Kasih itu bukan hanya berkurban tanpa tujuan

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” 1 Korintus 13: 3

Ada banyak pengurbanan yang dilakukan manusia untuk orang lain. Bagi banyak orang, semua pengurbanan baik moril maupun materiil adalah kebaikan. Dalam hal ini, kesediaan untuk mati sering dipandang sebagai pengurbanan yang terbesar yang bisa dilakukan manusia.

Bayangkan Yesus yang mengurbankan dirinya di kayu salib. Menurut perikemanusiaan, bagaimana Ia menderita dan akhirnya mati adalah suatu kekejaman. Untuk sebagian orang itu adalah kebodohan yang bisa dihindari; sedang bagi orang lain, pengurbanan itu adalah tanda kasih.

Apakah ada orang yang mau mati? Tentu! Tetapi belum tentu itu berdasarkan kebaikan. Ada banyak orang yang bersedia mati untuk membela kehormatan pribadi, keluarga, agama dan negara. Ada juga orang yang bersedia untuk mati daripada menderita, atau untuk menyusul kekasih yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia, dan bahkan ada juga orang memilih mati untuk mendapatkan pahala di surga sesuai dengan ajaran agamanya.

Ada banyak orang yang mengurbankan diri untuk orang lain, tetapi untuk maksud dan tujuan yang keliru. Orang tua dalam memanjakan anaknya, mungkin berpikir bahwa itu baik adanya. Suami atau istri yang membiarkan pasangannya untuk mengumbar apa yang disenanginya juga sering beralasan cinta. Mereka yang sering memberi donasi kepada orang yang menderita, bisa saja berdasarkan kesadaran sosial atau perikemanusiaan, tetapi mungkin juga untuk membawa nama baik dan keuntungan pribadi.

Ayat diatas mengatakan bahwa tujuan apapun yang kita punyai dalam memberi, jika itu bukan kasih, semuanya adalah sia-sia. Kasih itu apa? Kasih yang bagaimana? Paulus dalam 1 Korintus 13: 4 – 7 menulis:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Semua hal-hal diatas adalah mengenai hal bagaimana, yaitu tentang pelaksanaan kasih; tetapi belum menjelaskan apa kasih itu. Apa yang ditulis oleh rasul Yohanes dibawah ini memberi jawaban tentang apa kasih itu.

“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 9 – 10

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kasih manusia yang benar adalah kasih yang bertalian dengan kasih yang sudah diterimanya dari Allah. Mereka yang sudah menerima kasih Allah dalam pengurbanan AnakNya, sadar bahwa kasih yang harus dipunyainya adalah kasih yang membawa kemuliaan kepada sumber kasih itu sendiri. Kasih yang benar hanya mempunyai satu tujuan yaitu mempermuliakan Tuhan.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 13

Hubungan nyata, bukan maya

“Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111: 1

Di zaman modern ini, banyak kebaktian gereja yang ditayangkan melalui TV. Selain itu tidak terhitung jumlah pendeta dan penginjil yang membuat Vlog (Video Blog) yang berisi pesan-pesan Kristiani. Dengan mengikuti acara gereja di TV dan berbagai rekaman khotbah yang ada di internet, banyak orang Kristen di negara maju yang beranggapan bahwa menghadiri kebaktian gereja adalah suatu aktivitas yang tidak penting.

Jika universitas di luar negeri sekarang bisa mengadakan kuliah jarak jauh melalui internet, mungkin ada orang yang percaya bahwa kebaktian jarak jauh bisa juga dilaksanakan secara on-line, dalam bentuk video atau audio saja. Seperti kuliah jarak jauh yang tidak mempunyai murid yang nyata, kebaktian jarak jauh mungkin dianggap cukup untuk melayani jemaat maya. Begitukah?

Ayat diatas menyebutkan keinginan pemazmur untuk bisa bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Ia ingin untuk memuji Tuhan bukan saja dengan bibirnya, tetapi juga dengan sepenuh jiwanya dalam lingkungan yang mendukung, yaitu bersama-sama dengan orang seiman dalam persekutuan orang percaya. Pemazmur secara jelas menjelaskan motivasinya dalam penyembahan kepada Tuhan.

