Kebimbangan bisa membuat kita tenggelam

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Matius 14: 30

See the source image

Saat ini, banyak orang yang hidup dalam kegundahan. Adanya pandemi memang sudah membuat orang hidup dalam kekuatiran, tetapi hancurnya ekonomi  negara yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaan rupanya dirasakan sebagai hal yang lebih berbahaya. Di beberapa negara yang mengalami lockdown mulai muncul banyak orang yang berdemonstrasi dan yang menyatakan bahwa bagi mereka mati karena virus corona adalah lebih baik daripada mati kelaparan. Tetapi tentu saja pandangan ini tidak dapat dibenarkan; kematian akibat bencana apa pun tentunya bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi itu justru hal yang seharusnya dihindari.

Pernahkah anda mengalami pengalaman menakutkan yang serupa sebelum ini? Mungkin itu krisis moneter Asia di tahun 1997? Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal  seperti itu terjadi karena efeknya yang besar dan tidak mudah dikontrol. Ketakutan memang bisa muncul ketika ada bahaya yang mendatangi, apalagi jika kita merasa bahwa itu ada diluar kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam hal ini, sekalipun orang percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa, rasa takut sering muncul karena apa yang dilakukan Tuhan adalah suatu yang tidak dapat dimengertinya.

Bagaimana pula perasaan kita jika kita yakin bahwa Tuhan adalah mahakuasa? Apakah kita kemudian bisa hidup dalam ketenangan karena semua yang kita alami tentunya adalah sesuai dengan kehendak Tuhan? Akankah Tuhan membuat hidup kita berjalan mulus jika kita menurut perintahNya? Dalam kenyataannya, sekalipun hidup kita sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya, itu tidak berarti bahwa tidak ada saat-saat dimana kita merasa bimbang. Sebelum datangnya pandemi, tanggung jawab rumah-tangga, pekerjaan, dan pelayanan gereja mungkin sudah kita jalankan sesuai dengan perintahNya; tetapi sekarang kita mungkin ragu apakah kita bisa melakukannya dengan baik pada saat-saat mendatang. Rasa takut dan kuatir pun muncul, karena kita tidak mengerti apa yang akan terjadi. Apakah tiupan angin topan akan bertambah keras?

Pada saat itu, Petrus yang melihat Yesus berjalan diatas air ingin meyakinkan diri bahwa itu benar-benar Yesus. Petrus meminta agar Yesus menyuruh dia untuk berjalan diatas air dan menjumpaiNya. Dengan ajakan Yesus, Petrus segera melangkahkan kakinya diatas air. Keberaniannya tumbuh karena adanya ajakan Yesus. Tetapi ketika dirasakannya ada tiupan angin yang keras, lupalah Petrus akan adanya Yesus. Ia menjadi takut dan merasa akan tenggelam. Melihat Petrus yang ketakutan, Yesus segera menolongnya. Tetapi, Yesus juga menegur Petrus atas kebimbangannya. Itu karena Petrus yang sudah diajak Yesus untuk berjalan diatas air, sebenarnya harus sepenuhnya percaya kepada Yesus.

Hari ini, jika kita percaya bahwa kita hidup menurut perintahNya, itu seharusnya menyatakan kepercayaan kita atas bimbinganNya. Apa yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya kepada kita sekalipun ada angin topan mendatangi dan gelombang laut yang menggoncang kaki kita. Mengapa pula kita harus bimbang?

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14: 33

Kita adalah orang pilihan Allah

“Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan” Yesaya 41: 10

Tidak terasa saya sudah menjalankan WFH (work from home) selama hampir dua bulan. Gara-gara adanya pandemi, universitas saya ditutup pada bulan Maret yang lalu dan semua kuliah harus saya berikan secara online dari rumah. Satu dua minggu bekerja dari rumah memang  terasa nikmat, terutama karena tidak perlu untuk bangun terlalu pagi untuk mempersiapkan diri dan bermobil ke kantor. Tetapi, setelah dua minggu rasa bosan mulai muncul karena saya tidak bisa pergi kemana-mana, kecuali sesekali ke supermarket guna membeli bahan makanan.

Adanya keharusan bagi penduduk untuk melakukan PSBB memang membuat kota dimana saya tinggal menjadi mati. Kebanyakan toko yang menjual barang-barang yang bukan bahan pokok sudah ditutup dan begitu juga rumah makan dan gedung pertunjukan. Dalam keadaan sedemikian, mereka yang sudah lanjut usia dan kurang sehat tentunya adalah orang-orang yang paling menderita karena mereka bisanya bergantung pada pertolongan dan jasa yang diberikan orang lain. Tetapi, menurut survey, mereka yang masih tergolong muda pun banyak yang mengalami masalah kejiwaan berkenaan dengan timbulnya rasa kuatir, rasa kesepian dan rasa takut. Malahan, beberapa pakar meramalkan bahwa perawatan kejiwaan akan menjadi salah satu kebutuhan penting dari masyarakat setelah pandemi ini berakhir.

