Hal kepahitan hidup

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 31

Rasa pahit adalah rasa yang tidak disukai manusia. Dari saat dilahirkan, manusia sudah bisa membedakan rasa manis yang dianggap enak, dari rasa pahit yang tidak enak. Rasa pahit adalah kenyataan, tetapi tiap orang mempunyai sensitivitas dan pendapat tersendiri tentang apa yang manis dan apa yang pahit. Jika ada makanan yang untuk seseorang rasanya manis, orang lain mungkin masih bisa merasakan adanya rasa pahit yang tercampur didalamnya. Sebaliknya, untuk sebagian orang, ada makanan yang rasanya benar-benar pahit tetapi menurut mereka justru enak untuk dimakan.

Rasa pahit juga terasa jika kita dikecewakan oleh orang lain. Kepahitan hidup bisa terjadi karena adanya hal-hal yang tidak disukai dalam hidup ini. Lidah memang tidak merasakan pahitnya pengalaman, tetapi kita tetap bisa merasakannya, seperti pil pahit rasanya. Jika kepahitan makanan hanya sementara, seringkali kepahitan hati dan pikiran kita berlangsung terus, siang dan malam.

Mungkin kepahitan dalam hidup kita disebabkan oleh diri kita sendiri, dan karena itu rasa pahit bercampur dengan rasa sesal. Tetapi seringkali, kepahitan itu dihubungkan dengan perbuatan orang lain dan situasi yang kita alami. Kepahitan yang sedemikian bisa dan sering menjadi kemarahan dan kegeraman, kepada orang lain dan juga kepada Tuhan.

Sangat menarik bahwa Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus untuk menghilangkan segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah, demikian pula segala kejahatan. Memang semua hal yang disebutkan itu bisa dan sering menjadi kejahatan yang menghapus kasih dari hidup kita. Kepahitan bisa menyebabkan kita membenci diri kita dan orang lain. Kepahitan bisa menyebabkan timbulnya kejahatan kepada diri sendiri dan orang lain.

Pada akhirnya, adanya kepahitan dalam hidup bisa mematikan iman karena hal itu bertentangan dengan kasih Tuhan. Kepahitan dalam hidup membuat kita tidak mengenal Tuhan yang maha pengasih dan maha pengampun. Kepahitan membuat manusia lambat laun membenci Tuhan dan sesama manusia.

Pagi ini, Tuhan berfirman melalui Paulus bahwa kita harus bisa menghilangkan kepahitan dari hidup kita. Itu tidak berarti bahwa penyebab rasa pahit, yang sudah terjadi ataupun sedang terjadi, akan hilang dari hidup kita. Tetapi rasa pahit yang kita alami selama ini bisa hilang jika kita makin mendekatkan diri kepada Tuhan dan bukannya menjauhiNya. Biarlah Roh Kudus makin menguatkan diri kita!

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30

Mengapa aku tidak bisa berdoa?

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Tahukah anda bahwa hanya sebagian orang Kristen yang mempunyai kebiasaan berdoa dengan teratur? Memang data dari Indonesia tidak ada, tetapi data dari negara-negara lain menunjukkan bahwa orang Kristen bukanlah orang yang gemar berdoa atau terbiasa berdoa tiap hari. Mereka yang rajin ke gereja pun belum tentu bisa berdoa secara teratur. Mengapa begitu?

Ada banyak penyebab mengapa orang Kristen tidak berdoa secara teratur. Sebab yang pertama ialah soal prioritas. Seorang tidak berdoa karena ia mementingkan hal lain daripada berdoa. Selain itu, ada orang yang beranggapan bahwa berdoa adalah memohon sesuatu kepada Tuhan. Karena itu, selama hidupnya lancar, doa tidak dirasakan perlu.

Selain dari sebab-sebab diatas, ada pula orang yang berpendapat bahwa Tuhan sudah mempunyai rencana tertentu yang tidak bisa diubah. Sebab itu doa adalah hal yang sia-sia. Selanjutnya, ada pula orang-orang yang karena pernah merasa dikecewakan sekarang menjadi segan untuk berdoa. Juga, ada orang yang enggan berdoa karena hidupnya yang kacau membuat ia ragu untuk mendekati Tuhan yang maha suci.

