Penyebab masalah hidup

 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Hari Sabtu kemarin saya mendengar kabar bahwa kasus transmisi lokal varian Delta sudah ditemukan di Brisbane dan karena itu ada kemungkinan bahwa sudah ada banyak orang yang terpapar dalam masyarakat. Karena itu, akhir minggu ini Brisbane dan 10 daerah di sekitarnya harus mengalami lockdown lagi agar testing dan tracing bisa dilakukan dengan efektif. Jika pada hari Selasa yang akan datang semua orang yang terpapar bisa ditemukan, lockdown bisa dihentikan. Kabar lockdown ini tentunya membuat banyak orang kaget, karena akhir minggu ini harus dilewatkan dengan tinggal di rumah saja.

Memang dalam suasana yang mirip suasana perang saat ini, hal menonton TV atau mengikuti berita bisa membuat kita merasa serba salah. Kalau kita tidak mengikuti berita media, kita mungkin tidak sadar akan keadaan pandemi di tempat kita dan mungkin tidak tahu adanya peraturan baru dari pemerintah. Tetapi, jika kita rajin mengikuti berita, selalu ada saja kejadian-kejadian yang mengagetkan, yang membawa kekuatiran. Tentu saja tidak ada orang yang ingin menambah kekuatiran atau rasa takut yang sudah ada, seperti takut sakit, takut gemuk, takut kurus, takut kesepian, takut ketinggalan jaman, takut diganggu orang lain, takut mati dll.

Mengapa manusia selalu menghadapi masalah dalam hidup ini? Ada berbagai sebab spesifik, namun pada umumnya hal-hal itu dapat digolongkan dalam 5 golongan.

Kejatuhan dalam dosa: Memang itulah dunia, sejak kejatuhan dalam dosa manusia harus menghadapi hidup yang berat yang terisi penderitaan dan kesepian (Kejadian 3: 17-19). Karena kejatuhan Adam dan Hawa, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak hidup di taman Firdaus lagi.

Kesalahan kita sendiri: Sering kali kita tidak menyadari bahwa kita kurang berhati-hati melangkah dalam hidup ini. Mungkin sebagai orang Kristen kita sering mendengar bahwa hidup sebagai orang beriman pasti membawa ketenangan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang mengharapkan solusi instan akan kecewa. Ketenangan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan hidup berdisplin dekat dengan Tuhan. Jika tidak berhati-hati kita akan tetap bisa jatuh ke dalam pencobaan terutama jika kita lebih mementingkan kehidupan yang berpusat kepada hal-hal duniawi (Markus 14: 38).

Perbuatan orang lain: Karena semua orang sudah jatuh ke dalam dosa (Roma 3:23), tidaklah mengherankan jika ada saja masalah yang terjadi karena ulah orang lain, termasuk orang-orang terdekat dan bahkan saudara-saudara seiman. Kesadaran bahwa tiap orang membutuhkan penyelamatan dari Yesus Kristus seharusnya mengingat kan kita agar tidak kecewa atau putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup yang disebabkan orang lain.

Usaha iblis untuk menghancurkan umat Tuhan: Sering kali kita bayangkan iblis muncul dalam bentuk yang mengerikan dan menakutkan seperti seekor singa (1 Petrus 5: 8). Tetapi iblis juga pandai menyamar (2 Korintus 11: 14); ia bisa menyamar sebagai hal-hal atau orang-orang yang nampaknya baik dan berguna dalam hidup ini. Karena itu ada saja orang beriman yang jatuh ke dalam berbagai masalah ketika sibuk dengan aktivitas gereja dan sosial yang nampaknya baik.

Pekerjaan Tuhan: Tuhan mempunyai rencana agung untuk seisi dunia dan Ia tetap bekerja dalam semua keadaan dunia. Dalam keadaan dunia yang kacau-balau saat ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan hanya membiarkan semuanya terjadi. Tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar rencana-Nya (Yesaya 14:24); semua hal yang baik dan buruk terjadi harus dengan seizin Tuhan. Karena Tuhan kita Mahakuasa dan Mahakasih, kita yakin bahwa Tuhan tetap bisa dan mau menyertai kita dalam keadaan apa pun.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Tuhan selalu mau memberikan kekuatan agar kita bisa bertahan dalam hidup ini. Tetapi untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah lemah dan karena itu mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya.

