Kebebasan tanpa Tuhan akan membawa kehancuran

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Memang kebebasan tanpa batas sering kali mendatangkan kekacauan. Ini bukan saja terjadi pada anak muda, tetapi juga di kalangan orang dewasa. Jika manusia hanya mementingkan kenyamanan dan kepuasan pribadi, pada akhirnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Hal yang serupa bisa juga terjadi di kalangan orang Kristen yang merasa bahwa dengan pengampunan yang mereka terima melalui Yesus Kristus, mereka dibebaskan dari pemikiran atau kekuatiran tentang dosa. Dengan kesadaran bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakasih, mereka mudah jatuh dalam perbuatan yang tercela. Bukankah Tuhan yang mahakasih akan selalu dapat mengampuni dosa mereka? Bukankah kasih Tuhan yang tidak dapat dibayangkan dalamnya bisa mengampuni dosa yang sekelam apa pun?

Jika kasih Tuhan yang tidak terbatas menghapus kekuatiran manusia untuk melanggar hukum Tuhan, itu adalah sesuatu yang aneh. Mengapa? Jika manusia sadar bahwa Tuhan mengasihi mereka, itu bukanlah surat izin untuk melakukan apa saja yang dikehendaki mereka. Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita, ingin agar kita juga mengasihi Dia dan sesama kita. Dalam kenyataannya, jika kita benar-benar pengikut-Nya tentunya kita akan berusaha untuk menempuh hidup yang baik dan menjalankan perintah-Nya. Kemerdekaan dari dosa yang sudah diberikan Tuhan, bukan berarti kesempatan untuk membuat dosa baru. Sebaliknya, pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan seharusnya membuat kita sadar bahwa hidup kita makin lama harus makin baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan Tuhan,

Tuhan memberikan kemerdekaan kepada umat manusia untuk memilih apa yang baik. Tetapi, sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Sebaliknya, karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak sedemikian rupa sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Ini bukan berarti bahwa manusia sudah rusak sama sekali sehingga ia sama sekali tidak dapat membedakan yang baik dari apa yang jahat. Tetapi, tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karunia-Nya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbarui hari demi hari. Sekalipun kita melihat bahwa ada banyak hal yang menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus bisa memakai kebebasan kita untuk memilih Dia di atas segala yang terlihat memikat di depan mata.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kehendak bebas kita akan membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Apakah semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan?

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Pernahkah anda memikirkan mengapa hal yang buruk dan jahat bisa terjadi di dunia? Perang yang terjadi di Ukraina misalnya, apakah itu merupakan kehendak Tuhan? Bagi sebagian orang Kristen, Tuhan yang berdaulat adalah Tuhan yang menetapkan segala apa yang terjadi di dunia. Segala sesuatu, bagaimana pun kecilnya, terjadi karena Tuhan yang bekerja. Dengan demikian, manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam rencana Tuhan yang mahakuasa. Walaupun demikian, manusia tetap bertanggung jawab atas segala yang diperbuatnya. Hal ini seakan menyatakan bahwa Tuhan jugalah yang membuat hal-hal yang buruk.

Pada pihak yang lain, sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan selalu mencapai apa yang direncanakan-Nya, sekalipun manusia terkadang melakukan apa yang tidak dikehendaki Tuhan. Manusia memiliki kebebasan dalam hal-hal tertentu, dan bertanggung jawab atasnya, tetapi Tuhan yang mahakuasa bisa mengubah apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya sehingga rencana-Nya selalu terjadi. Dengan demikian, apa yang dikerjakan manusia, baik ataupun buruk, mempunyai fungsi dalam penggenapan rencana Tuhan.

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Hitler dan pengikutnya yang menyebabkan ribuan orang Yahudi, baik tua atau muda, mati di kamar gas pada perang dunia kedua, tentu dipandang sebagai orang yang sangat jahat. Apakah Tuhan menghendaki Hitler untuk melakukan kekejaman itu? Apakah Tuhan menghendaki jutaan orang Ukraina menjadi pengungsi saat ini?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat Hitler melakukan kekejiannya. Tuhan mungkin dianggap yang membuat adanya perang di Ukraina. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seijin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Selain dari dua jenis kehendak Tuhan yang tersebut di atas, kehedak Tuhan itu bisa juga dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa.

Ayat di atas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi risiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki secara mutlak (a) agar mereka mati terbakar? Tentu saja tidak. Tetapi, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Hari ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Tuhan memberi manusia kebebasan untuk melaksanakan mandat budaya

“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya.” Ulangan 10: 14

Tuhan adalah yang empunya segala sesuatu di jagad raya. Seperti bunyi ayat di atas, itu adalah pengakuan orang percaya. Sebuah kenyataan yang harus diterima, sekalipun dalam hidup sehari-hari orang sering melupakan atau mengabaikannya. Mengapa begitu? Itu karena manusia umumnya memandang bahwa segala sesuatu bisa diatur dan dikuasai dengan usaha manusia. Apa yang bisa dikelola manusia dan segala hasil budi daya manusia dianggap sebagai miliknya.

Hidup dan segala aspeknya adalah milik individu, begitu pandangan umum manusia. Baik itu harta, rumah tangga, keluarga, pekerjaan, maupun kesehatan adalah hak milik pribadi yang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain. Setiap orang berhak mencari, memiliki, memelihara dan mengembangkan semuanya. Itulah apa yang diyakini setiap orang dan dikenal sebagai hak asasi manusia.

Iman Kristen mendukung pelaksanaan hak asasi manusia dalam konteks hidup bernegara. Walaupun demikian, ajaran Kristen jelas menunjukkan bahwa segala sesuatu ada karena Tuhan, dan karena itu manusia hanyalah wakil Tuhan, caretaker, untuk memelihara dunia dan segala isinya. Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan berbagai kewajiban.

