Pernahkah Tuhan mengecewakan anda?

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Matius 11: 6

Setiap orang tentunya pernah kecewa, pernah dikecewakan orang lain, dan pernah mengecewakan orang lain. Kekecewaan yang baik kecil ataupun besar, bisa cepat terlupakan tetapi bisa juga selalu dalam ingatan. Kekecewaan yang mudah terlupakan sering membuat orang mudah terperosok dalam keadaan serupa di masa depan, tetapi rasa kecewa yang tidak kunjung hilang jelas bisa membuat hidup seseorang sengsara.

Sebagai manusia, orang Kristen mungkin juga sering kecewa melihat berbagai peristiwa di dunia. Itu terjadi karena mereka tidak mengerti mengapa sesuatu yang buruk dan menyedihkan harus terjadi. Sebaliknya, sekalipun Yesus pernah menunjukkan rasa sedih ketika melihat apa yang tidak baik, Ia tidak pernah kecewa karena sebagai Tuhan, Ia tahu apa yang akan terjadi. Ketika Ia meminta beberapa murid untuk menemaniNya dalam berdoa di taman Getsemane dan menjumpai mereka sedang tidur, Yesus tidak kecewa. Begitu juga Ia tidak kecewa sewaktu Petrus menyangkali tiga kali. Manusia bisa kecewa, tetapi Tuhan tidak akan bisa dikecewakan seperti manusia.

Manusia kecewa karena pengetahuannya yang terbatas; apa yang diharapkan belum tentu terjadi, sekalipun sudah direncanakan dengan berhati-hati. Tuhan tidak mungkin kecewa karena Ia tahu apa yang akan terjadi dan karena dalam keadaan apapun rencanaNya selalu terjadi.

Tuhan tidak pernah bermaksud mengecewakan atau membuat umatNya menderita. Manusia kecewa dan menderita di dunia karena keterbatasannya. Manusia sering tidak bisa melihat jalan Tuhan dan lupa bahwa Tuhan mempunyai rancangan-rancangan yang harus terjadi pada saatnya. Tuhan sendiri ingin agar semua anakNya mencari kehendakNya dalam hidup di dunia supaya mereka tidak mudah kecewa.

Apa yang dialami seseorang bisa membuatnya kecewa kepada Tuhan. Kekecewaan itu juga bisa menjadi rasa benci atas apa yang terjadi. Rasa tidak berdaya bisa muncul dan berubah menjadi fatalisme, yang membuat orang kehilangan iman dan semangat hidup. Kekecewaan juga bisa membuat orang menolak adanya Tuhan yang maha kuasa.

Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita. Adakah rasa kecewa yang ada dalam hati kita? Adakah keraguan atas kasih Tuhan karena apa yang kita hadapi? Biarlah kita sadar bahwa kekecewaan kita mungkin disebabkan karena kita tidak dapat mengerti apa yang direncanakan Tuhan dan karena kita tidak menyadari bahwa Ia yang maha kasih selalu menyertai kita dalam keadaan apapun.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b

Pujilah Tuhan!

“Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: “Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” 1 Tawarich 17: 16

Dalam kesibukan hidup ini, manusia seharusnya merasa beruntung jika mempunyai saat untuk merenungkan apa yang sudah diberikan Tuhan dalam hidupnya. Mungkin di saat berliburan atau beristirahat. Tetapi, sekalipun ada waktu, kebanyakan orang sering memakainya untuk hal-hal lain yang lebih menarik, seperti berbincang- bincang dengan teman, makan minum, jalan-jalan atau melamunkan sesuatu.

Bagi banyak orang yang hidup dalam kenyamanan, mereka mungkin merasa bahwa semua yang terjadi memang sudah seharusnya. Tetapi, mereka yang hidup dalam kesusahan, yang dalam kekurangan atau sakit, mungkin juga merasa bahwa Tuhan itu tidak ada. Mungkin jarang ada orang yang senantiasa sadar bahwa hari demi hari, dan bahkan detik demi detik, Tuhan mengatur segalanya di jagad raya ini.

Ayat diatas menulis tentang reaksi Daud yang menerima firman Tuhan melalui nabi Natan bahwa dia dan anak cucunya akan menerima berkat Tuhan dan bahkan seluruh bangsa Israel akan menjadi bangsa yang besar dan Mesias akan lahir dari keturunannya. Daud sadar bahwa sebagai manusia ia tidak layak menerima segala apa yang dijanjikan Tuhan itu. Ia heran mengapa dia dan keluarganya mendapat perhatian dari Tuhan yang sedemikian besar. Mengapa Tuhan memilih dia dan keturunannya.