Di tengah-tengah kemelut pandemi ini, orang Kristen tentunya terpanggil untuk sebisa mungkin menjadi terang dunia. Sekalipun diri mereka sendiri merasa menderita, banyak orang percaya yang merasa bahwa mereka bisa membantu mereka yang menderita untuk tetap bisa bertahan. Dengan bantuan doa dan membagikan ayat-ayat Alkitab yang sesuai, mereka berusaha meyakinkan mereka yang tertekan jiwanya untuk mau menyerahkan persoalan mereka kepada Tuhan yang mahakuasa. Ada kalanya ayat yang dipakai memang mengena, tetapi sering juga ada tafsiran yang kurang  tepat.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dipakai orang Kristen untuk menguatkah mereka yang mengalami perjuangan hidup. Banyak orang yang menafsirkan ayat diatas sebagai janji Tuhan kepada semua umat Kristen untuk memberi mereka kemenangan dan keberhasilan. Tuhan telah memilih  kita dan tidak menolak kita; karena itu kita tidak perlu takut, sebab Ia menyertai kita. Kita tidak perlu bimbang, sebab Tuhan adalah Allah kita. Tuhan akan meneguhkan, bahkan akan menolong kita;  Tuhan akan memegang kita dengan tangan kananNya yang membawa kemenangan. Dalam Tuhan kita akan bisa menyelesaikan segala persoalan, termasuk masalah kesehatan, pekerjaan dan bahkan hutang.

Sebenarnya ayat itu adalah firman Tuhan yang khusus diberikan kepada umat pilihan Allah, umat Israel yang menderita dalam pengasingan di Babilonia. Tuhan mengingatkan bani Israel bahwa mereka adalah umat pilihan Allah dan karena itu Allah akan menolong mereka. Apa yang dijanjikan Allah itu sudah terjadi, dan bagi kita itu menunjukkan bahwa dalam hal pembebasan umat Israel dari Babilonia, Tuhan tidak mengecewakan umat Israel yang sudah dipilihNya. Walaupun demikian, janji Tuhan dalam ayat ini bukanlah janjiNya untuk kita yang tidak termasuk dalam umat Israel yang hidup pada zaman itu.

Kembali mengenai ayat di atas, tidak adakah yang dapat kita terapkan dalam hidup kita pada saat ini? Tentu ada! Karena kita adalah orang-orang pilihan Alllah melalui penebusan Kristus Yesus, Ia tidak akan menolak kita. Dalam mengalami penderitaan dan ancaman di saat ini, kita tidak perlu takut karena Allah menyertai kita. Kita tidak perlu bimbang akan kasihNya. Tuhan kita adalah Allah yang mahakuasa yang dapat menguatkan kita dan bahkan akan menolong kita pada saat yang tepat, dengan cara yang sesuai dengan rencanaNya.  Sekalipun dalam hidup ini kita bisa mengalami masalah yang besar yang tidak kunjung berhenti, tetapi Ia akan memegang tangan kita dan menguatkan kita sehingga kita mendapatkan rasa damai dan kecukupan dalam keadaan apa pun. Inilah kunci kebahagiaan dalam iman!

 

 

Penampilan bukanlah pedoman hidup

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16.7

See the source image

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung beberapa bulan di dunia, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa itu sudah mulai mereda. Tentu saja, adanya pandemi sudah membawa kesusahan yang besar bagi umat manusia dimana pun mereka berada.  Adanya pandemi kelihatannya hanya membawa kesengsaraan dan derita  bagi umat manusia. Betulkah demikian?

Sekalipun pandemi adalah suatu tragedi kemanusiaan, adanya pandemi bisa membawa beberapa segi positif. Tidak hanya membuat semua orang  menyadari bahwa sebagai manusia mereka tidak bisa merasa sombong dan terlalu yakin akan kekuatan mereka sendiri; pandemi juga membuat banyak orang sadar bahwa berbagai sarana hebat yang ada sebelum adanya pandemi, sekarang menjadi sesuatu yang tidak berguna.

Adanya masalah dalam hidup memang bisa membuka mata manusia akan apa yang benar-benar penting dalam hidup. Banyak manusia yang mengukur keberhasilan dengan apa yang sudah dicapai, dan begitu pula banyak negara yang merasa unggul karena kekayaan dan kemakmuran yang bisa dikagumi negara lain. Tetapi, semua itu bisa hilang dalam sekejap mata, dan apa yang tertinggal adalah duka.

Memang dalam hidup di dunia, manusia cenderung untuk mudah terpikat oleh sesuatu penampilan yang terlihat indah dan hebat. Mereka mudah mengagumi orang yang mempunyai kesuksesan, kekayaan dan kemampuan yang luar biasa. Karena banyak manusia yang bergantung kepada hal-hal itu, mereka yang sukses kemudian dijadikan contoh keberhasilan dalam hidup. Bahkan, untuk berbakti kepada Tuhan, banyak orang Kristen yang memilih untuk pergi ke gereja yang mempunyai gedung yang mewah dan pendeta yang terkenal. Tetapi, sejarah membuktikan bahwa apa yang dipandang hebat oleh manusia seringkali merupakan sesuatu yang tidak berharga di mata Tuhan.

Ayat di atas adalah apa yang dikatakan Samuel ketika ia mengunjungi Isai untuk memilih salah satu dari anaknya guna menggantikan Raja Saul yang sudah ditolak Tuhan. Ketika Samuel melihat Eliab anak Isai yang pertama, Samuel merasa bahwa ialah yang akan dipilih oleh Tuhan. Tetapi Tuhan menegur Samuel agar jangan memandang orang dari penampilannya, karena Tuhan melihat hati dan bukan apa yang terlihat mata manusia. Tuhan melihat  apakah  seseorang benar-benar bergantung kepada Dia dan hidup untuk kemuliaanNya.