Bagi mereka yang menerima kenyataan bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan, menghargai dan memelihara kehidupan, keindahan, ketenteraman, dan keseimbangan di dunia adalah tugas, seperti apa yang sudah diperintahkan Tuhan kepada Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Segala yang ada di dunia dan bahkan di jagad raya adalah milik Tuhan dan manusia hanya peminjam dan pemakai sumber budi daya dari Tuhan. Dengan demikian, setiap manusia seharusnya menyadari bahwa tindakan apapun yang mengurangi dan merusak keindahan ciptaan Tuhan adalah dosa. Apa pun yang diperbuat manusia dalam kebebasannya yang bisa merendahkan kemuliaan Tuhan adalah bertentangan dengan rencana penciptaan-Nya.

Sebagai wakil Tuhan kita mendapat mandat untuk mengatur bumi dan segala isinya. Ini bukan sebagai robot-robot yang sanggup bekerja untuk Tuhan, tetapi sebagai manusia yang mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk memilih tujuan dan cara. Perintah Allah dalam Kejadian 1: 28 di atas bukanlah kehendak mutlak dari Allah yang tidak memerlukan sambutan manusia. Sebaliknya, itu adalah kehendak Allah yang merupakan perintah yang seharusmya disadari dan ditaati manusia.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen merasa bahwa semua respon manusia adalah sesuatu yang sudah ditentukan Allah. Sudah tentu ini tidak benar karena kita bukanlah “mesin-mesin otomatis” yang diciptakan Allah. Sebagai manusia kita bisa menaati atau menolak perintah Tuhan dan kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang kita lakukan. Apa pun yang kita lakukan tidak bisa mengubah rencana Allah, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya adalah bagian dari dosa yang kita perbuat.

Pagi ini ayat di atas mengingatkan kita untuk sadar bahwa dalam hidup ini, kita bertanggung jawab kepada Tuhan atas apa pun yang kita perbuat atau lakukan terhadap diri kita, orang lain, flora dan fauna dan seisi dunia. Kita juga bertanggung jawab atas cara berpikir, pandangan hidup, ucapan dan tindakan apa pun yang kita tujukan kepada siapa dan apa saja yang sudah diciptakan Tuhan. Semua itu adalah bagian dari mandat budaya dari Tuhan yang diberikan kepada manusia yang bebas untuk mengatur cara hidupnya.

Sebagai orang Kristen kita harus menghargai semua ciptaan Tuhan dan merasa sepenanggungan atas hal-hal yang terjadi di dunia. Terlalu sering kita hanya memikirkan diri sendiri, keluarga, suku dan bangsa kita, dan melupakan kenyataan bahwa Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dan menghargai semua ciptaan-Nya. Kita harus sadar bahwa seluruh umat manusia diciptakan Tuhan untuk memuliakan Dia, dengan menghargai segala apa yang sedang dan sudah dilakukan-Nya, bagi makhluk hidup ataupun benda mati, dan juga bagi makhluk yang masih hidup maupun yang sudah mati. Tuhan adalah pencipta dan pemilik semua yang ada dan pernah ada, dan kita adalah sebagian darinya. Dalam segala keadaan, kita harus memuji Dia dengan menghargai segala yang sudah diciptakan-Nya.

“Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mazmur 103: 22

Tuhan tahu siapa yang akan menjawab panggilan-Nya

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8: 29-30

Cuplikan ayat di atas adalah ayat-ayat yang sangat penting, yang menggaris-bawahi kedaulatan Allah dalam memilih siapa saja yang akan diselamatkan-Nya. Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa Allah menentukan dan memilih orang-orang yang akan percaya kepada Injil. Dia memberikan karunia iman melalui kelahiran kembali Roh Kudus, menyebabkan seseorang dilahirkan kembali dan mengakui Kristus. Ini adalah ajaran kitab suci yang jelas, dan yang tidak bisa dibantah, yang menyatakan bahwa bukan manusia yang memilih Allah, tetapi Allah yang memilih manusia.

Namun, ada langkah penting lainnya dalam proses di mana Tuhan memberikan keselamatan kepada anak-anak-Nya: panggilan-Nya. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan prosesnya. Ayat-ayat di atas saya bandingkan dengan apa yang ada dalam Alkitab berbahasa Inggris King James Version.

Roma 8: 29 Bagi siapa yang Dia ketahui sebelumnya, Dia juga menentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Putra-Nya, agar Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Roma 8: 30 Terlebih lagi siapa yang Dia tentukan, mereka juga yang Dia panggil: dan siapa yang Dia panggil, mereka juga Dia benarkan: dan siapa yang dia benarkan, mereka juga Dia muliakan.

Terlihat adanya perbedaan pada ayat 29 yang menyatakan bahwa Allah menentukan siapa akan diselamatkan-Nya berdasarkan apa yang telah diketahui-Nya sebelumnya (bahasa Yunani: . προέγνω, atau proegnō). Allah tidak sembarangan dalam memilih orang yang akan diselamatkan-Nya. Ia tahu dari mulanya siapa yang akan menjadi orang pilihan-Nya.

Tentunya kita ingat akan pengalaman Paulus yang secara pribadi menemui Yesus dalam perjalanan ke Damaskus (Kisah Para Rasul 9: 1-20). Pada waktu itu Yesus mengingatkan Paulus bahwa ia sudah menganiaya Yesus melalui kejahatan yang diperbuatnya kepada pengikut Yesus. Paulus menjadi buta selama tiga hari, dan hanya menjadi celik ketika Ananias mendapat perintah Tuhan untuk menumpangkan tangan atas Paulus.