Motivasi yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang mengaku Kristen, sekarang mungkin sudah mulai luntur; karena dengan majunya teknologi, segala sesuatu ingin dilakukan secara mudah dan cepat. Selain itu, kesibukan hidup yang ada, membuat manusia sulit untuk meluangkan waktu bagi Tuhan dan sesama. Juga ada orang yang berpendapat bahwa Tuhan ada dan bisa disembah dimana saja.

Pada waktu Yesus datang ke dunia, Ia tidak memakai jalan pintas seperti yang disukai manusia di zaman ini. PersiapanNya untuk menebus dosa manusia sudah dimulai sejak manusia jatuh ke dalam dosa, dan memakan jangka waktu yang lama dan proses yang rumit. Semuanya karena Tuhan ingin menjadi manusia agar kita bisa diyakinkan bahwa Tuhan benar-benar mengerti keadaan kita dan selalu beserta kita.

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, motivasi kita seharusnya untuk merasakan kehadiranNya diantara umat percaya. Seperti Yesus yang tahu bahwa tidak ada yang bisa menggantikan hubungan intim yang nyata antara Tuhan dan manusia, demikian juga kita harus yakin bahwa tidak ada yang setara dengan persekutuan orang percaya secara muka dengan muka. Haleluya!

Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa gelombang

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Matius 14: 30

Pernahkah anda mengalami pengalaman yang menakutkan? Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal yang terjadi, yang tidak dapat dikontrol. Mungkin seperti sebuah bis yang menuruni sebuah jalan berliku-liku, yang tidak lagi dapat dikendalikan oleh sang supir. Semua penumpang bis itu tentunya hanya bisa menjerit atau berdoa.

Ketakutan memang bisa muncul ketika ada bahaya yang mendatangi, apalagi jika kita merasa bahwa itu ada diluar kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam hal ini, sekalipun orang percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa, rasa takut sering muncul karena apa yang akan dilakukan Tuhan adalah suatu yang tidak mudah dimengertinya.

Bagaimana pula jika kita yakin bahwa Tuhan sudah menyuruh kita untuk melakukan sesuatu? Apakah kita kemudian bisa hidup dalam ketenangan karena semua yang kita alami tentunya adalah sesuai dengan kehendak Tuhan? Akankah Tuhan membuat hidup kita berjalan mulus jika kita menurut perintahNya?

Dalam kenyataannya, sekalipun hidup kita sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya, itu tidak berarti bahwa ada saat-saat dimana kita merasakan kebimbangan. Tanggung jawab rumah-tangga, pekerjaan, dan pelayanan mungkin sudah kita jalankan sesuai dengan perintahNya; tetapi seringkali kita ragu apakah semuanya akan membawa kebaikan di masa depan seperti yang kita harapkan. Rasa takut dan kuatir pun muncul, karena kita tidak mengerti apa yang akan dilakukan Tuhan.

Pada saat itu, Petrus yang melihat Yesus berjalan diatas air ingin meyakinkan diri bahwa itu benar-benar Yesus. Petrus meminta agar Yesus menyuruh dia untuk berjalan diatas air dan menjumpaiNya. Dengan ajakan Yesus, Petrus segera melangkahkan kakinya diatas air. Keberaniannya tumbuh karena adanya ajakan Yesus. Tetapi ketika dirasakannya ada tiupan angin, takutlah Petrus karena ia mulai tenggelam. Mengapa Yesus tidak membuat tiupan angin hilang dan memerintahkan lautan untuk mendukung Petrus dengan tidak bergoyang?

