Menghadapi tantangan hidup

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17: 45

Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di  lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat. Raja Saul, sekalipun tinggi besar untuk zaman itu, hanya sekitar 1.80 meter tingginya dan tidak sebanding dengan Goliat yang tingginya hampir 3 meter.

Kisah kemenangan Daud atas Goliat ini sangatlah terkenal sehingga sudah ada beberapa film yang pernah dibuat, dan yang terakhir diproduksi pada  tahun 2016.  Film ini dibuat di Afrika utara dan London, dan sempat muncul di beberapa bioskop Indonesia. Dalam film epik ini, Goliat diperankan oleh aktor Michael Foster yang tingginya ‘hanya’ 1.88 meter.

Daud yang muda belia dan bertubuh kecil dari bani Israel pada saat itu mengunjungi medan perang. Ia mengajukan diri untuk menjadi lawan Goliat. Walaupun semua orang mencemoohkan dia, Daud akhirnya maju menghadapi Goliat dan berhasil membunuh pendekar Filistin itu dalam beberapa detik saja. Karena kematian Goliat, tentara Filistin menjadi hancur keberaniannya dan dikalahkan oleh tentara Israel dengan mudah.

Dua hal yang menarik perhatian adalah, yang pertama, kemauan dan keberanian Daud yang untuk ukuran manusia tidaklah masuk diakal. Yang kedua adalah kemenangan Daud atas Goliat dan kemenangan tentara Israel atas tentara Filistin yang menurut akal sehat tidaklah mudah untuk bisa dimengerti. Mengapa hal yang diluar dugaan bisa terjadi untuk membawa kemenangan bagi bangsa Israel? Bukankah lebih mudah bagi Tuhan untuk membiarkan orang Israel mengalahkan orang Filistin melalui perang yang biasa, yang konvensional?

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kisah diatas:

Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang Mahakuasa yang kepadaNya kita boleh serahkan segala masalah kita. Kemenangan Daud yang di luar dugaan menjadi kemenangan bani Israel karena Tuhan sendirilah yang menghadapi Goliat dan orang Filistin. Demikian juga, Tuhanlah yang akan mengalahkan persoalan-persoalan kita jika kita mau bersandar kepada Dia.

Tuhan mengundang setiap umatNya untuk menjadi seperti Daud yang mempunyai rasa hormat, ketaatan dan iman kepadaNya. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, Ialah yang bisa melakukan hal-hal yang ajaib, yang tidak dapat kita mengerti, untuk kebaikan kita di masa depan.

Tuhan yang Mahabijaksana adalah Tuhan yang mempunyai rencana untuk hidup seluruh manusia dan bahkan alam semesta. Apa yang terjadi dalam hidup kita berjalan sesuai dengan kehendakNya dan terjadi pada waktu yang ditetapkanNya. Hidup kita akan jauh lebih ringan jika kita mau berserah kepadaNya.

Pagi ini, keadaan di sekitar kita mungkin terasa seperti apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Berbagai masalah saat ini sedang dihadapi dunia karena adanya pandemi COVID-19.  Kita sendiri mungkin mempunyai banyak masalah, tetapi kita harus bersedia menjadi seperti Daud ketika menghadapi Goliat. Tuhan yang sudah melindungi kita sampai saat ini, adalah Tuhan yang akan menyertai kita di masa mendatang!

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Perpisahan yang membawa sukacita

“Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.” Lukas 24: 51-53

Pernahkah anda mengalami saat perpisahan dengan seorang teman baik atau kerabat? Bagaimana perasaan anda ketika harus mengatakan “selamat jalan” atau “goodbye” untuk perpisahan yang cukup lama? Tergantung pada situasi dan kondisi, perpisahan dengan orang yang akrab bisa menimbulkan rasa sedih, cemas, atau rasa kosong sekalipun itu untuk tujuan baik. Bagaimana tidak? Mereka yang dekat dengan kita adalah orang-orang yang merupakan bagian kehidupan kita. Dengan kepergian mereka, sebagian hidup kita terasa ikut hilang.

