Takutlah kepada Tuhan, bukan kepada manusia

Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13: 6

Kemarin saya mendapat kiriman sebuah video tentang seseorang yang mengemudikan sebuah mobil dan terjebak di sebuah jalan di tengah kota setelah ia menyerempet kendaraan lain. Segerombolan orang-orang yang mengejarnya kemudian menghancurkan kaca mobil dan merusak mobil itu. Kejadian di siang hari bolong itu sungguh bisa membuat hati siapapun berdebar-debar. Bagaimana jika kejadian itu terjadi pada diri kita?

Dalam hidup manusia, mungkin ada kejadian yang lebih menakutkan dari apa yang terjadi di atas. Apa yang timbul dalam pikiran orang-orang yang mengalaminya tentunya berbeda-beda. Walaupun demikian, kejadian semacam itu, baik untuk orang Kristen maupun bukan Kristen, sudah tentu bisa membuat detak jantung menjadi lebih cepat, dan bahkan bisa saja membuat orang mendapat serangan jantung.

Apa reaksi kita jika hal itu terjadi pada diri kita? Menjerit minta tolong? Menutup mata dan menyerah? Mencoba melawan? Melarikan diri? Bagaimana pula dengan berdoa? Bagaimana jika rasa takut sudah menguasai kita? Bagaimana pula jika ada hal-hal yang menakutkan yang belum terjadi, tetapi bisa datang sewaktu-waktu? Akankah hidup kita menjadi lumpuh? Hal ini memang sukar untuk bisa dipastikan, karena hanya yang pernah mengalaminya bisa menceritakan apa yang ia lakukan.

Memang dalam sejarah, berbagai kejadian yang mengerikan sudah terjadi pada pengikut-pengikut Kristus. Stefanus menemui ajalnya karena dirajam banyak orang. Rasul Petrus, dikabarkan menemui ajalnya karena disalibkan dengan posisi tubuh yang terbalik. Yohanes Pembaptis dipancung kepalanya dan begitu juga Rasul Paulus, mungkin menerima nasib yang sama.

Penderitaan orang-orang Kristen memang terjadi karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Tetapi, seperti yang ditulis Rasul Paulus, mereka tidak merasa hancur karena adanya berbagai penindasan dan penganiayaan.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Siang ini, mungkin hati kita gundah melihat keadaan di sekeliling kita. Tetapi, apa yang dikatakan Yesus harus selalu kita ingat. Kita tidak boleh takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Sebaliknya, kita harus takut kepada Tuhan yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Dengan demikian, sekalipun itu tidak mudah dilakukan, kita harus melatih diri kita untuk bisa menyerahkan hidup dan segala kekuatiran kita kepadaNya hari demi hari. Hanya dengan cara ini, kita tetap bisa hidup dan tidak menjadi hancur dalam ketakutan kita.

“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Matius 10: 28 – 31

Hidup baik hanya dimungkinkan oleh Tuhan

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22 – 23

Satu hal yang membuat saya merasa agak sedih jika membeli suatu produk di zaman now adalah bungkus atau packaging -nya. Barang apapun yang dijual di toko harus dibungkus sedemikian rupa, sehingga kelihatan seperti barang yang bagus dan berharga. Tetapi, kecantikan bungkus belum tentu menjamin kualitas isinya. Selain itu, kertas bungkus yang berlapis-lapis itu akhirnya harus dibuang ke tempat sampah.

Bukan saja barang yang dibungkus, orang zaman ini pun sering dibungkus dengan berbagai “hiasan” yang menutupi keburukan cara hidup dan sifat mereka. Sering kita jumpai orang yang nampaknya baik dan terpelajar, tetapi hidup dan hatinya dipenuhi kejahatan dan kebencian. Ada pula orang yang kelihatannya menarik dan kaya raya, tetapi kotor pikirannya dan kejam sifatnya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang karena itu merasa was-was ketika menjumpai mereka yang terlihat “terlalu baik”.

Memang agaknya kebanyakan orang ingin terlihat rapi dan indah dalam penampilannya sehari-hari. Itu tidak ada salahnya. Tetapi, jika itu dimaksudkan agar orang lain mengaguminya, barulah muncul tanda tanya. Apalagi, jika orang berusaha untuk terlihat baik untuk menutupi hidup yang sebenarnya. Selain itu, mungkin saja ada yang percaya bahwa dengan berbuat baik, dosanya akan berkurang; sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan iman Kristen.

