Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13: 6
Kemarin saya mendapat kiriman sebuah video tentang seseorang yang mengemudikan sebuah mobil dan terjebak di sebuah jalan di tengah kota setelah ia menyerempet kendaraan lain. Segerombolan orang-orang yang mengejarnya kemudian menghancurkan kaca mobil dan merusak mobil itu. Kejadian di siang hari bolong itu sungguh bisa membuat hati siapapun berdebar-debar. Bagaimana jika kejadian itu terjadi pada diri kita?
Dalam hidup manusia, mungkin ada kejadian yang lebih menakutkan dari apa yang terjadi di atas. Apa yang timbul dalam pikiran orang-orang yang mengalaminya tentunya berbeda-beda. Walaupun demikian, kejadian semacam itu, baik untuk orang Kristen maupun bukan Kristen, sudah tentu bisa membuat detak jantung menjadi lebih cepat, dan bahkan bisa saja membuat orang mendapat serangan jantung.
Apa reaksi kita jika hal itu terjadi pada diri kita? Menjerit minta tolong? Menutup mata dan menyerah? Mencoba melawan? Melarikan diri? Bagaimana pula dengan berdoa? Bagaimana jika rasa takut sudah menguasai kita? Bagaimana pula jika ada hal-hal yang menakutkan yang belum terjadi, tetapi bisa datang sewaktu-waktu? Akankah hidup kita menjadi lumpuh? Hal ini memang sukar untuk bisa dipastikan, karena hanya yang pernah mengalaminya bisa menceritakan apa yang ia lakukan.
Memang dalam sejarah, berbagai kejadian yang mengerikan sudah terjadi pada pengikut-pengikut Kristus. Stefanus menemui ajalnya karena dirajam banyak orang. Rasul Petrus, dikabarkan menemui ajalnya karena disalibkan dengan posisi tubuh yang terbalik. Yohanes Pembaptis dipancung kepalanya dan begitu juga Rasul Paulus, mungkin menerima nasib yang sama.
Penderitaan orang-orang Kristen memang terjadi karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Tetapi, seperti yang ditulis Rasul Paulus, mereka tidak merasa hancur karena adanya berbagai penindasan dan penganiayaan.
“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9
Siang ini, mungkin hati kita gundah melihat keadaan di sekeliling kita. Tetapi, apa yang dikatakan Yesus harus selalu kita ingat. Kita tidak boleh takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Sebaliknya, kita harus takut kepada Tuhan yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Dengan demikian, sekalipun itu tidak mudah dilakukan, kita harus melatih diri kita untuk bisa menyerahkan hidup dan segala kekuatiran kita kepadaNya hari demi hari. Hanya dengan cara ini, kita tetap bisa hidup dan tidak menjadi hancur dalam ketakutan kita.
“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Matius 10: 28 – 31
Satu hal yang membuat saya merasa agak sedih jika membeli suatu produk di zaman now adalah bungkus atau packaging -nya. Barang apapun yang dijual di toko harus dibungkus sedemikian rupa, sehingga kelihatan seperti barang yang bagus dan berharga. Tetapi, kecantikan bungkus belum tentu menjamin kualitas isinya. Selain itu, kertas bungkus yang berlapis-lapis itu akhirnya harus dibuang ke tempat sampah.
Dalam kehidupan ini, mereka yang berhasil dalam karir adalah orang-orang yang bisa menghasilkan sesuatu yang baik dalam pekerjaannya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang bisa menunjukkan apa hasil pekerjaan mereka. Orang yang berhasil adalah orang yang bisa meng-klaim upah untuk apa yang baik yang sudah dihasilkannya.
Ungkapan “memang sudah nasib” sering kita dengar di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, orang membicarakan soal nasib (fate) di rumah, pasar, mal, kantor dan dimanapun juga. Nasib agaknya berlaku untuk siapapun juga, baik mereka yang kaya atau yang miskin, baik yang berpendidikan atau yang kurang berpendidikan. Memang kata orang, nasib adalah penentu keadaan atau keberuntungan seseorang.
Minggu lalu adalah minggu yang menarik bagi seluruh penduduk Australia karena adanya sebuah pergolakan politik yang terjadi. Setelah melalui berbagai kejutan, seorang Perdana Menteri baru pada akhirnya terpilih. Dengan terpilihnya “ScoMo“, nama julukan dari Scott Morrison, tentunya ada perubahan dalam segi keamanan, yang layaknya harus disediakan untuk pemimpin negara. Sekalipun di Australia rakyat sering bisa menjumpai tokoh-tokoh pemerintahan tanpa harus melalui protokol yang ketat, sesudah menjadi Perdana Menteri tentunya ScoMo akan lebih sukar untuk ditemui.
Sekarang ini lagi musim lari “fun run” di Indonesia dan banyak orang yang senang untuk berpartisipasi secara “rame-rame” dengan teman dan keluarga. Memang lari itu sehat dan berlari bersama ribuan orang itu membawa kenikmatan tersendiri. Saya pun sebenarnya seorang penggemar fun run, dan tiap tahun di Australia saya biasanya selalu ikut lomba lari half marathon, agar saya mendapat motivasi untuk berolahraga secara teratur.
Teringat saya pada kejadian sewaktu saya masih mahasiswa di Surabaya, ketika saya menerima sebuah surat yang ditujukan kepada saya dari seseorang yang tidak mau dikenal. Surat yang tidak mencantumkan alamat pengirimnya itu sudah dapat dipastikan berasal dari seorang yang mengenal saya. Setelah saya buka surat itu, ternyata isinya hanyalah sebuah pesan untuk menyampaikan fotokopi surat itu kepada lima teman saya agar saya tidak mengalami bencana. Surat aneh itu langsung saya robek-robek dan masukkan kedalam tong sampah. Itu hanyalah sebuah surat berantai (chain letter).
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ada perbedaan antara kata “berjaga-jaga” dan kata “berjaga”. Perbedaan itu mungkin tipis dan sering diabaikan. Tetapi, agaknya kata “berjaga-jaga” lebih cocok untuk diartikan sebagai “bersiap-siap”, sedang kata “berjaga” berarti “tidak tidur”.
Sudah tiga bulan ini saya menderita rasa sakit pada pundak saya yang sebelah kanan. Karena itu saya sementara ini tidak bisa menggunakan tangan kanan saya untuk mengangkat barang belanja atau beban berat lainnya. Ultrasound menunjuk pada sobeknya otot penghubung bahu dan lengan saya sepanjang 1,75 cm. Cedera yang dialami sewaktu berolahraga itu membuat saya berpikir dan merenung, kalau-kalau itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada saya. Kalau betul demikian, untuk apa?