Tentu saja ada sebab-sebab lain yang membuat orang Kristen malas berdoa, apalagi berdoa secara teratur bukanlah suatu ritual yang diharuskan seperti dalam agama lain.

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, sesuatu yang diajarkan Tuhan untuk kebaikan manusia sendiri. Kebiasaan berdoa secara teratur bisa membuat umat Kristen yakin bahwa Tuhan itu dekat dan pengasih. Melalui komunikasi dengan Tuhan, kita bisa makin mengenalNya.

Jika ada oknum yang tidak menyenangi kita berdoa, itu adalah iblis. Ia dengan segala tipu muslihatnya, berusaha membuat manusia untuk segan dan malas untuk berdoa. Iblis tidak hanya berusaha menghentikan usaha kita untuk mendisplinkan diri untuk berdoa secara teratur, ia juga membuat hidup kita terasa sibuk dan sukses sehingga kita lupa atau tidak merasakan perlunya untuk melibatkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Pada pihak yang lain, iblis jugalah yang menyebabkan kita merasa malu atau segan untuk mendekati Tuhan yang maha kudus dengan berbagai tuduhannya yang keji.

Pagi ini, ketika kita bangun dari tidur, hanya kita yang bisa menjawab pertanyaan mengapa berdoa sering terasa sebagai beban dan kewajiban, dan bukannya sebagai kenikmatan dan berkat. Karena Tuhan tahu bahwa kita membutuhkanNya, Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kita berkomunikasi dengan Tuhan kita yang maha pengasih.

Lemah lembut Tuhan Yesus memanggil,

Ia memanggil engkau,

Tengoklah Ia sekarang menunggu,

tunggu kedatanganmu.

Terang tidak dapat dicampur dengan gelap

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Renungan hari ini mungkin merupakan hal yang agak tajam untuk sebagian orang Kristen. Tetapi firman Tuhan memang seperti pedang bermata dua (Ibrani 4: 12).

Jika kita membaca koran, menonton TV, ataupun meneliti berita internet, kita bisa menemui berbagai iklan menarik dan berbagai berita yang tidak berbentuk iklan tapi sebenarnya juga dimaksudkan untuk menarik perhatian konsumer suatu produk. Juga di berbagai media kita bisa membaca, hampir setiap hari, berbagai berita yang tidak benar atau setengah benar yang berusaha membuat sensasi.

Dalam kalangan Kristen pun, ada orang-orang yang berusaha mengabarkan injil dengan membuat sensasi secara langsung maupun tidak langsung, menggunakan berbagai ilustrasi yang dikaitkan dengan ayat-ayat Alktab dan pengalaman pribadi untuk memikat perhatian jemaat. Khotbah minggu dan renungan semacam ini sering membawa kesan bahwa apa yang disampaikan benar terjadi atau akan terjadi, tetapi sebenarnya hanya dipakai “bumbu” untuk membuat “sajian” terasa lebih enak. Itu karena ada banyak orang yang mudah terpukau oleh kata-kata indah sekalipun kurang bermakna.

“Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4: 4

Memang orang di dunia cenderung menekankan bahwa hasil lebih penting dari usaha, dan hasil akhir sering menghalalkan cara. Untuk mencapai hasil baik, manusia sering menggunakan segala cara, entah itu berupa kepura-puraan, bohong, ataupun ketidak jujuran. Tetapi, apa yang diajarkan Yesus selama Ia berada di dunia adalah satu prinsip etika yang benar yang harus kita pegang: Bahwa apapun yang kita perbuat haruslah bisa membuat nama Tuhan dibesarkan dalam segala situasi. Manusia harus mempertanggung jawabkan apa saja yang diperbuatnya.

