Kewajiban orang Kristen dalam suasana pandemi

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Laporan tahunan Global Peace Index (GPI) edisi ke-15, ukuran perdamaian global terkemuka di dunia, mengungkapkan bahwa tingkat rata-rata perdamaian di dunia memburuk untuk kesembilan kalinya dalam dua belas tahun terakhir ini. Pada tahun 2020 secara keseluruhan, 87 negara membaik dalam hal perdamaian, sementara 73 memburuk. Ketika sebagian dunia berharap ke arah pemulihan keadaan setelah COVID-19 mereda, peningkatan kerusuhan sipil dan ketidakstabilan politik di bagian yang lain akan menjadi hal penting untuk dinavigasi. Pandemi virus corona mungkin tidak terlalu mengganggu politik di negara-negara yang kaya, tetapi kemungkinan akan menyebabkan berbagai bentuk kekacauan di negara-negara berkembang yang sudah cukup lama menderita krisis ekonomi.

Kekacauan dan kejahatan selalu ada dimanapun, tapi cenderung muncul di daerah dimana masyarakat hidup dalam kekurangan. Pada saat pandemi ini, mereka yang senang mengail di air keruh, yang sering menggunakan kesempatan untuk melakukan kejahatan, akan muncul dan mengganggu keamanan masyarakat. Dalam hal ini, adanya penegak hukum tentunya diharapkan akan membuat situasi bisa dikontrol. Memang, menurut teori kenegaraan, hukum dan penegak hukum adalah perlu untuk melindungi masyarakat.

Bagaimana kata firman Tuhan akan hal hukum negara dalam hidup sehari-hari? Ayat diatas menjelaskan bahwa sebagai orang Kristen kita harus menaati hukum pemerintah dan tunduk kepada pemerintah yang ada untuk mewakili Tuhan di negara kita. Pemerintah ada dengan seizin Tuhan yang mempunyai rancangan untuk seisi bumi. Tunduk kepada pemerintah bukan hanya ketika pemerintah sudah terpilih sesuai dengan apa yang kita inginkan. Berbeda dengan apa yang diajarkan oleh beberapa aliran agama yang lain, ajaran Kristen mengatakan bahwa selama ada pemerintah yang sah, orang Kristen harus tunduk dan menuruti semua hukum yang ada. Orang Kristen bukan hanya tunduk kepada pemerintah dan hukum yang cocok dengan selera, keinginan atau harapan pribadi.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Adanya pemerintah juga dimaksudkan untuk membawa ketenteraman dalam masyarakat. Tetapi di dunia ini, mereka yang tidak menyukai pemerintah dan hukum yang ada, seringkali menyatakan pendapatnya melalui jalan yang tidak benar dan yang bisa menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Berbagai berita palsu dan surat berantai sering muncul dalam media, dan orang Kristen seringkali terpancing untuk ikut-ikutan. Sebagai orang beriman, kita sebenarnya harus sadar bahwaTuhan kita tidak menghendaki kekacauan.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Jika kita harus tunduk kepada pemerintah dan hukum yang ada, apakah itu berarti kita harus berdiam diri saja jika ada penyelewengan dan kekeliruan pemerintah? Tentu saja tidak! Sebagai orang beriman, kita harus menjadi terang dunia dan menjadi contoh kebaikan, kejujuran dan keadilan. Satu hal yang penting untuk diingat adalah karena pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia, itu berarti bahwa apa yang dilakukan pemerintah tidak boleh menentang hukum Tuhan. Dalam hal seperti ini, seperti rasul Petrus, umat Kristen memang sudah seharusnya berani menyatakan pendapat mereka melalui jalan yang sesuai dengan firman Tuhan.

“Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Kisah Para Rasul 5: 29

Hari ini, marilah kita renungkan keadaan kita masing-masing di negara kita. Apakah kita tunduk kepada pemerintah yang sah, yang ada saat ini? Apakah kita bisa menerima kenyataan bahwa pemerintah adalah wakil Tuhan di negara kita? Apakah kita hanya takut kepada hukum manusia dan bukannya kepada hukum Tuhan? Sebagai orang Kristen dan umat Tuhan, kita tetap mempunyai tanggung jawab pribadi kepada-Nya.

Kemerdekaan yang sudah dibayar Yesus

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5: 1

Tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan negara republik Indonesia. Sehubungan dengan adanya pandemi, Presiden Jokowi mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk merayakan hari itu secara virtual. Hari kemerdekaan atau hari lahir suatu negara adalah hari yang dianggap penting untuk dirayakan seluruh rakyatnya sekalipun keadaan dunia saat ini kurang baik. Kemerdekaan (freedom) adalah sebuah hal yang didambakan setiap manusia di dunia, dimana pun mereka berada. Untuk menjadi merdeka (free) orang mungkin mau membayar harga apa pun, dan bahkan bersedia berjuang sampai mati.

Memang Tuhan dari mulanya sudah memberikan kemerdekaan kepada manusia ciptaan-Nya di taman Firdaus, dan dengan itu setiap manusia mengerti perlunya hal itu.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas..” Kejadian 2: 16

Tuhan memberikan taman Firdaus kepada Adam dan Hawa untuk tempat hidup mereka, agar mereka bisa menjadi “manager“, yang mengusahakan dan memelihara taman itu. Mereka bebas untuk menjalani hidup mereka dan boleh memakan buah apa saja, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

“..tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 17

Jelas bahwa sekalipun kemerdekaan adalah hak azasi manusia; tetapi, dalam kemerdekaan selalu ada kewajiban dan batasan. Sayang sekali, karena Adam dan Hawa melanggar batasan itu, mereka kehilangan kemerdekaan mereka dan jatuh ke dalam belenggu dosa. Oleh karena itu juga, semua manusia adalah makhluk yang berdosa sejak dilahirkan. Dengan demikian, tak ada satu manusia pun yang bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi, jika Yesus Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Sebagai umat Kristen, kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, dan menjadi manusia merdeka, seperti keadaan Adam dan Hawa pada mulanya. Harga kemerdekaan kita tidak mungkin terbayar oleh usaha kita sendiri. Harga yang termahal itu sudah dibayar oleh Tuhan, dengan mengurbankan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.

Sekali merdeka, tetap merdeka! Itu adalah harapan kita. Kita harus bersyukur bahwa dengan adanya satu pengurbanan yang sempurna, kita sudah dibebaskan dari belenggu dosa oleh Tuhan. Dengan kemerdekaan itu, kita harus ingat bahwa tidak ada kemerdekaan yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk mempertahankannya. Karena setiap orang yang sudah merdeka, bisa jatuh lagi ke dalam perhambaan dan kehilangan kemerdekaannya, jika tidak berhati-hati dalam hidup dan tingkah lakunya.

Hari ini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai manusia yang merdeka bukanlah berarti bahwa kita bisa dan boleh berbuat apa saja yang kita sukai. Kemerdekaan yang benar adalah kemerdekaan dalam batas-batas hukum yang ada. Kemerdekaan yang tanpa batas selalu menimbulkan kekacauan.

Perjuangan bangsa apa pun dalam saat pandemi ini membutuhkan ketaatan dan dukungan rakyat kepada pemerintah yang ada. Segala peraturan yang ditetapkan pemerintah adalah dimaksudkan untuk melindungi rakyat.

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Roma 13: 4

Mereka yang sudah terbiasa melanggar hukum negara atau mengabaikan peraturan pemerintah lambat laun menjadi warga yang tidak dapat menghormati adanya para pemimpin. Mereka kemudian mengambil keputusan atau melakukan tindakan hanya berdasarkan kehendak sendiri.

Seperti itulah hidup orang Kristen yang sudah terbiasa untuk mengabaikan firman Tuhan, lambat laun akan kembali hidup dalam kuasa kegelapan. Hari kemerdekaan bangsa yang kita rayakan hendaknya mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya kita juga adalah warga kerajaan surgawi. Oleh karena itu, dalam hidup di dunia kita harus selalu berusaha hidup dalam kesucian untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Ketika Tuhan membisu

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Mazmur 13: 1 – 2

Kesedihan adalah nyata

Apakah anda penggemar film layar putih? Film melodrama mana yang pernah anda tonton di Indonesia? Sekalipun orang mungkin senang menonton film yang bernada sedih dan bisa membayangkan keadaan yang dilukiskan dalam film itu, tentunya tidak seorang pun yang mengingini agar kejadian semacam itu terjadi pada dirinya sendiri. Sekalipun kejadian serupa mungkin saja pernah dialami oleh penonton, itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati.

Kesedihan adalah sesuatu yang tidak disukai manusia, tetapi bisa datang tanpa diundang. Sebagian kesedihan bisa disebabkan karena kesalahan diri sendiri, tetapi banyak juga yang datang karena perbuatan orang lain atau karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Pandemi yang terjadi saat ini di dunia, tentunya bukan suatu peristiwa yang mudah diterima dengan hati yang tabah. Dengan berjalannya waktu, suasana pandemi ini lambat laun membuat banyak orang merasa gundah. Apalagi jika kita sendiri atau orang-orang yang kita kenal terkena dampaknya. Setiap orang di dunia tentunya merasa sedih dengan keadaan dunia saat ini. Semua ini adalah kenyataan dan bukan hanya sebuah film drama.

Hal yang menyedihkan bisa terjadi pada kita

Sekalipun kita berusaha keras untuk menghindari apa yang menyedihkan, hal yang buruk dapat terjadi dalam hidup kita. Banyak orang Kristen yang mengalami musibah yang bertanya-tanya mengapa Tuhan yang mahakasih membiarkan umat-Nya untuk merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa Ia tidak memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan? Daud dalam ayat di atas merasakan hal ini ketika ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ia bertanya-tanya untuk berapa lama Tuhan akan melupakan dia. Hatinya gundah dan sedih sepanjang hari karena Tuhan seakan-akan menyembunyikan wajah-Nya. Daud dalam ayat di atas juga merasa takut dan kuatir karena musuh-musuhnya merendahkan dia. Daud kuatir bahwa hidupnya lambat laun akan hancur karena kesedihan yang menumpuk.

Marahkah Daud akan Tuhan? Ataukah ia menyesali Tuhan karena Ia tidak menjawab doa-doanya? Barangkali, seperti banyak orang lain, Daud mungkin merasa bahwa Tuhan mengabaikan dirinya. Tetapi, jika kita mempelajari lebih lanjut, Daud ternyata tidak mempersalahkan Tuhan atas penderitaannya. Apa yang diucapkannya adalah bayangan pikirannya sendiri, yang membayangkan bahwa Tuhan bisa lupa atau “ngambek” seperti seorang manusia. Tetapi, Daud tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak pernah melupakan dan mengabaikan umat-Nya. Dalam ayat selanjutnya, Daud menunjuk kepada dirinya sendiri sebagai penyebab timbulnya perasaan sedih dan takut. Ia meminta agar Tuhan membuka mata rohaninya sehingga ia bisa melihat kebesaran Tuhan dan tetap bertahan dalam hidup.

“Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.” Mazmur 13: 3

Mungkinkah Tuhan sedang tidur?

Sebenarnya, kesedihan adalah bagian kehidupan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Dengan kejatuhan dalam dosa, berbagai masalah timbul yang berhubungan dengan soal tidur. Karena hidup adalah penuh dengan pergulatan, orang harus tidur dalam kelelahannya. Orang yang kurang tidur akan tidak dapat berpikir dengan cerah dan mudah jatuh sakit. Orang yang mengalami persoalan sering sulit tidur atau sebaliknya, ingin tidur terus.

Karena tidur adalah bagian kehidupan manusia, kita sering membayangkan bahwa Tuhan juga seperti itu. Mazmur 44: 23 adalah jeritan Daud yang seolah mencoba membangunkan Tuhan yang tertidur karena ia merasa Tuhan sudah mengabaikannya terlalu lama. 

“Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!” Mazmur 44: 23

Memang dalam beberapa agama lain, tuhan mereka digambarkan seperti manusia yang membutuhkan tidur atau senang tidur; jadi perlu ada ritual untuk membangunkan tuhan-tuhan mereka. Tetapi itu berbeda dengan Tuhan kita; Ia tidak pernah tidur, dan Ia malahan menjaga kita di setiap waktu, juga sewaktu kita dalam keadaan lelah dan lemah (Mazmur 121: 4). Walaupun demikian, sering kali Tuhan seakan membisu jika kita dalam kesedihan menyampaikan doa-doa kita. Karena itu, marilah kita mempelajari 2 peristiwa dalam Alkitab yang bisa memberi beberapa jawaban mengapa Tuhan bisa terasa jauh dari kita.

Angin ribut di danau Tiberias

Matius 8: 23-27

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Mereka kemudian pergi ke tengah danau Tiberias. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Yesus berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Danau Tiberias adalah sebuah danau air tawar yang sangat besar, yang karena itu juga disebut laut Galilea. Danau ini letaknya sekitar 210 meter di bawah muka air laut. Dengan panjang keliling sekitar 53 km, panjang 21 km dan lebar 13 km, danau ini sering mengalami angin badai ketika udara dingin dari gunung Hermon dan gunung Lebanon bertemu dengan udara panas dari permukaan danau.

Mengapa Yesus berperahu bersama-sama dengan murid-murid-Nya ke tengah danau hanya untuk mengalami angin topan? Ia tentu tahu apa yang akan terjadi. Mengapa Ia sengaja tidur dan membiarkan mereka ketakutan? Akankah perahu itu tenggelam jika Yesus tidak dibangunkan murid-murid-Nya? Tentu tidak!

Angin topan adalah sebuah kenyataan dari danau Tiberias sampai sekarang dan badai kehidupan adalah sebuah kenyataan hidup kita selama di dunia. Yesus menyuruh kita untuk menjadi muridNya di tengah dunia yang penuh dengan masalah, bukan untuk membuat kita takut tetapi sebaliknya untuk membuat kita merasakan dan mengakui kuasa dan kasih-Nya.

Kita tahu bahwa Yesus yang nampaknya tidur bagi murid-murid-Nya, adalah Tuhan yang sadar dan tidak takut akan apa yang terjadi di sekeliling-Nya. Kita harus bisa melihat dan percaya dengan mata rohani kita bahwa karena Yesus adalah Tuhan yang sanggup menenangkan angin ribut, kita pun sanggup menghadapi masalah kita jika kita percaya atas kuasa dan kasih Tuhan yang tidak pernah berhenti. Sebagai manusia kita cenderung untuk takut dan kuatir kalau-kalau Tuhan lengah, tetapi teguran Yesus kepada murid-murid-Nya seharusnya membuat kita yakin bahwa Ia adalah Anak Allah yang bisa menenangkan kita yang berada di tengah gelombang kehidupan jika kita tetap berharap kepada pertolongan-Nya.

Perjalanan ke Emaus

Lukas 24: 13 -21

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram.

Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.

Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.” Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!

Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen memang tidak selalu diisi dengan hal-hal yang indah. Seperti kedua murid di atas, ada saat-saat di mana hidup ini terasa sangat berat dan kita tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan. Itu karena kita tidak dapat melihat kebesaran Tuhan sepenuhnya dengan mata jasmani saja. Walaupun begitu, jika kita mengasihi Tuhan dan percaya kepada-Nya, sekalipun sekarang kita tidak melihat Dia, kita dapat melihat dengan mata rohani dan boleh bergembira karena kita telah mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1 Petrus 1: 8 – 9). Ini adalah tujuan utama iman kita dan tujuan Yesus untuk datang ke dunia.

Memang segala penderitaan dan pencobaan hidup sering kali terasa sangat berat dan benar-benar menguji iman kita; tetapi hidup tanpa perjuangan bukanlah tujuan iman kita. Ujian hidup kita itu justru akan menumbuhkan iman kita kepada Tuhan, jika kita tetap bergantung kepada bimbingan dan penghiburan Roh Kudus yang selalu ada dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Jika Tuhan tidak tidur, mengapa Ia tidak menjawab?

Memang ada orang-orang yang merasa bahwa setelah berdoa cukup lama, tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mau menjawab doa mereka. Walaupun sebagian orang menjadi kecewa dan bahkan putus asa dan meninggalkan iman mereka, ada orang-orang yang bersyukur karena Tuhan tidak menjawab doa mereka. Apa yang mereka minta kelihatannya tidak dikabulkan Tuhan, dan itu justru membawa kebaikan untuk mereka.

