sepertinya secara tiba-tiba, Yakobus membuat pernyataan yang mendalam dan menantang ini. Ayat ini agak keras bunyinya, dan mungkin memang dimaksudkan demikian. Yakobus telah memberikan beberapa argumen tentang apa artinya bagi seorang Kristen untuk mempertahankan iman kita kepada Tuhan. Dia telah menjelaskan dengan jelas bahwa banyak cara hidup atau moralitas yang dianggap”normal” yang biasa kita pakai adalah arogan, mementingkan diri sendiri, dan tidak setia. Banyak orang Kristen yang tidak mau atau tidak berani melawan ketidakadilan, pelecehan,penyelewengan dan kejahatan yang lain. Bagi mereka, ketidakpedulian akan orang lain adalah cara hidup yang paling aman.

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang secara mati-matian menolak keharusan untuk berbuat baik. Mereka menganggap bahwa jika kita terlau bersemangat untuk berbuat baik, itu menunjukkan bahwa kita kurang yakin akan kenyataan bahwa manusia diselamatkan hanya karena iman dari Tuhan, dan itu semata-mata anugerah Tuhan. Mereka juga percaya, keselamatan yang dari Tuhan itu tidak perlu “dikontaminasi” dengan keharusan untuk hidup baik. Pandangan antinomianisme semacam ini adalah keliru dan sangat menyedihkan. Pandangan semacam itu meremehkan usaha Roh Kudus untuk membimbing kita yang sudah dipilih-Nya, agar makin lama kita makin menyerupai Kristus.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8: 29

Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apapun. Antinomianisme memang mengambil ajaran yang alkitabiah, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah.

Terlalu mudah untuk menanggapi ajaran Alkitab secara teologis atau filosofis tanpa benar-benar berusaha membuat perubahan apa pun. Kita mungkin menikmati merenungkan ide-ide besar, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, menimbang maknanya. Tetapi jika yang kita lakukan hanyalah memikirkannya dan tidak pernah melaksanakannya, kita akan berbuat dosa. Ayat ini menambahkan kewajiban pada pengetahuan kita: kegagalan untuk bertindak, dengan sendirinya, adalah suatu tindakan. Tidak berbuat baik adalah suatu perbuatan yang buruk. Kita tidak hanya diperintahkan untuk menghindari kejahatan, semua orang percaya diwajibkan secara moral untuk melakukan apa yang kita ketahui sebagai hal yang baik di mana pun mereka berada.

Seberapa besar kerinduan Anda untuk menjadi serupa dengan Kristus? Apakah Anda pernah merasa putus asa dengan hasilnya? Apakah Anda merasa bahwa cara hidup Anda yang sekarang ini sudah ditetapkan Tuhan dan tidak bisa diubah atau berubah? Kiranya tulisan ini memberi penghiburan dan kekuatan bagi kita semua. Keserupaan dengan Kristus merupakan rencana kekal Allah dan pasti akan terjadi pada orang Kristen yang sejati. Tugas kita hanyalah mengasihi Dia dan menyenangkan hati-Nya. Tugas ini hanya bisa dilakukan jika kita terus-menerus menghangatkan hati kita dengan kasih-Nya dan melaksanakan perintah-Nya untuk menjadi pelaku firman.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1: 22

Belum mau bertobat?

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Ayat di atas agaknya menunjukkan bahwa ada orang Kristen yang mundur dari imannya karena Tuhan tidak kunjung datang untuk menghakimi umat manusia. Tetapi, ayat itu mengingatkan kita bahwa itu bukanlah karena kelalaian Tuhan. Tuhan masih menunggu agar lebih banyak orang yang bertobat. Walaupun demikian, ayat itu sering diperdebatkan di antata berbagai golongan Kristen maupun di antara orang yang bukan Kristen.

Apakah Tuhan menghendaki semua orang untuk diselamatkan? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab. Kalau jawabnya “ya”, tentunya Ia tidak mau seorang pun ke neraka. Neraka tidak akan diperlukan karena Tuhan yang mahakasih tentunya akan berusaha agar semua orang untuk bisa menemukan jalan ke surga melalui kepercayaan apa pun. Sebaliknya, adanya neraka tentunya menegaskan kenyataan bahwa sebagian orang akan menuju ke sana. Karena itu, Tuhan tentu tahu bahwa tidak semua orang akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan.

