Kelahiran Yesus membawa pengampunan

“Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 22 – 23

Hari ini saya mendapat kiriman sebuah cuplikan video yang mengambarkan bagaimana para koruptor di sebuah negara di Asia dipaksa untuk berbaris di depan umum sebelum dieksekusi. Terlepas dari kesalahan para koruptor itu, pada umumnya mereka yang hidup di dunia barat memandang perlakuan terhadap para narapidana yang sudah divonis mati seperti itu sudah di luar batas-batas perikemanusian.

Beberapa orang Kristen berpendapat bahwa hukuman mati tidak pernah dapat dibenarkan. Mereka akan mengatakan ini karena:

  • Mereka percaya Yesus Kristus datang ke dunia untuk mereformasi orang-orang berdosa, seperti yang Ia lakukan terhadap wanita yang tertangkap basah berzinah dalam Yohanes 8:1-11.
  • Yesus mengubah ajaran Perjanjian Lama tentang pembalasan dalam Matius 5:38-39 ketika Ia berkata: Kamu telah mendengar firman: “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”
  • Orang Kristen percaya pada kesucian hidup, bahwa hidup itu suci dan milik Tuhan dan karena itu hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk mencabut nyawa. Dalam Roma 12:17-19 dikatakan: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

Selain hal-hal di atas, hukum kedua yang disebutkan Yesus dalam Matius 22: 39 berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Setiap orang yang mempunyai pikiran yang sehat tentunya tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya, dan seperti itulah ia harus mengasihi orang lain. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Memang biasanya orang tidak mudah mengasihi orang lain karena adanya perasaan bahwa orang lain tidak pantas untuk dikasihi. Apalagi, jika orang lain itu sudah terbukti pernah melakukan kekejian, mungkin ada perasaan dalam hati kita bahwa orang itu sebaiknya tidak dibiarkan hidup. Lebih dari itu, kita mungkin berharap agar Tuhan membinasakan orang tersebut. Benarkah sikap ini? Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat begitu.

Tidak dapat dihindari bahwa terkait dengan hukuman pidana mati, terdapat dua pandangan yakni yang mendukung dan yang menolak diterapkannya hukuman pidana mati. Bagi yang mendukung (menerima) diterapkannya hukuman pidana mati, dasarnya adalah penjahat yang telah melakukan kejahatan pantas dihukum, bahkan dengan hukuman mati. Hukuman mati pada hakikatnya merupakan pembalasan. Seseorang mungkin percaya bahwa ia adalah abdi Allah dan berhak menjalankan hukuman Allah kepada mereka yang melakukan kejahatan, dan begitu juga Allah memberi kuasa kepada negara untuk menghukum bagi siapa saja yang berbuat kejahatan. Dalam perwujudan akan hal tersebut dituangkan dalam bentuk undang-undang, yang sering sesuai dengan pandangan agama yang diyakini.

Di sisi lain, bagi yang menolak (tidak setuju) diterapkannya pidana mati beralasan bahwa hukuman mati tidaklah efektif dalam menangani kejahatan, dan karena itu hukuman seumur hidup lebih tepat digunakan daripada hukuman mati. Selain itu, hukuman mati berarti menutup kesempatan bagi narapidana untuk bertobat dengan alasan Tuhan sudah menghendakinya.

Dalam pandangan sebagian orang Kristen yang lain, adanya hukuman bukanlah suatu pembalasan, walaupun hukuman diperlukan untuk mengurangi adanya kejahatan. Hukuman seberat apa pun tidak akan menghentikan adanya kekejian. Itu terbukti ketika Adam dan Hawa melanggar larangan Allah di taman Firdaus. Selanjutnya dalam pandangan mereka, orang Kristen seharusnya dapat mengampuni karena Allah mau mengampuni mereka yang berdosa seberat apa pun (Yesaya 1: 18).

Dilema antara pro dan kontra hukuman mati mungkin mirip dengan apa yang dialami dokter yang harus memutuskan untuk menghentikan mesin pembantu jantung atau pernafasan dari seorang pasien yang sakit parah. Tetapi, jika dokter sudah tidak bisa menolong lagi, dan keajaiban ilahi tidak terjadi, apakah yang bisa dilakukan? Dalam hal ini, mungkin bisa diterima bahwa sang pasien sudah waktunya untuk meninggalkan dunia. Pada pihak yang lain, seorang penjahat yang segar bugar tentu saja bisa bertobat jika Tuhan menghendakinya. Dengan demikian, jika kita memutuskan bahwa orang itu harus dihukum mati, kita sudah mencoba berperan sebagai Tuhan.

Mengapa kita harus bisa untuk tetap menghargai nyawa orang yang berbuat keji? Mengapa kita harus mengasihi orang yang hidup dalam dosa? Mereka tidak pantas untuk dikasihi, begitu mungkin pikiran kita. Dengan kata lain, kita tidak mengasihi mereka karena kita yakin bahwa mereka tidaklah sebaik diri kita. Pandangan semacam ini sudah tentu bukanlah pandangan Yesus. Selama hidup di dunia Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada orang yang terasing dari masyarakat, marginalised people, seperti orang yang sakit kusta, pelacur, pemungut cukai dan penjahat. Yesus mengasihi mereka sebelum mereka mengasihi Dia. Yesus mengasihi mereka sekalipun mereka belum menjadi pengikut-Nya. Tuhan pun mengasihi kita ketika kita masih berada dalam dosa dengan mengirimkan Yesus untuk mati bagi kita (Roma 5: 8).

Satu hal yang sering dilupakan orang adalah fakta bahwa jika Yesus mengasihi semua umat manusia, Ia membenci dosa mereka. Kepada seorang perempuan yang berzinah Ia berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8: 11). Seperti itu jugalah, setiap orang percaya harus berusaha untuk tetap hidup sesuai dengan firman-Nya. Setiap orang percaya juga harus bisa bersikap seperti Yesus: mengasihi sesama manusia tetapi membenci dosa mereka. Manusia tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, tetapi dalam hukum kasih mereka tetap harus menghindari dosa.