Melihat Petrus yang ketakutan, Yesus segera menolongnya. Tetapi, Yesus juga menegur Petrus atas kebimbangannya. Itu karena Petrus yang sudah diajak Yesus untuk berjalan diatas air, sebenarnya harus sepenuhnya percaya bahwa ia akan bisa berjalan diatas air sekalipun adanya tiupan angin tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Petrus bisa berjalan diatas air yang tenang, tanpa gelombang atau angin. Seperti itu jugalah, jika kita percaya bahwa kita hidup menurut perintahNya, itu bukan berarti bahwa hidup kita akan selalu tenang. Apa yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya kepada kita sekalipun ada angin topan mendatangi dan gelombang laut yang menggoncang kaki kita.

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14: 33

Kaya atau miskin?

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” Amsal 30: 8

Jika anda bisa memilih antara kaya dan miskin, mana yang anda pilih? Kebanyakan orang akan memilih untuk menjadi kaya, dan karena itu dari kecil mereka akan berusaha keras untuk mencari kesuksesan dengan segala cara. Bahkan dalam ajaran beberapa pimpinan gereja, jemaat juga dianjurkan untuk mencari kesuksesan yang dianggap bukti penyertaan Tuhan. Kekayaan dalam Alkitab Perjanjian Lama memang sering dikaitkan dengan anugerah Allah kepada umatNya. Tetapi, pemberian Allah yang terbesar dalam Perjanjian Baru sudah terwujud dalam diri Yesus. Karena itu Alkitab perjanjian baru lebih menekankan pada kekayaan rohani dan bukannya kekayaan jasmani. Malahan, mencari kekayaan jasmani dikatakan sebagai sesuatu yang bisa membuat kebangkrutan rohani.

Paulus dalam pesannya kepada Timotius berkata:

” Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 8 – 9

Pesan Paulus diatas adalah jelas dan lantang; walaupun demikian, banyak orang Kristen tetap saja mau menjadi hamba uang.

Jika kekayaan bisa mendatangkan banyak masalah, itu adalah hal yang mudah dimengerti. Mereka yang ingin kaya seringkali melakukan hal-hal yang jahat. Tetapi, orang harus menyadari bahwa mereka yang miskin pun bisa terjebak dalam kekeliruan. Penulis Amsal dalam ayat diatas tidak mau memilih kekayaan atau kemiskinan, tetapi memilih apa yang ditentukan Tuhan, agar ia tidak terjerumus dalam dosa.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Masalahnya, kita sering tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita. Seberapa banyak Tuhan sudah menentukan apa yang menjadi bagian kita? Bukankah Dia yang mahakasih dan mahaadil selalu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anakNya? Bukankah Ia mau memberikan apa saja yang baik yang kita minta?

Dalam hidup ini kita bisa melihat bahwa memang baik kekayaan atau kemiskinan bisa membuat orang Kristen untuk menjauhi Tuhan. Satu sebabnya, dan hanya satu: itu karena tidak adanya rasa cukup. Tidak adanya rasa cukup membuat orang menjadi rakus atau merasa sangat lapar. Dalam kedua keadaan itu, kita bisa jatuh kedalam dosa jika Tuhan tidak memberi kekuatan kepada kita dan kemampuan untuk merasa cukup.

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12 – 13

Selubung penyebab masalah

“Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.” 2 Korintus 3: 16

Beberapa bulan yang lalu, saya pergi menonton sebuah sirkus. Memang saya adalah penggemar sirkus, dan selalu berusaha untuk pergi menonton jika ada sirkus yang datang ke kota saya, Toowoomba. Pada kali itu, saya yang beruntung mendapat tempat duduk di kursi paling depan, agaknya tidak beruntung karena dipanggil ke panggung bersama seorang penonton lain, oleh si badut sirkus  dalam acara partisipasi penonton. Saya tahu bahwa si badut akan menjadikan saya obyek tertawaan penonton, tetapi saya tidak bisa menolak ajakannya. Si badut yang membawa sebuah tali, berkata bahwa saya hanya diminta untuk lompat tali. Muka saya kemudian ditutup dengan sebuah kantung hitam sehingga saya tidak bisa melihat apa-apa. Kemudian si badut menyuruh saya melompat -lompat di tempat seiring dengan teriakannya. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semua penonton tertawa terbahak-bahak. Saya tahu bahwa ada perbuatan konyol yang saya lakukan, tetapi dengan mata tertutup saya tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh si badut terhadap saya. Belakangan saya tahu bahwa saya hanya melompat-lompat di tempat, sedangkan tali hanya dihentak-hentakkan di lantai di depan saya. Saya benar-benar melakukan hal yang konyol.

