Hadiah natal apa yang anda inginkan?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Sepuluh hari sebelum hari Natal, pusat-pusat pertokoan di Australia biasanya penuh sesak dengan orang-orang yang mencari berbagai kebutuhan untuk merayakan hari Natal. Kebanyakan orang mencari hadiah natal untuk sanak saudara, hiasan natal untuk rumah dan pakaian baru. Memang, karena hari Natal dan Tahun Baru adalah dua hari libur yang berdekatan dan bulan Desember dan Januari adalah bulan liburan sekolah, banyak orang yang menghabiskan waktu luang dengan kegiatan shopping.

Bagi mereka yang merayakan hari Natal, mencari hadiah natal bukanlah tugas yang mudah dilakukan. Banyak hadiah natal yang diberikan oleh orangtua, anak dan saudara, berakhir dengan menyedihkan karena harus diberikan kepada orang lain, dijual atau dimasukkan keranjang sampah.

Apa yang sebaiknya diberikan kepada orang yang kita kasihi seharusnya sesuatu yang bisa berguna untuk mereka. Bukan hanya untuk kegembiraan sesaat, tetapi bisa bermanfaat untuk jangka panjang. Tetapi kebutuhan tiap orang adalah berbeda, dan orang lain seringkali salah menerka. Untuk menghindari salah pilih, kita bisa bertanya kepada orang yang akan kita beri, hadiah apa yang diingininya. Tetapi, orang itu sendiri mungkin tidak tahu pasti apa yang dibutuhkannya.

Pada waktu Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, Allah langsung mengetahui apa yang dibutuhkan mereka. Pengampunan dosa. Karena Allah adalah Tuhan yang mahasuci, manusia tidak akan bisa bebas dari hukuman dosa. Manusia akan binasa karena dosanya. Tetapi, karena kasihNya, Allah mau mengirimkan hadiah yang terbesar yang bisa diberikanNya kepada manusia, yaitu AnakNya yang Tunggal, Yesus Kristus.

Apakah manusia mau menerima hadiah natal dari Allah? Sejarah membuktikan bahwa banyak manusia tidak mengerti betapa berharganya karunia Allah itu. Mereka tidak juga mengerti bahwa apa yang dikaruniakan Tuhan itu adalah mutlak untuk memenuhi kebutuhan mereka, agar mereka tidak binasa. Karena itu hanya sebagian dari umat manusia yang akhirnya mau menerima uluran tangan Tuhan. Sebagian yang lain, memilih hadiah yang berupa kenikmatan duniawi.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah apa yang kita inginkan sebagai hadiah natal kita. Bagi kita yang sudah menerima hadiah keselamatan melalui Yesus Kristus, apapun yang lain tidak akan seindah dan berharga seperti karunia keselamatan. Karena itu kita harus tetap bisa bersyukur sekalipun kita tidak selalu memperoleh apa yang kita inginkan dalam hidup ini. Walaupun demikian, jika Tuhan kali ini masih mau memberikan hadiah natal untuk kita, apakah yang anda inginkan? Semoga kita mau meminta kepada Tuhan agar semua orang disekitar kita bisa menyadari kebutuhan hidup mereka yang utama dan datang bertobat kepada Tuhan. Itu adalah hadiah natal yang terbesar untuk mereka!

Iman bukan agama

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Di Indonesia, semua penduduk harus mempunyai KTP atau kartu tanda penduduk yang merupakan tanda pengenal yang sah. Tetapi, kartu yang sering dipakai di Australia sebagai tanda pengenal resmi adalah surat ijin mengemudi atau SIM. Ada perbedaan besar antara data yang ada pada KTP Indonesia dan yang tertera pada SIM Australia. Pada KTP Indonesia ada informasi tentang agama, status perkawinan dan pekerjaan, sedang pada SIM Australia, ketiganya tidak dicantumkan karena itu dianggap data pribadi yang tidak perlu diketahui orang lain.