Siapakah yang sanggup memimpin kita?

“Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman. 1 Samuel 15: 11

Di mana pun kita hidup, masyarakat di sekitar kita selalu memerlukan adanya pemimpin. Adalah kenyataan hidup bahwa hampir semua makhluk di dunia ini, besar dan kecil, selalu mempunyai pemimpin dalam aktivitas hidup mereka. Pemimpin diharapkan bisa untuk memberi contoh, teladan, pengarahan, penguatan, dan pemersatuan. Pemimpin yang baik disegani musuh tetapi disayangi dan dihormati oleh masyarakatnya.

Untuk memilih seorang pemimpin, umumnya ada prosesnya. Entah melalui kenaikan pangkat, penunjukkan oleh suatu badan atau pemilihan oleh masyarakat. Kalau harus dipilih masyarakat, tiap lingkungan, daerah dan negara mempunyai cara sendiri untuk memilih pemimpinnya. Pemimpin yang dipilih biasanya orang yang populer, dikenal dan disukai oleh mayoritas masyarakat. Mereka yang kemudian terpilih menjadi pemimpin sering kali menjadi tumpuan harapan dan dipuja rakyatnya.

Umat Israel juga pernah merindukan akan adanya seorang raja yang bisa memimpin mereka. Walaupun Tuhan sudah memimpin mereka dari awalnya, mereka masih kurang puas, dan mengingini seorang raja seperti bangsa lain. Raja pertama bangsa Israel, Saul, akhirnya dipilih melalui undian. Pada waktu Tuhan mengangkat Saul menjadi raja, Ia berjanji bahwa kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya, keturunannya turun temurun akan terus menjadi raja di Israel sampai selama-lamanya. Namun Raja Saul kehilangan kesempatan itu. Dalam ayat di atas tertulis bahwa Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja Israel. Tuhan menyesal karena Saul menyalah-gunakan apa yang Ia berikan dan mengabaikan-Nya.

Keadaan dunia saat ini adalah seperti keadaan umat Israel pada waktu itu. Bagaimana tidak? Ancaman pandemi, kemunduran ekonomi, kemungkinan perang dan bencana alam menghantui rakyat berbagai negara. Memang, jika kita memikirkan masa mendatang, kita sadar bahwa tidak ada siapa atau apa pun yang bisa menjamin hari depan kita. Di dunia ini, tidak ada yang baik, tidak ada yang sempurna, tidak ada yang kekal. Harapan kita untuk adanya pemimpin yang bisa membimbing kita melewati keadaan yang sulit saat ini memang harus tetap ada, tetapi lebih penting dari itu kita harus sadar bahwa hanya Tuhan yang dapat memimpin kita dengan pasti menuju hari depan.

Hanya Tuhan yang mahakuasa dan mengerti kebutuhan umat-Nya serta bisa melindungi mereka dari bahaya. Tuhanlah juga yang bisa membimbing para pemimpin kita untuk bisa mengatur jalannya hidup bermasyarakat di tempat kita masing-masing. Sebagai umat Tuhan kita harus sadar bahwa para pemimpin dunia, bagaimana pun hebatnya, tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, di saat ini kita harus dengan tidak putus-putusnya berdoa seperti Samuel, memohon agar Tuhan sudi menolong para pemimpin kita. Kita juga harus berdoa agar para pemimpin kita mau memilih jalan yang benar, yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Jika Tuhan mengizinkan hal yang jahat terjadi

“Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” Habakuk 1: 13

Mengapa Tuhan membiarkan mereka kelaparan?

Mendengar dan menyaksikan kejadian-kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan di sekeliling kita di saat ini, mungkin kita merasa sedih karena dunia ini agaknya secara pelan-pelan menjadi semakin kacau, setidaknya di tempat-tempat tertentu. Dunia memang penuh dosa dan karena itu tidak bisa bebas dari kekacauan, kejahatan dan kekejaman, tetapi jika hal-hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, kita mungkin bertanya-tanya: mengapa Tuhan berdiam diri?

Kejadian buruk yang terjadi di luar dugaan pada seseorang memang sering dihubungkan dengan faktor kebetulan: mungkin ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tetapi alasan ini untuk orang Kristen akan membawa pertanyaan: apakah ada hal yang kebetulan di hadapan Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa? Tentu Tuhan yang membiarkan hal yang jahat itu terjadi!