Manusia yang terbungkus keindahan mungkin saja hanya kepalsuan. Tetapi tidak semua manusia yang terlihat baik adalah kepura-puraan. Mereka yang lahir baru, seharusnya sudah menanggalkan hidup lamanya, dan dengan itu, hidup baru dalam Kristus perlahan-lahan muncul. Hidup yang berbuah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, dimungkinkan Tuhan melalui Roh Kudus yang bekerja dalam diri setiap orang percaya.

Buah-buah Roh adalah berlawanan dengan hidup lama manusia yang sering diisi dengan percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatia 5: 19 – 21).

Dapatkah orang menjadi baik tanpa Roh Kudus? Dikatakan dalam ayat diatas bahwa segala yang terlihat baik itu adalah buah Roh Kudus yang bekerja dalam diri seseorang. Bukan hasil perbuatan manusia, bukan rekayasa, tetapi hasil pekerjaan Roh Kudus yang mengisi hidup orang yang percaya. Dan semua itu dimaksudkan untuk membawa kemuliaan kepada Tuhan, bukan untuk diri sendiri atau demi rasa kemanusiaan. Dengan demikian, mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak dapat berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan.

Pagi ini, jika kita membaca ayat diatas, adakah keyakinan kita bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita? Apakah kita merasakan bahwa hidup kita sudah banyak berbuah untuk kemuliaan Tuhan? Memang untuk bisa banyak berbuah, kita harus menyerahkan hidup kita kedalam pimpinan Roh di setiap waktu, dan itu tidak mudah dilakukan. Biarlah kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kita sekalian.

Apa yang kau perbuat dengan talentamu?

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Dalam kehidupan ini, mereka yang berhasil dalam karir adalah orang-orang yang bisa  menghasilkan sesuatu yang baik dalam pekerjaannya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang bisa menunjukkan apa hasil pekerjaan mereka. Orang yang berhasil adalah orang yang bisa meng-klaim upah untuk apa yang baik yang sudah dihasilkannya.

Tidak ada yang salahnya jika kita meng-klaim apa yang memang sudah semestinya kita peroleh. “Claim your reward” adalah sesuatu yang sering diucapkan agar orang tidak ragu untuk meminta penghargaan atas hak dan prestasinya. Walaupun demikian, untuk orang Kristen, bekerja dan menghasilkan sesuatu yang baik bukanlah semata-mata untuk mendapat penghargaan. Orang Kristen percaya bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan karena itu segala kemuliaan seharusnya untuk Dia yang memungkinkan.

Untuk orang Kristen, hidup di dunia mengharuskan mereka untuk bisa bekerja dengan efisien. Malahan, sebagai orang percaya, kita harus bisa bekerja dengan lebih giat karena majikan kita bukanlah pimpinan atau boss yang kita temui di kantor, tetapi adalah Tuhan sendiri.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Karena itu, sudah selayaknya kita bekerja dengan penuh semangat untuk kemuliaanNya.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14 – 30), tiga hamba yang sudah diberikan modal bekerja yang berlainan oleh tuan mereka, pada akhirnya melalui penilaian hasil kerja atau performance assessment, harus menunjukkan laba yang sudah mereka peroleh. Kita bisa membaca bahwa mereka yang dibekali dengan lima dan dua talenta, kemudian mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 23

Hamba yang ketiga hanyalah menerima satu talenta. Ia merasa kecewa dan tidak yakin akan kegunaannya. Karena itu ia tidak mengolah talenta yang sudah dipercayakan kepadanya dan hanya menyimpannya didalam tanah. Bagi hamba ini, bukannya upah yang diterimanya, tetapi hukuman atas kemalasannya.

Sangat menarik perhatian, bahwa dalam perumpamaan itu ketiga hamba itu hanya diperintahkan untuk mengolah harta majikannya. Mereka dipercayai untuk memegang sejumlah uang sesuai dengan kesanggupan mereka untuk mengolahnya. Sebagai hamba mereka tidak dijanjikan hadiah jika mereka mencapai hasil tertentu. Tetapi, tentunya setiap hamba tahu bahwa mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan apa yang terbaik untuk sang majikan. Dengan demikian, sekalipun kita tahu bahwa Tuhan menghargai kesetiaan kita, “upah” dari Tuhan tidak seharusnya menjadi motivasi kita untuk bekerja bagi Tuhan karena segala sesuatu berasal dari Tuhan.

Pagi ini, sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan kita talenta, kemampuan untuk bekerja baik dalam bidang jasmani maupun rohani. Sebagai hamba Tuhan, kita hanya menjalankan perintahNya untuk mengembangkan apa yang sudah dititipkanNya kepada kita. Banyak orang yang merasa bahwa keberhasilan hanya terlihat dari benda-benda yang dapat diperolehnya. Mereka tahu bagaimana bisa meng-klaim hadiah dari jerih payahnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani dan materi. Tetapi, orang yang mau memikirkan talenta rohani yang diberikan Tuhan mungkin tidaklah banyak. Mereka hanya memendam talenta itu, seperti halnya hamba yang ketiga.