Teringat ketika saya harus meninggalkan keluarga pada tahun 1980an ketika saya berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Rasa sedih dengan demikian tentunya ada dalam hati mereka dan hati saya juga. Walaupun demikian, kesedihan kami tidaklah terasa terlalu berat. Mengapa demikian? Bagi orangtua dan sanak, perpisahan  bisa diterima karena mereka berharap agar saya bisa mempunyai masa depan yang lebih cerah. Bagaimana dengan saya sendiri? Selain berharap untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, pikiran saya terbuai oleh bayangan tentang hidup di luar negeri. Tidakkah saya kuatir akan sulitnya untuk berkomunikasi dengan mereka? Tidak! Walaupun waktu itu belum ada internet, saya tahu bahwa mereka akan rajin membalas surat-surat saya.

Ayat di atas menggambarkan saat dimana Yesus akan meninggalkan murid-muridNya. Dalam keadaan biasa, perpisahan seperti itu tentunya membawa kesedihan yang luar biasa. Yesus tidak akan dapat mereka jumpai sesudah itu! Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Yesus sudah terangkat ke sorga; para murid pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mengapa demikian? Yesus pernah berkata bahwa Ia pergi ke surga untuk menyediakan tempat bagi murid-muridNya. Pada saatnya, Ia akan datang kembali dan membawa mereka ke surga. Tuhan Yesus juga berkata bahwa di rumah BapaNya ada banyak tempat tinggal. Dengan demikian, murid-murid Yesus tidak berduka cita karena Yesus meninggalkan mereka, sekalipun mereka tahu bahwa hidup di dunia akan penuh dengan tantangan dan marabahaya.

Memang seringkali perpisahan harus terjadi demi tercapainya suatu rencana yang baik. Perpisahan belum tentu untuk selamanya, dan perpisahan tidaklah harus bersifat total. Dalam hal ini, Yesus sudah menjanjikan masa depan yang baik bagi setiap umatNya dan juga datangnya seorang Penolong yaitu Roh Kudus. Dengan demikian, pikiran para murid bisa diisi dengan rasa sukacita karena kenaikan Yesus ke surga adalah bukti bahwa Ia yang sudah mengalahkan maut adalah Tuhan yang mahakasih yang mau memberikan masa depan yang baik untuk umatNya. Yesus tidak akan memutus komunikasi dengan umatNya yang masih di dunia karena melalui RohNya, Ia tetap bisa membimbing mereka ke arah kebenaran sampai saatnya dimana mereka dapat berjumpa lagi  dengan Dia muka dengan muka.

Saat ini, adakah perasaan sedih dalam hati anda bahwa Tuhan adalah jauh di sana? Tidak dapatkah anda merasakan sukacita bahwa Yesus tidak lagi ada di bumi? Ia yang sudah naik ke surga adalah Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. Dengan naiknya Yesus ke surga, Ia justru membuat mata melihat kuasa dan kasihNya. Ia sudah mempersiapkan tempat bagi kita di surga, dan Ia juga yang menguatkan dan membimbing kita selagi masih hidup di dunia. Yesus tidak meninggalkan kita, karena RohNya ada dalam hidup kita. Sekalipun hidup kita saat ini penuh dengan tantangan, pada akhirnya iman kita akan memperoleh sukacita karena kita akan menerima mahkota kehidupan dariNya.

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus 1: 12

Pengalaman bisa menjadi guru yang terbaik

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Filipi 4: 12

Semua orang tentu pernah mendengar ungkapan “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Memang melalui pengalaman, orang mempelajari apa yang dialaminya dan kemudian mengambil pelajaran darinya, agar bisa menggunakan kesimpulan yang diambilnya untuk digunakan dalam menghadapi hal yang serupa di masa depan. Inilah metode empiris, yang mungkin cukup efektif untuk menyelesaikan persoalan tertentu, tetapi bisa saja keliru jika keadaan sudah berubah. Pengalaman memang belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Pengalaman bisa saja sesuatu yang pahit atau sesuatu yang manis. Mungkin orang ingin mengingat apa yang manis, dan melupakan apa yang pahit. Tetapi itu tidak mudah, karena apa yang manis mudah dilupakan, sedangkan apa yang pahit sering terbayang-bayang. Dengan demikian, banyaklah orang yang menghadapi hari depan dengan berbekal pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Tidaklah mengherankan, banyak orang yang menghadapi hari depan dengan rasa sesal, takut, marah atau kecewa yang berasal dari pengalaman masa lalu.