Banyak orang yang bertanya-tanya, apakah yang bisa dipelajari sebagai hikmah ketika masalah besar sedang terjadi. Satu hal yang penting yang bisa kita lakukan adalah meneliti pedoman hidup kita. Tuhan menilik hati manusia, dan Ia bisa melihat apa yang tersembunyi dalam kehidupan semua orang. Jika manusia memilih penampilan apa pun dan siapa pun menurut pandangan matanya, Tuhan menyelidiki apakah semua itu berguna untuk kemuliaanNya. Dengan demikian, bukan penampilan yang penting, tetapi kegunaannya bagi Tuhan. Kita yang mengaku sebagai pengikut Tuhan seharusnya dapat mengerti apa yang disukai Tuhan dan mengubah pedoman hidup kita.

 

Jangan berhenti berharap

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Roma 8: 24-25

See the source image

Kegiatan apakah yang paling anda benci? Tiap orang tentunya mempunyai jawaban yang berbeda. Ada orang yang tidak suka bepergian, ada yang membenci memasak, dan ada juga yang tidak mau menonton show dan sebagainya. Bagaimana dengan saya sendiri? Saya membenci antrian. Buat saya, mengantri adalah hal yang menjemukan; dan sekalipun saya suka menonton film di bioskop dan juga pertunjukan lain, saya akan batal menonton kalau saya tahu bahwa antriannya bakal panjang. Sudah mundur sebelum berjuang, begitu orang mengkritik saya. Mengapa begitu? Mungkin itu karena pengalaman pahit sewaktu mengantri karcis bioskop di tahun 60an. Saya masih ingat bahwa ketika itu antriannya panjang dan sesudah mengantri selama satu jam karcisnya ternyata habis! Harapan saya tidak menjadi kenyataan….

Berharap akan sesuatu yang indah dan menyenangkan memang sering dilakukan oleh banyak orang. Setiap orang yang mempunyai suatu harapan mungkin sering diingatkan teman agar tidak putus asa. Tetaplah berusaha, dan jangan putus harapan, begitu mungkin nasihat mereka. Dengan itu, impian tetap dipertahankan dan semangat tetap dipupuk untuk terus berusaha mewujudkan apa yang diharap-harapkan. Walaupun demikian, jika orang sudah menanti-nantikan sesuatu untuk waktu yang lama, harapan akan datangnya keberhasilan akan mulai turun; apa lagi jika apa yang diharapkan belum juga dapat terlihat mata.

Jika harapan untuk mendapatkan sebuah karcis bioskop saja sudah sulit untuk dipertahankan jika ada banyak orang yang mengantri, anda mungkin bertanya-tanya bagaimana saya bisa berharap akan datangnya satu hal yang besar dalam hidup saya. Itu adalah sebuah pertanyaan yang bisa diterima. A fair question. Orang yang tidak sabar dan mudah putus asa dalam menantikan datangnya sesuatu yang biasa-biasa saja dan bisa dilihat mata, tentu akan sulit untuk bisa tetap bersemangat dalam mengharapkan kedatangan sesuatu yang sangat berharga yang belum bisa dilihat saat ini. Orang yang tidak bisa berharap akan satu hal yang kecil, tentunya sukar untuk berharap akan satu hal yang besar.

Ayat di atas menjelaskan bahwa sesuatu yang sangat besar dan tidak bisa kita lihat sudah kita terima. Sebagai orang percaya, pengurbanan Kristus di kayu salib sudah memungkinkan kita mendapat pengampunan Allah atas dosa-dosa kita. Kita sudah menerima keselamatan dari Tuhan. Walaupun demikian, selama hidup di dunia, keselamatan itu belumlah kita lihat. Kita sudah mendapatkan keselamatan, tetapi kita masih mengharapkan saat yang indah dimana kita bisa bersama Yesus di surga. Kita masih mengharapkannya, tetapi kita tidak akan dikecewakan karena Yesus sudah menggenapi tugas penyelamatanNya. Dengan demikian kita yakin bahwa apa yang terbesar yang menjadi harapan iman kita, akan terjadi pada waktunya. Kita tidak perlu merasa kuatir kalau-kalau itu tidak terjadi, atau kalau itu ternyata bukanlah sesuatu yang istimewa. Jika Yesus sudah mati untuk memberi kita harapan, harapan itu tentu sangat berharga dan pasti terjadi. Dengan itu, selama hidup di dunia kita akan menantikan hal itu dengan tekun dan sabar.

Bagaimana perasaan kita jika pengharapan kita akan satu hal yang terbesar dalam hidup kita ternyata tidak sia-sia? Tentunya dengan jaminan keselamatan kita, apa pun yang terjadi di sekeliling kita saat ini tidak akan mempengaruhi sukacita kita. Jika kita bisa berharap dalam hal yang besar, seharusnya kita lebih mudah untuk bisa berharap akan hal-hal yang lebih kecil. Dalam hidup kita memang kita melihat adanya berbagai masalah dan kita berharap untuk bisa mengatasinya. Tetapi, semua itu tidaklah sebanding dengan apa yang belum dapat kita lihat, tetapi sudah kita terima yaitu keselamatan Ilahi. Dengan demikian, mengapa kita harus putus asa dalam menghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan yang ada dalam hidup kita sekarang ini? Tuhan yang sudah memberikan apa yang terbesar, tentunya sanggup untuk memberi kita apa yang baik untuk kita, sesuai dengan kebijaksanaanNya. Dalam penantian, apa yang perlu kita lakukan hanyalah bertekun dalam iman.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Yakinkah Tuhan beserta anda?

“Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” 1 Yohanes 3: 24

See the source image

Di antara banyak bentuk ucapan selamat tinggal, doa restu dan harapan untuk sukses yang disampaikan antara dua teman atau kolega, ucapan “semoga Tuhan menyertai anda” dan “semoga Tuhan memberkati anda” adalah dua ucapan yang sering ditemui. Ucapan ini, jika benar-benar diyakini, tentunya bersumber dari maksud baik orang yang menyampaikan. Bagi mereka yang menerima doa restu seperti ini, tentunya ucapan ini bukan saja enak didengar tetapi juga merupakan harapan mereka sendiri. Itu jika mereka percaya adanya Tuhan.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, mendapat penyertaan dan berkat dariNya sudah tentu adalah baik. Tetapi, apakah mereka yang mendengar doa restu ini benar-benar percaya dan merasa bahwa Tuhan menyertai dan memberkati mereka? Sebagian orang mungkin berharap demikian, tetapi sebagian lagi mungkin tidak yakin. Jika demikian, adakah orang yang benar-benar yakin bahwa Tuhan menyertai dia?

Ayat pembukaan diatas menunjukkan satu “syarat” agar orang bisa yakin bahwa Tuhan menyertai dia. Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Jika seseorang hidup menurut firman Tuhan, ia akan bisa yakin bahwa Tuhan menyertainya, karena orang itu dan Tuhan ada dalam satu persekutuan yang kuat. Karena itu, jika kita selalu hidup menurut perintahNya, kita boleh yakin bahwa Tuhan berserta kita. Kita yakin bahwa Ia akan melindungi dan membimbing kita dalam perjuangan hidup kita.

“…Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Hal penyertaan Tuhan di atas lebih mudah untuk dibaca daripada untuk diyakini. Dalam hidup yang saat ini penuh dengan masalah, siapakah yang bisa menyakinkan kita bahwa Tuhan beserta kita? Tidak ada seorang pun yang bisa, baik orangtua, guru, pemimpin atau pendeta. Hanya Roh Kuduslah yang bisa.

Ayat pembukaan kita  menyatakan bahwa kita  dapat mengetahui bahwa Tuhan beserta kita dan ada di dalam kita, jika Roh Kudus yang telah Ia karuniakan kepada kita secara aktif bekerja dalam hidup kita. Roh Kudus adalah Roh Penghibur dan Tuhan sendiri yang sudah datang kedalam diri setiap orang percaya, yang membawa keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai umatNya dimana pun mereka berada. Roh Kudus akan bekerja dengan giat jika  umat Tuhan hidup sesuai dengan firmanNya. Sebaliknya, umat Tuhan bisa mendukakan Roh Kudus jika mereka sering memikirkan, mengatakan dan melakukan apa yang kotor, yang sia-sa, dan yang jahat, serta membiarkan hidup mereka dikuasai oleh kemarahan dan kepahitan (Efesus 4: 30 -31). Dengan demikian, manusia yang sering mendukakan Roh Kudus akan mudah untuk meragukan penyertaan Tuhan. Hidup yang sedemikian tidak akan mempunyai keyakinan bahwa Tuhan ada dan mau menyertainya. Bagaimana dengan hidup dan keyakinan anda?

Hidup kita bagaikan emas

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya.” 1 Petrus 1: 6 – 7

See the source image

Barangkali anda masih ingat akan sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris  “Life is not meant to be easy” yang berarti “Hidup tidak dimaksudkan untuk mudah”. Ungkapan ini pertama kalinya dipakai oleh George Bernard Shaw (1856-1950), seorang penulis cerita sandiwara dari Irlandia yang mendapat hadiah Nobel dalam Sastra pada tahun 1925. Sebenarnya, apa yang ditulisnya berbunyi ““Life is not meant to be easy, my child; but take courage: it can be delightful”, yang artinya “Hidup ini tidak dimaksudkan untuk menjadi mudah, anakku, tetapi jangan takut: itu bisa menjadi sesuatu yang bisa dinikmati”. Ungkapan ini seringkali dianggap sebagai tanggapan manusia atas keadaan yang kurang baik yang mau tidak mau harus dihadapinya.

Adalah menarik bahwa seorang perdana menteri Australia, Malcolm Fraser (1930 – 2015), pernah menyebutkan umgkapan yang serupa tetapi dengan maksud yang berbeda. Ia berpendapat bahwa dalam hidup ini orang tidak perlu mencari jalan yang mudah untuk memperoleh apa yang baik. Dengan demikian kemudahan bukanlah sesuatu yang baik. Betulkah?

Pada saat ini keadaan perekonomian dunia sudah menjadi kacau balau karena dampak COVID-19. Wabah belum lagi selesai, tetapi jutaan orang sudah kehilangan pekerjaan dan harus bergantung pada bantuan sosial dan tunjangan pemerintah, itu pun jika ada. Bagi mereka yang tidak mempunyai uang tabungan dan tidak bisa mendapat bantuan sosial, masa depan yang suram sudah tentu bisa dibayangkan. Bagaimana mereka bisa bertahan jika kekacauan ini berlangsung untuk waktu yang lama?