Firman Tuhan pagi ini berkata bahwa segala sesuatu, baik kemampuan jasmani ataupun rohani, adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan kepada Tuhan. Karena itu bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Apakah kita sudah memakai semua kemampuan itu sebagaimana mestinya?

Nasib kita memang mujur

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Ungkapan “memang sudah nasib” sering kita dengar di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, orang membicarakan soal nasib (fate) di rumah, pasar, mal, kantor dan dimanapun juga. Nasib agaknya berlaku untuk siapapun juga, baik mereka yang kaya atau yang miskin, baik yang berpendidikan atau yang kurang berpendidikan. Memang kata orang, nasib adalah penentu keadaan atau keberuntungan seseorang.

Dalam beberapa agama dan budaya, memang hal nasib itu diajarkan sebagai suatu keputusan Ilahi yang tidak dapat diganggu gugat. Seorang menjadi dokter karena sudah ditentukan Tuhan, dan orang lain yang menjadi tukang sapu juga sesuai dengan kehendakNya. Sebuah negara yang makmur adalah karena kehendak Tuhan, dan negara lain yang miskin dan bahkan terjajah adalah karena keputusan Tuhan juga. Memang sudah nasibnya.

Dalam pandangan Kristen, kata nasib itu sebenarnya tidak ada. Memang dalam Alkitab terjemahan Indonesia, kata “nasib” itu muncul beberapa kali, tetapi itu adalah bertalian dengan soal bahasa dan budaya. Alkitab tidak mengajarkan bahwa Tuhan menentukan manusia untuk berbuat dosa, atau memutuskan bahwa hanya bangsa tertentu yang bisa diselamatkan. Tuhan tidak juga menentukan keadaan tertentu agar orang terpaksa untuk menjadi pengikutNya, tetapi setiap orang diberikanNya kesempatan untuk menjawab panggilanNya. Manusia bukan “robot” Tuhan, dan Tuhan bukanlah “dalang” kehidupan manusia dan alam semesta.

Memang bagaimana Tuhan yang maha kuasa itu menjalankan kuasa dan kedaulatanNya di seluruh jagad raya sudah diperdebatkan manusia sejak dulu. Di kalangan orang Kristen pun ada berbagai pendapat yang agaknya bertentangan. Tetapi tentu saja apa yang sebenarnya dipikirkan dan dilakukan Tuhan, hanyalah Tuhan yang tahu.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

Walaupun demikian, hal yang pasti dalam iman Kristen ialah kepercayaan bahwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuai dengan pemeliharaan (providensia) Tuhan, yang ada sejak dari awalnya dan tidak pernah berubah, karena Ia maha tahu dan sempurna. Tuhan yang menciptakan manusia dengan kasihNya adalah Tuhan mau menyelamatkan manusia dengan kasihNya.

Memang manusia yang sudah jatuh dalam dosa tidaklah bisa bebas dari kasih Tuhan. Jika itu dikatakan “nasib”, itu mungkin satu-satunya kenyataan yang tidak dapat ditolak manusia. Sekalipun dosa manusia sebesar apapun, Tuhan senantiasa mau mengampuni mereka yang bertobat. Nasib mujur?

“Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Walaupun kasih dan kemurahan Tuhan itu tidak ada batasNya, keputusan ada di tangan manusia untuk mau menerimanya. Segala hal yang perlu untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mahluk ciptaan nomer satu yaitu manusia, sudah diperbuatNya. Tuhan memberikan matahari dan hujan kepada semua orang, baik yang jahat maupun yang baik, tetapi tidak semua orang mau bersyukur kepada Dia.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Lebih dari itu, Tuhan sendiri sudah turun ke dunia untuk memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk percaya dan diselamatkan; tetapi dalam kenyataannya, tidak semua orang mau percaya kepada Yesus Kristus.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini, kita melihat bahwa Tuhan mempunyai rencana kasih untuk seluruh umat manusia yang diciptakanNya. Rencana Tuhan untuk manusia, baik dalam hal jasmani maupun rohani, adalah rencana yang melibatkan Dia sebagai Sang Pencipta dan manusia yang diciptakanNya sebagai gambar Tuhan. Karena itu, sebagai orang yang sudah mengambil keputusan untuk mengikut Dia, kita harus percaya bahwa apapun keadaan kita sekarang ini, itu bukanlah sesuatu yang kita harus terima sebagai “nasib” saja, tetapi sebagai kesempatan untuk bisa bekerja bersama Tuhan untuk memuliakan Dia dan mendatangkan kebaikan bagi sesama kita yang saat ini “bernasib malang”.

