Gembalakanlah domba-domba Tuhan

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Hari ini, dalam perjalanan saya di negara Israel saya sempat mengunjungi sebuah gereja kecil di pinggir pantai danau Tiberias. Gereja ini didirikan dimana Yesus menyatakan diriNya untuk ketiga kalinya sesudah bangkit kepada beberapa muridNya. Kejadian ini merupakan hal yang sangat penting yang seharusnya membawa pengaruh besar bagi hidup orang Kristen.

Pada waktu itu, sesudah murid-murid mengenaliNya, Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi Dia. Tiga kali Yesus bertanya, dan tiga kali pula Petrus menjawab bahwa ia mengasihiNya. Namun pada kali yang ketiga, Petrus sadar bahwa Yesus tiga kali bertanya karena Petrus sudah menyangkali Yesus tiga kali sebelum Yesus disalibkan. Petrus merasa malu karena Yesus seolah ingin memastikan apakah ia benar-benar tulus dengan jawabannya. Petrus kemudian menjawab bahwa Yesus tahu bahwa ia mengasihiNya. Setelah mendengar jawaban Petrus itu Yesus memerintahkan dia untuk menggembalakan domba-dombaNya.

Perintah Yesus kepada Petrus ini adalah suatu hal yang sangat signifikan. Sebagian orang Kristen percaya bahwa perintah ini khusus diberikan kepada Petrus untuk menjadi pemimpin gerejaNya di dunia. Tetapi, sebagian lagi menyatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada semua orang Kristen yang menjabat posisi gembala gereja agar mereka mencukupi umatnya dengan segala kebutuhan rohani mereka. Pada pihak yang lain, ada orang yang menafsirkan bahwa ini adalah perintah Yesus kepada semua orang Kristen yang seperti Petrus mempunyai banyak kelemahan, tetapi ingin untuk benar-benar mengasihi Yesus.

Pagi ini, mungkin kita ingat bahwa hidup kita sebagai orang percaya adalah jauh dari sempurna. Mungkin kita sering mendahulukan kepentingan kita sendiri di atas kepentingan Tuhan. Dengan demikian, seperti Petrus kita mungkin sering menyangkali Yesus. Tetapi, jika kita mengingat bahwa Yesus sudah lebih dulu mengasihi kita dengan mengurbankan diriNya untuk menebus dosa kita, kita seharusnya mau mengasihi Dia dan menjalankan perintahNya.

Ingatkah anda bahwa tanpa pengurbanan Yesus di kayu salib seharusnya anda binasa? Apakah anda benar-benar mengasihi Yesus karena kasihNya? Jika anda memang mengasihiNya, anda adalah seperti Petrus. Karena itu, perintah Yesus kepada anda adalah sama dengan perintah Yesus kepada Petrus.

Ada banyak domba Allah yang membutuhkan pertolongan kita, baik itu dalam hal jasmani atau pun rohani. Mungkin domba-domba itu adalah sanak keluarga kita, teman sekerja, atau mereka yang di gereja dan bahkan di kota atau di negara kita. Bagi mereka, panggilan diakonia kita untuk mengasihi dan menolong mereka yang membutuhkan pelayanan, pertolongan, bimbingan dan bantuan kita baik dalam hal jasmani maupun rohani.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 1 Petrus 4: 10

Dalam bahaya kita melihat Tuhan

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14: 31

Bacaan: Matius 14: 22 – 33

Kemarin saya bersama teman-teman tour pergi ke danau Tiberias dimana pada zaman Yesus masih di dunia ada kejadian yang membuktikan bahwa Yesus adalah Allah yang mahakuasa, tetapi juga Allah yang mahakasih.

Danau Tiberias adalah sebuah danau air tawar yang sangat besar, yang karena itu juga disebut laut Tiberias. Danau ini letaknya sekitar 210 meter di bawah muka air laut. Dengan panjang keliling sekitar 53 km, panjang 21 km dan lebar 13 km, danau ini sering mengalami angin badai ketika udara dingin dari gunung Hermon dan gunung Lebanon bertemu dengan udara panas dari permukaan danau.

Pada saat itu Yesus baru saja melakukan keajaiban dengan memberi makan 5000 orang. Yesus memerintahkan murid-muridNya naik ke perahu dan mendahuluiNya ke seberang, sementara Ia menyuruh orang banyak pulang. Ia kemudian naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri.