Ayat di atas dan juga Yohanes 3: 16 menunjukkan bahwa mereka yang tidak mengenal Yesus akan menemui kebinasaan, tetapi bukan karena Tuhan menghendaki mereka binasa.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Mereka yang tidak mengenal nama Kristus, sudah tentu tidak dapat hidup menurut firman-Nya. Mungkin hidup mereka terlihat cukup baik menurut ukuran manusia, tetapi sebenarnya mereka hidup dalam dosa karena bagi mereka Tuhan hanya ada dalam bayangan. Hari demi hari berlalu, dan bagi mereka tidak ada perubahan apa pun yang terjadi. Kedatangan Kristus yang kedua kali tidak kunjung tiba dan dunia berjalan seperti biasa. Mereka mungkin merasa bahwa hidup di dunia ini bisa dinikmati seperti biasa. Mereka yang menganggap bahwa iman kepada Yesus itu hanyalah khayalan, kemudian mengejek iman Kristen dan hidup menurut hawa nafsunya.

Pada pihak yang lain, dalam ayat di atas rasul Petrus memperingatkan orang-orang yang merasa Kristen tetapi tetap hidup dalam dosa, bahwa seperti mereka yang meragukan Kristus dan mengejek iman Kristen, mereka yang merasa sudah terpilih untuk diselamatkan tetapi masih hidup dalam dosa dan kejahatan akan menuju kebinasaan. Itu karena mereka bukan orang Kristen sejati, sekalipun mereka yakin akan keselamatan mereka. Adalah tidak mungkin bahwa umat Tuhan tetap mau menjadi hamba dosa dan menolak untuk dikuduskan oleh Roh.

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 22

Tuhan yang mahakasih menghendaki semua orang untuk mau menerima uluran tangan penyelamatan-Nya. Tetapi Tuhan yang mahaadil hanya menerima mereka yang dengan bimbingan Roh Kudus benar-benar mau berusaha hidup sesuai dengan firman-Nya, bukan hanya mereka yang gemar mempelajarinya. Tanda hidup baru adalah perubahan hidup yang bisa dilihat dari buah-buahnya (Matius 7: 20). Jika ini tidak terlihat, Yesus berkata:

“Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 23

Tuhan yang mahakasih mempunyai kesabaran untuk menunggu agar sebanyak mungkin manusia mau berbalik arah dan bertobat dengan sepenuhnya. Karena itu, selagi kesempatan masih ada, semua orang yang sudah mengenal nama Kristus hendaklah mendengarkan suara Roh Kudus dan bertobat dari hidup lama dan memilih untuk hidup dalam iman dan dalam kesucian dan kesalehan selagi kesempatan masih ada. Jangan sampai kita mendukakan atau mengabaikan Roh Kudus.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30″

Tuhan sudah memberikan kabar baik-Nya dan mengaruniakan Roh Kudus yang membimbing manusia untuk mengerti bahwa jalan keselamatan adalah sempit adanya. Keselamatan datang melalui anugerah Tuhan, yang harus diterima dan dinyatakan dalam hidup dalam kebenaran dan kasih. Walaupun demikian, sampai saat ini masih banyak orang yang mengenal nama Kristus tetapi mengabaikan perintah-Nya. Mereka sudah pasti belum lahir baru, karena selalu memilih jalan lebar yang nyaman dan bergemerlapan, dan tetap hidup dalam dosa. Tuhan memang sabar, tetapi kesabaran-Nya ada batasnya!

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Melalui etika ajaran Yesus moralitas kita diperbaharui

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Yakobus 2: 18

Apakah arti kata “etika” dan “moralitas”? Bagi sebagian orang kedua kata itu adalah sinonim, yang berarti kaidah untuk membedakan apa yang baik dan yang buruk. Definisi itu cocok untuk kata “etika”. Tetapi, sebenarnya arti moralitas adalah lain. Moralitas adalah cara hidup seseorang yang merupakan suatu kebiasaan atau suatu yang dipandang umum dalam masyarakat. Moralitas tidak mengatur hidup seseorang, tetapi etika mengharuskan orang untuk memilih apa yang dipandang benar atau baik. Bagi orang Kristen, sudah tentu etika adalah berdasarkan kebenaran Alkitab, dan moralitas mereka seharusnya sesuai dengan apa etika yang difirmankan Tuhan.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa lahirnya Yesus ke dunia, menghapus perlunya moralitas Kristen untuk keselamatan. Itu ada benarnya, selama tidak diartikan bahwa orang Kristen tidak perlu memikirkan moralitasnya. Justru dari moralitas manusia, orang akan bisa membedakan mereka yang Kristen dari mereka yang bukan Kristen. Orang Kristen sejati seharusnya mempunyai moralitas yang baik yang sesuai dengan pertumbuhan imannya, dan moralitas yang baik bisa menunjukkan kedewasaan iman seseorang. Sekalipun tidak ada manusia yang mempunyai moralitas yang sempurna, setiap orang Kristen yang sejati akan mengalami pertumbuhan dalam hal pengertian akan etika Kristen sehingga gaya hidupnya akan semakin lama menjadi semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebagai konsekuensi dari perilaku Adam dan Hawa di taman Eden, yaitu memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia berubah dari ketidaksadaran, menuju ke arah pengetahuan tentang pentingnya etika. Mereka menyadari adanya perbedaan antara apa yang “baik” dan yang “buruk” setelah mengalami pengalaman pahit dan mendapat hukuman Allah. Dalam menjalankan kebebasan memilih, Adam dan Hawa melakukan pelanggaran berat. Mereka sudah mengabaikan prinsip moralitas Tuhan: bahwa mereka harus hidup dengan taat kepada perintah Allah.