Tuhan adalah pencipta alam semesta yang membuat apa yang tidak baik dan kacau untuk menjadi baik dan indah. Tetapi mengapa Ia membiarkan adanya hal-hal yang keji atau menyedihkan di sekeliling kita? Tentu Tuhan mempunyai maksud atau rencana sekalipun kita sering tidak bisa memahaminya.

Ayat Habakuk 1: 13 di atas adalah keluhan nabi Habakuk karena Tuhan bermaksud membuat bangsa Babel yang jahat untuk menguasai bani Israel. Habakuk seakan menyatakan protes atas rencana Tuhan karena seakan Tuhan akan menelantarkan umat-Nya. Ia tidak mengerti bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan umat-Nya, pada saat-saat tertentu sengaja membiarkan terjadinya hal-hal yang tidak baik dan bahkan hal-hal yang jahat untuk menggenapi rencana-Nya.

Adalah menarik bahwa kita sering kali lupa bahwa Allah Bapa mengirimkan Anak-Nya ke dunia untuk disiksa dan disalibkan guna menebus dosa kita. Allah tidak menyiksa dan membunuh Yesus, tetapi Ia membiarkan orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang jahat kepada Yesus untuk menggenapi rencana penyelamatan-Nya. Sejarah gereja juga menulis bahwa setelah Yesus naik ke surga, umat Kristen juga mengalami penganiayaan yang besar, yang membawa banyak korban di antara orang percaya.

Berubahkah keadaan dunia setelah itu? Memang, orang umumnya berpikir bahwa dengan kemajuan sains, hukum dan pendidikan, agaknya manusia dapat hidup lebih baik atau teratur. Tetapi, apakah keadilan dan keamanan sudah sepenuhnya kita alami sekarang? Tentu saja tidak! Di dunia ini tetap ada orang-orang jahat yang hidup di antara umat Tuhan, seperti lalang di antara rumput-rumput. Wabah penyakit yang sudah dapat diatasi memang banyak, tapi penyakit baru masih juga muncul dari waktu ke waktu dan membuat sengsara banyak orang, terutama di negara-negara yang belum kuat ekonominya.

Tuhan membiarkan hal yang jahat ada, dan bahkan terkadang memakai hal yang jahat untuk membangun dan memperkuat umat-Nya di dunia. Semua itu bisa terjadi dengan seizin Tuhan yang mempunyai rencana agung untuk membawa setiap orang yang percaya kepada keselamatan, dan agar mereka yang sudah diselamatkan untuk makin beriman kepada-Nya. Bagi kita hal-hal semacam itu bukanlah pencobaan tetapi ujian iman.

Dari sejarah dunia, kita tahu bahwa Tuhan yang “membiarkan” umat Israel jatuh ketangan musuh-musuh mereka, ternyata tidak bermaksud meninggalkan mereka. Justru sebaliknya, Tuhan menggunakan masa-masa sulit untuk menggenapi rencana-Nya. Karena itu, kita boleh percaya bahwa seperti janji-Nya kepada bani Israel, Tuhan juga tetap membimbing umat-Nya dalam setiap keadaan untuk menuju ke arah yang baik, sesuai dengan rencana kasih-Nya!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Jeremia 29: 11

Menuruti hukum itu tidak mudah

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13: 3

Sekitar 3500 pengunjuk rasa anti-lockdown berbaris di kawasan Central Business District (CBD) Sydney, negara bagian New South Wales (NSW), di Australia, pada hari Sabtu (24/7/2021). Demo terjadi pada saat kasus infeksi COVID-19 harian melonjak di wilayah tersebut. Menteri Kepolisian NSW, David Elliott, yang kesal dengan demonstrasi itu karena momennya tidak tepat, mencap para demonstran itu sebagai kelompok “orang bodoh yang egois”.

Foto-foto yang mengejutkan menunjukkan para pengunjuk rasa berkerumun bersama-sama saat mereka berjalan di jalan utama Broadway menuju pusat kota, memegang rambu-rambu dan menghentikan lalu lintas. Dalam keadaan sedemikian, bentrokan dengan para penegak hukum tidaklah dapat dihindari dan puluhan demonstran sudah ditangkap atau dicatat namanya oleh polisi. David Elliott mengatakan satuan tugas detektif kepolisian akan bekerja sepanjang waktu untuk mengidentifikasi para pengunjuk rasa dan menuntut mereka karena melanggar protokol kesehatan masyarakat.