Pengalaman apakah yang pernah anda rasakan sebagai orang Kristen? Ada orang yang percaya bahwa orang yang berjalan di jalan yang benar selalu akan menerima berkat dari Tuhan yang mahakaya. Jika mereka pernah menerima berkat di masa lalu, mereka yakin bahwa berkat yang lebih besar akan datang di masa depan. Itu karena Allah adalah Tuhan yang mahakaya, yang memberkati mereka yang mempunyai iman yang kuat dan mengasihiNya. Pengalaman mereka adalah buktinya dan bisa menjadi bahan kesaksian yang dikagumi orang lain.

Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen belum tentu selalu nyaman dan indah. Paulus menulis dalam ayat di atas bahwa ia pernah mengalami baik kekurangan maupun kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada hal yang baru atau asing bagi Paulus. Ia pernah merasa kenyang dan juga lapar; ia pernah hidup dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan. Bagi Paulus, semua pengalaman itu adalah berharga. Mengapa demikian?

Bagi Paulus, semua pengalaman yang pernah dihadapinya bisa menjadi guru yang terbaik untuk menghadapi masa depan. Dalam hal ini, bukanlah tindakan yang dilakukannya di masa lalu yang bisa dijadikan pegangan untuk masa depan, tetapi penyertaan Tuhan dalam setiap keadaan yang dialaminya memberi keyakinan bahwa Tuhan akan memberinya kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi masa depan.

Saat ini, pengalaman apa pun yang anda hadapi tidak akan menjadi guru yang terbaik jika anda tidak merasakan adanya Tuhan yang memegang kontrol atas hidup anda. Dengan demikian, maukah anda percaya kepada Dia yang menyertai anda dalam setiap keadaan?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Bertahan dan bersabar

Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga? Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku? Ayub 6: 11-13

Dengan adanya pandemi COVID-19, masa depan berbagai negara menjadi suram. Bukan saja karena banyak rakyat yang sudah menjadi korban virus yang 20 kali lebih menular dari virus flu, tetapi karena juga karena keadaan ekonomi yang sudah menyebabkan jutaan orang yang kehilangan pekerjaan. Di Australia, diperkirakan ada 600 ribu orang yang sudah kehilangan pekerjaan dalam sebulan terakhir. Sekalipun wabah mulai teratasi dan rakyat mulai bisa melakukan perjalanan terbatas dalam negara bagian masing-masing, masih beberapa bulan lagi sebelum rakyat bisa bepergian dengan bebas dalam negeri. Itupun jika gelombang kedua serangan virus tidak terjadi. Keadaan yang seperti ini membuat banyak orang yang mengalami beban pikiran yang berat dan bahkan mengalami depresi karena masa depan yang tidak menentu.

Memang jika ada yang lebih bisa membuat orang gelisah, itu adalah masa depan yang suram. Masa depan yang suram membuat setiap orang menjadi masygul karena merasa bahwa tidak ada yang bisa diperbuatnya. Jika seluruh negara dan bahkan seluruh dunia mengalami pandemi dan resesi, itu terasa sebagai suatu hal yang terlalu besar untuk ditolak atau diperangi seorang manusia. Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Begitulah seruan Ayub yang menghadapi bencana hidupnya, dan mungkin juga seruan kita saat ini. Ini sulit dijawab karena kita yang tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tentunya tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan,  bulan depan atau tahun depan.

Kebimbangan akan masa depan juga terjadi karena kesadaran atas keterbatasan kita. Membayangkan perjuangan berat selama adanya pandemi dan bahkan setelah pandemi berlalu, bisa membuat kita kuatir. Dunia tidak akan kembali kepada keadaan sebelum pandemi, itu kata para pakar sosiologi. Hidup manusia akan berubah karena apa yang sudah terjadi akan mengubah cara berpikir mereka. Apalagi jika vaksin untuk melawan virus ini tidak bisa ditemukan untuk waktu yang lama. Dalam keadaan seperti ini kita mungkin menjerit seperti Ayub: “Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga? Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku?”