Agama adalah salah satu status yang penting di Indonesia, seperti juga status pekerjaan dan perkawinan. Mungkin saja sebagian besar penduduk Indonesia berpendapat bahwa mereka yang hidupnya berhasil adalah orang yang beragama, yang mempunyai pekerjaan tetap, dan yang rumah tangganya berjalan baik. Walaupun demikian, tentunya orang setuju bahwa tidak semua orang yang beragama itu adalah orang-orang yang saleh, atau mereka yang mempunyai pekerjaan itu pasti mendapat penghasilan yang cukup, atau  mereka yang berstatus kawin itu pasti mempunyai rumah tangga yang bahagia. Dengan demikian, status yang bisa dilihat atau dibaca orang, belum tentu bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Bagaimana dengan status beragama Kristen? Apakah ada artinya? Dalam Alkitab berbahasa Indonesia, kata “agama”  muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tetapi, dalam terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris, kata “religion” hanya muncul kurang dari 10 kali. Memang dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa-bahasa aslinya (Yahudi dan Yunani) beberapa kata yang sebenarnya berbeda artinya dengan arti kata “agama” yang sekarang, diterjemahkan sebagai “agama”. Apa yang disebut-sebut di Alkitab  sebagai kepercayaan atau iman kepada Tuhan, dianggap sama dengan “agama”. Kata yang dipilih penerjemah itu bisa menyebabkan kekeliruan dalam pengertian umat Kristen.

Ayat diatas menulis bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Berdasarkan ayat ini, dan untuk zaman ini, kita bisa menafsirkan bahwa orang Kristen dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus, dan bukan karena ia melakukan kewajiban-kewajiban agama, seperti ke gereja, mengikuti perjamuan kudus, rajin berdoa, berbuat amal dan sebagainya. Mereka yang rajin melakukan kewajiban agama saja adalah seperti mereka yang digolongkan sebagai orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka yang merasa sudah diselamatkan karena kesalehannya adalah orang yang beragama, tetapi belum tentu beriman kepada Yesus. Mereka yang hidupnya terlihat tertib, bersih dan teratur mungkin saja belum diselamatkan!

Apa yang membawa kepada keselamatan adalah iman kepada Yesus yang merupakan karunia Allah untuk menebus dosa manusia. Jika manusia ingin berbuat baik untuk bisa masuk ke surga melalui agama, itu adalah usaha yang sia-sia karena sebagai manusia kita tidak dapat memenuhi syarat kesucian Allah. Agama penuh dengan peraturan yang dibuat manusia, tetapi iman datang dari Allah. Mereka yang beriman bisa digolongkan kedalam satu agama dan bahkan kedalam satu aliran teologi, tetapi penggolongan itu bukanlah yang diciptakan oleh Tuhan. Tuhan tidak akan bertanya apakah kita anggota gereja A atau gereja B jika kita masuk ke surga!

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pagi ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Kristus. Apakah kita sudah mempercayakan masa depan kita, baik di bumi maupun di surga, kepadaNya. Ataukah kita masih berusaha berbuat berbagai kebaikan untuk memastikan keselamatan kita? Jika kita memang beriman, kita tidak perlu menguatirkan masa depan kita. Sebaliknya, dengan rasa syukur kita bisa hidup dalam kedamaian, dan dengan itu kita mau memuliakan Tuhan yang mahakasih dengan membaktikan kasih kita kepadaNya dan sesama kita setiap hari.

Mungkinkah kita kehilangan keselamatan?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya keraguan apakah mereka atau sanak-saudara akan diselamatkan pada akhir hidup mereka. Tambahan lagi, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagiNya.  Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas memenuhi syarat untuk masuk ke neraka!

Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwaYesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Kembali kepada pertanyaan diatas, dapatkah orang yang sudah mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, untuk kehilangan keselamatan yang sudah diberikan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah singkat dan pasti: tidak mungkin. Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintahNya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus.

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggilNya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apapun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubahNya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan namaNya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu meragukan janji keselamatanNya.

Pada pihak yang lain, mungkin diantara kita masih ada yang  bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau dorongan dunia. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima keselamatan. Disini peranan doa adalah sangat penting, karena Tuhan bekerja menurut rencanaNya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukanNya kepada orang-orang yang belum percaya kepadaNya luar dan dalam. Doa kita haruslah merupakan pernyataan iman kita bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan ingin agar manusia bisa diselamatkan pada waktu yang ditetapkanNya. Dengan doa, kita menyerahkan hidup kita dan hidup orang lain agar bisa berubah secepat mungkin karena hidup manusia di dunia adalah terbatas; tetapi semua itu biarlah sesuai dengan kehendakNya.