Tuhan memerintahkan agar setiap orang percaya untuk mengabarkan injil keselamatan ke seluruh penjuru dunia, agar orang yang belum mengenal Kristus bisa menerima kabar keselamatan itu dan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus. Biarlah mereka menjadi mujur seperti kita!

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Mengapa masih sukar untuk menemui Tuhan?

“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” Ibrani 10: 19 – 21

Minggu lalu adalah minggu yang menarik bagi seluruh penduduk Australia karena adanya sebuah pergolakan politik yang terjadi. Setelah melalui berbagai kejutan,  seorang Perdana Menteri baru pada akhirnya terpilih. Dengan terpilihnya “ScoMo“, nama julukan dari Scott Morrison, tentunya ada perubahan dalam segi keamanan, yang layaknya harus disediakan untuk pemimpin negara. Sekalipun di Australia rakyat sering bisa menjumpai tokoh-tokoh pemerintahan tanpa harus melalui protokol yang ketat, sesudah menjadi Perdana Menteri tentunya ScoMo akan lebih sukar untuk ditemui.

Kalau untuk menjumpai seorang pemimpin negara tetap mungkin sekalipun tidak mudah, pada zaman sebelum Tuhan Yesus disalibkan bani Israel tidak bisa secara langsung menemui Tuhan di Bait Allah. Tuhan yang memimpin bani Israel secara langsung adalah Allah yang maha suci,  yang tidak dapat didekati oleh manusia yang berdosa.  Bait Allah pada waktu itu terdiri dari tiga bagian. Yang pertama adalah pelataran, dimana ada mezbah untuk korban bakaran, dan juga bejana atau kolam pembasuhan tempat membersihkan diri atau penyucian. Bagian kedua Bait Allah adalah ruang kudus, yang berisi kaki dian bercabang tujuh, meja roti sajian, dan mezbah dupa.  Di ruang kudus ini, hanya imam dan imam besar yang boleh masuk. Sebuah tirai atau tabir memisahkan antara ruang kudus ini dan ruang maha kudus yang merupakan bagian ketiga dari Bait Allah. Dalam ruang maha kudus ada tersimpan Tabut Perjanjian, lambang kehadiran Tuhan, dan juga dua loh batu berisi Sepuluh Hukum Allah yang ditulis oleh Musa. Ruang Maha Kudus ini hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar dan orang lain yang masuk ke ruang ini pastilah menemui ajalnya.

Dengan kematian Yesus untuk menebus dosa umat manusia, tirai yang memisahkan ruang kudus dan ruang maha kudus terbelah dua dari atas sampai ke bawah (Matius 27: 51). Karena itu, tidak ada lagi tirai yang memisahkan umat percaya dengan Tuhan. Setiap orang sekarang bisa mendekati Tuhan dan berkomunikasi denganNya setiap waktu, tanpa harus merasa takut bahwa Tuhan akan menolak dan menghukumnya. Dengan demikian, untuk menjumpai Tuhan seharusnya tidak sukar karena Dia ada dimana-mana. Walaupun demikian, dalam hidup ini banyak orang yang masih mengalami kesulitan untuk menjumpai Tuhan, dan juga merasa ragu kalau Dia mau mendengarkan doa mereka.

Sebagian orang Kristen memang masih belum dapat menghargai sepenuhnya apa arti kematian Yesus, yang membuka kesempatan bagi setiap orang percaya untuk menjumpai Tuhan. Bagi mereka, komunikasi dengan Tuhan hanya dilakukan ketika ada keperluan saja. Ketika mereka berada dalam kesulitan dan memerlukan pertolongan, barulah sebuah doa dipanjatkan. Tetapi komunikasi antara Tuhan dan manusia ciptaanNya sudah tentu bukanlah hanya melalui doa yang jarang-jarang. Kematian Yesus adalah harga yang tertinggi yang sudah dibayar untuk pengampunan dosa manusia, dan itu memungkinkan manusia untuk mendekati Tuhan pada setiap saat; untuk memuji Dia, untuk menyembah Dia, untuk merenungkan sabdaNya dan untuk berkomunikasi dengan Dia.

