Pengampunan yang membawa damai

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 8 – 9

Adalah manusia yang tidak bisa berbuat dosa? Tentu tidak ada. Ayat di atas menyatakan bahwa semua orang sudah berdosa. Kita dengan demikian selalu berbuat dosa karena kita adalah orang yang berdosa dari awalnya. Dosa kita bisa muncul dalam segala segi kehidupan kita, baik itu dosa yang terlihat signifikan atau dosa yang dianggap kecil. Itu bukan berarti bahwa hidup kita adalah 100% busuk, tetapi sudah tercemar dengan kebusukan. Begitulah semua manusia sudah cemar di hadapan Tuhan yang mahasuci.

Sebagian orang mungkin berkata bahwa sekalipun manusia yang sejahat apapun, tentu ada sebagian dari hidupnya yang terlihat baik. Itu benar. Sebaliknya, orang tentunya tahu bahwa dalam hidup seseorang yang terlihat baik, ada saja hal-hal yang kurang baik. Sebagian manusia mencoba memperbaiki hidupnya dengan berbuat baik; tetapi karena dosa sudah meracuni hidup manusia, apapun yang mereka perbuat tidak dapat membawa kepada kesucian atau keselamatan. Dosa sudah meracuni hidup dan pikiran kita sehingga apapun yang kita lakukan selalu tercemar oleh dosa yang kita sadari atau tidak kita sadari. Dosa yang berada dalam hidup kta adalah seperti kebusukan yang sangat dalam (radical corruption) sehingga apapun yang kita perbuat tidak dapat memperbaiki hidup kita.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Orang Kristen yang menderita karena teringat akan dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan besarnya kesetiaan dan keadilan Allah melalui penebusan darah Kristus. Seorang yang sudah menerima hidup baru adalah ciptaan yang baru, yang sudah diampuni atas segala dosa yang ada. Mereka dengan bimbingan Roh Kudus akan berubah hidupnya, makin lama makin menyerupai Yesus. Secara pelan atau cepat, setiap orang Kristen sejati akan berubah cara hidupnya.

Pagi ini kita harus sadar bahwa untuk mengubah hidup kita tidaklah mudah. Dengan tenaga kita sendiri tidaklah mungkin kita bisa menghilangkan pengaruh dosa yang sudah tertanam dalam hidup kita. Untuk itu, setiap hari kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang lemah dan masih bisa berbuat dosa. Hanya dengan pengampunan Tuhan, hidup manusia yang dulunya sudah digolongkan sebagai sampah, bisa terus diperbarui. Dengan demikian, kita yang sudah menerima pengampunan akan dapat merasakan adanya kedamaian dalam hidup karena kita tidak perlu memikirkan apa yang sudah lewat. Lebih dari itu, Tuhan memberikan bimbingan Roh Kudus untuk bisa memperbaiki hidup kita, dan untuk membimbing kita guna menghindari apa yang jahat, hari demi hari sampai kita berjumpa dengan Dia.

Karunia keselamatan: gratis, tapi bukan murah

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah. Titus 2 : 12-15

Mengapa sebagai orang Kristen kita harus hidup dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama? Haruskan mereka berusaha hidup dalam kesucian?

Dakam ayat di atas, Paulus menulis kepada Titus bahwa orang Kristen melakukan hal yang baik karena Kristus sudah lebih dulu berkurban untuk mereka. Mereka tentu tidak berusaha untuk berbuat baik guna dapat diselamatkan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar kesucian Allah. Tetapi, karena kasih Tuhan yang begitu besar telah membawa keselamatan, umat Kristen seharusnya mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup baik dan berbuat kebaikan agar orang lain bisa melihat kasih Tuhan dan kemudian mau menerima karunia keselamatan. Pekerjaan yang baik dan hidup baik orang Kristen di dunia ini adalah identik dengan mengajak dunia untuk memuliakan Tuhan. Tetapi hal ini bukanlah mudah untuk dijalankan.

Sebenarnya, ada dua syarat yang diberikan Yesus untuk menjadi murid-Nya (Lukas 14: 25-33). Yang pertama adalah rela meninggalkan keluarga untuk mengikut Yesus. Yang kedua adalah rela mati, baik secara harfiah maupun metaforis (“mati bagi diri sendiri”) untuk mengikut Yesus. Yesus kemudian memberikan dua contoh “menghitung biaya.” Yang pertama adalah contoh seorang pria yang ingin membangun menara tanpa terlebih dahulu menghitung biaya pembangunan menara. Setelah menyadari bahwa dia tidak dapat menyelesaikannya, dia menyerah karena malu dan malu. Yang kedua adalah seorang raja yang bersiap untuk pergi berperang dan memastikan dia bisa bertahan melawan musuh yang lebih unggul. Maksud Yesus adalah bahwa untuk menjadi pengikut-Nya kita harus bersedia berkurban besar. Untuk hidup baik, kita harus mau meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi.