Tetapi firman Tuhan kepadanya: ”Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Kisah 9: 15-16

Seperti Paulus, setiap orang percaya dulunya adalah orang yang sudah sesat dan selalu membuat Yesus sedih karena kehidupan dalam dosa. Sebelum kita berjumpa dengan Yesus dan bertobat, kita tidak mengenal-Nya dan dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita hanya hidup menurut apa yang kita sukai saja. Tetapi, seperti Paulus, Tuhan tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita di masa mendatang. Kita dipanggil-Nya untuk meninggalkan hidup lama kita dan ikut memberitakan kabar keselamatan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, karena selain harus berjalan dalam terang, kita juga harus menjadi terang dunia. Bahkan, sebagai orang percaya kita harus siap dan mau berkurban dan menderita untuk Yesus

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbarui oleh Roh Kudus. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Masih banyak orang yang  bergumul untuk memutuskan, apakah mereka mau mengikuti panggilan Kristus atau mencapai ambisi duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja selama bertahun-tahun menolak panggilan Kristus untuk menerima keselamatan. Dan ada lagi orang yang sengaja meninggalkan imannya karena memilih kebebasan dunia. Selain itu ada orang yang ingin mengikut Kristus tetapi tidak mau meninggalkan kenyamanan hidup lamanya. Adakah harapan bagi mereka? Bagi manusia, tidaklah ada harapan. Tetapi, Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa selalu bisa membuka jalan bagi mereka yang sudah diketahui-Nya dari awal akan menjadi pengikut-Nya.

Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Markus 10:27 TB

Saat ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya. Tetapi, bagi mereka yang belum menyadari peran manusia dalam menyambut karunia keselamatan, biarlah kita mau berdoa untuk mereka agar mau menerima panggilan Roh Kudus dalam hidup mereka.

Hari ini kita diingatkan Tuhan melalui pengalaman Paulus bahwa hidup kita setelah menerima Yesus tidak mungkin untuk tidak berubah, karena tiap orang secara pribadi sudah dipanggil Tuhan untuk hidup guna kemuliaan nama-Nya. Kita tidak bisa hanya hidup untuk diri kita sendiri. Marilah kita mau belajar dari contoh perjuangan Paulus untuk mau bekerja dan membaktikan diri untuk Tuhan!

“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Efesus 4: 1

Tuhan bukan penyebab adanya dosa

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Maling berteriak maling. Memang sering orang melakukan apa yang jahat, tetapi menyalahkan orang lain, lingkungan atau keadaan. Jarang orang mau mengaku jika berbuat salah, bahwa itu karena pilihan sendiri. Lebih parah lagi, ada orang yang seolah menyalahkan Tuhan jika mereka jatuh kedalam kesulitan. Tuhan yang berkuasa seharusnya bisa menghindarkan mereka dari kesulitan hidup, begitu pikir mereka. Jika Tuhan membiarkan adanya kesulitan hidup, godaan dan hal-hal yang jahat, tentunya manusia tidak dapat sepenuhnya dituntut untuk bertanggung-jawab, demikianlah pendapat sebagian orang. Pada pihak yang lain,  ada yang percaya bahwa apa yang jahat pun dibuat oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi manusialah yang harus tetap bertanggung-jawab untuk kejahatan mereka.

Ayat di atas menjelaskan bahwa semua yang jahat dan ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun Tuhan mempunyai rencana-rencana tertentu, Ia tidak perlu memaksa manusia untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya.

Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasuci, dengan demikian Ia bukanlah sumber kekejian dan dosa. Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1: 5). Manusialah yang memilih jalan hidup mereka sendiri, dan karena itu harus bertanggung-jawab atas segala dosa yang diperbuatnya. Manusia cenderung melakukan apa yang jahat karena mereka hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa.

Memang dalam kenyataannya, banyak orang ingin bebas untuk melakukan apa saja yang diingininya. Jika kemudian mereka diminta untuk mempertanggung-jawabkan tingkah laku dan cara hidup mereka, segala alasan akan mereka kemukakan agar apa yang sudah diperbuat bisa diterima sebagai sesuatu yang lumrah, yang bisa terjadi pada semua orang.

Sebagai manusia yang lemah, kita pun sering melakukan hal yang sama, melupakan apa yang buruk dan menganggap semua itu bisa diampuni Tuhan. Kita mungkin melatih diri  untuk menjadi kebal atas apa yang biasa dilakukan dalam masyarakat, dan tidak mudah merasa bersalah (guilty) akan apa yang jelas-jelas melanggar perintah Tuhan. Jika semua orang melakukannya, tentunya itu juga OK untuk kita.

Firman Tuhan berkata bahwa apa yang jahat bukanlah berasal dari Tuhan. Tuhan justru membenci apa yang jahat, apa yang kotor, dan apa yang culas. Karena itu, Ia bukanlah penyebab timbulnya masalah dalam hidup kita. Masalah yang kita hadapi sering kali adalah karena kita kehilangan kemampuan untuk membedakan apa yang baik dari apa yang buruk – karena kita hidup jauh dari Tuhan. Sebaliknya, jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, darah Yesus bisa memberi kita kesempatan untuk menjalani hidup baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Pengampunan dosa dan hidup baru bukanlah berarti bahwa orang itu akan menjadi orang yang selamanya tidak bisa berbuat dosa. Manusia dalam kodratnya tetap adalah manusia yang selalu cenderung jatuh ke dalam dosa. Hal ini akan menjadi lebih serius jika orang itu tidak berusaha untuk mawas diri akan apa yang dilakukannya. Karena itu, ada orang Kristen yang tidak menyadari atau tidak peduli akan dosa yang diperbuatnya dalam hidup sehari-hari, dan karena itu tidak tahu pentingnya memohon ampun kepada Tuhan. Sebagian di antara mereka malahan lupa bahwa Tuhan memang mengampuni dosa mereka ketika mereka menyatakan iman pada saat pertobatan, tetapi itu bukan berarti mereka menjadi orang yang tidak bisa berbuat dosa.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum (judisial) menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka dapat melupakan dosa-dosa yang bisa mereka lakukan setelah itu. Ananias dan Safira adalah salah satu contoh di mana umat Tuhan menerima hukuman atas dosa kebohongan yang diperbuat secara sengaja.

Jika mereka yang mengingat-ingat dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan penebusan darah Kristus, mereka yang menganggap bahwa menjadi Kristen adalah kebebasan untuk tetap berbuat dosa adalah orang-orang yang tidak erat hubungannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, mereka yang tetap hidup dalam dosa dan tidak merasakan hal itu, mungkin saja adalah orang-orang yang belum benar-benar menjadi pengikut Kristus.