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” Roma 6: 15

Membenci dosa tetapi tetap mengasihi orang yang berdosa adalah sesuatu yang diajarkan Alkitab. Ayat pembukaan kita berkata bahwa kita harus bisa menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu akan jalan kebenaran Tuhan, tetapi mau menyelamatkan mereka dari kematian dengan jalan merampas mereka dari api penghukuman. Kata “merampas” menyatakan bahwa ini bukanlah tugas yang ringan karena sering kali mengundang permusuhan dengan orang yang merasa bahwa mereka yang dipandang jahat itu sudah tidak pantas untuk menerima pengampunan Tuhan.

Hari ini, seminggu sebelum Natal, kita harus ingat bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus manusia yang berdosa. Sebagai orang yang sudah diselamatkan dari kematian, kita harus berani untuk menyatakan apa yang jahat sebagai kejahatan yang dibenci Tuhan. Tetapi, kita harus juga bisa menyatakan belas kasihan yang disertai ketakutan bahwa apa yang mereka perbuat akan mencelakakan hidup mereka, dengan membenci apa yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa mereka. Sebagai orang Kristen, kita yakin akan apa yang harus kita kasihi (sesama manusia) dan apa yang harus kita benci (dosa). Adalah kewajiban bagi semua umat Kristen untuk menyatakan kepada seisi dunia bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahasuci, yang tidak dapat dipermainkan manusia.

Sehat karena takut akan Tuhan

Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 3: 1-2

Bagi anda yang suka mendengarkan lagu jazz, mungkin nama Amy Winehouse tidaklah asing. Amy Jade Winehouse (lahir 14 September 1983) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu soul, jazz, dan R&B dari Inggris. Amy Winehouse adalah pemenang Ivor Novello Awards dua kali, dan memperoleh BRIT Awards untuk penyanyi wanita terbaik di Inggris.

Amy Winehouse sebagai seorang anak dari keluarga Yahudi pergi ke sekolah Yahudi. Setelah dia menjadi terkenal, dalam satu wawancara dia mengatakan bahwa dia dulu memohon kepada ayahnya untuk mengizinkannya untuk tidak pergi ke sekolah itu karena di sana dia tidak belajar apa-apa tentang bagaimana untuk menjadi orang Yahudi. Selanjutnya, Amy mengatakan dia hanya pergi ke sinagoga setahun sekali di saat Yom Kippur “karena rasa hormat”. Pada usia belasan tahun, Amy sudah menjalani hidup dalam kebebasan dunia.

Amy meninggal pada usia 27 tahun tanggal 23 Juli 2011 di rumahnya di London. Penyelidikan resmi menyimpulkan bahwa tewasnya Amy disebabkan oleh keracunan alkohol setelah menenggak terlalu banyak minuman keras. Memang, dalam hidupnya yang relatif singkat itu, Amy sudah mengalami berbagai badai kehidupan yang secara pelan-pelan menghancurkan kesehatan dan karirnya.

Tidak dapat disangkal bahwa kesehatan adalah hal yang paling diutamakan oleh kebanyakan manusia di zaman ini. Dengan majunya pendidikan dan ekonomi, manusia menyadari bahwa mereka dapat berusaha untuk memelihara kesehatan mereka dengan berbagai cara seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup sehat, lingkungan sehat, menghindari stress dan sebagainya. Walaupun demikian, banyak orang yang belum tahu bahwa Alkitab adalah sebuah buku terbaik yang mengajarkan hal kesehatan menurut Firman Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa hidup manusia dan kesehatan adalah pemberian Tuhan. Sesuai dengan kitab Kejadian, kita harus sadar bahwa hidup manusia terjadi semata-mata oleh kasih Tuhan. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia dan memberikan apa yang diciptakan-Nya di alam semesta untuk dikelola dan dinikmati manusia. Karena itu, kita juga harus menghargai hidup dan kesehatan kita karena itu sebenarnya milik Tuhan.

Dalam Alkitab kita juga bisa menyadari bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah. Roh tinggal dalam tubuh kita selama kita masih di dunia. Karena itu, tubuh kita adalah rumah Tuhan yang harus kita pelihara dan hormati. Kesehatan tubuh tidak boleh diabaikan karena menelantarkan tubuh berarti merusak bait Allah.

Alkitab juga menulis bahwa tiap orang dikaruniai dengan kemampuan, keadaan dan berkat-berkat yang berbeda, sesuai dengan rancangan dan kehendak Tuhan. Karena itu, semua orang mempunyai wajah, penampilan, dan juga faktor genetik yang berbeda. Di dunia yang fana ini berbagai penyakit ada, dan itu bersama faktor lingkungan akan bisa memengaruhi kesehatan kita sesuai dengan apa yang kita punyai. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk kita menyesali keadaan dan membenci Tuhan karena tiap orang harus menerima keadaan masing-masing, memelihara dan mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

Apa pun yang kita lakukan dalam hidup kita bisa memengaruhi kesehatan kita. Membina karir adalah sesuatu yang baik, tetapi jika manusia sudah diperbudak kenikmatan hidup, keberhasilan dan karir, bahaya kehancuran akan mendatangi. Hidup kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan ilah-ilah lain yang tidak dapat menambah umur kita satu hari pun.

Manusia sering dalam kelemahannya, berusaha mengingkari kodrat Ilahi dengan menutupi masalah kesehatan dan proses penuaan yang ada. Berbagai perawatan tubuh, kosmetik maupun medis, sekarang sangat populer, sekadar untuk menipu penglihatan manusia. Selain itu, penampilan pakaian dan gaya hidup mungkin diusahakan sebagian orang untuk mengecoh pengaruh umur. Tetapi Tuhan melihat hati dan bukan tampak luar kita. Tuhan bisa melihat hidup macam apa yang kita jalani.

Alkitab menulis bahwa manusia diciptakan dari debu dan kemudian Allah meniupkan nafas kehidupan-Nya, yang membuat manusia bisa hidup sebagai peta dan teladan-Nya. Sayang, karena dosa semua manusia harus kembali menjadi debu pada akhirnya. Walaupun demikian, mereka yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan roh mereka akan pergi ke surga. Karena itu, walaupun kesehatan jasmani adalah penting dan berguna untuk hidup di dunia, Tuhan lebih menekankan jiwa kita yang harus kita pelihara sesuai dengan firman-Nya.