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Dunia mengajarkan etika situasi, yang bisa berubah-ubah menurut situasi dan kondisi. Sejarah membuktikan bahwa orang Kristen pernah memakai cara-cara yang keji demi nama Tuhan. Tetapi firman Tuhan tidak pernah berubah: apa yang salah tidak akan berubah menjadi benar dan apa yang palsu tidak dapat mendukung kebenaran.

Pagi ini, pertanyaan yang sulit dijawab adalah: Dapatkah kita berbuat baik melalui perbuatan yang kurang baik? Bolehkan kita memakai cara yang tidak benar asal tujuannya baik? Firman Tuhan diatas secara tegas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus menyinarkan terang kebenaran dalam masyarakat agar nama Tuhan dipermuliakan. Apa yang kita perbuat dalam hidup sehari-hari, baik di kantor, di sekolah, di rumah maupun di gereja haruslah berdasarkan kesadaran bahwa Tuhan harus dipermuliakan baik dalam cara kita bekerja maupun dalam apa yang kita hasilkan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21-22

Tuhan itu baik

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1: 21

Hujan lagi! Dari kemarin hujan lebat turun di Queensland dan perjalanan bermobil dari Toowoomba ke Gold Coast tadi malam harus saya lakukan dengan sangat berhati-hati karena jalanan yang licin dan kaca mobil yang kadang-kadang tertutup derasnya air hujan. Berakhir pekan dengan berlindung di bawah atap, itulah yang saya putuskan karena hujan akan turun sepanjang hari ini dan bahkan juga esok hari. Tidak ada seorang pun yang bisa membuat hujan dan tidak ada juga yang bisa mengusirnya. Dan jika hujan akhirnya berhenti, itu juga karena Tuhan yang sudah mendatangkan hujan, kemudian menghentikannya!

Ayat Alkitab diatas adalah ayat yang cukup dikenal umat Kristen, tetapi tidak terlalu sering dibahas karena ada latar belakang yang sedih. Diceritakan bahwa Ayub yang setia kepada Tuhan baru saja mengalami berbagai musibah, kehilangan ternak peliharaannya dan juga anak-anaknya. Bukannya ia menyesali nasibnya, Ayub justru mengakui kebesaran Tuhan, yang berhak untuk memberi dan mengambil apa saja yang dikehendakiNya. Ayub mengakui kedaulatan Tuhan. Ayub percaya bahwa apa yang dikehendaki Tuhan adalah baik.

Berbeda dengan sikap Ayub, pada zaman ini manusia makin terpukau pada materialisme. Karena itu manusia hanya melihat kebesaran Tuhan dari satu sisi saja, yaitu dari segi pemberianNya, berkat materi yang diberikanNya. Manusia, seperti anak kecil, memang lebih mudah untuk mengerti bahwa Tuhan itu kasih melalui berbagai hal yang menyenangkan yang diberikan Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, pada saat ini ada banyak orang Kristen yang tertarik kepada paham-paham yang mengajarkan bahwa mereka yang beriman pasti selalu hidup dalam kesuksesan.

Bahwa kegagalan dan kesusahan bisa menjadi bagian paket berkat Tuhan, adalah sulit dimengerti oleh banyak orang. Mereka yang berpendapat bahwa Tuhan itu maha kasih dan karena itu tidak mungkin membiarkan anak-anakNya menderita, adalah kurang menyadari bahwa Tuhan menghendaki bahwa manusia dekat kepadaNya, bergantung kepadaNya dalam segala situasi.

Tuhan adalah sumber kehidupan manusia dan melalui rancanganNya, Tuhan bermaksud untuk membuat manusia sadar bahwa Ia adalah Tuhan maha kuasa yang menghajar umat yang dikasihiNya agar mereka makin kuat dan beriman didalam Dia.