Seperti Daud, seharusnya kita juga heran mengapa Tuhan juga begitu kasih kepada kita. Mengapa sebagai orang berdosa, kita tetap mendapat perhatian Tuhan sehingga kita boleh menerima keselamatan dari Yesus Kristus? Mengapa didalam keadaan dunia yang serba kacau ini kita tetap bisa hidup dan melihat matahari terbit setiap pagi dan menghirup udara segar? Siapakah kita ini sehingga Tuhan mau mendengarkan doa-doa permohonan kita tiap hari?

Pagi ini, jika kita bisa menghitung berkat Tuhan selama ini dalam hidup kita, biarlah rasa takjub itu ada dalam hati dan pikiran kita seperti Daud. Sekalipun dalam hidup kita ada banyak tantangan dan penderitaan, Tuhan sudah menjanjikan suatu yang besar untuk kita di masa depan yaitu kebahagiaan di surga. Seperti Daud, kita harus juga bersyukur bahwa janji dan berkat Tuhan tidak hanya untuk diri kita saja, tetapi juga bagi masa depan anak-cucu kita. Semua sanak kita pun bisa memperoleh keselamatan hanya melalui iman. Biarlah pada hari yang baik seperti ini kita bisa bersyukur kepada Tuhan dan memohon akan berkatNya untuk orang-orang yang kita kasihi.

“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.” 1 Tawarich 17: 27

Pilihlah cara hidup yang baik

….Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” Ulangan 30: 19-20

Tiap tahun, dimanapun kita berada umumnya masyarakat setempat mempunyai kebiasaan untuk pulang kampung pada saat tertentu seperti tahun baru Imlek mendatang, guna menjenguk orang tua dan sanak saudara yang sudah lama tidak dijumpai. Di beberapa negara, arus mudik ini begitu besar sehingga banyak jalan yang macet dan kendaraan umum pun berjubel dengan penumpang.

Pertemuan antara kerabat yang sudah lama berpisah memang bisa membuat semua pihak berbahagia. Sudah tentu masalah kesehatan dan keluarga adalah salah topik pembicaraan yang cukup menarik, tetapi pertemuan semacam itu juga memberi kesempatan untuk tiap orang membandingkan kesuksesan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain. Dalam suasana seperti itu, orang saling mengucapkan harapan agar orang lain makin sukses dan makin kaya di tahun mendatang. Gong xi fa cai. Jarang orang mengucapkan doa harapan agar orang lain bisa menerima berkat dan kasih dari Tuhan di tahun mendatang. Xin Nian Meng En.

Dalam ayat diatas, umat Israel diingatkan agar mereka selalu memilih hidup yang baik yang sesuai dengan perintah Tuhan agar mereka dan keturunan mereka bisa menerima berkat dariNya. Ayat ini sangat menarik karena jelas terlihat hubungan antara iman dan kehidupan di dunia. Ada orang yang percaya bahwa iman adalah untuk kebahagiaan surgawi saja, dan ada orang lain yang percaya bahwa iman akan selalu membawa kenyamanan hidup di dunia. Tetapi ayat diatas mengatakan bahwa jika umat Tuhan mau taat kepadaNya, mereka akan memperoleh hidup yang baik, yang membawa umur panjang. Ini berarti iman orang Kristen bukan hanya untuk keselamatan surgawi saja, tetapi juga selama di dunia.

Dalam hidup di dunia, manusia selalu cenderung untuk mengikuti jalan pikiran mereka sendiri dalam keinginan untuk mencapai kesuksesan dan karena itu banyak yang jatuh kedalam berbagai masalah.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Pagi ini, jika kita mempunyai rencana untuk bertemu dengan sanak saudara dan teman, biarlah kita sadar bahwa hidup dalam kemakmuran dan kesuksesan tanpa Tuhan pada akhirnya akan membawa kekosongan dan kekecewaan. Tetapi hidup yang menurut firman Tuhan dan yang mengasihi Tuhan akan memberi kepenuhan dan kepuasan hidup di masa mendatang. Semoga Tuhan memberi anda berkat karunia kasihNya. Xin Nian Meng En!

Kasih itu apa?

