Memikirkan masa depan

Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9: 15

Apa yang akan terjadi di dunia pada tahun 2019? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan kepastian, karena tidak ada yang tahu. Jangankan di dunia, apa yang terjadi pada diri kita sendiri pun tidak ada yang bisa menerka. Bagaimana dengan keuangan kita? Sekalipun kita siap untuk bekerja lebih keras dari tahun yang lalu, kita tidak bisa memastikan bahwa hasilnya akan lebih baik. Apalagi ekonomi dunia sekarang ini agaknya sedang sakit. Jika demikian, adakah gunanya kita untuk berbuat baik, bekerja keras dan berhati-hati?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang nyaman untuk umatNya. Sebagian lagi percaya bahwa bagi mereka yang benar-benar beriman tidaklah ada kegagalan dan penderitaan. Tapi pandangan semacam itu hanya membuat Tuhan itu seperti sesuatu yang hanya memiliki satu dimensi, yang dapat diukur manusia. Lebih-lebih lagi, jika pikiran Tuhan dapat diterka manusia, Ia bukanlah Tuhan yang mahakuasa. Kalau pikiranNya mudah diterka, manusia bisa mengelak dari keputusan Tuhan dan bisa berbuat seuatu untuk mengubah keputusanNya. Hidup manusia dengan demikian mungkin bisa dijalani sebagai suatu eksperimen untuk mencari jalan agar Tuhan selalu memberi kelimpahan. Ini adalah pandangan yang jelas keliru.

“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 34 – 35

Lebih dari itu, ayat pembukaan dari Roma 9: 15 menyatakan bahwa Tuhan berhak untuk memberkati atau membenci orang-orang tertentu, sesuai dengan kehendakNya.

Dari uraian diatas, jelas bahwa Tuhan yang mahabijaksana mengambil keputusan tanpa dipengaruhi usaha manusia. Tetapi, hal ini bisa menyebabkan timbulnya dua pertanyaan. Yang pertama, jika Tuhan agaknya berlaku semena-mena kepada mahluk ciptaanNya, dapatkah kita katakan bahwa Tuhan itu adil?

Alkitab berkata bahwa jika Tuhan itu mahakuasa, tentunya Ia bisa melakukan apa yang dihendakiNya. Berbagai contoh dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan bisa memudahkan, membuat sukar atau membiarkan hidup kita. Tetapi, kita sebagai manusia harus menerima apa saja yang diputuskanNya.

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Roma 9: 20

Pertanyaan kedua, yang sehubungan dengan usaha manusia, adalah mengapa kita harus bekerja keras menurut rencana yang baik jika Tuhan pada akhirnya menentukan hasilnya. Bukankah hidup kita bergantung pada apa yang diputuskan Tuhan?

Alkitab mempunyai banyak contoh dimana mereka yang menurut firmanNya dan yang selalu mengikuti kehendakNya, memperoleh berkat yang berkelimpahan dalam hidup. Tetapi Alkitab juga menulis bagaimana mereka yang setia kepadaNya, memperoleh kekuatan dalam menghadapi berbagai penderitaan di dunia. Tuhan bisa memberkati mereka yang bekerja dengan giat dan jujur, tetapi lebih dari itu Ia bisa memberi rasa cukup dan ketenteraman kepada umatNya dalam segala keadaan.

Memang perlu kita sadari, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu nyaman, tetapi Ia berjanji akan menyertai dan menguatkan kita dalam menghadapi berbagai tantangan. Lebih dari itu, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu semua rencana dan kehendakNya adalah baik untuk mereka yang mau dipimpinNya.

Adakah kekuatiran anda dalam memasuki tahun yang baru? Mereka yang hanya mengenal kemahakuasaan dan kemahasucian Tuhan mungkin akan sering menghadapi hidup dengan kemuraman atau kekuatiran, tetapi siapa yang mengerti bahwa Tuhan juga mahaadil, mahabijaksana dan mahakasih, akan dapat menghadapi tahun yang baru dengan optimisme, kedamaian dan rasa syukur.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Harapan masa lalu dan harapan masa depan

“Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” Yesaya 33: 15 – 16

Tidak terasa tahun 2018 sudah hampir berlalu, dan bersamaan dengan itu semua yang sudah terjadi akan menjadi kenangan. Memang dengan lewatnya tahun ini, beberapa harapan yang kita punyai di awal tahun mungkin tinggal harapan dan tidak menjadi kenyataan. Dengan datangnya tahun baru, orang mungkin mempunyai harapan baru, untuk memperoleh apa yang lebih baik dari keadaan yang sekarang.

Ayat diatas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering disebut dalam khotbah di gereja-gereja, untuk menganjurkan agar umat Kristen mempunyai hidup yang baik, yang sesuai dengan firman Tuhan. Ayat itu seolah menyatakan bahwa mereka yang hidup jujur dan tulus, akan terjamin hidupnya, dan kebutuhan hidupnya akan terpuaskan. Karena itu, banyak orang yang berpikir bahwa hidup dalam Tuhan itu adalah jaminan kenyamanan hidup di dunia. Dalam kenyataannya, menjadi umat Tuhan tidaklah selalu bisa bebas dari kesusahan, kekurangan dan penderitaan.

Pada waktu itu, kerajaan Yehuda di bagian selatan berada dalam penderitaan karena serangan bangsa-bangsa asing. Mereka mungkin bertanya-tanya mengapa mereka harus menderita begitu besar. Tetapi dalam ayat diatas, nabi Yesaya menyatakan nubuat yang diterimanya dari Tuhan agar bani Yehuda mau taat kepada Tuhan, jika mereka mengharapkan pertolonganNya. Mereka yang sedang menderita dalam kekurangan akan dipuaskan jika mereka mau berjalan sesuai dengan perintah Tuhan. Sayang, ini tidak diturut oleh bani Yehuda. Sejarah mencatat bahwa seluruh orang Yahudi baik di bagian selatan maupun utara kemudian dihancurkan bangsa-bangsa lain. Nubuat itu seolah tidak terjadi bagi orang Yahudi. Betulkah?

Bagi kita nubuat Yesaya itu tetap berlaku karena adanya arti yang lebih dalam. Memang kita tidak hidup pada zaman dan situasi yang sama. Kita tidak hidup sengsara seperti bani Yehuda pada waktu itu, yang hidup dalam ancaman dan serangan bangsa lain. Walaupun begitu, setiap tahun kita mengharapkan agar Tuhan lebih melimpahkan berkatNya agar hidup sehari-hari kita lebih bisa dinikmati. Dengan demikian, mungkin kita masih merasa belum puas dengan apa yang ada. Dalam hal ini, sebenarnya bagi kita orang percaya, belajar untuk merasa cukup dalam setiap keadaan adalah suatu cara hidup yang lebih baik (Filipi 4: 11 – 13). Karena itu harapan yang lebih baik adalah untuk bisa selalu bersyukur atas hidup kita dan makin taat kepada firmanNya, dan bukannya untuk meminta berkat dan kenyamanan yang semakin besar untuk memuaskan keinginan kita.

Dalam memasuki tahun 2019, apa yang bisa kita harapkan berdasarkan nubuat nabi Yesaya diatas adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari makanan dan minuman jasmani. Bagi kita, ayat diatas jelas adalah ajakan agar kita mau menuruti firman Tuhan agar kita benar-benar mempunyai hidup baru. Bagi mereka yang sudah diperbaharui hidupnya, keselamatan jiwa adalah jauh lebih penting dari kepuasan jasmani. Kebahagiaan dalam hidup pasti terjadi karena Yesus sudah datang di dunia sebagai Air dan Roti kehidupan yang akan memberi kepuasan yang kekal kepada setiap umatNya. Biarlah ini yang menjadi harapan dan kenyataan bagi kita dalam memasuki tahun yang baru.

Kapan kita perlu beristirahat?

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.” Markus 6: 31 – 32

Hari Natal sudah lewat dan Tahun Baru mendatangi. Bagi banyak orang saat ini adalah liburan akhir tahun. Tetapi, karena kesibukan yang ada, seringkali liburan ini tidak terasa sebagai kesempatan untuk beristirahat. Malahan, sesudah acara-acara selesai dan orang harus kembali bekerja, tubuh dan pikiran menjadi lebih lelah jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Memang dalam seminggu kita bekerja, kita setidaknya harus beristirahat pada hari yang ketujuh. Di banyak negara, rakyat malahan hanya bekerja lima hari seminggu. Walaupun demikian, manusia pada umumnya membutuhkan istirahat lebih dari yang ada pada tiap minggu. Kapan kita perlu beristirahat sebenarnya mudah dijawab: ketika tubuh dan jiwa kita lelah. Tetapi itu tidak mudah dilaksanakan.

Sebagai orang Kristen kita terpanggil untuk memakai hidup kita untuk memuliakan Tuhan. Jika kita bekerja, kita bekerja untuk Tuhan. Karena itu, kemalasan dan kurangnya rasa tanggung jawab dalam bekerja, dipandang sebagai dosa. Banyak orang Kristen yang kemudian terjerumus dalam keadaan yang sebaliknya, yaitu sibuk bekerja tanpa mengenal waktu. Dalam hal ini, seorang workaholic adalah seorang yang “gila” dalam hal bekerja, yang belum tentu karena senang bekerja, tetapi karena merasa harus bekerja terus menerus.

Bagaimana tanggapan Yesus akan hal hidup dan bekerja? Kata workaholic yang mempunyai konotasi yang jelek itu tidak ada dalam Alkitab. Alkitab tidak secara khusus membahas kasus orang yang gila kerja. Walaupun begitu, ayat diatas mengungkapkan apa yang terjadi dalam satu hari kerja Yesus, dan yang bisa terjadi dalam hidup kita. Pada saat itu, Yesus dan murid-muridNya begitu sibuk melayani orang yang membutuhkan penghiburan, penguatan, kesembuhan dan sebagainya. Karena begitu banyak orang yang datang, Yesus dan para murid tidak sempat makan. Yesus yang melihat bahwa begitu banyak orang yang terus menerus datang, kemudian mengajak murid-muridNya untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sepi. Bekerja itu perlu, begitu juga istirahat.

Pagi ini, panggilan Tuhan adalah agar kita menganalisa hidup kita. Jika kita bekerja, sekalipun itu untuk hal yang baik, kita tidak boleh mengabaikan kesehatan kita, baik jasmani dan rohani. Begitu banyak orang yang ingin memuliakan Tuhan dengan bekerja keras, tetapi lupa bahwa mereka juga harus mengasihi diri mereka sendiri. Akibatnya, bukan saja kesehatan tubuh mereka terganggu, tetapi kerohanian mereka juga mengalami kehausan. Tambahan lagi, dengan hidup yang terlalu sibuk dan kurangnya istirahat, keadaan dalam keluarga juga bisa ikut terpengaruh.

Apa yang harus kita sadari adalah Tuhan ikut bekerja bersama kita jika kita memang mau memuliakan namaNya. Ia tidak membiarkan usaha kita menjadi mundur atau hancur jika kita menyerahkan semuanya kedalam tanganNya. Biarlah Tuhan memberi kita kebijaksanaan untuk bisa mengatur hidup kita dengan lebih baik di tahun yang baru!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Siapkah anda untuk menerima damai sejahtera?

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2: 14

Akhir pekan ini adalah weekend sebelum hari Natal. Kemarin adalah hari kerja terakhir bagi para pekerja di Australia, dan banyak diantara mereka yang sekarang pergi menuju ketempat liburan atau kampung halaman mereka untuk menikmati liburan Natal, Christmas holiday. Berada di Brisbane Airport, saya melihat orang tua dan muda yang bersiap untuk terbang, dan kelihatannya mereka semuanya berada dalam suasana gembira. Benarkah begitu?

Walaupun hari Natal adalah hari peringatan kelahiran Yesus dan karena itu biasanya disambut dengan rasa sukacita, bagi sebagian orang hari itu seolah mengingatkan mereka akan kesendirian atau penderitaan yang mereka alami. Hari Natal dengan demikian bisa membuat banyak orang mengalami kesepian dan depresi, terutama mereka yang melihat orang lain bisa berbahagia, sedangkan mereka sendiri berada dalam penderitaan. Apa yang tidak mereka sadari adalah bahwa mereka yang kelihatannya bersuka-ria, belum tentu benar-benar berbahagia. Lepas hari Natal dan tahun baru, jika semua pesta dan makan-minum sudah berakhir, setiap orang harus menghadapi tantangan hidupnya lagi.

