Apakah adanya pandemi sudah mempengaruhi etika anda?

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Jika kita membaca koran, menonton TV, ataupun meneliti berita internet, kita bisa menemui berbagai sajian menarik dan berbagai berita yang tidak berbentuk iklan tapi sebenarnya juga dimaksudkan untuk menarik perhatian konsumer suatu produk atau jasa. Di saat pandemi sedang berlangsung, agaknya makin banyak berita yang tidak benar atau setengah benar yang berusaha membuat sensasi. Ini terutama menyangkut obat-obatan yang diklaim dapat menyembuhkan orang dari Covid-19. Selain itu saat ini ada juga berita-berita “miring” tentang risiko penggunaan vaksin yang membuat banyak orang menjadi ragu akan manfaat vaksin.

Memang orang di dunia cenderung menekankan bahwa hasil lebih penting dari usaha, dan hasil akhir sering menghalalkan cara. Untuk mencapai tujuannya, manusia sering menggunakan segala cara, entah itu berupa kepura-puraan, bohong, ataupun ketidak jujuran. Tetapi, apa yang diajarkan Yesus selama Ia berada di dunia adalah satu prinsip etika yang benar yang harus kita pegang: bahwa apa pun yang kita perbuat haruslah bisa membuat nama Tuhan dibesarkan dalam segala situasi. Manusia harus mempertanggungjawabkan apa saja yang diperbuatnya.

Dunia mengajarkan etika situasi, yang bisa berubah-ubah menurut situasi dan kondisi. Sejarah membuktikan bahwa orang Kristen pernah memakai cara-cara yang keji demi nama Tuhan. Tetapi firman Tuhan tidak pernah berubah: apa yang salah tidak akan berubah menjadi benar dan apa yang palsu tidak dapat mendukung kebenaran.

Dapatkah kita berbuat baik melalui perbuatan yang kurang baik? Bolehkah kita memakai cara yang tidak benar asal tujuannya baik? Firman Tuhan secara tegas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus menyinarkan terang kebenaran dalam masyarakat agar nama Tuhan dipermuliakan. Apa yang kita perbuat dalam hidup sehari-hari, baik di kantor, di sekolah, di rumah maupun di gereja haruslah berdasarkan kesadaran bahwa Tuhan harus dipermuliakan baik dalam cara kita bekerja maupun dalam apa yang kita hasilkan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21-22

Dalam hidup ini ada berbagai etika yang kelihatannya baik, tetapi tidak semua ada dalam Alkitab. Etika bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya, etika masyarakat yang satu mungkin bisa menjadi bahan pergunjingan dan geguyonan dalam masyarakat lain.

Etika Kristen (dari bahasa Yunani ethos yang berarti  kebiasaan/ adat) adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  di mana saja. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya setempat) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak menjadi manusia “kurang ajar” yang hidup “ugal-ugalan”. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman itu belum tentu dibahas dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau tidak bisa berpikir akan kurang mampu untuk melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika yang menguntungkan mereka saja.

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika hidup Kristen yang berdasarkan kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan jujur dan rajin, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang menjadi majikan kita. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati anjuran pemerintah dan menaati peraturan dan hukum yang berlaku.

Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani, tetapi tidak hanya untuk diri sendiri. Karena itu kita tidak akan melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firman-Nya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Mendapat kelegaan melalui doa

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Sebelum adanya pandemi, dengan kemajuan teknologi, ekonomi, pengobatan, transportasi dan lain-lainnya, banyak manusia yang merasa bahwa hidup mereka ada di tangan sendiri. Dengan adanya pandemi, kehidupan manusia di seluruh dunia menjadi sangat berubah. Bukan saja kegiatan sehari-hari menjadi terbatas, keuangan pun menjadi kacau balau dan masa depan tidaklah dapat diduga. Karena itu banyak orang yang sekarang mengalami rasa kuatir, takut dan bahkan depresi.

Dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini, memang orang lebih sering merasa lelah. Soal merasa lelah dan lemah, jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini kita bisa belajar dari apa yang dialami oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Baca 2 Korintus 11 & 12.

Paulus sebagai manusia juga mengalami penderitaan dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27).

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasih-Nya kepada Paulus sudah cukup.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya bergantung kepada Tuhan sepenuhnya.

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan. Itu kalau kita bisa dan mau berkomunikasi, berdoa kepada Dia secara teratur.