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” 1 Korintus 13: 4-6

Tiap tahun di banyak negara barat orang merayakan hari Kasih Sayang yang adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan perasaan cintanya. Di beberapa negara Asia perayaan ini juga mulai muncul, terutama karena didorong segi komersial. Memberi bunga, coklat atau hadiah kepada orang yang dicintai biasanya merupakan kebiasaan umum. Walaupun begitu, sebagian negara melarang perayaan ini karena diasosiasikan dengan agama Kristen.

Hari Kasih Sayang sebenarnya bukan hari besar. Itu adalah kebiasaan umum yang muncul di beberapa negara karena berbagai alasan. Bukan hari libur, dan bukan hari raya Kristen. Malahan, sebagian orang Kristen tidak mau merayakannya karena tidak adanya hubungan antara hari itu dengan Alkitab.

Terlepas dari alasan orang Kristen dalam merayakan atau tidak merayakan hari Kasih Sayang, adalah menarik bahwa kasih sayang serasa perlu didemonstrasikan antara dua orang pada satu hari tertentu dengan sebuah lambang, entah berupa gambar hati, bunga, ataupun cupido (Inggris: cupid).

Cupid adalah dewa cinta Romawi. Sebutan lainnya dalam bahasa Latin bagi dewa ini adalah Amor. Sebagai Amor, ia digambarkan sebagai anak kecil bersayap yang nakal, serta membawa busur dan panah, yang dapat membuat manusia maupun dewa jatuh cinta. Dalam bahasa Yunani, dewa ini dinamakan Eros, dewa cinta erotis dan daya tarik seksual.

Berbeda dengan pengertian kasih sayang duniawi, Alkitab menulis bahwa Allah mengasihi seisi dunia ini sehingga Ia mengirim AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia dengan mati di kayu salib.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Allah ini adalah kasih yang murni, agape, yang berbeda dengan kasih sayang yang mampu diperlihatkan oleh manusia. Kasih yang murni tidak hanya terjadi pada satu hari saja dalam setahun, tetapi berlangsung sepanjang masa. Kasih yang murni itu sabar dan murah hati; dan tidak mudah cemburu. Kasih yang murni tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih yang murni tidak muncul sebagai tindakan atau kelakuan yang melanggar hukum Tuhan.

Mereka yang mempunyai kasih yang murni adalah orang-orang yang dalam hidupnya setiap hari tidak mudah marah, baik di rumah, di kantor dan dimana saja, dan mereka tidak menyimpan kesalahan orang lain. Mereka yang punya kasih yang murni tidak akan bersukacita jika ada ketidakadilan, tetapi karena adanya kebenaran.

Masalahnya disini, adakah orang yang mempunyai kasih yang murni jika kasih yang sedemikian adalah sifat hakiki Allah? Manusia hanya bisa mengasihi jika ia mengenal Allah, sumber kasih.

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” 1 Yohanes 4: 8

Hanya melalui karunia Tuhan, kita dapat menunjukkan kasih karena kasih adalah pemberian Tuhan. Kasih Tuhan sudah diberikan kepada manusia yang beriman dan dinyatakan dengan lambang kayu salib dimana Yesus sudah mati ganti dosa kita. Pagi ini biarlah kita ingat bahwa adalah panggilan kita, orang yang beriman, untuk mengasihi sesama kita – bukan orang tertentu saja, bukan satu hari saja, dan bukan untuk kepentingan kita sendiri.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13: 13

Kelemahan bisa membawa kekuatan

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah. Kesibukan di kantor, sekolah maupun rumah tangga seringkali membuat kita jenuh. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan.

Soal merasa lelah dan lemah, jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Cerita kuno sering menggambarkan seorang suami yang pulang dari kantor dan melihat keadaan rumah yang porak poranda, mengomel karena merasa istri yang di rumah tidak bisa mengatur rumah tangga. Tidak heran jika sang istri yang sudah seharian bekerja keras di rumah, merasa sedih dan bahkan marah karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.

Paulus dalam ayat diatas mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Sudah sewajarnya ia merasa kuatir dengan adanya jemaat Korintus, yang sudah lama dibimbingnya, disesatkan oleh rasul-rasul palsu yang mungkin dianggap hebat dengan segala yang dibanggakan mereka.

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasihNya kepada Paulus sudah cukup. Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Pagi ini jika kita bangun dari tidur dan merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi. Apalagi jika penghargaan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini.

Tetapi, jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, dan juga dengan adanya jemaat di Korintus yang tidak menghargai segala pengurbanannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Bagaimana bisa hidup dalam terang?