Mungkin waktu di perahu, murid-murid masih membicarakan apa yang terjadi sebelumnya. Mereka mungkin masih merasa takjub bagaimana Yesus bisa melakukan keajaiban dengan lima roti dan dua ikan. Tetapi keajaiban yang besar itu tidaklah membuat mereka sadar bahwa Yesus adalah Tuhan. Apa yang mereka lihat adalah luar biasa, tetapi itu tidak menyangkut hidup mati mereka. Seperti itu juga, kita tidak mudah merasakan hadirnya Tuhan atau berharap pada kuasa Tuhan jika kita tidak secara pribadi membutuhkan pertolongan Tuhan.

Mengapa Yesus menyuruh murid-muridNya ke tengah danau hanya untuk mengalami angin topan? Mengapa Ia membuat mereka ketakutan? Angin topan adalah sebuah kenyataan dari danau Tiberias sampai sekarang dan badai kehidupan adalah sebuah kenyataan hidup kita selama di dunia. Yesus menyuruh kita untuk menjadi muridNya di tengah dunia yang penuh dengan masalah, bukan untuk membuat kita takut tetapi sebaliknya untuk membuat kita merasakan dan mengakui kuasa dan kasihNya. Ini seirama dengan perintahNya kepada orang Israel agar mereka tetap berjalan mengikuti perintanNya.

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” Yesaya 43: 2

Sebagai orang percaya, kita tidak dapat mengharapkan hidup yang selalu mulus dan nyaman. Kita juga tidak dapat berlindung dalam “perahu” kita dan berharap agar badai berlalu. Kita harus bisa melihat dengan mata rohani kita bahwa seperti Yesus yang sanggup menyeberang melalui air, kita pun bisa mengatasi masalah kita jika kita percaya atas kuasa dan kasih Tuhan.

Sebagai manusia kita cenderung untuk takut dan kuatir, tetapi Yesus yang sudah menegur murid-muridNya, akan membuat kita percaya bahwa Ia adalah Anak Allah jika kita tetap berharap kepada pertolonganNya.

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Matius 14: 33

Jangan lupakan keajaiban kasih Allah

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Dalam perjalanan ke Israel dan Mesir saya melihat berbagai peninggalan sejarah dari masa-masa yang telah lalu, yang berhubungan dengan apa yang terjadi pada zaman Perjanjian Lama dan pada waktu Yesus masih di dunia. Beberapa relik dan bangunan kuno diduga merupakan sisa-sisa peninggalan kebudayaan umat Israel dan kejadian-kejadian yang dialami mereka. Dengan demikian, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah itu bisa membuat pengunjung untuk lebih dapat membayangkan bagaimana Tuhan memelihara bangsa Israel.

Bagi mereka yang merenungkan apa arti semua yang terjadi di Israel dari zaman Musa sampai sekarang, tentu akan menyadari bagaimana Tuhan menyertai bangsa pilihanNya. Sayang, bangsa ini sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk menerima Yesus sebagai Mesias, dan karena itu secara umum orang Israel adalah kaum yang masih menantikan datangnya seorang Mesias. Segala keajaiban (miracle) dari Allah yang mereka alami sebelumnya menjadi kenangan yang mereka ingat turun-temurun, tetapi mereka tidak mau menerima keajaiban Allah yang terbesar dalam diri Yesus.

Memang manusia mudah menerima pemberian Tuhan yang berbentuk jasmani sebagai keajaiban. Apa yang terjadi dalam bentuk, ukuran atau saat yang diluar dugaan, mudah diterima sebagai keajaiban. Tetapi jika itu saja yang diharapkan, perasaan sukacita atau percaya kepada Tuhan tidak akan bertahan lama, karena segala sesuatu yang jasmani tidak akan bertahan lama. Dengan berlalunya waktu, apa yang sudah diberikan Tuhan pada masa lalu hanya menjadi kenangan tetapi tidak menolong untuk masa depan karena adanya kebutuhan atau masalah yang lebih besar. Selain itu kebutuhan manusia yang terbesar seringkali kebutuhan rohani yang membuat orang kuatir, takut atau putus asa.

Seperti orang Israel, kita seringkali mengalami perjuangan hidup dan masalah. Seperti orang Israel kita mengharapkan datangnya keajaiban dari Tuhan. Seperti mereka, kita mungkin bersukacita jika kita menerima berkatNya, tetapi merasa “biasa-biasa” saja jika segala sesuatu berjalan seperti yang kita harapkan. Seperti mereka, kita mungkin sering merasa kecewa atau putus asa jika Tuhan tidak memberikan apa yang kita kehendaki. Itu karena kita menyamakan keajaiban Tuhan dengan berkat jasmani saja.