Bagi mereka yang sangat menderita, ungkapan “Life is not meant to be easy” tidak akan berguna untuk menambah semangat berjuang. Setiap orang pada saat yang kritis tentunya ingin untuk bisa survive dengan cara apa saja. Hidup ini sudah berat dan karena itu tidak ada orang yang ingin mencari tantangan hidup yang lebih besar. Siapakah yang mau menderita lebih banyak dan berharap untuk bisa mendapatkan apa yang menyenangkan?

Penderitaan seseorang memang sering terasa sangat berat dan tidak mempunyai makna selain menambah kesusahan dan rasa putus asa. Memang kalau hidup ini hanya sekali saja dan itu sering terisi duka cita, bagaimana ia bisa berharap akan masa depan? Dalam penderitaan waktu berlalu sangat lambat. Itu karena adanya pikiran bahwa semua penderitaan dan masalah hidup adalah kesia-siaan. Tidak ada kebahagiaan dalam penderitaan yang dialami manusia, dan semua penderitaan agaknya membawa kehancuran hidup manusia. Itu benar jika hidup manusia hanya hidup secara jasmani di dunia ini.

Ayat di atas menyatakan bahwa untuk orang percaya, harapan akan kebahagiaan tidak harus dipenuhi secara jasmani di dunia ini. Sebaliknya, selagi hidup di dunia yang fana ini kita seringkali berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Semua itu tidak sia-sia karena dengan  adanya masalah dan dukacita, kemurnian iman kita akan terlihat. Jika emas di dunia ini dimurnikan dengan api, iman kita yang jauh lebih berharga dari emas, diuji dengan berbagai halangan, masalah dan penderitaan sehingga iman itu justru bisa tumbuh makin kuat.

Dengan adanya berbagai kesulitan hidup, kita akan bisa menghilangkan rasa angkuh dan tidak peduli akan Tuhan dan sesama kita. Dengan adanya berbagai masalah hidup, kita bisa kembali bergantung sepenuhnya kepada bimbingan Tuhan dan mau merendahkan diri kita di hadapan tahtaNya. Dengan adanya penderitaan dalam hidup kita, kita juga akan lebih bisa merasakan penderitaan orang lain dan mau menolong mereka yang lebih menderita.  Dengan demikian, dalam menghadapi berbagai tantangan hidup kerohanian kita makin lama akan menjadi makin baik dan makin menyerupai apa yang sudah diperlihatkan Yesus kepada kita. Oleh karena itu, harapan kita akan masa depan juga akan makin besar, yaitu harapan akan puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya. Tetaplah teguh dalam iman!

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Ayub 23:10

Menurut adalah lebih baik dari memberi persembahan

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” 1 Samuel 15: 22

See the source image

Tidak dapat disangsikan bahwa wabah COVID-19 sudah membuat kacau kehidupan manusia di seluruh penjuru dunia. Dengan adanya pembatasan sosial, orang tidak dapat melakukan aktivitas rutinnya karena berbagai kantor, pabrik, sekolah, universitas dan bahkan gereja yang tidak dapat berfungsi seperti biasa.  Keadaan ekonomi pun menjadi sangat buruk karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan, dan oleh sebab itu pemerintah harus melakukan berbagai tindakan untuk menolong mereka yang kehilangan mata pencahariannya, dan juga membantu pemilik perusahaan yang kegiatannya harus dihentikan untuk sementara waktu.

Di Australia, saat ini bukan hanya perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Universitas juga mengalami krisis luar biasa karena jumlah murid untuk semester yang akan datang pasti akan berkurang, terutama murid yang datang dari luar negeri. Berbagai badan sosial juga mengalami hal yang serupa, karena makin berkurangnya orang yang bisa menyumbang dan makin banyaknya orang yang memerlukan bantuan. Gereja dalam hal ini mengalami penyusutan uang masuk karena  kebaktian yang sekarang diganti dengan siaran online melalui internet membuat banyak jemaat tidak bisa mempersembahkan uang kolekte seperti biasanya. Dalam hal ini, jemaat yang setia tentunya tetap merasakan dorongan untuk mempersembahkan apa yang sudah biasa dilakukan setiap minggu selagi kebaktian di gereja masih ada.

Membawa pesembahan untuk Tuhan bagi umat Kristen adalah suatu keharusan yang timbul dari diri sendiri. Persembahan haruslah dilakukan dengan sukarela dan bukan dengan perasaan duka atau terpaksa. Persembahan kepada Tuhan sudah dilakukan manusia sejak awalnya, dan itu kita bisa baca di kitab Kejadian 4: 3 – 4 ketika Kain dan Habel mempersembahkan sebagian dari hasil kerja mereka, sebagai tanda ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan. Sebagai umat Kristen kita tahu bahwa apa pun persembahan kita, itu sebenarnya berasal dari Tuhan. Segala sesuatu adalah milik Tuhan, dan persembahan kita adalah sebagai pernyataan kasih kita kepadaNya.

Apakah persembahan yang paling disukai Tuhan? Dari kisah Kain dan Habel, mungkin sebagian orang merasa bahwa Tuhan tidak menyukai sayur-mayur dan buah-buahan seperti yang sudah dipersembahkan oleh Kain. Tetapi Tuhan mungkin Ia lebih menyukai korban persembahan yang berupa daging berlemak yang berasal dari anak kambing atau domba yang sulung, seperti yang sudah dipersembahkan Habel. Pendapat sedemikian adalah kurang benar, karena persembahan daging adalah berhubungan dengan kebiasaan saat itu yang diteruskan turun-temurun di antara umat Israel. Persembahan yang disukai Tuhan adalah persembahan dari hati yang tulus dan bersyukur kepadaNya.