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Galatia 5: 25

Pernahkah anda membayangkan apa yang akan terjadi jika matahari berhenti bersinar? Matahari jelas dibutuhkan untuk kehidupan mahluk di dunia, karena tanpa matahari, dunia akan menjadi gelap gulita dalam waktu kurang dari 10 menit dan suhu bumi berangsur menjadi sangat dingin sehingga semua mahluk lambat laun akan musnah.

Jika dipikirkan secara mendalam, adanya matahari sebenarnya tidak menghilangkan kegelapan dunia karena kegelapan sebenarnya hanya tidak terlihat jika tertutup terang matahari. Jika sumber terang itu tidak ada lagi, kegelapan akan muncul lagi. Seperti itu jugalah hidup manusia di dunia, yang pada hakikatnya adalah kegelapan dosa, sebelum menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Jika ada oknum yang hakikatnya adalah terang, yang tidak pernah kehilangan terang, itu adalah Tuhan.

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” 1 Yohanes 1: 5

Bagi manusia, yang hakikatnya adalah kegelapan, pilihan hidup dalam kegelapan atau hidup dalam terang adalah suatu keputusan yang harus diambil dengan bimbingan Roh Kudus. Dengan keputusan yang diambil pada saat pertobatan, seorang akan memperoleh penyertaan Roh Kudus sehingga terang Tuhan akan secara berangsur mengatasi kegelapan yang ada sebelumnya dalam hidupnya. Tetapi, Roh tidak akan menjadikan kita seperti robot yang langsung berjalan sesuai dengan kemauanNya. Untuk bisa tetap hidup dalam terang, kita harus mau membiarkan Roh memimpin kita sehingga kita bisa menolak godaan hawa nafsu dan keinginan daging.

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” Galatia 5: 25

Pagi ini, jika kita bangun dan sempat memikirkan apakah kita sudah hidup dalam terang Tuhan, mungkin ada bisikan Roh Kudus dalam hati kita yang mengatakan bahwa selama ini kita lebih sering mendengarkan suara hati dan jalan pikiran kita sendiri. Mungkin kegelapan masih menguasai hidup kita karena api Roh Kudus tidak kita biarkan untuk menyala dengan sepenuhnya. Biarlah kita boleh disadarkan bahwa dalam hidup kita di dunia, kegelapan hanya bisa diatasi dengan terang dari Tuhan!

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Tuhan yang pengampun

“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 15

Pernahkah anda mendengar seseorang berkata: “Aku bisa mengampuni kesalahan orang, tetapi tidak bisa melupakannya”? Reaksi ini nampaknya masuk di akal, terutama jika menyangkut hal yang sangat jahat yang pernah dilakukan orang lain. Tetapi, untuk orang Kristen sikap ini layak dipertanyakan karena Tuhan yang mengampuni dosa mereka, Ia juga melupakan dosa yang sudah mereka perbuat.

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya 43: 25

Bagaimana Tuhan yang maha tahu dan maha kuasa bisa melupakan sesuatu? Jika Ia memang melupakan dosa kita, apakah Ia merekam apa yang sudah kita lakukan untuk diputar kembali ketika kita menghadap Dia sesudah hidup kita berakhir?

Tuhan yang maha tahu sudah pasti tidak bisa lupa atas apa yang telah terjadi. Ia tahu segala yang terjadi di muka bumi dan Ia juga tahu apa yang akan terjadi. Jika Tuhan melupakan apa yang sudah diperbuat oleh orang-orang yang sudah mengikut Dia, itu hanya karena keputusanNya untuk mengampuni mereka dan untuk tidak mengingat-ingat kesalahan dan dosa mereka. Mereka yang bertobat dan mengikut Yesus adalah ciptaan yang baru.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Sebagai manusia, kita sering melupakan hal yang baik, yang sudah diperbuat Tuhan dan sesama kita, tetapi kita mudah mengingat pengalaman yang kurang menyenangkan sehubungan dengan apa yang kita percaya sebagai perbuatan Tuhan dan manusia. Jika kita mungkin terpaksa melupakan kehendak Tuhan yang tidak kita setujui, adalah sulit bagi kita untuk melupakan kesalahan manusia, dan ini termasuk kesalahan kita sendiri.

Begitu banyak orang yang hidup dalam penderitaan karena hal-hal yang jahat yang diperbuat orang lain, lama sesudah hal itu terjadi. Kenangan pahit seringkali muncul dan kebencian lama terhadap si pelaku mungkin timbul kembali. Si pelaku kejahatan mungkin juga adalah diri mereka sendiri, dan karena itu mereka hidup seumur hidup dalam penyesalan dan penderitaan.