Ayat 1 Yohanes 1: 9 juga menyatakan bahwa mereka yang benar-benar mengikut Kristus sadar bahwa mereka diselamatkan bukan karena usaha sendiri, tetapi semua itu adalah karunia Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil karena Ia menjalankan kasih dan hukum-Nya. Karena itu, mereka selalu berusaha berjalan menurut firman-Nya. Ini tidak mudah karena mereka membutuhkan bimbingan dan pertolongan Tuhan. Oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk mempunyai hubungan atau relasi yang baik dengan Tuhan.

Ayat-ayat di atas bertalian dengan cara bagaimana kita bisa mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Jika kita sadar akan dosa kita, kita harus meminta ampun kepada-Nya. Bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi dengan penuh kesadaran dan penyesalan. Mereka yang tidak benar-benar sadar akan dosa-dosa yang mereka perbuat akan sulit untuk memohon ampun dengan tulus hati, dan jika mereka melakukannya itu hanyalah omong-kosong saja. Apalagi jika ada keyakinan bahwa Tuhanlah yang sudah menetapkan bahwa mereka jatuh dalam dosa dan itu tidak dapat mereka hindari. Biarlah Roh Kudus senantiasa membimbing kita untuk mau taat kepada perintah Tuhan. Biarlah kita mau memilih jalan yang benar dan tidak mempersalahkan Tuhan akan apa yang terjadi dalam hidup kita.

Bagaimana orang Kristen harus bersikap dalam perang?

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” Matius 5: 38-42

Saat ini pusat perhatian media sudah berubah, dari pandemi menjadi peperangan di Eropa. Serangan Rusia terhadap negara tetangganya, Ukraina, memunculkan pertanyaan lama tentang pandangan Kristen terhadap perang. Pertanyaannya sangat kompleks karena sulit untuk melihat bagaimana perang bisa konsisten dengan konsep Alkitab tentang pengampunan, kesabaran, dan kasih. Penekanan ini mungkin paling menonjol dalam khotbah di bukit, di mana Yesus menyebutkan ayat-ayat di atas.

Mempraktikkan ayat-ayat di atas tidaklah mudah. Jika kita sulit melaksanakannya dalam kehidupan rumah tangga, lebih sulit lagi dalam kehidupan bernegara. Apakah ajaran Yesus bahwa kita harus memberikan pipi yang lain dan mengasihi musuh kita berarti bahwa tindakan berperang selalu salah? Haruskah dunia menyerah kepada Hitler dan mencoba mencintainya? Atau apakah Yesus mengizinkan kita untuk mengasihi musuh kita dan sekaligus, dalam situasi tertentu, menggunakan kekerasan untuk menghentikan kejahatan yang mengancam jiwa?

Teori Perang yang Adil (Just War Theory) menentukan keadaan apa yang boleh dipakai untuk alasan berperang, dan cara bagaimana perang harus dilakukan. Teori ini adalah bagian dari filsafat Kristen yang mencoba untuk menyatukan tiga hal:

  • Tindakan mengambil nyawa manusia adalah sangat salah.
  • Setiap negara memiliki kewajiban untuk membela warganya, dan membela keadilan.
  • Untuk melindungi kehidupan manusia yang tidak bersalah dan mempertahankan nilai-nilai moral yang penting, terkadang sebuah negara harus menggunakan kekuatan dan kekerasan.

Meskipun dikembangkan secara ekstensif oleh para teolog Kristen, teori ini dapat digunakan oleh orang-orang yang beragama lain. Sayang sekali, dalam kehidupan gerejani hal ini jarang dibahas.

Tujuan dari Just War Theory adalah untuk memberikan panduan yang tepat bagi negara untuk bertindak dalam konflik yang muncul di dunia. Pemahaman etika ini hanya berlaku untuk negara, dan tidak untuk individu (walaupun individu dapat menggunakan teori ini untuk membantunya guna memutuskan apakah secara moral ia dibenarkan untuk mengambil bagian dalam perang tertentu). Just War Theory menyediakan kerangka kerja yang berguna bagi individu dan kelompok manusia untuk digunakan dalam diskusi mereka tentang adanya perang dan kemungkinan terjadinya perang.

Doktrin Perang yang Adil sebenarnya dapat menyesatkan seseorang untuk berpikir bahwa karena perang itu adil, sebenarnya itu adalah hal yang baik. Namun di balik teori perang apa pun terletak gagasan bahwa perang selalu buruk. Perang yang adil diperbolehkan karena itu adalah kejahatan yang dianggap lebih ringan, tetapi tetap saja kejahatan. Teori ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan perang atau memilihnya, tetapi untuk mencegahnya. Dengan menunjukkan bahwa berperang kecuali dalam keadaan terbatas tertentu adalah salah, sebuah negara dapat dimotivasi untuk menemukan cara lain untuk menyelesaikan konflik.

Prinsip-prinsip Perang yang Adil berasal dari filsuf Yunani dan Romawi klasik seperti Plato dan Cicero dan ditambahkan oleh para teolog Kristen seperti Agustinus dan Thomas Aquinas. Ada dua bagian dari teori ini, keduanya dengan nama Latin:

  • Jus ad bellum: kondisi di mana penggunaan kekuatan militer dibenarkan.
  • Jus in bello: bagaimana melakukan perang secara etis.

Perang hanyalah Perang yang Adil jika keduanya benar, jadi baik tujuan dan cara harus dilakukan dengan benar. Beberapa perang yang diperjuangkan untuk tujuan mulia dianggap tidak adil karena cara mereka berperang.

Membiarkan seseorang membunuh ketika kita memiliki kemampuan untuk menghentikan tindakan itu, sepenuhnya bertentangan dengan kesadaran moral kita. Jika seorang yang berwujud seperti Hitler sedang bergerak dan berusaha untuk menundukkan dunia dan menghancurkan seluruh kelompok etnis tertentu, adalah salah jika kita tidak menentangnya dengan kekerasan (yang terkadang merupakan satu-satunya metode yang efektif). Memang benar bahwa perang itu sendiri berbahaya dan tragis; tetapi pasifisme (anti perang) akan menghasilkan lebih banyak kerusakan pada dunia karena hal itu akan membuat orang-orang jahat bebas berkuasa. Karena itu, sebuah negara yang segan untuk berpihak pada negara yang benar, sebenarnya sudah melakukan hal yang salah.

Paulus pernah menulis bahwa Tuhan memberikan pemerintah hak untuk menggunakan kekuatan untuk menahan dan menghukum kejahatan:

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Di sini Paulus menegaskan hak pemerintah untuk menggunakan kekerasan dalam dua cara. Pertama, dia mengatakan bahwa itu “tidak percuma pemerintah menyandang pedang.” Kedua, ia menyatakan bahwa pemerintah adalah “hamba Allah” ketika melakukan pembalasan terhadap pelaku kejahatan.

Satu hal yang perlu diingat adalah perbedaan antara gereja dan negara. Orang Kristen berperang bukan sebagai duta gereja atau atas nama gereja, tetapi sebagai wakil negaranya. Gereja tidak boleh menggunakan kekerasan (Yohanes 18:36), tetapi pemerintah kadang-kadang boleh (Yohanes 18:36; Roma 13:3-4; dll.). Jadi orang Kristen tidak boleh ikut berperang sebagai wakil agama, tetapi sebagai utusan pemerintah negaranya. Keduanya pada akhirnya berada di bawah otoritas Tuhan, tetapi masing-masing memiliki peran yang berbeda.

Sekarang, apa yang harus kita ambil dari perintah radikal Yesus dalam Matius 5: 39-41? Jangan melawan orang yang jahat; tetapi siapa pun yang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu juga padanya. Dan jika ada yang ingin menuntutmu, dan ambil bajumu, biarkan dia mengambil mantelmu juga. Dan siapa pun yang memaksamu untuk pergi satu mil, pergi dengan dia dua mil. Bagaimana ini cocok dengan apa yang telah kita lihat di atas?

Pertama, kita perlu mengklarifikasi apa masalahnya. Masalahnya bukanlah bahwa Yesus tampaknya menyuruh kita untuk berbaring dan membiarkan kejahatan menguasai kita. Jelas bukan itu yang Dia katakan. Sebaliknya, Yesus mengajar kita agar “jangan kalah terhadap kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Tentunya kita semua telah melihat kebijaksanaan kata-kata Yesus ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sering kali, cara paling efektif untuk mengatasi kejahatan adalah dengan tidak melawan. Jika seseorang mengatakan kata-kata kasar, jauh lebih efektif untuk menanggapinya dengan kebaikan daripada dengan kata-kata kasar lainnya sebagai balasannya. Jika seseorang mencoba memotong anda di jalan tol, biasanya yang terbaik adalah membiarkan mereka melakukannya. Jika kita mau mempelajari prinsip-prinsip ini, hidup kita akan jauh lebih damai.

Dalam melakukan kewajiban militer, seorang prajurit Kristen harus berusaha untuk mencintai lawannya dalam perannya sebagai manusia, mengingat bahwa ia berperang sebagai wakil dari pemerintah, bukan sebagai individu pribadi. Saat berperang, kita perlu melihat orang-orang dalam kelompok tentara/teroris berada di dua tingkat, pribadi dan pemerintah. Dalam tingkat pribadi, seorang prajurit harus mendoakan dan mencintai prajurit lawan. Dalam tingkat pemerintah, seorang prajurit berperang melawan musuh – bukan sebagai individu pribadi, tetapi sebagai perwakilan pemerintah. Ini mirip sebuah tim sepakbola yang bertanding melawan tim negara lain. Dalam pertandingan mereka saling bermusuhan tetapi sebagai individu mereka tidak boleh membenci lawannya. Ini tentunya tidak mudah dilakukan dalam sebuah peperangan, tetapi harus dipegang sebagai prinsip kekristenan kita dalam peperangan.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43-44

Jangan membuang waktu

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” 2 Timotius 2: 23

Istilah “membuang waktu” bagi saya agak bernada lucu. Kita tidak dapat melihat waktu, tidak dapat membelinya, atau menyimpannya; dan setiap orang tentunya membunyai 24 jam dalam sehari. Dengan demikian, bagaimana waktu itu bisa dibuang? Tentunya membuang waktu seharusnya diartikan menyia-nyiakan waktu atau “wasting time“. Waktu itu berharga dan karena itu tidak boleh disia-siakan.

Memang setiap orang dalam hidup ini pernah menghabiskan waktu tanpa hasil. Sesudah berusaha seharian, ternyata hasilnya tidak ada. Itu mungkin sesuatu yang terasa menyebalkan, terutama jika waktu kita habis untuk menghadapi orang yang sukar. Orang yang sukar? Sukar apanya?  Orang yang sukar atau difficult person adalah orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi atau diajak untuk bekerja sama. Orang yang  sedemikian biasanya cenderung semaunya sendiri, defensif, mudah tersinggung, mudah marah, ingin mengontrol orang lain, ingin menang sendiri dan mungkin merasa paling pandai dalam segala hal. Dalam suatu organisasi, orang yang sukar bisa membuat orang lain menjadi segan untuk mendekati. Ini bisa menimbulkan masalah, dan karena itu biasanya ada cara-cara tertentu yang harus dipakai untuk bisa mengatasinya.

Orang yang sukar biasanya juga orang yang sukar untuk berubah. Mereka yang kurang tahan menghadapi  orang yang sukar misalnya, bisa mendapat kursus untuk mengatasi persoalan ini, misalnya dengan mengikuti kursus “How to handle difficult people“. Walaupun demikian, sering tidak kita sadari bahwa dalam situasi tertentu kita sendiri adalah orang-orang yang sukar untuk mengubah pendekatan kita terhadap orang lain. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang semestinya sudah mengalami perubahan cara dan ciri hidup, masih bisa digolongkan ke dalam kelompok orang yang sukar, baik dalam rumah tangga, sekolah, tempat kerja, dan bahkan di gereja. Dalam pertemuan antar umat Kristen misalnya, selalu ada orang yang tidak mau atau tidak bisa berkompromi. Orang yang sedemikian tidak mudah dikritik karena mereka akan berusaha menyerang balik dengan kata-kata yang tajam.

Di antara murid-murid Yesus, mungkin Yudas bisa digolongkan orang yang sukar karena cara berpikirnya mengenai soal uang. Petrus dengan sifat kepala batunya, mungkin juga termasuk orang yang sukar. Bagaimana murid-murid yang lain bisa bergaul dengan Yudas dan Petrus selama tiga tahun dan mengembara bersama Yesus tentunya sulit untuk kita bayangkan. Bagaimana Yesus bisa mengendalikan kedua murid ini dan bisa menghadapi orang-orang yang sukar yang dijumpai-Nya pada waktu itu?

Dalam menghadapi orang yang sukar, prinsip pertama yang harus kita punyai adalah kasih. Tanpa kasih, kita tidak akan mempunyai minat untuk berkomunikasi dengan orang yang sedemikian. Yesus tidak pernah menutup diri-Nya dari orang lain. Ia tidak pernah memutuskan hubungan dengan orang-orang yang sukar, yang selalu mempersukar misi-Nya. Sekalipun ada orang-orang yang sukar seperti para ahli taurat dan orang Farisi, Yesus tidak menutup kabar keselamatan bagi mereka. Ia mengasihi semua orang sekalipun Ia tidak menyukai semua orang. Misi keselamatan-Nya ditujukan kepada semua orang, agar barang siapa yang percaya kepada-Nya bisa beroleh hidup yang kekal. Seperti itu jugalah, kita harus menghadapi semua orang, termasuk orang-orang yang tidak kita sukai, dengan kasih yang asalnya dari Yesus. Jika mereka melakukan suatu tindakan yang menyakiti, merugikan atau mempermalukan kita, sebagai umat Tuhan kita harus siap untuk mengampuni, karena kita juga sudah  diampuni Tuhan.

Prinsip kedua juga bisa kita pelajari dari Yesus, yaitu berdiam diri. Yesus tidak pernah mengabaikan apa pun yang diucapkan atau diperlihatkan oleh orang lain. Walaupun demikian, Ia tidak selalu bereaksi. Ada saat-saat tertentu di mana Yesus tidak menunjukkan reaksi-Nya karena Ia tahu bahwa pada saat itu orang-orang yang sukar tidak akan bisa menerima apa pun yang diucapkan-Nya. Dengan kebijaksanaan Nya, Yesus bisa memutuskan kapan dan untuk berapa lama Ia harus berdiam diri. Memang dalam kediaman, sering masalah yang rumit bisa diatasi sekalipun untuk itu kita harus bisa bersabar. Silence is golden, tetapi berdiam diri bukan untuk selamanya; pada saat yang tepat kita harus mau memberi penjelasan atau bimbingan lebih lanjut. Kebijaksanaan dan kesabaran seperti inilah yang harus kita minta dari Tuhan.

Hal yang ketiga yang penting dalam menghadapi orang yang sukar adalah berdoa. Seperti Yesus yang mendoakan murid-murid-Nya agar mereka dapat tahan menghadapi semua tantangan hidup, kita pun harus mau mendoakan mereka yang mempersulit hidup kita. Sekalipun ada orang-orang yang memperlakukan kita sebagai musuh mereka, kita tetap harus mau mendoakan mereka. Kita harus sadar bahwa manusia tidak akan dapat mengubah cara hidup orang lain jika Tuhan tidak menghendakinya. Hanya dengan kuasa-Nya hidup kita bisa diubah, dan dengan kuasa yang sama Ia bisa mengubah orang yang bagaimanapun sukarnya untuk menjadi hamba-Nya yang setia – seperti Paulus.

Prinsip keempat yang harus kita pegang adalah  menghindari hal-hal yang sia-sia. Paulus adalah orang yang dulunya termasuk orang yang sangat sukar, tetapi yang sudah berubah karena pekerjaan Tuhan. Dalam ayat di atas, ia menasihati Timotius yang masih muda pada saat itu agar mau menghindari soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Timotius juga diingatkan bahwa soal-soal semacam itu hanya menimbulkan pertengkaran. Prinsip yang sama haruslah kita pegang dalam menghadapi orang yang sukar di masa ini. Perang mulut, tuduh-menuduh, perang tulisan, saling mengejek melalui media dan sejenisnya, bisa membuat satu orang sukar  menjadi dua orang sukar, dan bahkan kemudian tumbuh menjadi banyak orang sukar. Semua ini bisa memperkeruh suasana dan menghilangkan rasa damai.

Inginkah anda untuk mendapat kedamaian hidup? Inginkah anda untuk bisa menghadapi orang-orang yang sukar  dengan tetap mempunyai rasa damai dalam hati dan pikiran anda? Itu tidak mudah, tetapi bisa dicapai jika kita mau belajar dari firman Tuhan.

Hal mementingkan diri sendiri

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Krisis yang terjadi di Eropa saat ini adalah yang terburuk sejak berakhirnya perang dunia kedua. Perang yang sekarang terjadi antara dua tetangga bisa saja berkembang menjadi permusuhan antar banyak negara. Hal ini sudah tentu membuat banyak orang prihatin. Tidak ada yang baik dalam peperangan, dan yang menjadi korban biasanya justru mereka yang membutuhkan perlindungan negara. Memang semua hal yang jahat adalah akibat dosa yang sudah meracuni seluruh umat manusia, sehingga setiap orang, suku, dan bangsa selalu ingin memenuhi keinginan dan kepentingan diri sendiri.

Rasa ego yang membawa bencana yang penah dilakukan manusia, tertulis dalam Alkitab untuk pertama kalinya ketika Kain membunuh Habel, adiknya (Kejadian 4: 4 – 8). Sejak itu, berbagai nama muncul dalam Alkitab dari orang yang memiliki kelakuan serupa. Orang yang dipilih Tuhan pun tidak terluput dari godaan untuk menjadi iri dan mementingkan diri sendiri, seperti halnya dengan raja Daud yang mengingini istri Uria, yaitu Batsyeba, dan kemudian menyebabkan kematian Uria di medan perang.