Dengan ketaatan pada perintah-perintah Allah, kesehatan dan kedamaian hati dan pikiran akan dapat dinikmati secara umum. Dan meskipun hari-hari kita mungkin tidak lama lagi di bumi, kita boleh berharap akan hidup abadi di surga. Kita harus percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita, percaya bahwa Dia mampu dan bijaksana untuk melakukan yang terbaik. Mereka yang mau menerima kenyataan hidup, akan mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, yang mudah patah jika bersandar pada kekuatan dan kebijaksanaan sendiri.

Dengan demikian, sebagai manusia kita tidak boleh merancang apa pun kecuali apa yang berkenan kepada Tuhan, dan mohon kepada Tuhan untuk membimbing kita dalam setiap persoalan, meskipun itu mungkin tampak sangat mudah untuk kita selesaikan. Dalam semua keberhasilan yang kita capai, kita harus mengakui bimbingan Tuhan dengan rasa syukur. Sebaliknya, dalam semua hal yang tak terasa nyaman, kita harus menerimanya dengan ketundukan. KIta harus ingat bahwa Tuhan akan mengarahkan jalan kita; sehingga jalan itu akan aman dan baik, dan membawa kebahagiaan pada akhirnya.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3: 7-8

Hal tunduk kepada pemerintah

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Roma 13: 4

Akhir-akhir ini di beberapa negara Barat terjadi beberapa hal yang kurang menyenangkan. Media melaporkan adanya insiden di mana banyak orang berdemonstrasi menentang tindakan pemerintah yang mengharuskan rakyat untuk menerima vaksinasi Covid-19. Walaupun adanya demonstrasi adalah bagian dari demokrasi, dan dalam batas-batas hukum tidak dilarang, sering kali ini memberi kesempatan bagi kaum ekstrimis untuk ikut beraksi. Dalam hal ini, beberapa orang kemarin ditangkap oleh polisi di Jerman berkaitan dengan adanya usaha untuk membunuh gubernur daerah Saxony.

Di negara demokrasi, rasa hormat kepada orang yang berkuasa atau para pemimpin memang diharapkan dari setiap anggota masyarakat. Tetapi, biasanya penghormatan itu tidak selalu harus berdasarkan hukum. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan etika dan kebiasaan. Walaupun demikian, ada kecenderungan akhir-akhir ini bahwa rakyat, terutama kaum muda, kurang puas dengan apa yang diperbuat para pemimpin, dan kemudian melakukan ha-hal yang tercela.

Ayat di atas menyatakan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan rakyatnya. Tuhan yang menghendaki adanya ketertiban menyuruh  seluruh umat-Nya untuk menghormati etika, peraturan, dan hukum negara dan menghormati mereka yang berkuasa. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia. Karena itu, kita harus bisa memberi contoh yang nyata bagaimana kita menghormati mereka yang berwenang (authority).

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Sayang sekali bahwa di zaman modern ini, ada kecenderungan manusia di mana saja untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang seharusnya mempunyai otoritas atas beberapa segi kehidupan mereka. Kecenderungan untuk memberontak mulai muncul sejak saat mereka masih kecil, dan bertambah besar ketika mereka menjadi orang dewasa. Itu mungkin akibat cara mendidik orang tua atau pengaruh teman sebaya, dan juga karena mereka tidak mau tunduk kepada orang-orang yang “otoriter”.

Otoritas dan otoriter adalah dua kata yang bunyinya mirip tapi berbeda artinya. Biasanya kedua kata ini dipakai sehubungan dengan pemerintahan, tetapi juga bisa dikenakan kepada individu. Baik individu maupun pemerintah bisa mempunyai otoritas dan bisa bertindak secara otoriter.

Otoritas bisa mempunyai banyak arti. Sering kali kata itu diartikan sebagai kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya. Tetapi kata itu juga bisa diartikan sebagai hak untuk bertindak; kekuasaan; wewenang; atau hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain

Dalam hidup ini kita bisa melihat orang-orang dan pemerintah yang menggunakan otoritas yang dimiliki mereka untuk mengatur dan memimpin dalam masyarakat, tetapi ada juga mereka yang menggunakan otoritas mereka secara otoriter dan sewenang-wenang untuk mencari untung. Bahkan dalam sejarah ada pemerintah yang melakukan genosida dan hal-hal yang jahat lainnya. Selain itu, ada pemerintah yang melarang pemberitaan Injil. Bagaimana kita sebagai orang Kristen harus bersikap? Rasul Petrus dengan tegas menjawab:

“Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Kisah 5: 29

Hari ini kita melihat bahwa Alkitab hanya memberi satu kemungkinan bagi umat Kristen untuk melawan otoritas penguasa jika mereka dengan otoriter menghalahgi kita untuk taat kepada firman-Nya. Dalam hal-hal lain, kita harus tunduk kepada otoritas pemimpin dan penguasa. Itu karena Tuhan mengharuskannya untuk kebaikan kita sendiri. Ini berarti, dalam banyak hal kita harus tunduk kepada peraturan pemerintah, mengenai pajak, pendidikan, obat-obatan, dan sebagainya. Ada banyak hal-hal semacam itu yang tidak dibahas secara langsung dalam Alkitab, tetapi kita harus bisa menilainya secara obyektif dengan bimbingan Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita.

Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” Roma 13: 5

Berdoa syafaat tidaklah mudah

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” 1 Timotius 2: 1 – 4

Apakah doa syafaat itu? Doa syafaat (bahasa Inggrisnya intercession) adalah salah satu bentuk doa yang sering ditemui dalam kehidupan bergereja. Secara singkat doa syafaat adalah saat manusia berdoa atas nama orang lain. Mungkin jemaat sering menyebutnya sebagai ‘doa untuk orang lain’, termasuk di dalamnya mendoakan bangsa dan negara, mendoakan orang orang yang menderita di tempat lain/negara lain, mendoakan umat beragama lain. Sudah tentu, untuk bisa mendoakan orang lain kita perlu untuk tahu bagaimana keadaan orang lain yang ingin kita doakan.

Untuk bisa tahu apa yang perlu didoakan, tentunya kita harus peduli akan keadaan orang lain. Mereka yang tidak peka atau tidak peduli akan keadaan orang lain tentunya hanya tahu keadaan diri atau kelompok sendiri. Mereka yang hanya mempunyai kepedulian, kasih dan belas kasihan untuk golongan sendiri, sudah tentu tidak tertarik untuk mengetahui masalah orang lain. Mereka yang hanya tahu kebutuhan diri sendiri akan canggung untuk berdoa untuk gereja, negara, atau dunia.

Haruskah kita selalu mendoakan orang lain dalam doa-doa kita? Barangkali secara individual, orang kurang siap untuk berdoa syafaat. Di gereja, jemaat mungkin hanya berdoa syafaat karena ada pendeta yang memimpin doa, sesuai dengan liturgi gereja. Secara individu, biasanya orang Kristen kurang mau atau mampu untuk mendoakan orang yang tidak benar-benar dikenalnya. Dalam hal ini, kita memang lebih mudah untuk mendoakan diri sendiri atau sanak keluarga karena hubungan yang dekat dan juga karena kita merasa terbeban atas persoalan dan kebutuhan mereka. Tetapi, Tuhan yang mengasihi semua orang tentunya mau agar kita juga mengasihi siapa pun, bukan hanya sanak, teman dan orang yang kita kenal saja.

Ayat di atas adalah tulisan Paulus untuk rekannya yang jauh lebih muda, Timotius. Paulus pertama-tama menasihatkan Timotius agar ia menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar semua orang dapat hidup tenang dan tenteram. Itu bukan doa untuk orang Kristen saja dan bukan juga doa untuk orang yang kita kenal saja. Itu adalah doa untuk semua orang, dari semua bangsa dan semua kedudukan. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah yang mahakasih mau agar kita membagikan kasih-Nya untuk semua orang agar mereka bisa mengenal Dia.

Doa untuk orang lain bukan saja membawa kebaikan untuk mereka. Doa syafaat juga mengingatkan bahwa bukan kita yang memiliki Allah, tetapi Allahlah yang memiliki kita. Bukan kita yang memilih Dia, tetapi Ia yang memilih kita. Dengan demikian, kita tidak boleh memonopoli kasih Allah atau merasa bahwa doa kita hanyalah untuk mereka yang sudah diselamatkan. Kita harus sadar bahwa Tuhan bekerja di antara umat manusia untuk membawa lebih banyak orang menuju ke arah keselamatan. Tuhan mau agar kita bisa belajar mengasihi siapa pun, di mana pun mereka berada, dan dengan demikian makin banyak orang yang menyambut keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran Tuhan.

Doa syafaat memang bisa membentuk karakter kita sebagai anak-anak Tuhan. Jika pada saat-saat yang lampau kita mungkin lebih memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri atau kebutuhan sanak keluarga dan bangsa sendiri, kedewasaan iman bisa membuat kita sadar bahwa di luar lingkungan sendiri kasih Tuhan juga tercurah untuk semua orang, baik mereka yang sudah mengenal Tuhan atau mereka yang masih hidup dalam dosa. Doa syafaat tidak boleh dibatasi oleh tembok-tembok ras, agama, budaya atau bangsa. Bukankah pada saatnya semua orang yang percaya kepada Tuhan akan hidup bersama di surga?

Menunggu dan berharap kepada Tuhan

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7: 7

Pernahkah anda menunggu berita yang sangat anda harapkan, tetapi itu tidak kunjung datang? Berjam-jam, dan bahkan berhari-hari anda sudah menunggu, dan bulan-bulan pun kemudian lewat tanpa ada tanda-tanda kapan munculnya berita itu. Rasa ragu kemudian mungkin muncul, jangan-jangan penantian anda akan menjadi sia-sia. Memang, jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ketidaktahuan itu bisa membuat datangnya kesengsaraan.

Banyak anak kecil di Australia di saat ini yang menantikan datangnya Natal dengan hati yang berdebar-debar. Natal adalah satu hari besar di mana mereka akan merayakannya dalam keluarga, dan saat di mana mereka akan menerima hadiah Natal dari orang tua mereka. Hari demi hari mereka menunggu, tetapi hari Natal terasa tidak kunjung tiba. Karena itu mereka mungkin gelisah memikirkan hadiah apa yang akan mereka terima.

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa gelisah ketika harus menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kegelisahan dengan melupakan hal itu, dalam hal besar orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Nabi Mikha juga mengalami kegundahan hati yang berat pada saat ia melihat bahwa bangsa Israel semakin menjauhi Tuhan. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan. Bagaimana ia bisa merasa damai jika masa depan seluruh bangsa terlihat suram?

“Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!” Mikha 7: 2 – 3

Keadaan bangsa Israel pada waktu itu memang sangat buruk, sampai- sampai rasa persahabatan, kekeluargaan dan kesatuan dalam negara, menjadi hancur berkeping-keping. Rasa curiga kepada orang-orang yang ada menjadi meningkat, dan banyak orang merasa bahwa orang lain berniat untuk mencelakakan mereka.

“Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Mikha 7: 4 – 6

Pagi ini, di mana pun kita berada, ada kejadian-kejadian yang bisa membuat kita gundah, merasa kuatir untuk menghadapi masa depan. Kita mungkin sudah lama mengharapkan datangnya perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi sering kali justru membuat keadaan menjadi semakin tidak menentu. Berapa lama lagi kita harus menunggu? Adakah yang baik, yang masih bisa kita harapkan?

Nabi Mikha tidak mempunyai harapan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia juga tidak dapat berharap bahwa keadaan akan berubah dengan sendirinya. Tetapi ia tahu bahwa Tuhanlah yang mempunyai rancangan dan Ialah yang mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, nabi Mikha tetap percaya bahwa Tuhanlah yang akan menolong bani Israel pada waktunya. Nabi Mikha tetap menunggu-nunggu TUHAN, dan mengharapkan Allah untuk menyelamatkan dia; karena ia percaya bahwa Allah akan mendengarkannya. Itu jugalah yang harus tetap kita lakukan sekarang ini dalam menyambut datangnya hari Natal. Yesus yang sudah datang ke dunia adalah kunci keselamatan kita!

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9

Dibenarkan dengan cuma-cuma

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Beberapa minggu terakhir ini semua shopping centre di Australia mulai dibanjiri orang yang mencari hadiah Natal untuk sanak keluarga dan teman baik. Hiruk pikuk orang yang berbelanja bisa membuat orang yang tidak terbiasa dengan suasana menjelang Natal menjadi pusing kepala, apalagi jika memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli hadiah.

Sebenarnya, mungkin hampir separuh dari hadiah Natal itu tidak dibutuhkan oleh orang yang diberi hadiah. Karena itu, setelah hari Natal dan Tahun Baru, banyak hadiah yang dibuang atau disumbangkan kepada badan-badan sosial. Dalam hal ini, anjing atau kucing yang dibeli orang untuk dijadikan sebagai hadiah, adalah makhluk yang paling malang. Itu karena banyak di antaranya yang kemudian diberikan kepada badan penyayang binatang untuk dijual lagi, karena orang yang menerima hadiah itu tidak sanggup untuk memeliharanya.

Bagi banyak orang, hari Natal adalah hari yang menguras uang. Karena kebanyakan orang membeli barang-barang dengan menggunakan kartu kredit, jumlah orang yang terbelit hutang pada awal tahun mendatang cukuplah besar. Tidak ada barang yang gratis di dunia, karena kita harus membayar untuk memperoleh sesuatu. Untuk memperoleh apa yang betul-betul bisa menjadi milik kita pribadi, kita harus bekerja untuk memperolehnya atau membayar harganya dengan suatu pengurbanan.

Keyakinan bahwa tidak ada yang gratis di dunia itu jugalah yang sering membuat orang sukar percaya bahwa keselamatan tidak mungkin diperoleh manusia tanpa berbuat sesuatu. Jika ayat di atas mengatakan bahwa orang Kristen sudah dibenarkan dan memperoleh keselamatan dengan cuma-cuma, itu adalah sesuatu yang sulit dimengerti orang yang mempunyai kepercayaan lain. Karena itu, banyak orang beragama yang percaya bahwa keselamatan di surga hanya bisa dicapai dengan hidup baik dan perbuatan baik.

Jika dikatakan bahwa keselamatan itu barang yang dapat diperoleh di mana-mana oleh siapa pun secara gratis, itu sesungguhnya tidak benar. Keselamatan dari murka Allah tidaklah ada yang bisa memadamkannya. Ia yang mahakuasa tidak mungkin bisa dipengaruhi oleh manusia dan segala usaha mereka. Tetapi, kemarahan Tuhan hanya bisa dihentikan oleh-Nya sendiri, dan itu karena kasih-Nya. Ia ingin menyelamatkan manusia dan untuk itu Ia sudah turun ke dunia, membayar dengan harga tertinggi dengan kematian Yesus di kayu salib.

“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” 1 Korintus 7: 23a

Jika ada manusia yang ingin membeli keselamatan dengan usaha sendiri ada beberapa hal praktis yang menghalanginya. Yang pertama, bagaimana mungkin ia bisa menebus dosanya dengan hidup suci atau sering berbuat baik jika ia tetap berbuat dosa setiap hari? Tuhan yang mahasuci tidak akan dapat menerima apa yang tidak benar-benar suci. Apa pun yang dipandang baik oleh manusia, dalam kenyataannya sudah terkontaminasi dosa.

Kedua, jika ada orang yang ingin membeli keselamatannya dengan memberi persembahan harta kepada Tuhan, ini pun sia-sia. Mungkinkah Tuhan mau menerima tebusan materi yang sebenarnya adalah milik Tuhan sendiri, apalagi jika apa yang dipersembahkan sebagai tebusan tidak mungkin sebesar dosa yang seharusnya membawa kematian? Jelas, kita hanya bisa diampuni jika ada orang yang bisa menggantikan kita untuk menerima hukuman Tuhan. Dan orang yang bisa menebus dosa kita haruslah tidak mempunyai dosa.

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan sendiri harus menggantikan manusia dalam menanggung hukuman dosa.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Hari ini, jika kita memikirkan masa depan kita, patutlah kita bersyukur bahwa Allah sudah mengirimkan Yesus Kristus untuk menebus kita selagi kita masih dalam dosa. Allah tidak menuntut kita untuk memiliki kesucian atau persembahan yang besar untuk bisa diselamatkan. Ia tahu bahwa sebagai manusia kita tidak mungkin untuk memenuhi standar-Nya. Kita yang sudah menerima hadiah keselamatan ini patutlah bersyukur setiap hari dengan memuliakan-Nya dan membagikan kasih-Nya kepada setiap orang.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Semua manusia diciptakan menurut gambar Tuhan

Berfirmanlah Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26

Tahukah anda bahwa perusahaan Colgate-Palmolive mengubah kemasan untuk pasta gigi ‘Darkie‘ yang dijual di Asia pada tahun 1989 ? Nama barunya adalah ‘Darlie‘ yang mirip dengan nama aslinya. Mengapa? Karena nama dan gambar orang di kemasan tapal gigi yang sudah dipakai selama betahun-tahun itu dianggap rasis. Perubahan kemasan akhirnya terjadi karena “terpaksa”, tetapi itu bukan kejutan besar mengingat bagaimana pasta gigi itu cukup populer di berbagai negara. Perusahaan pemiliknya tentunya tidak mau kehilangan pembeli.

Memang di era modern ini rasisme masih ada di mana saja. Blackface (muka yang diwarnai hitam) di Amerika secara luas dikenal sebagai hal yang ofensif, tetapi di negara lain itu adalah cerita yang berbeda dan tidak jarang melihat adanya blackface di TV dan media sehari-hari. Bahkan di negeri Belanda parade Sinterklaas (yang berkulit putih) dan Zwarte Piet (yang mukanya bercat hitam) masih ada sampai sekarang pada minggu-minggu menjelang hari Natal. Tapi apa yang membuat kasus tapal gigi ini dipandang sangat buruk adalah bahwa Colgate-Palmolive adalah perusahaan Amerika dengan kantor pusat di New York. Memang kesadaran bahwa semua manusia adalah sederajat dan tidak boleh diperlakukan secara berbeda belumlah tercapai sepenuhnya di antara umat manusia. Tidak jarang orang yang tidak mau diperlakukan secara rasis justru sangat rasis terhadap orang yang berlainan penampilannya atau berbeda sukunya. Itu karena adanya pandangan bahwa golongan merekalah yang paling unggul di dunia atau di negara mereka.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa manusia yang pertama diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya. Setelah itu, terjadinya penyebaran umat manusia ke seluruh penjuru dunia membuat timbulnya berbagai bangsa. Ada berapa bangsa di dunia ini? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Jika di dunia ini ada 195 negara (country), tiap negara mungkin terdiri dari beberapa bangsa (nation) dan suku (tribe). Memang kata “negara” belum tentu sama artinya dengan kata “bangsa”. Sebuah bangsa adalah sekelompok orang yang mempunyai latar belakang yang sama, tetapi belum tentu membentuk sebuah negara. Sebaliknya, beberapa bangsa bisa membentuk sebuah negara. Karena itu, jumlah bangsa di dunia ini tentunya lebih banyak dari jumlah negara.

Secara ideal, sebuah negara akan mempunyai kestabilan yang lebih besar jika terdiri dari satu bangsa. Sejarah membuktikan bahwa negara yang dibentuk oleh bangsa-bangsa yang berlainan lebih mudah untuk pecah karena perbedaan paham atau cara hidup. Memang banyak bangsa yang merasa berbeda dengan bangsa lain, sedemikian rupa sehingga ada perasaan bahwa bangsa lain adalah lebih rendah derajatnya. Inilah yang sering menimbulkan pertikaian antar bangsa seperti apa yang terjadi dalam Perang Dunia kedua.

Perasaan bahwa bangsa atau orang lain adalah berbeda derajatnya dan karena itu tidak sama kedudukannya sering muncul dalam pikiran manusia. Manusia dengan adanya dosa, sering tidak dapat mengasihi atau menghormati derajat orang lain. Malahan, sewaktu perbudakan masih ada di dunia, banyak orang Kristen yang memperlakukan budak sebagai barang saja, Dengan kemajuan pendidikan dan budaya, manusia kemudian menyadari bahwa semua orang adalah sama derajatnya. Racism atau racialism kemudian menjadi sesuatu yang dianggap sangat buruk dalam hidup bermasyarakat.

Untuk orang Kristen, perasaan bahwa mereka adalah orang-orang terpilih juga bisa menimbulkan perasaan bahwa orang lain tidaklah sebaik mereka. Tetapi Yesus yang adalah orang Yahudi, datang ke dunia bukan untuk menyelamatkan orang Yahudi saja. Karena semua orang di dunia diciptakan Allah, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan siapa saja yang mau percaya.

“Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” Roma 3: 29

Hari ini, jika kita melihat ke sekeliling kita, kita bisa melihat begitu banyak bangsa dan suku yang hidup di dunia. Kita harus sadar bahwa semua orang adalah milik Allah, dan karena itu berhak memperoleh perlakuan yang sama. Sebagai ciptaan Tuhan kita harus menghargai orang lain yang sekalipun berbeda dengan kita dalam satu atau banyak hal. Tidak ada orang Kristen yang boleh merasa bahwa suku atau bangsanya adalah lebih unggul dari yang lain. Seluruh umat manusia adalah ciptaan Tuhan, dan Ia mengasihi segala bangsa. Karena itu jugalah kita mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Yakinkah anda akan arti Natal?

“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.“ Yohanes 6: 37

Apakah anda yakin akan masuk ke surga? Pertanyaan itu sering muncul di lubuk hati banyak orang beragama, termasuk sebagian orang Kristen. Bagi mereka yang bukan Kristen, mau tidak mau pertanyaan ini membuat mereka berpikir dalam-dalam, merenungkan apakah hidup mereka sudah cukup baik untuk bisa diterima Tuhan. Orang mungkin terpaksa menghitung-hitung apakah amal ibadah mereka sudah bisa dibilang cukup besar. Dan jika saatnya tiba bagi seseorang untuk meninggalkan dunia ini, orang-orang yang ditinggalkan biasanya mengenang kebaikan apa saja yang sudah diperbuat almarhum dan berharap agar beliau diberi tempat yang baik di surga. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa orang yang “baik” menurut standar manusia akan masuk ke surga. Surga tentunya adalah tempat yang sempurna di mana Tuhan yang mahasuci berada, dan bagaimana manusia bisa memenuhi syarat kesucian Tuhan adalah pertanyaan yang sulit dijawab.

Mereka yang mengaku Kristen, seharusnya mengerti bahwa keselamatan hanya dimungkinkan oleh darah Kristus yang telah menebus dosa apa pun yang ada dalam diri seseorang. Walaupun demikian, Alkitab menulis bahwa tidak semua orang yang percaya adanya Tuhan akan diselamatkan, karena iblis pun percaya Tuhan itu ada (Yakobus 2: 19). Karena itu, keraguan orang mungkin muncul apakah Tuhan benar-benar mau menerima semua orang yang mengaku Kristen. Dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang berhak menerima atau menolak manusia, ada orang-orang yang masih kuatir bahwa mereka tidak tergolong dalam kelompok yang dipilih Tuhan. Tentu saja, mereka yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa orang-orang tertentu akan masuk ke neraka, akan mempunyai keraguan apakah iman mereka ada gunanya.

Mungkinkah Yesus menolak orang yang benar-benar ingin menjadi umat-Nya? Ataukah Tuhan sudah membatasi jumlah orang yang akan diselamatkan-Nya? Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa mereka yang datang kepada Yesus adalah orang-orang yang diberikan Bapa kepada-Nya. Allah membuka mata hati mereka untuk bisa mengerti akan kebesaran-Nya, dan karena itu Yesus tidak mungkin menolak mereka. Di antara mereka yang datang kepada Yesus dan kemudian melihat Yesus sebagai Anak Allah, ada yang percaya dan menyerahkan hidup mereka kepada-Nya. Merekalah yang akan diselamatkan.

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Pagi ini, mungkin kita pernah mendengar bahwa Yesus itu adalah guru yang baik, tokoh yang patut dihormati. Dengan demikian, dalam bayangan dan perasaan hati, kita mungkin sudah datang dan melihat Dia. Tetapi, pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Dengan penebusan itu, kita yang dulunya tidak layak untuk diselamatkan, kemudian mendapat pengampunan dari semua dosa kita. Dengan demikian, tidaklah perlu bagi kita untuk meragukan keselamatan kita.

Walaupun demikian, jika kita benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat kita , tentunya kita akan dengan sukacita melakukan apa yang difirmankan-Nya. Seperti Yesus menaati Bapa, kita seharusnya mempunyai kerinduan untuk taat kepada perintah Bapa dan hidup untuk memuliakan-Nya. Mereka yang sudah datang dan melihat Yesus dalam hidupnya, tetapi tidak merasakan adanya dorongan untuk hidup dalam kebenaran Kristus adalah orang yang belum benar-benar percaya kepada-Nya. Menjelang hari Natal ini, pertanyaan bagi kita adalah: “Sudahkah kita dalam hidup ini datang kepada Yesus, melihat Dia dan beriman kepada-Nya?”

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Siapakah aku, dan siapa Bapaku?

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Di negara barat ada banyak orang yang mengadopsi anak yang berasal dari negara-negara lain. Pada umumnya, ada dua macam adopsi yang bisa dipilih, yaitu adopsi tertutup (closed adoption) dan adopsi terbuka (open adoption). Jika jenis adopsi yang pertama merahasiakan informasi mengenai orang tua anak yang diadopsi, jenis yang kedua memungkinkan anak yang diadopsi untuk mengenali siapa orang tua mereka.

Di zaman ini, adopsi terbuka dianggap lebih baik untuk pertumbuhan kejiwaan sang anak, karena ia tidak akan merasa seperti orang terbuang yang tidak tahu asal usulnya. Memang seorang yang diadopsi oleh orang yang berlainan suku atau bangsa lambat laun akan sadar bahwa ia tidak mempunyai kemiripan dengan orang tuanya. Anak angkat itu kemudian ingin tahu siapa orang tua yang sebenarnya, dan hal ini bisa menjadi suatu enigma, atau hal yang misterius atau tanda tanya yang besar.

Hal yang serupa membuat seseorang yang sudah lama hidup secara duniawi untuk sulit memikirkan asal usulnya. Sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut peta dan teladan-Nya, ia tidak mudah mengenal bahwa pada awalnya ia adalah ciptaan Tuhan yang paling utama. Bagi manusia yang sudah hidup jauh dari Tuhan, Tuhan adalah seperti enigma.

Sebenarnya Tuhan yang di surga tidak jemu-jemunya berusaha untuk mengingatkan semua manusia ciptaan-Nya bahwa Ia ada dan menantikan mereka untuk mau kembali mengenali-Nya. Tuhan bekerja dalam kehidupan manusia, dan melalui berbagai cara mengingatkan setiap orang bahwa Ia ada. Namun tidak semua orang mau memikirkan adanya Tuhan. Bagi mereka, Tuhan yang jauh di sana adalah Tuhan yang tidak perlu dikenal. Suatu hal misterius yang tidak perlu dipikirkan.

Pada pihak yang lain, ada orang yang tahu bahwa Tuhan itu ada, dan bahkan sadar bahwa Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih. Walaupun demikian, dorongan hati untuk berkelana dan menikmati dunia dengan segala hal yang terlihat memikat, membuatnya pergi meninggalkan sang Bapa. Jika tidak karena adanya masalah kehidupan yang dialaminya, orang itu tentu tidak akan mau untuk pulang ke rumah. Orang sedemikian sadar siapakah dia, dan tahu siapa Bapanya, tetapi selama hidup bebas terasa nikmat ia tidak teringat akan Bapanya.

Bagaimana dengan hidup kita sendiri yang sudah percaya adanya Tuhan? Tentunya kita menyadari bahwa kita adalah anggota keluarga Tuhan. Kita bukan anak-anak dunia (Yohanes 17: 16). Walaupun demikian, kita tidak dapat membayangkan kebesaran Tuhan dengan sepenuhnya. Dengan iman kita percaya, tetapi kita belum pernah menjumpai Dia. Pada saat ini kita hanya dapat melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Hal ini sering kali mendatangkan kegalauan, karena setiap orang percaya hanya memiliki pengenalan akan Tuhan yang tidak sempurna.

Untunglah bagi kita, Yesus sudah turun ke dunia. Ia adalah Anak Allah dan satu dengan Allah. Yesus yang sebentar lagi akan kita rayakan hari kelahiran-Nya adalah Tuhan, dan melalui hidup-Nya di dunia kita dapat mengenal siapa Tuhan dan bagaimana hakikat-Nya. Melalui Yesus kita tahu bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahahadir dan mahakasih. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus, Tuhan bukanlah sebuah enigma. Sebagai orang Kristen kita tidak mempunyai alasan untuk menolak jalan, kebenaran dan hidup seperti yang sudah difirmankan Yesus.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Yohanes 14: 6 – 7

Yesus adalah Allah yang menyertai kita

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Sekitar dua minggu lagi kita akan merayakan hari Natal, hari yang dipilih oleh sebagian besar orang Kristen untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus. Seminggu setelah hari Natal, tahun baru akan datang. Dengan demikian, masih ada cukup waktu bagi siapa saja untuk mulai menganalisa hidup kita selama setahun ini. Sudahkah anda merasa tenteram dalam hidup anda? Yakinkah anda bahwa hari-hari mendatang akan dapat anda hadapi dengan keteguhan hati?  Masih adakah perasaan bahwa dengan adanya berbagai persoalan seperti pandemi, ekonomi, studi, kesehatan dan keluarga, anda mungkin harus menerima kenyataan bahwa hidup ini terlalu sulit untuk dijalani?

Pada pihak yang lain, jika kita sempat mengunjungi berbagai kompleks pertokoan, tentu kita bisa melihat bahwa orang mulai sibuk dengan persiapan menyongsong hari Natal. Pusat perbelanjaan di mana pun saat ini mulai dipenuhi banyak pengunjung. Dengan berjubelnya pusat pertokoan, terkadang saya heran mengapa begitu banyak orang yang kelihatannya ikut merayakan hari Natal. Benarkah mereka mengerti makna Natal? Ataukah mereka hanya merayakan hari Natal sebagai suatu kebiasaan turun temurun saja? Tentu saja mereka yang mengaku Kristen mengerti bahwa perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Yesus. Tetapi, siapakah Yesus itu untuk diri mereka pribadi? Apakah Yesus tetap relevan untuk kehidupan mereka, sedangkan mereka yang tidak ke gereja kebanyakan berdalih bahwa gereja sudah tidak cocok untuk kehidupan zaman sekarang?

Memang kekristenan di zaman ini menghadapi serangan yang luar biasa dari segala penjuru. Bukan saja pertumbuhan agama-agama lain menyebabkan mereka yang dulunya lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen, sekarang tertarik untuk pergi “shopping” mencari apa yang lebih menarik. Kemajuan teknologi memang bisa membuat manusia seolah bisa menentukan nasibnya sendiri. Nasibku ada ditanganku, begitu banyak orang berpikir. Belum lagi adanya banyak orang terkenal yang mengajarkan cara hidup yang dikatakan akan membawa keberhasilan dan kebahagiaan tanpa perlu untuk menaati ajaran-ajaran keagamaan atau mengenal Tuhan. Tidaklah mengherankan, bagi banyak orang Yesus hanyalah tokoh sejarah dan bukan Anak Allah.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibacakan di gereja pada minggu-minggu menjelang Natal. Ayat yang signifikan karena setidaknya dua hal. Yang pertama adalah bahwa Yesus memang lahir sebagai manusia dan karena itu Ia adalah manusia yang bisa mengerti kebutuhan kita dengan sepenuhnya. Yang kedua, Yesus dilahirkan sebagai pernyataan kasih Allah yang ingin agar manusia menyadari bahwa dalam Yesus manusia dapat menemukan Dia.

Tuhan yang menjadi manusia adalah Tuhan yang bisa dan mau menolong kita. Tuhan kita bukanlah yang jauh disana, yang dalam kebesaran-Nya membiarkan manusia untuk berjuang seorang diri di dunia, dan yang mengharuskan manusia untuk bisa mencapai derajat kesucian yang bisa diterima oleh-Nya. Untuk mereka yang hidup di negara dimana ha ri Natal dirayakan, acara-acara dan hiasan-hiasan Natal yang sudah bermunculan sejak awal bulan Desember adalah sesuatu yang berkesan indah. Walaupun demikian, adanya perayaan Natal untuk sebagian orang adalah sesuatu yang kurang dapat dinikmati, dan malahan bisa menimbulkan rasa susah dan masygul. Tuhan tahu bahwa manusia yang lemah dan berdosa ini, tidaklah bisa untuk mencapai kebahagiaan yang kekal.

Hari Natal umumnya dirayakan bersama teman, sanak atau keluarga. Tetapi mereka yang tidak mempunyai siapa pun dalam hidup mereka, mungkin merasakan betapa sepinya Natal ini. Mereka yang sedang sakit, mereka yang dalam kekurangan, penderitaan maupun kesusahan, mungkin juga harus melewati Natal dalam kesunyian. Adalah kenyataan bahwa Natal bagi sebagian orang malahan bisa membawa kesedihan yang mendalam.

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain dan adanya orang lain di sekitarnya. Dari awalnya Tuhan Sang Pencipta tahu kebutuhan ciptaan-Nya; Ia tidak menghendaki manusia merasa sendirian dan kesepian. Begitulah dalam hidup di dunia ini, setiap manusia seharusnya memberi dukungan dan penyertaan orang-orang yang mereka cintai. Namun dukungan manusia adalah terbatas; dan kalaupun ada, belum tentu bisa cukup atau langgeng.

Ayat divatas memberikan jaminan kepada setiap orang Kristen bahwa apavpun yang  mereka alami, Yesus yang lahir di bumi sebagai manusia dapat mengerti dan ikut merasakannya. Ayat itu juga memberi keyakinan baru kepada siapa pun yang merasa lemah dan kuatir untuk menghadapi masa depan, bahwa Yesus Anak Allah akan menyertai mereka dalam setiap keadaan. Apa yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi Natal adalah hati kita, agar kita tetap berpegang pada iman bahwa Imanuel itu benar-benar berarti Allah menyertai kita.

Yesus yang datang ke dunia pada hari Natal adalah seorang pendamping manusia yang lebih dari siapa pun yang ada disekitar kita. Ia adalah Tuhan dan karena itu kemampuan-Nya tidak ada batasnya. Yesus sudah membuktikan kesetiaan-Nya sampai mati di kayu salib untuk ganti dosa kita, karena itu tidak mungkin kalau kasih-Nya kurang dari itu. Yesus juga Tuhan yang lahir dalam bentuk manusia biasa, karena itu tidak mungkin kalau Ia tidak tahu dan tidak bisa merasakan penderitaan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Yesus yang lahir pada hari Natal adalah Tuhan yang Mahakuasa, Mahakasih, Mahatahu dan Mahabijaksana. Karena itulah Ia dinamakan Imanuel, sebab Ialah Tuhan yang benar-benar bisa mendampingi, menyertai kita dalam setiap keadaan kita. Ia menyertai kita bukan hanya kadang-kadang, dan bukan saja pada saat-saat tertentu, tetapi setiap saat dan untuk selama-lamanya. Jika kita saat ini merasa sendirian dalam hidup dan perjuangan kita, biarlah dengan iman kita percaya bahwa Yesus, Imanuel, tidak pernah meninggalkan kita.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b