Pagi ini ayat pembukaan diatas mengingatkan kita jika kita tidak mau mengampuni dan mengambil keputusan untuk melupakan kesalahan orang lain kepada kita, kita tidak akan dapat merasakan hidup damai didalam pengampunan Tuhan. Sebagai orang yang sudah diampuni Tuhan, kita harus mau mengampuni mereka yang berbuat jahat kepada kita, baik pada masa lalu maupun saat ini. Lebih dari itu kita harus berusaha untuk tidak mengingat-ingat apa yang sudah terjadi.

Ayat diatas juga mengajarkan bahwa Tuhan sudah mengampuni dan melupakan dosa-dosa kita, dan karena itu kita juga harus bisa mengampuni dan melupakan kesalahan bodoh apapun yang sudah kita perbuat, agar kita bisa merasakan kasih Tuhan dalam pengampunanNya.

“Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia.” 2 Korintus 5: 16a

Mengapa gelisah terus?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Di zaman ini, gejala insomnia atau tidak bisa tidur sering dijumpai dalam masyarakat. Sebenarnya insomnia bukanlah penyakit, tetapi itu adalah gejala yang muncul karena adanya berbagai penyebab, termasuk medis, psikologis dan lingkungan. Dalam hal psikologis, insomnia bisa disebabkan karena stress, rasa kuatir, tekanan hidup, depresi dan bahkan karena kuatir tidak bisa tidur!

Tidur adalah salah satu keadaan yang menunjang istirahat untuk tubuh dan otak, tetapi tubuh dan juga jiwa sebenarnya bisa mendapat masa istirahat diluar saat tidur. Kesempatan untuk rekreasi, rileks dan beristirahat sudah tentu bisa membawa kesegaran untuk mereka yang lelah. Mereka yang sering kurang tidur tentu lambat laun akan merasa lelah; walaupun demikian, mereka yang cukup tidurnya bisa juga mengalami kelelahan hidup karena adanya berbagai persoalan yang harus dihadapi. Malahan ada yang karena tekanan hidup, terus-terusan ingin tidur karena kelelahan jasmani dan rohani yang ada.

Memang rasa kuatir bisa menimbulkan rasa gelisah akan ketidakpastian yang dihadapi. Mereka yang gelisah dalam hidup mungkin mencari ketenangan melalui meditasi, olahraga, makanan atau minuman tertentu atau kegiatan lainnya. Bahkan, di zaman ini berbagai agama, ajaran kebatinan dan praktik-praktik mistik menjanjikan jalan menuju kearah kedamaian hidup.

Sebenarnya bagi siapapun yang menghadapi kegelisahan hidup ada dua hal yang secara logis harus disadari. Yang pertama adalah ketidak mampuan manusia untuk menentukan masa depannya dan yang kedua, jika Tuhan itu ada, hanya Dialah yang tidak mempunyai persoalan.

Jika kita bisa sepenuhnya menentukan masa depan kita tentu saja tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Semua manusia mempunyai keterbatasan, dan hanya Tuhan, yang maha kuasa dan maha tahu, yang tidak pernah gelisah, kuatir atau takut.

Bagi orang Kristen, pernyataan bahwa manusia tidak bisa menentukan masa depan kita ada tertulis dalam Alkitab. Mereka yang menolak kenyataan ini adalah orang-orang yang hidup dalam alam impian.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 14

Dalam hal ini, orang Kristen adalah orang yang beruntung. Kedatangan Yesus ke dunia, pengurbananNya di kayu salib dan kebangkitanNya menunjukkan adanya Tuhan yang maha kasih, yang peduli akan keadaan dan keterbatasan manusia. Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat bergantung pada diri sendiri untuk mendapat kedamaian di bumi dan di surga.

Pagi ini kita diingatkan bahwa satu-satunya pengharapan kita dalam menghadapi masa depan adalah Tuhan kita. Yesus yang sudah pernah menjadi manusia dan menderita untuk menebus dosa kita sekarang duduk disebelah kanan Allah Bapa. Ialah yang bisa memberikan kita ketenangan dalam keadaan apapun!

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! Mazmur 42: 5

Bertumbuh dalam Kristus

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15: 5

Sebagai negara penghasil minuman anggur yang termasuk dalam 10 besar di dunia, Australia mempunyai banyak perkebunan anggur, terutama di negara bagian South Australia. Di lembah Barossa, banyak kebun anggur dan pabrik minuman anggur ternama dikunjungi para turis lokal dan luar negeri yang ingin melihat bagaimana anggur ditanam dan diproses untuk dijadikan berbagai jenis minuman anggur.

