Belajar mencukupkan diri

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Filipi 4: 12

Memasuki minggu baru kita menghadapi tantangan baru. Perjuangan hidup memang tidak pernah berhenti. Apa yang kita butuhkan hari ini? Sebagai manusia, tentunya kita membutuhkan makanan, minuman, kesehatan, penghasilan dan berbagai hal yang lain. Walaupun begitu, daftar kebutuhan tiap orang tidaklah sama. Ada orang yang tidak membutuhkan terlalu banyak, tetapi ada juga orang yang mendambakan berbagai hal. Ada yang belum memperoleh banyak, tetapi sudah puas dengan apa yang ada. Sebaliknya, ada yang hidup berkelimpahan, tetapi masih juga menantikan datangnya sesuatu yang lebih besar.

Bagi kita yang percaya kepada Tuhan, tentunya kita yakin bahwa Tuhanlah sumber segala sesuatu yang baik dalam hidup kita. Tetapi, jika Ia mengasihi setiap anakNya, mengapa berkatNya berbeda-beda kepada setiap orang? Mengapa Tuhan memberkati orang-orang tertentu dengan kekayaan yang luar biasa sekalipun mereka bukan orang Kristen? Dan mengapa pula ada orang-orang yang percaya bahwa jika Tuhan memberikan kenyamanan dan kesuksesan kepada orang lain, Tuhan seharusnya juga memberikan hal yang serupa kepada mereka?

Kenyamanan dan kesuksesan mempunyai definisi yang berbeda-beda untuk tiap orang. Situasi juga memegang peranan, bahwa apa yang dirasakan nikmat dan hebat pada satu saat, bisa terasa hampa pada saat yang lain. Dalam hal ini, Rasul Paulus menulis bahwa setelah mengalami manis-pahitnya kehidupan, ia sadar bahwa dalam keadaan apapun, yang paling penting adalah adanya rasa cukup. Tetapi, rasa cukuplah yang sering tidak dipunyai manusia, sekalipun ia kaya dalam segala sesuatu.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Filipi 4: 11

Walaupun demikian, sebagian orang Kristen mungkin percaya bahwa tujuan Tuhan dalam memberikan sesuatu adalah untuk memberi mereka kelimpahan sehingga rasa syukur akan kasih Tuhan itu semakin besar. Tuhan seakan memberi berkat agar manusia taat kepadaNya. Itu memang cara pemikiran logis duniawi, tetapi bukan menurut firman Tuhan.

Sebagai Bapa, Tuhan tentu tahu apa yang baik untuk kita dan Ia selalu mau memberikannya.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 11

Walaupun begitu, Tuhan tidak memberikan berkat demi berkat sampai kita merasa puas.

Apa definisi “cukup” itu? Ada banyak orang yang tidak mengenal kata “cukup” apalagi mengerti artinya. Bagi mereka, “cukup” mungkin berarti “bukan terbaik”. Bukankah Tuhan mahakaya dan mahakasih? Dalam hal ini, Tuhan bukanlah seperti orang tua yang memanjakan anak-anaknya, tetapi adalah seperti orang tua yang bijaksana. Sebagai anak-anakNya, kitalah yang harus bisa belajar merasa cukup dalam keadaan apapun.

Karena Tuhan mempunyai rancangan yang berbeda untuk setiap umatNya, kita tidak bisa mengharapkan bahwa Ia akan memberi apa yang kita inginkan. Tuhan dengan kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang baik, yang kita butuhkan, yang dapat menguatkan iman kita dalam perjuangan hidup ini.

Hal-hal lain yang kita dambakan tetapi tidak kunjung datang, mungkin saja justru tidak berguna, atau malahan bisa mengurangi keyakinan kita bahwa Tuhan yang membimbing kita adalah mahakuasa dan mahabijaksana. Adakah rasa cukup dalam diri kita saat ini? Biarlah kita makin hari makin bisa merasa cukup didalam Dia!