Mengapa orang kadangkala bisa bertindak seperti hewan yang tidak mengerti hukum? Ini pertanyaan lama yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Filsuf Aristotle pernah berkata bahwa “At his best, man is the noblest of all animals; separated from law and justice he is the worst”. Itu benar. Dalam keadaan terbaik, manusia adalah makhluk yang paling baik di antara hewan, tetapi ia adalah makhluk yang paling buruk jika tidak ada hukum dan keadilan. Lebih dari itu, manusia jelas bisa lebih buas dari hewan jika mereka tidak takut akan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang mampu untuk berbuat dosa apa saja dengan kebebasan yang diterimanya dari Tuhan.

Ada berbagai faktor praktis yang bisa membuat orang merasa bahwa ia ada di atas hukum. Mungkin orang itu mabuk atau merasa kuat karena berada bersama banyak teman, tetapi jelas bahwa pada saat orang dengan sengaja melanggar hukum mereka merasa bahwa hukum tidak dapat menangkap mereka. Mereka yang semestinya takut kepada hukum dan aturan pemerintah, merasa bahwa tidak ada apa pun yang bisa menghentikan kehendak mereka. Sebaliknya, orang yang melihat kelakuan mereka mungkin justru merasa takut karena kuatir kalau-kalau hukum yang ada tidak dapat melindungi mereka.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen untuk menaati hukum dan pemerintah. Etika Kristen mengajarkan bahwa jika pemerintah yang sah mengatur negara dengan segala hukumnya, adalah keharusan bagi orang Kristen untuk taat kepadanya. Hukum ada untuk membuat setiap warga menjadi orang yang berkelakuan baik. Dengan taat kepada hukum, kita boleh mendapatkan kedamaian dalam hidup sehari-hari karena hanya orang yang melanggar hukum yang harus takut kepada pemerintah.

Bagi orang Kristen, taat kepada hukum bukan berarti boleh melakukan apa yang buruk asal tidak tertangkap oleh hukum. Dalam bentuk sederhana, ini mungkin menggunakan ponsel selagi mengendarai mobil, tetapi mereka yang berani mengambil risiko mungkin tidak ragu untuk menggunakan uang negara selagi ada kesempatan.

Ketaatan bukan saja dalam hal tidak melanggar hukum pidana dan perdata, tetapi juga dalam hal menuruti pedoman dan bimbingan dari yang berwajib, misalnya dalam hal memelihara kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan sesama. Dalam usaha untuk mengatasi pandemi ini, sudah tentu orang Kristen tidak ingin untuk menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan apa yang dianjurkan pemerintah untuk kebaikan bersama.

Adanya pemerintah dan pimpinan bagi orang Kristen adalah bukti adanya Tuhan yang menghendaki ketertiban. Oleh karena itu, orang Kristen harus taat kepada hukum dan pedoman pemerintah setiap saat karena Tuhan yang mereka sembah adalah Oknum yang mahatahu. Takut akan Tuhan akan bisa terlihat dalam hidup seseorang yang taat kepada bimbingan dan aturan pemerintahnya. Mungkin ada orang Kristen yang berpendapat bahwa jika ia tidak taat kepada anjuran pemerintah, itu hanya menyangkut dirinya sendiri. Dalam melakukan tindakan seperti menerima atau menolak anjuran pemerintah tentang prosedur kesehatan tertentu, mereka berpikir bahwa itu adalah hak pribadi mereka. Itu ada benarnya, jika apa yang mereka lakukan tidak memengaruhi hidup orang senegara. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, kecuali jika ia melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan pemerintah, karena pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Masih adakah manfaat doa di saat ini?

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Walaupun demikian, di saat ini mungkin semua orang berharap agar jangan sampai sakit apa pun, sekalipun batuk-pilek yang biasanya dianggap ringan. Adanya pandemi memang membuat orang lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas agar tidak terpapar Covid-19. Selain itu, karena rumah sakit pada saat ini sudah banyak yang penuh, berobat ke rumah sakit adalah sesuatu yang mutlak harus dihindari.