Jika orang yang tidak mengenal Tuhan menjadi masygul karena tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan juga karena tidak tahu apakah ia akan sanggup untuk mengatasi tantangan hidupnya, orang yang percaya kepada Tuhan tentunya bisa mempunyai reaksi yang lain. Mereka yang percaya bahwa Tuhan memberikan upahNya untuk mereka yang memiliki hidup suci dan rajin beramal ibadah, selalu berharap bahwa Tuhan akan memberikan apa yang baik di masa depan. Tetapi, dalam keadaan yang tidak menentu ini, orang yang sedemikian tidak bisa merasa yakin apakah mereka akan dapat menjalani hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan dan beramal ibadah. Bagaimana jika hidup di dunia ini menjadi sangat berat? Mungkinkan aku tetap sanggup untuk hidup saleh dan memperoleh belas kasihan Tuhan dan kemudian menerima keselamatan di surga? Untuk menghilangkan rasa kuatir mereka, mereka mungkin berpegang kepada kepercayaan bahwa jika mereka menjadi korban bencana di dunia, mereka akan bisa langsung menuju surga. Suatu bentuk fatalisme yang terselubung.

Dibandingkan dengan orang yang beragama lain, orang Kristen mempunyai pandangan yang berbeda. Mereka percaya bahwa penderitaan apa pun tidak dapat memisahkan mereka dari kasih Kristus. Kristus sudah menebus mereka di kayu salib, karena itu mereka sudah menerima anugerah keselamatan sekarang juga. Mereka tidak perlu membeli keselamatan melalui kurban dan amal ibadah. Mereka tidak bisa membeli kasih Tuhan dengan berbuat baik. Masa depan sesudah menyelesaikan hidup di dunia tidak perlu dipikirkan sekalipun keadaan di dunia ini menjadi sangat berat, itu karena keselamatan jiwa mereka sudah terjamin. Lalu bagaimana dengan masa depan di dunia, selagi mereka masih hidup? Ini bukanlah hal yang sulit dipecahkan. Tuhan yang sanggup memberi anugerah yang terbesar, yaitu anugerah keselamatan, adalah Tuhan yang mahakuasa yang pasti sanggup mengatasi segala sesuatu yang terjadi di dunia dan memberikan apa yang baik yang sesuai dengan kehendakNya. Sekalipun kita lemah secara jasmani, Tuhanlah yang sanggup menguatkan kita dan menolong kita. Tetaplah bertahan dan bersabar untuk pertolonganNya!

Tuhan mengawasi kita dengan kasihNya

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kau maklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kau ketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tanganMu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. Ke mana aku dapat pergi menjauhi rohMu, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu?” Mazmur 139: 1 – 7

Jika anda adalah penggemar musik lembut atau “easy listening” mungkin anda pernah mendengarkan lagu “From a Distance” yang salah satu versinya dinyanyikan oleh Bette Midler. Lagu ini memenangkan hadiah Grammy for Song of the Year pada tahun 1991. Salah satu baitnya berbunyi demikian:

And God is watching us, God is watching us,
God is watching us from a distance.
Oh, God is watching us, God is watching.
God is watching us from a distance.

Dan Tuhan melihat kita, Tuhan melihat kita,
Tuhan melihat kita dari jauh.
Oh, Tuhan melihat kita, Tuhan melihat.
Tuhan melihat kita dari jauh.

Lagu ini adalah salah satu lagu favorit saya, bukan saja karena penyanyinya yang bersuara merdu, tetapi juga karena syairnya yang menarik. Mengapa menarik? Lagu ini bukanlah lagu rohani, tetapi syairnya menyebut-nyebut Tuhan, dan bahkan menyebutkan Tuhan yang melihat dari jauh. Mungkin anda berpikir bahwa syairnya menunjuk kepada Tuhan yang di surga, Tuhan yang mahatahu. Mungkin anda berpikir bahwa lagu ini cocok dengan iman kita.

Kalau kita baca ayat-ayat Alkitab di atas, kelihatannya bunyinya memang mendukung syair lagu Bette Midler. Mazmur di atas memang menyatakan bahwa Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang mahatahu. Tuhan menyelidiki dan mengenal kita, Dia mengetahui, kalau kita duduk atau berdiri, Dia juga mengerti pikiran kita dari jauh. Tetapi Mazmur 139 lebih lanjut menunjuk kepada Tuhan yang mahakuasa dan peduli kepada umatnya. Sebab Tuhan menjaga kita dari belakang dan dari depan dan menaruh tangan perlindunganNya di atas kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang bukan melihat kita dari jauh, tetapi Tuhan yang dekat dengan kita dan peduli atas keadaan kita.