Lidah itu berbahaya

Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” Yakobus 3: 7 – 8

Yakobus menulis bahwa lidah adalah bagian tubuh yang kecil tapi mempunyai kemampuan besar. Dengan lidah kita bisa memberitakan Injil, tetapi dengan lidah kita juga dapat menghujat Tuhan. Lidah dapat digunakan untuk memuji seseorang, tetapi dengan lidah juga orang bisa memfitnah. Lidah adalah penyambung pikiran, dan apa yang ada dalam pikiran bisa dicetuskan dalam kata-kata yang lembut atau keras.

Pada waktu Adam dan Hawa masih berada didalam taman Firdaus, iblis juga menggunakan kata-kata untuk menjerat Hawa. Dengan penuh kelicikan iblis memutarbalikkan apa yang dikatakan Allah kepada Adam dan Hawa (Kejadian 3: 1 – 6). Sebagai akibatnya, Hawa dan kemudian Adam jatuh kedalam dosa dan harus keluar dari taman Firdaus.

Hidup di dunia mengharuskan manusia untuk bekerja keras dan bahkan berkompetisi satu melawan yang lain. Kain yang merasa cemburu terhadap Habil, akhirnya membenci dan membunuh saudaranya. Tetapi, dalam sejarah kehidupan manusia kita bisa membaca bahwa untuk membenci dan membunuh sesama, lidah saja sudah cukup mampu melakukannya. Dengan lidah kita bisa mem “bully” orang lain, mengintimidasi atau menebar gossip untuk menjelekkan nama seseorang (character assassination).

Belajar untuk bisa berhenti dan kemudian berpikir sebelum mengatakan sesuatu kepada orang lain, atau tentang orang lain, memang tidak mudah. Banyak orang yang secara impulsif bisa dan biasa untuk langsung memberi komentar. Apalagi, jika emosi sudah memainkan perannya, banyak orang yang menyuarakan hal-hal yang jahat, melalui lidah ataupun tulisan.

Memang sebagian orang tidak mau mempelajari situasi dan fakta sebelum bersuara. Mereka seringkali percaya bahwa dirinya sendiri yang benar, dan orang lain yang salah. Tetapi, Alkitab mengingatkan kita bahwa kita harus bisa menahan diri dan mau untuk mencari fakta, agar kita bisa berdiri diatas kebenaran.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Yakobus 1: 19 – 20

Memang dalam hidup ini, ada berbagai kejadian yang bisa membuat kita yakin bahwa kita berhak untuk mengeluarkan kata-kata yang pedas dan tajam. Tetapi, sekalipun ada kenyataan bahwa kita benar, itu bukanlah berarti bahwa kita harus mengeluarkan kata-kata yang bisa melukai perasaan orang lain atau yang bisa memperburuk situasi.

“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Matius 5: 21 – 22

Pagi ini, biarlah kita bisa disadarkan bahwa jika kita ingin memuliakan Tuhan dalam hidup kita, lidah adalah salah satu bagian tubuh yang seringkali terombang-ambing diantara hal yang baik dan hal yang buruk. Karena itu, sebagai anak Tuhan kita harus bisa mengendalikan lidah kita dan berhati-hati dalam mengemukakan pendapat kita kepada (atau tentang) orang lain.

Mereka yang tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya (Yakobus 3: 2). Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa semua orang, termasuk diri kita sendiri, bersalah dalam banyak hal. Karena itu kita harus tetap mau belajar hari lepas hari untuk memakai lidah kita guna memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama kita.

Bosankah anda menjadi anak Tuhan?

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Masa remaja adalah masa yang penuh kenangan tetapi juga masa yang berisi pengalaman yang memalukan atau yang patut disesali. Seingat saya pada waktu itu, seperti anak muda sebaya, saya seringkali “bentrok” dengan orang tua. Memang pada usia muda, biasanya orang merasa sudah bisa mengurus diri sendiri dan dengan demikian, sering merasa bosan dinasihati orang tua. Nasihat orang tua, jika tidak dibantah, tentulah diabaikan saja. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.