Memang, berdasarkan iman Kristen, adanya penyakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap ingin memelihara seisi dunia dan bahkan seluruh jagad raya, sehingga semua ciptaan-Nya tetap berfungsi seperti apa yang dirancang-Nya. Karena itu, sesuai dengan rencana penyelamatan-Nya, Tuhan mengatur segala sesuatu supaya semuanya berjalan baik untuk kemuliaan-Nya. Tuhan tidak membiarkan dunia ini hancur berantakan, dan oleh sebab itu Ia juga mencukupi segala kebutuhan manusia, termasuk kesehatan mereka. Kesehatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya, tetapi kepada semua mahluk di bumi. Oleh karena itu, Ia juga memberi manusia kesadaran dan kemampuan untuk menghargai kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, dan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat di atas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendak-Nya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat di atas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Perlukah kita berdoa untuk kesembuhan seseorang? Bukankah Tuhan akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya saja? Bukankah Tuhan tahu kebutuhan kita sebelum kita memintanya? Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kita harus menyadari bahwa kita hanya bisa hidup sebagai umat Tuhan dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Sering kali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunan-Nya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apa pun apabila sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup seseorang. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan sering kali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di zaman ini yang mengalami gangguan kejiwaan karena suasana pandemi yang menakutkan. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa memperbaiki kehidupan manusia, baik dalam keluarga, masyarakat ataupun negara untuk kemuliaan-Nya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dari-Nya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan.

Haruskah kita berdoa memohon kesembuhan? Sudah tentu! Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Bagi orang yang dibenarkan, hidup baru di dalam Yesus selalu membawa perubahan, baik dalam jasmani maupun rohani. Memang dalam darah Yesus ada kuasa yang besar.

Bila suara Tuhan tak terdengar

“Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Mazmur 91: 15

Pernahkah anda mengalami kejadian yang sangat menekan perasaan dan pikiran anda? Mungkin itu disebabkan oleh keadaan di sekitar anda, atau karena sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, atau karena kekeliruan yang anda perbuat, dan mungkin juga karena adanya perbuatan buruk orang lain. Dalam hidup ini, masalah besar ada dimana-mana. Semakin hari seakan semakin banyak masalah yang harus kita hadapi, karena sulitnya mencari penyelesaian atas masalah yang sudah ada. Hidup kita menjadi sesak rasanya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakuasa dan mahakasih; karena itu kita boleh membawa segala persoalan kita kepada-Nya. Walaupun demikian, sebagai manusia kita cenderung mengandalkan akal budi kita yang terbatas, daripada menggunakan iman yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian kita seringkali tidak dapat memahami metode kerja atau modus operandi Tuhan dalam proses menolong kita. Dan oleh karena itu jugalah kita sering mengalami kesulitan bukan saja untuk berdoa, tetapi juga untuk meyakini dan merasakan penyertaan Tuhan.

Memang ada orang-orang yang merasa bahwa setelah berdoa cukup lama, tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mau menjawab doa mereka. Walaupun sebagian orang menjadi kecewa dan bahkan putus asa dan meninggalkan iman mereka, ada orang-orang yang bersyukur karena Tuhan tidak menjawab doa mereka. Apa yang mereka minta kelihatannya tidak dikabulkan Tuhan, dan itu justru membawa kebaikan untuk mereka.

Benarkah Tuhan terkadang tidak menjawab permohonan anak-anak-Nya? Banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa Tuhan selalu menjawab doa mereka yang percaya. Doa yang tidak terjawab menunjukkan kelemahan iman, begitu kata mereka. Dan mereka memakai ayat Matius 7: 11 sebagai pedoman, bahwa Tuhan pasti menjawab doa-doa kita dan memberikan apa yang kita minta. Tetapi ajaran semacam itu tidaklah benar.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 11