Bagi kita, Tuhan bukan lagi Tuhan yang jauh dari kita. Tuhan hidup dalam diri setiap umatNya. Tubuh kita adalah Bait Allah dan Roh Kudus sudah dianugerahkanNya kepada kita untuk tinggal dalam hati kita.

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? ?” 1 Krorintus 3: 16

Karena Tuhan tinggal di dalam kita, Tuhan tidak melihat kita dari jauh, tetapi Ia menyertai kita kemana pun kita pergi dan di mana pun kita berada. Tuhan tahu segala persoalan dan tantangan hidup kita, Ia juga tahu jika kita mundur dari iman percaya kita. Dalam menghadapi masalah hidup, Ia tidak akan membiarkan kita lari dari hadapanNya. Sebaliknya, Roh Kudus yang bisa melihat apa yang terjadi dalam hidup kita akan menjadi Roh Penolong yang menyertai kita jika kita mengalami penderitaan baik jasmani maupun rohani. Roh juga yang berdoa untuk kita jika kita tidak bisa berdoa.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Saat ini, adakah keraguan anda akan penyertaan Tuhan? Apakah Tuhan terasa sangat jauh dan kurang peduli akan penderitaan anda? Semoga ayat-ayat di atas bisa meyakinkan anda bahwa Tuhan ada beserta dengan anda pada setiap saat. Tuhan bukan melihat kita dari jauh, tetapi Ia menyertai dan menguatkan kita dalam hidup di dunia.

Kebebasan bukan untuk melakukan apa yang bodoh

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1: 1 – 2

Dengan kurva penularan COVID-19 yang mulai melandai di Australia, pemerintah pusat mulai mengurangi keketatan PSBB dan dengan itu pemerintah negara bagian bisa membuka kemungkinan untuk menghidupkan kegiatan masyarakat dan ekonomi setempat. Seiring dengan kelonggaran yang diberikan, masyarakat mulai bisa pergi ke pantai, restoran dan pusat perbelanjaan sekalipun tetap harus menerapkan prinsip-prinsip kesehatan yang perlu. Dalam hal ini, ada saja orang yang kurang mau menaati peraturan setempat dan melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Mengapa dalam hidup ini selalu ada orang-orang yang ceroboh seperti itu? Mungkin mereka ingin merdeka atau bebas untuk melakukan apa yang mereka ingini.

Memang pada hakikatnya, kemerdekaan atau kebebasan adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalah-artikan atau disalah-gunakan. Bagaimana tidak?

  • Manusia menghendaki kebebasan untuk menghasut, menista dan membenci orang lain.
  • Manusia ingin bebas untuk memilih apa yang akan disembahnya.
  • Manusia ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya.
  • Manusia ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum.

Bertalian dengan hal di atas, ayat-ayat dalam Mazmur 1 membagi manusia dalam dua grup: mereka yang memilih untuk tinggal dalam Tuhan (godly people) dan mereka yang mau bebas dari Tuhan (ungodly people).

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan. Jika firman Tuhan melarang, orang yang taat tidak berusaha mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas. Sebaliknya, jika firman Tuhan mengajarkan umat Kristen untuk taat kepada pemerintah, mereka yang ingin bebas selalu mencari jalan untuk bisa melanggar peraturan yang ada.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sebagai kenikmatan. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk mengambil keputusan menurut apa yang disenanginya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan karena bagi mereka orang-orang itu diperbudak oleh peraturan. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh.

Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa kebebasan manusia bukan berarti bebas untuk berbuat dosa. Mereka yang ingin merdeka dari Tuhan justru akan jatuh kedalam bahaya dosa yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain; dosa yang pada akhirnya akan membawa kepada kebinasaan. Kemerdekaan manakah yang kita pilih?

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Iman harus disertai dengan rasa syukur

“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kolose 2: 7

Teringat saya akan masa kecil saya di Surabaya. Ketika itu sekitar tahun 60an, dan saya masih berada di sekolah menengah. Keadaan ekonomi negara pada waktu itu sangat parah dan karena persediaan beras yang tidak cukup, rakyat dianjurkan untuk mengonsumsi nasi jagung dan bulgur. Bagi rakyat jelata, gaji bulanan memang tidak cukup untuk hidup sebulan, dan karena itu banyak orang yang harus hidup dengan cara “gali lubang tutup lubang”, yang artinya hidup dengan cara membayar hutang lama dan membuat hutang baru dari bulan ke bulan.