Tuhan yang mengasihi kita memang tetap membuat mujizat jika itu sesuai dengan kehendakNya. Tetapi, Ia sudah membuat mujizat yang terbesar untuk kita, yaitu bahwa kita yang sudah seharusnya binasa karena dosa-dosa kita, kemudian menerima pengampunan dosa dan keselamatan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa kita yang seharusnya mati dalam dosa, kemudian menerima keselamatan, semata-mata oleh kasih Allah. Kasih Allah ini adalah suatu keajaiban yang tidak ada tandingannya, dan karena itu kita seharusnya tidak lagi menantikan bukti kasih dan kuasa yang lebih besar. Keajaiban Allah yang lebih penting untuk kita minta dari Tuhan setiap hari adalah bimbingan Roh Kudus agar kita lebih mengenal Allah dan lebih sanggup untuk hidup seperti yang Ia kehendaki.

Kita adalah loh Allah

“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” 2 Korintus 3: 3

Kemarin saya mendapat kesempatan untuk mendaki gunung Sinai di Mesir. Gunung ini menurut dugaan adalah tempat dimana Allah pada tahun 1300 SM memberikan dua loh batu yang berisi sepuluh hukum Tuhan untuk bangsa Israel. Untuk mencapai puncak gunung yang tingginya 2285 meter ini tidaklah terlalu mudah karena sesudah mengendarai unta untuk satu setengah jam, saya harus mendaki 750 tangga batu yang curam. Saya heran bahwa Musa yang sudah berumur 90-100 tahun waktu itu mau dan bisa mendaki gunung curam itu sebelum ada tangga.

Loh batu yang diberikan untuk umat Israel untuk ditaati ternyata tidak membuat mereka untuk bisa menjadi umat Tuhan yang baik. Sepuluh hukum Tuhan hanyalah merupakan sesuatu yang bisa dilihat, tetapi tidak dimengerti atau ditaati oleh umat Israel. Umat Israel tidak tertarik untuk mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan mereka dan karena itu bagi mereka melaksanakan hukum Tuhan adalah suatu yang sulit dilaksanakan.

Yesus sudah datang ke dunia dan meringkas sepuluh hukum Tuhan itu kedalam dua hukum kasih. Tetapi, ini pun tidak akan membuat manusia untuk mau berusaha dengan sepenuh hati untuk melaksanakannya. Itulah sebabnya Tuhan memberikan RohNya kepada mereka yang percaya agar mereka memgerti apa yang dihendaki Tuhan karena mereka bisa mendengar suara Tuhan dalam hati mereka.

Suara Roh Kudus dalam hati setiap orang Kristen seharusnya membuat mereka hidup dekat dengan Tuhan dan mau hidup menurut apa yang dikehendakiNya. Tetapi, dalam kenyataannya, adalah mudah bagi seseorang untuk mengabaikan suara Roh dalam hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, seringkali mereka yang seharusnya bisa melaksanakan perintah Tuhan dan hidupnya berubah makin lama makin baik, ternyata tidak bertumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa secara iman.

Pagi ini, kita menyimak dari Alkitab bahwa seperti orang Israel yang sering mengabaikan hukum Tuhan yang diperoleh Musa dari Tuhan melalui penderitaan dan pengurbanannya, begitu pula kita sering mengabaikan hukum Tuhan yang sudah diberikan Yesus dalan hati kita melalui pengurbanan dan kasihNya. Mengapa sering kita mengabaikan suara Roh yang menegur kita ketika kita melakukan hal yang salah? Mengapa kita sering melupakan bahwa segala perintah Tuhan yang sudah ditulis dalam hati kita adalah untuk dilaksanakan dan bukan untuk diabaikan?

Menghadapi kenyataan hidup

“Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” 1 Korintus 4: 11 – 13

Pagi ini saya membaca adanya peringatan yang diberikan oleh negara-negara tertentu kepada warganya tentang adanya ancaman di negara lain. Travel warning ini menyuruh warga mereka untuk mempertimbangkan lagi rencana kunjunngan ke negara tertentu. Hal ini pasti bisa membuat gundah mereka yang mempunyai rencana untuk bepergian.