Untuk bisa hidup sebagai orang Kristen yang setia di dunia ini tidaklah mudah. Godaan dan bahaya selalu ada di dunia yang sudah dipenuhi dosa ini; sehingga sering mereka yang ingin untuk hidup baik, bisa gagal untuk menjalaninya. Banyak orang Kristen hidup dalam dua dunia, diluar kehidupan gereja mereka tidak berbeda dengan orang lain. Ada juga orang Kristen yang terlihat baik dalam masyarakat, tetapi tidaklah demikian dalam keluarga sendiri. Banyak orang Kristen yang berbuat baik untuk sesama tetapi tidak mempersembahkan kemuliaan yang diterima kepada Tuhan. Selain itu, ada juga orang Kristen yang kurang bisa melakukan pekerjaan yang baik karena adanya kesibukan dan kesukaran hidup. Hal-hal semacam ini sudah tentu merendahkan nilai karunia keselamatan yang sudah diberikan Tuhan. Walaupun demikian, ada pandangan Kristen duniawi yang memandang bahwa hidup baik adalah hal yang kurang penting bagi orang yang sudah terpilih. Tentu saja, pandangan duniawi seperti ini cukup memikat karena agaknya keselamatan ada tanpa menimbulkan konsekuensi.

Ide kekristenan duniawi pada dasarnya mengajarkan bahwa selama seseorang mengaku beriman kepada Kristus, dia diselamatkan (Roma 10:9), bahkan jika tidak ada ketaatan langsung pada perintah Yesus dan para rasul untuk hidup dalam hidup kesucian. Merekai terpilih bukan karena perbuatan, dan karena itu perbuatan bukanlah faktor penting dalam hidup kekristenan mereka. Ini adalah gagasan bahwa kita dapat memiliki Yesus sebagai Juruselamat, tetapi tidak harus sebagai Tuhan yang harus ditaati. Orang-orang yang mendukung Kekristenan duniawi, atau “karunia cuma-cuma” seperti yang sering disebut, tidak menyangkal perlunya perbuatan baik (yaitu, hidup kudus) untuk pengudusan, tetapi mereka memisahkan panggilan untuk keselamatan dari panggilan untuk pengudusan (atau pemuridan) .

Teologi Anugerah Murah (Cheap Grace) mengajarkan bahwa orang yang percaya kepada Yesus Kristus “memiliki hidup yang kekal” dan “akan diselamatkan.” Tidak ada yang mempermasalahkan ini. Namun, yang ditentang oleh orang-orang Kristen lainnya bukanlah bahwa keselamatan dan kehidupan kekal adalah pemberian cuma-cuma dari kasih karunia Allah, melainkan ajaran bahwa panggilan keselamatan tidak mencakup panggilan untuk pertobatan dan hidup kudus. Dengan kata lain, teologi Anugerah Murahan membuat doktrin kasih karunia yang gratis atau uma-cuma menjadi doktrin kasih karunia yang murah. Ini adalah kesalahan besar. Kasih karunia Allah memang diberikan secara cuma-cuma kepada orang percaya, tetapi harga yang harus dibayar Yesus adalah sangat mahal. Gratis, tetapi bukan murah.

Jika proses pengudusan dimulai pada saat orang diselanatkan dan perintah Tuhan untuk hidup baik ada dalam Alkitab, sering kali orang tidak sadar akan pentingnya. Dari mana orang Kristen bisa mendapatkan kesadaran untuk hidup baik? Sebagian orang berpendapat bahwa itu mungkin diperoleh dengan bertambahnya usia, dan pengaruh lingkungan, pendidikan dan pengalaman. Benarkah begitu? Ada banyak orang yang sudah lama menjadi anggota gereja, tetapi tidak mengenal pentingnya untuk hidup baik. Bukannya berusaha hidup baik, mereka justru sering mencemooh orang lain yang berusaha hidup dalam kekudusan dan menganggap mereka munafik.

Bagi orang Kristen, apa yang baik selalu datang dari Tuhan dan dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi-Nya dan kebaikan bagi umat-Nya. Dengan demikian, mereka yang penuh dengan hikmat akan mengerti bahwa panggilan keselamatan dan panggilan untuk hidup kudus adalah satu. Mereka yang bijaksana tidaklah menyombongkan keselamatan yang mereka terima, tetapi sebaliknya justru rendah hati, baik hati, tulus hati dan mau memakai apa yang ada dalam hidup mereka untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini kita disadarkan bahwa seyakin-yakinnya kita akan karunia keselamatan dari Tuhan, itu belum lengkap jika kita tidak sadar bahwa karunia keselamatan itu bukanlah sesuatu yang murah, yang tidak menuntut pengurbanan kita. Mereka yang mengabaikan perintahTuhan untuk hidup dalam kekudusan bukanlah orang Kristen yang sejati karena mereka memusatkan hidup mereka kepada keselamatan diri sendiri. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup baik yang penuh kasih harus tetap diusahakan dan dipertahankan sampai berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

Apakah Tuhan penyebab dosa?

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 10

Dosa. Kejahatan. Melawan kehendak Tuhan. Apakah Tuhan berdaulat jika manusia mampu melakukan apa yang bertentangan dengan kehendak-Nya? Di satu sisi adalah mereka yang akan menyangkal kemungkinan itu. Mereka akan mengatakan bahwa kedaulatan Tuhan entah bagaimana berkurang jika Dia tidak memiliki kendali penuh atas segala sesuatu yang terjadi. Semuanya harus terjadi sesuai dengan apa yang telah Dia rencanakan. Apa yang terjadi di dunia, baik hal yang kecil maupun besar, semuanya sudah ditetapkan-Nya dari awalnya, dan itu termasuk dosa Adam dan Hawa.