Banyak pemimpin umat Tuhan yang pada suatu saat dalam hidup mereka mempunyai moralitas yang tidak baik. Contohnya seperti Abraham yang mengawini Hagar dan Daud yang mengawini Betsyeba. Tetapi ini bukan menyatakan bahwa moralitas tidaklah penting dalam pandangan Tuhan yang melarang Adam dan Hawa untuk melakukan hal yang tidak baik. Semua yang tidak baik itu hanya menunjukkan bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan, dan jika keputusan mereka tidak sesuai dengan etika yang diajarkan Tuhan, mereka jatuh dalam dosa.

Moralitas adalah panduan umum tentang kualitas dalam perbuatan manusia yang bisa menunjukan apakah pandangan manusia dalam hidup itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas dipengaruhi pengertian tentang baik buruknya suatu perbuatan tertentu (etika). Dalam teologi Kristen klasik, semua manusia secara inheren dipandang berdosa karena tindakan Adam dan Hawa (sebuah gagasan yang dikenal sebagai “dosa asal”). Sebaliknya, pemikiran Yahudi, sementara mengakui dorongan manusia menuju kejahatan (yetzer ha-ra), juga menegaskan dorongan menuju kebaikan (yetzer ha-tov). Baik dalam ajaran Kristen maupun Yahudi, setiap manusia harus bertanggung jawab atas karakter moralnya. Masalahnya, manusia sesudah jatuh ke dalam dosa, tidak mampu untuk mencapai apa yang benar-benat baik, yang seturut kehendak Tuhan, sekalipun ia mungkin sadar akan apa yang diperbuatnya dan juga akibatnya. Mengapa demikian?

Sebagian orang Kristen menganggap bahwa sesudah kejatuhan, manusia adalah rusak total (totally depraved), tetapi ini bukan berarti bahwa manusia tidak lagi mengerti arti etika. Kain, misalnya, tahu bahwa membunuh Habil adalah suatu hal yang jahat. Tetapi, melalui pilihannya ia justru melakukannya, dan ia kemudian berusaha untuk menghindari pertanggungjawabannya kepada Allah. Manusia setelah kejatuhan bukan rusak sebobrok-bobroknya, terapi rusak dari dalam budinya (radical depravity). Dengan demikian, tanpa bimbingan dan karunia Tuhan manusia akan hidup dalam moralitas yang bobrok dan mengabaikan prinsip etika yang diberikan Tuhan.

Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa mereka harus mengindari moralitas dunia. Mereka harus berubah dari dalam sehingga dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Jelas Paulus mengemukakan tiga hal yang penting: bertindak, berubah dan belajar (act, change, and learn). Orang Kristen harus bertindak untuk menghindari pengaruh dunia, berubah secara rohani, dan belajar untuk mencari kehendak Allah. Ini berarti bahwa umat Tuhan harus mempunyai moralitas yang benar. Bukan untuk diselamatkan, tetapi sebagai akibat penyelamatan oleh Tuhan.

Kembali ke ayat pembukaan, kita melihat bahwa raul Yakobus menasihati umat Kristen agar mereka hidup dalam iman dan perbuatan, dalam arti hidup dalam iman yang dinyatakan melalui moralitas yang baik. Sebagian orang Kristen percaya bahwa mereka sudah mempunyai iman karena adanya perbuatan baik, karena moralitas yang mereka miliki. Tetapi ini belum tentu benar karena adanya moralitas yang dipandang baik bukan berarti bahwa mereka mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan mengenal apa yang benar menurut Dia. Rasul Yakobus menantang orang-orang itu untuk menunjukkan iman mereka dan bukannya perbuatan atau moralitas yang mereka punyai. Dengan kata lain, Yakobus berkata bahwa moralitas yang terlihat baik bukan tanda bahwa mereka mengenal Tuhan. Perbuatan atau hidup yang terlihat baik (menurut mata manusia) bukan bukti bahwa mereka percaya kepada Tuhan yang berkuasa atas hidup mereka. Moralitas tanpa iman adalah mungkin, tetapi sia-sia.