Suatu hal yang menarik tentang tanaman anggur ialah sukarnya untuk memperoleh buah anggur yang cocok untuk dibuat minuman. Hanya daerah tertentu di Australia yang bisa menghasilkan buah anggur sedemikian. Perkebunan anggur juga membutuhkan pemeliharaan yang baik; misalnya, para petani harus rajin memotong ranting-ranting yang layu atau tidak sehat agar pohon anggur bisa subur dan berbuah banyak.

Tuhan Yesus dalam ayat diatas menggambarkan orang Kristen sebagai ranting-ranting pohon anggur yang bergantung pada pokok anggur untuk bisa hidup. Tetapi tidak semua orang Kristen yang menyadari ketergantungan mereka kepada Yesus. Dalam kenyataannya, lebih banyak orang yang mengaku Kristen tetapi bergantung kepada diri sendiri atau hal-hal tertentu dalam hidup mereka. Mereka adalah orang yang berpredikat Kristen tetapi tidak menunjukkan sifat dan sikap hidup yang seharusnya ada pada pengikut Yesus. Buah-buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5: 22-23), yang seharusnya bisa terlihat pada orang-orang itu, seringkali tidak dijumpai.

Dengan adanya ranting pohon anggur yang tidak berbuah, pohon anggur akan terhalang untuk bisa menghasilkan buah yang lebih banyak. Pada hakikatnya, ranting yang tidak berbuah adalah seperti benalu yang hanya menyerap sari makanan dari pokok anggur, dan membuat seluruh pohon dan ranting-ranting yang lain menjadi kurang sehat. Seperti itulah, orang-orang Kristen yang hanya mau menerima berkat Tuhan tetapi tidak mau mengubah hidupnya untuk bisa memuliakan Tuhan dan menolong sesama. Mereka adalah ranting-ranting yang akan dipotong dari pokok anggur karena tidak berguna untuk kerajaan Tuhan.

“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Yohanes 15: 2

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan kedudukan kita sebagai ranting-ranting pohon anggur, sebagai bagian dari gereja Tuhan. Sebagai orang Kristen tidak saja kita harus berbuah dalam hal-hal yang baik, tetapi juga harus makin bisa memuliakan Tuhan dan makin bisa melayani sesama. Hari lepas hari, sebagai ranting yang baik, haruslah kita makin banyak berbuah dan tidak hanya mengharapkan berkat dari Tuhan untuk hidup kita sendiri.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15: 6

Hal minta berkat

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Pagi ini setelah bangun saya mendengarkan radio ABC yang kebetulan mendiskusikan keadaan ekonomi Australia. Dalam siaran itu, diungkapkan bahwa keadaan ekonomi Australia saat ini tidaklah sebaik yang dibayangkan karena ada banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, yang membutuhkan bantuan dari badan-badan sosial. Sekalipun ada beberapa badan sosial, jumlah dan kemampuan mereka adalah terbatas dan karena itu masih banyak orang yang hidup dalam kekurangan.

Tantangan hidup memang seringkali berat bagi banyak orang. Semakin banyak penduduk dunia, semakin banyak juga orang yang dalam kesusahan. Walaupun ada kemajuan teknologi dan ekonomi di banyak negara, dalam kenyataannya banyak orang di negara manapun yang harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang dalam posisi lemah: yang masih dibawah umur dan yang sudah berusia senja. Mereka yang belum bisa mendapat pekerjaan dan mereka yang kehilangan sumber penghasilan.

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin sudah dapat diartikan “sangat berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya yang hidup berkekurangan mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Perbedaaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaanNya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena makanan sudah tentu tidak akan jatuh dari surga. Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapapun juga, termasuk Tuhan. Benarkah begitu?

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuranNya. Dengan demikian kitalah yang harus belajar hari demi hari untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dengan apa yang kita terima.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, seringkali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Sebaliknya, mereka yang hidup berkekurangan seringkali hidupnya justru berbahagia karena adanya rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus.

Pagi ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita. Bagi banyak orang yang sudah dikaruniai Tuhan dengan rasa cukup, mereka bisa merasakan bahwa apa yang mereka terima sudah lebih dari cukup, dan karena itu mereka dengan senang hati membaginya dengan orang lain demi kemuliaan Tuhan.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Matius 5: 7