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5-6

Pagi ini, jika hujan deras dan topan menghantam kehidupan kita, janganlah kita berkecil hati. Seperti Ayub yang setia, kita harus memahami bahwa paket berkat dari Tuhan tidak selalu membawa sesuatu yang kita harap-harapkan, tetapi bisa juga berupa hal-hal yang tidak pernah kita harapkan. Satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Tuhan selalu mempunyai rancangan yang baik untuk umatNya yaitu kedamaian hidup kita dan kesatuan dalam kasih antara kita dengan Dia dalam keadaan apapun di hari-hari mendatang.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Aku lelah sekali

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 49: 28-29

Rasa lelah. Semua orang tahu bagaimana rasanya. Sejak kecil kita pernah merasa lelah; lebih sering sewaktu kanak-kanak, agak berkurang setelah dewasa, tetapi kembali menjadi sering ketika mulai tua. Istirahat yang cukup biasanya bisa memulihkan kesegaran. Namun, berapapun umur kita, kadang-kadang kita bangun dari tidur yang cukup lama, tetapi masih tetap merasa lelah.

Apa penyebab rasa lelah? Dari segi medis, kelelahan bisa terjadi secara fisik maupun psikologis. Seorang yang sudah bekerja berat atau berolahraga intensif akan mengalami kelelahan. Begitu juga orang yang mengalami beban mental yang berat, cepat atau lambat akan mengalami kelelahan psikis. Karena fisik dan psikis saling mempengaruhi, adanya kelelahan fisik bisa mempengaruhi keadaan psikis atau mental seseorang, dan begitu juga kelelahan psikis atau mental bisa membuat orang mudah lelah secara fisik. Kedua kelelahan ini biasanya bisa diatasi dengan mengistirahatkan tubuh dan pikiran.

Bagaimana pula dengan kelelahan spiritual? Kelelahan spiritual terjadi jika seseorang merasa Tuhan itu tidak ada atau jauh darinya. Keadaan ini sering membuat manusia mengalami kelelahan yang luar biasa dan bahkan kehancuran karena manusia kehilangan arti hidupnya.

Manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah selalu merasakan adanya sesuatu yang maha besar, yang tidak dapat dilihatnya: Tuhan. Selama beribu-ribu tahun, dalam sejarah tercatat bahwa manusia melalui berbagai agama dan kepercayaan, berusaha menemukan tuhan-tuhan yang hanya bisa mereka bayangkan.

Bagi kita umat Kristen, Tuhan yang satu-satunya hanya dapat dikenali dengan sempurna melalui Yesus Kristus, karena Ia yang telah menyatakan diriNya sebagai manusia. Mereka yang mencoba mengenali Allah tanpa menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka akan menemui jalan buntu.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Pagi ini, jika kita mengalami kelelahan fisik dan psikis yang berat dan melihat bahwa tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menolong kita, ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Ia maha bijaksana dan mau memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Apa yang harus kita lakukan dalam beratnya kehidupan ini hanyalah berdoa dengan iman kepada Allah kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Arti mujizat bagi orang Kristen

“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” 2 Timotius 1: 9-10

Mujizat adalah sesuatu yang terjadi diluar apa yang bisa dijangkau dengan pikiran manusia, yang dipercayai sebagai suatu hal supranatural yang berasal dari Tuhan. Semua orang Kristen percaya adanya mujizat yang dilakukan Tuhan, walaupun sering ada perbedaan pengertian mengenai detailnya.

Diantara dua posisi ekstrim, ada orang Kristen yang percaya dan mengharap mujizat bisa terjadi kapan saja dalam setiap segi kehidupan manusia, dan ada yang percaya bahwa mujizat hanya terjadi secara unik pada zaman sebelum Alkitab tertulis.

Memang dalam hidup di dunia, manusia sering mengalami saat-saat dimana kemampuannya tidak lagi dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Untuk mereka yang beriman, adalah normal jika mereka berseru meminta tolong kepada Tuhan. Seingkali jika hal yang diharapkan itu datang, orang menerimanya sebagai mujizat Tuhan yang mengabulkan doa-doa mereka.