Dunia memang sering mengajarkan bahwa mereka yang sukses adalah orang yang tidak mau kalah dengan yang lain. Orang dan negara yang mau sukses adalah mereka yang bisa menundukkan atau menghancurkan yang lain. Lebih dari itu, bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia bisnis, keserakahan sering dianggap lumrah karena itu memberi motivasi untuk sukses, greed is good. Selain itu, bagi mereka yang bekerja dalam bidang politik, usaha untuk membuat golongan sendiri terlihat baik dengan menjelekkan golongan lain adalah biasa.

Sebenarnya setiap umat Tuhan seharusnya mempunyai keyakinan bahwa Tuhan membenci kekacauan. Ini tentunya dapat dimengerti, karena Tuhanlah yang menciptakan dunia ini dari sesuatu yang gelap, kosong dan tidak berbentuk (Kejadian 1). Dalam kehidupan bergereja pun, Tuhan mengingini umat-Nya untuk hidup dan berbakti kepada-Nya dengan tertib untuk mendapat kedamaian.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Hari ini, jika kita melihat kehidupan di sekeliling kita, banyaklah hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan yang dilakukan manusia. Ada orang-orang yang menuruti suara hati dan pikiran yang sesat, yang meninggikan kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Ada juga yang dengan egonya, seakan siap untuk menghancurkan dan memusnahkan orang atau golongan lain.

Apa yang buruk adalah hasil perbuatan manusia, dan bukan sesuatu yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Oleh sebab itu, setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Mereka yang menimbulkan kekacauan, dan ketakutan dalam masyarakat adalah musuh-musuh Tuhan, yang pada akhirnya harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Sebaliknya, bagi kita yang mengikut perintah-Nya, tugas kita adalah untuk menjadi terang dunia, dengan membangun kekuatan, kasih dan ketertiban di dunia. Dalam keadaan seburuk apa pun, kita harus yakin bahwa Tuhan tetap memegang kontrol dan karena itu kita boleh tetap berharap akan pertolongan-Nya.

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 7

Lagi-lagi muncul perang

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” Lukas 12: 4

Dunia ini selalu penuh dengan hal-hal yang membuat orang kuatir. Memang ada orang yang senang pergi ke tempat yang berbahaya, melakukan hal-hal yang membuat hati berdebar-debar, atau melakukan sesuatu tindakan yang mempunyai risiko besar. Mereka yang tergolong “thrill-seeker“, memang sengaja mencari kesempatan untuk menantang bahaya untuk memuaskan diri sendiri. Tetapi, tidak ada seorang pun yang menyukai sesuatu yang bisa membawa kecelakaan atau bencana yang di luar kontrol. Hanya orang yang bodoh atau gila yang sengaja mencari bencana untuk diri sendiri atau orang lain.

Apa yang terjadi di Ukraina hari ini, membuat orang merasa kuatir, was-was dan bahkan takut karena teringat bagaimana perang dunia kedua sekitar 80 tahun yang lalu, juga bermula dengan pertentangan beberapa negara bertetangga di Eropa. Bagi banyak orang Kristen, hal semacam itu memaksa mereka untuk mengevaluasi iman mereka. Patutkah mereka merasa kuatir atau takut dengan adanya peperangan dan segala implikasinya? Apa yang harus atau bisa mereka lakukan untuk mengatasi rasa takut?

Rasa takut sebenarnya adalah sesuatu yang diberikan Tuhan sebagai berkat. Rasa takut bisa membuat orang menghindari bahaya. Selain itu, rasa takut kepada Tuhan, yaitu ketaatan kepada firman-Nya, adalah satu hal yang dikehendaki Tuhan agar umat-Nya bisa menikmati hidup yang aman dan berbahagia. Ayub, sebagai contoh, adalah orang yang takut akan Tuhan sehingga Tuhan mengasihinya dan melindunginya dari serangan iblis (Ayub 1: 8 – 10). Selain itu, banyak ayat Alkitab lain yang mengatakan bahwa takut akanTuhan akan membawa hikmat kebijaksanaan dan berbagai berkat. Tuhan memang menyayangi semua orang yang takut akan Dia.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Dalam kenyataan zaman ini, orang yang benar-benar takut akan Tuhan mungkin tidaklah banyak. Di kalangan Kristen pun, orang cenderung untuk mengesampingkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pada hari Minggu dan selama satu atau dua jam saja kita mengakui kedaulatan Tuhan dan berusaha meyakinkan Dia bahwa kita mempunyai rasa takut kepada-Nya. Tetapi di luar itu, kita sering hidup seperti manusia bebas merdeka yang mempunyai hak dan kuasa atas diri kita dan juga orang lain.

Kejadian buruk yang tidak terduga dalam hidup manusia seperti munculnya perang, mungkin membuat banyak orang menjadi kuatir dan bahkan takut menghadapi masa depan karena kepercayaan kepada diri sendiri menjadi goyah. Sesudah anjloknya harga saham, ada kemungkinan keadaan ekonomi dunia akan bertambah sakit. Kita jelas tidak berkuasa atas hidup kita, apalagi atas hidup dan perbuatan orang lain. Hal-hal yang sedemikian seharusnya membuat kita mencari pertolongan, tetapi jika kita tidak mempunyai iman kepada Tuhan, kepada siapa lagi kita bisa bergantung?

Harii ini Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita bukanlah hanya di dunia yang fana ini. Jika hidup di dunia adalah sementara, bagi kita hidup sesudah ini adalah hidup yang kekal di surga bersama Tuhan, Raja semesta alam yang kita sembah. Karena itu, jika kita benar-benar takut kepada Tuhan, kita tidak perlu takut kepada sesama manusia. Sama seperti kita, mereka hanyalah makhluk yang kecil dan tidak berdaya di hadapan Tuhan.