Ada juga orang-orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan yang maha suci itu masih bersembunyi di balik sebuah tirai. Untuk menjumpai Tuhan masih terasa sebagai hal yang sulit dilakukan karena adanya dosa-dosa lama yang menghantui pikiran mereka. Mereka mungkin hanya bisa mengharapkan orang lain untuk mewakili mereka. Mereka lupa bahwa Yesus sendiri sudah menjadi Imam Besar untuk semua orang percaya. Yesus yang sudah menebus dosa manusia adalah Imam Besar yang memungkinkan kita mendapatkan pengampunan total akan dosa kita sehingga kita dilayakkan untuk bisa berjumpa dengan Tuhan. Yesus Kristus sendiri adalah Tuhan  yang menerima kita sebagaimana adanya untuk dijadikan umatNya.

Kebalikan dari orang-orang diatas, sebagian lain orang Kristen mungkin merasa yakin bahwa menemui Tuhan itu tidaklah sukar. Bagi mereka, keyakinan akan penebusan Kristus membuat mereka percaya bahwa apapun yang mereka doakan akan dikabulkan Tuhan. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan, tetapi karena merasa bahwa Yesus sudah menebus dosa-dosa nereka, tidak mempunyai keinginan untuk memperbaiki cara hidup mereka. Orang-orang semacam ini mungkin tidak merasa bahwa walaupun kita sudah ditebus dari dosa-dosa kita, kita tetaplah manusia yang harus menyadari kedudukan kita di hadapan Tuhan yang maha suci. Sebab hanya dengan kerendahan hati kita dapat menghampiri tahtaNya, bukan dengan keyakinan bahwa kita adalah cukup baik di mata Tuhan (Lukas 18: 13 – 14). Sebab jika kita hidup dalam kebenaran Tuhan, doa kita akan didengarNya (Yakobus 5: 16).

Pagi ini, kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa ingin agar kita dekat kepadaNya. Karena itu, Tuhan sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal di kayu salib agar kita bisa berkomunikasi dengan Dia secara langsung di setiap waktu. Lebih dari itu, Ia ingin agar kita mau berjalan bersamaNya dalam hidup ini, dan Ia sudah memberikan Roh KudusNYa untuk membimbing kita. Kesempatan sudah diberikan kepada setiap umatNya untuk bisa mendekati Dia setiap saat dengan kerendahan hati dan penyerahan, tetapi kita harus mengambil keputusan bagaimana dan bilamana kita mau menggunakan hal itu.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Yudas 1: 20

Hidup ini seperti sebuah pertandingan

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” 1 Korintus 9: 26

Sekarang ini lagi musim lari “fun run” di Indonesia dan banyak orang yang senang untuk berpartisipasi secara “rame-rame” dengan teman dan keluarga. Memang lari itu sehat dan berlari bersama ribuan orang itu membawa kenikmatan tersendiri. Saya pun sebenarnya seorang penggemar fun run, dan tiap tahun di Australia saya biasanya selalu ikut lomba lari half marathon, agar saya mendapat motivasi untuk berolahraga secara teratur.

Sungguh menarik jika kita melihat berbagai ragam orang yang ikut fun run itu. Ada orang-orang yang kelihatannya benar-benar serius dalam mempersiapkan diri, dan bahkan atlet profesional dari berbagai negara. Ada pula yang kelihatannya hanya ikut-ikutan dan memakai pakaian yang aneh dan lucu. Pada saat yang sama semua peserta diberangkatkan, untuk lari melalui jalan-jalan yang sama dan akhirnya memasuki garis finis pada waktu yang berlainan. Tetapi, sekitar 5-10% perserta biasanya tidak mencapai tujuannya karena faktor kesehatan atau kurangnya persiapan.

Pada waktu Rasul Paulus mengabarkan injil di Yunani, olahraga lari memang sangat populer. Begitu juga tinju. Memang, tiap dua tahun sekali atlet-atlet dari seluruh Yunani berkumpul di Korintus untuk bertanding atletik dalam pekan olahraga Isthmus atau Isthmian Games untuk menghormati dewa Poseidon. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa Paulus menggunakan ilustrasi pelari dan petinju untuk menggambarkan hidup orang Kristen.

Mengapa kehidupan orang Kristen dikaitkan dengan kehidupan atlet? Paulus menyebutkan bahwa hal yang penting untuk diperhatikan dalam olahraga adalah tujuan untuk seorang pelari, dan sasaran memukul untuk seorang petinju. Memang untuk memenangkan pertandingan lari, seorang atlet harus tahu kemana dan dimana ia harus berlari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi medan yang ada, sedangkan seorang petinju harus memahami bagaimana ia harus menggunakan teknik tinjunya pada lawannya untuk mencapai sasaran.