Bagi orang lain, mujizat belum tentu datang langsung dari Tuhan karena Ia bisa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Tuhan yang maha kasih dan maha kuasa bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk menolong umatNya. Pertolongan yang terjadi karena usaha manusia tidaklah meniadakan kasih Tuhan yang memungkinkan hal itu terjadi.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mereka yang mengharapkan mujizat langsung dari Tuhan seringkali menekankan pentingnya iman yang teguh. Malahan, ada yang percaya bahwa jika apa yang diminta tidak terjadi, itu disebabkan oleh kelemahan iman. Padahal, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa agar bukan kehendak kita yang terjadi, tetapi kehendakNya. Yesus juga mengajarkan bahwa ukuran iman tidak menentukan apa yang akan terjadi.

“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Walaupun demikian, tidaklah benar jika manusia mengharapkan mujizat terjadi di setiap saat dan tempat menurut kehendak mereka; karena jika memang demikian, mujizat itu terjadi karena usaha manusia dan bukannya menurut kehendak Tuhan. Tuhan tidak dapat diperintah manusia untuk melakukan segala hal yang dimaui mereka. Dari awalnya, Tuhan melakukan suatu mujizat untuk tujuan khusus sesuai dengan maksud dan waktu Tuhan sendiri.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Mereka yang berharap akan pertolongan Tuhan dimanapun dan kapanpun, tidak akan dikecewakan jika pikiran mereka tidak hanya terpusat kepada apa yang mereka maui.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang selalu berharap atas datangnya intervensi Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan sudah melakukan mujizat yang terbesar dalam hidup mereka, dan karena itu tidak perlu mengharapkan adanya Tuhan yang secara totaliter mengontrol hidup mereka. Setiap orang beriman adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan diselamatkan melalui darah Kristus dan sudah lahir baru. Ini adalah mujizat terbesar yang tidak dapat dimengerti oleh dunia.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sejak mulanya. Dengan hidup baru ini kita seharusnya mempunyai perspektif baru tentang adanya tantangan kehidupan. Mujizat demi mujizat tetap terjadi, tetapi hidup baru kita tidak lagi bergantung padanya!

Selamat pagi!

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Mazmur 118: 24

Kata “selamat” dalam bahasa Indonesia mempunyai banyak makna dan penggunaan. Di pagi hari, jika kita bertemu dengan teman atau kolega, “selamat pagi” biasanya saling diucapkan sebagai kebiasaan menyapa yang sopan. Kata “selamat” yang sebenarnya bisa diartikan “terhindar dari musibah” dipakai pula untuk menyambut datangnya hari besar tertentu. Ucapan “selamat” juga diucapkan untuk menunjukkan perhatian dan rasa ikut berbahagia kepada mereka yang memperoleh sesuatu yang baik. Selain itu, untuk orang Kristen, kata “Juru Selamat” dipakai untuk Yesus Kristus yang sudah menyelamatkan mereka. Kata “selamat” mungkin setara dengan kata “shalom” yang dipakai orang Israrel dan berarti “sejahtera”.

Dalam bahasa Inggris, kata sapaan untuk pagi hari adalah “good morning” yang sebenarnya berarti harapan agar orang yang disapa dapat merasakan keindahan pagi hari. Untuk tahun baru, ucapan “happy new year” diucapkan sebagai harapan agar yang disapa dapat mengalami kebahagiaan di tahun baru. Untuk menunjukkan rasa senang atas kesuksesan orang lain, kata “congratulations” dipakai seperti kata “selamat”. Dan kata “the Saviour” dipakai untuk Tuhan Yesus karena Ia sudah menyelamatkan orang yang percaya.

Jelas kata selamat mempunyai arti yang luas, terutama bagi umat Kristen. Hanya saja, karena seringnya kita mengucapkannya, mungkin kita jarang memikirkan bahwa maknanya sangat dalam. Seringkali kita mengucapkan kata ini tanpa perlu berpikir lagi. Secara otomatis kata ini keluar dari mulut kita untuk sekedar berbasa basi. Bagi kita orang Kristen, kata ini seharusnya diucapkan dengan kesungguhan karena kita percaya bahwa Tuhanlah sumber keselamatan dan segala kebaikan.