Jangan kecewa kepada Tuhan

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” 2 Korintus 12: 7

Jika kita jujur kepada diri kita sendiri, tentu kita harus mengaku bahwa dalam hidup ini kita sering kecewa karena berbagai sebab. Diantara kekecewaan yang ada, mungkin ada yang besar atau yang kecil, dan mungkin disebabkan oleh apa yang terjadi pada diri kita, orang lain atau lingkungan.

Kekecewaan terjadi ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi, atau jika apa yang tidak kita harapkan terjadi.  Bagi orang yang percaya kepada Tuhan yang mahakasih, pertanyaan mereka mungkin bertalian dengan kenyataan bahwa Tuhan seakan membuat umatNya kecewa. Doa yang diucapkan sejak lama misalnya, tidak kunjung terjawab; dan itu membuat manusia merasa dikecewakan.

Pada intinya, bagi manusia kekecewaan adalah rasa sedih karena kita tidak mengerti mengapa sesuatu berjalan tidak sesuai dengan pengharapan kita. Kekecewaan belum tentu dosa, karena Tuhan juga sering dikecewakan oleh manusia sekali pun Ia tahu segala yang akan terjadi dan penyebabnya. Jika kekecewaan Tuhan adalah karena kebodohan manusia, kekecewaan manusia adalah juga karena hal yang sama. Kekecewaan manusia menjadi dosa jika manusia tidak mengakui bahwa kebodohan manusia adalah penyebabnya dan itu mungkin termasuk kebodohan dirinya sendiri.

Mereka yang tidak mengerti bahwa segala sesuatu berjalan menurut rancangan Tuhan adalah orang-orang yang bodoh. Mereka yang kecewa adalah orang-orang bodoh yang kemudian bisa membenci orang lain, keadaan di sekelilingnya atau dirinya sendiri. Mereka yang kecewa bisa saja melakukan hal-hal yang lebih bodoh lagi dengan melakukan kekerasan atau kebencian kepada orang lain, lingkungan dan dirinya sendiri. Mereka yang sangat kecewa bisa saja mengutuki Tuhan.

Salah satu orang yang hampir kecewa adalah rasul Paulus, yang menderita karena suatu sebab. Apakah penderitaan itu adalah penderitaan fisik, spiritual atau emosional, tidaklah ada orang yang bisa memastikan. Tetapi ia jelas sangat menderita karena ia mengatakan bahwa ia mempunyai suatu “duri dalam daging”. Jika duri itu tidak mematikan tubuh jasmaninya, jelas bahwa ia merasa sakit sekali. Karena itu ia sudah berseru tiga kali untuk memohon pertolongan. Tetapi seakan Tuhan tidak mendengar.

Tuhan malahan memberi Paulus pengetahuan bahwa Ia sendiri sudah menyurus utusan iblis untuk menyiksa Paulus. Bagaimana Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan iblis untuk mengganggu Paulus adalah hal yang menakutkan semua orang percaya. Tetapi itu bukanlah hal yang tidak mungkin, karena Ayub yang sangat taat kepada Tuhan juga mengalami penderitaan yang sangat besar ketika Tuhan mengizinkan iblis untuk menyerang Ayub (Ayub 1: 12). Tetapi Ayub bukanlah orang yang bodoh; ia mengerti bahwa Tuhan mempunyai maksud tertentu dalam semua yang dialaminya. Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dalam semua keadaan.

Tahukah Paulus maksud Tuhan dengan membiarkan dirinya menderita? Mungkin saja ia pada mulanya tidak mengerti hal itu. Karena itu, Paulus memohon sampai tiga kali agar Tuhan melepaskannya dari duri itu. Jika ia mengerti apa maksud Tuhan dari mulanya, tentu Paulus sebagai rasul tidak perlu memohon kelepasan. Tetapi, melalui pergumulannya, Paulus kemudian mengerti bahwa semua itu terjadi agar ia tidak meninggikan diri. Sebagai anak Tuhan, Paulus bisa saja merasa sombong jika Tuhan selalu memberikan kenyamanan, kesuksesan dan kemakmuran kepadanya.