Ada banyak penyebab mengapa orang Kristen tidak berdoa secara teratur. Sebab yang pertama ialah soal prioritas. Seorang tidak berdoa karena ia mementingkan hal lain daripada berdoa. Selain itu, ada orang yang beranggapan bahwa berdoa adalah memohon sesuatu kepada Tuhan. Karena itu, selama hidupnya lancar, doa tidak dirasakan perlu.

Selain dari sebab di atas, ada pula orang yang berpendapat bahwa Tuhan sudah mempunyai rencana tertentu yang tidak bisa diubah. Sebab itu doa adalah hal yang sia-sia. Selanjutnya, ada pula orang-orang yang karena pernah merasa dikecewakan sekarang menjadi segan untuk berdoa. Juga, ada orang yang enggan berdoa karena hidupnya yang kacau membuat ia ragu untuk mendekati Tuhan yang mahasuci. Tentu saja ada sebab-sebab lain yang membuat orang Kristen malas berdoa, apalagi berdoa secara teratur bukanlah suatu ritual yang diharuskan seperti dalam agama lain.

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, sesuatu yang diajarkan Tuhan untuk kebaikan manusia sendiri. Kebiasaan berdoa secara teratur bisa membuat umat Kristen yakin bahwa Tuhan itu dekat dan pengasih. Melalui komunikasi dengan Tuhan, kita bisa makin mengenal-Nya.

Jika ada oknum yang tidak menyenangi kita berdoa, itu adalah iblis. Ia dengan segala tipu muslihatnya, berusaha membuat manusia untuk segan dan malas untuk berdoa. Iblis tidak hanya berusaha menghentikan usaha kita untuk mendisplinkan diri untuk berdoa secara teratur, ia juga membuat hidup kita terasa sibuk sehingga kita lupa atau tidak merasakan perlunya untuk melibatkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Pada pihak yang lain, iblis jugalah yang menyebabkan kita merasa malu atau segan untuk mendekati Tuhan yang mahakudus dengan berbagai tuduhannya yang keji.

Setiap hari, hanya kita yang bisa menjawab pertanyaan mengapa berdoa di saat ini masih sering terasa sebagai beban dan kewajiban, dan bukannya sebagai kenikmatan dan berkat.

Karena Tuhan tahu bahwa kita membutuhkan-Nya, Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kita berkomunikasi dengan Tuhan kita yang maha pengasih.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Masih ingatkah anda akan lagu “Manis lembut Tuhan Yesus memanggil”?

Lemah lembut Tuhan Yesus memanggil,
Ia memanggil engkau,
Tengoklah Ia sekarang menunggu,
tunggu kedatanganmu.

Semoga kita mau menjawab panggilan Yesus itu.

Dekatlah pada Tuhan selagi masih bisa

“Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” Mazmur 71: 9

Hari ini ada kabar sedih di media Australia. Seorang ibu dari tiga anak yang berusia 30 tahun meninggal dunia akibat Covid-19 di rumahnya. Kelihatannya, ia dan suaminya yang juga terpapar virus corona tidak sadar bahwa mereka harus ke rumah sakit. Tak seorang pun yang menduga bahwa ibu itu kemudian menjadi korban virus corona yang termuda di negara bagian New South Wales.

Jatuh sakit berat. Siapa yang senang membicarakannya? Mereka yang masih tergolong muda dan sehat mungkin tidak mau memikirkan apa yang belum tentu terjadi. Mereka yang sudah tua dan sakit-sakitan, barangkali merasa bahwa tidak ada gunanya untuk membicarakannya, apalagi untuk berbuat sesuatu.

Pemazmur dalam Mazmur 71 barangkali dengan rasa tidak menentu menulis tentang penderitaannya, sebagai orang yang tidak berdaya dalam usia tua. Perasaan ini sulit untuk digambarkan, apalagi untuk dimengerti mereka yang belum atau tidak pernah mengalaminya.

Usia tua pada umumnya datang dengan perasaan bahwa tubuh mulai melemah dan kurangnya keinginan untuk menikmati hidup yang ada. Masalah keuangan adalah salah satu dari beberapa masalah yang umum dijumpai, tetapi masalah kesehatan yang menurun dan masalah keluarga yang kurang harmonis juga bisa membuat orang yang berumur tidak bisa merasakan ketenteraman. Apalagi jika ada perasaan bahwa orang di sekitarnya sudah tidak membutuhkannya lagi.