Jika dengan muka yang ditutupi sebuah selubung, orang tidak dapat melihat apa yang terjadi di sekitarnya, dengan hati yang terselubung, orang tidak dapat merasakan apa yang terjadi dalam hidup rohaninya. Mereka tidak dapat menyadari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka, dan sekalipun mereka mempelajari firman Tuhan, mereka tidak dapat mengerti apa arti dan aplikasi firman itu dalam hidup mereka. Mereka mungkin sudah lama menjadi orang Kristen, atau sering pergi ke gereja dan mendengarkan khotbah atau membaca renungan, tetapi tahun demi tahun lewat dan mereka tidak merasakan perubahan apa yang terjadi dalam hidup mereka.  Hati mereka seakan ditutupi oleh sesuatu yang membuat mereka tidak peka akan perintah Tuhan dan kekeliruan hidup mereka. Karena hati mereka yang tidak dapat melihat, hari demi hari dilewatkan tanpa menyadari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka.

Apa yang dapat menyelubungi hati seseorang dari kemuliaan Tuhan? Hanya satu jawabnya. Dosa. Dosa yang dilakukan manusia secara rutin, dan yang membuat manusia merasa terbiasa dengan hidupnya dan bisa menikmati apa yang ada disekelilingnya, membuat hati manusia menjadi dingin. Jika segala sesuatu berjalan sesuai dengan seperti biasa, sangat mudah bagi kita untuk berkata bahwa tidak ada sesuatupun yang perlu dilakukan lagi. Apapun yang terjadi, baik dalam hidup yang berkelimpahan atau hidup yang penuh perjuangan, hati yang tertutup oleh dosa membuat kerinduan akan Tuhan menjadi berkurang dan lambat laun menjadi hilang. Jauh di mata, jauh di hati. Jauh di hati, jauh dari pikiran. Pikiran mereka kemudian menjadi tumpul (2 Korintus 3: 14).

Untuk membuka selubung yang menutup hati , ayat diatas menyatakan perlunya agar manusia berbalik kepada Tuhan. Hidup lama yang mengabaikan Tuhan, haruslah diganti dengan hidup baru yang diserahkan kepadaNya. Mungkin kita sudah lama meninggalkan Tuhan, dan menempuh jalan kehidupan seorang diri. Mungkin kita mendambakan kebebasan dari suara Tuhan dalam hidup kita. Mungkin bagi kita Tuhan sudah terlalu jauh dalam hal mencampuri urusan kita. Mungkin juga, apa yang pernah terjadi dalam hidup kita sudah membuat kita jemu akan perintahNya. Mungkin saja kita sudah hidup bergelimang dalam dosa dan kebiasaan yang salah. Api Roh Kudus yang pernah tinggal di hati kita mungkin sudah padam.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk berbalik kepada Tuhan. Jika kita sudah jauh berjalan seorang diri, Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali kepadaNya. Mungkin sudah lama kita menjadi hamba dosa dan kemerdekaan hidup kita sudah tidak ada. Tetapi, Tuhan menjanjikan bahwa jika kita bertobat, selubung yang menutupi hati kita akan diambilNya, sehingga hati kita akan bisa kembali merasakan kehadiran dan kasih sayangNya.  Lebih dari itu, Roh Kudus akan bekerja dalam hati kita membuat kita benar-benar merdeka dari belenggu dosa dan selubung, untuk kemudian menjadi orang-orang merdeka dalam perlindunganNya.

“Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” 2 Korintus 3: 17

Hidup sebagai selebriti

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5: 14

Anda sering membaca berita tentang selebriti di media? Jika ya, tiap hari tentunya anda bisa menemukan berita apa saja yang terjadi dalam kehidupan mereka. Sekalipun anda kurang suka membaca berita-berita semacam itu, hampir setiap media cetak maupun internet selalu menampilkan cerita tentang orang-orang yang terkenal dan gaya hidup mereka.

Mereka yang menjadi selebriti biasanya mempunyai penampilan, kelakuan, kemampuan dan pekerjaan yang membuat mereka dikenal banyak orang. Sayang sekali, banyak diantara mereka adalah orang-orang yang hidupnya kacau. Kejadian seperti perselingkuhan, pertengkaran, pelecehan dan sebagainya, membuat sebagian besar selebriti dikenal sebagai orang-orang yang tidak baik. Karena itu, sebutan selebriti biasanya mempunyai konotasi yang kurang baik.

Mereka yang menjadi selebriti besar biasanya adalah orang-orang yang berkelimpahan karena mereka sudah mendapat perhatian masyarakat dan kemasyhuran. Dengan status itu, seringkali mereka merasa bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka maui. Walaupun demikian, diantara selebriti di dunia ini ada juga yang hidupnya sederhana, rendah hati, dan dapat dipercaya.

Yesus dan pengikutNya dari awalnya adalah orang-orang yang lain dari yang lain, yang selalu disorot masyarakat. Sebagian orang berpendapat bahwa Yesus adalah seorang selebriti, walaupun apa yang dikerjakannya adalah semata-mata untuk kemuliaan Allah Bapa. Seperti itu, sebagai orang Kristen, sebenarnya kita juga dapat digolongkan sebagai selebriti (dalam arti yang baik) karena masyarakat melihat kita sebagai orang-orang yang menarik perhatian. Ayat diatas menyebutkan bahwa kita adalah terang dunia, yang bisa dilihat semua orang. Baik di rumah, di sekolah, di kantor dan dimana saja, masyarakat melihat atau mengharapkan kita sebagai orang-orang yang mempunyai cara hidup dan tingkah laku yang baik.

Dalam lingkungan hidup kita, kita mungkin dikenal sebagai pengikut Kristus yang mendapat karunia keselamatan. Sudah sepantasnya kalau kita adalah orang-orang yang berbahagia. Tetapi, itu belum tentu terlihat dari hidup kita. Kita adalah murid Yesus, Anak Allah yang sudah merendahkan diriNya untuk datang ke dunia, tetapi kita belum tentu terlihat sebagai orang-orang yang sederhana dan rendah hati. Sekalipun Tuhan kita mahatahu, belum tentu kita hidup jujur dan bisa dipercaya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita adalah seperti selebriti surgawi. Sekalipun kita masih hidup di dunia, kita bukanlah selebriti dunia yang mencari kemasyhuran diri sendiri. Sebagai orang-orang yang dikenal oleh banyak orang lain, orang Kristen haruslah berusaha untuk mempermuliakan Tuhan dalam segala segi kehidupan. Kita adalah terang dunia, dan semua orang bisa melihat cara hidup kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Ujian yang paling sukar

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Pada akhir bulan November ini, semua mahasiswa sudah mendapat hasil ujian semester 2 dan memasuki saat liburan musim panas. Sebagian murid bisa bergembira karena lulus dari semua ujian, tetapi sebagian lagi mungkin tidak bisa bersukacita karena adanya kegagalan dalam ujian tertentu. Memang tiap mata pelajaran sebenarnya mempunyai derajat kesulitan (degree of difficulty) yang berbeda, dan setiap orang mempunyai kemampuan yang berlainan. Bagi mereka yang menyukai mata pelajaran tertentu, biasanya merasa lebih mudah untuk menghadapi ujiannya. Tetapi mereka yang kurang menyukai suatu mata pelajaran, biasanya akan lebih sulit untuk lulus dari ujiannya.