Pagi ini, jika kita mengalami penderitaan dan kekecewaan karena orang lain, karena lingkungan,  atau karena diri kita sendiri, kita harus menyadari bahwa seperti Ayub dan Paulus, kita pun pengikut Tuhan. Bagi pengikut Tuhan, penderitaan hidup adalah hal yang biasa. Berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh sebagian orang Kristen, kita harus menghindari kebodohan manusia yang merasa bahwa Tuhan harus selalu melimpahkan berkatNya dalam bentuk apa yang enak saja. Sebab Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang besar dalam diri setiap umatNya, dan melalui pergumulan hidup kita bisa menerima berkat yang besar yaitu iman yang makin teguh kepada Dia. Jangan mudah kecewa!

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Jika kesulitan hidup mendatangi

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya setiap orang ingin hidup berbahagia. Hanya saja, tiap orang mempunyai pengertian yang berbeda tentang apa yang disebut kebahagiaan. Ada falsafah Jawa yang berbunyi “mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Artinya, lebih baik hidup susah di desa atau di kampung daripada harus berpisah dengan keluarga dan kerabatnya untuk sekedar mencari makan ditempat lain. Kebahagiaan agaknya bukan ditentukan oleh adanya harta atau kenyamanan. Tetapi, orang yang tidak setuju dengan falsafah itu bisa saja berpendapat bahwa untuk bisa hidup bersama dengan keluarga dan kerabat, orang tetap harus mempunyai penghasilan yang cukup, setidaknya untuk bisa makan.

Memang untuk bisa hidup berbahagia sebagian orang berpikir bahwa dengan adanya harta, semua bisa dibeli. Kebahagiaan seolah bisa diperoleh melalui kemakmuran. Tetapi ini tentu saja tidak benar. Alkitab menyatakan bahwa orang yang gila harta mudah jatuh kedalam berbagai pencobaan (1 Timotius 6: 10). Sebaliknya, orang yang hidup dalam kekurangan yang besar, mungkin juga sulit untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Jika kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dukacita dan penderitaan sering datang tanpa diundang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa dalam kemalangan masih ada keuntungan, yaitu datangnya penghiburan dari Tuhan.

Tuhan yang mahakasih sebenarnya ingin untuk selalu berkomunikasi dengan umatNya. Setiap saat Ia ingin untuk membimbing dan menguatkan mereka yang mau mendengarkanNya. Tetapi, seperti seorang anak kecil yang melupakan orangtuanya ketika sibuk bermain ayunan di halaman, kita pun sering melupakan Tuhan ketika hidup kita sedang berjalan lancar.

Untuk seorang anak, adanya orangtua adalah suatu berkat. Mereka yang tidak mempunyai orangtua bisa merasakan saat-saat dimana rasa sepi dan takut mendatangi. Anak-anak yang mempunyai orangtua yang baik dan bijaksana adalah orang-orang yang berbahagia karena adanya penghiburan dan perlindungan ketika mereka mengalami hal yang tidak diinginkan.

Semoga pagi ini kita disadarkan bahwa Bapa kita yang di surga tidak pernah meninggalkan kita. Berbahagialah umat Tuhan yang mau memanggil namaNya ketika badai kehidupan menerpa!

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3: 22 – 23

Melawan kuasa iblis

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 11 – 12

Banyak orang yang percaya bahwa hantu itu ada. Anehnya, hanya sebagian dari orang-orang itu yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Jadi, sekalipun mereka percaya bahwa dunia roh itu ada, hanya sebagian orang yang percaya bahwa roh yang mahakuasa itu ada.

Banyak orang yang pernah menjumpai, melihat dan merasakan kehadiran roh-roh yang bergentayangan, percaya bahwa dunia roh adalah dunia yang penuh misteri. Di beberapa negara yang dipengaruhi budaya setempat, orang mengenal banyak roh-roh yang bisa muncul dengan berbagai bentuk dan mempunyai berbagai nama. Selain itu, ada orang-orang yang percaya bahwa diantara roh-roh itu ada roh yang baik dan ada yang roh yang jahat. Mereka mungkin percaya bahwa ada roh-roh yang bisa mereka gunakan sebagai pembantu atau penolong mereka.

Untuk orang Kristen dunia roh itu memang ada, dunia dimana iblis dan pengikutnya berkeliaran seperti singa yang mencari kesempatan guna menyerang anak-anak Tuhan. Orang Kristen tidak memuja roh atau berdoa kepada roh, jin dan arwah, karena mereka hanya beriman kepada Tuhan.