Satu hal yang masih membawa kesan indah tentang masa itu adalah apa yang diusahakan oleh orangtua saya setiap akhir tahun untuk menyenangkan anak-anak mereka, yaitu dengan berusaha memberikan hadiah Natal, seperti apa yang tentunya juga diusahakan oleh orangtua  dimana saja. Memang, mendekati Natal kekuatiran saja sering timbul: jangan-jangan hadiah Natal itu tidak bakal datang karena tidak adanya dana. Tetapi, apa yang dapat saya lakukan? Saya hanya bisa berharap agar orangtua saya bisa memberi suatu hadiah, sambil berusaha menikmati apa yang sudah saya punyai. Puji Tuhan, seingat saya sekalipun keadaan memang payah saat itu, saya selalu mendapat hadiah Natal bagaimana pun kecilnya.

Jika seorang anak mengharapkan datangnya hadiah Natal dari orangtuanya, mungkin kita mengharapkan berkat dari Bapa kita yang di surga untuk tahun ini. Tetapi, keadaan yang kurang baik saat ini barangkali sudah membuat kita kecil hati: jangan-jangan  kita dan keluarga kita justru akan mengalami berbagai masalah. Apa yang baik yang kita harapkan dari Tuhan mungkin tidak bakal terjadi, dan sebaliknya apa yang buruk dan menyedihkan mungkin tidak bisa kita hindari. Kita bisa tetap berharap akan datangnya pertolongan Tuhan, tetapi semua yang kita lihat sekarang ini seakan menguji iman kita. Akankah Tuhan menolong kita? Dapatkah Dia menolong kita?

Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Kolose. Paulus memperingatkan agar mereka tetap mempunyai hidup yang berakar di dalam Tuhan dan dibangun di atas Dia. Sekali pun keadaan bisa menjadi buruk, Paulus meminta mereka agar bertambah teguh dalam iman yang telah mereka terima, dan supaya hati mereka tetap penuh dengan dengan syukur.  Iman jelas tidak dapat dipisahkan dari rasa syukur. Mengapa demikian?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11: 1). Tidaklah sulit bagi kita untuk mengerti bahwa jika kita bisa melihat dan menentukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, kita tidak perlu lagi meminta bimbingan dan pertolongan Tuhan. Jika kita selalu sukses dalam hidup kita, kita mungkin tidak lagi memerlukan atau percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa. Kita mungkin  tidak perlu beriman kepadaNya. Pada pihak yang lain, sekalipun kita percaya adanya Tuhan, jika kita tidak dapat bersyukur atas kasihNya yang sudah dicurahkan dalam hidup kita, iman kita akan terasa pahit karena kita tidak dapat mengerti bahwa Tuhan juga mahakasih.

Firman Tuhan hari ini menyatakan bahwa kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih kita harus beriman. Kita harus percaya akan kemampuan dan kuasa Tuhan di dunia dan dalam alam semesta. Kita harus percaya bahwa Ia lebih besar dari segala masalah yang kita punyai, karena Ia bisa membuat apa saja terjadi sesuai dengan kehendakNya. Lebih dari itu, kita harus bersyukur bahwa Tuhan adalah mahakasih dan sudah mendatangkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus kita. Kita manusia berdosa yang seharusnya mati, sudah menerima hidup yang kekal karena kasihNya. Tidakkah hati kita harus dipenuhi dengan rasa syukur yang berlimpah setiap saat? Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahakuasa yang mau dan bisa menolong kita dalam kesulitan apa pun. Tetaplah beriman, dan tetaplah bersyukur!

“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.” Yesaya 25: 1

Berjalan dalam lembah kekelaman

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

See the source image

Pernahkah anda menonton film Ben-Hur?  Ben-Hur adalah sebuah film drama religi epik Amerika produksi tahun 1959, yang disutradarai oleh William Wyler, diproduseri oleh Sam Zimbalist untuk Metro-Goldwyn-Mayer, dan dibintangi oleh Charlton Heston selaku pemeran utama.