Bagi orang tua yang mempunyai anak seumur itu, perjuangan untuk mendidik anak adalah sangat berat. Pada satu pihak, orang tua tetap menyayangi anak-anaknya; pada pihak yang lain, orang tua ingin untuk tetap bisa mendidik mereka, dengan resiko munculnya perdebatan dan sakit hati. Karena itu, banyak orang tua yang kemudian mengambil sikap tidak peduli atas kelakuan dan cara hidup anak-anak mereka. Mereka mungkin berpendapat bahwa masih lebih baik jika sang anak tetap mau tinggal dengan mereka, sekalipun sebenarnya ia sudah menjadi “anak yang hilang”. Dekat di mata, tapi jauh di hati.

Sebagai orang Kristen, kita adalah anak-anak Tuhan dan jika ditinjau dari segi tingkah laku dan cara hidup kita, mungkin banyak diantara kita yang masih tergolong remaja. Belum dewasa, sekalipun sudah lama menjadi orang Kristen. Karena “keremajaan” kita, seringkali kita secara sadar maupun tidak sadar menganggap didikan Tuhan itu sebagai sesuatu yang membosankan. Lebih dari itu, banyak orang Kristen yang merasa kuatir kalau-kalau Tuhan terlalu ikut campur dalam hidup mereka. Mengapa Tuhan ingin mengatur anakNya dalam hal bisnis, pergaulan dan aktivitas? Bukankah sekali seminggu bertemu dengan Bapa sudah cukup? Lebih dari itu, bukankah apa yang dipesankan Tuhan melalui FirmanNya terasa membosankan?

Seperti orang tua yang baik, Tuhan tidak mau memaksakan kehendakNya dengan semena-mena. Tuhan memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih cara hidup kita dan menentukan sikap kita kepadaNya. Namun, berbeda dengan orang tua kita, Tuhan adalah maha kuasa dan kehendakNya harus terjadi. Karena itu, sekalipun kita ingin mengambil tindakan dan keputusan sendiri, semua itu pada akhirnya harus sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan.

Pagi ini, jika kita mengingat masa remaja kita yang telah silam, janganlah kita lupa bahwa seringkali kita masih bertingkah laku seperti seorang remaja kepada Tuhan kita. Memberontak, melawan nasihatNya, mengabaikan firmanNya, dan hal-hal bodoh lainnya, mungkin masih sering kita lakukan. Karena itu, tentu tidaklah mengherankan jika peringatan dan hajaran Tuhan sewaktu-waktu datang untuk menginsafkan kita bahwa Bapa surgawi kita adalah Mahakuasa, Mahatahu, Mahaadil dan Mahakasih. Bagi kita tidaklah ada pilihan: Tuhan menghendaki kita untuk menjadi dewasa!

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Tetap tabah sekalipun orang membenci kita

“Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” Galatia 4: 16

Ada sebuah nasihat yang sudah dikenal sejak dulu mengenai persahabatan: “Mencari seorang sahabat adalah sukar, tetapi musuh datang sendiri tanpa diundang”. Nasihat lain yang serupa adalah “Mencari satu teman adalah lebih sukar daripada seribu musuh”. Kedua nasihat ini dimaksudkan agar kita menghargai adanya teman dan menghindari permusuhan sebisa mungkin.

Memang dalam hidup ini, bagaimanapun kita berusaha untuk menghindari permusuhan, selalu ada saja orang-orang yang senang mencari gara-gara. Karena itu, dalam usaha untuk menghindari pertikaian, sering orang mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran. Mengikuti arus daripada melawan arus, agar hidup yang sudah sukar ini tidak bertambah sukar. Begitu juga dalam hal rohani, ada orang yang selalu ingin menghindari pertengkaran dan karena itu kurang mau untuk memberi nasihat hidup baik kepada orang lain sekalipun ia hamba Tuhan.