Roh yang jahat sering dibayangkan berupa makhluk yang mengerikan, tetapi orang Kristen tahu bahwa itu tidaklah selalu benar. Iblis dulunya adalah malaikat Tuhan yang rupawan, dan ia tahu bahwa dengan penampilan yang memikat, manusia tentu mudah terkecoh dan jatuh dalam dosa. Karena itu, iblis justru seringkali menggoda manusia dengan hal-hal yang indah, nikmat dan menggairahkan. Bukannya menghindari, manusia justru sering mendekati iblis untuk mencoba dan merasakan apa yang ditampilkannya.

Bagaimana kita dapat mengatasi serangan iblis? Sebagian orang memakai doa-doa dan tindakan istimewa untuk melawan serangan iblis, tetapi ini tidak selalu diperlukan. Sebenarnya umat Kristen tidak perlu takut kepada iblis, karena Yesus sudah mengalahkannya di kayu salib.

Apa yang perlu kita lakukan hanyalah hidup dekat dengan Tuhan. Jika hidup kita dipakai untuk memuliakan Tuhan setiap saat, iblis tidak akan mempunyai kesempatan untuk menggoda atau menyerang kita. Darah Kristus adalah senjata orang Kristen baik secara defensif maupun ofensif terhadap kuasa iblis. Karena itu, untuk menolong orang lain yang mengalami serangan iblis, kita harus membantu mereka dengan doa dan peringatan agar mereka mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan.” Efesus 6: 14 – 18

Bagaimana mendidik orang lain

“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17 – 18

Hal mendidik bukanlah soal mudah. Sejak dulu orang tua, guru dan majikan selalu harus berusaha keras untuk membimbing anak, murid dan bawahan, agar mereka menjadi orang-orang yang berguna. Jika pada zaman yang telah silam orang seakan menggunakan teknik atau cara yang sederhana untuk mendidik kaum muda, di zaman sekarang berbagai teori muncul untuk memberikan cara pendidikan yang terbaik. Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa hal mendidik bukannya semakin mudah dilaksanakan.

Alkitab menyatakan bahwa pendidikan harus dimulai dari masa kecil untuk memberi hasil yang maksimal. Penundaan pendidikan tidak hanya memberi kesempatan untuk kebiasaan buruk untuk mulai muncul, tetapi juga membuat orang lebih sulit untuk menerima ajaran baru dengan meningkatnya usia.

“Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.” Amsal 29: 21

Tuhan yang sudah mengasihi kita, ingin agar kita membagikan kasihNya kepada mereka yang kita didik. Sebagaimana Yesus sudah menebus dosa kita dalam kasihNya, kita mendidik orang-orang disekitar kita dengan kasih dan kesabaran, agar mereka bisa melihat bahwa sebagaimana Tuhan menjaga dan melindungi kita, begitu juga Tuhan yang mahakuasa mau menjaga mereka jika mereka mau menjadi dombaNya.

Tuhan yang di surga, tentunya mengerti sepenuhnya bagaimana sifat dan kemampuan manusia. Dalam ayat pembukaan diatas, pemazmur menulis bahwa Tuhan sudah mengajar dia sejak kecil untuk memberitakan kebesaranNya; dan karena itu, sampai masa tua pun dia ingin agar Tuhan tetap menyertainya agar ia dapat mendidik kaum muda. Mendidik adalah membagikan apa yang kita ketahui kepada orang lain, sehingga mereka pun menjadi orang yang berpengetahuan.

Sebagai orang percaya, tentu ada banyak pengetahuan tentang Tuhan yang kita punyai. Bukan saja kita sadar bahwa Tuhan itu mahakuasa, kita juga mengerti bahwa Dia adalah mahatahu dan mahakasih. Tuhanlah yang sudah membimbing dan melindungi kita sejak kecil, dan dengan demikian apa yang kita sampaikan kepada orang lain adalah kesaksian hidup kita yang menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Dalam hal ini, kita menceritakan apa yang kita yakini dan alami kepada orang lain, dan menjalankan apa yang kita ajarkan kepada orang disekitar kita, sehingga kita bukan hanya menjadi pembawa Firman, tetapi juga pelaku Firman. Talk the walk, walk the talk.

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8

Hampir berarti belum

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.” Markus 12: 34

Teringat saya akan pertandingan sepakbola piala dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia. Banyak orang pada saat itu memperkirakan bahwa tim Prancis akan kalah menghadapi tim Kroasia yang pada babak-babak sebelumnya bermain kompak dan cantik. Tim Prancis memang secara umum bermain dengan baik, tetapi sebelum final prestasi mereka tidak terlihat istimewa.

Apa yang terjadi adalah diluar dugaan. Prancis menang dengan skor 4 – 2. Walaupun Kroasia menguasai bola sepanjang 61% dalam pertandingan dan menembakkan bola 15 kali, hanya 3 tembakan yang terarah ke gawang, dua saja yang masuk ke gawang. Memang bola yang tidak masuk ke gawang, sekalipun hampir masuk, tidak akan menghasilkan skor. So near, and yet so far.

Apa yang bisa terjadi dalam pertandingan bola agaknya mirip dengan apa yang ditulis dalam ayat diatas. Orang-orang yang merasa yakin bahwa mereka sudah diselamatkan, mungkin saja hampir diselamatkan. Tapi belum. Pada waktu itu, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus apa hukum yang paling utama. Yesus kemudian menyatakan bahwa hukum kasih kepada Tuhan dan sesama manusia adalah dua hukum yang paling penting. Mendengar hal itu, sang ahli Taurat dengan cepat mengiyakan apa yang dikatakan Yesus. Karena itu, Yesus menjawab bahwa ahli Taurat itu tidak jauh dari kerajaan surga, tidak jauh dari pengertian yang benar.

Apakah ucapan Yesus itu adalah sebuah pujian atau celaan? Jika kita bayangkan diri kita sebagai ahli Taurat yang mendengarkan jawaban Yesus itu, apakah kita merasa senang? Barangkali, tidak semua orang bisa mengerti bahwa Yesus bermaksud menyatakan bahwa “tidak jauh” berarti “belum sampai”. Memang “hampir”, tetapi “belum”.

Banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa cukup dengan percaya kepada Yesus, mereka akan diselamatkan. Tetapi mereka tidak sadar bahwa iblis pun percaya kepada Tuhan dan bahkan takut kepadaNya. Iblis juga percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Walaupun demikian, iblis tidak mengasihi Allah dan tidak taat kepada perintah Allah. Iblis ingin berbuat semaunya, dan tidak mau tunduk kepadaNya.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita bukannya apakah kita percaya kepada Tuhan. Sebab itu dengan mudah bisa kita jawab dengan keyakinan. Tetapi, pertanyaan kepada kita ialah apakah kita benar-benar melakukan apa yang dikendaki Tuhan dalam hidup kita sebagai bukti iman kita. Hampir tidak berarti sudah. Hampir berarti belum.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Yang kaya makin kaya

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Salah satu keluhan rakyat dari sebuah negara maju biasanya bertautan dengan kenyataan bahwa kemakmuran yang terlihat belum tentu dapat dirasakan oleh semua orang. Bahkan, keluhan rakyat biasanya sehubungan dengan keadaan dimana orang yang kaya bertambah kaya, sedangkan orang yang miskin bertambah miskin. Suatu ketidakadilan sosial yang sering dijumpai di negara-negara besar di dunia.

Keadaan yang serupa sering juga terlihat diantara masyarakat Kristen, dimana gereja-gereja yang besar dan kaya seringkali terlihat makin maju dan makmur, sedangkan gereja-gereja yang kecil harus berjuang dalam kekurangan dan kemiskinan. Orang mungkin menghubungkan kemakmuran sebuah gereja dengan berkat Tuhan, atau membuat asumsi bahwa kenyamanan yang mereka alami menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang disenangi Tuhan, yang hidup menurut kehendak Tuhan. Tetapi hal ini adalah jauh dari kebenaran, sebab Tuhan adalah Tuhan yang adil dan mengharapkan semua umatNya untuk hidup berbahagia.

Ayat diatas memang sering ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa Tuhan mengasihi orang-orang pilihanNya, dengan memberkati orang-orang tertentu. Mereka yang hidupnya sukses dan kaya, tentunya adalah orang-orang yang menggunakan berkat dan talenta dari Tuhan sedemikian rupa sehingga Tuhan senang dan makin membuka pintu-pintu berkat di surga. Memang ada benarnya jika mereka yang tidak menghargai berkat Tuhan yang sudah dilimpahkan, tidak akan menerima tambahan berkat di masa depan. Tetapi hal jasmani ini bukanlah yang terpenting dalam hidup manusia.

