Setia dalam suka dan dalam duka

Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2: 10

Membaca kitab Ayub 2, mau tidak mau kita membayangkan bagaimana hubungan Ayub dengan istrinya sebelum Ayub tertimpa berbagai musibah. Apakah istri Ayub hanya mencintainya dalam suka? Mengapa dengan datangnya duka, istri Ayub menyuruh Ayub untuk meninggalkan Tuhan dan mati (ayat 9)?

Bagi mereka yang pernah menghadiri upacara pemberkatan nikah di gereja, tentunya ingat akan isi janji pernikahan yang diucapkan kedua mempelai:

“Saya mengambil engkau menjadi istri/suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”

Dengan janji sehidup-semati ini, kedua sosok manusia itu kemudian diteguhkan sebagai suami dan istri untuk seumur hidup.

Jika pernikahan adalah antara dua manusia yang berbeda jenis dan latar belakangnya tetapi saling mengasihi, umat Kristen atau gereja bisa dibayangkan sebagai calon mempelai Kristus (Wahyu 21: 2). Sebagai orang percaya, kita mempunyai tekad untuk mengikut Yesus dalam segala keadaan, sekalipun kita mungkin tidak pernah diminta untuk mengucapkan janji untuk tetap setia kepada Yesus waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Yesus sendiri berkali-kali berjanji untuk menyertai umatNya untuk selamanya, dan bahkan memberikan Roh Kudus untuk menguatkan kita (Yohanes 14: 16).

Seperti banyak pernikahan manusia yang menjadi hancur karena adanya godaan, tantangan dan kesulitan hidup, banyak orang yang mundur dari imannya karena adanya berbagai persoalan hidup. Walaupun demikian, bagi kita, untuk tetap berpegang pada janji kesetiaan Tuhan dalam menghadapi kesulitan hidup, bukanlah hanya harapan. Bahwa Ayub yang hidupnya diterpa badai kehidupan yang begitu besar dan bahkan untuk sesaat seolah kehilangan dukungan istrinya, tetapi tetap setia dan beriman kepada Tuhan, adalah sebuah contoh bahwa mereka yang sudah pernah merasakan besarnya kasih Tuhan dalam hidup mereka, tidaklah mudah untuk mengingkari iman kepadaNya. Menarik sekali untuk menyimak bahwa karena kesetiaan Ayub kepada Tuhan dan kesetiaan istri Ayub kepada Ayub, Tuhan pada akhirnya memberkati Ayub dan istrinya dengan berkelimpahan (Ayub 42: 12 – 16).

Pagi ini, jika hidup kita mengalami persoalan besar, biarlah kita ingat akan janji Tuhan untuk menyertai kita. Dengan keyakinan akan kasihNya,sekalipun keadaan dan orang-orang di sekitar kita pada saat ini tidak bisa membantu kita, biarlah kesetiaan kita kepada Tuhan tetap kuat sebab Ia adalah Tuhan yang setia.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 8: 38 – 39

Pernah dikecewakan?

“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Matius 5: 11

Pernahkah anda merasa bahwa apapun yang anda kerjakan tidak mendapat sambutan yang baik dari orang lain? Dalam cerita-cerita klasik banyak dijumpai hal-hal semacam itu. Misalnya, seorang istri yang sudah seharian sibuk bekerja di rumah, mungkin mendapat celaan dari suami setelah ia pulang dari kantor. Demikian pula, seorang suami yang sudah bekerja keras mencari nafkah, masih menerima omelan istri. Hal-hal semacam ini memang bisa membuat orang merasa sedih dan bahkan frustrasi.

Diluar kehidupan rumah tangga, adanya celaan orang lain adalah umum. Seorang pekerja mendapat teguran dari boss nya karena membuat kesalahan adalah lumrah, tetapi jika ia dituduh melakukan kesalahan secara semena-mena, itu adalah hal yang menyakitkan. Walaupun demikian, hal sedemikian bukanlah sesuatu yang mengherankan karena dunia ini penuh dengan hal-hal yang jahat, yang tidak adil, dan yang tidak benar.