Hidup ini adalah seperti menghadapi ujian. Tiap-tiap hari kita menghadapi tugas dan tantangan. Dan bagi semua orang, ada tantangan dan ujian yang bersifat jasmani, dan ada yang rohani. Apa mata pelajaran yang disukai seseorang dalam hidup biasanya menentukan bagaimana hasil ujiannya. Mereka yang menyenangi mata pelajaran jasmani, mungkin kurang bisa menikmati mata pelajaran rohani, dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, mereka yang sehari-harinya sibuk dan senang memikirkan hal-hal jasmani saja, mungkin kurang mampu untuk menghadapi ujian rohani.

Dalam ayat diatas, dikatakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seekor unta sudah tentu tidak bisa memasuki lubang jarum, karena itu ada yang menafsirkan bahwa “lubang jarum” adalah sebuah pintu kecil di tembok Yerusalem yang hanya memungkinkan seekor unta lewat jika semua beban bawaan unta itu ditanggalkan. Tetapi, sampai sekarang orang tidak dapat memastikan adanya pintu seperti itu. Ada juga tafsiran lain bahwa kata “unta” itu sebenarnya adalah “tali”. Sudah tentu sulit dan bahkan tidak mungkin untuk sebuah tali untuk memasuki lubang jarum yang hanya cocok untuk benang.

Banyak orang yang memakai ayat diatas untuk menepis pelajaran teologi kemakmuran, dengan mengatakan bahwa mereka yang hanya memikirkan kesuksesan dan kenyamanan akan sulit untuk mengikut Yesus. Tetapi, dalam konteks kehidupan modern, bukan hanya orang yang terpukau akan kekayaan yang bakal menemui kesulitan untuk menjadi umat Tuhan. Mereka yang lebih senang menjadi umat duniawi, akan sukar menjadi umat surgawi. Mereka yang lebih menyenangi hal jasmani, akan sulit untuk memahami hal rohani. Mereka yang lebih senang bersantai dalam hidup misalnya, akan kurang tertarik untuk memikirkan hal yang serius seperti soal mengikut Tuhan.

Mata pelajaran kehidupan yang paling sulit, bukanlah soal jasmani. Hal rohani yang menyangkut keselamatan jiwa, adalah jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sekalipun seorang ahli agama seperti Nikodemus, tidak mengerti mengapa manusia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3: 1 – 21). Dengan demikian, ujian yang paling sulit untuk umat Kristen adalah dalam hal mengikut Yesus Kristus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Yesus yang menghendaki hidup kita agar bisa dipusatkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seringkali diabaikan oleh mereka yang merasa bahwa hidup ini lebih baik digunakan untuk kenyamanan diri sendiri. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk lulus dalam ujian jasmani daripada ujian rohani. Tidaklah mengherankan bahwa bagi mereka adalah sulit untuk menyambut uluran tangan Yesus untuk memasuki pintu ke surga.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Yesus adalah cukup bagiku

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9: 27 – 28

Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang Kristen yang sejati? Banyak orang yang bukan Kristen, mengatakan bahwa untuk diselamatkan, mereka harus selalu rajin berbuat baik dan menjalankan perintah Tuhan. Selain itu ada juga orang yang mengajarkan bahwa untuk diselamatkan manusia harus hidup suci dan meninggalkan apa yang bersifat keduniawian. Lain dari itu, ada orang yang berpendapat bahwa jika seseorang belum menerima tanda atau karunia tertentu, ia belumlah benar-benar menjadi umat Tuhan. Semua pendapat yang diatas pada hakikatnya menyatakan bahwa untuk menjadi orang Kristen kita haruslah berusaha menjadi orang yang “istimewa”.

Bukankah orang yang bisa menerima keselamatan adalah orang-orang yang sudah mempunyai hidup yang sesuai dengan firman Tuhan? Pertanyaan semacam ini agaknya aneh, tetapi seringkali dianggap sebagai kebenaran oleh orang yang bukan Kristen maupun sebagian orang Kristen. Mereka berpikir bahwa Tuhan hanya bisa menerima orang yang sudah memenuhi syarat kesucianNya. Tuhan yang mahasuci tentunya hanya mau menerima orang yang baik hidupnya. Kelihatannya pendapat ini masuk di akal.