Doa terkadang tidak terjawab karena apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Doa mungkin tidak terjawab karena hidup kita tidak sesuai dengan firman-Nya. Doa mungkin tidak dijawab Tuhan agar kita bisa belajar bersabar dan bertekun dalam penderitaan kita serta bergantung kepada-Nya. Dan mungkin juga Tuhan tidak menjawab doa kita agar dalam keadaan apapun, kita sadar bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, mahaadil dan mahabijaksana. Kehendak Tuhanlah yang terjadi, bukan kehendak kita.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbingan-Nya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, pada saatnya kita akan mendengar suara-Nya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan juga akan menyertai kita yang dalam kesesakan di saat ini. Itu adalah yang dijanjikan Tuhan jika kita mau menghampiri Dia dan mengutarakan segala persoalan dan perasaan kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seorang diri dalam penderitaan kita. Memang dalam kesesakan kita mungkin merasakan dorongan untuk lari menjauhkan diri dari segala sesuatu, karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Tuhan jelas mengharapkan kita untuk lari kepada-Nya, agar Ia bisa memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bagi umat-Nya yang mengalami masalah, Tuhan berkata dalam ayat pembukaan di atas bahwa Ia akan meluputkan mereka dari bencana dan memuliakan mereka. Ini adalah sesuatu yang harus selalu kita sadari selama kita hidup di dunia. Bahwa sebagai Bapa yang mahakasih, Tuhan tidak membiarkan kita mengalami masalah yang lebih berat dari kekuatan kita. Lebih dari itu, kita seharusnya tahu bahwa sebagai Bapa yang mahakuasa, Tuhan sanggup melindungi kita dari bencana. Tuhan akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah apa pun, sehingga kita pada akhirnya akan memperoleh kemenangan di dalam Dia.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Saat ini, jika kita merasa Tuhan itu jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita, kita tidak boleh merasa kecewa atau putus asa. Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita walaupun Ia belum tentu mengabulkan permohonan kita. Tuhan hanya memberikan apa yang terbaik kepada umat-Nya pada saat yang tepat.

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda tetap mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya. Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita, tetapi dengan kebijaksanaan-Nya Ia belum tentu menjawab doa kita seperti apa yang kita harapkan. Kunci kebahagiaan bukanlah memperoleh apa yang kita minta, tetapi rasa cukup dengan apa yang sudah diberikan-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Berkat yang sejati membuat kita makin dekat kepada Tuhan

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Kejadian 26: 12-13

Ayat di atas adalah ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan memberkati Ishak yang dikasihi-Nya. Ishak yang menuruti perintah Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir, tetapi ke Gerar di tanah bangsa Filistin, ketika ada wabah kelaparan. Jelas bahwa berkat Tuhan melimpah kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.

Memang enak kalau orang mendapat kemakmuran dan keberhasilan. Seperti Ishak yang diberkati Tuhan sehingga menjadi sangat kaya. Sebaliknya, rasa sedih kadang muncul kalau keinginan kita tidak tercapai. Apakah Tuhan hanya memberikan berkat istimewa untuk orang-orang tertentu? Dan apakah berkat Tuhan harus berupa kekayaan, keberhasilan dan kenyamanan?

Berkat (blessing) memang satu hal yang dikejar manusia sejak dulu. Dalam hidup sehari-hari, berkat adalah pernyataan yang berisi harapan untuk kebahagiaan, yang diucapkan seseorang kepada orang lain. Tradisi berkat memberkati antar manusia adalah sesuatu yang baik. Berkat bermula dari orang yang punya hubungan erat dengan orang yang lain. Berkat adalah untuk kebaikan orang yang diberkati dan berguna untuk memperkuat hubungan kedua orang itu. Berkat juga ditanggapi dengan rasa terima kasih kepada orang yang memberkati. Lebih dari itu, berkat membuat orang yang diberkati mau memberkati orang lain.

Berkat Tuhan yang semula untuk semua mahluk ciptaan-Nya, termasuk manusia, adalah agar mereka mengalami kemakmuran, kedamaian dan kepuasan hidup, tetapi ini dirusakkan oleh dosa. Walau demikian, kita melihat dari ayat diatas bahwa Tuhan tetap mau memberkati orang-orang yang mengasihi-Nya. Sayang sekali bahwa di zaman ini banyak orang yang berpikir bahwa berkat Tuhan adalah segala sesuatu yang nyata dan bisa dinikmati.

Berkat materi dari Tuhan sering disalahgunakan dan ditonjolkan manusia sehingga menimbulkan salah pengertian, padahal kita seharusnya bisa memfokuskan diri pada kebesaran, kasih dan maksud baik-Nya. Berkat Tuhan tidak selalu berupa kenyamanan tetapi bisa berupa berbagai pengalaman hidup yang selalu berguna untuk kebaikan anak-anak-Nya. Apa yang nampak sebagai berkat Tuhan, tetapi ternyata tidak memperkuat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, mungkin bukan datang dari Tuhan.