Ayat diatas menyatakan bahwa kita justru harus berbahagia jika kita dicela, dianiaya dan difitnahkan segala yang jahat karena mengikut Yesus. Mengapa demikian? Ayat berikutnya berbunyi:

“Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Matius 5: 12

Dari kedua ayat diatas, dapat disimpulkan jika kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan nama Tuhan, tetapi mendapat perlakuan yang tidak baik dan bahkan dijahati orang lain, kita tidak perlu berkecil hati karena hal semacam itu sudah pernah terjadi pada saat yang lalu. Tuhan akan menghargai jerih payah kita.

Memang, jika kita mau menderita demi Kristus, kita akan dimuliakan bersama Dia di surga. Masalahnya adalah dalam hidup ini, kita juga bisa dicela dan dianiaya dan difitnah karena hal apapun. Apakah ada gunanya bagi mereka mengalami penderitaan semacam itu? Jawabnya: bisa ada atau tidak ada.

Mereka yang dicela dan difitnah mengenai hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kemuliaan Tuhan, sudah tentu harus bisa menanggungnya sendiri. Apalagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, mereka adalah individu yang percaya bahwa mereka hidup dan bekerja untuk dirinya sendiri. Jika mereka mendapat keberhasilan, itu adalah untuk diri mereka; dengan demikian, jika mereka mendapat kegagalan, kesulitan ataupun penganiayaan, itu adalah persoalan yang harus mereka selesaikan sendiri. Tentu saja hal ini tidak bisa mendatangkan kebahagiaan.

Sebaliknya, mereka yang percaya kepada Tuhan yakin bahwa dalam hidup mereka tidak berjalan seorang diri. Tambahan pula, segala yang dilakukan mereka adalah untuk kemuliaan Tuhan.

“….Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dengan demikian, jika apa yang mereka perbuat tidak mendapatkan tanggapan yang baik dari orang lain, mereka tetap yakin bahwa semua itu tidak sia-sia di mata Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita teringat berapa banyak kita pernah dikecewakan orang lain. Mungkin sering maksud baik kita justru membuat orang lain marah dan dendam kepada kita. Tetapi semua itu tidak perlu membuat kita sedih atau kecewa, jika kita memang hidup untuk Tuhan di setiap saat.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Siapakah Yesus bagi anda?

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Matius 16: 15 – 16

Di dunia ini tidak terhitung jumlah orang yang mengenal nama Yesus. Tetapi bagi setiap orang, nama Yesus mungkin mempunyai arti yang berbeda. Bagi sebagian orang, Yesus adalah orang Yahudi, anak tukang kayu yang dikenal karena ajaranNya. Orang lain berpendapat bahwa Yesus adalah orang yang baik dan bijaksana. Sebagian lagi berpendapat bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar. Dan banyak juga yang berkata bahwa Yesus hanyalah tokoh sejarah.

Memang kita bisa membaca berbagai buku yang menulis tentang asal usul dan kehidupan Yesus. Tetapi hanya Alkitab yang menulis bahwa Ia adalah Anak Allah yang sudah menebus dosa manusia. Ia adalah Tuhan. Alkitab jugalah yang menulis bahwa dari mulanya Allah sudah mempersiapkan kelahiran Yesus melalui silsilah yang sangat rumit dalam bangsa Israel. Semua itu menunjukkan bahwa apa yang direncanakan Allah itu terjadi seperti apa yang sudah dinubuatkan sebelumnya.

Dengan bukti-bukti yang ada selama ribuan tahun, orang tetap saja sulit untuk diyakinkan agar percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan bani Israel. Tetapi, apa yang kita baca dalam ayat-ayat diatas adalah mengherankan; bahwa tanpa diyakinkan orang lain dan tanpa mempunyai Alkitab seperti yang ada sekarang, Petrus bisa tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Petrus bukanlah orang yang berpendidikan, bukan ahli Taurat, ia hanyalah seorang nelayan sederhana. Petrus hanya diberikan kesempatan untuk mengikut Yesus dan melihat apa yang diperbuat dan diajarkan Yesus. Dibandingkan dengan murid-murid Yesus yang lain, Petrus tidak mempunyai kelebihan, kecuali dalam hal keras kepalanya. Dengan demikian, sangat sulit dimengerti bagaimana ia adalah satu-satunya murid Yesus yang bisa dengan tegas pada saat itu menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Suatu misteri!