Rasul Paulus juga mengalami persoalan yang serupa. Pada kunjungan pertamanya ke Galatia, Paulus merasakan sambutan yang diberikan jemaat adalah sangat baik. Tetapi, pada kunjungannya yang kedua, Paulus merasa bahwa mereka tidak lagi menyenanginya. Paulus heran mengapa mereka bisa berubah sikap. Itu ternyata akibat Paulus yang sering menasihati mereka akan bahaya ajaran-ajaran sesat. Paulus kemudian bertanya apakah mereka yang dulunya taat kepada Kristus kemudian menganggapnya sebagai musuh, karena ia mengajarkan kebenaran. Paulus sebagai hamba Tuhan tidak mau berdiam diri.

Sudah tentu Paulus merasa kecewa dan sedih bagaimana jemaat Galatia kurang menyenangi, dan bahkan seakan membencinya karena Paulus menunjukkan kesalahan-kesalahan mereka. Tetapi Paulus tentu tahu bahwa semua pengikut Kristus akan mengalami hal yang serupa di dunia ini. Ia tentunya tahu bahwa Yesus pernah mengatakan bahwa semua hamba Tuhan harus bisa menerima hal semacam itu dengan bersyukur.

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” Lukas 6: 22

Hari ini, jika kita mengalami kekecewaan karena orang-orang yang kita kasihi ternyata menolak firman Tuhan yang kita sampaikan melalui nasihat dan bimbingan, biarlah kita sadar bahwa kebenaran firman Tuhan tetap harus dinyatakan. Hidup sebagai hamba Kristus memang tidak mudah karena adanya orang-orang yang membenci dan memusuhi kita karena pandangan hidup kita.

Biarlah kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus sudah dibenci manusia, tetapi karena kasih dan pengurbananNya mereka yang percaya bisa diselamatkan. Begitu juga melalui kasih dan ketabahan kita, banyak orang akan bisa diperkenalkan kepada kebenaran dalam Kristus.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Bila impian menjadi pudar

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Pagi tadi, selagi saya berjalan kaki, saya melihat sebuah papan tulis di depan sebuah kedai kopi yang berisi sebuah slogan yang lucu dan menarik perhatian: “Jangan biarkan impianmu hilang, lanjutkan tidurmu!”. Do not give away your dreams, keep sleeping! Mengapa itu lucu? Karena kata impian disini diartikan secara harafiah: jika kita tidak mau kehilangan impian kita, lebih baik terus tidur!

Dalam kehidupan sehari-hari nasihat agar tidak kehilangan apa yang kita impikan, biasanya diartikan agar kita jangan kehilangan apa yang kita cita-citakan. Impian masa depan kita, cita-cita, justru bisa hilang jika kita tetap tidur, alias tidak berjuang untuk mencapainya. Tetapi, mempertahankan impian atau cita-cita itu tidaklah semudah yang dibayangkan, karena jika kita tidak mencapainya, lama-lama semangat kita bisa ikut menjadi pudar bersama impian kita, dan kita pun menjadi putus asa dan tertidur.

Murid-murid Tuhan Yesus pun pernah mempunyai impian besar, yaitu bahwa Yesus pada suatu saat akan menjadi seorang raja umat Israel yang akan mengalahkan kerajaan Romawi. Mereka yang akhirnya melihat bahwa Yesus justru mengalami pergulatan di taman Getsemani, menjadi sangat lelah dan berdukacita sehingga mereka tertidur (Lukas 22: 45). Impian mereka tentang datangnya seorang Mesias dengan kebesaranNya kemudian diganti dengan rasa putus asa dan depresi.

Bagi kita pengikut Kristus, tentu tidak ada salahnya jika kita mempunyai sebuah impian, cita-cita, untuk masa depan. Jika itu bukan untuk diri kita sendiri, mungkin untuk anak atau cucu kita, atau juga sanak kita. Kita berharap agar mereka menjadi orang yang baik, yang takut akan Tuhan, dan memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Tetapi, jika yang kita harapkan tidak kunjung terjadi, kekuatiran mulai muncul dan rasa putus asa pun bisa mendatangi. Tidur mungkin menjadi suatu pelarian untuk bisa melupakan rasa sedih dan kecewa.