Dapatkah kita merasakan berkat Tuhan di zaman pandemi ini? Dapatkah orang memakai apa yang sebelumnya terasa nikmat untuk bisa hidup tenteram hari lepas hari di saat ini? Kelihatannya semua orang merasa gundah, susah dan kuatir dengan keadaan yang tidak kunjung teratasi. Kebahagiaan ternyata tidak dapat dicapai dengan materi. Jika demikian, berkat apakah yang kita inginkan dari Tuhan?

Buat orang percaya, yang harus selalu diingat adalah berkat yang terbesar yang bisa diterima anak-anak Tuhan, yaitu hidup baru dan pengampunan melalui iman dalam Yesus Kristus. Berkat materi yang kita terima hanya sementara, tetapi anugrah keselamatan-Nya adalah kekal.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Berkat rohani melalui darah Kristus adalah satu-satunya berkat yang tetap bisa dinikmati dalam keadaan apa pun. Berkat yang paling berharga, tetapi juga berkat yang mudah dilupakan karena kita menerimanya bukan melalui usaha kita. Di saat ini, berkat keselamatan inilah yang membuat kita kuat dan tahan menghadapi segala tantangan kehidupan di dunia karena kita sudah menjadi anak-anak Allah.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1: 3

Manusia tidak bisa menyelami jalan pikiran Tuhan

“Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah.” Mazmur 40:12

Sebulan yang lalu, tidak ada yang bisa membayangkan bahwa 3 di antara 6 negara bagian Australia harus mengalami lockdown lagi. Malang tak dapat ditolak, pada saat ini di Australia ada sekitar 1500 kasus aktif dan 10% di antaranya pada saat ini berada dalam perawatan rumah sakit. Bagi rakyat Australia, adanya lockdown ini terasa sebagai hukuman penjara dan sudah membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Bagi pemerintah Australia, keadaan yang berlarut-larut ini sudah pasti akan membuat ekonomi berantakan karena adanya banyak orang yang memerlukan uang tunjangan. Semua ini seperti sebuah malapetaka yang memengaruhi manusia secara jasmani maupun rohani.

Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul dalam keadaan seperti ini adalah mengapa ada pandemi, kejahatan dan penderitaan terjadi jika Tuhan itu ada. Mengapa musuh-musuh kita terus menerus menyerang kelemahan atau kesalahan kita? Mengapa ada orang yang harus masuk penjara atau dipecat dari pekerjaannya karena fitnah? Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal seperti itu?

Banyak orang yang beranggapan bahwa adanya hal-hal yang keji itu membuktikan Tuhan itu tidak ada. Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup di atas bisa menimbulkan pertanyaan:

1. Apakah Tuhan itu mahakasih tapi tidak mahakuasa?

2. Apakah Tuhan itu mahakuasa tapi tidak mahakasih?

Kalau Tuhan itu memang mahakasih, sudah barang tentu Dia tidak akan membuat bencana sebagai pemberian untuk anak-anak-Nya. Tetapi dunia yang diciptakan-Nya dulu, bukanlah dunia yang kita tinggali sekarang. Dunia kini adalah seperti semak duri yang dihuni anak-anak Tuhan dan anak-anak setan.

Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kebodohan manusia dan pemerintah. Bencana alam sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta. Tetapi bencana bukan sesuatu yang disenangi Tuhan. Itu adalah konsekuensi kejatuhan manusia dalam dosa. Sesudah kejatuhan, manusia hidup dalam dunia yang penuh masalah. Dalam dunia manusia bisa memilih apa pun yang mereka maui. Tambahan lagi, iblis ada dimana-mana dan berusaha menguasai manusia, terutama menyerang anak-anak Tuhan yang kurang waspada.

Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai anak-anak-Nya dan tidak membiarkan malapetaka datang atas mereka tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak pernah berubah sifatnya. Namun kadangkala Ia mengizinkan kita untuk mendapat pelajaran dari pengalaman kita, agar kita bisa lebih menurut kepada pimpinan-Nya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anak-Nya untuk lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

Kita tahu mengapa ada malapetaka dan kejahatan di bumi, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang jahat terjadi pada hidup anak-anak-Nya. Jalan pikiran-Nya tidak terjangkau manusia dan rencana-Nya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya dan Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana!

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33