Walaupun demikian, dalam menghadapi bahaya, sebagai manusia kita tidak bisa bergantung pada kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, kita tahu bahwa sebagai orang yang takut kepada Tuhan, kita mempunyai keyakinan bahwa kita bisa mendekati-Nya dan memohon penyertaan-Nya. Biarlah kita mau memohon agar Tuhan memberi kita rasa damai dan sejahtera di saat yang sulit ini dan agar Ia menunjukkan kuasa-Nya untuk membawa perdamaian di bumi.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Mengapa harus mengasihi semua orang?

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Dua tahun terakhir ini memang terasa luar biasa beratnya. Bukan saja pandemi sudah membuat kacau kehidupan manusia, tetapi berbagai bencana alam juga melanda berbagai tempat di dunia. Gempa bumi, gunung meletus, kebakaran hutan dan banjir sudah terjadi dan membuat banyak manusia menderita. Kebanyakan reaksi orang terhadap mereka yang ditimpa bencana ini adalah perasaan simpati dan juga empati. Kedua kata ini bunyinya serupa tapi memiliki perbedaan arti. Simpati menggambarkan perasaan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati berarti dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihannya.

Walaupun kebanyakan orang mudah merasa simpati atas kesedihan orang lain, rasa empati mungkin lebih sukar dirasakan. Karena itu, dalam setiap malapetaka atau kecelakaan, selalu ada orang-orang yang membuat komen yang agaknya bisa terasa kejam atau kurang berperasaan. Ada orang yang berpendapat bahwa kemalangan seseorang adalah sehubungan dengan dosanya, atau sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan. Ada pula yang menertawakan orang lain karena anggapan bahwa kebodohan orang itu yang menjadi sebab malapetaka yang dialaminya. Tetapi bagaimana orang Kristen seharusnya bereaksi atas kemalangan orang lain?

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan ikut menangis dengan orang yang menangis. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Bagaimana kita bisa bersukacita dengan orang yang tidak kita sukai? Dan bagaimana pula untuk menangis dengan orang yang menderita karena kesalahannya sendiri? Walaupun itu tidak mudah, Alkitab jelas mengajarkan bahwa kita tidak boleh bersukacita ketika melihat orang yang tidak kita senangi mengalami kemalangan!

“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok” Amsal 24: 17

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mempunyai hati bagi orang-orang yang ditimpa kemalangan dan bisa menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang mereka alami. Ini bukan hanya untuk saudara-saudara seiman, tetapi juga untuk orang-orang yang tidak kita sukai atau mereka yang membenci kita. Sebagai orang Kristen, jika kita tidak memiliki rasa simpati dan empati kepada orang lain, nama Tuhan akan dipermalukan. Tetapi, jika kita mempunyai kasih dan empati kepada sesama kita, nama Tuhanlah yang akan dimuliakan. Mengapa begitu?

Sebab yang pertama, Tuhan yang mahasuci tidak mendapatkan kegembiraan dalam menghukum orang berdosa, tetapi Ia bersuka cita jika keadilan dapat dilaksanakan untuk memuliakan Dia. Ratapan Yesus atas Yerusalem menunjukkan kepada kita bahwa penderitaan manusia, yang disebabkan oleh kesalahan mereka, bukanlah sesuatu yang disukai oleh Tuhan (Matius 23: 37-39). Meskipun Allah telah menetapkan apa yang akan terjadi pada Yerusalem, kehendak-Nya yang dinyatakan dalam Alkitab membuktikan bahwa Dia tidak bersenang-senang atas kematian orang fasik.

“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” Yehezkiel 33: 11

Kedua, Yesus memberi contoh atas perasaan simpati dan empati yang dimiliki-Nya dalam Yohanes 11: 33–35. Dia sangat tersentuh dan menangis bersama Maria dan yang lainnya setelah Lazarus meninggal. Yesus tahu Dia akan membangkitkan Lazarus dari kematian, tetapi itu tidak menghalangi-Nya untuk ikut dalam kesedihan mereka yang kehilangan. Tangisan Yesus bukanlah tangisan pura-pura, tetapi pencerminan apa yang ada dalam hati-Nya. Sebagai pengikut Yesus, kita harus bisa bersikap seperti Dia.

Ketiga, setiap manusia percaya yang telah diselamatkan sudah mendapat kasih karunia yang besar oleh Allah yang mengurbankan Yesus Kristus, yang mengalami pencobaan dan penderitaan ganti manusia. Sama seperti Allah yang telah menunjukkan belas kasihan yang besar kepada kita, kita harus bisa berbelas kasihan kepada orang lain untuk mencerminkan kasih Allah kepada manusia yang berdosa. Mungkin kita bisa merasa senasib sepenanggungan dengan sesama orang beriman, Tetapi, untuk mempunyai rasa simpati atau empati kepada orang yang memusuhi kita, kita harus ingat atas kasih Tuhan kepada kita.

Bagaimana dengan orang-orang jahat yang melakukan teror dan kejahatan keji dalam masyarakat? Perlukah kita rasa simpati dan empati kepada mereka jika mereka menerima hukuman yang setimpal? Apakah kita harus ikut bersuka cita ketika mereka berhasil melakukan kejahatan dan lolos dari tuntutan hukum? Sudah tentu tidak. Dalam pelaksanaannya, ayat di atas adalah perintah Tuhan untuk ikut bersuka cita dengan mereka yang bersuka cita dalam hal yang baik, dan ikut berduka cita dengan mereka yang menderita karena datangnya hal yang tidak baik.

Memberi simpati dan empati untuk orang yang tidak kita sukai bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam masyarakat yang berbeda ras, budaya dan agama. Tetapi jelas bahwa kita harus belajar dari Yesus. Kita tidak boleh bersukacita karena orang lain mengalami penderitaan dan tidak boleh merasa sedih jika mereka mengalami keberhasilan. Adalah tugas kita sebagai umat Tuhan untuk menyatakan kepada setiap orang bahwa dalam kegembiraan maupun kesedihan, Tuhan yang mahakuasa tetaplah memegang kemudi kehidupan manusia. Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu dan harus disembah.