Hidup orang Kristen adalah seperti hidup seorang atlet. Hidup yang tidak digunakan secara sembarangan, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Hidup yang tidak disia-siakan, tetapi hidup untuk menghasilkan berbagai buah kebaikan. Hidup yang tidak dipusatkan pada kebahagiaan duniawi yang sementara, tetapi kepada kebahagiaan surgawi yang kekal.

Seperti seorang atlet, tidaklah mudah bagi orang Kristen untuk bisa mencapai tujuan hidupnya. Seperti seorang atlet, setidaknya ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk meraih kemenangan:

  • Tekad
  • Disiplin
  • Belajar
  • Bekerja
  • Menjadi makin baik

Memang semua hal itu tidak mudah dilakukan; karena itu banyak orang Kristen yang merasa cukup menjadi penonton dan bukan atlet. Mereka mungkin ke gereja, tetapi hanya sekedar kebiasaan. Mereka mungkin segan untuk membaca firman Tuhan; atau sekalipun hafal, mereka tidak atau jarang melaksanakannya. Hari demi hari berlalu, tetapi hidup kerohanian mereka tidak pernah berubah.

Seorang pengikut Kristus harus mempunyai tekad yang besar untuk tetap mengikut Dia dalam keadaan apapun. Ia bersedia untuk mendisplinkan diri, dan memilih untuk mau menjalankan perintah Tuhan setiap hari dan setiap saat. Ia mau mempelajari firman Tuhan dan mau belajar dari saudara-saudara seiman. Orang Kristen juga orang yang mau selalu bekerja mempraktikkan imannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya. Selain itu, orang Kristen selalu ingin untuk menjadi makin baik dan bersinar dalam segala segi kehidupan.

Pagi ini, panggilan untuk kita semua adalah panggilan untuk menjadi atlet-atlet Tuhan yang benar-benar mempunyai keinginan untuk mencapai kemenangan dalam pergulatan hidup di dunia. Maukah kita?

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 1 Korintus 9: 25

Apakah arti pemeliharaan Tuhan itu dan apa pula kehendakNya?

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Hari Jumat kemarin adalah hari yang luar biasa di Australia. Pagi hari itu di parlemen, tiga orang mencalonkan diri sebagai pengganti perdana menteri yang ada. Bukan melalui pemilihan umum, karena sebenarnya perdana menteri yang ada masih mempunyai sisa masa jabatan lebih dari setahun. Di Australia memang pemerintah yang ada bisa mengganti pemimpin negara melalui mosi diantara anggota parlemen dari partai yang berkuasa, untuk memilih pemimpin baru. Mereka yang kurang mengerti akan sistim ini mungkin menganggap ini tidak berbeda dengan “kudeta”. Siang harinya, seorang perdana menteri baru terpilih. Dalam 24 jam, perdana menteri yang lama dan wakilnya kehilangan posisi mereka.

Apakah Tuhan menentukan kejadian diatas? Apakah itu kehendak Tuhan? Begitu sebagian orang bertanya. Memang jika ditimbang dari segi kemahakuasaan Tuhan, tidak ada kejadian di bumi ini yang terjadi tanpa seizin Tuhan. Jelas bahwa pemerintah dimanapun terpilih dengan seizin Tuhan. Sekalipun pemerintah atau pemimpin itu kurang baik, Tuhan mengizinkan itu terjadi menurut rencana pemeliharaanNya (yang disebut providensia). Tetapi, apa yang terjadi belum tentu merupakan kehendakNya.

Memang perdebatan manusia tentang apa yang direncanakan dan apa yang dikehendaki Tuhan sering muncul. Sebagian orang percaya bahwa pemerintah atau pimpinan organisasi apapun terpilih atas kehendak Tuhan. Dan seperti ayat diatas, semua orang harus tunduk kepada pemerintah (authority) yang ada diatasnya. Sebaliknya, ada yang yakin bahwa pemerintah ada karena azas demokrasi yang memberikan kesempatan bagi rakyat untuk secara bebas dan rahasia memilih pemimpin mereka berdasarkan suara terbanyak. Bagi mereka ini, jika pimpinan yang kemudian terpilih ternyata kurang baik adanya, itu adalah akibat pilihan mereka sendiri dan bukan merupakan kehendak Tuhan. Dengan demikian, mereka mungkin berusaha untuk mencari gantinya.