Haruskah kita menyerah dan melupakan segala impian kita jika hal itu tidak kunjung datang? Martin Luther King Jr. pada tahun 1963, membawakan pidato yang terkenal “I have a dream” yang mengutarakan impiannya tentang persamaan hak antara orang kulit berwarna dan orang kulit putih di Amerika. Pada tahun 1964, ia menerima hadiah Nobel untuk perjuangannya melawan ketidakadilan ras melalui jalan damai. Pada tahun 1968 ia ditembak mati, dan karena itu banyak orang yang merasa putus asa. Tetapi, impiannya perlahan-lahan terwujud.

Memang perjuangan hidup seringkali berat. Ayat diatas tidak menyuruh kita untuk menyerah, tetapi untuk menyerahkan segala impian kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kita tidak boleh jatuh tertidur dalam duka dan rasa putus asa. Selama kita masih dapat memohon dan bersyukur kepada Tuhan, selama itu jugalah kita masih bisa berharap kepadaNya.

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku.” Mazmur 38: 15

Kerakusan yang mengundang bencana

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Seingat saya, di Indonesia jika ada tamu berkunjung ketika tuan rumah sedang makan, pertanyaan kepada tamu itu adalah “sudah makan?”. Memang, di luar negeri pun orang kita terkenal sebagai orang yang ramah, friendly, dan menggunakan acara makan-makan untuk membina kesatuan dalam keluarga dan persahabatan.

Hal makan dan makanan memang bukan soal yang sepele. Allah yang menciptakan manusia di taman Eden sudah mempersiapkan segala yang perlu untuk bisa dinikmati oleh manusia ciptaanNya. “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas…”, begitulah Allah berfirman kepada Adam dan Hawa dalam Kejadian 2: 16.

Makan dengan bebas yang bagaimana? Kalau bebas tak berbatas, tentunya itu akan membawa akibat yang kurang baik untuk kesehatan. Adam dan Hawa pasti tahu bagaimana mereka seharusnya memanfaatkan berkat Tuhan sebelum mereka jatuh kedalam dosa. Bukankah kerakusan, keserakahan dan mencari kepuasan diri sendiri adalah dosa?

Hidup manusia setelah jatuh kedalam dosa menjadi berat, dan hanya dengan bersusah payah mereka dapat memperoleh makanan. Manusia setelah kejatuhannya dengan demikian tentunya sering berebut makanan dan menjadi mahluk yang rakus. Manusia siap membenci, merampok dan membunuh orang lain demi makanan. Manusia dengan keculasannya juga sering memakai makanan untuk menyuap, mempengaruhi dan menguasai orang lain, terutama mereka yang miskin dan kurang terpelajar. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, banyak orang yang menjadi pemuja makanan dan minuman.

Kerakusan adalah dosa, dan dalam tradisi sebagian orang Kristen, termasuk dalam 7 dosa besar. Karena soal makanan, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Allah dan membuatNya murka dengan mendatangkan hujan burung puyuh sehingga mereka yang rakus dan serakah mati dalam jumlah besar (Bilangan 11: 33 – 34). Karena merasa bebas, mereka yang mampu seringkali mempunyai kebiasaan makan dan minum dalam pesta pora, yang bisa menjauhkan mereka dari Tuhan (Galatia 5: 21).

Pagi ini, bagian Doa Bapa Kami diatas mengingatkan kita bahwa kita hidup bukan untuk memuaskan lidah kita. Untuk bisa hidup memuliakan Tuhan, pikiran kita tidak boleh dipusatkan pada hal makan minum, pesta pora dan kenikmatan badani. Dalam hal makan, dengan kebebasan yang Tuhan berikan kita harus bisa mengendalikan cara hidup kita. Kecukupan adalah lebih penting dari kelimpahan, sebab mereka yang berkelimpahan belum tentu merasa cukup. Lebih dari itu, keserakahan dan kerakusan jelas bisa membawa berbagai bencana dalam hidup. Karena itu, sebagai orang Kristen kita tidak boleh membuat makanan jasmani sebagai prioritas hidup diatas makanan rohani.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Karunia Allah yang terbesar adalah Yesus