Pagi ini, jika kita mengucapkan “selamat pagi” kepada seseorang, baiklah kita sadar dan mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan apa yang baik dalam hidup kita. Sekalipun kita pada saat ini mengalami kesulitan, tetapi kita tetap menyampaikan harapan agar Tuhan menyertai orang yang kita sapa. Dengan keyakinan dan rasa syukur bahwa Tuhan menjadikan hari ini agar kita bisa merasakan kasihNya, biarlah kita selalu bisa merasakan damai dan sukacita setiap hari dalam keadaan apapun!

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Apakah kita benar-benar sudah dibebaskan?

“Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.” Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. Lukas 8: 39

Dalam Lukas 8: 26-39 diceritakan bahwa ada seseorang yang kerasukan banyak setan. Dengan adanya setan-setan yang menguasai tubuhnya, orang itu menjadi sangat kuat dan bisa mengobrak abrik apa saja, termasuk rantai-rantai yang dipasang orang lain untuk mengekangnya. Semua orang yang disekelilingnya tentu saja takut, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa mengatasi keberingasan orang itu.

Tatkala Yesus bertemu dengan orang itu, setan-setan yang ada dalam diri orang itu justru ketakutan dan memohon agar Yesus tidak menghancurkan mereka. Yesus memperbolehkan setan-setan itu memasuki babi-babi yang kotor, dan seketika itu juga orang yang dulunya ganas berubah menjadi normal dan bahkan ingin menjadi murid Yesus. Tetapi Yesus menyuruhnya ia pergi untuk memberitakan kabar pembebasan dirinya dari kuasa setan kepada semua orang.

Kisah nyata diatas seharusnya bisa kita terima sebagai hal yang sering terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Begitu banyak orang yang hidupnya dikuasai iblis, yang menjadikan mereka budaknya. Mereka dengan tingkah laku dan perbuatannya merusak segala sesuatu yang baik yang ada di sekitarnya; menghancurkan kehidupan orang lain, perasaan orang lain, dan iman orang lain. Mereka dengan bebas melakukan kejahatan, ketidakadilan dan hal-hal yang tidak baik. Mereka membaktikan diri kepada kesuksesan, harta dan kemasyhuran diri sendiri.

Memang sebelum seseorang mengenal Yesus, hidupnya penuh dosa dan dikuasai iblis. Persis seperti orang yang kerasukan setan diatas, ia tidak takut untuk berbuat hal-hal yang jahat. Iblis mengatur hidupnya dan seakan memberinya kesempatan untuk melakukan dan mendapatkan apa saja yang dimauinya. Dengan kekuatan jahat si iblis, hidup orang yang belum bertobat tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Lebih celaka lagi, orang sering tidak sadar bahwa iblis menguasai hidupnya. Itu terjadi sampai pada saat ia bertemu dengan Yesus. Yesuslah yang mempunyai kuasa untuk mengusir kuasa jahat yang ada dalam hidup orang itu dan menjadikannya ciptaan yang baru.

Pagi ini hanya kita yang bisa menyadari apakah hidup kita sudah dibebaskan dari kuasa iblis. Apakah kita sudah berhenti melakukan hal-hal yang tidak baik, yang merusak hidup kita dan hidup orang lain, yang merusak kemuliaan Tuhan. Tuhan yang maha kuasa adalah Tuhan yang mengasihi kita lebih dari apapun, Ia mau mengubah kita menjadi orang-orang yang taat kepadaNya agar kita bisa memberitakan keajaiban yang diperbuatNya dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Jika kita kehilangan semangat

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Sesudah berlibur akhir pekan, tibalah hari Senin. Memang Tuhan maha kasih dan maha bijaksana ketika ia menetapkan hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat dan untuk memuliakan Dia. Tidak dapat dibayangkan bagaimana rasanya jika orang harus bekerja tujuh hari seminggu terus menerus.