Mazmur 71: 9 adalah permohonan pemazmur agar Tuhan tidak meninggalkannya jika ia sudah tidak bertenaga. Ia teringat bahwa ketika ia masih muda, banyak kegiatan yang bisa dilakukannya dan serasa tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidupnya. Tetapi, dengan menanjaknya usia, satu persatu temannya pergi meninggalkannya. Lebih-lebih lagi, dalam kelemahannya selalu ada orang-orang yang ingin mengganggu dan mencelakakannya.

Tidak dapat diingkari bahwa masa tua adalah masa yang penting untuk seseorang bisa menikmati hidup dalam kedamaian. Tetapi kedamaian tidak akan diperoleh tanpa hubungan yang baik dengan Tuhan, yang dipupuk sejak awalnya. Hubungan dengan Tuhan yang tidak diperkuat sejak muda bisa mengakibatkan kerenggangan dengan meningkatnya usia. Hal ini mirip dengan hubungan antara suami dan istri yang harus dipererat sejak mereka kenal satu dengan yang lain.

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Dengan mempunyai kebiasaan untuk mau mengenali sifat Tuhan, kita bisa mempunyai iman yang makin hari makin kuat karena adanya kesadaran akan penyertaan Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana selama hidup kita sampai saat ini. Dengan itu kita bisa menumbuhkan kepercayaan dan pengharapan kepada Dia untuk hari depan kita. Hidup tenteram yang sedemikian tidak bisa dicapai jika kita tidak bisa bersyukur atas kasih-Nya selama ini.

Kekeliruan yang terbesar yang mungkin terjadi dalam hidup adalah menunggu sampai saat di mana kita sudah tidak berdaya untuk mulai mendekati Tuhan dan berusaha membina hubungan yang baik dengan Dia. Ini bisa diibaratkan seperti mereka yang menunggu hari tua untuk bisa benar-benar mengenal pasangan hidupnya. Hidup orang yang percaya adalah hidup yang melibatkan Tuhan dari awalnya, baik dalam suka maupun duka, dan dengan itu kita akan memperoleh ketenteraman hidup di hari tua. Jangan menunda-nunda kesempatan, pakailah itu selagi masih bisa!

Memang lidah tidak bertulang

“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” 1 Petrus 3: 10

Saat ini di Australia mulai banyak orang yang menyatakan rasa tidak puas atas tindakan pemerintah negara bagian tertentu karena adanya lonjakan kasus positif Covid-19. Mereka mungkin jemu dengan lockdown yang sudah berlangsung cukup lama. Mereka marah, mungkin karena merasa bahwa para pemimpin kurang bisa menepati janji dalam hal pengadaan vaksin. Bagi banyak orang, sebagian pemimpin adalah orang mudah berjanji, tapi sulit untuk menepatinya.

Hal janji, kita mungkin masih ingat lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji”. Lagu yang nadanya enak didengar itu diciptakan oleh Ismail Marzuki. Lagu itu kemudian menjadi sangat terkenal dan pernah dibawakan oleb berbagai penyanyi, di antaranya penyanyi pop Hetty Koes Endang dan Bob Tutupoli, serta penyanyi keroncong Tuti Maryati. Sebagian syairnya berbunyi:

Memang lidah tak bertulang

tak berbekas kata-kata

Tinggi gunung seribu janji

lain di bibir lain di hati

Lidah memang tidak bertulang dan karena itu dikatakan sebagai anggota tubuh yang dengan leluasa mengeluarkan apa saja, baik itu hal-hal yang baik, ataupun hal-hal jahat seperti bohong, fitnah, dan sumpah serapah, yang dapat memengaruhi orang lain. Tetapi, dalam Alkitab ada juga tertulis ayat-ayat, yang seperti ayat di atas, menyebutkan risiko penggunaan lidah terhadap pemiliknya.

“Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” Yakobus 3: 6

Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, hampir dalam segala segi kehidupan, manusia memang sering menggunakan lidahnya untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Tetapi, dengan berbuat demikian, sebenarnya ia juga merugikan diri sendiri. Bukan saja masa depannya bisa menjadi suram, hidupnya pun akan menemui kehancuran.