Pertanyaan untuk kita, apakah mungkin seorang pemimpin terpilih walaupun tidak sesuai dengan kehendakNya? Sebelum menjawab pertanyaan itu, mungkin kita harus lebih dulu bertanya, apakah mungkin orang berbuat dosa? Tuhan sudah pasti tidak menghendaki kita untuk berbuat dosa, tetapi jika kita berbuat dosa itu adalah kesalahan kita sendiri. Mengapa Tuhan membiarkan kita berbuat dosa sekalipun itu bertentangan dengan kehendakNya? Karena Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk mengenal Dia dan menurut perintahNya. Tuhan dalam kemahakuasaanNya tetap bisa meneruskan rencana pemeliharaan (providensia) -Nya yang sudah ada, dalam keadaan apapun. Providensia Tuhan tidak selalu sama dengan kehendakNya, seperti apa yang terjadi pada bani Israel.

“Israel telah menolak yang baik biarlah musuh mengejar dia! Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 3 – 4

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa Ia selalu memelihara umatNya dengan memberikan pemeliharaanNya hari demi hari. Sekalipun keadaan disekitar kita terlihat kurang menyenangkan, Tuhan bisa memakainya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkanNya. Dalam hal ini, orang Kristen terpanggil untuk tetap hidup dalam kebenaran dan tunduk kepada hukum dan peraturan yang ada. Sebaliknya, jika apa yang terjadi jelas-jelas tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, umat Kristen terpanggil untuk menjadi terang dunia dengan memberi bimbingan, tauladan serta pengurbanan, dan menegakkan keadilan maupun kebenaran seperti apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus sewaktu Ia ada di dunia. Kita harus bisa selalu mencari kehendakNya dalam bekerja sambil percaya kepada pemeliharaanNya!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hal omong kosong dan kabar berantai

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Teringat saya pada kejadian sewaktu saya masih mahasiswa di Surabaya, ketika saya menerima sebuah surat yang ditujukan kepada saya dari seseorang yang tidak mau dikenal. Surat yang tidak mencantumkan alamat pengirimnya itu sudah dapat dipastikan berasal dari seorang yang mengenal saya. Setelah saya buka surat itu, ternyata isinya hanyalah sebuah pesan untuk menyampaikan fotokopi surat itu kepada lima teman saya agar saya tidak mengalami bencana. Surat aneh itu langsung saya robek-robek dan masukkan kedalam tong sampah. Itu hanyalah sebuah surat berantai (chain letter).

Bagi kebanyakan orang yang mempunyai akal sehat, surat berantai bukanlah sesuatu yang menimbulkan masalah, walaupun bisa menimbulkan rasa jengkel kepada si penerima. Surat semacam itu adalah sebuah takhayul, yang hanya dipercayai oleh orang-orang tertentu. Walaupun demikian, setiap orang yang menerima surat semacam itu tentunya tidak merasa senang, sekalipun surat itu menjanjikan keberuntungan bagi mereka yang meneruskannya ke orang lain. Surat semacam itu jelas mengeksploitir kelemahan manusia yang tidak dapat menentukan apa yang akan terjadi di masa depan.

Jika surat berantai sekarang sudah menghilang karena jarangnya orang menulis surat di zaman ini, pesan berantai melalui Whatsapp (WA) masih sering muncul, terutama di antara anggota chat group. Begitu mudahnya bagi seseorang untuk mem- forward – kan pesan dari seseorang kepada banyak orang melalui WA, membuat mereka yang menulis dan meneruskan omong kosong, surat berantai dan hoax merasa bahwa semua itu hanya “soal kecil” saja. Siapa tahu kalau apa yang dikirimkan bisa berguna, begitu dalih mereka. Mungkin mereka tidak sadar bahwa iblis, yang melakukan hal yang serupa kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus, tentunya sangat menyukai kecanggihan teknologi zaman now dan kesediaan manusia untuk meniru dia.

Bahwa iblis adalah biang kekacauan dan penipu yang unggul sudah ditulis dalam Alkitab.

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat terang.” 2 Korintus 11: 14

Apa yang ditawarkan dan diperlihatkan dalam sosial media pada zaman sekarang ini seringkali adalah usaha iblis untuk memperlemah iman orang percaya, dan untuk mengalihkan perhatian dan ibadah kita kepada Kristus. Dalam hal ini, Paulus pernah menulis kepada jemaat di Korintus:

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 1 Korintus 11: 3

Pagi ini, ayat pembukaan diatas mencoba mengingatkan kita untuk bisa lebih berhati-hati dalam mengirimkan dan meneruskan berita-berita yang kosong, konyol, palsu, menakutkan dan menyesatkan. Kita harus memusatkan pikiran kita pada semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Dengan demikian, hidup kita dan hidup orang di sekitar kita akan diisi dengan damai sejahtera.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Berjaga-jaga bukan berarti berjaga

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Matius 24: 42

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ada perbedaan antara kata “berjaga-jaga” dan kata “berjaga”. Perbedaan itu mungkin tipis dan sering diabaikan. Tetapi, agaknya kata “berjaga-jaga” lebih cocok untuk diartikan sebagai “bersiap-siap”, sedang kata “berjaga” berarti “tidak tidur”.