Doa terkadang tidak terjawab karena apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Doa mungkin tidak terjawab karena hidup kita tidak sesuai dengan firman-Nya. Doa mungkin tidak dijawab Tuhan agar kita bisa belajar bersabar dan bertekun dalam penderitaan kita serta bergantung kepada-Nya. Dan mungkin juga Tuhan tidak menjawab doa kita agar dalam keadaan apa pun, kita sadar bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, mahaadil dan mahabijaksana. Kehendak Tuhanlah yang terjadi, bukan kehendak kita.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbingan-Nya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, pada saatnya kita akan mendengar suara-Nya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Saat ini, jika kita merasa Tuhan itu jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita, kita tidak boleh merasa kecewa atau putus asa. Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita walaupun Ia belum tentu mengabulkan permohonan kita. Tuhan hanya memberikan apa yang terbaik kepada umat-Nya pada saat yang tepat.

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda tetap mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya. Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita, tetapi dengan kebijaksanaan-Nya Ia belum tentu menjawab doa kita seperti apa yang kita harapkan. Kunci kebahagiaan bukanlah memperoleh apa yang kita minta, tetapi rasa cukup dengan apa yang sudah diberikan-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Tetap memuji Tuhan dalam segala keadaan

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Habakuk 3: 17 – 19

Kebahagiaan adalah sesuatu yang sebenarnya diingini semua orang. Tetapi, kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit didapat. Seorang anak kecil jika ditanya tentang apa yang dicita-citakannya mungkin menjawab dengan salah satu pilihan diantara profesi yang membawa kekayaan, kepandaian dan kemasyhuran. Dengan kesuksesan dalam hidup, banyak orang mengharapkan adanya kepuasan dan kebahagiaan. Dengan adanya pandemi Covid-19, pandangan seperti ini mulai goncang. Tentunya orang lebih berharap agar ia dapat melalui masa sulit ini dengan selamat daripada memikirkan kesuksesan. Nyawa lebih penting daripada harta. Walaupun demikian, orang tetap ingin berbahagia. Mungkinkah?

Bagaimana kita bisa tetap berbahagia dalam keadaan saat ini? Kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya, tetapi memerlukan keputusan pribadi. Kebahagiaan tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Dari hati, bukan dari mata. Karena mata sering melihat segala apa yang berkilau dan mengira bahwa semuanya adalah emas permata, tetapi pada akhirnya hanya kehampaan yang ditemui. Karena mata juga sering melihat adanya penderitaan, kekurangan, kesepian, kekecewaan, kegagalan dan ketakutan; dan semuanya membuat hidup ini terasa sangat berat. Tetapi hati bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia: Tuhan.

Hati yang berduka adalah penyebab hilangnya kebahagiaan dalam hidup. Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, hati yang kosong membuat usaha mencari kebahagiaan menjadi sia-sia. Jika Tuhan tidak ada dan manusia tidak dapat dipercaya, siapa lagi yang bisa diharapkan? Bagi mereka yang tahu adanya Tuhan tetapi tidak mengenal-Nya, bagaimana mereka bisa mengutarakan keluh kesah yang ada? Apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka? Akankah Dia akan berbuat sesuatu untuk mereka?

Nabi Habakuk dalam ayat di atas melukiskan pergumulan dalam hidup orang Israel. Mata Habakuk melihat bagaimana orang Israel harus berjuang dalam hidup untuk mencukupi kehidupan dan untuk tetap survive dalam suasana yang berbahaya. Bangsa Israel pada waktu itu (sekitar abad VII sebelum Masehi) berada dalam ancaman bangsa-bangsa lain dan hidup dalam kekurangan. Tetapi Habakuk mempunyai keyakinan bahwa kebahagiaan masih bisa diperoleh melalui iman kepada Tuhan. Happiness is the Lord. Tuhan adalah sumber kebahagiaan (baca Mazmur 37).

Di manakah engkau, Tuhan? Aku mencari dan tidak melihat-Nya, aku menjerit tetapi Ia tidak menjawab! Itulah apa yang sering dikeluhkan manusia yang tahu bahwa Tuhan ada, tetapi tidak menemukan-Nya. Habakuk bukannya tidak pernah mempunyai perasaan yang serupa. Ia juga bergumul untuk dapat mengerti jalan pikiran Tuhan ketika ia dengan mata, melihat penderitaan di sekelilingnya. Tetapi dengan hati Habakuk mendapat keyakinan bahwa ia bisa mendapat ketenteraman melalui iman kepada Tuhan. Tuhan ada, dan apa yang harus dilakukannya hanyalah percaya kepada kasih dan kuasa-Nya. Kebahagiaan datang dari Tuhan, yang tidak membiarkan Habakuk jatuh terpeleset dari bukit penderitaan hidupnya.

Hari ini, mungkin dengan mata kita bisa melihat bahwa keadaan di sekeliling kita tidaklah bisa memberi harapan. Kesedihan, kekecewaan dan ketakutan mungkin membuat hidup kita sangat tertekan. Tetapi, karena Tuhan sudah memberi kita iman dalam hati kita, kita bisa menghadapi semua tantangan itu dengan memusatkan perhatian kita tidak dengan mata, tetapi dengan hati. Tuhan sudah menyertai kita dalam keadaan apa pun, dari dulu dan sampai sekarang. Ia juga yang tahu segala kebutuhan kita, baik dalam segi jasmani maupun rohani. Karena itu, seperti yang ditulis oleh rasul Paulus dalam Roma 8: 35, siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus di masa mendatang? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Jangan melihat ke hari depan dengan mata saja, karena dengan hati yang beriman kita bisa mendapatkan rasa sukacita yang sejati.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Filipi 4: 4

Tempat persembunyian dan perlindungan

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Mazmur 46: 1 – 3

Bacaan: Mazmur 119

Manusia manakah yang tidak pernah takut? Setiap manusia yang normal dan sehat pikirannya tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah mekanisme kehidupan yang membuat orang bisa mengatasi adanya bahaya, dan itu yang sering mendorong orang untuk berusaha membela diri, menyembunyikan diri atau lari dari bahaya. Walaupun demikian, keadaan sering kali membuat orang kehilangan harapan, karena mereka bisa melihat bahwa baik dengan melawan, bersembunyi ataupun melarikan diri, mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang ada.