Pada pihak yang lain, Yakobus menyatakan bahwa ia dapat menunjukkan iman melaui apa yang dilakukannya, melalui moralitas yang ada dalam hidupnya. Karena melalui cara hidup rasul Yakobus, orang bisa melihat bahwa ia menjalankan prinsip moralitas yang ada dalam firman Tuhan. Moralitas yang dicapai melalui bimbingan Roh Kudus untuk kemuliaan Tuhan. Moralitas yang bukan dimiliki untuk kepuasan diri sendiri. Moralitas yang bukan merupakan usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga.

Moralitas hidup yang benar akan ada jika orang Kristen mendengarkan suara Roh Kudus dalam hidupnya, bukan suara orang lain, bukan apa yang serupa dengan apa yang dianggap baik di dunia ini. Etika Kristen selalu menuntut hati orang Kristen untuk berbuat baik, memikirkan yang baik dan mempelajari yang baik, agar hidup kita terus menerus mengalami pembaharuan untuk kemuliaan Tuhan. Iman tanpa moralitas adalah tidak mungkin. Mereka yang mengaku beriman tetapi mengabaikan prinsip moralitas dan etika kristiani, bukanlah orang Kristen sejati. Sebaliknya, melalui etika yang diajarkan Yesus, moralitas hidup orang yang sudah diselamatkan akan menjadi makin sempurna sehingga nama Tuhan akan dipermuliakan.


“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Apakah Anda benar-benar mengasihi Yesus?

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yohanes 21: 15

Waktu itu, Yesus yang sudah bangkit menapakkan diri-Nya di antara para murid-Nya. Setelah makan bersama, Yesus bertanya kepada Petrus. Pertanyaan Yesus di atas lebih jelas ditulis demikian: “Apakah kasihmu kepada-Ku lebih daripada kasih murid yang lain kepada-Ku?” Jangan ayat ini diartikan sebagai: “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari kasihmu kepada orang lain”, sekalipun ini lebih mudah dijawab.

Pertanyaan di atas sulit dijawab oleh Petrus. Bagaimana Petrus diharapkan untuk memberi jawaban? Petrus tidak bisa mengukur kasih orang lain kepada Yesus. Sekalipun ia mungkin merasa bahwa kasihnya sangat besar kepada Yesus, Petrus tentu saja tidak bisa menganggap orang lain kurang mengasihi Yesus. Kalau demikian, mengapa Yesus menanyakan hal itu? Bukankah Dia tahu keadaan yang sebenarnya? Kita nanti akan tahu bahwa untuk Yesus yang paling penting adalah bahwa Petrus benar-benar mengasihi–Nya.

Yesus menanyakan hal itu sebagai peringatan kepada Petrus akan apa yang sudah terjadi pada masa lalu, dan apa yang akan terjadi pada masa depan. Apa yang terjadi sewaktu Yesus diadili, sebelum Ia disalibkan, adalah penyangkalan Petrus bahwa ia kenal dan malahan pengikut Yesus. Sebelum ayam berkokok, Petrus sudah menyangkali Yesus tiga kali. Hal mana membuat Petrus merasa sangat sedih karena Yesus sudah mengetahui bahwa itu akan terjadi. Petrus yang mengaku bahwa ia mengasihi Yesus, ternyata tidak setia kepada Yesus. Petrus justru mengingkari pernyataan kasihnya kepada Yesus, yaitu bahwa ia mau mati untuk ganti Yesus (Yohanes 13: 36-38).

Jawab Yesus: ”Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Yohanes 13: 38

Pertanyaan Yesus juga berhubungan dengan apa yang akan terjadi pada diri Petrus di masa mendatang. Petrus akan menjadi martir yang mati demi imannya kepada Kristus. Yesus dengan tiga pertanyaan yang sama “apakah engkau mengasihi Aku” membuat Petrus merasa sedih karena ia teringat bahwa sebagai orang yang merasa kasihnya begitu besar kepada Yesus, ia tidak atau belum dapat membuktikannya. Walaupun demikian, Petrus tentunya merasa dikuatkan karena terhadap jawaban Petrus, Yesus tiga kali menjawab “gembalakanlah domba-domba-Ku”. Petrus dapat merasakan bahwa sekalipun ia lemah, Tuhan sudah memilih dia untuk memimpin pengikut Kristus yang lain. Lebih dari itu, Yesus sudah memberikan pengertian bahwa karena kasih Petrus yang besar kepada-Nya, Yesus memilih Petrus untuk menggembalakan yang lain, sampai harus mati demi kemuliaan bagi Tuhan (Yohanes 21: 18-19). Pada akhirnya, Tuhan memberikan Petrus kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi tugas-tugas dan kematiannya.

