Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17: 45

Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat. Raja Saul, sekalipun tinggi besar untuk zaman itu, hanya sekitar 1.80 meter tingginya dan tidak sebanding dengan Goliat yang tingginya hampir 3 meter.
Kisah kemenangan Daud atas Goliat ini sangatlah terkenal sehingga sudah ada beberapa film yang pernah dibuat, dan yang terakhir diproduksi pada tahun 2016. Film ini dibuat di Afrika utara dan London, dan sempat muncul di beberapa bioskop Indonesia. Dalam film epik ini, Goliat diperankan oleh aktor Michael Foster yang tingginya ‘hanya’ 1.88 meter.
Daud yang muda belia dan bertubuh kecil dari bani Israel pada saat itu mengunjungi medan perang. Ia mengajukan diri untuk menjadi lawan Goliat. Walaupun semua orang mencemoohkan dia, Daud akhirnya maju menghadapi Goliat dan berhasil membunuh pendekar Filistin itu dalam beberapa detik saja. Karena kematian Goliat, tentara Filistin menjadi hancur keberaniannya dan dikalahkan oleh tentara Israel dengan mudah.
Dua hal yang menarik perhatian adalah, yang pertama, kemauan dan keberanian Daud yang untuk ukuran manusia tidaklah masuk diakal. Yang kedua adalah kemenangan Daud atas Goliat dan kemenangan tentara Israel atas tentara Filistin yang menurut akal sehat tidaklah mudah untuk bisa dimengerti. Mengapa hal yang diluar dugaan bisa terjadi untuk membawa kemenangan bagi bangsa Israel? Bukankah lebih mudah bagi Tuhan untuk membiarkan orang Israel mengalahkan orang Filistin melalui perang yang biasa, yang konvensional?
Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kisah diatas:
Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang Mahakuasa yang kepadaNya kita boleh serahkan segala masalah kita. Kemenangan Daud yang di luar dugaan menjadi kemenangan bani Israel karena Tuhan sendirilah yang menghadapi Goliat dan orang Filistin. Demikian juga, Tuhanlah yang akan mengalahkan persoalan-persoalan kita jika kita mau bersandar kepada Dia.
Tuhan mengundang setiap umatNya untuk menjadi seperti Daud yang mempunyai rasa hormat, ketaatan dan iman kepadaNya. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, Ialah yang bisa melakukan hal-hal yang ajaib, yang tidak dapat kita mengerti, untuk kebaikan kita di masa depan.
Tuhan yang Mahabijaksana adalah Tuhan yang mempunyai rencana untuk hidup seluruh manusia dan bahkan alam semesta. Apa yang terjadi dalam hidup kita berjalan sesuai dengan kehendakNya dan terjadi pada waktu yang ditetapkanNya. Hidup kita akan jauh lebih ringan jika kita mau berserah kepadaNya.
Pagi ini, keadaan di sekitar kita mungkin terasa seperti apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Berbagai masalah saat ini sedang dihadapi dunia karena adanya pandemi COVID-19. Kita sendiri mungkin mempunyai banyak masalah, tetapi kita harus bersedia menjadi seperti Daud ketika menghadapi Goliat. Tuhan yang sudah melindungi kita sampai saat ini, adalah Tuhan yang akan menyertai kita di masa mendatang!
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4








Dalam suasana pandemi sekarang ini, komunikasi saya dengan sesama dosen dan juga dengan murid saya seratus persen dilakukan lewat internet dan telepon. Karena adanya PSBB, saya tidak dapat dan tidak ingin berbincang-bincang dengan orang lain muka dengan muka, kecuali dengan mereka yang serumah dengan saya. Dalam kehidupan bergereja, saya menghadiri kebaktian online dan mengikuti acara pemahaman Alkitab yang juga melalui dunia maya. Semua itu tentu rasanya kurang “sreg”; tetapi apa boleh buat karena tidak ada jalan lain, itulah yang bisa saya lakukan, bahkan dengan sanak yang tidak serumah.
Satu hal yang saya kurang sukai dengan berkomunikasi secara elektronik ialah tidak bisanya saya melakukan kontak mata dengan orang yang saya ajak bicara. Dengan tidak adanya kontak mata, saya sering tidak bisa menduga perasaan orang itu. Memang dalam hal ini benarlah pepatah “Dari mata turun ke hati”. Akibatnya, banyak hal yang saya ingin ucapkan harus disampaikan dengan lebih berhati-hati; dan apa yang saya pandang sulit untuk dikatakan tanpa berjumpa muka, akan saya tunda sampai saat dimana saya bisa bertemu dengan orang itu. Saya tentu berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya karena ada banyak orang, terutama mereka yang sudah lanjut usia, yang menderita karena tidak bisa berjumpa muka dengan muka dengan keluarga mereka.
Seperti komunikasi antar manusia, doa adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak ingin berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar. Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Bagi mereka yang hidupnya penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Dan bagi banyak orang berada dalam kesulitan, mengucapkan doa tidaklah mudah karena hati yang terluka atau penuh rasa duka.
Berdoa tidaklah mudah dilakukan karena kita tidak dapat melihat Tuhan. Berdoa hanya bisa dilakukan melalui iman. Apalagi, dalam keadaan sekarang ini pikiran kita mungkin terisi oleh berbagai macam kekuatiran. Dengan pikiran yang kusut, doa kita mungkin hanya berupa tangisan dan permohonan dan kurang berisi ucapan syukur kepada Tuhan. Dengan banyaknya tantangan, mungkin kita tidak ingin untuk berlama-lama berbincang dengan Tuhan. Dalam hal ini, iblis selalu mencari kesempatan untuk membuat kita makin malas untuk berdoa atau merasa kecewa kepada Tuhan. Untunglah, sebagai umat percaya kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang atau segan untuk berdoa.
Roh Kudus lah yang bisa meyakinkan kita bahwa Tuhan ada; bukan di sana, tetapi di sini bersama dengan kita. Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ketika kita tidak ingin berdoa, itulah saat dimana kita harus berdoa. Jika kita tidak mau memohon sesuatu dari Tuhan, itulah tandanya bahwa kita sangat membutuhkan Dia. Dalam hal ini, apa yang harus kita lakukan hanyalah membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan!