“Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6: 2 – 4

Dalam dua bulan terakhir ini saya membaca tiga berita menyedihkan tentang adanya seorang anak yang membunuh ibunya di tiga tempat yang berbeda di Australia. Tiga orang yang berlainan yang membenci ibu mereka sedemikian rupa, sampai-sampai tega untuk menghabisi nyawa mereka. Memang, selain masalah kejiwaan ada berbagai sebab bisa membuat seorang anak yang sudah dewasa merasa bahwa ia diperlakukan secara tidak adil oleh orangtua sekalipun sebenarnya tidak demikian. Orang-orang itu mungkin mempersalahkan orangtua mereka karena melahirkan mereka. Ini adalah sebuah dosa bagi umat Kristen.
Walaupun demikian, ada pemikiran filosofi bahwa seorang anak tidak seharusnya dilahirkan menurut kemauan orangtua. Filsuf Théophile de Giraud tercatat sebagai orang pertama di abad 20 yang memperkenalkan faham yang disebut anti-natalisme yang menentang kebebasan orangtua untuk mempunyai anak. Melahirkan anak dianggap sebagai usaha yang menimbulkan siksaan kepada bayi yang harus menjadi dewasa dan menghadapi semua tantangan kehidupan.
Beberapa agama sebenarnya juga mengajarkan anti-natalisme, karena menganggap bahwa kelahiran bayi di dunia adalah awal penderitaan. Tetapi, menurut kepercayaan Kristen kelahiran seorang bayi adalah berkat Tuhan kepada keluarga yang menjalankan perintah-Nya untuk berkembang biak. Kelahiran seorang bayi, seperti penciptaan manusia di taman Eden, dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak berhak untuk menghentikan proses kelahiran bayi, sekalipun boleh mengambil keputusan untuk memperoleh keturunan atau tidak, yang disesuaikan dengan kehendak Tuhan.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28
Dengan kelahiran seorang bayi, hubungan antara suami istri berubah; perhatian yang dulunya hanya berkisar antara dua orang, sekarang menjadi lebih luas karena mencakup anak-anak mereka. Dalam kenyataannya, menjadi orangtua berarti mau berkurban untuk anak-anak mereka, seperti Tuhan Yesus yang berkurban untuk umat manusia. Sebaliknya, anak-anak harus menghormati orangtua sebagai wakil Tuhan yang mengasuh mereka sampai mencapai kedewasaan.
Ayat diatas menggaris-bawahi hubungan antara anak dan orangtua dalam keluarga Kristen yang sering disalah-tafsirkan. Pada masa yang silam, menghormati orangtua sering membuat anak sangat terbebani sehingga keluarga mereka bisa terlantar. Dalam Perjanjian Lama, kata “hormat” dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani kabad yang memberi kesan seperti beban berat bagi anak-anak mereka yang harus memberi prioritas utama kepada orangtua. Tetapi dalam Perjanjian Baru, kata Yunani timao dipakai untuk menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Memang orangtua adalah orang yang harus dihargai oleh anak-anak mereka, sekalipun mereka mungkin mempunyai banyak kekurangan.
Ayat diatas juga menunjukkan bahwa hubungan orangtua dan anak-anak mereka adalah kewajiban dua arah. Jika anak harus menghargai orangtua, kita yang berstatus orangtua tidak boleh memakai status itu untuk menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anak kita, agar jangan sampai merasa terlukai, baik secara lahir maupun batin. Sebaliknya, kita harus mendidik anak-anak kita dengan kasih supaya mereka mau menerima ajaran dan nasihat Tuhan dan bisa menjadi orangtua yang baik di masa depan.
Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya hubungan dalam keluarga. Sebagai manusia, kita bukanlah orang yang sempurna, dan karena itu kita sering membuat kekeliruan dalam membina hubungan dengan orangtua ataupun anak kita. Walaupun demikian, jika kita ingat akan kewajiban kita masing-masing, kasih agape akan bersinar dalam keluarga kita.
Apakah anda takut akan Tuhan? Pertanyaan ini mungkin dijawab oleh orang Kristen dengan kata “ya” dengan penuh keyakinan. Bagaimana tidak? Tuhan kita adalah mahakuasa dan tentunya kita tidak mau membuat dia marah. Sekalipun Tuhan itu mahakasih, kita mengerti bahwa Ia yang mahasuci tidak suka untuk diabaikan oleh manusia. Sekalipun Tuhan itu tidak terlihat mata, kita mengerti bahwa Ia adalah mahatahu.
Siapa yang tidak suka beromong kosong? Di zaman ini, agaknya semua orang melakukannya. Bukan hanya rakyat jelata yang duduk di warung kopi, atau mereka yang “gaul” dan yang sering pergi ke mal, tetapi juga mereka yang sibuk bekerja. Mereka yang bisa menggunakan berbagai gadget sekarang bahkan bisa beromong kosong melalui media. Agaknya berbincang-bincang tanpa tujuan yang pasti itu memang ciri manusia modern yang mengaku sibuk tetapi masih mempunyai banyak waktu untuk membicarakan hal apa saja.
Sehidup semati. Semboyan yang lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Mereka yang menikah, biasanya berjanji untuk hidup bersama sampai mati, untuk melewati hari baik dan hari buruk, selagi kaya atau miskin, pada saat sehat atau sakit. Tetapi, dalam kenyataan hidup ini banyak orang yang begitu mudah untuk bercerai ketika keadaan rumah tangga mulai berantakan. Apalagi di kalangan orang ternama dan mereka yang mampu, untuk mendapatkan yang terbaik seringkali diartikan membuang yang lama dan membeli yang baru, karena adanya banyak pilihan yang bisa dicoba.
Emas dan perak adalah dua jenis logam berharga yang dipakai untuk membuat berbagai perhiasan. Logam ini biasanya diperoleh dengan cara menambang dari perut bumi. Data dari tahun 2016 menunjukkan bahwa Australia menghasilkan sekitar 300 ton emas yang menempatkannya dalam posisi kedua sedunia. Sebaliknya, pertambangan di Australia tidak menghasilkan perak dalam jumlah yang besar.
Berzina. Perbuatan yang dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang dimana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanianpun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka.
Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaanNya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.
Tuhan Yesus datang dari surga sebagai Anak Allah untuk menebus dosa manusia. Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia sepenuhnya, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai manusia ia dilahirkan sebagai seorang bayi melalui anak dara Maria, dan tumbuh menjadi dewasa. Tidak banyak yang kita ketahui mengenai masa kecil Yesus, selain Ia tentunya ikut bekerja sebagai tukang kayu seperti ayahNya, Yusuf (Markus 6: 3). Yesus sebagai manusia adalah orang biasa yang sederhana, bukan orang kaya ataupun orang yang berkuasa.
Pernahkah anda mendengar permintaan seseorang agar kita mendoakan mereka? Seringkali permintaan itu hanya sekedar basa-basi, tetapi memang ada orang-orang yang dengan serius ingin agar kita mendoakan mereka yang sedang mengalami masalah.
Manusia adalah makhluk sosial dan karena itu membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Mereka yang mempunyai keluarga dan yang masih aktif berkarya tentunya bisa mempunyai banyak kesempatan untuk menjumpai orang lain dan berkomunikasi muka dengan muka. Tetapi, banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan yang serupa; mereka yang hidup jauh dari keluarga, mereka yang hidup sendirian, ataupun mereka yang terkucil dari masyarakat, sering merasakan sepinya hidup.