Alkitab menyatakan bahwa bagi Maria dan Yusuf, kelahiran Yesus bukanlah suatu hal yang bisa disambut dengan kegembiraan seperti layaknya ketika orangtua menyambut kelahiran bayi pertama. Perjalanan yang jauh dengan keledai dan tidak adanya tempat penginapan yang layak, adalah sebagian kesulitan yang mereka alami. Seperti apa yang terjadi pada zaman ini, jika dukungan sanak keluarga dan biaya tidak tersedia, orang harus berusaha untuk bisa bertahan dengan apa yang ada. Walaupun demikian, Maria dan Yusuf tahu bahwa kelahiran Yesus adalah membawa sukacita yang besar bagi umat manusia. Mereka, orang-orang sederhana itu, bersukacita karena Yesus adalah bayi yang istimewa, Anak Allah yang turun ke dunia.

Siapakah orang-orang lain yang diberikan kesempatan pertama oleh Tuhan untuk menerima kabar sukacita itu? Bukannya mereka yang kaya-raya dan raja-raja yang berkuasa, tetapi gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tuhan kita ternyata bukanlah Tuhan yang pro mereka yang ada di posisi enak, tetapi mengutamakan mereka yang lemah dan tertindas. Bagi mereka yang berkenan kepadaNya, Tuhan Yesus akan memberi damai sejahtera.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Lukas 4: 18 – 19

Pagi ini, bagaimana perasaan anda dalam menyambut perayaan Natal yang akan datang? Biasa saja? Atau penuh dengan pengharapan? Adakah persoalan berat yang sedang anda hadapi? Ataukah anda merasa hidup anda sudah sangat beruntung? Apapun keadaan anda, Yesus datang untuk memberikan damai sejahtera bagi mereka yang menyadari bahwa perlunya seorang Juruselamat untuk menebus dosa mereka. Mereka yang sadar bahwa kasih Tuhan begitu besar hingga mengurbankan AnakNya yang tunggal, dan karena itu mau hidup menurut firmanNya, adalah orang-orang yang paling berbahagia dalam menyambut hari Natal ini.

Jangan asal-asalan saja

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1: 31

Apakah Tuhan dalam hal menciptakan seisi alam semesta ini bekerja seperti seorang engineer atau seperti seorang artist? Seperti seorang insinyur yang mendesain dan membangun, atau seperti seorang artis yang menciptakan lukisan atau benda seni? Pertanyaan ini kadang-kadang muncul dan menjadi bahan diskusi, tetapi tentu saja jawabnya tidak akan memuaskan semua orang.

Tuhan Sang Pencipta tentu tidak dapat dibandingkan dengan manusia ciptaanNya. Tidak hanya Tuhan itu mahabesar dan sanggup menciptakan apa saja yang sangat baik, Ia adalah Tuhan yang mahakasih, yang sanggup dan mau memelihara semua ciptaanNya. Tuhan adalah mahakuasa, Ia tidak dapat dibandingkan dengan manusia yang bertanggung jawab kepadaNya. God is sovereign and human is responsible to Him.

Walaupun manusia tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan penciptaNya, dalam batas-batas tertentu manusia bisa membuat atau menciptakan sesuatu yang baik atau indah bagi sesamanya. Itu memang tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia sejak mulanya, untuk mengatur isi bumi ini sebagai utusanNya. Manusia, berbeda dengan mahluk lainnya, memang diberiNya kemampuan untuk melakukan apa yang perlu untuk jalannya kehidupan di bumi.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Sebagai manusia yang bisa berkarya, salah satu kewajiban manusia dalam membuat sesuatu produk, baik itu kecil ataupun besar, adalah untuk merampungkan tugasnya dengan baik sehingga mereka yang memakai atau menggunakannya akan mendapat manfaat dan bukannya masalah.

Apapun peranan kita dalam hidup sehari-hari, kita harus bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Ini, jika dilihat dari sudut pandangan kekristenan, adalah sesuatu yang seharusnya karena Tuhan yang menciptakan manusia juga mempunyai prinsip yang sama: jika Ia bekerja, Ia bekerja sampai tuntas. Jika Ia mencipta, Ia menciptakan segala sesuatu sampai selesai dan berfungsi dengan baik.

Dalam kenyataannya, banyak manusia yang bekerja hanya untuk uang, sebagai keharusan, atau demi keuntungan dan kemasyhuran diri sendiri. Mereka seringkali bekerja secara asal-asalan dan tanpa memikirkan resiko untuk dirinya dan orang yang disekitarnya; dan karena itu bisa mendatangkan kekacauan dan penderitaan bagi orang lain.

Orang Kristen yang sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan Sang Pencipta tentu mengerti bahwa apapun yang kita kerjakan, haruslah membawa kebaikan – seperti Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu sehingga terlihat sangat baik dan berfungsi dengan sempurna.