Dalam film ini dikisahkan bahwa seorang Yahudi yang bernama Judah Ben-Hur mengalahkan  seorang Romawi yang bernama Messala dalam lomba balap kereta berkuda. Messala mengalami kecelakaan parah akibat dilanggar kereta lain, sementara Judah menjuarai lomba. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Messala berkata kepada Judah bahwa “lomba belum usai”, dan sebagai tindakan paling akhir yang semata-mata dilandasi kebencian, ia memberi tahu Judah untuk mencari ibu dan adiknya di Lembah Orang Kusta.

Pada saat itu, orang yang berpenyakit kusta adalah serupa dengan orang yang dihukum mati secara perlahan-lahan. Karena tidak ada obatnya, penderita kusta diasingkan di tempat-tempat terpencil. Tentu saja Judah merasa sangat terpukul dengan kabar buruk yang disampaikan Messala. Tetapi, film ini berakhir dengan  “happy ending” ketika Judah menyaksikan penyaliban Yesus, sementara ibu dan adik Judah sembuh secara ajaib saat hujan keras sesudah Yesus wafat di kayu salib.

Pada zaman itu, Lembah Orang Kusta adalah  seperti lembah kekelaman atau lembah kegelapan. Ayat diatas adalah ayat yang menggambarkan pemazmur yang berjalan dalam lembah ini. Tetapi, ia tidak merasa takut akan bahaya karena Tuhan besertanya.

Ayat ini memang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang.

Dalam bahasa Ibrani, kata  sal-ma-wet  berarti “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan Alkitab berbahasa Inggris yang memakai kata-kata “the valley of the shadow of death”  yang berarti “lembah bayang-bayang maut” dan bukannya “lembah kekelaman”. Dengan demikian, orang sering membaca ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus.

Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kelaparan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Dan pada suasana COVID-19 yang kita alami saat ini, semua itu adalah seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Saat ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Semua ujian tidaklah menyenangkan

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

See the source image

Sebulan lagi ujian semester 1 akan dilangsungkan di universitas saya. Karena adanya PSBB, semua kuliah sudah dilakukan secara online sejak bulan Maret yang lalu, dan ujian mata pelajaran saya akan diadakan dalam bentuk Tes Objektif Bentuk Pilihan Ganda (Multiple Choice) melalui internet. Setiap murid dapat mengikuti ujian dari tempat masing-masing, dan oleh sebab itu saya harus membuat bahan ujian sedemikian rupa sehingga setiap siswa mendapat pertanyaan yang berbeda. Itu tidak mudah dilakukan karena saya harus membuat banyak pertanyaan yang akan dipilih secara acak oleh komputer untuk setiap siswa.

Persiapan sebuah bahan ujian online biasanya memerlukan waktu lebih dari seminggu karena sulitnya membuat pertanyaan yang bermutu. Dalam hal ini, adalah menarik untuk membandingkan keadaan zaman dulu dan zaman sekarang. Kalau ujian pada masa-masa yang lalu merupakan hal yang harus diterima para siswa, pada zaman ini seringkali muncul berita tentang adanya stres berat diantara kaum siswa pada musim ujian. Karena itu, jika ujian sebuah mata kuliah pada zaman dulu bisa berlangsung selama 4-5 jam, sekarang saya harus meringkas bahan pelajaran satu semester untuk dijadikan bahan ujian untuk 2 jam saja. Jika bagi banyak dosen tugas seperti ini terasa seperti ujian, bagi  banyak siswa bahan ujian yang bermutu adalah seperti momok.

Tidak dapat disangkal bahwa adanya ujian itu perlu sebelum seseorang dinyatakan memenuhi syarat untuk naik kelas atau naik pangkat. Walaupun demikian, mengapa ujian itu seringkali terasa sebagai hukuman berat dan bukannya kesempatan untuk mencapai keberhasilan? Kebanyakan orang takut adanya ujian karena kuatir tidak lulus. Ujian sendiri bukan masalah jika tidak ada konsekuensinya. Ujian itu tidak akan terasa berat jika pesertanya dijamin untuk berhasil.

Dalam ayat diatas, kita membaca bahwa tiap orang percaya akan mengalami masalah dalam hidup ini. Seperti apa yang dialami para siswa, adanya masalah hidup tidak membawa sukacita kepada orang yang mengalaminya. Tidak hanya rasa kuatir, tetapi juga rasa sakit baik secara badani maupun batin, bisa muncul ketika kita menghadapi persoalan yang berat.