Bagi sebagian orang Kristen, memang setiap gerakan makhluk dan kejadian di dunia merupakan bagian dari rantai penetapan Tuhan yang tidak bisa putus agar tujuan-Nya tercapai. Alkitab dari awalnya menggambarkan dunia yang memberontak melawan pencipta-Nya. Itu tampaknya bertentangan dengan Tuhan yang memegang kendali penuh. Tetapi, mereka yang memberontak melakukannya karena itu adalah kehendak Tuhan bagi mereka agar rencana-Nya tercapai. Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu, apa yang baik dan apa yang jahat.

Di sisi lain adalah mereka yang akan memahami bahwa Tuhan, dalam kedaulatan-Nya, telah memberikan sejumlah otonomi kepada umat manusia. “Kehendak bebas” ini memungkinkan umat manusia, untuk memilih apa yang bertentangan dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Bukannya Tuhan tidak berdaya untuk menghentikan mereka. Sebaliknya dia telah memberi kita izin untuk bertindak seperti yang kita inginkan. Namun, meskipun kita mungkin melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, tujuan-Nya dalam penciptaan akan tetap tercapai. Tidak ada yang bisa kita lakukan yang akan menggagalkan tujuan-Nya.

Di seluruh Alkitab kita menemukan orang-orang yang bertindak bertentangan dengan instruksi yang diberikan Tuhan kepada mereka. Alkitab bahkan melangkah lebih jauh dengan mengklaim bahwa tidak ada seorang pun, selain Yesus, yang baik, yang melakukan apa yang dikehendaki Allah (Roma 3:10-20). Selain itu, kita tahu bahwa iblis bekerja untuk menggagalkan rencana Tuhan sejak sebelum dunia diciptakan. Jika Tuhan benar-benar mahakuasa dan mahatahu, semua hal yang nampaknya bertentangan dengan kehendak-Nya adalah hal-hal yang kecil bagi-Nya, yang sudah diketahui-Nya sejak awal, dan yang tidak mengganggu rencana-Nya. Malahan, Ia bisa memakai hal-hal yang nampaknya jahat untuk mencapai maksud dan rencana-Nya.

Sebagai orang percaya, kita tentunya yakin bahwa keselamatan kita datang dari Tuhan. Karena semua orang sudah berdosa, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya dari murka Tuhan. Hanya karena kasih Tuhan yang mau mengurbankan Yesus Kristus, mereka yang percaya akan diselamatkan. Itu bukan karena perbuatan kita, tetapi semata-mata karunia-Nya yang memilih siapa pun yang dikendaki-Nya. Lalu, apakah setiap orang mengaku percaya kepada Tuhan akan diselamatkan? Jawabnya sudah pasti: Tidak. Tuhan tidak akan memilih mereka yang mau tetap hidup dalam dosa, yaitu mereka yang tidak mau sama sekali melaksanakan, atau berusaha menaati, firman Tuhan.

Salah satu contoh dari Alkitab yang culup terkenal adalah sikap Firaun ketika Tuhan melalui Musa meminta agar bani Israel dibebaskan dari perbudakan dan pergi meninggalkan tanah Mesir. Firaun berulang kali menolak permintaan ini, dan Tuhan tidak memaksa Firaun untuk tunduk kepada-Nya. Tuhan mengeraskan hati Firaun. Ia membiarkan Firaun bertekun dalam dosanya. Apakah Tuhan yang menyebabkan Firaun menentang Dia? Memang ada ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun.

Ketika kita berbicara tentang pengerasan, kita harus membedakan antara pengerasan aktif dan pengerasan pasif, atau apa yang kita sebut pengerasan langsung atau pengerasan tidak langsung. Ada dua cara agar Allah mengeraskan hati Firaun. Salah satunya adalah Dia bisa mengganggu kehidupan Firaun, dan secara aktif menciptakan kejahatan di hati Firaun. Agar Tuhan dapat mencapai tujuan-Nya, Dia dapat memaksa Firaun untuk berdosa. Tetapi jika Dia melakukan itu, lalu untuk apa? Bagaimana mungkin Tuhan, jika Dia adil dan benar, memaksa Firaun berbuat dosa dan kemudian menghukumnya karena dosa itu? Itu akan membuat Allah sebagai pencipta dosa, yang secara alkitabiah merupakan hal yang salah.

Ada cara lain agar Firaun bisa mengeraskan hatinya. Ingatlah bahwa Firaun adalah orang berdosa, dan kita semua adalah orang berdosa. Tetapi seperti kita yang memiliki dosa, sampai taraf tertentu, kita bisa dikendalikan oleh adanya hal-hal atau orang-orang yang di sekitar kita, yang melalui kasih Tuhan, bisa mencegah kita untuk tidak benar-benar jahat. Ketika manusia mencapai tingkat kekuasaan sedemikian rupa seperti Firaun sehingga mereka berada di luar batas pengekangan normal, kemampuan mereka untuk berbuat dosa meningkat secara bebas. Itu juga yang terjadi dengan banyak pemimpin dunia sesudah Firaun, termasuk Hitler.

Satu-satunya hal yang bisa menjaga Firaun agar tidak sepenuhnya jahat adalah kuasa Allah yang menahan. Jelas bukan pemerintah Mesir yang menahannya. Hanya pengekangan Tuhan yang bisa menjaga Firaun agar tidak menjadi lebih jahat dari yang sebenarnya. Jika Tuhan ingin mengeraskan hati Firaun, apakah Tuhan harus menciptakan kejahatan baru untuk Firaun? Tidak. Yang harus Dia lakukan adalah melepaskan tangan-Nya dan memberi Firaun semua ruang yang dia butuhkan, alias semua “kehendak bebas”. Dalam kisah ini, Firaun mengeraskan hatinya sendiri. Yang Tuhan lakukan hanyalah melepas tangan pengekangan dosa Firaun, jadi Firaun bertanggung jawab atas pengerasan hatinya. Begitulah hati Firaun mengeras, yang dengan sendirinya membenarkan penghakiman Ilahi yang adil atas dirinya.

Injil melakukan hal yang sama dalam kehidupan mereka yang tidak terpilih. Semakin banyak orang mendengar Injil dan dengan bebas menolaknya, semakin keras hati mereka. Jadi kita melihat bahwa, dalam skema ini, dalam konsep pemilihan, semua orang telah jatuh, dan semua orang adalah jahat. Orang Kristen yang pernah melakukannya disadarkan bahwa itu dosa, dan kemudian bertobat melalui kasih Tuhan. Tetapi sebagian berpikir bahwa jika mereka sudah dipilih oleh Tuhan mahakuasa, tentu akan selamat, sekalipun tetap hidup dalam dosa. Bagaimana mereka tahu bahwa Tuhan sudah memilih mereka, tentunya adalah satu tanda tanya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan bukan penyebab dosa kita. Sebaliknya, Tuhan adalah penyebab kesadaran dan pertobatan kita. Mungkin kita sudah lama melakukan dosa-dosa tertentu, dan semakin lama semakin terbiasa hidup kita dalam dosa itu. Pengerasan hati mungkin sudah terjadi, karena kita mungkin merasa acuh tak acuh atau santai dengan adanya hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan itu. Firman Tuhan menyatakan bahwa kesabaran Tuhan ada batasnya, dan kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan selama hidup di dunia.

Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Kisah Para Rasul 3:19

Janji yang harus ditepati

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Masih ingatkah pertanyaan yang diajukan kepada kita ketika kita akan dibaptis atau mengaku percaya di hadapan jemaat gereja? Tiap gereja mempunyai tata cara pembaptisan yang berlainan, tetapi pada umumnya pertanyaan itu menyangkut kepercayaan orang yang akan dibaptis kepada Allah TriTunggal: Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus. Selain itu biasanya ada janji yang diucapkan bahwa yang dibaptis akan setia dalam hidupnya kepada Yesus Kristus, dan bahwa tujuan hidupnya sesudah dibaptis adalah untuk hidup dan bekerja untuk kemuliaan Kristus. Ini tentunya berbeda dengan keadaan sebelum ia mengenal Kristus.

Sebenarnya apakah tujuan hidup atau purpose of life dari kebanyakan orang yang tidak mengenal Kristus? Mungkin ada orang yang menjawab bahwa ia ingin menjadi orang yang sukses, orang yang pandai atau orang yang berguna untuk masyarakat dan negara. Semua ini adalah cita-cita. Tujuan hidup adalah sesuatu yang lebih luas dan menyeluruh jika dibandingkan dengan cita-cita dan karir. Tujuan hidup juga sering berbentuk abstrak dan tidak dapat dilihat atau diukur. Walaupun demikian, adanya tujuan hidup adalah penting untuk membuat orang kuat dalam menghadapi semua tantangan. Orang boleh mengejar keinginan tertentu dan senang ketika itu tercapai, namun jika tujuan hidup tidak terwujud, semua yang dicapai mungkin tidak berarti. Sebaliknya, mereka yang tidak mencapai kedudukan tinggi atau mendapat kekayaan yang berlimpah bisa saja berbahagia jika tujuan hidupnya tercapai.

Dalam hidup ini memang kesibukan sehari-hari sering menyita waktu dan karena itu kita mungkin tidak sempat memikirkan apakah tujuan hidup kita sudah tercapai. Apakah kepuasan hidup sudah tercapai, sedang mendatangi ataukah belum terasa, mungkin tidak pernah dipikirkan dalam-dalam. Walaupun demikian, seringkali ketika orang mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup, secara tiba-tiba ia mungkin terbangun dan sadar bahwa hidup yang ada sampai saat ini adalah hampa. Jika pada saat-saat yang lalu ia tidak memikirkan apa arti hidupnya, dengan  memeriksa realitas kehidupan kemudian timbul kesadaran bahwa apa yang dipunyainya bukanlah tujuan hidupnya.

Apakah kita sudah mencapai tujuan hidup kita?  Kita bisa memeriksa hidup kita sendiri. Reality check untuk apa yang sudah kita capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata di dunia.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita mau menepati janji bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita akan melakukannnya untuk memuliakan Tuhan dan sesuai dengan perintah-perintah-Nya.

“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2:3-6

Mengapa malapetaka harus terjadi?

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9  – 10

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah pesawat udara.

Saya mengunjungi tempat Memorial 9/11 beberapa tahun yang lalu, dan membaca nama-nama korban di sana, mau tidak mau saya merasa sangat sedih. Di manakah Tuhan pada waktu tragedi itu terjadi? Saya yakin bahwa pada tanggal 11 September 2001, Tuhan berada persis di mana Dia selalu berada – di surga, memengang kendali penuh atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Lalu, mengapa Allah yang baik dan pengasih membiarkan tragedi seperti itu terjadi? Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Pertama, kita harus ingat, “Karena sama seperti langit lebih tinggi dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:9). Mustahil bagi manusia yang terbatas untuk memahami jalan Allah yang tidak terbatas (Roma 11:33-35).