Dalam Perjanjian Baru kita mengerti bahwa bukanlah apa yang kita bawa ke gereja adalah yang penting, namun diri kita sendiri yang dipersembahkan kepada Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Persembahan materi kepada Tuhan memang bisa dipakai untuk menyatakan kasih dan rasa syukur kita kepadaNya, tetapi tidak ada yang lebih disukai Tuhan daripada penyerahan hidup kita kepadaNya.

Ayat pembukaan kita adalah ucapan Samuel kepada Saul yang bermaksud mempersembahkan sebagian hewan jarahan dari orang Amalek sebagai korban bakaran kepada Tuhan. Samuel menegur Saul karena Tuhan sebelumnya sudah memerintahkan Saul untuk memusnahkan bangsa Amalek dan seluruh ternak mereka, tetapi Saul membiarkan tentaranya untuk membawa pulang hewan peliharaan orang Amalek. Samuel berkata bahwa Tuhan membuat perbedaan yang besar antara korban persembahan dan mendengarkan suaraNya.  Bagi Tuhan, mendengarkan perintahNya adalah lebih baik dari pada korban sembelihan.

Bagi kita di zaman ini, hal menurut perintah Tuhan adalah lebih penting daripada hal mempersembahkan materi. Jika kita hidup dengan menurut perintahNya, kita adalah orang yang mempersembahkan hidup kita. Bagi Tuhan manusia ciptaanNya adalah lebih berharga dari makhluk atau benda apa pun di dunia. Karena itu Ia mengharapkan persembahan hidup manusia yang kudus dan berkenan kepadaNya. Jika kita mau hidup sesuai dengan perintahNya, Ia akan menunjukkan kemurahanNya dalam hidup kita sehingga kita akan bisa mempersembahkan hal-hal lain yang sudah kita terima sebagai berkatNya sebagai ucapan syukur kita.

 

Kuatkan dan teguhkan hatimu

“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, kemana pun engkau pergi.” Yosua 1: 9

Fruit in the Bible - Biblical Archaeology Society

Yosua adalah nama anak laki-laki yang berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “Tuhan adalah keselamatanku”. Di Indonesia, banyak orang memakai nama yang serupa yaitu Yusak yang sebenarnya berasal dari bahasa Arab Yūsha. Joshua berasal dari nama Ibrani Yehoshu’a, dari akar kata yeho, mengacu pada Tuhan, dan yasha ’, yang berarti “untuk menyelamatkan ‘. Yosua berbagi asal-usul dengan nama Yesus, yang berasal dari variasi bahasa Aram Yeshu’a. Seorang tokoh penting dalam Perjanjian Lama, Yosua bin Nun adalah penerus Musa yang akhirnya memimpin bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, Kanaan. Nama Yosua yang sebenarnya adalah Hosea bin Nun dari suku Efraim, tetapi Musa memanggilnya Yehoshu’a (Yosua) seperti yang tertulis di kitab Bilangan 13:16. Yosua dilahirkan di Mesir sebelum bangsa Israel ke luar dari tanah Mesir, dan meninggal pada usia 110 tahun di Kanaan (Yosua 24: 29).

Alkisah, bangsa Israel pada saat itu sampai ke padang gurun Paran, yang berbatasan dengan tanah Kanaan. Tuhan menyuruh Musa mengirim 12 orang pengintai, satu orang dari masing-masing suku Israel, untuk mengintai tanah Kanaan, yang akan diberikan Tuhan kepada orang Israel. Dari suku Efraim dipilih Hosea bin Nun. Sesudah lewat 40 hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu, dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu. Tetapi mereka juga menjelaskan bahwa penghuni tanah itu adalah orang-orang yang kuat dan tinggi besar.

Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri Kanaan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.” (Bilangan 14: 7 -9). Tetapi, mendengar ucapan mereka, orang Israel lainnya mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu.

Sebagai  kepala-kepala suku, Yosua dan Kaleb mungkin bisa kita bayangkan sebagai orang-orang yang sudah sepantasnya tegas dan berani. Bukan saja mereka berani melakukan pengintaian, mereka juga berani untuk mengajak bani Israel untuk maju terus menuju Tanah Perjanjian sekalipun itu bisa membahayakan jiwa mereka. Tetapi, sebenarnya mereka tidaklah berbeda dengan banyak pemimpin suku yang lain. Secara manusiawi, mereka pasti bisa membayangkan bahwa adalah sulit bagi bangsa Israel untuk menang melawan orang Kanaan. Secara manusia, mereka tentunya takut akan ancaman masa. Walaupun demikian, secara rohani mereka adalah orang-orang yang berbeda dari orang yang lain. Rahasia keberanian Yosua dan Kaleb adalah kepercayaannya kepada Tuhan. Karena itu Tuhan melindungi mereka sampai mereka berhasil memasuki tanah Kanaan.