Jika hidup ini sebelumnya sudah terasa berat, sekarang kita tidak tahu kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Ini agaknya adalah ujian berat yang bakal berkepanjangan. Tidaklah mengherankan banyak orang mengeluh dan bertanya-tanya. Apa artinya semua ini? Haruskah aku mengalaminya? Apa yang akan terjadi? Sanggupkah aku menjalaninya? Bagaimana pula kalau aku gagal?

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap masalah yang kita hadapi adalah sebuah ujian kehidupan yang pada akhirnya bisa menghasilkan rasa damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Dengan demikian, setiap kali kita menghadapi masalah kehidupan, kita harus bersyukur bahwa selama kita menghadapinya bersama Tuhan, kita akan berhasil untuk  tumbuh makin kuat dalam iman. Mereka yang berdisiplin dalam menghadapi masalah, akan bisa hidup dalam keyakinan, yang makin lama makin kuat, atas kemenangan yang sudah dijamin oleh darah Yesus. Dengan demikian, apakah yang kita kuatirkan dalam menghadapi hidup yang berat ini?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Berdoalah ketika kita tidak ingin memohon sesuatu

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26
See the source image Dalam suasana pandemi sekarang ini, komunikasi saya dengan sesama dosen dan juga dengan murid saya seratus persen dilakukan lewat internet dan telepon. Karena adanya PSBB, saya tidak dapat dan tidak ingin berbincang-bincang dengan orang lain muka dengan muka, kecuali dengan mereka yang serumah dengan saya. Dalam kehidupan bergereja, saya menghadiri kebaktian online dan mengikuti acara pemahaman Alkitab yang juga melalui dunia maya. Semua itu tentu rasanya kurang “sreg”; tetapi apa boleh buat karena tidak ada jalan lain, itulah yang bisa saya lakukan, bahkan dengan sanak yang tidak serumah. Satu hal yang saya kurang sukai dengan berkomunikasi secara elektronik ialah tidak bisanya saya melakukan kontak mata dengan orang yang saya ajak bicara. Dengan tidak adanya kontak mata, saya sering tidak bisa menduga perasaan orang itu. Memang dalam hal ini benarlah pepatah “Dari mata turun ke hati”. Akibatnya, banyak hal yang saya ingin ucapkan harus disampaikan dengan lebih berhati-hati; dan apa yang saya pandang sulit untuk dikatakan tanpa berjumpa muka, akan saya tunda sampai saat dimana saya bisa bertemu dengan orang itu. Saya tentu berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya karena ada banyak orang, terutama mereka yang sudah lanjut usia, yang menderita karena tidak bisa berjumpa muka dengan muka dengan keluarga mereka. Seperti komunikasi antar manusia, doa adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak ingin berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar. Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Bagi mereka yang hidupnya penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Dan bagi banyak orang berada dalam kesulitan, mengucapkan doa tidaklah mudah karena hati yang terluka atau penuh rasa duka. Berdoa tidaklah mudah dilakukan karena kita tidak dapat melihat Tuhan. Berdoa hanya bisa dilakukan melalui iman. Apalagi, dalam keadaan sekarang ini pikiran kita mungkin terisi oleh berbagai macam kekuatiran. Dengan pikiran yang kusut, doa kita mungkin hanya berupa tangisan dan permohonan dan kurang berisi ucapan syukur kepada Tuhan. Dengan banyaknya tantangan, mungkin kita tidak ingin untuk berlama-lama berbincang dengan Tuhan. Dalam hal ini, iblis selalu mencari kesempatan untuk membuat kita makin malas untuk berdoa atau merasa kecewa kepada Tuhan. Untunglah, sebagai umat percaya kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang atau segan untuk berdoa. Roh Kudus lah yang bisa meyakinkan kita bahwa Tuhan ada; bukan di sana, tetapi di sini bersama dengan kita. Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ketika kita tidak ingin berdoa, itulah saat dimana kita harus berdoa. Jika kita tidak mau memohon sesuatu dari Tuhan, itulah tandanya bahwa kita sangat membutuhkan Dia.  Dalam hal ini, apa yang harus kita lakukan hanyalah membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan!