Bagaimana orang Kristen harus bersikap dalam perang?

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” Matius 5: 38-42

Saat ini pusat perhatian media sudah berubah, dari pandemi menjadi peperangan di Eropa. Serangan Rusia terhadap negara tetangganya, Ukraina, memunculkan pertanyaan lama tentang pandangan Kristen terhadap perang. Pertanyaannya sangat kompleks karena sulit untuk melihat bagaimana perang bisa konsisten dengan konsep Alkitab tentang pengampunan, kesabaran, dan kasih. Penekanan ini mungkin paling menonjol dalam khotbah di bukit, di mana Yesus menyebutkan ayat-ayat di atas.

Mempraktikkan ayat-ayat di atas tidaklah mudah. Jika kita sulit melaksanakannya dalam kehidupan rumah tangga, lebih sulit lagi dalam kehidupan bernegara. Apakah ajaran Yesus bahwa kita harus memberikan pipi yang lain dan mengasihi musuh kita berarti bahwa tindakan berperang selalu salah? Haruskah dunia menyerah kepada Hitler dan mencoba mencintainya? Atau apakah Yesus mengizinkan kita untuk mengasihi musuh kita dan sekaligus, dalam situasi tertentu, menggunakan kekerasan untuk menghentikan kejahatan yang mengancam jiwa?

Teori Perang yang Adil (Just War Theory) menentukan keadaan apa yang boleh dipakai untuk alasan berperang, dan cara bagaimana perang harus dilakukan. Teori ini adalah bagian dari filsafat Kristen yang mencoba untuk menyatukan tiga hal:

  • Tindakan mengambil nyawa manusia adalah sangat salah.
  • Setiap negara memiliki kewajiban untuk membela warganya, dan membela keadilan.
  • Untuk melindungi kehidupan manusia yang tidak bersalah dan mempertahankan nilai-nilai moral yang penting, terkadang sebuah negara harus menggunakan kekuatan dan kekerasan.

Meskipun dikembangkan secara ekstensif oleh para teolog Kristen, teori ini dapat digunakan oleh orang-orang yang beragama lain. Sayang sekali, dalam kehidupan gerejani hal ini jarang dibahas.

Tujuan dari Just War Theory adalah untuk memberikan panduan yang tepat bagi negara untuk bertindak dalam konflik yang muncul di dunia. Pemahaman etika ini hanya berlaku untuk negara, dan tidak untuk individu (walaupun individu dapat menggunakan teori ini untuk membantunya guna memutuskan apakah secara moral ia dibenarkan untuk mengambil bagian dalam perang tertentu). Just War Theory menyediakan kerangka kerja yang berguna bagi individu dan kelompok manusia untuk digunakan dalam diskusi mereka tentang adanya perang dan kemungkinan terjadinya perang.

Doktrin Perang yang Adil sebenarnya dapat menyesatkan seseorang untuk berpikir bahwa karena perang itu adil, sebenarnya itu adalah hal yang baik. Namun di balik teori perang apa pun terletak gagasan bahwa perang selalu buruk. Perang yang adil diperbolehkan karena itu adalah kejahatan yang dianggap lebih ringan, tetapi tetap saja kejahatan. Teori ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan perang atau memilihnya, tetapi untuk mencegahnya. Dengan menunjukkan bahwa berperang kecuali dalam keadaan terbatas tertentu adalah salah, sebuah negara dapat dimotivasi untuk menemukan cara lain untuk menyelesaikan konflik.

Prinsip-prinsip Perang yang Adil berasal dari filsuf Yunani dan Romawi klasik seperti Plato dan Cicero dan ditambahkan oleh para teolog Kristen seperti Agustinus dan Thomas Aquinas. Ada dua bagian dari teori ini, keduanya dengan nama Latin:

  • Jus ad bellum: kondisi di mana penggunaan kekuatan militer dibenarkan.
  • Jus in bello: bagaimana melakukan perang secara etis.

Perang hanyalah Perang yang Adil jika keduanya benar, jadi baik tujuan dan cara harus dilakukan dengan benar. Beberapa perang yang diperjuangkan untuk tujuan mulia dianggap tidak adil karena cara mereka berperang.

Membiarkan seseorang membunuh ketika kita memiliki kemampuan untuk menghentikan tindakan itu, sepenuhnya bertentangan dengan kesadaran moral kita. Jika seorang yang berwujud seperti Hitler sedang bergerak dan berusaha untuk menundukkan dunia dan menghancurkan seluruh kelompok etnis tertentu, adalah salah jika kita tidak menentangnya dengan kekerasan (yang terkadang merupakan satu-satunya metode yang efektif). Memang benar bahwa perang itu sendiri berbahaya dan tragis; tetapi pasifisme (anti perang) akan menghasilkan lebih banyak kerusakan pada dunia karena hal itu akan membuat orang-orang jahat bebas berkuasa. Karena itu, sebuah negara yang segan untuk berpihak pada negara yang benar, sebenarnya sudah melakukan hal yang salah.

Paulus pernah menulis bahwa Tuhan memberikan pemerintah hak untuk menggunakan kekuatan untuk menahan dan menghukum kejahatan:

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Di sini Paulus menegaskan hak pemerintah untuk menggunakan kekerasan dalam dua cara. Pertama, dia mengatakan bahwa itu “tidak percuma pemerintah menyandang pedang.” Kedua, ia menyatakan bahwa pemerintah adalah “hamba Allah” ketika melakukan pembalasan terhadap pelaku kejahatan.

Satu hal yang perlu diingat adalah perbedaan antara gereja dan negara. Orang Kristen berperang bukan sebagai duta gereja atau atas nama gereja, tetapi sebagai wakil negaranya. Gereja tidak boleh menggunakan kekerasan (Yohanes 18:36), tetapi pemerintah kadang-kadang boleh (Yohanes 18:36; Roma 13:3-4; dll.). Jadi orang Kristen tidak boleh ikut berperang sebagai wakil agama, tetapi sebagai utusan pemerintah negaranya. Keduanya pada akhirnya berada di bawah otoritas Tuhan, tetapi masing-masing memiliki peran yang berbeda.

Sekarang, apa yang harus kita ambil dari perintah radikal Yesus dalam Matius 5: 39-41? Jangan melawan orang yang jahat; tetapi siapa pun yang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu juga padanya. Dan jika ada yang ingin menuntutmu, dan ambil bajumu, biarkan dia mengambil mantelmu juga. Dan siapa pun yang memaksamu untuk pergi satu mil, pergi dengan dia dua mil. Bagaimana ini cocok dengan apa yang telah kita lihat di atas?

Pertama, kita perlu mengklarifikasi apa masalahnya. Masalahnya bukanlah bahwa Yesus tampaknya menyuruh kita untuk berbaring dan membiarkan kejahatan menguasai kita. Jelas bukan itu yang Dia katakan. Sebaliknya, Yesus mengajar kita agar “jangan kalah terhadap kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Tentunya kita semua telah melihat kebijaksanaan kata-kata Yesus ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sering kali, cara paling efektif untuk mengatasi kejahatan adalah dengan tidak melawan. Jika seseorang mengatakan kata-kata kasar, jauh lebih efektif untuk menanggapinya dengan kebaikan daripada dengan kata-kata kasar lainnya sebagai balasannya. Jika seseorang mencoba memotong anda di jalan tol, biasanya yang terbaik adalah membiarkan mereka melakukannya. Jika kita mau mempelajari prinsip-prinsip ini, hidup kita akan jauh lebih damai.

Dalam melakukan kewajiban militer, seorang prajurit Kristen harus berusaha untuk mencintai lawannya dalam perannya sebagai manusia, mengingat bahwa ia berperang sebagai wakil dari pemerintah, bukan sebagai individu pribadi. Saat berperang, kita perlu melihat orang-orang dalam kelompok tentara/teroris berada di dua tingkat, pribadi dan pemerintah. Dalam tingkat pribadi, seorang prajurit harus mendoakan dan mencintai prajurit lawan. Dalam tingkat pemerintah, seorang prajurit berperang melawan musuh – bukan sebagai individu pribadi, tetapi sebagai perwakilan pemerintah. Ini mirip sebuah tim sepakbola yang bertanding melawan tim negara lain. Dalam pertandingan mereka saling bermusuhan tetapi sebagai individu mereka tidak boleh membenci lawannya. Ini tentunya tidak mudah dilakukan dalam sebuah peperangan, tetapi harus dipegang sebagai prinsip kekristenan kita dalam peperangan.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43-44

Jangan membuang waktu

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” 2 Timotius 2: 23

Istilah “membuang waktu” bagi saya agak bernada lucu. Kita tidak dapat melihat waktu, tidak dapat membelinya, atau menyimpannya; dan setiap orang tentunya membunyai 24 jam dalam sehari. Dengan demikian, bagaimana waktu itu bisa dibuang? Tentunya membuang waktu seharusnya diartikan menyia-nyiakan waktu atau “wasting time“. Waktu itu berharga dan karena itu tidak boleh disia-siakan.

Memang setiap orang dalam hidup ini pernah menghabiskan waktu tanpa hasil. Sesudah berusaha seharian, ternyata hasilnya tidak ada. Itu mungkin sesuatu yang terasa menyebalkan, terutama jika waktu kita habis untuk menghadapi orang yang sukar. Orang yang sukar? Sukar apanya?  Orang yang sukar atau difficult person adalah orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi atau diajak untuk bekerja sama. Orang yang  sedemikian biasanya cenderung semaunya sendiri, defensif, mudah tersinggung, mudah marah, ingin mengontrol orang lain, ingin menang sendiri dan mungkin merasa paling pandai dalam segala hal. Dalam suatu organisasi, orang yang sukar bisa membuat orang lain menjadi segan untuk mendekati. Ini bisa menimbulkan masalah, dan karena itu biasanya ada cara-cara tertentu yang harus dipakai untuk bisa mengatasinya.

Orang yang sukar biasanya juga orang yang sukar untuk berubah. Mereka yang kurang tahan menghadapi  orang yang sukar misalnya, bisa mendapat kursus untuk mengatasi persoalan ini, misalnya dengan mengikuti kursus “How to handle difficult people“. Walaupun demikian, sering tidak kita sadari bahwa dalam situasi tertentu kita sendiri adalah orang-orang yang sukar untuk mengubah pendekatan kita terhadap orang lain. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang semestinya sudah mengalami perubahan cara dan ciri hidup, masih bisa digolongkan ke dalam kelompok orang yang sukar, baik dalam rumah tangga, sekolah, tempat kerja, dan bahkan di gereja. Dalam pertemuan antar umat Kristen misalnya, selalu ada orang yang tidak mau atau tidak bisa berkompromi. Orang yang sedemikian tidak mudah dikritik karena mereka akan berusaha menyerang balik dengan kata-kata yang tajam.

Di antara murid-murid Yesus, mungkin Yudas bisa digolongkan orang yang sukar karena cara berpikirnya mengenai soal uang. Petrus dengan sifat kepala batunya, mungkin juga termasuk orang yang sukar. Bagaimana murid-murid yang lain bisa bergaul dengan Yudas dan Petrus selama tiga tahun dan mengembara bersama Yesus tentunya sulit untuk kita bayangkan. Bagaimana Yesus bisa mengendalikan kedua murid ini dan bisa menghadapi orang-orang yang sukar yang dijumpai-Nya pada waktu itu?

Dalam menghadapi orang yang sukar, prinsip pertama yang harus kita punyai adalah kasih. Tanpa kasih, kita tidak akan mempunyai minat untuk berkomunikasi dengan orang yang sedemikian. Yesus tidak pernah menutup diri-Nya dari orang lain. Ia tidak pernah memutuskan hubungan dengan orang-orang yang sukar, yang selalu mempersukar misi-Nya. Sekalipun ada orang-orang yang sukar seperti para ahli taurat dan orang Farisi, Yesus tidak menutup kabar keselamatan bagi mereka. Ia mengasihi semua orang sekalipun Ia tidak menyukai semua orang. Misi keselamatan-Nya ditujukan kepada semua orang, agar barang siapa yang percaya kepada-Nya bisa beroleh hidup yang kekal. Seperti itu jugalah, kita harus menghadapi semua orang, termasuk orang-orang yang tidak kita sukai, dengan kasih yang asalnya dari Yesus. Jika mereka melakukan suatu tindakan yang menyakiti, merugikan atau mempermalukan kita, sebagai umat Tuhan kita harus siap untuk mengampuni, karena kita juga sudah  diampuni Tuhan.

Prinsip kedua juga bisa kita pelajari dari Yesus, yaitu berdiam diri. Yesus tidak pernah mengabaikan apa pun yang diucapkan atau diperlihatkan oleh orang lain. Walaupun demikian, Ia tidak selalu bereaksi. Ada saat-saat tertentu di mana Yesus tidak menunjukkan reaksi-Nya karena Ia tahu bahwa pada saat itu orang-orang yang sukar tidak akan bisa menerima apa pun yang diucapkan-Nya. Dengan kebijaksanaan Nya, Yesus bisa memutuskan kapan dan untuk berapa lama Ia harus berdiam diri. Memang dalam kediaman, sering masalah yang rumit bisa diatasi sekalipun untuk itu kita harus bisa bersabar. Silence is golden, tetapi berdiam diri bukan untuk selamanya; pada saat yang tepat kita harus mau memberi penjelasan atau bimbingan lebih lanjut. Kebijaksanaan dan kesabaran seperti inilah yang harus kita minta dari Tuhan.

Hal yang ketiga yang penting dalam menghadapi orang yang sukar adalah berdoa. Seperti Yesus yang mendoakan murid-murid-Nya agar mereka dapat tahan menghadapi semua tantangan hidup, kita pun harus mau mendoakan mereka yang mempersulit hidup kita. Sekalipun ada orang-orang yang memperlakukan kita sebagai musuh mereka, kita tetap harus mau mendoakan mereka. Kita harus sadar bahwa manusia tidak akan dapat mengubah cara hidup orang lain jika Tuhan tidak menghendakinya. Hanya dengan kuasa-Nya hidup kita bisa diubah, dan dengan kuasa yang sama Ia bisa mengubah orang yang bagaimanapun sukarnya untuk menjadi hamba-Nya yang setia – seperti Paulus.

Prinsip keempat yang harus kita pegang adalah  menghindari hal-hal yang sia-sia. Paulus adalah orang yang dulunya termasuk orang yang sangat sukar, tetapi yang sudah berubah karena pekerjaan Tuhan. Dalam ayat di atas, ia menasihati Timotius yang masih muda pada saat itu agar mau menghindari soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Timotius juga diingatkan bahwa soal-soal semacam itu hanya menimbulkan pertengkaran. Prinsip yang sama haruslah kita pegang dalam menghadapi orang yang sukar di masa ini. Perang mulut, tuduh-menuduh, perang tulisan, saling mengejek melalui media dan sejenisnya, bisa membuat satu orang sukar  menjadi dua orang sukar, dan bahkan kemudian tumbuh menjadi banyak orang sukar. Semua ini bisa memperkeruh suasana dan menghilangkan rasa damai.

Inginkah anda untuk mendapat kedamaian hidup? Inginkah anda untuk bisa menghadapi orang-orang yang sukar  dengan tetap mempunyai rasa damai dalam hati dan pikiran anda? Itu tidak mudah, tetapi bisa dicapai jika kita mau belajar dari firman Tuhan.

Hal mementingkan diri sendiri

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Krisis yang terjadi di Eropa saat ini adalah yang terburuk sejak berakhirnya perang dunia kedua. Perang yang sekarang terjadi antara dua tetangga bisa saja berkembang menjadi permusuhan antar banyak negara. Hal ini sudah tentu membuat banyak orang prihatin. Tidak ada yang baik dalam peperangan, dan yang menjadi korban biasanya justru mereka yang membutuhkan perlindungan negara. Memang semua hal yang jahat adalah akibat dosa yang sudah meracuni seluruh umat manusia, sehingga setiap orang, suku, dan bangsa selalu ingin memenuhi keinginan dan kepentingan diri sendiri.

Rasa ego yang membawa bencana yang penah dilakukan manusia, tertulis dalam Alkitab untuk pertama kalinya ketika Kain membunuh Habel, adiknya (Kejadian 4: 4 – 8). Sejak itu, berbagai nama muncul dalam Alkitab dari orang yang memiliki kelakuan serupa. Orang yang dipilih Tuhan pun tidak terluput dari godaan untuk menjadi iri dan mementingkan diri sendiri, seperti halnya dengan raja Daud yang mengingini istri Uria, yaitu Batsyeba, dan kemudian menyebabkan kematian Uria di medan perang.

Dunia memang sering mengajarkan bahwa mereka yang sukses adalah orang yang tidak mau kalah dengan yang lain. Orang dan negara yang mau sukses adalah mereka yang bisa menundukkan atau menghancurkan yang lain. Lebih dari itu, bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia bisnis, keserakahan sering dianggap lumrah karena itu memberi motivasi untuk sukses, greed is good. Selain itu, bagi mereka yang bekerja dalam bidang politik, usaha untuk membuat golongan sendiri terlihat baik dengan menjelekkan golongan lain adalah biasa.

Sebenarnya setiap umat Tuhan seharusnya mempunyai keyakinan bahwa Tuhan membenci kekacauan. Ini tentunya dapat dimengerti, karena Tuhanlah yang menciptakan dunia ini dari sesuatu yang gelap, kosong dan tidak berbentuk (Kejadian 1). Dalam kehidupan bergereja pun, Tuhan mengingini umat-Nya untuk hidup dan berbakti kepada-Nya dengan tertib untuk mendapat kedamaian.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Hari ini, jika kita melihat kehidupan di sekeliling kita, banyaklah hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan yang dilakukan manusia. Ada orang-orang yang menuruti suara hati dan pikiran yang sesat, yang meninggikan kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Ada juga yang dengan egonya, seakan siap untuk menghancurkan dan memusnahkan orang atau golongan lain.

Apa yang buruk adalah hasil perbuatan manusia, dan bukan sesuatu yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Oleh sebab itu, setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Mereka yang menimbulkan kekacauan, dan ketakutan dalam masyarakat adalah musuh-musuh Tuhan, yang pada akhirnya harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Sebaliknya, bagi kita yang mengikut perintah-Nya, tugas kita adalah untuk menjadi terang dunia, dengan membangun kekuatan, kasih dan ketertiban di dunia. Dalam keadaan seburuk apa pun, kita harus yakin bahwa Tuhan tetap memegang kontrol dan karena itu kita boleh tetap berharap akan pertolongan-Nya.

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 7

Lagi-lagi muncul perang

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” Lukas 12: 4

Dunia ini selalu penuh dengan hal-hal yang membuat orang kuatir. Memang ada orang yang senang pergi ke tempat yang berbahaya, melakukan hal-hal yang membuat hati berdebar-debar, atau melakukan sesuatu tindakan yang mempunyai risiko besar. Mereka yang tergolong “thrill-seeker“, memang sengaja mencari kesempatan untuk menantang bahaya untuk memuaskan diri sendiri. Tetapi, tidak ada seorang pun yang menyukai sesuatu yang bisa membawa kecelakaan atau bencana yang di luar kontrol. Hanya orang yang bodoh atau gila yang sengaja mencari bencana untuk diri sendiri atau orang lain.

Apa yang terjadi di Ukraina hari ini, membuat orang merasa kuatir, was-was dan bahkan takut karena teringat bagaimana perang dunia kedua sekitar 80 tahun yang lalu, juga bermula dengan pertentangan beberapa negara bertetangga di Eropa. Bagi banyak orang Kristen, hal semacam itu memaksa mereka untuk mengevaluasi iman mereka. Patutkah mereka merasa kuatir atau takut dengan adanya peperangan dan segala implikasinya? Apa yang harus atau bisa mereka lakukan untuk mengatasi rasa takut?

Rasa takut sebenarnya adalah sesuatu yang diberikan Tuhan sebagai berkat. Rasa takut bisa membuat orang menghindari bahaya. Selain itu, rasa takut kepada Tuhan, yaitu ketaatan kepada firman-Nya, adalah satu hal yang dikehendaki Tuhan agar umat-Nya bisa menikmati hidup yang aman dan berbahagia. Ayub, sebagai contoh, adalah orang yang takut akan Tuhan sehingga Tuhan mengasihinya dan melindunginya dari serangan iblis (Ayub 1: 8 – 10). Selain itu, banyak ayat Alkitab lain yang mengatakan bahwa takut akanTuhan akan membawa hikmat kebijaksanaan dan berbagai berkat. Tuhan memang menyayangi semua orang yang takut akan Dia.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Dalam kenyataan zaman ini, orang yang benar-benar takut akan Tuhan mungkin tidaklah banyak. Di kalangan Kristen pun, orang cenderung untuk mengesampingkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pada hari Minggu dan selama satu atau dua jam saja kita mengakui kedaulatan Tuhan dan berusaha meyakinkan Dia bahwa kita mempunyai rasa takut kepada-Nya. Tetapi di luar itu, kita sering hidup seperti manusia bebas merdeka yang mempunyai hak dan kuasa atas diri kita dan juga orang lain.

Kejadian buruk yang tidak terduga dalam hidup manusia seperti munculnya perang, mungkin membuat banyak orang menjadi kuatir dan bahkan takut menghadapi masa depan karena kepercayaan kepada diri sendiri menjadi goyah. Sesudah anjloknya harga saham, ada kemungkinan keadaan ekonomi dunia akan bertambah sakit. Kita jelas tidak berkuasa atas hidup kita, apalagi atas hidup dan perbuatan orang lain. Hal-hal yang sedemikian seharusnya membuat kita mencari pertolongan, tetapi jika kita tidak mempunyai iman kepada Tuhan, kepada siapa lagi kita bisa bergantung?

Harii ini Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita bukanlah hanya di dunia yang fana ini. Jika hidup di dunia adalah sementara, bagi kita hidup sesudah ini adalah hidup yang kekal di surga bersama Tuhan, Raja semesta alam yang kita sembah. Karena itu, jika kita benar-benar takut kepada Tuhan, kita tidak perlu takut kepada sesama manusia. Sama seperti kita, mereka hanyalah makhluk yang kecil dan tidak berdaya di hadapan Tuhan.

Walaupun demikian, dalam menghadapi bahaya, sebagai manusia kita tidak bisa bergantung pada kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, kita tahu bahwa sebagai orang yang takut kepada Tuhan, kita mempunyai keyakinan bahwa kita bisa mendekati-Nya dan memohon penyertaan-Nya. Biarlah kita mau memohon agar Tuhan memberi kita rasa damai dan sejahtera di saat yang sulit ini dan agar Ia menunjukkan kuasa-Nya untuk membawa perdamaian di bumi.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Mengapa harus mengasihi semua orang?

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Dua tahun terakhir ini memang terasa luar biasa beratnya. Bukan saja pandemi sudah membuat kacau kehidupan manusia, tetapi berbagai bencana alam juga melanda berbagai tempat di dunia. Gempa bumi, gunung meletus, kebakaran hutan dan banjir sudah terjadi dan membuat banyak manusia menderita. Kebanyakan reaksi orang terhadap mereka yang ditimpa bencana ini adalah perasaan simpati dan juga empati. Kedua kata ini bunyinya serupa tapi memiliki perbedaan arti. Simpati menggambarkan perasaan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati berarti dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihannya.

Walaupun kebanyakan orang mudah merasa simpati atas kesedihan orang lain, rasa empati mungkin lebih sukar dirasakan. Karena itu, dalam setiap malapetaka atau kecelakaan, selalu ada orang-orang yang membuat komen yang agaknya bisa terasa kejam atau kurang berperasaan. Ada orang yang berpendapat bahwa kemalangan seseorang adalah sehubungan dengan dosanya, atau sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan. Ada pula yang menertawakan orang lain karena anggapan bahwa kebodohan orang itu yang menjadi sebab malapetaka yang dialaminya. Tetapi bagaimana orang Kristen seharusnya bereaksi atas kemalangan orang lain?

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan ikut menangis dengan orang yang menangis. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Bagaimana kita bisa bersukacita dengan orang yang tidak kita sukai? Dan bagaimana pula untuk menangis dengan orang yang menderita karena kesalahannya sendiri? Walaupun itu tidak mudah, Alkitab jelas mengajarkan bahwa kita tidak boleh bersukacita ketika melihat orang yang tidak kita senangi mengalami kemalangan!