Walaupun begitu, jika benar bahwa hanya orang-orang yang “baik” yang bisa diterima Tuhan, masalahnya adalah apa yang baik menurut standar Tuhan, tidaklah bakal terjangkau manusia. Oleh karena itu, sebenarnya semua orang tanpa terkecuali sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Mereka yang merasa sudah menjadi orang-orang yang diselamatkan karena “keistimewaan” mereka sebenarnya adalah orang-orang yang patut dikasihani. Mereka tidak sadar bahwa apapun dan bagaimanapun usaha mereka, keselamatan hanyalah tersedia untuk mereka yang mengaku dengan sungguh-sungguh bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak layak.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Kematian Yesus di kayu salib adalah satu-satunya kejadian yang memungkinkan Allah yang mahasuci untuk mengampuni manusia yang penuh dosa untuk diampuni karena Yesus yang tidak berdosa sudah menggantikan manusia untuk menerima hukuman Allah. KematianNya cukup sekali saja karena itu adalah sempurna di hadapan Allah.

Hari ini, jika kita membayangkan apa yang dialami Yesus di kayu salib, kita harus mengerti bahwa apa yang sudah sempurna tidak dapat atau perlu disempurnakan lagi. Apa yang dilakukan Yesus yang sudah memenuhi standar Allah tidak perlu untuk ditambahi perbuatan dan usaha manusia, karena tindakan semacam itu tidak lain hanyalah menunjukkan bahwa manusia belum menerima pengurbanan Yesus sebagai suatu karunia yang sempurna. Dengan demikian, perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah sebuah usaha untuk membeli keselamatan, tetapi adalah pernyataan rasa syukur atas harga penyelamatan yang sudah lunas terbayar. Yesus adalah cukup bagiku. Jesus is enough for me.

Hari Minggu adalah hari bahagia

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” Markus 2: 27

Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang juga dikenal sebagai hari kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib (the Lord’s day). Bagi sebagian orang Kristen, hari ini adalah hari perhentian, seperti hari Sabat bagi orang Yahudi dan sebagian umat Kristen. Hari yang diberikan Tuhan untuk manusia. Benarkah? Banyak orang Kristen yang mengira bahwa karena hari itu adalah hari untuk ke gereja, itu adalah hari untuk Tuhan. Tetapi Yesus sendiri yang mengatakan bahwa hari Sabat adalah hari untuk manusia. Mengapa begitu?

Dalam seminggu, enam hari lamanya manusia harus bekerja. Walaupun banyak negara sudah mengikut prinsip lima hari kerja dalam seminggu, hari Sabtu biasanya adalah hari sibuk yang dipakai untuk berbagai kegiatan pribadi atau keluarga. Dengan demikian, konsep hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat tetaplah relevan untuk banyak orang Kristen.

Pada zaman Yesus masih di dunia, orang Farisi menganggap hari Sabat adalah hari yang ditentukan Tuhan agar manusia berhenti melakukan sebagian besar aktivitas sehari-hari umtuk bisa memusatkan diri pada Tuhan. Tetapi Yesus bisa melihat bahwa hari yang sebenarnya diciptakan untuk kebahagiaan manusia itu kemudian menjadi hari yang membatasi manusia; sedemikian rupa, sehingga manusia merasa sangat terbebani. Manusia bukannya berbahagia dengan datangnya hari Sabat, tetapi sebaliknya menjadi tertekan karena harus menaati segala macam aturan dan adat yang diciptakan manusia sendiri.