Jika pertentangan antar negara kadang-kadang terjadi dan menimbulkan berbagai persoalan serius, pertentangan antar individu lebih sering terlihat dalam hidup sehari-hari. Sebagai makhluk yang beradab, manusia mungkin merasa bahwa mereka adalah jauh lebih bisa untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesamanya. Tetapi, dalam kenyataannya banyak masalah yang timbul dalam hidup sehari-hari yang disebabkan karena kegagalan manusia dalam hidup bersosial.

Hidup bermasyarakat memang bukanlah mudah. Dari mulanya kita bisa membaca di Alkitab bahwa perbedaan yang ada di antara manusia, kelompok dan suku sering menimbulkan pergesekan, pertentangan dan perseteruan. Tidaklah heran, Paulus dalam ayat-ayat di atas menulis bahwa ia pernah merasakan berbagai hal seperti dimaki, difitnah dan bahkan dianggap seperti sampah oleh orang lain.

Paulus juga menulis bahwa dalam hidupnya ia sudah mengalami hal yang tidak enak seperti kelaparan, kehausan, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara, dan ia juga melakukan pekerjaan tangan yang berat. Semua itu adalah kenyataan hidup yang bisa dialami setiap manusia dan umat Kristen tidaklah imun darinya. Sekalipun mungkin tidak sebanding dengan apa yang pernah dialami Paulus, kita mungkin sering mengalami hal yang serupa.

Bagaimana seharusnya kita bertindak jika kita mengalami hal yang tidak menyenangkan dari orang lain? Paulus menulis bahwa ketika ia dan rekannya dimaki, mereka justru memberkati; kalau mereka dianiaya, mereka malah bersabar; dan kalau mereka difitnah, mereka tetap menjawab dengan ramah. Paulus bisa melakukan hal itu karena ia benar-benar mengikut Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar. Bagaimana pula dengan kita?

Hidup harmonis dengan Tuhan dan sesama

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Heran bin ajaib, belakangan ini saya mulai gemar memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, terutama mereka yang seumur saya atau yang lebih tua. Saya tidak tahu apakah orang lain juga mengalami hal yang serupa, tetapi salah satu yang selalu menarik perhatian saya adalah adanya pasangan yang sudah berumur yang nampaknya sudah menikah cukup lama, tetapi tetap terlihat mesra dan serasi. Apa kunci kebahagiaan rumah tangga mereka?

Dari beberapa tulisan yang saya pernah baca dan juga dari penelitian saya sendiri rupanya hubungan antara suami dan istri yang harmonis itu sering dihubungkan dengan kemauan masing-masing untuk berkurban untuk yang lain dan menerima pasangannya sebagaimana adanya. Hidup rumah tangga yang sedemikian biasanya diisi dengan rasa syukur dan komunikasi yang baik sekalipun situasi dan kondisi hidup tidak selalu berjalan mulus. Hal ini juga sering dikemukakan oleh banyak penasihat dan pembina perkawinan (marriage counsellor) yang membantu pasangan yang mengalami kesulitan dalam hidup pernikahan mereka. Benarkah ini kunci ketenteraman hidup?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberikan nasihat-nasihat mengenai hubungan antar anggota keluarga dalam Kolose 3: 18 – 25, dan ayat 18 dan 19 sudah sering dibahas dalam konteks hubungan antara suami dan istri. Tetapi, ayat 17 di atas yang mendahuluinya mungkin bisa dipakai sebagai sebuah pedoman dari ayat-ayat sesudahnya. Ayat 17 memegang kunci keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Mengapa begitu?

Paulus menasihati jemaat di Kolose, dan juga kita yang tergolong umat Tuhan, untuk menjalani hidup kita dengan rasa syukur kepada Tuhan. Jika kita selalu ingat untuk pengurbanan Yesus bagi kita, segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan akan dapat dipakai untuk memuliakan Yesus. Dengan demikian, situasi, kondisi dan orang-orang di sekitar kita bukanlah faktor yang menentukan hidup kita.

Pagi ini firman Tuhan menyatakan pentingnya bagi kita untuk mengingat bahwa keharmonisan hidup bisa tercapai jika kita sadar bahwa hidup kita dari Tuhan, karena Tuhan dan untuk Tuhan. Mereka yang bisa mensyukuri hidup yang sedemikian, lebih mudah untuk mengerti bahwa apa yang mereka lakukan atau katakan dalam hidup sehari-hari haruslah untuk kemuliaanNya. Dengan demikian, apa pun yang terjadi dalam hidup kita tidak akan menentukan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Berpikir positif secara Kristen

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Hampir semua orang sekarang mengenal apa yang dinamakan “positive thinking” atau berpikir secara positif. Pada dasarnya, cara berpikir ini bukanlah barang baru. Sudah lama para ahli kejiwaan mengenal gejala dimana orang yang menanggapi hidup dari segi positifnya akan lebih bisa berhasil mencapai cita-citanya. Sebaliknya, pikiran negatif cenderung membuat orang merasa kuatir, lemah dan sulit untuk maju.