Tuhan Yesus kemudian menjelaskan apa yang dibalik misteri jawaban Petrus.

Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 16: 17

Yesus menjawab bahwa iman yang dipunyai oleh Petrus bukanlah datang dari dirinya sendiri, atau bukan dari orang lain, tetapi datang dari Allah. Hanya Allah sendiri yang bisa menjelaskan siapakah Dia itu. Hanya melalui pernyataan Allah secara pribadi, Petrus bisa mengenal Yesus dengan benar.

Pagi ini, kita mempunyai kesempatan untuk menanyai diri kita sendiri: Siapakah Yesus itu bagi kita? Mungkin kita sudah mengenal namaNya sejak lama. Mungkin kita dilahirkan dalam keluarga Kristen. Mungkin kita sudah melihat hasil kerja Yesus dalam diri orang lain. Tetapi, jika kita tidak pernah merasakan bagaimana Yesus bekerja dalam hidup kita, pengenalan kita hanyalah bersifat teoritis. Kita mungkin masih berada dalam hidup lama, yang tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya kepada Yesus.

Hanya anda yang bisa merasakan ada atau tidaknya kerinduan untuk lebih mengenal Yesus. Karena hanya Allah yang bisa menyatakan diriNya kepada Petrus, hanyalah Dia yang bisa membuat anda percaya sepenuhnya dan berserah kepada Yesus. Apa yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mengundang Roh Kudus untuk menguasai hati kita, dan membimbing kita kearah pengenalan yang benar akan Yesus, Tuhan kita. Dengan itu hidup kita akan berubah, karena bukan kita sendiri yang hidup dalam diri kita, tetapi Kristus Tuhan kita. Jika selama ini kita hidup untuk diri kita sendiri dan hanya tertarik pada kesenangan duniawi, dengan mengenal Kristus yang sudah mati ganti dosa, kita akan dapat hidup memuliakan Dia setiap hari.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Hal membalas dendam

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Roma 12: 19

Bagi mereka yang senang menonton, tahun-tahun sebelum 1960 adalah masa jaya film koboi Amerika. Bintang film seperti John Wayne dan bahkan Ronald Reagan pada waktu itu sering muncul di layar perak. Setelah masa jaya film koboi Amerika berakhir, film koboi Italia muncul, dan bintang film Franco Nero menjadi tenar dengan film Django di tahun 1966. Walaupun film Western sebenarnya menceritakan kehidupan para koboi di Amerika yang tidak ada di Italia, film koboi “spaghetti” semacam ini populer karena tema kekerasan dan balas dendam yang disukai sebagian orang.

Memang dalam hidup ini banyak orang yang agaknya masih menganut paham “mata ganti mata”. Dengan demikian, mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan pembalasan (revenge, avenge, vengeance). Alkitab memang mempunyai banyak ayat yang berhubungan dengan soal membalas dendam. Seperti yang tertulis dalam ayat diatas, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pembalasan dendam selalu dihubungkan dengan hak Tuhan.

Mengapa Tuhan menyatakan bahwa Ialah yang berhak membalas dendam? Itu karena Tuhanlah yang memiliki seluruh jagad raya, termasuk semua mahluk hidup dan manusia. Manusia secara pribadi bukanlah pemilik apapun di dunia, dan juga bukan wakil Tuhan; karena itu ia tidak berhak menuntut balas. Selain itu, tiap orang dalam keterbatasannya tidak tahu sepenuhnya akan apa yang benar dan yang salah. Karena itu, hanya Tuhan yang pada hakikatnya berhak menjadi hakim.

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Amsal 16: 2

Tuhan Yesus bukan saja melarang pengikutNya membalas dendam, Ia malahan menyuruh mereka untuk melawan kejahatan dengan kesabaran.