Sejarah menuliskan berbagai pengalaman manusia dalam menghadapi bahaya besar. Adanya kebakaran hutan (bushfire) di Eropa dan Amerika saat ini menunjukkan adanya orang-orang yang berani dengan mati-matian mempertahankan rumahnya dari serangan api, tetapi ada juga yang mengambil keputusan untuk melarikan diri. Mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk melawan serangan api dan terlambat untuk melarikan diri, terpaksa bersembunyi di tempat yang dirasa paling aman. Tragisnya, kebakaran yang demikian besar biasanya tidak memandang bulu dan orang yang bagaimanapun bisa menjadi korbannya.

Bagaimana jika kita dihadapkan kepada bahaya yang besar dalam hidup kita? Bagaimana perasaan kita jika kita melihat adanya banyak orang yang menjadi korban pademi dan kita pun mungkin mengalami hal yang serupa? Jika kita tidak mempunyai harapan apa pun untuk bisa menghindari hal itu, mungkin kita terpaksa untuk hidup dan bekerja seperti biasa tetapi dengan lebih berhati-hati dan menjaga diri. Tetapi, bagaimana pula jika kita tidak yakin bahwa kita akan bisa menjaga diri sepenuhnya? Mungkin kita memutuskan untuk sebisa mungkin tinggal di rumah dan tidak kemana-mana. Tetapi, ini pun belum tentu 100 persen aman karena setiap orang tentunya perlu membeli bahan makanan dan sebagainya.

Mazmur 119 adalah bab yang terpanjang dari Alkitab karena mempunyai 176 ayat. Penulis mazmur ini kurang diketahui, tetapi diduga Ezra, Daud atau Daniel. Tetapi yang jelas adalah penulisnya mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar. Seluruh ayat yang ada menunjukkan pergulatan jasmani maupun rohani yang dialaminya. Walaupun demikian, dalam setiap kesempatan si penulis menyatakan kerinduan dan pujian kepada Tuhan, sumber pengharapannya. Ia juga menyatakan bahwa dalam Tuhan ia bisa menemukan tempat persembunyian dan perlindungan.

“Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 114

Mazmur 119 jelas menunjukkan perbedaan antara orang yang memiliki (atau lebih tepat, dimiliki) Tuhan dengan orang lain yang tidak mengenal Tuhan dalam menghadapi masalah kehidupan. Adanya Tuhan dalam hidup seseorang membuat perspektif hidupnya berubah sama sekali. Beruntunglah orang yang mengalami masalah tetapi masih mempunyai harapan. Malanglah orang yang mengalami penderitaan dan tidak mendapat penghiburan.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Tuhan itu bagi orang percaya adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu orang yang beriman tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Itu karena Tuhan adalah Sang Pencipta yang berkuasa atas langit dan bumi dan segala isinya.

Hari ini, adakah rasa takut dan kuatir dalam diri anda? Adakah masalah yang besar yang seakan tidak akan dapat anda atasi atau hindari? Tuhan yang memiliki kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia mau mendengarkan doa kita dan sanggup memberi kita keteguhan hati dalam menghadapi semuanya. Kasih-Nya tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun, dan kepada-Nya saja kita boleh berharap akan datangnya pertolongan, perlindungan dan penghiburan.

Satu-satunya yang bisa kita andalkan

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Pagi ini saya membaca artikel di media bahwa ada banyak orang yang tergolong muda sekarang ini terpapar Covid-19. Memang, gara-gara munculnya varian Delta, keadaan mulai berubah dengan adanya banyak negara yang sudah melonggarkan aturan pembatasan sosial sekarang mulai menerapkan lockdown lagi. Salah satu alasan untuk memperketat lockdown adalah kemungkinan meningkatnya angka penularan dalam masyarakat umum karena mereka yang muda tentunya lebih aktif dan mobil dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang muda dan merasa sehat mungkin percaya bahwa mereka tidak perlu kuatir untuk tertular virus corona. Karena itu, sering kali timbulnya klaster-klaster Covid-19 adalah disebabkan oleh pesta, kerumunan dan perjalanan yang secara ilegal diadakan oleh kelompok ini.

Hidup di dunia ini sebenarnya penuh tantangan dan setiap orang mempunyai tanggung-jawab pribadi untuk menggunakan hidupnya dengan sebaik-baiknya. Apalagi, untuk orang Kristen hidup adalah untuk memuliakan Tuhan yang mahakuasa, dan bukan untuk mencari kepuasan atau kenyamanan pribadi. Sebaliknya, hidup yang nyata adalah hidup yang sering kali mengandung hal-hal yang tidak menyenangkan. Itu sebenarnya tidaklah mengherankan karena dunia ini adalah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3: 17 – 19).  Yang justru aneh ialah jika orang ingin melarikan diri dari kenyataan dan ingin untuk menikmati hidup tanpa mempedulikan adanya bahaya. Tidak hanya diri sendiri yang bisa dirugikan, tetapi juga keluarga, gereja, masyarakat dan negara.