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Alkisah ada seseorang yang berada didalam sebuah penjara menantikan pelaksanaan hukuman mati. Bukti-bukti sudah jelas menunjukkan bahwa ia bersalah. Tidak ada lagi harapan untuknya. Namun, suatu yang tidak tersangka terjadi. Ada orang lain yang mengaku bahwa ialah yang melakukan kejahatan itu. Orang yang di penjara itu akhirnya dibebaskan. Ia tentunya heran dan merasa beruntung. Apakah ia merasa beruntung untuk kebebasannya? Ataukah merasa beruntung karena ada orang lain yang menggantikan dia?

Seperti orang dalam kisah diatas, kita adalah orang-orang berdosa yang seharusnya mendapat hukuman yang berupa kebinasaan yang abadi. Allah yang mahatahu mempunyai bukti-bukti dosa kita. Tidak ada apapun yang bisa menolong kita, kecuali jika ada orang lain yang tidak berdosa, yang mau menggantikan kita. Yesus yang mati di kayu salib adalah orangnya. Karena pengurbanan Yesus itulah, Allah mau melupakan dosa kita. Kita harus bersyukur, tetapi untuk apa? Apakah karena kita sudah diselamatkan, ataukah karena Yesus sudah mati bagi kita?

Bagi sebagian orang Kristen, hal bersyukur karena menerima keselamatan dan bersyukur karena Yesus mau mengurbankan diriNya adalah tidak berbeda. Bukankah karena pengurbanan Yesus kita mendapat keselamatan? Bukankah keduanya tidak dapat dipisahkan?

Memang benar bahwa orang-orang yang sudah diselamatkan tentunya sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Tetapi, banyak orang Kristen yang merasa sudah terjamin keselamatannya, lupa bahwa mereka selamat hanya karena Yesus. Dengan demikian, mereka lupa bahwa hidup mereka seharusnya didedikasikan kepada sang Juruselamat. Mereka yang berpikir bahwa karunia Allah yang terbesar adalah keselamatan, sering menikmati hidup mereka sebagai orang yang lupa bahwa dalam kebebasan mereka dari belenggu dosa, mereka seharusnya menjadi hamba Kristus.

Pagi ini, jika kita bersyukur bahwa kita terbilang sebagai orang-orang yang diselamatkan, janganlah kita lupa untuk terus bersyukur atas pengurbanan Kristus. Bagi sebagian orang Kristen, hal menerima keselamatan dan berkat-berkat Tuhan adalah yang paling penting, bukan hal mengikut Yesus. Padahal, Yesuslah pemberian utama dan terbesar dari Allah sendiri. Allah sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk keselamatan mereka yang percaya.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Harapan satu-satunya

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7: 7

Pernahkah anda menunggu berita yang sangat anda harapkan, tetapi itu tidak kunjung datang? Berjam-jam, dan bahkan berhari-hari anda sudah menunggu, dan bulan-bulan pun kemudian lewat tanpa ada tanda-tanda kapan munculnya berita itu. Rasa ragu kemudian mungkin muncul, jangan-jangan penantian anda akan menjadi sia-sia. Memang, jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ketidaktahuan itu bisa membuat datangnya kesengsaraan.

Seperti itulah seseorang yang sudah divonis untuk menjalani hukuman mati, dan kemudian mengajukan permohonan grasi, tetapi setelah bertahun-tahun menunggu, keputusan yang dinantikan itu tidak kunjung datang. Memang orang bilang, selagi kita masih bisa hidup, kita tidak perlu memikirkan hari esok. Tetapi, bagaimana kita bisa menikmati hari ini jika kita tidak mempunyai harapan untuk hari depan? Jika tidak ada orang yang bisa diharapkan untuk bisa menolong?

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa hilang harapan ketika menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kebimbangan itu dengan melupakan hal itu, dalam hal besar orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Nabi Mikha juga mengalami kegundahan hati yang berat pada saat ia melihat bahwa bangsa Israel semakin menjauhi Tuhan. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan. Bagaimana ia bisa merasa damai jika masa depan seluruh bangsa terlihat suram?

“Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!” Mikha 7: 2 – 3

Keadaan bangsa Israel pada waktu itu memang sangat buruk, sampai- sampai rasa persahabatan, kekeluargaan dan kesatuan dalam negara, menjadi hancur berkeping-keping. Rasa curiga kepada orang-orang yang ada menjadi meningkat, dan banyak orang merasa bahwa orang lain berniat untuk mencelakakan mereka.

“Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Mikha 7: 4 – 6

Pagi ini, dimanapun kita berada, ada kejadian-kejadian yang bisa membuat kita gundah, merasa kuatir untuk menghadapi masa depan. Kita mungkin sudah lama mengharapkan datangnya perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi seringkali justru membuat keadaan menjadi semakin tidak menentu. Berapa lama lagi kita harus menunggu? Adakah yang baik, yang masih bisa kita harapkan?

Nabi Mikha tidak mempunyai harapan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia juga tidak dapat berharap bahwa keadaan akan berubah dengan sendirinya. Tetapi ia tahu bahwa Tuhanlah yang mempunyai rancangan dan Ialah yang mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, nabi Mikha tetap percaya bahwa Tuhanlah yang akan menolong bani Israel pada waktunya. Nabi Mikha tetap menunggu-nunggu TUHAN, dan mengharapkan Allah untuk menyelamatkan dia; karena ia percaya bahwa Allah akan mendengarkannya. Itu jugalah yang harus tetap kita lakukan sekarang ini.

Dapatkah kejahatan bercampur dengan kebaikan?

“Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Yohanes 3: 20 – 21

Dalam sebagian filsafat timur sering dikatakan bahwa kekuatan baik dan kekuatan jahat itu ada dalam diri tiap manusia, yang senantiasa bertarung, berebut pengaruh. Jika kekuatan baik lagi diatas angin, orang tersebut akan mempunyai tingkah laku yang baik. Sebaliknya, jika kekuatan jahat yang lebih kuat, orang itu akan berbuat jahat tanpa bisa menghindarinya.

Memang dalam kehidupan manusia selalu dihadapkan pada pilihan akan hal yang baik dan buruk. Walaupun demikian, seringkali orang mempunyai berbagai ragam pengertian tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam usaha untuk mencapai suatu hasil.

Dalam memilih apa yang baik, ada orang yang melihat dari segi maksud, ada yang menimbang dari segi cara, dan ada juga yang memikirkan hasilnya saja. Sebagai contoh, orang mungkin mempunyai maksud atau iktikad yang baik tetapi menggunakan cara yang kurang baik. Orang itu bisa saja tidak merasa bersalah karena ia yakin bermaksud baik. Menurut pemikiran orang ini,

baik + buruk = baik

Selain itu, jika ada orang yang mempunyai maksud buruk, tetapi menggunakan cara yang tidak melanggar hukum, apapun hasilnya orang itu tetap merasa tak bersalah.

buruk + baik = baik

Ada juga orang yang mempunyai maksud buruk dan menggunakan cara yang buruk, tetapi hasilnya terlihat baik.

buruk + buruk = baik

Orang ini mungkin bangga bahwa ia mencapai kesuksesan!

Bagi kita orang Kristen, konsep tentang kebaikan adalah didasarkan pada firman Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa apa yang jahat adalah jahat, dan dosa tidaklah dapat dicampur dengan apa yang baik untuk memperoleh hasil yang baik. Apa yang buruk tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Hasil yang terlihat baik tidak dapat dicapai dengan cara-cara yang buruk. The ends do not justify the means. Kita harus hidup dalam kebenaran pada setiap waktu dan keadaan.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 15 – 16

Dalam kenyataan hidup, orang yang senang melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan biasanya tidak ingin mendengar firman Tuhan dan memahaminya. Itu karena firman Tuhan adalah seperti terang yang membuat kekeliruannya terlihat jelas. Sebaliknya, mereka lebih senang untuk hidup dan berteman dengan orang-orang yang sepaham. Sebaliknya, mereka yang berjalan dalam terang Kristus selalu rindu untuk mempelajari firman Tuhan agar mereka makin bersinar dalam kebenaran.