Apa yang lebih ditekankan dalam ayat diatas adalah kenyataan bahwa orang yang merasakan berkat karunia dan kasih Tuhan setiap hari, akan makin merasakan kecukupan dan bahkan kelimpahan dalam hidup rohaninya. Memang orang tidak perlu hidup dalam kelimpahan untuk dapat merasakan betapa besarnya kasih Tuhan dalam pengurbanan Yesus Kristus.

Mereka yang bergelimang dalam kenikmatan duniawi, malahan sering terasing dari Tuhan. Mereka yang tidak tahu bagaimana menggunakan hidup untuk memuliakan Tuhan yang sudah mati disalibkan, akan mengalami kemiskinan rohani sehingga semakin lama imannya akan semakin kecil dan akhirnya lenyap.

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 13: 11 – 12

Hal mencari getaran hati

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Salah satu makanan Indonesia yang sangat saya sukai adalah nasi campur. Di Australia, nasi campur tidaklah mudah ditemui. Karena itu, sebagai gantinya saya biasanya memesan nasi lemak, yang serupa dengan nasi campur. Apa yang saya sukai dengan nasi campur atau nasi lemak adalah adanya berbagai lauk dengan berbagai rasa sedap yang disajikan bersama semangkuk nasi.

Dalam hidup sehari-hari, banyak orang yang juga menyenangi berbagai aktivitas yang membuat hidup terasa bervariasi. Dengan mencampur beberapa kegiatan, hidup bisa terasa lebih nikmat dan tidak membosankan. Memang, kata orang jika kita harus bekerja tiap hari tanpa sempat pergi ke bioskop, restoran atau mal, dan berjumpa dengan teman-teman, hidup ini menjadi hambar.

Adalah kenyataan bahwa apapun yang terasa enak, jika itu dinikmati tiap hari, lama-lama timbul rasa bosan juga. Kalau dalam hal makanan, orang bisa berganti menu, dalam hidup orang yang bosan sering berganti gaya hidup dan aktivitas. Tetapi, untuk mencapai maksud itu biasanya pilihan yang tersedia adalah terbatas. Itulah sebabnya banyak orang yang kemudian dengan sengaja mencari sesuatu yang jarang dan sulit diperoleh, melakukan hal-hal yang tidak lazim, dan bahkan menjalani hidup yang berbahaya dan yang melanggar hukum.

Sebagian orang Kristen pun merasa bahwa hidup yang dituntut Tuhan adalah hidup yang terlalu”steril”, yang kurang memberi getaran hati atau thrill. Dimulai dengan hal-hal yang kecil, yang kurang mencolok, orang mulai melakukan sesuatu aktivitas atau memilih gaya hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Pelan tetapi pasti, orang kemudian terjebak dalam kebiasaan dan perbuatan yang terasa nikmat dan seolah memberi kepuasan. Mereka kemudian yakin bahwa ada banyak hal yang lebih menarik daripada soal Tuhan. Tuhan secara perlahan menjadi Oknum yang diketahui tetapi tidak lagi dikenal atau disukai.

Bagaimana pendapat Tuhan akan hidup manusia yang mencari getaran hati? Mereka yang tergolong thrill-seekers? Ayat diatas menulis bahwa mereka yang dengan sengaja berbuat dosa, yang hakikatnya memilih untuk menjauhkan diri dari Tuhan dan firmanNya, adalah bukan anak-anak Tuhan. Anak-anak Tuhan menemukan kebahagiaan dan kecukupan dalam Dia, bukan dalam hal-hal yang membawa kepuasan duniawi. Mereka yang sengaja mengutamakan hal-hal duniawi adalah orang-orang yang belum mengenal Tuhan dengan sepenuhnya. Mereka itu belum mengerti bahwa keselamatan melalui Yesus Kristus adalah yang paling utama dalam hidup. Apa yang mereka lakukan dalam hidup adalah persoalan yang harus diselesaikan secara pribadi dengan Tuhan sebelum mereka bisa yakin bahwa Tuhan itu ada dalam hidup mereka.