Adalah suatu yang menyedihkan bahwa banyak orang yang duduk sebagai pimpinan masyarakat, justru sering terlihat sebagai orang yang hanya pandai bersilat lidah. Pemimpin yang sedemikian sudah tentu tidak dapat memajukan rakyat, tetapi justru bisa membuat kekacauan dan kebingungan. Mereka akhirnya akan digantikan oleh orang-orang yang lebih baik.

Dalam kehidupan keluarga pun, orang tua memberi bimbingan kepada anak-anaknya melalui apa yang dikatakan dan diperbuat mereka. Jika orang tua hanya sering memberi nasihat tetapi tidak memberi contoh melalui perbuatan; atau lebih sering berjanji tetapi jarang memenuhinya, anak-anak mereka akhirnya akan kurang bisa menjadi anak yang patuh, karena apa yang diucapkan orang tua dianggap sebagai suatu kemunafikan dan kebohongan saja. Orang tua yang sedemikian lambat laun akan kehilangan wibawanya.

Pimpinan gereja dengan ucapan dan pandangan hidup mereka juga membawa pengaruh kepada orang lain. Mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan menghendaki semua orang Kristen untuk hidup makmur, nyaman dan sukses di dunia, tidak mencerminkan kebijaksanaan Tuhan yang selalu membimbing umat-Nya baik dalam suka dan duka. Tuhan jugalah yang menyertai umat-Nya dalam saat pandemi ini.

Mereka yang mengajarkan bahwa orang Kristen pada hakikatnya adalah orang yang baik, tidaklah memberitakan kebenaran Tuhan: bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan setiap hari. Mereka bukan saja menyampaikan apa yang keliru, tetapi juga membuat Tuhan dan gereja-Nya dipermalukan.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa dalam hidup ini kita harus memakai lidah kita untuk menyatakan kebaikan dan kejujuran. Baik kita adalah pimpinan ataupun pekerja, guru atau murid, orang tua maupun anak, suami ataupun istri, kita semua harus memakai seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan, dan dengan demikian membuka jalan bagi kita untuk menerima berkat Tuhan yang lebih besar di hari-hari mendatang.

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” 1 Petrus 3: 12

Siapakah yang bisa dipercaya?

“Aku ini berkata dalam kebingunganku: “Semua manusia pembohong.” Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” Mazmur 116: 11-12

Suasana bisa memengaruhi perasaan, begitu kata orang. Suasana yang menyenangkan membuat hati gembira, tetapi suasana yang kacau membuat kita gelisah dan mungkin marah. Keadaan di saat pandemi ini memang dirasakan sangat menekan di mana saja, tetapi selalu ada saja orang yang melakukan hal-hal tercela demi kepentingan pribadi. Pada hari Sabtu yang baru lalu misalnya, ribuan orang melakukan demonstrasi di berbagai kota di Australia untuk menolak adanya lockdown. Beberapa bentrokan fisik antara demonstran dan polisi tidak dapat dihindari, sehingga beberapa polisi harus menerima perawatan di rumah sakit.

Keadaan pandemi ini memang sudah membuat masyarakat terpecah dalam beberapa kubu. Ada yang mendukung lockdown, ada juga yang anti. Begitu juga ada orang yang mendukung vaksinasi, tetapi ada pula yang anti. Setiap pihak berusaha meyakinkan pihak yang lain tentang apa yang mereka anggap sebagai “kebenaran” melalui berbagai cara, terutama melalui berita media. Mereka yang kurang mengerti akan keadaan setempat tentu saja makin bingung melihat pendapat-pendapat yang bertentangan, apalagi mengenai obat-obatan yang diklaim manjur. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang mencoba mengail di air keruh dengan menawarkan berbagai obat/cara untuk pencegahan atau penyembuhan Covid-19.

Pemazmur dalam ayat di atas jelas mengalami sesuatu yang membuat ia gundah. Dalam kebingungannya dia berkata bahwa tidak ada seseorang pun yang bisa dipercaya.  Apakah anda saat ini merasakan hal yang serupa karena adanya sesuatu yang terjadi dalam hidup, lingkungan atau di tempat kediaman anda? Barangkali anda marah atau gelisah atas terjadinya hal hal yang tidak adil atau bertentangan dengan kebenaran? Ataukah anda merasa kesal karena banyaknya orang yang mengabaikan bahaya penularan virus Corona dalam masyarakat?

Seperti pemazmur, kita mungkin merasa bahwa keadaan di sekeliling kita adalah sangat menakutkan atau menguatirkan. Pemazmur adalah manusia juga, sama seperti kita. Adalah lumrah jika sesekali kita mengalami frustrasi karena suasana di sekeliling kita.

“Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: “Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!” Mazmur 116: 3-4

Tetapi, sama seperti pemazmur, kita harus percaya akan Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itulah kita harus mengingat kasih Tuhan dan selalu, dengan tidak ragu, memohon pertolongan-Nya. Sekalipun mungkin banyak orang/tokoh yang tidak dapat dipercaya, Tuhan tetap bisa kita percayai untuk memimpin hidup kita. Bukankah Dia juga yang mengubah orang berdosa, yang tidak bisa dipercaya seperti kita, untuk dijadikan anak-anak-Nya?

“TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116: 5-7

Jangan malu kalau harus menderita

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 16

Sering kali kita mendengar bahwa hidup orang yang beriman adalah hidup yang diberkati Tuhan. Dari mimbar gereja sering dikumandangkan pesan bahwa Tuhan yang mengasihi anak-anak-Nya, akan juga memberikan berkat-Nya dengan berkelimpahan. Malahan, ada banyak pendeta yang mengkhotbahkan bahwa orang Kristen akan mempermalukan Tuhan yang mahakaya jika tidak kaya. Untuk menjadi kaya, apa yang diperlukan adalah iman yang kuat, dan dengan itu Tuhan akan memenuhi kebutuhan umat-Nya di dunia. Betulkah begitu?

Apa yang kita lihat sebagai kenyataan hidup adalah sebaliknya. Mereka yang hidupnya tidak baik sering kali terlihat jaya dan nyaman hidupnya, dan mereka yang berusaha hidup dalam kejujuran justru sering mengalami kekurangan dan penderitaan. Lebih payah lagi, jika penderitaan karena pandemi Covid-19 saat ini bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, sebagian orang Kristen mungkin merasa terpukul kalau sanak saudara, teman atau diri sendiri terpapar virus Corona. Adakah keuntungan menjadi orang Kristen di dunia ini?

Ayat diatas jelas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita tidak perlu merasa malu jika kita mengalami penderitaan. Itu jika kita tidak berbuat jahat atau salah (1 Petrus 4: 15). Jadi, apa pun yang terjadi atas diri kita, kita tidak perlu merasa tertekan, sedih, gundah ataupun merana.

Penderitaan memang bisa datang kepada orang percaya melalui beberapa sebab:

  • Dunia sudah jatuh dalam dosa, apa yang sekarang ada di dunia adalah cacat dan jahat.
  • Pengikut Tuhan sering dibenci oleh mereka yang membenci Tuhan Yesus.
  • Iblis ingin menghancurkan umat Tuhan dan gereja-Nya.
  • Tuhan mendidik anak-anak-Nya untuk bisa lebih baik.
  • Pengikut Yesus ingin mengikuti cara hidup-Nya di dunia dan mau berkurban untuk sesama dan membela keadilan seperti Dia yang sudah mati untuk mereka.

Siang ini, jika kita merasa hidup kita berat, kita mungkin mengalami salah satu atau sebagian dari sebab diatas. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita tidak perlu merasa malang; sebaliknya kita harus merasa bersyukur karena ada kesempatan bagi kita untuk menunjukkan iman kita kepada seisi dunia, bahwa dalam semua hal kita bisa merasakan penyertaan Kristus dan menyelami betapa besar kasih-Nya yang sudah menebus dosa kita. Lebih dari itu kita bisa berharap bahwa pada suatu saat kita akan mendapat kemuliaan di surga sebagai anak-anak Allah!

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Hal kehendak Tuhan dan kehendak manusia pada saat pandemi

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Mengapa pandemi Covid-19 ini terjadi? Pada saat ini tidak ada seorang pun yang tahu. Sejarah menunjukkan bahwa jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang buruk atau jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Walaupun demikian, jika kita mengalami masalah yang besar seperti adanya pandemi saat ini, kita mungkin tidak mudah menerima pendapat bahwa munculnya virus corona itu juga kehendak-Nya.