Pagi ini, banyak orang di dunia yang merasakan bahwa perjalanan hidup mereka sudah mencapai saat kritis. Untuk menghadapi hari depan terasa begitu berat karena adanya berbagai ancaman dan masalah. Untuk mundur ke masa lalu bukanlah satu hal yang mungkin, karena itu hanya membawa rasa sesal. Satu-satunya kemungkinan hanyalah tetap menghadapi masa depan dan maju terus. Tetapi, masa depan kita adalah seperti tanah Kanaan yang dihuni oleh raksasa-raksasa. Secara manusiawi kita layak merasa kuatir dan takut, apalagi ada banyak orang yang tidak bisa atau mau mendukung semangat kita. Kita merasa sendiri karena tidak banyak orang di sekitar kita yang percaya bahwa Tuhan akan menyertai orang yang taat kepadaNya. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memerintahkan Yosua untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya. Seperti Yosua, sebagai orang percaya kita tidak perlu untuk kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allah kita akan menyertai kita, kemana pun kita pergi. Kita adalah Yosua karena kita percaya bahwa Tuhan adalah keselamatan kita.

Jangan ragukan Tuhan

Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lukas 24: 36 – 38

See the source image

Bagi banyak orang munculnya kasus COVID-19 adalah sebuah kejutan. Sebenarnya, kasus ini untuk pertama kalinya muncul di akhir tahun 2019, ketika sebuah penyakit misterius dilaporkan di Wuhan, China. Penyebab penyakit ini segera dikonfirmasi sebagai jenis baru coronavirus (SARS-Cov-2) yang sejak itu menyebar ke banyak negara di seluruh dunia. Pandemi virus ini dipastikan telah mencapai Australia pada 25 Januari 2020 di propinsi Victoria, ketika seorang pria yang kembali dari Wuhan, dinyatakan positif. Sejak itu, pemerintah Australia memulai persiapan untuk menghadapi datangnya pandemi. Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO sudah mendeklarasikan wabah ini sebagai ancaman kesehatan masyarakat internasional; tetapi Direktur Jenderal WHO baru menetapkan COVID-19 sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. Sebagai akibatnya, perbatasan Australia ditutup untuk semua orang yang bukan penduduk  mulai tanggal 20 Maret 2020.

Adanya kejutan yang datang dalam hidup manusia sebenarnya tidak harus diterima sebagai hal yang luar biasa. Adalah normal jika apa yang tidak disangka muncul pada suatu saat. Walaupun demikian, apa yang tidak disangka dan bisa membuat kejutan besar adalah munculnya hal-hal signifikan yang tidak diinginkan, yang membuat orang kelabakan. Selain itu, kejutan mungkin terjadi jika sesuatu yang menakutkan atau mengerikan muncul dengan tiba-tiba di depan mata. Mereka yang terkejut bisa saja mengalami kelumpuhan atau merasa lemah, setidaknya untuk sementara, karena tidak mengerti apa yang sudah terjadi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pada pihak yang lain, kejutan belum tentu merupakan hal yang buruk, karena kabar baik yang datang secara tiba-tiba juga bisa membuat orang kaget, tidak percaya dan kehilangan akal sehat.

Pada saat itu murid-murid Yesus sedang berkumpul dan bercakap-cakap tentang Yesus yang sudah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon. Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” . Sekalipun mereka mendengar bahwa Yesus sudah bangkit, para murid ternyata tidak yakin akan hal itu. Sekalipun apa yang terjadi adalah sesuatu yang baik, mereka tetap terkejut. Bagaimana manusia bisa bangkit setelah dikubur tiga hari?  Tidaklah mengherankan bahwa mereka terkejut dan takut, dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Manusia biasa tidak dapat bangkit dari kematian dan tidak dapat muncul dengan tiba-tiba tanpa melalui pintu masuk. Mereka dapat melihat adanya Yesus tetapi ragu-ragu apakah itu benar-benar  Dia. Karena itu Yesus berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? “.

Mengapa kita harus terkejut melihat datangnya kekacauan di dunia? Mengapa kita terkejut jika ada hal yang tidak disangka datang? Dan mengapa pula kita harus terkejut jika kita diingatkan bahwa Tuhan yang mahahadir tentunya ada di tengah badai kehidupan kita? Perasaan dan pikiran kita mungkin kurang bisa menerima bahwa kekacauan yang terjadi di dunia saat ini tidaklah lepas dari pandangan mata Tuhan. Tuhan tidak mungkin ada ditengah malapetaka yang sudah membuat kita terkejut dan takut. Jika Tuhan memang ada, tentunya semua bencana ini tidak akan  terjadi, begitu mungkin pikir banyak orang.

Walaupun demikian, seperti apa yang terjadi pada murid-murid Yesus, Tuhan yang tidak pernah kehilangan kontrol atas keadaan dunia ini pada waktunya bisa membuat kita heran dengan apa yang diperbuatNya. Jika kita ragu-ragu bahwa Ia ada dimana-mana dan Ia mahakuasa dan mahakasih, adalah sulit bagi kita untuk mengharapkan munculnya Tuhan.  Sebaliknya, jika kita yakin bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, kita akan mempunyai keyakinan bahwa pada saat yang tepat Ia akan muncul dan menyatakan kuasa pertolonganNya. Jangan takut, jangan ragu-ragu dan jangan sampai terkejut jika Ia bertindak! Damai sejahtera pasti datang bagi orang yang percaya!

 

Pengalaman manakah yang membawa pengertian?

“Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” Markus 6: 51 – 52

See the source image

Apakah pengalaman adalah guru yang terbaik? Banyak orang yang berkata begitu. Tetapi, jika pengalaman adalah sesuatu yang berguna, dalam kenyataannya tidak semua orang mau atau bisa belajar darinya. Mereka yang keras kepala misalnya, tidak mau gampang-gampang menyerah dengan adanya hasil yang kurang baik dari usahanya, dan karena itu ingin terus mencoba usaha yang sama dengan harapan bahwa lain kali hasilnya akan lebih baik. Selain itu, ada orang yang tidak bisa mengerti bahwa apa yang sudah pernah dilakukannya dan gagal adalah sesuatu yang kurang baik, dan karena itu ia tetap ingin melakukannya. Mereka yang tidak mau atau tidak bisa belajar dari pengalaman adalah orang-orang yang tidak bijaksana.

Pada pihak yang lain, pengalaman yang dialami seseorang belum tentu bisa dipakai sebagai pedoman untuk masa depan. Pengalaman seseorang yang bersangkutan dengan hubungannya dengan orang lain atau situasi tertentu memang bisa memberi pelajaran berharga, tetapi belum tentu bisa dipakai untuk mengatasi persoalan yang serupa di masa depan. Itu karena keadaan bisa berubah: orang dan situasi yang dihadapi di masa depan mungkin saja berbeda dan itu memerlukan pendekatan yang berbeda. Pengalaman memang memberi pengetahuan empiris, tetapi itu belum tentu bisa dipakai untuk masa depan karena apa yang ada dan terjadi di dunia selalu berubah-ubah.

Pada waktu itu, murid-murid Yesus baru saja menyaksikan suatu mukjizat dimana Yesus memberi makan lima ribu orang dengan modal lima roti dan dua ikan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia di dunia, tetapi Yesus sudah memungkinkannya. Apa yang dipikirkan murid-murid Yesus ketika itu? Tentunya mereka heran dan takjub melihat bagaimana Guru mereka bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa terjadi dalam alam mimpi. Pengalaman yang luar biasa itu tentunya membekas dalam pikiran dan hati mereka. Jika mereka mau dan bisa belajar dari pengalaman mereka, tentu mereka akan berubah menjadi orang yang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Yesus. Sekalipun dalam penampilannya Yesus terlihat lemah lembut dan sederhana, Yesus adalah orang yang luar biasa dan tidak ada tandingnya.

Tidak setiap orang mau dan bisa belajar dari pengalaman. Murid-murid Yesus ternyata tergolong kedalam jenis orang yang sedemikian. Mereka adalah orang yang tidak bijaksana. Karena itu, ketika mereka kemudian berperahu dan ditimpa angin badai, mereka menjadi takut. Mereka sudah lupa bahwa Yesus yang baru saja memberi makan lima ribu orang itu tentunya bukan manusia biasa. Pengalaman luar biasa yang dialami mereka sebelumnya ternyata tidak ada gunanya.

Kita yang percaya bahwa pengalaman belum tentu merupakan guru yang terbaik karena semua itu bersifat empiris dan hanya berlaku untuk keadaan waktu itu, mungkin ingin membela murid-murid Yesus. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa Yesus bisa berjalan di atas air dan menenangkan angin badai? Memang benar Yesus sudah membuat mukjizat dengan lima roti dan dua ikan, tetapi apakah Yesus bisa membuat keajaiban yang menundukkan hukum alam? Yesus tidak akan bisa berjalan di atas air dan menghentikan topan! Begitu pikir mereka.

Dalam kehidupan kita, mungkin kita tahu batas-batas dimana pengalaman kita yang lalu bisa berguna untuk menghadapi masalah di hari depan. Kita mungkin bisa mengekstrapolasi apa yang kita alami pada masa yang lalu untuk bisa diterapkan di masa depan. Tetapi, kita mungkin tahu bahwa situasi yang berbeda di masa depan membuat kita tidak bisa memegang pengalaman kita sebagai guru yang terbaik. Keterbatasan manusia dan perbedaan situasi seringkali membuat kita meragukan manfaat pengalaman kita. Itu bisa dimengerti, kecuali untuk satu pengalaman. Pengalaman yang kita alami dalam hidup karena campur tangan Tuhan tidak boleh diabaikan karena Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang tidak bisa dikalahkan oleh situasi dunia dan keterbatasan manusia. Jika Tuhan mampu melakukannya pada waktu yang silam, Ia juga dapat melakukannya di masa depan jika Ia menghendakinya.

Pagi ini, adakah kemasygulan di hati kita karena adanya banyak masalah di sekeliling kita? Adakah kekuatiran dan ketakutan karena bahaya yang muncul di mana-mana? Pengalaman hidup kita mungkin mencoba meyakinkan kita untuk tidak kuatir, tetapi pikiran kita tidak dapat meyakini bahwa Tuhan akan dapat menolong kita. Seperti murid-murid Yesus yang sudah melihat satu mukjizat besar tetapi tetap tidak sadar siapakah Yesus itu, kita mungkin tidak mengerti bahwa manusia dan situasi dunia yang berubah-ubah tidak dapat mengubah kasih dan kuasa Tuhan. Biarlah pengalaman kita yang lalu dimana Yesus dengan kasihNya menebus kita dan membawa kita ke jalan keselamatan, bisa meyakinkan kita bahwa Ia juga akan membimbing kita melalui jalan yang berat saat ini untuk menuju kemenangan dan kedamaian!