Dalam menghadapi segala kesulitan hidup di saat ini kita tentu saja mudah menjadi takut. Kita sering gelisah dan gentar karena masa depan yang tidak menentu. Keadaan sosial, ekonomi, lingkungan dan hukum yang kita alami dalam hidup ini juga sering membuat kita menjadi kecil hati. Apa lagi yang bisa kita lakukan? Murid-murid Yesus mungkin merasakan hal yang serupa ketika mereka ditinggalkan Yesus. Tetapi Yesus yang pernah menjadi manusia tahu bahwa jika manusia harus berjuang sendirian, mereka akan merasa lemah karena sumber kekuatan mereka bukanlah diri mereka sendiri. Manusia memang sering tidak tahu bahwa sumber kehidupan mereka adalah Tuhan. Jika saja mereka mau belajar dari masalah kehidupan yang sudah lewat, mereka akan sadar bahwa Tuhan yang memegang kendali atas alam semesta akan memberi mereka kekuatan dan kedamaian dalam menghadapi masalah yang ada di saat ini.

Hari ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa Yesus sudah berjanji kepada murid-murid-Nya – dan itu termasuk kita – bahwa Ia akan memberikan damai sejahtera yang tidak serupa dengan apa yang ditawarkan dunia. Kenyamanan yang ditawarkan oleh dunia adalah bersifat sementara, sedang damai sejahtera yang diberikan Yesus adalah kekal. Apa yang nampak gampang, indah dan nikmat di dunia justru sering kali adalah fantasi yang membawa malapetaka, tetapi damai sejahtera yang dijanjikan Kristus seharusnya bisa membuat kita sadar bahwa kepada Tuhan kita boleh menyerahkan hidup kita sepenuhnya. Yesus tahu apa yang kita butuhkan, Ia jugalah yang akan memberi kita keberanian untuk menghadapi hidup ini agar kita bisa menjadi umat-Nya yang berguna untuk Dia dan sesama kita. Ialah satu-satunya yang bisa kita andalkan dalam hidup ini.

Hidup ini adalah kesempatan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

Pandemi yang sudah berlangsung hampir satu tahun di dunia ini sudah membuat membuat resah banyak orang. Jika tahun lalu kebanyakan korban COVID-19 adalah orang-orang yang sudah berumur atau mereka yang mempunyai penyakit bawaan, saat ini banyak orang yang masih muda dan bahkan anak-anak yang meninggal karena terpapar virus corona. Karena itu ada orang yang sadar bahwa mereka harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk: kematian.

Barangkali, Paulus dalam menulis ayat di atas merasakan hal yang serupa bagi dirinya. Usia yang mulai melanjut dan tahanan rumah yang dialaminya tentunya membuat dia memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan yakin atas keselamatannya, Paulus tentu tidak sangsi kemana ia akan pergi pada akhir hidupnya. Ia akan ke surga. Dengan demikian, keadaan terburuk yang banyak dipikirkan orang lain yang mengalami pergumulan hidup, justru merupakan keadaan yang terbaik bagi Paulus. Kematian akan membawa dia ke perjumpaan dengan Kristus.

Paulus menulis bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat di mana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin.

Alkitab menyatakan hidup manusia itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4: 13-14). Kita tidak dapat memperpanjang hidup kita sedetik pun. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus mengharapkan perjumpaan dengan Kristus untuk datang secepat mungkin. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa sekalipun hidup di surga itu jauh lebih baik, ada perlunya untuk hidup di dunia untuk bekerja dan berbuah, yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Dalam hal ini, apa yang harus kita kerjakan dalam masyarakat di sekitar kita selagi kesempatan masih ada?

Kita tentunya tahu bahwa Tuhan Yesus pernah menyatakan bahwa hukum yang terutama bagi orang Kristen adalah:

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusi seperti dirimu sendiri. ” Matius 22: 37-39

Mereka yang siap untuk mati adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan yang mereka kasihi dan ingin hidup dalam kemuliaan-Nya di surga. Tetapi, orang-orang yang benar imannya adalah orang yang juga percaya bahwa selama hidup di dunia, mereka harus berusaha sebisa mungkin untuk mengasihi sesamanya. Dalam hal ini, mungkin kita tidak mengalami kesulitan untuk mengasihi mereka yang seiman, sealiran, segereja atau serumah. Tetapi, lain halnya dengan mengasihi mereka yang berbeda latar belakangnya dengan kita. Apalagi, kita mungkin merasa sulit untuk mengasihi musuh-musuh kita walaupun Yesus sudah berfirman sedemikian.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 – 44

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah: “Apakah kita siap untuk mati?”. Apakah kita benar-benar siap untuk menjumpai Tuhan di surga? Jika kita memang siap untuk mati, itu berarti kita juga siap untuk hidup di dunia ini sebagaimana Tuhan menghendakinya. Kita harus tetap percaya, bahwa sekalipun keadaan saat ini kurang baik, kita harus tetap bersemangat untuk hidup guna melaksanakan perintah-Nya (Yakobus 4: 15).

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Ujian adalah perlu untuk naik kelas

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1: 2-4

Di zaman modern, pendidikan pada umumnya dianggap sebagai kunci untuk kesuksesan. Anak-anak dari kecil sudah diajarkan untuk mau giat belajar agar dapat memperoleh ijazah universitas supaya bisa memperoleh pekerjaan yang enak, yang menghasilkan banyak uang setelah lulus. Tetapi untuk dapat memasuki sebuah universitas yang baik dan lulus dengan hasil bagus, mereka tentunya harus mau bekerja keras untuk lulus ujian. Sekalipun kemungkinan tidak lulus ujian itu selalu ada, mereka yang tetap ulet dan bertahan, pada akhirnya akan berhasil dan bisa hidup berbahagia. Itu harapan manusia, tetapi kenyataan hidup bisa berbeda.