Memang, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul bagaimana mungkin Tuhan yang mahakasih memang menghendakinya. Hitler dan pengikutnya yang menyebabkan ribuan orang Yahudi, baik tua atau muda, mati di kamar gas pada perang dunia kedua, tentu dipandang sebagai orang yang sangat jahat. Apakah Tuhan menghendaki Hitler untuk melakukan kekejaman itu?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatan-Nya (sovereign will) membuat Hitler melakukan kekejiannya. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Bagi mereka, kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya kejahatan? Jika Ia memang mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya? Ini agaknya sebuah misteri bagi manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak berbuat apa-apa (passive will), semua itu agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi risiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, tetapi ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak dan menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah iman bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Kita harus sadar bahwa ada kalanya Tuhan membiarkan kita menderita atau jatuh ke dalam pencobaan agar kita lebih bisa belajar dari apa yang terjadi untuk dapat mengarahkan hidup kita kepada-Nya. Jika Adam dan Hawa melakukan perbuatan dosa melalui kehendak bebas mereka, itu jelas bukan kehendak-Nya. Apa pun yang diperbuat manusia, Tuhan bisa saja membiarkannya selama rencana-Nya tidak terganggu. Dalam hal ini, Tuhan bukannya tidak bekerja lagi di bumi atau tertidur. Tuhan bisa saja melakukan “intervensi” pada saat yang tepat jika apa yang terjadi akan mengganggu rencana-Nya. Itu karena Tuhan tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Kembali ke soal pandemi saat ini, apakah Tuhan menentukan terjadinya hal itu? Apakah itu kehendak Tuhan? Begitu sebagian orang bertanya. Memang jika ditimbang dari segi kemahakuasaan Tuhan, tidak ada kejadian di bumi ini yang terjadi tanpa seizin Tuhan. Sebagai contoh, pemerintah di mana pun terpilih dengan seizin Tuhan. Sekalipun pemerintah atau pemimpin tertentu kurang baik dalam menangani masalah kehidupan rakyatnya, Tuhan mengizinkan itu terjadi menurut rencana pemeliharaan-Nya (yang disebut providensia). Tuhan bisa membiarkan apa pun terjadi sekalipun belum tentu merupakan apa yang dikehendak-Nya.

“Israel telah menolak yang baik biarlah musuh mengejar dia! Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 3 – 4

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa Ia selalu memelihara umat-Nya dengan memberikan pemeliharaan-Nya hari demi hari. Sekalipun keadaan disekitar kita terlihat kurang menyenangkan, Tuhan bisa memakainya untuk mencapai tujuan baik yang sudah ditetapkan-Nya untuk umat-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Antara pengujian dan pencobaan

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung hampir dua tahun, tetapi kapan berakhirnya belum dapat ditentukan. Seperti masalah hidup lainnya, sebagian orang akan merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat melewati masa sulit ini dengan selamat. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa kuatir bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak bisa diatasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepada-Nya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengizinksn datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya. Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan hal itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah ujian hidup yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktual pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh ke dalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada pihak yang lain, terkadang Tuhan memberikan pengujian hidup bagi umat-Nya agar mereka bisa tahan uji dan menjadi pemenang. Pengujian adalah karunia Tuhan yang baik kepada umat-Nya sekalipun itu tidak terasa nyaman pada mulanya.

Pada zaman modern ini mungkin banyak orang yang merasa bahwa mereka jatuh ke dalam dosa dan pencobaan karena Tuhan sudah membiarkan hal-hal yang jahat merajalela di dunia. Mengapa Tuhan membiarkan adanya hal-hal yang jahat di dunia? Bukankah sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia bisa menghentikan pandemi ini? Dalam ayat di atas kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umat-Nya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain, keadaan atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan adanya pandemi. Tuhan bermaksud baik dalam memberikan ujian, tetapi dalam menghadapi ujian kita bisa jatuh ke dalam pencobaan.

Dalam menghadapi pandemi dan segala persoalannya, setiap anak Tuhan harus siap untuk menghadapi tantangan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai umat-Nya seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang sering kali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kebijaksanaan dan kekuatan untuk bisa menang dalam menghadapi pengujian.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3-4

Dalam kesulitan hidup kedewasaan iman akan terlihat

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1Korintus 13: 11

Pada zaman pandemi ini banyak orang, di mana pun mereka berada, yang mengalami masalah hidup. Dari adanya pembatasan sosial sampai kepada sulitnya untuk bekerja mencari nafkah, berbagai kesulitan hidup dapat dirasakan oleh siapa pun juga, Karena itu, mungkin banyak orang yang mengalami banyak tekanan jasmani dan rohani terutama jika mereka sudah berkeluarga. Tanggung jawab kita sebagai orang dewasa memang bisa terasa sangat besar dalam situasi yang tidak menentu saat ini.