Kedua, kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak bertanggung jawab atas tindakan jahat orang jahat. Alkitab memberitahu kita bahwa manusia dalam kebebasannya sangat jahat dan berdosa (Roma 3:10-18, 23).

Ketiga, Allah mengizinkan manusia melakukan dosa karena alasan-Nya sendiri dan untuk memenuhi tujuan-Nya sendiri. Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita mengerti mengapa Tuhan melakukan sesuatu, hanya untuk mengetahui kemudian bahwa itu untuk tujuan yang berbeda dari yang kita pikirkan semula.

Satu hal yang juga harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepada-Nya.

Pagi ini, jika kita mendengar adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, maha adil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa keputusan-Nya akan terjadi dan segala kehendak-Nya akan terlaksana. Apa pun yang terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan segala bangsa dalam segala keadaan!

Tahu tapi tidak mau melakukan

Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Sudah lebih dari 40 tahun sejak Australia meluncurkan kampanye pertama ” Do the Right Thing” (Lakukan Hal yang Benar). Itu adalah ajakan bagi warga Australia untuk melakukan hal yang benar dengan membuang sampah ke tempat yang semestinya. Faktanya saat ini, seiring dengan bertambahnya populasi dan gaya hidup pendiduk yang bebas, semua orang perlu diingatkan agar memiliki tanggung jawab untuk memberi contoh dan mencegah polusi sampah. Hidup memang boleh dinikmati, tetapi harus disertai dengan pelaksanaan etika hidup dengan baik.

Secara bahasa, kata ‘etika’ lahir dari bahasa Yunani ethos yang artinya tampak dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini yang menjadi perspektif objeknya adalah perbuatan, sikap, atau tindakan manusia. Pengertian etika secara khusus adalah ilmu tentang sikap dan kesusilaan suatu individu dalam lingkungan pergaulannya yang kental akan aturan dan prinsip terkait tingkah laku yang dianggap benar.

Sebagai anak-anak Allah, motif dan sikap kita harus hidup bagi Kristus setiap saat sepanjang hari – mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup kepada-Nya, untuk memercayai Firman-Nya dan berjalan dalam ketergantungan total kepada-Nya, saat demi saat. Menjalani kehidupan Kristen seperti yang dimaksudkan dan diperintahkan Tuhan, yang sesuai dengan etika Kristen, harus menjadi tujuan utama orang Kristen, dan kegagalan untuk melakukannya diidentifikasi oleh Yakobus sebagai dosa yang harus diakui kepada Tuhan. Memang, jika dalam hidup kita kita ingin hidup kudus, persekutuan dengan Bapa akan bertumbuh dalam kasih karunia, untuk kehormatan dan kemuliaan-Nya.

Dan ayat di atas, rasul Yakobus berusaha menjelaskan kepada para pembacanya konsekuensi dari mengetahui apa yang saleh dan mulia di mata Tuhan, etika yang benar, namun menolak untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, dia memperingatkan, kepada orang yang mengetahui hal yang benar untuk dilakukan namun tidak melakukannya, itu adalah dosa. Seiring dengan itu, mereka yang mengerti dan sudah melaksanakan apa yang baik, tentunya harus mau mengajarkan hal itu kepada orang lain.

Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firman-Nya. Jika etika umum bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya setempat, etika dalam sebuah masyarakat tertentu mungkin tidak dikenal dalam masyarakat lain. Sebaliknya, karena etika Kristen bertalian dengan firman Tuhan, seharusnya semua orang Kristen tahu apa yang baik dan buruk dalam hidup sehari-hari menurut ukuran firman Tuhan. 

Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan. Sebagai orang Kristen mungkin kita mudah berkata bahwa kita mengerti akan hal-hal di atas. Tetapi bagaimana pula dengan praktik tingkah laku dan pikiran kita yang sehari-hari tentang hal-hal itu? Mungkin kita tidak melakukan hal- hal yang jahat itu, tetapi apakah kita selalu mau mengingatkan dan mengajar mereka yang mengabaikan kenyataan hidup mereka? Ini adalah panggilan kita sekalipun kita diselamatkan oleh iman dan bukan oleh perbuatan. Tambahan pula, sebagai orang yang sudah menerima karunia Tuhan yang luar biasa besarnya, apakah kita tidak tergerak untuk melakukan dan mengajarkan hidup baik sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada-Nya?

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sudah merasa saleh tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar. Sebagai contoh, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan. Serupa dengan itu, sebagai orang Kristen kita yakin bahwa dosa kita sudah diampuni karena Kristus sudah membayar hutang kita dengan darah-Nya, dan karena itu kurang menekankan pentingnya hidup menurut etika yang benar.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika hidup Kristen yang berdasarkan kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan rajin dan jujur, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang mengendakinya. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati pemerintah dan hukum yang berlaku. Memilih dan melakukan hal yang baik adalah suatu keharusan dan bukan pilihan.

Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani dan karena itu tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, sebagai orang Kristen kita harus mau mengajar orang lain untuk hidup baik, sebab menyadarkan orang lain tentang kehendak Tuhan ini juga termasuk perbuatan baik.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Kebenaran tidak bergantung pada keajaiban

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22-23

Setiap hari kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak di antara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Sering kali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mukjizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui mukjizat, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima oleh pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, sering kali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekadar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apa pun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibahas. Yesus menyatakan bahwa hari terakhir banyak orang akan berseru kepada Dia dan mengaku bahwa mereka sudah membuat banyak keajaiban dalam nama-Nya. Pada waktu itulah Yesus akan menjawab bahwa mereka akan ditolak-Nya. Mengapa begitu? Penafsir Alkitab Matthew Henry menulis bahwa Kristus di sini menunjukkan bahwa kita tidak cukup mengakui Dia hanya dalam kata dan lidah. Sebaliknya, adalah penting untuk keselamatan kita bahwa kita percaya kepada Kristus, bertobat dari dosa, menjalani kehidupan yang kudus, dan saling mengasihi. Ini adalah kehendak-Nya, agar kita berhenti mengharapkan atau melakukan hal-hal iyang nampaknya ajaib, agar jangan sampai kita menipu diri kita sendiri, dan binasa selamanya, seperti yang dilakukan orang banyak.

Kata “kejahatan” dalam ayat itui merupakan indikator utama untuk mengenali kepalsuan para nabi palsu tersebut. Dalam Matius 7: 17-20, Yesus menyebutkan bahwa buah yang baik dihasilkan dari pohon yang baik. Sebaliknya buah yang tidak baik dihasilkan dari pohon yang tidak baik. Yang dimaksud dengan buah disini bukanlah hasil pekerjaan berupa kemampuan untuk “bernubuat, mengusir setan dan penyembuhan”, melainkan menujuk kepada “motivasi dan karakter pribadi”. Karena disini Yesus memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi nabi palsu itu dari sisi etika, bukan dari sisi doktrinal, maka para nabi palsu itu perlu diuji dengan memperhatikan buahnya, bukan pada tindakan supranatural yang mereka lakukan.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mukjizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mukjizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi yang bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, kehadiran Tuhan hanya bisa terasa ada karena adanya mukjizat yang bisa mereka lihat atau alami. Secara doktrin, memang Tuhan bisa memberi kemampuan istimewa kepada orang-orang tertentu, tapi itu bukan berarti setiap orang yang bisa melakukannya adalah orang-orang yang diselamatkan.

Pagi ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mukjizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang masih tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, Anak Allah yang lahir di palungan, yaitu keselamatan jiwa mereka.

Mereka yang tidak berpegang pada kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata kita, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu, biarlah kita selalu sadar bahwa:

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mukjizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak memuliakan mukjizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak mencari mukjizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mukjizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Semoga kita tetap berfokus pada dasar iman yang benar!

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Kita adalah warga satu bangsa yang diselamatkan karena iman

“Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Galatia 3: 8 – 9

Dalam keadaan dunia saat ini, banyak negara mengalami masalah serius. Kemarin suku bunga resmi (official cash rate) di Australia dinaikkan lagi untuk kesekian kalinya dalam setahun. Hidup rakyat yang sudah suilit karena harga BBM yang tinggi dan tingkat inflasi yang lebih besar dari kenaikan gaji, sekarang bertambah berat karena bunga pinjaman bank juga naik seiring dengan kenaikan suku bunga resmi.

Di antara banyak negara di dunia, kita memang bisa melihat bahwa tiap negara mengalami persoalan yang berbeda. Sebagian mengalami persoalan yang sangat besar, yang terlihat jauh lebih parah daripada yang lain. Bagi orang yang melihat adanya perbedaan yang terjadi di antara berbagai negara, mungkin ada pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Bagi orang yang beragama, pertanyaan yang sudah ada sejak dulu, sekarang muncul lagi: mengapa Tuhan kelihatannya lebih memberkati negara yang satu daripada yang lain? Apakah Tuhan lebih menyayangi negara-negara tertentu?

Dalam kitab Perjanjian Lama dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Bangsa Israel adalah bangsa yang dibebaskan Tuhan dari perbudakan di tanah Mesir. Banyak bangsa lain yang mengalami hukuman Tuhan karena mereka berusaha mengganggu dan bahkan menghancurkan bangsa Israel pada waktu itu. Dengan demikian, dapatlah dimengerti banyak orang yang sampai sekarang menganggap bangsa Israel adalah tetap merupakan pilihan Tuhan: bangsa ini dikasihi Tuhan lebih dari bangsa lain. Tuhan sudah pilih kasih, dan itu nampaknya tidak adil, tetapi itu semata-mata hak-Nya. Begitu mungkin orang berpikir.

Alkitab memang menyatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Tetapi bangsa ini dipilih untuk memenuhi rancangan penyelamatan Tuhan, bukan untuk diselamatkan. Ayat di atas menyatakan bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman. Kita yang bukan termasuk bangsa Yahudi menjadi orang yang diselamatkan melalui darah Kristus. Siapa pun orangnya, ia akan diselamatkan jika mempunyai iman kepada Yesus Penebus.