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Matius 5: 38 – 39

Jika membalas dendam adalah dosa yang melanggar perintah Tuhan, mereka yang mudah naik darah biasanya mudah terpancing untuk melampiaskan kemarahannya dengan melakukan kekerasan. Memang kemarahan yang tidak segera dihentikan, lambat laun akan berlanjut dengan kebencian dan pertengkaran (Amsal 10: 12). Karena itu Yesus memberikan perintah agar murid-muridnya tidak membiarkan kemarahan yang ada untuk berlanjut-lanjut, karena iblis menantikan kesempatan untuk menghancurkan mereka yang dikuasai amarah, seperti apa yang terjadi pada Kain yang membunuh Habel saudaranya.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26 – 27

Pagi ini, jika kita bangun dan melihat matahari terbit, kita harus sadar bahwa satu hari sudah lewat dan hari yang baru sudah datang. Kesempatan untuk kita bisa menghilangkan rasa marah dan dendam sudah diberikan, dan apa yang selanjutnya terjadi dalam hidup kita akan menunjukkan apakah kita benar-benar sudah menjadi pengikut Yesus.

“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 15

Baca juga: “Pipi kanan ditampar, kasih pipi kiri sekalian” (31 Mei 2017).

Akal sehat yang bagaimana?

“Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.” Amsal 3: 21 – 22

AKAL sehat adalah terjemahan kontekstual dari common sense. Apa itu akal sehat? Harfiahnya menunjuk pada arti pemahaman yang dibuat oleh akal orang kebanyakan tanpa banyak-banyak berpikir rumit-rumit atau merenung-renung. Sesuatu yang seharusnya ada pada setiap orang (common). Dengan demikian, akal sehat mungkin adalah pikiran atau tindakan yang dianggap umum atau biasa oleh kebanyakan orang.

Dalam kenyataannya, tidak semua orang mempunyai akal sehat dan mereka yang memilikinya pun belum tentu bisa memakainya pada segala situasi dan waktu. Karena itu, ada kalanya mereka yang biasanya bisa mengambil keputusan dengan “kepala dingin”, terkadang membuat kekeliruan yang “tidak masuk di akal”.

Dalam pandangan Kristen, akal sehat adalah karunia Tuhan yang harus dipelihara dan digunakan agar bisa bertumbuh dengan baik dalam hidup manusia. Mereka yang mempunyai akal sehat adalah orang-orang yang mempunyai kebijaksanaan untuk melakukan tindakan yang benar pada saat yang tepat. Sudah tentu, tindakan yang sedemikian tidak boleh bertentangan dengan perintah Tuhan.

Kebijaksanaan seperti itu memungkinkan kita untuk melihat hidup ini sebagaimana Tuhan melihatnya. Ini hanya mungkin jika kita mempunyai hubungan yang baik dengan Dia, dan selalu mencari kehendakNya. Jika kita menggunakan akal sehat yang datang dari Tuhan, kita akan selalu mempertimbangkan makna perbuatan yang akan kita lakukan untuk Tuhan dan sesama, dan bukannya untuk kepentingan diri sendiri.

Apa yang bisa membuat akal sehat tidak bekerja? Biasanya, keinginan untuk mendapat hasil dengan cepat membuat orang bertindak bodoh, yang tidak masuk diakal, dan yang merugikan Tuhan dan sesama. Karena itu, banyak orang yang sering mengambil keputusan dengan gegabah akhirnya mengalami berbagai persoalan dan masalah, dalam hubungan mereka dengan masyarakat dan maupun hukum.

Setiap orang pernah membuat kekeliruan, tetapi perbedaan antara mereka yang bijaksana dan mereka yang bodoh adalah kemauan untuk belajar dari pengalaman. Mereka yang bijak selalu mau mengakui apa yang salah dan mohon pengampunan dari Tuhan, dan juga selalu meminta tambahan kebijaksanaan dari Tuhan. Sebaliknya, mereka yang bodoh selalu merasa bahwa apapun yang mereka perbuat selalu dapat dibenarkan. Karena itu mereka tidak bisa bertumbuh dalam pemakaian akal sehat. Biarlah kita selalu memakai akal sehat kita dengan bersandar pada firmanNya!

“Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.” Amsal 3: 26

Paket Mahakuasa dan Mahakasih

“Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.” 2 Samuel 22: 3

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menjumpai berbagai paket yang ditawarkan berbagai perusahaan, misalnya paket internet yang banyak ragamnya. Pada umumnya, setiap paket mempunyai kelebihan dan kekurangan yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya. Mereka yang membutuhkan “paket komplit” tentunya harus bersedia membayar biaya yang besar yang belum tentu terjangkau oleh semua orang.