Hari Sabat ataupun hari Minggu seharusnya adalah hari yang disediakan Tuhan untuk menyegarkan tubuh dan jiwa manusia, tetapi jika manusia dipaksa untuk mengikuti ajaran kaum Farisi pada waktu itu, manusia tidak akan bisa untuk mendapatkan keintiman dengan Tuhan dan sesama. Peraturan dan persiapan hari Sabat yang sedemikian ketat, justru akan membuat manusia hanya melihat semua itu sebagai tugas (chores) saja.

Hari Sabat diciptakan Tuhan agar manusia dapat mempererat hubungan dengan Tuhan dan sesamanya. Hari Sabat seharusnya adalah hari gembira yang mengingatkan kita atas kemenangan Kristus dalam penebusan dosa manusia, dan hari yang bisa lebih mendorong kita untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama: untuk mengasihi Tuhan, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi; dan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Selain itu, dengan merayakan hari Sabat ataupun hari Minggu, kita bisa bersyukur bahwa Tuhan benar-benar mengasihi umatNya dengan menyediakan satu hari bahagia dalam seminggu.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku,dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2

Tetap bersyukur setiap hari

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Semua hari itu sama, kata orang. Memang tidak ada hari mujur atau hari malang jika orang tidak percaya adanya nasib. Ayat diatas memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi dalam konteks yang lain. Hari baik adalah hari dimana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari dimana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan.

Memang setiap pagi orang bangun dari tidurnya dan mengharapkan bahwa hari itu adalah hari yang baik, terutama mereka yang mempunyai usaha wiraswasta seperti penyediaan jasa atau membuka toko. Memang datangnya pelanggan atau pembeli tidak bisa diduga, dan bisnis bisa sepi atau ramai tergantung pada berbagai faktor.

Bagaimana pula dengan orang yang bekerja di kantor atau di rumah? Adakah hari baik dan hari buruk bagi mereka? Tentu! Mereka yang bekerja untuk sebuah perusahaan mungkin pada hari yang baik mendapat pujian dari boss, tetapi pada hari yang buruk mungkin membuat kesalahan yang tidak semestinya. Begitu juga mereka yang bekerja di rumah terkadang mendapat pujian dan ucapan terima kasih dari anggota keluarga, tetapi bisa juga menerima omelan sekalipun sudah bekerja keras seharian.

Pengkhotbah dalam ayat diatas menulis tentang dinamika kehidupan yang menyangkut semua orang di dunia, yang bekerja maupun yang tidak bekerja, tua atau muda, pria maupun wanita. Bahwa semua orang bisa mengalami saat-saat yang membawa suka maupun yang membuat duka, dan apa yang terjadi seringkali membuat kejutan karena ada diluar dugaan mereka.

Mereka yang selalu berhati-hati dalam hidup, biasanya selalu merencanakan segala tindakan dengan seksama. Pengalaman mereka di masa lalu mungkin memberi keyakinan bahwa sekalipun ada berbagai tantangan kehidupan, mereka mempunyai semangat dan kepercayaan diri untuk dapat mencapai tujuan. Masa depan ada di tangan kita sendiri, begitu mungkin pikiran sombong mereka.

Jika Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, memang manusia bisa menentukan apa yang terjadi hari ini. Manusia juga akan bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, karena Tuhan adalah mahakuasa, apa yang akan terjadi di masa depan sebenarnya tidak dapat ditentukan manusia. Pertanyaan yang sederhana pun, seperti apakah kita bisa bangun dari tidur esok pagi dalam keadaan sehat, tidak bisa kita jawab dengan kepastian. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan. Tuhan mempunyai rencana tersendiri untuk setiap orang, dan manusia harus tunduk kepada kehendakNya dalam bekerja dan berusaha.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14.

Pagi ini, kembali kita diingatkan bahwa jika kita mendapat hasil yang baik dalam hidup kita, kita boleh menikmatinya. Sebaliknya, jika kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kita harus percaya bahwa itu juga dengan sepengetahuan Tuhan. Dalam segala hal kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan karena itu adalah sepatutnya jika kita selalu bersyukur dan mau menyerahkan masa depan kita sepenuhnya kedalam bimbingan kasihNya.

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15