Seperti Petrus, kita pun mengaku pengikut Kristus dan mengasihi-Nya. Jika Petrus pernah tiga kali mengecewakan Kristus, mungkin kita lebih dari tiga kali menyangkali Dia. Mungkin, dalam bekerja kita pernah melakukan apa yang tidak patut dilakukan oleh umat Tuhan. Mungkin kita menutup-tutupi identitas kita sebagai orang Kristen ketika kita melakukan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Jika Petrus kemudian merasa sedih karena apa yang dilakukannya, mungkin ada orang Kristen yang tidak lagi bisa menyesali perbuatannya yang buruk karena sudah terlau sering dilakukan. Mungkin kita sudah tertipu oleh ajaran yang mengatakan bahwa sebagai orang terpilih, kita tidak perlu memikirkan penyangkalan kita atas Yesus yang muncul dalam bentuk cara hidup, perbuatan dan pikiran kita yang mengabaikan firman-Nya.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa seperti Petrus, kita juga mendapat pertanyaan yang serupa setiap hari: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Mungkin kita tidak merasa sedih seperti Petrus yang akhirnya menjawab: “Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, sebab kita tidak yakin bahwa kita mau berkurban untuk Dia. Jika Petrus memang mau hidup untuk menggembalakan orang lain, memimpin dan mengarahkan orang seiman ke arah yang baik, mungkin kita kurang peduli akan orang lain karena mengurus diri sendiri pun kita tidak mampu. Jika Petrus menyesali penyangkalannya yang tiga kali terjadi sebelum ayam berkokok, mungkin kita sudah lupa berapa kali kita melanggar firman-Nya sekalipun Roh Kudus sering mengingatkan kita akan cara hidup dan tingkah laku kita. Firman Tuhan menyatakan bahwa menjadi Kristen bukan saja menjadi orang pilihan untuk bisa ke surga, tetapi juga menjadi seorang Petrus yang mau bekerja dan berbuat untuk kemuliaan Tuhan selama hidup dan sampai mati. Itulah tanda orang pilhan Tuhan yang sejati.

Sudahkah Anda lahir baru?

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”. 2 Korintus 5:15-17

Ayat di atas adalah tulisan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus tentang lahir baru dan hidup baru. Ia menulis bagaimana Kristus sudah mati untuk memberi kehidupan bagi mereka yang dulunya sudah tidak mempunyai harapan. Mereka yang seharusnya binasa, kemudian melalui penebusan Kristus, kemudian bisa dilahirkan kembali. Melalui lahir baru dalam Kristus, hidup mereka bukanlah hidup yang lama, yaitu untuk diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Kristus. Karena itu, Paulus menyatakan bahwa ia tidak lagi menilai manusia menurut apa yang terlihat dari luar, tetapi dari apa yang ada dalam hidup mereka. Apakah mereka yang mengaku sudah lahir baru memang benar-benar mempunyai hidup baru?

Hidup baru tidaklah sama dengan lahir baru. Kedua istilah ini memang dipakai oleh umat Kristen, tetapi sering membuat bingung mereka yang kurang mengerti bedanya. Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Dalam hal ini, sebenarnya istilah “Kristen hidup baru” adalah lebih tepat.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan di mana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan di mana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Pada waktu Yesus disalib, di sebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegur dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali karena dengan imannya, dosanya sudah diampuni oleh Tuhan. Tetapi, ia tidak sempat untuk menjalani hidup baru.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43


Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi hanya melalui penebusan darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Hari ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Dengan bimbingan Roh Kudus, kita akan mau berusaha untuk hidup makin hari makin menurut firman-Nya. Perbuatan yang benar atau baik dalam hidup baru adalah sambutan kita kepada kasih-Nya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap hidup bergelimang dalam dosa dan tidak mau berubah dari hidup lamanya, adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum lahir baru, dan karena itu tidak bisa hidup baru. Tidak ada kemungkinan lain. Orang itu bukan orang yang diselamatkan, karena mereka yang sudah diselamatkan adalah orang yang hidup dengan taat kepada firman-Nya.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Berdoalah seperti Nehemia

“Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Nehemia 1:11

Nehemia adalah seorang tokoh penting dalam sejarah pasca-pembuangan orang-orang Yahudi sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Ia diyakini sebagai penulis utama Kitab Nehemia. Ia adalah anak Hakhalya (Nehemia 1:1), dan kemungkinan dari Suku Yehuda. Leluhurnya tinggal di Yerusalem, tetapi Nehemia tinggal dan berdinas di Persia, yang sekarang dikenal sebagai negara Iran (Nehemia 2:3). Ia memangku jabatan yang tinggi, yaitu sebagai seorang juru minuman raja Artahsasta dari Kekaisaran Persia.

Suatu hari Nehemia mendengar bahwa orang-orang Yahudi di Yerusalem sedang menderita. Tembok yang melindungi Yerusalem dihancurkan dan tidak pernah dibangun kembali. Nehemia sangat sedih mendengar bahwa Yerusalem sudah porak poranda. Ia bermaksud minta izin dari raja Artahsasta untuk mengambil cuti guna pergi ke Yerusalam untuk membangun kembali kota itu. Tetapi, ia tidak tahu bahwa raja itu akan mengizinkannya. Karena itu ia berpuasa dan berdoa memohon pertolongan Tuhan. Ia menyerahkan masalahnya kepada Tuhan yang mahakuasa.

Seperti Nehemia, kita mungkin sering Kristen memikirkan apa maksud Tuhan dengan membiarkan banyak manusia, terutama sanak saudara kita dan kita sendiri, mengalami berbagai penderitaan. Kebingungan terjadi juga karena kita tidak tahu apakah memang Tuhan menghendaki semuanya. Barangkali Tuhan bermaksud menghukum umat manusia karena sudah terlalu banyak orang yang berani melawan kehendak-Nya? Pada pihak yang lain, ada juga mereka yang percaya bahwa semua ini hanya bagian kehidupan manusia di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya berbagai masalah dalam hidup, biasanya makin banyak orang yang berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolongan.

Seperti ayat di atas, banyak contoh dalam Alkitab yang dipakai sebagai dasar argumen bahwa jika kita bersungguh-sungguh meminta Tuhan untuk bertindak, Ia akan melakukannya. Jika kita membaca kitab Nehemia, kita akan tahu bahwa ia mendapat izin dari raja Persia untuk pergi ke Yerusalem dan kemudian mengumpulkan beberapa orang Yahudi yang takut akan Tuhan, dan kemudian membangun kota Yerusalaem. Meskipun mendapat banyak tantangan, semangat Yeremia dan teman-temannya akhirnya membawa hasil yang baik. Tuhan menyertai mereka dan mereka berhasil dalam misi mereka.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7: 8

Ucapan Yesus empat ratus tahun sesudah zaman Nehemia di atas adalah ayat yang sering dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen untuk rajin berdoa guna memohon kepada Tuhan apa saja yang diinginkan mereka. Baik itu untuk kesuksesan, kekayaan, kesembuhan dan apapun, umat diyakinkan bahwa kalau mereka bersiteguh dalam iman, niscaya Tuhan menuruti permintaan mereka (Lukas 17: 6). Karena itu, sebagai orang Kristen, mereka dinasihati bahwa kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan yang mahapemurah haruslah digunakan tanpa keraguan.

Kembali ke soal masalah hidup, agaknya setiap orang Kristen mengakui bahwa Tuan mahakuasa, mahatahu dan mahabijaksana. Tetapi mengapa Ia membiarkan kita mengalaminya? Mengapa Ia seolah-olah tidur atau tidak peduli? Banyak orang Kristen yang percaya bahwa seperti apa yang dialami Nehemia, Tuhan akan mengubah keadaan yang ada, jika mereka berdoa, berpuasa dan melakukan ritual-ritual lainnya. Ini seharusnya tidak dimaksudkan untuk mengubah rencana Tuhan, tetapi untuk dengan khusyuk menyerahkan diri mereka kepada kehendak-Nya.

Mereka yang percaya bahwa doa bisa mengubah keputusan Tuhan adalah merendahkan Tuhan dan membuat Dia seolah sederajat dengan manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang baik, yang tidak pernah berubah-ubah keputusan-Nya (Yakobus 1: 17). Memang, jika kita berada dalam keadaan yang berat dan menanti-nantikan jawaban Tuhan, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita perlu untuk berbuat sesuatu. Itu adalah baik, selama apa yang kita lakukan adalah untuk memohon ampun atas dosa dan kelemahan kita, dan mau menyerahkan hidup dan rencana kita kepada-Nya (Nehemia 1: 5-11).

Tuhan pasti mendengarkan doa umat-Nya, tetapi apakah Ia selalu mau melakukan apa yang diminta mereka? Jika memang Tuhan menantikan permohonan umat-Nya sebelum bertindak, ada pertanyaan untuk kita apakah kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa, mahakasih, mahatahu dan mahabijaksana bisa dipengaruhi oleh manusia yang penuh cacat-cela. Sebaliknya, jika kita yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang baik, dan bahwa Ia adalah Pemimpin yang mahakuasa, doa kita tidak lain adalah penyerahan kita kepada bimbingan-Nya yang disertai dengan rasa syukur.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Matius 6: 8

Tuhan mau memenuhi permintaan kita, jika itu mengenai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita, dan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Lebih-lebih lagi jika doa kita tidak selalu berpusat pada materi dan kenyamanan hidup semata. Hari ini, jika kita berdoa, kita harus sadar bahwa doa yang selalu berpusat pada kepentingan diri sendiri tidak akan membuat Tuhan senang, karena itu bertentangan dengan tujuan Tuhan dalam menciptakan kita. Tuhan menciptakan kita untuk bisa membina hubungan yang baik dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan Kristen yang menguatkan kita sewaktu mengalami masalah dan memberi kehidupan selama kita menantikan pertolonganNya. Tetaplah berdoa sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi!