Sebagai orang Kristen, kita mempunyai pandangan pribadi tentang Tuhan, dan bisa merasakan pengaruh Tuhan dalam hidup kita, yang bergantung pada pengalaman hidup kita. Pengalaman setiap orang berbeda dengan apa yang dialami orang lain. Karena itu, Tuhan bagi seseorang bisa merupakan Tuhan yang mahakuasa, sedangkan bagi orang lain Tuhan itu mahakasih. Tiap orang seolah mempunyai “paket” yang khusus, yang cocok dengan apa yang diyakininya.

Jika orang mungkin memiliki paket rohani yang cocok dengan pengalaman hidupnya, itu bukanlah berarti bahwa ia sudah mempunyai apa yang komplit dan benar. Paket yang komplit dan benar harus sesuai dengan “spesifikasi” yang ada dalam Alkitab. Dalam hal ini, banyak ahli teologi yang menyatakan bahwa atribut Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahaada, dan mahakasih (omnipotence, omniscience, and omnipresence, omnibenevolent).

Jika Tuhan itu adalah begitu besar, mahabesar, dapatkah kita mengukur kebesaranNya? Sudah tentu tidak mungkin. Dengan keterbatasannya, manusia pada umumnya tidak bisa mendalami isi “paket” yang lengkap pengertian tentang Tuhan. Karena itu banyak orang yang hanya bisa mengerti akan sebagian kecil dari atribut Tuhan.

“Maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” Pengkhotbah 8: 17

Dua atribut Tuhan yang perlu kita pelajari pagi ini adalah mahakuasa dan mahakasih. Banyak orang yang hanya meyakini kemahakuasaan Tuhan, melupakan bahwa Tuhan juga mahakasih. Bagi mereka, Tuhan adalah Tuhan penentu “nasib” mereka. Sebaliknya, mereka yang hanya merasakan sifat mahakasihNya, selalu mengharapkan agar Tuhan memenuhi segala keiniginan mereka.

Apa untungnya untuk kita jika kita hanya mempunyai Tuhan yang mahakasih tetapi tidak dapat menggunakan kemahakuasaanNya untuk mengatur seluruh alam semesta dan melindungi umatNya? Apa faedahnya jika kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa tetapi tidak mengasihi kita yang penuh dosa?

Pagi ini kita disadarkan bahwa dalam menjalani hidup kita ini, setidaknya kita harus menyadari bahwa kemahakuasaan Tuhan adalah atribut Tuhan yang sama pentingNya dengan sifat mahakasihNya. Karena kasihNya, Tuhan sudah mengurbankan anakNya ganti kita, karena kuasaNya Yesus sudah mengalahkan maut sehingga kita mempunyai harapan untuk masa depan. Seperti itu jugalah, didalam mengarungi hidup di dunia ini, kita boleh percaya bahwa Tuhan akan melindungi dan memelihara umatNya karena Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia yang mahakuasa bisa menggunakan segala sesuatu untuk menolong kita yang sudah menerima Dia.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bullying dalam pandangan Kristen

“Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.” Amsal 13: 1

Dalam media sosial ataupun dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membaca atau mendengar kata bully. Tak dapat dipungkiri bahwa kata ini begitu populer dalam masyarakat manapun, termasuk Indonesia. Banyak negara yang saat ini mempunyai kesadaran hukum yang kuat, memiliki hukum anti bullying.

Apakah arti bully itu? Melakukan “bully” dapat diartikan sebagai “memakai kekuatan atau kekerasan untuk mengintimidasi atau melecehkan orang lain”. Orang yang suka mem-bully adalah orang yang suka mencari mangsa-mangsa, yang dianggap lebih lemah, dan mengancam mereka untuk dicelakai/dilecehkan, atau benar-benar mencelakai/melecehkan mereka, agar maksudnya tercapai. Mereka umumnya adalah orang-orang yang mau dan yang terbiasa untuk “menangnya sendiri”, seperti layaknya orang preman (thug).