Pagi ini, sebelum menunaikan tugas sehari-hari, marilah kita memikirkan apa yang perlu kita persiapkan dan lakukan. Firman Tuhan berkata bahwa Ia sudah menciptakan apa yang baik untuk kita, dan karena itu kita harus bisa memakai dan mengelolanya dengan baik. Biarlah kita mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sekedar memenuhi kewajiban kita!

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Periksalah hidupmu

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” 2 Korintus 13: 5

Berapa kali dalam setahun kita harus ke dokter untuk check-up? Tentunya itu tergantung pada keadaan kesehatan kita; ada yang cukup sekali setahun, ada pula yang lebih sering dari itu. Seperti servis mobil yang harus dilakukan secara teratur, begitu juga tubuh kita harus diperiksa pada saat-saat tertentu. Tetapi, kalau mobil mempunyai berbagai alat yang bisa dilihat atau digunakan untuk memastikan kelaikannya, tubuh kita tidak mempunyai hal serupa. Karena itu, peranan perasaan dan kebijaksanaan sangat penting agar kita bisa dan mau memonitor kesehatan kita. Banyak orang yang tidak merasa sakit dan tidak mau pergi ke dokter secara berkala, kaget jika mereka tiba-tiba mengalami sakit yang tidak terduga.

Hal memonitor dan memeriksa keadaan kesehatan atau health monitoring memang adalah salah satu kegiatan manusia yang sangat penting. Kegiatan ini bukan hanya untuk tubuh manusia, tetapi juga menyangkut kesehatan mobil, rumah, jalan, jembatan, gedung dan berbagai infrastruktur lainnya. Kealpaan dalam usaha memonitor dan menguji fungsi dan keadaan mereka, seringkali harus dibayar mahal setelah kerusakan terjadi. Mereka yang mengabaikan adanya perubahan keadaan dengan berjalannya waktu, cepat atau lambat akan mengalami kerugian besar.

Bagaimana dengan kesehatan rohani kita? Bagi banyak orang yang mengaku Kristen, pergi ke gereja sekali seminggu mungkin dianggap cukup untuk memelihara kesehatan rohani mereka. Sekali seminggu, satu atau dua jam saja, sudah dirasakan memenuhi syarat untuk tetap tegak dalam iman. Selama 6 hari berikutnya, orang kemudian bekerja tanpa memikirkan apakah kerohaniannya tetap terpelihara dan hidupnya tetap berjalan dengan benar. Hidup dengan demikian tetap dijalani tanpa memikirkan bahwa tubuhnya adalah rumah Tuhan, dan Yesus hidup dalamnya.

Ayat diatas menganjurkan kita untuk memonitor dan memeriksa hidup kerohanian kita. Untuk menguji apakah dalam hidup sehari- hari kita tetap berjalan menurut firman Tuhan. Jika kita mau memikirkan, memonitor dan memeriksa hidup kita setiap hari, kita akan selalu bisa melihat seberapa jauh kita yakin bahwa kita hidup untuk memuliakan Tuhan. Sebaliknya, mereka yang tidak pernah mau menguji hidupnya, tidak akan menyadari jika hidup rohaninya sudah jauh dari kebenaran Tuhan. Bagi mereka, kesadaran bahwa mereka sudah jauh tersesat dari jalan yang benar akan memberi kejutan yang tidak akan membawa kebahagiaan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Mudahnya cinta, sukarnya kasih

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. 1 Korintus 13: 13

Seorang pria pergi ke sebuah toko buku di sebuah negara dan bertatap muka dengan seorang wanita. Si pria hanya memandang, tetapi itu cukup membuatnya jatuh cinta kepada si wanita. Cinta pada pandangan pertama! Berhari-hari sesudahnya, si pria pergi ke toko buku itu, berharap untuk menjumpai wanita yang sama; tetapi harapannya hanya tinggal impian, si wanita tidak pernah muncul lagi.

Benarkah ada cinta pada pandangan pertama? Mereka yang pernah mengalaminya tentu saja yakin bahwa itu ada. Mata melihat, hati berdebar, dan itu cukup untuk jatuh cinta. Siapa orangnya, apa pekerjaannya, apakah ia masih single, apakah ia orang baik-baik, semua itu mungkin tidak perlu dipertanyakan. Tetapi jelas bahwa penampilan sesaat agaknya sudah menyebabkan timbulnya rasa cinta.

Apa kata Alkitab mengenai cinta, khususnya hal cinta pada pandangan pertama? Alkitab tidak secara spesifik membahas kasus seperti ini, tetapi dari contoh-contoh yang ada, mereka yang merasa tertarik kepada orang lain tanpa berpikir panjang, akhirnya bisa mengalami berbagai kesulitan. Misalnya Simson yang jatuh cinta kepada Delila (Hakim-Hakim 14: 1 – 2), atau raja Daud yang tergiur Batsyeba, istri Uria (2 Samuel 11: 2 – 3). Cinta pada pandangan pertama, atau cinta buta, agaknya bisa berupa eros. Eros adalah cinta yang berdasarkan kepentingan diri sendiri. Aku suka, karena itu aku cinta.

Pada pihak yang lain, konsep cinta yang dikumandangkan dalam Alkitab adalah cinta yang mau berkorban untuk orang lain. Cinta yang memikirkan kebutuhan orang lain, dan bukan untuk kebutuhan diri sendiri. Cinta yang sedemikian adalah kasih atau agape, yang sudah didemonstrasikan oleh Yesus Kristus selama hidupNya di dunia, dan yang mencapai kulminasi dengan kematianNya di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Agape memang selalu menuntut pengorbanan dan karena itu tidak mudah untuk dilaksanakan.

Bagi umat Kristen, kasih adalah satu hal yang paling penting dalam kehidupan, di dunia maupun di surga. Memang mereka yang mau ke surga, harus bisa mengasihi Tuhan. Tetapi untuk bisa mengasihi Tuhan yang tidak terlihat, kita harus bisa mengasihi orang disekitar kita yang dapat kita lihat.

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” 1 Yohanes 4: 20

Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa dari tiga hal yang penting dalam hidup orang Kristen, yaitu iman, pengharapan dan kasih, yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kasih adalah yang paling sulit untuk dilakukan karena adanya tanggung-jawab.

Iman kepada Tuhan memang membawa keselamatan. Tetapi iman adalah semata-mata anugrah Tuhan, bukan karena usaha kita. Dengan iman kita menaruh harapan kepada apa yang tidak bisa kita lihat dan hal-hal yang akan datang. Dengan iman kita bisa mengambil keputusan untuk mengikut Yesus selama hidup dan yakin bahwa kita akan bertemu muka dengan muka denganNya di surga. Lalu bagaimana dengan kasih? Kasih menuntut kita untuk mau berkorban, dan bahkan mau mengorbankan nyawa untuk orang lain jika diperlukan demi kebaikan. Ini adalah tanggung jawab yang tidak mudah dilaksanakan, tetapi bukti adanya iman.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15: 13

Cinta dalam pandangan pertama adalah hal yang lebih mudah dilakukan, karena tidak ada pengorbanan yang perlu dipikirkan. Cinta semacam itu seringkali merupakan refleksi cinta kepada diri sendiri, bukan kasih yang bermaksud untuk memberi kebahagiaan sejati kepada orang lain seperti kasih yang dipunyai Tuhan. Sebagai umat Kristen kita melihat banyak orang yang terlihat murah hati, suka beramal dan menolong orang lain; tetapi, jika itu bukan dimaksudkan sebagai usaha untuk benar-benar mengasihi atau menyelamatkan orang lain, semua itu mungkin hanya membawa kepuasan atau keuntungan pribadi, dan bukannya membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Pagi ini kita belajar untuk menyadari bahwa mengasihi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kasih adalah lebih besar dari iman dan pengharapan, dan karena itu membutuhkan pengabdian yang penuh. Tuhan yang menghendaki agar kita mengasihiNya dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa dan segenap akal budi kita, juga menghendaki agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 4: 21

Yesus adakah penguasa hidupku

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” Lukas 1: 31

Seminggu lagi hari Natal akan datang, hari untuk memperingati kelahiran Yesus. Mereka yang beragama Kristen umumnya menyambut hari ini sebagai hari sukacita, karena Natal mengingatkan mereka atas kasih Allah kepada mereka. Karena kasihNya, Yesus Anak Allah sudah turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Dunia yang dulunya tidak mempunyai harapan, sekarang memperoleh kepastian, bahwa siapapun yang percaya kepada Yesus akan terhindar dari hukuman dosa dan bisa menerima hidup yang kekal.