Walaupun hari Minggu dan bahkan Sabtu adalah hari libur di banyak negara, keluhan tentang rasa lelah dan bahkan depresi, sering muncul di zaman ini. Dengan majunya teknologi seharusnya berbagai fasilitas dan sarana makin banyak tersedia, tetapi hidup manusia ternyata tidak menjadi lebih mudah. Di kota besar, justru jumlah orang yang mengalami kesepian dan depresi justru menjadi makin banyak seperti layaknya sebuah epidemi.

Mengapa hidup di zaman modern ini masih juga terasa sulit dan makin berat? Jelas bukan karena kemajuan teknologi atau bertambah pandainya manusia. Kemajuan teknologi, ekonomi, pengobatan, transportasi dan lain-lain, tidak dapat menutupi kemunduran sifat manusia. Justru dengan kemajuan teknologi, makin banyak manusia yang merasa bahwa hidup mereka ada di tangan sendiri. Alkitab memang menulis bahwa hari-hari ini memang adalah masa yang sukar.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” 1 Timotius 3: 2-4

Hidup manusia terasa makin berat karena makin banyak orang yang tidak lagi tunduk kepada Tuhan, sehingga mereka tidak lagi memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Tuhan. Lebih-lebih lagi, banyak pemimpin di dunia yang tidak lagi mengenal Tuhan dan hanya mengabdikan diri kepada uang dan kekuatan militer dan ekonomi, serta menggunakan pengaruh uang demi kesuksesan.

Pagi ini, jika kita merasa lelah dan berbeban berat, marilah kita meneliti hidup kita dalam semua seginya. Apa yang menjadi prioritas hidup kita seharusnya bisa membuat kita makin dekat kepada Tuhan. Jika hati dan pikiran kita selalu terikat kepada hal-hal duniawi, maka perlahan-lahan iman kita akan tergerus arus dosa sehingga tidak akan terasa lagi bahwa kita sudah menjauhi Tuhan sumber kekuatan kita. Dan oleh sebab itu, kita akan sering merasa lelah dan berbeban berat karena kita tidak mendapatkan kelegaan dari Tuhan. Marilah kita memasuki minggu yang baru dengan keyakinan bahwa jika kita selalu berjalan bersama Tuhan, ketenangan hidup pasti akan datang!

Apa cita-cita anda?

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” Kolose 3: 1

Adakah yang anda inginkan untuk masa depan? Apa yang anda cita-citakan? Apakah pengharapan anda untuk anda dan keluarga? Pertanyaan sedemikian sangat umum karena setiap orang memang biasanya mempunyai keinginan tertentu untuk masa depan. Dengan bertambahnya umur, cita-cita itu mungkin berubah karena kesadaran bahwa ada tujuan hidup lain yang lebih baik atau lebih realistis.

Perjuangan untuk mencapai suatu yang berarti dalam hidup memang tidak mudah. Seringkali dalam hidup orang berusaha sekuat tenaga, tetapi apa yang diharapkan tidak kunjung datang sekalipun seluruh waktu, pikiran dan tenaga sudah dikurbankan.

Jika dipikir secara mendalam, setiap manusia dalam mengejar cita-citanya sebenarnya ingin menjadi orang yang layak menurut standar setempat. Tetapi, adakah orang yang bercita-cita untuk menjadi orang yang layak bagi Tuhannya?

Bagi orang Kristen semua orang sudah berdosa, dan karena itu orang hanya bisa menjadi layak bagi Tuhan karena darah Kristus yang sudah ditumpahkan di kayu salib. Sebab itu banyak orang Kristen yang secara sadar maupun tidak, merasa bahwa mereka tidak perlu lagi memikirkan hal menjadi anak Tuhan yang baik. Tuhan sudah menerima mereka sebagai mana adanya, itu saja yang mereka percaya.

Pagi ini kita membaca bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus memikirkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk hidup bersama Kristus di surga. Jika kita selama ini sudah mengurbankan waktu dan hidup kita untuk mengejar cita-cita duniawi, bagaimana pula dengan cita-cita surgawi, yaitu untuk menjadi anak-anak Tuhan yang tidak bercela mulai saat ini juga?

“….supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Filipi 2: 15