Satu hal yang sering tidak kita sadari sebelum terjadinya masalah kehidupan seperti yang kita alami saat ini ialah kenyataan bahwa manusia sebenarnya tidak memegang kemudi kapal kehidupan. Bagaimanapun manusia berusaha dan bekerja, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tetap bisa bermunculan pada setiap saat. Bagi mereka yang hidupnya kosong, datangnya kesulitan hidup akan dapat membawa kehancuran karena kepercayaan kepada diri sendiri akan tergoncang dan harapan masa depan menjadi suram. Pengertian tentang kebahagiaan yang mereka yakini sejak lama, sekarang menjadi tanda tanya besar.

Memang, menurut Alkitab hidup orang percaya tetap dihadapkan kepada berbagai tantangan dan kesulitan. Ini bukan pencobaan dalam arti godaan iblis untuk berbuat dosa. Tetapi, ini adalah segala masalah kehidupan yang harus kita hadapi. Kita boleh berbahagia dalam menghadapinya sebab kita tahu, bahwa dalam mengalami jatuh-bangun, ujian iman seperti itu menghasilkan ketekunan yang membentuk kita sebagai orang yang sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Bagi umat Kristen, kebahagiaan adalah karunia Tuhan. Semua hal yang baik adalah datang dari Tuhan. Kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Sekalipun kesuksesan, kekayaan, keamanan dan kesehatan ada tersedia dalam hidup kita, kekosongan hati masih sering muncul. Malahan kita tahu bahwa banyak orang ternama yang mengakhiri hidup mereka secara tragis karena hidup yang berkekurangan dalam kemewahan. Hidup kosong yang tidak menyadari adanya Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa hidup kita akan berjalan tanpa kemudi jika kita tidak membiarkan Tuhan membimbing kita. Sebaliknya, menyerahkan hidup kita kepada-Nya akan memberi keyakinan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Tuhan akan membawa kita ke tempat yang baik. Keyakinan inilah yang memberi kita ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan hidup, yang pada akhirnya akan memberi kebahagiaan sejati dalam rasa kecukupan pada setiap saat!

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” Mazmur 23: 1-2

Tuhan adalah Alfa dan Omega

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Wahyu 1: 8

Pernahkah anda berpikir mengapa ada banyak kejadian yang menyedihkan di dunia ini? Seperti kekejaman, kelaparan, pandemi dan peperangan? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya terjadi? Mengapa Ia membiarkan dosa menghancurkan manusia? Benarkah Tuhan itu mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil? Benarkah Ia mengirimkan Yesus untuk seisi dunia sehingga semua yang percaya dapat memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3.16)? Apakah Ia adalah Tuhan yang tidak mahakuasa walaupun mahakasih? Mungkinkah Ia adalah Tuhan yang mahakuasa tapi tidak mahakasih? Apakah dia hanya memilih bangsa-bangsa tertentu untuk mendapat keselamatan di surga dan kebahagiaan di dunia? Mungkinkah dia Tuhan yang “pilih kasih”? Mungkinkah dia kurang bijaksana?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sering sekali muncul di antara umat Kristen dan masyarakat umum. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang tidak peduli akan keadaan dunia karena berpandangan bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan membuat segala sesuatu terjadi di dunia. Sebaliknya, di kalangan masyarakat umum, banyak orang yang tidak mau menjadi Kristen karena beranggapan bahwa Tuhan tidak sepenuhnya mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil.

Ayat dari kitab Wahyu diatas jelas menyatakan bahwa Tuhan adalah mahakuasa, Ia yang mengatur segala sesuatu menurut rencana dan kebijakan-Nya dari awal sampai akhir. Tetapi, apakah Dia jugalah yang membuat segala sesuatu di dunia ini, termasuk hal-hal yang jelek seperti dosa, kejahatan dan penderitaan? Banyak orang Kristen, yang mungkin karena pengalaman-pengalaman yang dialami mereka, cenderung percaya bahwa semua itu terjadi karena kehendak Tuhan yang mahakuasa. Karena Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu dari awalnya, tentu Dia yang menentukan hal-hal yang baik dan buruk untuk terjadi pada saat yang dikehendaki-Nya di dunia ini. Tuhan yang mahakuasa tentu bisa melakukan apa pun. Benarkah itu?

Adakah sesuatu yang tidak dapat Tuhan lakukan? Ini pertanyaan yang sering kali dikemukakan oleh orang yang ingin menjebak orang Kristen. Jika jawabnya “tidak ada”, pertanyaan ini akan dilanjutkan dengan pertanyaan mengapa Tuhan tidak melakukan ini dan itu. Jika jawabnya “ada” maka Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa.

Sebenarnya ada banyak yang tidak bisa dilakukan Tuhan. Aneh? Satu yang jelas, Tuhan yang mahasuci tidak bisa berbuat dosa. Tuhan juga tidak bisa dijadikan boneka atau patung di sudut rumah. Tuhan tidak bisa menjadi lembaran kertas berharga yang bisa dimasukkan ke dalam dompet. Tuhan juga tidak bisa menjadi kepandaian yang disimpan dalam otak kita. Tuhan tidak bisa menjadi pemimpin negara yang kita sanjung-sanjung. Tuhan adalah Tuhan yang mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil. Karena itu Tuhan tidak hidup dan bisa bertindak seperti manusia yang terbatas dalam hal kemampuan, keadilan, kebijaksanaan dan kesucian. Apakah ketidakbisaan Tuhan ini membuat Tuhan bukan Tuhan? Sudah tentu tidak.

Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya telah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan. Bahwa Adam dan Hawa mengambil keputusan untuk berbuat dosa, itu bukanlah kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki manusia untuk taat kepada bimbingan-Nya dan hidup dalam kasih-Nya. Itu adalah rencana-Nya dari awal dan karena itu Ia akan mewujudkan rencana-Nya pada akhirnya. Penebusan darah Kristus adalah satu jalan yang ditentukan-Nya untuk itu, karena Ia tahu bahwa manusia dalam kebodohan mereka mau menurut bujukan iblis. Sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia tidak dibatasi oleh apa pun dan Ia bisa bertindak untuk mewujudkan rencana-Nya kapan saja, tanpa bergantung kepada manusia dan perbuatan mereka.

Manusia dalam hidupnya bisa memilih untuk percaya kepada Yesus atau percaya kepada ilah-ilah yang lain. Mereka bisa lebih memercayai kebohongan daripada kebenaran. Mereka memang mempunyai kebebasan dan pilihan. Kekejian dan kekacauan ada di`mana-mana karena perbuatan manusia. Ini bukan tanda bahwa Tuhan tidak mahakuasa, tetapi sebagai Tuhan Ia tidak dapat untuk membuat peta dan teladan-Nya untuk menjadi seperti mesin, karena Tuhan bukan mesin. Tuhan tidak dapat membuat diri-Nya bukan Tuhan. Tuhan tidak dapat membohongi diri-Nya sendiri. Dia tidak dapat merendahkan diri-Nya sendiri. Tetapi, dengan memberikan kebebasan bagi manusia dan dengan tetap mempunyai kontrol yang penuh akan jalannya alam semesta, Ia membuktikan bahwa diri-Nya adalah Alfa dan Omega, yang memulai dan yang mengakhiri. Tuhan tidak bisa menjadi Tuhan yang gagal sekalipun manusia dan iblis berusaha menggagalkan rancangan-Nya. Biarlah kita tetap percaya akan kebesaran-Nya sekalipun dalam hidup ini terkadang kita tidak mengerti apa maksud dan rencana-Nya.

“Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mazmur 103:22

Pandemi ini seharusnya membuat kita lebih bergantung kepada Tuhan

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Adanya pandemi Covid-19 mungkin dipandang oleh banyak orang sebagai malapetaka yang sama sekali tidak ada gunanya. Malahan, pandemi ini terasa seperti sebuah malapetaka yang hanya membawa kepedihan dan derita bagi umat manusia. Memang, peradaban manusia di masa lalu berkembang karena adanya berbagai tantangan hidup; tetapi jika apa yang dihadapi adalah lebih besar dari kemampuan untuk mengatasinya manusia bisa saja hilang harapan.

Bagi umat Kristen, segala apa yang terjadi di dunia adalah dengan seizin Tuhan. Umat percaya tentunya juga yakin bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umat-Nya dalam setiap keadaan. Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang sangat berat, orang mungkin merasa bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa dan mahakasih, kepada siapa mereka bisa berharap. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang sekarang goncang imannya, dan bingung mencari-cari jalan apa pun untuk dapat bertahan atau survive. Mereka lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas seisi alam semesta. Mereka bisa saja lebih bergantung kepada nasihat orang lain dan usaha sendiri untuk mengatasi segala kekuatiran mereka. Mereka secara tidak sadar sudah meninggalkan iman kepada Tuhan dan mencoba bersandar pada pikiran dan pengetahuan manusia. Ini tentunya bisa membuat Tuhan merasa cemburu.

Jika rasa cemburu manusia sering kali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dan penyerahan dari manusia. Ia tidak mengizinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau benda apa pun yang juga diciptakan-Nya. Penyembahan dan penyerahan yang tidak kepada Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuan-Nya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuan-Nya ingin agar manusia hidup bahagia melalui ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak ke dalam kekacauan dan penderitaan di saat ini karena berharap kepada ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia ke arah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam keadaan terdesak, manusia makin mudah terperosok ke dalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “influencer” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan anjuran dan ajaran mereka yang hebat, dan menganggap apa yang kelihatan oleh mata sebagai sesuatu yang terbaik dan yang di atas segalanya. Pada pihak yang lain, manusia juga mudah terperangkap dalam keyakinan bahwa hidup-mati mereka ada di tangan mereka sendiri. Adanya pandemi yang seharusnya bisa mengingatkan kita untuk makin dekat dengan Tuhan sumber kehidupan kita, bisa membuat kita ragu untuk bergantung kepada-Nya. Ini tentu saja serupa dengan pemujaan berhala.

Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan apa dan siapa yang ditinggikan oleh manusia. Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gereja. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat pengharapan dan mengharapkan mujizat terjadi melalui doa-doa mereka. Pemujaan diri sendiri terjadi jika kita lupa untuk mengakui bahwa kehendak-Nya yang harus terjadi, bukan kehendak kita.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak di atas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki , kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan saat ini, jika kita tunduk dalam ketakutan dan mengambil keputusan atau tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itupun merendahkan Tuhan karena kita seolah lupa bahwa hanya Tuhan yang memegang kontrol.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucian-Nya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikan-Nya dalam keadaan darurat saat ini, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran. Hukum yang pertama untuk menghormati dan percaya kepada Dia adalah hukum yang terpenting untuk dilaksanakan manusia karena itu merupakan tali kehidupan yang menjamin kesejahteraan umat-Nya di bumi dan di surga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22