Bullying bisa terjadi di sekolah, di kantor, di rumah, di gereja dan dimana saja, termasuk di dunia maya. Bullying sudah ada sejak dulu, tetapi baru sejak dekade yang lalu disorot orang karena akibatnya yang sangat destruktif dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang menjadi hancur hidupnya setelah menjadi korban bullying.

Sekalipun Alkitab tidak mempunyai kata bully atau bullying, dalam ayat diatas ada kata-kata yang berkaitan. Kata dungu dapat diartikan bodoh dan kasar, dan mereka yang dungu adalah yang orang-orang preman yang mempunyai kelakuan kasar, seperti mereka yang suka mem-bully. Memang dalam bahasa Ibrani dan Yunani, kata kasar atau kekasaran tingkah laku dapat dihubungkan dengan “kebodohan yang dimiliki hewan”. Seperti apa yang juga tertulis dalam ayat diatas, orang yang suka mem-bully biasanya sukar berubah sifatnya.

Walaupun bullying sudah tentu bertentangan dengan perintah Kristus untuk mengasihi sesama manusia, banyak orang Kristen yang menganggap itu “mungkin bisa saja diterima”. Misalnya, seorang suami atau majikan yang jika marah, sering membuat orang lain ketakutan. Selain itu, ada juga yang memandang pemimpin yang bisa mem-bully adalah orang yang macho atau benar-benar jantan.

Ada berbagai istilah mengenai bullying yang perlu diketahui umat Kristen, diantaranya:

  1. Intimidasi fisik adalah bullying yang berbentuk kekerasan badani, seperti: mendorong, memukul, melukai, dan meludahi.
  2. Intimidasi emosional adalah bullying yang melibatkan faktor-faktor lain selain interaksi fisik, seperti: penghinaan, komentar yang menghina, memberi nama panggilan, membodoh-bodohkan dan mengolok-olok.
  3. Intimidasi individu adalah bullying yang dilakukan perorangan dan bisa terjadi baik secara langsung atau online. Intimidasi individu juga bisa dilakukan dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional.
  4. Intimidasi kelompok adalah bullying yang dilakukan beramai-ramai terhadap seseorang, dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional. Ini juga dapat dilakukan secara langsung atau di dunia maya.

Intimidasi emosional (intimidasi sosial) sering terjadi dalam masyarakat secara tersembunyi karena kurang bisa terlihat. Ini bisa dilakukan misalnya dengan cara merampas hak orang lain (harta, anak, jabatan) dengan paksa. Dalam kehidupan keluarga, seorang suami bisa juga berhenti memberi uang belanja kepada istri atau anak, atau berhenti berkomunikasi jika mereka tidak tunduk sepenuhnya kepada kehendaknya.

Bullying adalah suatu dosa, dan maraknya kasus bullying di berbagai tempat adalah sangat menyedihkan. Pagi ini, anda mungkin ingin tahu bagaimana reaksi Yesus seandainya Ia masih ada bersama kita sekarang ini. Matius 5: 22 bisa memberi sebuah gambaran:

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.“

Jelas bahwa Yesus membenci bentuk bullying sekecil apapun. Karena itu, sebagai umat Kristen kita harus ikut berusaha bersama masyarakat umum, badan gereja, aparat hukum dan pemerintahan untuk menghilangkan praktik bullying dari kehidupan masyarakat. Itu adalah bagian panggilan kita untuk mengasihi sesama manusia.

Hal menghindari dosa

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Kebanyakan orang Kristen membayangkan bahwa Yesus selama hidup di dunia adalah orang yang selalu lemah lembut dan menunjukkan kasih sayangNya kepada semua orang, terutama kepada mereka yang menderita. Itu ada benarnya, dan memang begitu banyak lukisan yang dibuat untuk menggambarkan Yesus yang penuh kasih itu: sebagai gembala domba, sebagai orang yang menuntun anak kecil, sebagai tamu yang mengetuk pintu hati kita dan sebagainya. Tetapi itu adalah gambaran dari sebuah sisi saja; karena pada sisi yang lain, Yesus bisa mengucapkan kata-kata yang tajam, yang menegur orang dengan pedas.