“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok” Amsal 24: 17

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mempunyai hati bagi orang-orang yang ditimpa kemalangan dan bisa menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang mereka alami. Ini bukan hanya untuk saudara-saudara seiman, tetapi juga untuk orang-orang yang tidak kita sukai atau mereka yang membenci kita. Sebagai orang Kristen, jika kita tidak memiliki rasa simpati dan empati kepada orang lain, nama Tuhan akan dipermalukan. Tetapi, jika kita mempunyai kasih dan empati kepada sesama kita, nama Tuhanlah yang akan dimuliakan. Mengapa begitu?

Sebab yang pertama, Tuhan yang mahasuci tidak mendapatkan kegembiraan dalam menghukum orang berdosa, tetapi Ia bersuka cita jika keadilan dapat dilaksanakan untuk memuliakan Dia. Ratapan Yesus atas Yerusalem menunjukkan kepada kita bahwa penderitaan manusia, yang disebabkan oleh kesalahan mereka, bukanlah sesuatu yang disukai oleh Tuhan (Matius 23: 37-39). Meskipun Allah telah menetapkan apa yang akan terjadi pada Yerusalem, kehendak-Nya yang dinyatakan dalam Alkitab membuktikan bahwa Dia tidak bersenang-senang atas kematian orang fasik.

“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” Yehezkiel 33: 11

Kedua, Yesus memberi contoh atas perasaan simpati dan empati yang dimiliki-Nya dalam Yohanes 11: 33–35. Dia sangat tersentuh dan menangis bersama Maria dan yang lainnya setelah Lazarus meninggal. Yesus tahu Dia akan membangkitkan Lazarus dari kematian, tetapi itu tidak menghalangi-Nya untuk ikut dalam kesedihan mereka yang kehilangan. Tangisan Yesus bukanlah tangisan pura-pura, tetapi pencerminan apa yang ada dalam hati-Nya. Sebagai pengikut Yesus, kita harus bisa bersikap seperti Dia.

Ketiga, setiap manusia percaya yang telah diselamatkan sudah mendapat kasih karunia yang besar oleh Allah yang mengurbankan Yesus Kristus, yang mengalami pencobaan dan penderitaan ganti manusia. Sama seperti Allah yang telah menunjukkan belas kasihan yang besar kepada kita, kita harus bisa berbelas kasihan kepada orang lain untuk mencerminkan kasih Allah kepada manusia yang berdosa. Mungkin kita bisa merasa senasib sepenanggungan dengan sesama orang beriman, Tetapi, untuk mempunyai rasa simpati atau empati kepada orang yang memusuhi kita, kita harus ingat atas kasih Tuhan kepada kita.

Bagaimana dengan orang-orang jahat yang melakukan teror dan kejahatan keji dalam masyarakat? Perlukah kita rasa simpati dan empati kepada mereka jika mereka menerima hukuman yang setimpal? Apakah kita harus ikut bersuka cita ketika mereka berhasil melakukan kejahatan dan lolos dari tuntutan hukum? Sudah tentu tidak. Dalam pelaksanaannya, ayat di atas adalah perintah Tuhan untuk ikut bersuka cita dengan mereka yang bersuka cita dalam hal yang baik, dan ikut berduka cita dengan mereka yang menderita karena datangnya hal yang tidak baik.

Memberi simpati dan empati untuk orang yang tidak kita sukai bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam masyarakat yang berbeda ras, budaya dan agama. Tetapi jelas bahwa kita harus belajar dari Yesus. Kita tidak boleh bersukacita karena orang lain mengalami penderitaan dan tidak boleh merasa sedih jika mereka mengalami keberhasilan. Adalah tugas kita sebagai umat Tuhan untuk menyatakan kepada setiap orang bahwa dalam kegembiraan maupun kesedihan, Tuhan yang mahakuasa tetaplah memegang kemudi kehidupan manusia. Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu dan harus disembah.

Kasih Tuhan adalah untuk seisi dunia

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat itu, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa Allah adalah mahakasih. Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih?

Memang benar bahwa sesuai dengan pilihan-Nya, Tuhan bisa dan berhak mengasihi sebuah bangsa lebih dari bangsa lain. Tetapi itu bukan berarti Tuhan mengasihi orang yang satu dan membenci yang lain. Tuhan bisa lebih mengasihi orang tertentu dibandingkan orang yang lain, tetapi secara umum Ia mengasihi setiap manusia. Sebagian manusia memang sampai akhir hidupnya menolak uluran kasihTuhan tetapi itu adalah pilihan mereka sendiri.

Dari Alkitab dan juga sejarah kita bisa menyadari bahwa banyak orang yang tidak mau untuk percaya bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada dan perlu untuk disembah. Mereka memilih untuk hidup bebas menurut apa yang disukai. Tetapi Tuhan tetap mengasihi mereka dan mau memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat. Tuhan juga mengutus Roh Kudus untuk memberi pencerahan kepada setiap orang agar mereka bisa merasakan kebesaran Tuhan dalam alam semesta.

Tuhan sedih jika ada orang yang menolak Dia. Yesus pun pernah menangisi nasib orang Israel yang tidak mau menerima keselamatan. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakasih tidak akan memaksa setiap orang untuk bertobat karena itu bertentangan dengan kasih-Nya. Dengan demikian, walaupun ada banyak orang yang hidup di dunia, tidak semua orang akan diselamatkan. Ini adalah sebuah kenyataan yang seharusnya membawa rasa sedih dalam hati kita.

Tuhan sebenarnya mengasihi semua orang dan segala bangsa, tetapi sebagian orang mengabaikan kasih-Nya yang sudah dinyatakan dalam pengurbanan Yesus. Selain itu, ada juga orang yang sudah mengenal nama Yesus tetapi tidak mau hidup sebagai domba-Nya. Dengan demikian ada banyak domba yang tidak bergembala, yang tersesat, yang akhirnya bisa jatuh ke dalam lembah kekelaman.

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

Selain itu, Tuhan dengan kasih-Nya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membuat seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencana-Nya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencana-Nya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena karena keistimewaan orang-orang itu. Semua orang sudah berdosa dan karena itu perlu diselamatkan.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-domba-Nya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tangan-Nya, diberi-Nya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberi-Nya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Hari ini, biarlah kita bisa bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umat-Nya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka mengambil keputusan untuk mau menjadi pengikut Kristus.

Bolehkah kita bersikap skeptis?

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” 1 Yohanes 4: 1

Di dunia ini selalu ada saja persoalan yang muncul. Pandemi ini belum bisa diatasi, tetapi persoalan lain sudah muncul. Anda mungkin mendengar kabar bahwa ada kemungkinan perang besar akan terjadi lagi di Eropa, yang disebabkan oleh buruknya hubungan antara Rusia dan Ukraina. Selain itu, berbagai teori konspirasi sekarang ini bermunculan dalam dunia internet. Kabar bahwa pemimpin tertentu atau pemerintah tertentu akan mengorbankan banyak manusia demi mencapai tujuan mereka.

Dalam hidup manusia di dunia memang ada berbagai kejadian yang tidak mudah dimengerti. Bagaimanapun pandainya manusia, selalu ada hal-hal luar biasa yang membuat mereka takjub atau heran. Tidak hanya hal-hal yang jasmani, tetapi juga dalam segi rohani orang bisa melihat atau merasakan sesuatu yang luar biasa pada saat-saat tertentu dalam hidupnya. Dalam hal ini, setiap orang tentunya bebas untuk memilih untuk percaya atau tidak bahwa itu benar-benar peristiwa yang luar biasa.

Seorang yang bersifat skeptis biasanya cenderung untuk mengabaikan apa yang dipandang luar biasa oleh orang lain. Sebagai contoh, Tomas yang tidak percaya bahwa Yesus sudah bangkit jika ia tidak mencucukkan jarinya ke lubang paku di tangan Yesus (Yohanes 20: 25). Tomas berbeda dengan murid-murid Yesus yang lain, oleh sebab itu sering dijadikan contoh orang Kristen yang kurang beriman. Walaupun demikian, datangnya Yesus di tengah-tengah murid-murid-Nya, dan perintah-Nya kepada Tomas untuk mencucukkan jarinya ke lubang di tangan dan di lambung Yesus, membuktikan bahwa Ia peduli kepada orang yang skeptis, orang yang membutuhkan suatu “bukti” bahwa Yesus itu hidup.

Ucapan Yesus kepada Tomas: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20: 29) sekarang menjadi peringatan kepada mereka yang ragu-ragu akan kenyataan bahwa Yesus sudah menang atas maut. Bahwa Yesus adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menebus orang yang percaya. Dengan itu, kebanyakan orang Kristen mempunyai pandangan negatif atas sikap atau sifat manusia yang skeptis. Seolah skeptisisme haruslah dihindari. Oleh karena itu juga, orang yang belum percaya sering menganggap orang Kristen adalah orang yang bodoh, yang sering menerima kabar apa saja tanpa memikirkan benar tidaknya.

Dalam ayat di atas, rasul Yohanes menulis bahwa sebagai tanda makin dekatnya akhir zaman, ada banyak orang yang mengaku sebagai utusan Tuhan dan pergi ke seluruh dunia. Mereka seolah membawa pesan atau injil baru kepada dunia dan melakukan berbagai hal yang ajaib. Orang-orang yang terpesona dengan pengajaran yang kelihatannya luar biasa, apalagi jika diiringi mujizat yang lebih besar dari apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dengan mudah akan percaya bahwa mereka sudah menemukan sesuatu yang benar-benar dari Tuhan.

Dalam hal lain, manusia sering tidak sadar bahwa apa yang didengar dan dilihat belum tentu benar. Jika iblis menipu manusia, ia bisa memakai berbagai cara dan ilusi. Iblis adalah biang kekacauan. Kita dalam keterbatasan yang ada, mudah tertipu dengan apa yang nampaknya benar, istimewa dan indah. Apalagi, jika kita terbuai dengan keyakinan bahwa adanya orang-orang yang mempunyai pengertian yang luar biasa, kita kemudian mudah percaya bahwa mereka menyampaikan kebenaran. Jelas, bahwa orang Kristen tidak boleh meninggalkan kemampuan untuk bersikap skeptis terhadap apa yang tidak benar, bukan saja mengenai aspek rohani, tetapi juga tentang hal jasmani atau apa yang terjadi sehari-hari.

Hari ini mungkin kita bisa melihat bahwa ada banyak hal yang terlihat luar biasa yang dilakukan orang-orang di dunia. Ada yang terlihat hebat dalam kepemimpinan atau penampilan mereka. Ada juga yang sepertinya luar biasa dalam hal pengetahuan, kebijaksanaan, kedermawanan, dan kesuksesan. Selain itu, ada orang-orang yang mampu memberi motivasi dan nasihat yang membawa semangat baru. Begitu juga ada banyak orang yang bisa berkhotbah dan membawakan firman yang bernada baru dan melakukan berbagai mujizat. Begitu banyak orang pandai yang memperkenalkan pengetahuan yang baru yang bisa membuat orang lain ikut merasa pandai. Bagaimana kita bisa tahu kalau semua itu memang benar? Bagaimana kita bisa menghindari jebakan kepalsuan?

Mereka yang benar-benar bisa mengajarkan kebenaran adalah orang-orang yang tidak mengambil untung dalam kekacauan. Setiap manusia yang nampaknya bisa melakukan hal yang hebat tetapi tidak mempunyai kebenaran, ia melakukan hal-hal duniawi untuk keuntungan dirinya sendiri. Apa yang diperbuat mereka berbeda dengan apa yang dilakukan Kristus selama hidup di dunia.

“Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.” 1 Yohanes 4: 5

Sebaliknya, umat percaya yang sudah dimiliki Roh Kristus, menjadi milik Kristus; dan karena itu, apa yang diperbuat dalam hidupnya, sekalipun nampaknya kecil, adalah dari Kristus dan untuk kemuliaan Kristus. Mereka yang mempunyai Roh Kristus juga akan sadar bahwa Yesus datang ke dunia sebagai manusia dengan segala kesederhanaan-Nya. Karena itu sebagai orang Kristen kita harus tetap berhati-hati dalam hidup di dunia, tidak terjebak ke dalam hal-hal yang palsu dan tidak benar, dan bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk.

Antara kemauan dan kenyataan

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19

Siapakah yang bertanggung jawab atas hidup kita? Tentu saja tiap orang harus bertanggung jawab atas hidupnya. Sekalipun ada orang yang mempersalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan Tuhan atas apa yang dialaminya, secara umum tiap orang harus bertanggung jawab atas hal yang baik maupun apa yang buruk dalam hidupnya.

Setiap orang akan menuai apa yang apa yang ditaburnya, begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Walaupun demikian, ada saja orang yang tidak peduli akan apa yang dilakukannya. Salah atau benar, mereka tidak peduli akan apa yang diperbuatnya. Aku adalah aku, kata mereka.

I am what I am. Sekalipun slogan ini mempunyai maksud baik, yaitu untuk memberi rasa percaya diri kepada orang-orang yang karena keadaan jasmani atau cara hidup mereka dipandang rendah atau dikucilkan masyarakat, sebenarnya tidak ada orang yang bisa berkukuh dengan cara hidupnya dan yakin bahwa apa yang ada sudahlah baik dan tidaklah perlu diubah.

Mungkin anda ingat bahwa ketika Musa diutus Allah untuk memimpin umat Israel, pada waktu itu ia menemui Allah yang menampilkan diri sebagai api di tengah semak duri. Musa kemudian menanyakan nama apa yang bisa dipakainya untuk menjelaskan bani Israel tentang siapa Allah itu. Allah kemudian menjawab bahwa nama-Nya adalah “Aku adalah Aku” (Keluaran 3: 14), yang mungkin bisa diartikan sebagai “Aku yang tidak ada tandingannya”. Dengan demikian, slogan “aku adalah aku” tidaklah tepat untuk dipakai manusia, karena untuk manusia yang tidak sempurna.

Jauh dari sempurna, manusia adalah makhluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapa pun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Hidup lama untuk dunia haruslah diubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah makhluk istimewa dan tidak memerlukan Tuhan. Makhluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.

Sering kali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Sekalipun kita mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang baik, dalam kenyataannya kita justru sering berbuat jahat. Jika sejak lahir manusia harus terus belajar untuk bisa berbuat baik, manusia mudah untuk berbuat jahat sekalipun tanpa harus belajar. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita. Kita harus mau melepaskan diri dari tuntutan manusia dan kemudian menjadi hamba Kristus. Kita tidak lagi mencari kesukaan manusia, tetapi apa yang disukai Tuhan (Galatia 1: 10). Itu dimungkinkan karena Tuhan sudah memberi Roh Kudus yang membimbing kita.

Hari ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikut-Nya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita karena kasih-Nya. Sebaliknya, kita harus mau mengikut Yesus, agar makin hari kita bisa makin sempurna di dalam Dia.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23

Mencari keberhasilan dan keberuntungan

“Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” Yosua 1:7-9 TB

Kebahagiaan. Sukacita. Sesuatu yang dicari semua orang, tetapi yang sangat sulit ditemukan. Kebahagiaan dicari banyak orang dan dengan demikian, banyak guru, orang pandai, dan motivator yang mengajarkan bagaimana cara memperolehnya. Menurut mereka, kitalah yang bertanggung jawab untuk bisa membuat diri sendiri berbahagia. Kebahagiaan bergantung pada kemauan kita dan reaksi kita terhadap orang-orang dan suasana di sekitar kita.

Berbeda dengan pandangan umum, untuk orang Kristen, kebahagiaan diakui sebagai berkat Tuhan. Tetapi, itu sering kali dikaitkan dengan keberuntungan dan keberhasilan yang kita terima dari-Nya. Dengan demikian, rasa sedih kadang bisa muncul kalau keinginan kita tidak tercapai. Apakah Tuhan hanya memberikan berkat istimewa untuk orang-orang tertentu seperti Yosua?

Memang ada banyak orang Kristen yang hidup dalam kemakmuran. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan untuk orang lain yang berada dalam penderitaan. Tetapi untuk mereka sendiri tentunya mereka sering meminta agar Tuhan tetap membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka.

Berkat (blessing) memang satu hal yang dikejar manusia sejak dulu. Berkat sebenarnya adalah pernyataan yang berisi harapan untuk kebahagiaan, yang diucapkan seseorang kepada yang orang lain. Tradisi berkat memberkati antar manusia adalah sesuatu yang baik. Berkat  bermula dari orang yang punya hubungan erat dengan orang lain. Berkat adalah untuk kebaikan orang yang diberkati dan berguna untuk memperkuat hubungan kedua orang itu. Berkat juga ditanggapi dengan rasa terima kasih kepada orang yang memberkati. Lebih dari itu, berkat membuat orang yang diberkati mau memberkati orang lain.

Berkat Tuhan yang semula untuk umat manusia, adalah agar mereka mengalami kebahagiaan di dalam Dia. Berkat Tuhan tidak selalu berupa kenyamanan tetapi bisa berupa berbagai pengalaman hidup yang selalu berguna untuk kebaikan anak-anak-Nya. Karena dosa, berkat materi dari Tuhan sering disalah gunakan dan ditonjolkan manusia sehingga menimbulkan salah pengertian, padahal kita seharusnya bisa memfokuskan diri pada kebesaran,  kasih dan maksud baik-Nya dalam hidup kita.

Sesungguhnya, hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Hidup yang terasa tenteram tidak boleh menyebabkan kita lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh ke dalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh ke dalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apa pun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca Firman, dan jauh dari Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk. Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas atau menjijikkan, karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh.

Banyak orang Kristen yang berdoa untuk kesuksesan dan kemakmuran, tetapi mungkin jarang yang berdoa untuk meminta sukacita. Herannya, mereka sering mengucapkan “semoga anda berbahagia” kepada orang lain. Mungkin ada keseganan dan rasa malu jika orang berdoa untuk kebahagiaan karena seyogyanya semua orang Kristen berbahagia. Kenyataannya adalah bahwa semua orang pernah mengalami saat-saat dimana kelihatannya hanya kesusahan yang ada.

Satu hal yang sangat penting yang mungkin tidak dikenal oleh orang yang belum beriman adalah bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari kita sendiri. Berlawanan dengan ajaran agama lain dan teori manusia, kebahagiaan sejati sebenarnya berasal dari Tuhan. Dalam bahasa Yunani, kata kebahagiaan atau sukacita diterjemahkan sebagai “chara” yang berhubungan dengan kata “charis” yang berarti karunia. Kita tidak dapat merasakan sukacita dengan usaha sendiri, tetapi jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, mata rohani kita bisa terbuka untuk melihat betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Kebahagiaan atau sukacita adalah karunia Tuhan.

Kemampuan untuk melihat hidup dari perspektif yang benar tidaklah dimiliki semua orang. Orang yang bisa benar-benar merasa bersyukur atas hidup mereka tidaklah besar jumlahnya. Kebanyakan orang lebih mudah berfokus kepada apa yang mereka harapkan atau ingini, daripada bersyukur atas apa yang ada. Untuk orang Kristen, kebahagiaan akan datang ketika kita menyadari betapa besar karunia Tuhan dalam hidup kita sekalipun kita sekarang berada dalam kesulitan. Kebahagiaan akan muncul kalau kita bisa merasa cukup dan tidak menguatirkan hal-hal yang di luar kemampuan kita.

Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberikan karunia sukacita kepada kita yang percaya, agar kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, dan juga bisa memancarkan sukacita ini kepada orang yang di sekitar kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Jangan jemu berbuat baik selama hidup

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Galatia 6: 9

Dalam sebagian filsafat timur sering dikatakan bahwa kekuatan baik dan kekuatan jahat itu ada dalam diri tiap manusia, yang senantiasa bertarung, berebut pengaruh. Jika kekuatan baik lagi di atas angin, orang tersebut akan mempunyai tingkah laku yang baik. Sebaliknya, jika kekuatan jahat yang lebih kuat, orang itu akan berbuat jahat tanpa bisa menghindarinya.

Dalam kalangan Kristen, ada orang yang percaya bahwa dalam diri manusia itu tidak ada kebebasan untuk memilih. Semua yang dikerjakan atau dialami manusia sudahlah ditentukan oleh Tuhan sejak mulanya. Jika manusia berbuat jahat mereka bertanggung jawab, tetapi jika mereka berbuat baik itu hanya dimungkinkan oleh Tuhan. Itu karena manusia pada hakikatnya sudah tidak mempunyai apa pun yang baik. Karena itu mereka akan berbuat jahat jika Tuhan tidak menentukan mereka untuk berbuat baik.

Memang dalam kehidupan manusia selalu dihadapkan pada pilihan akan hal yang baik dan buruk. Walaupun demikian, sering kali orang mempunyai berbagai ragam pengertian tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam usaha untuk mencapai suatu hasil. Ayat di atas menganjurkan agar kita untuk tidak berhenti berbuat baik, karena jika kita tetap bersemangat apa yang baik akan terjadi. Kita diajak untuk selalu memilih apa yang baik, agar kita dapat menikmati hasilnya jika kita taat kepada firman-Nya. Dengan demikian, tentunya Tuhan sudah memberikan umat-Nya kebebasan untuk menggunakan hati dan pikiran mereka untuk memilih tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ini bukanlah mudah untuk dilakukan dengan kekuatan sendiri.

Dalam memilih apa yang baik, ada orang yang melihat dari segi maksud, ada yang menimbang dari segi cara, dan ada juga yang memikirkan hasilnya saja. Sebagai contoh, orang mungkin mempunyai maksud atau iktikad yang baik tetapi menggunakan cara yang kurang baik. Orang itu bisa saja tidak merasa bersalah karena ia yakin bermaksud baik. Menurut pemikiran orang ini,

baik + buruk = baik

Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang Kristen dan gereja yang terjebak dalam tindakan yang tidak baik karena adanya maksud baik.

Selain itu, jika ada orang yang mempunyai maksud buruk tetapi menggunakan cara yang tidak melanggar hukum, apa pun hasilnya orang itu tidak akan merasa bersalah.

buruk + baik = baik

Ada juga orang yang mempunyai maksud buruk dan menggunakan cara yang buruk, tetapi hasilnya terlihat baik dalam pandangan masyarakat.

buruk + buruk = baik

Orang ini mungkin bangga bahwa ia mencapai kesuksesan!

Bagi kita orang Kristen, konsep tentang kebaikan adalah didasarkan pada firman Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak bisa dikecoh. Alkitab mengatakan bahwa apa yang jahat adalah jahat, dan dosa tidaklah dapat dicampur dengan apa yang baik untuk memperoleh hasil yang baik. Apa yang buruk tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Hasil yang terlihat baik tidak dapat dicapai dengan cara-cara yang buruk. The ends do not justify the means. Kita harus hidup dalam kebenaran pada setiap waktu dan keadaan.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 15 – 16

Dalam kenyataan hidup, orang yang senang melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan biasanya tidak ingin mendengar firman Tuhan dan memahaminya. Itu karena firman Tuhan adalah seperti terang yang membuat kekeliruannya terlihat jelas. Sebaliknya, mereka lebih senang untuk hidup dan berteman dengan orang-orang yang sepaham. Mereka berusaha keras untuk mencapai hasil yang mereka inginkan, yang mereka pandang baik, dengan cara apa pun.

Dalam hal ini, hukum dunia dan pandangan manusia mungkin membenarkan semua itu berdasarkan hak asasi dan keadilan hukum setempat. Tidaklah mengherankan bahwa adanya legalisasi hal-hal seperti pernikahan sesama jenis dan aborsi di banyak negara, bisa membuat orang Kristen kurang berani menyatakan firman Tuhan dan bahkan merasa lelah dan jemu untuk berusaha menegakkan kebenaran-Nya.

Hari ini, panggilan Tuhan kepada kita adalah untuk tetap berjuang menegakkan kebenaran-Nya. Sebagian di antara kita mungkin menyambut panggilan ini dengan kerinduan dan semangat. Tetapi mungkin ada juga orang-orang yang merasakan keseganan dan keraguan. Mereka kuatir kalau-kalau usaha mereka untuk berjalan dalam kebenaran membuat mereka dimusuhi atau disudutkan oleh masyarakat. Mereka kuatir kalau-kalau dianggap munafik atau pembenci sesama. Walaupun demikian, kita tidak boleh segan atau gentar. Memang kegelapan tidak bisa bercampur dengan terang, dan kegelapan membenci adanya terang, tetapi terang Tuhanlah yang pada akhirnya akan menang jika kita tidak menyerah.

“Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Yohanes 3: 20 – 21