Berbagai motivator dan bahkan pendeta mengajarkan bahwa sekalipun hidup ini terasa berat, pikiran positif yang melihat segi baik dari segala kejadian bisa memberi semangat baru untuk mengatasi masalah kehidupan. Tetapi ada pertanyaan apakah positive thinking adalah sesuai dengan iman Kristen.

Positive thinking adalah apa yang juga diajarkan firman Tuhan. Tetapi, itu tidaklah sama dengan apa yang diajarkan oleh banyak motivator baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen. Mereka yang menggembar-gemborkan cara berpikir positif sebagai upaya untuk lebih giat berusaha dan tidak mudah putus asa, umumnya mengajarkan bahwa nasib manusia ada di tangan manusia sepenuhnya. Jelas itu tidak sesuai dengan iman Kristen yang mengajarkan bahwa hidup kita bergantung kepada Tuhan sepenuhnya.

Mereka yang mengajarkan cara berpikir positif tanpa menyebutkan peranan Tuhan adalah orang-orang yang agaknya berusaha mengangkat derajat manusia agar menjadi setara dengan Tuhan. Sudah tentu itu adalah usaha yang sia-sia. Manusia tidak dapat menghilangkan ketakutan, kekuatiran dan keraguan hanya dengan kekuatan sendiri. Orang tidak dapat memperoleh rasa damai dan rasa cukup hanya dengan berpikir secara positif.

Bagi umat Kristen, berpikir secara positif adalah percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan Ia mengasihi umatNya. Karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, kita tidak perlu kuatir tentang apapun juga. Sebaliknya, kita bisa menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dengan demikian, rasa damai dan sejahtera dari Tuhan yang luar biasa akan memelihara hati dan pikiran kita setiap hari. Cara berpikir positif yang sedemikian akan memungkinkan kita untuk memperoleh kekuatan untuk menghadapi segala tantangan dan masalah dalam hidup.

Hidup yang bergantung pada Tuhan

“Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” Matius 10: 10

Berapa helai baju yang anda punya? Bagi kebanyakan orang, tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Mengapa? Setiap orang yang cukup mampu di zaman ini pada umumnya memiliki banyak baju, sehingga jumlah yang pasti tidak mudah ditentukan. Selain membeli baju baru untuk mengganti apa yang dipakai, sering orang membeli baju baru karena menyenanginya.

Jika alasan yang pertama berdasarkan kebutuhan, alasan yang kedua adalah demi kepuasan. Bagi kita yang hidup di dunia modern ini agaknya orang menganggap kedua alasan ini sebagai sesuatu yang wajar dalam batas tertentu. Keinginan untuk memiliki banyak baju, perhiasan, mobil atau rumah dianggap biasa. Hidup yang diinginkan orang adalah hidup yang bukan hanya cukup, tetapi berlebihan.

Pada zaman Yesus hidup di dunia, memiliki dua baju adalah sesuatu yang dipandang cukup. Satu baju bisa dipakai, dan kalau itu perlu dicuci, baju yang lain bisa menggantikannya. Walaupun begitu, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk pergi mengabarkan Injil tanpa membawa dua helai baju, kasut atau tongkat. Hidup secara sederhana, untuk tidak dikatakan menderita. Barangkali kita membayangkan betapa sulitnya untuk menjadi murid Yesus. Benarkah begitu?

Kita yang hidup di zaman modern sudah terbiasa dengan pandangan bahwa orang tidak seharusnya puas untuk mencapai tingkat sederhana saja. Banyak orang Kristen yang justru percaya bahwa pengikut Kristus yang baik tentu diberkatiNya sehingga berlebihan dalam segala sesuatu. Karena itu banyak orang Kristen yang justru bekerja untuk mengejar keberhasilan materi. Karena itu juga banyak orang Kristen yang lupa bahwa Tuhanlah sumber kehidupan kita. Hidup yang sedemikian justru bisa menjadi hidup yang benar-benar sulit untuk dijalani.

Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus tidak menghendaki umatNya untuk memikirkan bagaimana bisa hidup berlebihan, tetapi bagaimana bisa merasa cukup dalam setiap keadaan. Hidup dengan memuliakan Tuhan sambil percaya bahwa Ia yang akan mencukupkan. Yesus menyuruh murid-muridNya bekerja untuk Dia sepenuhnya tanpa memikirkan kebutuhan atau keinginan mereka, tetapi yakin akan kemurahan Tuhan kepada mereka yang setia kepadaNya.

Memasuki tahun yang baru, kepada kita diberikan dua pilihan. Memikirkan kebutuhan kita setiap hari dan karena itu merasa menderita dan kurang puas akan pemeliharaan Tuhan, atau memikirkan bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan secara maksimal dalam hidup kita sambil percaya bahwa Ia selalu memelihara umatNya yang setia. Manakah yang kita pilih?

Jangan kuatir akan masa depan

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dikhotbahkan untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengatur alam semesta dan juga hidup manusia sampai ke detail yang sekecil-kecilnya. Tuhan agaknya menghitung jumlah rambut kita satu persatu dan tidak membiarkan sehelai rambut pun rontok tanpa seizinNya. Tuhan dengan demikian membuat segala sesuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendakiNya. Pengertian yang sedemikian biasanya cenderung mengarah ke pandangan bahwa Tuhan adalah pencipta dan penyebab terjadinya segala sesuatu, termasuk apa yang baik dan jahat.

Sekalipun secara literal bunyi ayat itu menggarisbawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa memegang kemudi jalan kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa sudah tentu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang disenangi Tuhan. Berbeda dengan kehidupan di taman Firdaus, dosa manusia menyebabkan berbagai kejahatan dan penyelewengan sering terjadi. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terkejut melihat apa yang terjadi, karena Ia yang memegang kemudi dan sanggup mengatur segalanya sehingga pada akhirnya kehendakNya yang terjadi.

Bagaimana dengan kita sendiri jika kita melihat sesuatu terjadi di luar dugaan atau rencana kita? Karena kita bukan Tuhan, sudah tentu reaksi kita akan berbeda dengan reaksiNya. Kita mungkin heran, kaget, kuatir atau takut. Jika itu menyangkut masa depan dan rencana kita, mungkin saja kita merasa putus asa. Adalah wajar bahwa sebagai manusia kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan karena itu kita bisa kehilangan harapan.

Baru saja memasuki tahun baru 2020, kita tentu mempunyai harapan bahwa tahun ini akan dapat dilalui dengan baik. Tetapi, dalam hati kita mungkin mengakui adanya kemungkinan bahwa hal-hal yang tidak kita harapkan bisa terjadi. Adanya kebakaran hutan di Australia atau banjir di Indonesia adalah contoh kejadian yang membuat banyak orang menjadi was-was. Adakah hal yang bisa kita lakukan seandainya hal yang serupa terjadi dalam hidup kita?

Ayat di atas meyakinkan kita bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk diabaikan Tuhan, dan tidak ada hal yang terlalu besar untuk bisa diatasiNya. Tuhan mahatahu tidak mungkin untuk tidak melihat masalah apa pun yang terjadi di dunia dan Ia tahu bagaimana hal yang kecil bisa berkembang menjadi besar. Tuhan yang mahakuasa tentunya mampu untuk mengatasi masalah apa pun pada waktu yang tepat. Tuhan pastilah bisa membuat apa saja untuk menjadi kebaikan untuk umatNya sehingga semua orang bisa memuliakan Dia yang mahakuasa. Biarlah kita memasuki tahun 2020 ini dengan keberanian dalam Tuhan!

Selamat tahun baru 2020

Para pembaca yang terhormat,

Segala puji syukur saya sampaikan kepada Yesus Kristus karena tahun 2019 dapat dilalui dengan selamat.

Selama 2019, jumlah pembaca renungan sudah mencapai lebih dari 79 ribu orang, dan renungan yang ada sudah dibaca lebih dari 118 ribu kali. Ini berarti peningkatan yang lebih dari 100%, jika dibandingkan dengan tahun 2018. Ini tentu dimungkinkan karena adanya bantuan yang dengan setia selalu diberikan oleh Ibu Padma selaku Editor.

Saya berdoa agar di tahun 2020, makin banyak orang yang membaca Renungan Kristen. Bantuan anda untuk menyebarkan renungan ini tentunya sangat saya hargai. Semoga nama Tuhan yang dipermuliakan melalui blog ini.

Salam hangat,

Andreas Nataatmadja