Ucapan Yesus diatas, yang ditujukan kepada pemimpin-pemimpin Yahudi pada masanya, adalah salah satu ucapanNya yang sangat pedas dan kasar, yang jika kita ucapkan pada zaman ini kepada seseorang mungkin akan bisa mendatangkan persoalan bagi kita. Mengapa begitu? Karena sebagai manusia kita bukanlah Yesus. Sebagai Tuhan, Yesus membenci dosa dan karena itu Ia sering mengeluarkan teguran, kritik dan kemarahan jika Ia melihat adanya dosa yang dilakukan manusia disekitarnya. Walaupun demikian, hal-hal itu bukan dengan maksud buruk; Yesus melakukannya justru karena kasihNya, yang ingin menyelamatkan manusia dari dosa.

Dalam ayat diatas, Yesus berkata kepada mereka yang membenciNya bahwa mereka adalah anak-anak iblis yang selalu ingin melakukan kehendak iblis dengan berdusta, dan dengan hidup dalam kegelapan. Bagi sebagian orang, ayat ini sepertinya menyatakan bahwa iblis adakah “dalang” dosa, seolah iblis adalah penyebab dosa manusia. Tetapi, bagaimanapun iblis berusaha menjatuhkan manusia kedalam dosa, keinginan manusia untuk menuruti keinginan iblis adalah penyebab dosa mereka. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat.

Apapun yang diperbuat iblis selalu bertujuan untuk memutar-balikkan kenyataan, kebenaran, bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum yang maha kuasa, maha tahu, maha ada dan maha kasih. Sebaliknya, iblis selalu berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk terunggul di dunia, yang bisa menentukan masa depan mereka sendiri. Iblis juga sering mengacaukan kepercayaan manusia tentang adanya Tuhan, dengan memberi keyakinan palsu bahwa mereka dapat mencapai surga dengan usaha sendiri. Iblis jugalah yang mengajarkan manusia untuk mencapai keinginannya dengan segala cara, dengan kebohongan, ketidakjujuran, kebencian, kejahatan, dan kekejaman. Iblis ingin agar manusia menjadi pengikutnya untuk melawan Tuhan.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah: apakah kita sadar bahwa dalam hidup ini kita sering menuruti apa yang diingini iblis? Mungkin kesadaran kita akan hal ini melemah karena hubungan kita yang kurang baik dengan Tuhan dan sesama. Barangkali pengalaman masa lalu membuat kita menjauhkan diri dari Tuhan dan membenci orang-orang yang percaya kepadaNya. Mungkin kita sudah merasa muak mendengar firman Tuhan dan nasihat saudara-saudara seiman. Dan barangkali keinginan jasmani sudah membuat kita buta akan kebenaran Tuhan. Firman Tuhan pagi ini berkata bahwa kita hanya mempunyai dua pilihan: menjadi anak Allah atau menjadi anak iblis. Dan itu adalah pilihan dan tanggung jawab kita sendiri.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” Efesus 5: 8 – 10

Dipilih untuk berbuah

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Manusia yang memilih Tuhannya, ataukah Tuhan yang memilih manusia? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering diperdebatkan manusia, terutama dikalangan umat Kristen. Pertanyaan yang serupa, tetapi lebih mudah dijawab adalah: manusia yang memilih agama, atau agama yang memilih pengikutnya? Sudah tentu manusia memilih agamanya, tetapi agama tidak sama dengan Tuhan, hidup beragama belum tentu membawa pengenalan yang benar akan Tuhan.

Tuhan dengan sifat dan eksistensiNya sudah tentu tidak dapat dimengerti manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini pernah ke surga dan melihat Tuhan. Segala tindakan Tuhan adalah berdasarkan kebijakanNya, yang sudah barang tentu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Karena itu, sangat sulit diterima pendapat sebagian orang yang merasa bahwa mereka sudah “menemukan” Tuhannya.

Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, pada umumnya diterima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada DiriNya. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak dapat lagi melihat Tuhan dengan mata jasmani.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Kepercayaan bahwa Tuhan sudah memilih kita adalah sebuah hal yang sangat signifikan, karena pikiran manusia tidak bisa membayangkan apa untungnya Tuhan memilih manusia yang penuh dosa yang selalu ingin berontak dari Tuhan. Mengapa Tuhan begitu ingin untuk memilih umatnya? Karena adanya pengurbanan Kristus di kayu salib, barulah kita bisa sadar bahwa itu semua karena kasihNya.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8.