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 -44

Alkisah adalah seorang Yahudi yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia pun melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Orang Samaria itu membalut luka-lukanya, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan dan memintanya untuk merawat si korban sampai ia kuat kembali. Perumpamaan ini adalah kisah yang sangat terkenal yang diceritakan oleh Tuhan Yesus sendiri untuk menjelaskan arti sesama manusia (Lukas 19: 25 – 37). Perumpamaan “Orang Samaria yang baik hati” ini dikenal sebagai “The Good Samaritan” dalam bahasa Inggris.

Perumpamaan Yesus diatas berdasarkan kenyataan bahwa orang Yahudi tidak menyenangi orang Samaria yang termasuk golongan minoritas pada waktu itu. Karena itu sudah sewajarnya jika orang Yahudi itu tidak mengharapkan untuk mendapat pertolongan dari orang Samaria. Tetapi, justru orang yang tidak disenanginya adalah orang yang mau menolongnya. Orang Samaria itu adalah “sesama manusia” bagi orang Yahudi yang mengalami bencana itu, dan bagi orang Samaria yang baik hati itu tentunya orang Yahudi itu adalah sesamanya. Sesama manusia dengan demikian adalah orang yang mau mengasihi orang lain,  sekalipun orang lain itu nampaknya berbeda dan tidak menyukainya. Sesama manusia adalah orang lain yang mau menolong kita jika kita dalam kesulitan, sekalipun orang itu bukan teman kita. Kita bisa menjadi sesama manusia untuk orang lain jika kita mau mengasihi mereka yang tidak menyukai kita.

Dalam kenyataannya, menjadi sesama manusia untuk orang lain itu tidak mudah. Apa sebabnya? Manusia sejak dilahirkan mengalami berbagai pengalaman hidup, baik yang indah maupun yang kurang menyenangkan. Karena suasana lingkungan, faktor budaya, dan pengalaman pribadi, orang cenderung untuk mempunyai perasaan bahwa orang-orang tertentu adalah orang-orang yang kurang baik atau lebih rendah derajatnya. Apalagi, jika faktor politik dan kepercayaan ikut dimasukkan, orang mudah sekali untuk membenci orang-orang tertentu. Bagi mereka yang kita kurang senangi mungkin mudah muncul perasaan bahwa mereka adalah orang-orang yang jahat, yang dibenci Tuhan. Karena itu, mungkin ada juga “perasaan syukur” jika  orang-orang yang kurang kita senangi itu kemudian mengalami bencana. Memang, secara naluri manusia yang berdosa mudah untuk mengasihi orang yang serupa, tetapi membenci mereka yang berbeda.

Yesus dalam ayat diatas menjelaskan bahwa jika dunia mengajarkan bahwa kita harus mengasihi orang-orang yang pantas untuk dikasihi, Ia memerintahkan kita untuk mengasihi semua orang, termasuk musuh-musuh kita; dan kita harus juga berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Yesus sendiri melakukannya ketika Ia berdoa untuk mereka yang menyalibkan-Nya.

 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Lukas 23: 34

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai pengikut-Nya yang sudah menerima pengampunan dari Allah, kita harus menyatakan kasih-Nya kepada semua orang.  Seperti Allah yang sudah mengirimkan Yesus Kristus ke dunia agar semua orang yang percaya bisa diselamatkan, kita tidak boleh membatasi kasih kita kepada keluarga dan teman kita, atau kepada orang yang sesuku, sebangsa atau seiman saja. Kita tidak dapat membatasi kasih kita kepada orang-orang yang kelihatannya dikasihi Tuhan. Memang  bagi siapapun, adalah lebih mudah untuk mengasihi orang-orang yang kelihatannya baik dan mengasihi kita, tetapi itu bukanlah yang diperintahkan Yesus kepada kita. Seperti Allah mengasihi seisi dunia, kitapun harus bisa mengasihi semua orang tanpa pandang bulu.

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Lukas 6: 36

Apakah Tuhan ingin menyelamatkan semua orang?

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Ayat di atas agaknya menunjukkan bahwa orang mungkin mengira bahwa Yesus sudah lupa akan jamji-Nya, karena Ia tidak kunjung datang untuk menghakimi umat manusia. Tetapi, ayat di atas mengingatkan kita bahwa itu bukanlah kelalaian Tuhan. Tuhan masih menunggu agar lebih banyak orang yang bertobat. Walaupun demikian, ayat itu sering diperdebatkan di antata berbagai golongan Kristen maupun di antara orang yang bukan Kristen.