Pagi ini, panggilan Tuhan kepada kita adalah untuk bersekutu denganNya. Sebagian diantara kita mungkin menyambutnya dengan kerinduan dan semangat. Tetapi mungkin ada juga orang-orang yang merasakan keseganan dan bahkan ketakutan untuk datang kepadaNya. Memang kegelapan tidak bisa bercampur dengan terang, tetapi terang Tuhanlah yang pada akhirnya dapat menyelamatkan semua orang yang bertobat.

Kita adalah terang dunia

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 46 – 47

Melihat hidup orang Kristen zaman sekarang, seringkali kita tidak dapat dengan mudah membedakannya dengan hidup orang yang bukan Kristen. Dunia ini sudah berubah sedemikian sehingga kebanyakan manusia hidup secara individuil dan memisahkan kepercayaan dari kegiatan sehari-hari. Malahan, orang yang sering menunjukkan ciri-ciri kekristenannya dalam masyarakat yang plural ini, justru sering dipandang aneh atau sok. Mereka yang duduk dalam kepemimpinan negara pun seringkali tidak dapat diharapkan untuk memberi teladan.

Kegiatan orang Kristen, dan juga persekutuan orang percaya, mungkin hanya terlihat nyata dikalangan sendiri. Di dunia Barat, tidak hanya jumlah orang Kristen berkurang, kegiatan umat Kristen pun harus berjalan dibalik kedok kegiatan badan-badan sosial umum untuk tidak dituduh “eksklusif”. Di banyak negara, orang yang benar-benar menunjukkan sifat-sifat Kristennya seringkali menjadi orang yang kurang populer. Karena itu, menjalankan firman Tuhan dan memuji Tuhan mungkin hanya bisa dilakukan secara “incognito” alias tersembunyi dan “untuk kalangan sendiri ” agar tidak menyinggung orang lain atau menimbulkan pergunjingan.

Bagaimana dengan kehidupan zaman dulu, ketika orang Kristen baru saja dikenal sebagai kelompok masyarakat yang lain dari yang lain? Apa ciri-ciri mereka dan bagaimana tanggapan masyarakat? Dari ayat diatas kita bisa membaca bahwa mereka adalah orang-orang yang tekun dan sehati dalam berbakti kepada Tuhan. Mereka berkumpul tiap hari dalam Bait Allah dan mengadakan perjamuan kudus di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira sambil memuji Allah. Mereka disukai semua orang dan karena itu jumlah orang yang diselamatkan berkembang pesat. Baik di rumah maupun di tempat lain, masyrakat bisa melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang baik perilaku dan cara hidupnya.

Pagi ini kita mendapatkan kesempatan untuk memikirkan hal perilaku dan kehidupan kita. Pertanyaan untuk kita: apakah kita mempunyai perilaku dan cara hidup yang bisa membuat orang lain tertarik untuk menjadi pengikut Kristus? Ataukan hidup kita selalu membaur dengan orang yang belum benar-benar mengenal Tuhan?

Mereka yang belum mengenal Tuhan selalu mencintai dirinya sendiri dan suka menjadi hamba uang. Mereka senang membual dan menyombongkan diri. Mereka tidak segan untuk memfitnah dan berontak terhadap orang tua. Orang yang sedemikian tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, suka berlagak tahu, dan lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah (2 Timotius 3: 2 – 4).

Sudah tentu, jika hidup kita tidak berbeda dari mereka yang belum diselamatkan, orang lain tidak akan tertarik untuk mengikut Kristus. Tetapi jika kita tetap mempunyai perilaku dan cara hidup yang baik di zaman ini, banyak orang akan bisa melihat bagaimana iman kita sudah mengubah hidup kita, dari sesuatu yang tidak berguna, menjadi terang untuk masyarakat di sekeliling kita.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5: 14