Masa kanak-kanak mungkin adalah masa di mana kita bebas bermain dengan teman, masa di mana kita tidak perlu memikirkan susahnya mencari rezeki. Teringat bahwa sewaktu kecil saya ingin cepat menjadi dewasa, tetapi setelah mencapai usia tua saya ingin kembali menikmati hidup seperti kanak-kanak yang bebas dari tanggung jawab. Saya ingin menjadi dewasa karena membayangkan hak orang dewasa, tapi saya terkadang ingin kembali menjadi kanak-kanak karena ingin untuk sesekali bebas dari kewajiban orang dewasa. Ini tentu tidak mungkin karena adanya hak selalu disertai dengan kewajiban.

Apa salahnya kalau kita menjadi seperti kanak-kanak yang tidak perlu berpayah-payah memikirkan kebutuhan hidup? Bukankah Yesus berkata bahwa orang yang seperti kanak-kanaklah yang bisa masuk ke surga?

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 18: 3

Sudah tentu Yesus tidak bermaksud bahwa kita harus hidup seperti anak kecil. Apa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah sifat anak kecil yang tulus dan memercayai orang tuanya. Kita harus dengan sepenuhnya percaya kepada Tuhan jika kita memang sudah dipilih sebagai anak-anak Tuhan.

Sebagai anak-anak Tuhan, pertumbuhan hidup rohani terjadi pada tiga masa: masa lalu, masa sekarang, dan masa datang. Di masa lalu, sewaktu kita baru mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mengakui bahwa Ia adalah Juruselamat kita, kita menerima anugerah Tuhan yang ajaib. Dari manusia berdosa yang mati secara rohani, kita bisa melihat jalan keselamatan melalui penebusan Yesus.

Dalam hidup orang Kristen, pertumbuhan iman sesudah menjadi pengikut Kristus juga dimungkinkan oleh kasih karunia Tuhan. Roh Kudus sudah diberikan kepada setiap orang percaya untuk bisa membimbing pertumbuhan kedewasaan rohani kita. Tetapi, tanpa adanya kesediaan dan kemauan untuk mempersilakan Roh Kudus memimpin hidup kita, kita tidak dapat tumbuh dalam iman; dan dengan demikian kita tidak bisa menjadi dewasa secara rohani.

Mereka yang belum dewasa secara rohani akan berkata-kata seperti kanak-kanak, akan merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Mereka bukanlah contoh orang Kristen yang baik, karena dengan sifat dan pengertian yang “kekanak-kanakan” yang ada, mereka mudah terombang-ambing dalam hidup di dunia.

Tahun demi tahun berlalu, mereka yang sudah menjadi anak-anak Tuhan seharusnya sudah bertumbuh dalam iman. Hidup mereka yang dulunya masih berbau dunia, perlahan-lahan menjadi makin menyerupai Kristus yang mau berkurban untuk orang lain.

“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.” 2 Korintus 2: 15

Dalam kenyataannya, tidak semua anak Tuhan mempunyai kemauan untuk bertumbuh. Banyak orang Kristen yang pada saat ini cara hidup dan rohaninya tidak berubah banyak dari keadaan di masa lalu, sewaktu mereka baru mengaku percaya kepada Kristus. Oleh karena itu, dalam suasana pandemi saat ini mereka mudah kehilangan pegangan dan cenderung untuk mementingkan kebutuhan diri sendiri. Mereka mungkin tidak sadar bahwa itu bukanlah yang dikehendaki Tuhan. Pengurbanan Kristus yang berbau harum di hadapan Allah adalah terlalu mahal untuk disia-siakan.

Pertumbuhan rohani kita tidak akan berhenti selama kita hidup di dunia. Mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya adalah salah satu kewajiban bagi anak-anak Tuhan untuk bisa tumbuh makin kuat sebagai orang yang dewasa dalam iman. Dengan kedewasaan iman, mereka dapat menghadapi semua tantangan dengan hati yang teguh. Memang kedewasaan dan kesempurnaan yang penuh hanya bisa dicapai setelah kita ada di surga, tetapi dalam kesulitan hidup sekarang ini, haruslah kita selalu berteguh dalam iman hingga kita makin sempurna sampai saatnya Tuhan memanggil kita.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48