Dalam hal menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, kata “berjaga-jaga” yang dipakai dalam ayat diatas adalah kata pilihan Yesus. Bukan “berjaga”. Dalam Matius 25: 1- 13, Yesus memberi perumpamaan tentang 10 gadis yang di tengah malam menunggu kedatangan mempelai pria untuk menghadiri perjamuan kawin. Dari kesepuluh gadis itu, lima diantaranya adalah bijaksana karena mereka membawa pelita lengkap dengan minyaknya yang disimpan dalam buli-buli, sedang lima gadis yang lain adalah bodoh karena mereka hanya membawa pelita. Apa yang mereka lakukan selagi menunggu kedatangan mempelai pria? Mereka semuanya tidur, karena memang hari sudah malam. Mereka tidak perlu berjaga. Walaupun begitu, gadis-gadis yang bijaksana sudah berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan mempelai pria dan karena itu bisa masuk kedalam ruang perjamuan.

Kedatangan Kristus untuk kedua kalinya adalah seperti yang digambarkan sebagai kedatangan mempelai pria. Banyak orang Kristen yang menantikan hal itu dengan semangat yang luar biasa karena takut tertinggal. Seringkali mereka adalah orang-orang yang lupa diri, dan karena itu mereka selalu berjaga dan bukannya berjaga-jaga. Mereka sering menganalisa segala kejadian, dan berusaha menentukan kapan Yesus akan datang. Sebagian malahan ada yang meninggalkan kegiatan sehari-hari, untuk bisa menunggu kedatangan Yesus sepanjang hari (doomsday cults).

Kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup ini juga sering mereka tafsirkan secara harfiah, seperti apa yang digambarkan oleh Yesus:

“Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” Matius 24: 7

Memang dalam Matius 24, Yesus menggambarkan apa yang akan terjadi setelah Ia kembali ke surga, tetapi kebanyakan penafsir Alkitab menulis bahwa apa yang diucapkan Yesus di bukit Zaitun ini bukanlah tanda-tanda akhir zaman, tetapi apa yang akan terjadi (dan sudah terjadi sekarang) pada bangsa Israel. Ini bukan berarti bahwa hal-hal yang menakutkan itu tidak bisa mengawali kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, tetapi itu tidak harus demikian karena tidak ada seorang pun yang bisa menerka kapan Yesus akan datang lagi.

Apa yang jelas bagi kita adalah bahwa Yesus akan datang pada suatu saat yang tidak terduga, dan itu mungkin saja terjadi pada saat kita masih hidup di dunia. Karena penekanan pada hal-hal yang menakutkan seperti yang tertulis dalam Matius 24, sebagian orang Kristen menjadi gelisah dan bingung, dan bahkan meninggalkan kewajiban untuk terus mengabarkan injil keselamatan kepada dunia. Mereka tidak henti-hentinya berusaha mempelajari keadaan dunia untuk menerka-nerka saat kedatangan Yesus. Tetapi ini bukanlah barang baru. Kepada umat Kristen pada zamannya, Rasul Paulus menulis:

“Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba.” 2 Tesalonika 2: 1 – 2

Pagi ini kita harus sadar bahwa dalam hidup kita sekarang ini, kita tidak perlu berjaga untuk menantikan kedatangan Kristus dengan menganalisa berbagai kabar buruk di dunia. Sebaliknya, karena kita sadar bahwa Yesus bisa datang kapanpun juga, kita harus berjaga-jaga dengan makin giat mempelajari dan melaksanakan firmanNya. Lebih dari itu, kita harus tetap mau memberitakan injil keselamatan (kabar baik) kepada semua bangsa selagi kesempatan masih ada.

“Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.” Mazmur 57: 9 – 10

Apakah Tuhan peduli akan sakit kita?

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Sudah tiga bulan ini saya menderita rasa sakit pada pundak saya yang sebelah kanan. Karena itu saya sementara ini tidak bisa menggunakan tangan kanan saya untuk mengangkat barang belanja atau beban berat lainnya. Ultrasound menunjuk pada sobeknya otot penghubung bahu dan lengan saya sepanjang 1,75 cm. Cedera yang dialami sewaktu berolahraga itu membuat saya berpikir dan merenung, kalau-kalau itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada saya. Kalau betul demikian, untuk apa?

Memang soal sakit, semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengijinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita tetap dekat kepadaNya.

Memang rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Pagi ini, jika kita merasakan hidup ini adalah terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11