Walaupun hari Natal biasanya dirayakan dengan penuh sukacita, bagi banyak orang hari ini seringkali mengingatkan mereka akan berbagai hal yang kurang menyenangkan, yang membuat mereka sedih. Memang, jika kita melihat orang disekitar kita bergembira-ria, sedangkan kita mengalami kesendirian, masalah, gangguan kesehatan dan kekurangan, hati kita bisa berubah masygul. Apa yang bisa kita rayakan jika hati kita sedih?

Ayat diatas menulis tentang pesan malaikat kepada ibu Yesus, Maria, yang dilanjutkan dengan pernyataan (ayat 32-33) bahwa Yesus akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, dan Ia akan menjadi raja atas setiap orang percaya sampai selama-lamanya. Bagaimana Ia bisa menjadi raja yang menguasai hidup setiap orang percaya untuk selamanya? Apakah Yesus menjadi raja kita di surga, ataukah Ia juga menjadi raja selama kita masih di dunia?

Bagi orang percaya, menerima Yesus sebagai Juruselamatnya berarti menyerahkan seluruh hidupnya, baik yang sekarang maupun yang akan datang, kepada Yesus. Dengan demikian, hanya Yesus yang bisa memberi perlindungan, penghiburan dan kecukupan. Yesaya 9: 6 memyebutkan:

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Jelas bahwa jika kita menerima Yesus untuk bisa sepenuhnya menguasai hidup kita, kita tidak perlu mengalami kemasygulan dalam hidup ini sekalipun ada berbagai kesulitan besar yang kita alami. Yesus berarti Tuhan yang menyelamatkan, bukan saja dalam hal menebus dosa kita, tetapi Ia jugalah yang melindungi kita selama hidup di dunia. Yesus mau membimbing hidup kita, dan sebagai Tuhan yang kekal dan mahakuasa, Ia mampu membawa kedamaian dalam hidup kita.

Pagi ini, ketika lagu Natal bergema disekeliling kita, marilah kita mengingat bahwa hidup kita sudah kita serahkan kepadaNya. Ialah yang seharusnya menjadi pemerintah hidup kita, dan bukan penderitaan, ketakutan, kekuatiran dan kekurangan. Kelahiran Yesus yang kita peringati sekarang, tidak akan membawa kedamaian selama pikiran dan hati kita terpusat pada bayi manusia yang kecil, lemah dan berbaring di palungan saja. Tetapi, bayi Yesus inilah yang kemudian menjadi penebus dosa kita, mati dan bangkit lagi. Dengan kebangkitanNya, kita boleh diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan dan karena itu, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih pemeliharaanNya setiap hari. Yesus adalah penguasa hidupku. Jesus is the Lord of my life.

Apa yang bisa dipastikan?

“…mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” Mazmur 139: 16

Adakah sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap manusia? Banyak orang yang berpendapat bahwa tidak ada satupun yang bisa kita ketahui tentang masa depan kita. Manusia dalam keterbatasannya, tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Mungkin ada yang berargumentasi bahwa sebenarnya ada satu hal yang pasti akan terjadi: kematian. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa sebenarnya ada dua hal yang tidak dapat dihindari manusia: pajak dan kematian. Memang, sekalipun kita tidak membayar pajak secara langsung, hampir semua barang yang kita beli sudah dikenakan pajak negara; kecuali jika kita hidup di satu tempat yang tidak mempunyai hukum perpajakan.

Kematian dengan demikian adalah suatu hal yang benar-benar bisa dipastikan. Walaupun begitu, tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan bagaimana kita akan mengakhiri hayat kita. Ada orang yang meninggal pada usia yang muda, ada pula yang mengalaminya pada usia yang sangat lanjut. Ada yang harus menderita lama dalam sakitnya, ada pula secara tidak disangka, meninggalkan dunia dengan tenang dalam tidurnya.

Ayat diatas menunjukkan bahwa umur manusia adalah di tangan Tuhan. Bahkan hidup kita hari demi hari sudah ada dalam rancanganNya sebelum kita dilahirkan. Itu karena Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu. Jika demikian, apakah tidak ada yang bisa dilakukan oleh manusia dalam hidupnya? Apakah manusia sama sekali tidak bisa mempengaruhi jalan dan akhir hidupnya?

Alkitab tidak mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai andil akan apa yang terjadi. Memang ada orang yang merasa bahwa Tuhan sudah menentukan segalanya, sehingga mereka yang menyia-nyiakan hidupnya dan yang mengakhiri hidupnya dengan paksa pun adalah karena kehendak Tuhan. Itu sudah tentu tidak benar. Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta untuk memuliakanNya. Karena itu, apa yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan bukanlah Dia yang menghendaki.

Pagi ini pertanyaan untuk kita: adakah yang pasti selain kematian? Ada! Mereka yang hidup dalam dosa pastilah menemui upahnya, yaitu maut atau kematian yang abadi. Alkitab memang menegaskan bahwa jika manusia tidak percaya kepada Yesus dan mempunyai hidup baru, ia tidak akan memperoleh keselamatan abadi.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sekalipun hidup dan umur setiap orang ada di tangan Tuhan, Ia memberi kita tanggung jawab untuk mengisi hidup kita dengan hal-hal yang baik, yang sesuai dengan firmanNya. Sekalipun kita tidak tahu bagaimana dan kapan kita meninggalkan dunia ini, bagi kita yang taat kepadaNya, kepastian selalu ada bahwa baik suka maupun duka tidak akan bisa memisahkan kita dari kasih karuniaNya yang menyelamatkan. Keyakinan ini juga perlu kita sampaikan kepada orang-orang di sekitar kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Akankah rumah anda tetap berdiri kokoh?

“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Matius 7: 26 – 27

Sejak beberapa hari yang lalu, beberapa daerah di negara bagian Queensland mengalami hujan lebat dan angin kencang yang disebabkan oleh topan tropis, Tropical Cyclone Owen, yang hampir saja mendarat dengan telak. Sekalipun topan ini kemudian berubah menjadi angin kencang saja, hujan yang turun dengan deras membuat beberapa daerah menjadi banjir.

Bulan Desember dan Januari di utara Australia memang biasanya bulan dimana hujan lebat dan topan sering terjadi, karena itu mereka yang ingin berekreasi dengan mobil ke daerah itu, menghindari bulan-bulan itu. Mereka yang memang tinggal di daerah itu sudah terbiasa dengan keadaan cuaca, tetapi harus tetap selalu bersiap sedia untuk menghadapi topan yang sering muncul. Mereka yang rumahnya berpotensial untuk kebanjiran, haruslah berusaha untuk memperbaki saluran air hujan; begitu juga rumah yang rumahnya kurang stabil, haruslah berusaha memperkuat struktur rumahnya agar tidak roboh jika angin kencang datang.

Dalam Matius 7: 24 – 27, Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang orang bijaksana yang membangun rumahnya diatas batu dan orang yang bodoh yang mendirikan rumahnya diatas pasir. Rumah orang yang bijaksanalah yang bisa bertahan ketika hujan dan banjir datang. Mereka yang bijaksana adalah orang yang mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya, sehingga ketika badai kehidupan datang mereka tetap teguh dalam iman.

Dalam kenyataannya, badai kehidupan dialami setiap orang. Badai itu juga tidak hanya muncul sekali saja, tetapi bisa terjadi berulang kali. Menjadi umat percaya, bukanlah berarti bahwa kita akan bebas dari persoalan. Persoalan hidup bisa muncul karena Tuhan ingin mendidik anak-anakNya (Ibrani 12: 5 – 10).

Mereka yang sudah merasa yakin bahwa rumah mereka berdiri diatas batu, seringkali harus menghadapi badai-badai yang besar. Karena itu datangnya berbagai badai kehidupan bisa membuat mereka menjadi was-was, dan bahkan merasa tertekan dan sedih. Mengapa Tuhan membiarkan badai kehidupan menghantam kita?

Apa yang terjadi pada waktu badai datang? Rumah orang akan diombang-ambingkan oleh kekuatan angin, dan kerusakan mungkin terjadi di beberapa bagian rumah, sekalipun rumah itu berdiri diatas batu. Mereka yang bijaksana akan bisa bersikap positif dan menerima badai sebagai kenyataan hidup yang harus diterima, dan bahkan menggunakan kejadian itu sebagai kesempatan untuk menganalisa kelemahan yang ada, agar perbaikan bisa dilakukan.

Memang goncangan dan kerusakan akibat badai adalah hal yang bisa membawa duka, tetapi jika badai demi badai kita bisa lewati dengan bimbingan Tuhan, rasa damai dan keyakinan kita akan semakin besar di masa mendatang, sekalipun badai besar mendatangi.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.” Ibrani 12: 11 – 13