Di dunia, kita mungkin bisa melihat bahwa ada bangsa-bangsa dan negara-negara yang mempunyai tingkat ekonomi, teknologi dan sosial yang lebih baik dari bangsa atau negara lain. Hal ini tentunya terjadi sesuai dengan rancangan Tuhan. Tetapi, ini tidak berarti bahwa Tuhan memilih negara-negara tertentu menjadi favorit-Nya. Tuhan mempunyai rencana tertentu di dunia dan adalah hakNya jika Ia memilih bangsa atau negara tertentu untuk berperan dalam rencana-Nya di dunia.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sebagai orang percaya kita sudah terbilang keturunan Abraham dalam hal rohani, yaitu dalam menerima janji keselamatan yang datang melalui Yesus Kristus (Galatia 3: 29). Bani Israel sudah dipilih untuk melaksanakan rencana Tuhan, termasuk kelahiran Yesus di dunia. Tetapi setelah itu, bangsa Israel sendiri yang menyebabkan Yesus disalb dan bahkan menolak Yesus sebagai Juruselamat atau Mesias. Dengan demikian, secara rohani bangsa Israel bukanlah orang-orang pilihan Tuhan.

Bangsa-bangsa (orang-orang) yang dipilih Tuhan adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus. Mereka adalah orang-orang yang sudah dselamatkan melalui penebusan darah Yesus di kayu salib. Mereka adalah orang-orang berdosa yang sudah diampuni oleh Tuhan dan bebas dari kematian abadi. Umat Tuhan mungkin saja tidak mempunyai hidup senyaman mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Umat Tuhan mungkin saja harus menderita karena iman mereka. Tetapi semua itu terjadi selama hidup di dunia, dalam hidup jasmani.

Hari ini, jika kita menyadari bahwa kita sudah diangkat menjadi keturunan Abraham dalam hal menerima warisan keselamatan, haruslah kita hidup dalam sukacita. Sekalipun keadaan di sekeliling kita nampaknya tidak nyaman secara jasmani, itu bukanlah menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Sebaliknya, apa yang terlihat secara jasmani tidak dapat dibandingkan dengan kasih Allah yang sudah sudah memilih kita untuk diselamatkan secara rohani. Karena itu, keadaan jasmani apa pun yang saat ini kita alami tidak akan menutupi kebahagiaan kekal yang kita miliki.

Hidup baru sebagai orang percaya

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu (lahir baru, regenerasi) dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Pada waktu seseorang mengalami kelahiran baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dari keadaan mati, berubah menjadi hidup (regenerasi). Ini terjadi pada satu saat tertentu, dan bukan melalui proses. Itu terjadi hanya karena karunia Tuhan.

Jika regenerasi merupakan pemberian hidup yang baru, maka artinya regenerasi merupakan awal dari proses-proses pembaharuan hidup. Dengan demikian, orang yang lahir baru telah mengalami langkah pertama dari pembaharuan. Proses-proses pembaharuan hidup yang mengikuti regenerasi itu bersifat progresif dan disebut “pengudusan yang dinamis”. Paulus mengingatkan “..karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:9-10). Dalam ayat ini Paulus bukan bermaksud memberitahu orang-orang percaya di Kolose bahwa mereka sekarang atau setiap hari harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru berulangulang kali, tetapi Paulus menegaskan bahwa mereka telah mengalaminya pada saat regenerasi dan telah melakukannya perubahan ini ketika mereka di saat konversi menerima dengan iman apa yang telah dikerjakan Kristus bagi mereka.

Lalu apakah yang dimaksud Paulus dengan frase “terus menerus diperbaharui”? Walaupun orang-orang percaya adalah pribadi-pribadi baru, akan tetapi mereka belum mencapai kesempurnaan yang tanpa dosa; mereka masih harus bergumul melawan dosa. Pembaharuan ini merupakan proses perndewasaan seumur hidup. frase ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah lahir baru, seperti seorsng bayi, kita harus terus menerus mengalami proses pengudusan mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani.

Alkitab menyebutnya dengan istilah “pengudusan”, yang bersifat dinamis bukan statis, yang progresif bukan seketika; yang memelukan pembaharuan, pertumbuhan dan transformasi terus menerus. Jadi, orang-orang percaya yang telah lahir baru dan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus masih diperintahkan untuk mematikan perbuatanperbuatan daging dan segala sesuatu yang berdosa di dalam diri mereka berupa keinginan-keinginan daging (Roma 8:13), serta menyucikan diri dari segala sesuatu yang mencemari tubuh dan roh (2 Korintus 7:1). Ini adalah kewajiban dan tanggung jawab setiap umat Kristen.

Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman dan perbuatan. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai hidup baru belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga tingkah laku dan perbuatan mereka tidaklah jauh berbeda dari apa yang ada sebelumnya. Memang dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal karakter Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama mengaku Kristen. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan pribadi. Mereka mungkin mengharapkan perubahan, tetapi tidak mau bekerjasama dengan Roh Kudus untuk mengganti cara hidupnya.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepada kehendak Tuhan. Mereka yang hidup dengan mengandalkan akal budi saja, cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka sering mengabaikan firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang yang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah. Dengan demikian, seperti pohon yang berdaun hijau belum tentu pohon yang hidup, mereka yang mengaku Kristen mungkin adalah orang-orang yang masih berada dalam hidup lama yang membawa kematian (Matius 7: 19-20).

Sekalipun cara hidup dan penampilan yang baik seringkali dianggap sebagai tanda hidup baru, itu belum tentu bukti hidup baru. Hidup baru benar-benar bisa terlihat jika orang tetap bertahan dalam iman sekalipun menghadapi semua tantangan atau masalah kehidupan baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Seperti pohon yang tetap berdiri kokoh walaupun diterjang badai. Dalam situasi dunia saat ini, mereka yang benar-benar sudah hidup baru mungkin mengalami berbagai penderitaan, tetapi tetap teguh dalam iman. Dalam kesulitan hidup mereka mungkin menjumpai berbagai godaan dan jalan pintas yang memikat, tetapi tetap bisa berdiri tegap dalam kebenaran firman Tuhan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani dan menghasilkan buah yang baik dalam suka maupun duka. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai tipu-daya dan keadaan, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan. Mereka yang benar-benar sudah mempunyai hidup baru adalah orang-orang yang tetap setia kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Mereka yang memang sudah lahir baru akan membenci dosa dan selalu ingin dan berusaha untuk hidup dalam kebenaran.

Tanggung jawab kita untuk mendidik yang lebih muda

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Amsal 22: 6

Saat ini dunia pendidikan sekolah dasar dan lanjutan di Australia mengalami goncangan. Sebenarnya, keadaan sudah memburuk selama lebih dari 20 tahun. Bukan saja mutu pendidikan merosot, kemampuan belajar para murid pun memburuk. Bukan saja dalam hal belajar ilmu pengetahuan, terapi juga dalam hal belajar berdisiplin dan bersopan-santun. Banyak guru yang memutuskan untuk berganti karir karena tekanan jasmani dan rohani yang tidak tertahankan. Masalah pendidikan ini bertambah serius, karena jumlah orang mau bekerja sebagai guru menjadi berkurang karena gaji yang dirasakan kurang.

Di antara komentar yang muncul, ada beberapa hal yang sangat menarik untuk di simak. Yang pertama adalah kenyataan bahwa sudah lama pendidikan anak di Australia “diperlunak” dengan alasan untuk tidak menyebabkan rasa terpukul terhadap mereka yang kurang berhasil. Guru-guru tidak dapat lagi memakai kata-kata seperti “gagal”, “tidak memenuhi syarat” atau “buruk”. Sebagai akibatnya, banyak orang yang merasa bahwa anak sekolah di zaman ini menjadi kurang serius dalam belajar. Mereka kemudian menyia-nyiakan pelajaran yang diterimanya dengan merasa puas atas hasil “asal lulus” saja.

Kesulitan yang kedua, menurut beberapa tokoh pendidikan adalah berkurangnya peranan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya. Banyak orang tua yang karena sibuk dengan pekerjaannya, tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anak mereka. Mereka menganggap bahwa pendidikan anak adalah tugas guru di sekolah.

Masalah yang ketiga ialah sulitnya mendapatkan guru-guru yang berkualitas tinggi. Adalah kenyataan bahwa di antara mereka yang masuk ke universitas untuk belajar menjadi guru, banyak yang sebenarnya terpaksa karena tidak bisa memasuki jurusan lain. Lebih dari itu, satu dari sepuluh orang yang belajar untuk menjadi guru sains misalnya, sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk mengajar bidang itu.

Terlepas dari banyaknya kemungkinan penyebab kemunduran pendidikan anak yang dikemukakan orang, adalah kenyataan bahwa di dunia barat peranan orang tua sudah sangat berkurang. Orang tua di zaman ini, cenderung merasa bahwa kebebasan anak adalah penting agar mereka dapat berdiri sendiri di kemudian hari. Ada juga yang merasa bahwa selama kebutuhan keuangan terpenuhi, hidup anak akan terisi kebahagiaan. Hidup anak mereka adalah tanggung jawab mereka sendiri.

Adalah kenyataan bahwa bentuk dan fungsi keluarga di zaman ini juga sudah berubah sehingga anak-anak mereka tidak lagi merasa perlu untuk belajar dari orangtua. Anak zaman sekarang lebih senang belajar dari teman-teman seumur. Dengan demikian, rasa hormat anak kepada orang tuanya menjadi berkurang dan orang tua mulai kehilangan pengaruh terhadap anak-anaknya.

Berbeda dari apa yang tertulis dalam Amsal di atas, banyak orang tua di zaman ini yang mengabaikan pentingnya kedudukan dan tugas mereka. Mereka kurang menyadari bahwa anak mereka mendengar apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat mereka. Mereka kurang berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi generasi muda. Dalam hal ini, orang Kristen pun mudah jatuh dalam perangkap serupa. Lebih dari itu, banyak gereja yang kurang menekankan pentingnya hidup berdisiplin dan menghindari dosa.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa peranan orang tua (baik orang yang mempunyai anak atau orang yang sudah dewasa) adalah sangat besar dalam pendidikan kaum muda. Pendidikan bukan saja yang menyangkut pengetahuan, tetapi justru lebih penting dalam hal moral dan etika. Orang tua harus bisa memberikan bimbingan yang baik berdasarkan prinsip kasih sesuai dengan firman Tuhan agar anak-anak mereka bisa memakainya seperti sebuah karangan bunga yang indah bagi kepala mereka, dan seperti kalung bagi leher mereka. Generasi muda akan bisa belajar dari generasi sebelumnya, jika mereka bisa melihat nilai dan manfaat dari apa yang diajarkan dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Mazmur 111: 10