Dari ayat pembukaan diatas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga memilih umatnya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, adalah keselamatan orang lain.

Memulai minggu yang baru ini, kita harus sadar bahwa tidaklah mudah untuk kita bisa mengikut Yesus dan memikul salibNya setiap hari. Penderitaan akan datang karena dunia membenci pengikut Kristus, seperti mereka yang dulu membenci Kristus. Walaupun kita berusaha untuk mengasihi sesama kita, banyak orang yang tidak mau menerima kasih kita, persis seperti mereka yang dulu menyalibkan Yesus.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Bagaimana kalau demikian? Sanggupkah, dapatkah, manusia yang lemah seperti kita mengikut jejak Yesus dan hidup untuk memberitakan kabar baik? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang maha kuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita kuatirkan.

Jangan abaikan firman Tuhan

“Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.” Lukas 8: 10

Kemarin sore saya berjalan-jalan disepanjang pantai di Gold Coast. Terlihat banyak juga orang yang berjalan kaki bersama teman dan keluarga. Agaknya angin dingin yang berhembus tidak membuat orang segan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan. Salah satu pemandangan yang menarik perhatian saya adalah sekelompok burung pelikan yang lagi bermalas-malasan.

Burung pelikan itu rupanya baru saja mendapat jatah potongan ikan yang tidak terjual dari sebuah toko penjual ikan. Karena itu mereka kelihatannya tenang-tenang saja. Memang, jika burung pelikan lagi kenyang, kelihatannya mereka jinak dan tidak menakutkan. Tetapi, jika mereka lagi lapar, mereka tidak segan untuk mencuri atau merebut makanan dari orang-orang disekitar mereka.

Jika seekor burung pelikan bisa membuat kita terkecoh jika kita tidak berhati-hati, burung-burung di udara dalam perumpamaan Yesus diatas adalah burung yang paling berbahaya, yang dapat membuat manusia terpedaya tanpa menyadarinya. Mereka itu telah mendengar firman Tuhan, tetapi mengabaikannya. Kemudian datanglah iblis yang bagaikan burung, mengambil firman itu dari dalam hati mereka; hilang tak berbekas, sehingga mereka tidak bisa percaya dan diselamatkan.

Bagi kita yang sudah percaya, serangan iblis tetap merupakan sesuatu yang harus kita waspadai. Tiap hari Minggu kita ke gereja dan menerima firman Tuhan. Apakah firman itu dapat kita simpan dan gunakan untuk memperkuat kehidupan kita adalah tergantung pada sikap kita masing-masing.

Ada orang Kristen yang mendengar firman, tetapi tidak mau memikirkan, mempelajari dan menggunakannya. Malahan ada yang sudah jemu mendengarkan firman dan karena itu mereka sudah terbiasa mengabaikannya. Ada juga yang selektif, hanya mau mempelajari firman yang disenanginya, apalagi jika disampaikan oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian, firman Tuhan bagaikan biji yang disebarkan, tetapi karena tidak diterima dan sepatutnya digunakan, akhirnya terlupakan. Iblis dalam hal ini adalah bagaikan burung yang dengan sigap mencuri firman yang sudah ditabur dari dalam hati manusia.

Iblis dalam hal ini jelas mempunyai 3 hal yang harus di waspadai: kecepatan, kekuatan dan maksud jahat. Iblis tidak akan berlama-lama untuk membiarkan firman Tuhan berada dalam hati manusia. Iblis mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk mengambil firmanTuhan dari hati manusia. Dan iblis selalu bermaksud untuk menghancurkan hidup manusia dan menggagalkan rencana Tuhan.

Pagi ini, jika kita ke gereja, hendaklah kita mau meneliti maksud dan tujuan kita. Kita ke gereja seharusnya untuk bersekutu bersama saudara-saudara seiman guna memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Lebih dari itu, kita juga ke gereja dengan kemauan untuk menyimpan firman Tuhan baik-baik dalam hati kita, dan memakainya dalam hidup kita. Jangan biarkan iblis mencurinya dari hati kita!

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105