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Apakah Tuhan menghendaki semua orang untuk diselamatkan? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab. Kalau jawabnya “ya”, tentunya Ia tidak mau seorang pun ke neraka. Neraka dengan demikian tidak akan diperlukan karena Tuhan yang mahakasih tentunya akan berusaha agar semua orang untuk bisa menemukan jalan ke surga melalui kepercayaan apa pun. Sebaliknya, adanya neraka tentunya menegaskan kenyataan bahwa sebagian orang akan menuju ke sana. Karena itu, Tuhan tentu tahu bahwa tidak semua orang akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan. Ayat di atas dan juga Yohanes 3: 16 menunjukkan bahwa mereka yang tidak mengenal Yesus akan menemui kebinasaan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Mereka yang tidak mengenal nama Kristus, sudah tentu tidak dapat hidup menurut firman-Nya. Mungkin hidup mereka terlihat cukup baik menurut ukuran manusia, tetapi sebenarnya mereka hidup dalam dosa karena bagi mereka Tuhan hanya ada dalam bayangan. Hari demi hari berlalu, dan bagi mereka tidak ada perubahan apa pun yang terjadi. Kedatangan Kristus yang kedua kali tidak kunjung tiba dan dunia berjalan seperti biasa. Mereka mungkin merasa bahwa hidup di dunia ini bisa dinikmati seperti biasa. Mereka yang menganggap bahwa iman kepada Yesus itu hanyalah khayalan, kemudian mengabaikan iman Kristen dan hidup menurut keinginannya.

Tuhan yang mahakasih menghendaki semua orang untuk mau menerima uluran tangan penyelamatan-Nya. Tetapi Tuhan yang mahaadil hanya menerima mereka yang dengan pertolongan Roh Kudus benar-benar mau berusaha hidup sesuai dengan firman-Nya, bukan hanya mereka yang gemar mempelajarinya. Tanda hidup baru adalah perubahan hidup yang bisa dilihat dari buah-buahnya (Matius 7: 20). Jika ini tidak terlihat, Yesus berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Manusia dalam kodratnya, memang selalu ingin melakukan apa yang melawan Tuhan. Jika seseorang menjadi cukup rendah hati untuk tunduk kepada Tuhan, itu berarti bahwa Tuhan telah memberi orang itu sifat baru yang rendah hati. Jika seseorang tetap berkeras hati dan sombong untuk tunduk kepada Tuhan, itu karena orang itu belum diberi semangat dan kemampuan untuk tunduk kepada Tuhan.

Jelas dari sini bahwa walaupun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia, Ia tidak memaksa kita untuk percaya jika itu bertentangan dengan keinginan kita. Memang, ada orang Kristen yang percaya bahwa kehendak Tuhan tentu tidak dapat dibantah atau dilawan oleh manusia. Tetapi, manusia dalam dosanya selalu cenderung untuk tidak menurut kepada Allah. Sebaliknya, Tuhan mempunyai kuasa untuk memungkinkan (bukan memaksa) orang untuk mau mendengar-Nya. Kasih karunia Tuhan bisa dibayangkan sebagai khotbah dan kesaksian yang mencoba untuk membujuk orang untuk melakukan apa yang masuk akal dan apa yang sesuai dengan kepentingan terbaik mereka. Di sini, pertobatan juga termasuk karunia Allah.

Lalu Ia berkata: ”Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Yohanes 6:65

Mereka yang terpanggil dibukakan matanya oleh kuasa penciptaan Allah yang berdaulat sehingga mereka tidak lagi melihat salib sebagai kebodohan tetapi sebagai kekuatan dan hikmat Allah. Panggilan yang efektif adalah keajaiban menghilangkan kebutaan kita. Jadi, sekalipun Tuhan tidak memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya, Ia bekerja dan memberi manusia kemampuan untuk melihat jalan kebenaran dan tidak terus menerus melawan uluran tangan kasih-Nya. Ini adalah cara kerja Tuhan yang bisa menaklukkan orang yang ingin diselamatkan-Nya. Mereka akan menjadi orang-orang percaya.

Hari ini kita harus sadar bahwa penginjilan harus tetap dilakukan agar makin banyak orang yang mau mendengar panggilan untuk menjadi umat-Nya. Tuhan bisa membuat panggilan ini sebagai sesuatu yang mencelikkan mata rohani mereka untuk bisa mau menjawab “ya’ atas keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus kepada semua orang. Penginjilan hanya bisa efektif jika kita percaya bahwa Tuhan ingin menyelamatkan semua orang yang mau percaya kepada-Nya.