Dalam penderitaan, Tuhan tetap di pihak kita

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Hal pengadaan vaksin corona agaknya menjadi pusat perhatian banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, yang menantikan berakhirnya pandemi ini tentunya berharap dan bahkan berdoa agar seluruh sanak-keluarga bisa tetap sehat dan diindungi Tuhan selama mereka menantikan giliran untuk divaksin. Lebih dari itu, mereka mungkin berharap agar mereka bisa divaksinasi secepatnya. Tidaklah mengherankan adanya “perlombaan” untuk mendapat vaksin, baik itu antar negara ataupun antar sesama warga. Berharap untuk menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.

Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak, bersifat egosentris; memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan bagi orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkatNya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang dan selalu mendapatkan apa yang terbaik. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?

Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Hari ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyai Tuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Jujur saja di hadapan Bapa

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6: 46

Ampunilah aku ya Bapa..

Bagi banyak orang Kristen, hal bersenandung lagu rohani, berdoa khusyuk dan mengucapkan “kata-kata rohani” seperti shalom, amin dan haleluya, adalah umum. Orang Kristen juga sering menyebut panggilan Bapa, Abba, Tuhan dan Yahwe dengan mesranya setidaknya pada hari Minggu, hari kudus, hari berkelakuan baik. Sepertinya agar Tuhan itu senang dengan usaha pendekatan kita, walaupun hidup kita sehari-hari sebenarnya kacau dan berantakan.

Ayat diatas secara tegas mengungkapkan perasaan Yesus yang resah karena adanya orang yang bermanis-manis kepadaNya tetapi tidak mau menuruti apa yang diperintahkanNya. Jika mungkin untuk manusia membuat pernyataan dan laporan palsu dan setengah palsu sekedar untuk memuaskan atasan-atasan mereka di dunia, manusia tidak dapat membohongi atasan mereka yang di surga karena Dia adalah Tuhan yang mahatahu. Tidaklah mungkin bahwa Tuhan bisa kita bohongi dengan kehidupan kita yang palsu, yang tidak benar. Sia-sialah kita bersikap sopan dan hormat kepada Tuhan jika tingkah laku kehidupan kita di dunia ini mempermalukan Dia yang mahasuci.

Iman Kristen memang unik karena hanya dengan iman kita diselamatkan, dan itu bukan karena perbuatan kita. Tetapi itu bukan berarti kita bisa menjadi persembahan yang hanya harum di luar tetapi berbau busuk di dalam. Bukan berarti bahwa kita bisa menjadi orang Kristen yang nampak indah cemerlang dalam penampilan luar kita tetapi gelap gulita dalam kehidupan sehari-hari kita.Bukan juga berarti kita bisa jujur dalam lingkungan gereja tetapi culas di dalam hidup bermasyarakat.

Begitu banyak orang Kristen yang berpedoman asal Tuhan senang, peduli amat dengan orang lain. Tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Yesus:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30-31

Tambahan pula, manusia tidak dapat mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika ia tidak mengasihi sesamanya yang kelihatan (1 Yohanes 4: 20).

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak dapat kita tipu dengan persembahan hidup yang tidak benar, tidak lengkap atau yang sudah direkayasa. Tuhan tahu jika kita berlagak kasih dan hormat kepadaNya tetapi tidak mempunyai rasa kasih dan hormat kepada sesama kita. Tuhan tahu jika kita seolah mau bekerja keras untuk Dia tetapi tidak mau mempedulikan kebutuhan keluarga kita sendiri. Tuhan bisa melihat jika kita hanya mengasihi sesama orang Kristen dan bukannya sesama manusia. Di lain pihak, Tuhan juga tahu jika kita hanya berusaha menyenangkan orang-orang tertentu, mengagumi kehebatan ajaran gereja dan pimpinan gereja kita, dan bukannya berusaha untuk menaati perintah Tuhan.

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Kolose 3: 22

Marilah kita bersama berusaha hidup dengan jujur di hadapan Tuhan kita yang mahatahu dengan menaati segala perintahNya, supaya dalam setiap saat dan keadaan kita bisa memanggilNya Bapa tanpa keraguan dan kecanggungan!

Tiap langkahku dipimpin oleh Tuhan

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Bacaan: Yeremia 17: 5 – 10.

Pernahkah anda mendengar atau menyanyikan lagu “Tiap Langkahku”? Lagu yang aslinya berjudul “Each Step I take” itu ditulis oleh Elmo Mercer pada tahun 1953 sewaktu ia berusia 19 tahun. Dalam bahasa Indonesia syairnya berbunyi:

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasih-Nya memimpinku
Di tengah badai dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh

Tiap langkahku kutahu Tuhan yang pimpin
Ke tempat tinggiku dihantar-Nya
Hingga sekali nanti aku tiba
Di rumah Bapa surga yang baka

Lagu indah ini memang memberi kesejukan di hati setiap orang yang mau menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Kristus akan menjadi pemimpin hidup mereka, yang berjalan di depan dan memimpin mereka setiap hari ke tempat yang tinggi.

Berbeda dengan orang Kristen, sebagian orang di dunia membayangkan bahwa hidup ini berjalan seperti sebuah titik pada sebuah roda yang berputar, spinning wheel, yang bisa naik dan kemudian turun. Oleh sebab itu, bagi mereka, hidup adalah kesempatan untuk mencari keuntungan dan kenyamanan selagi bisa. Selagi roda kehidupan mereka berputar ke atas, mereka memanfaatkannya dengan apa saja yang bisa dilakukan supaya hidupnya makin enak. Mencari “hoki” dan “cuan” adalah yang paling penting bagi mereka.

Memang jika kita lihat dalam hidup ini, manusia selalu berusaha untuk berhasil tanpa mempedulikan siapa yang menggerakkan roda kehidupan ini. Sebagian percaya bahwa mereka harus bisa mempertahankan posisi mereka pada roda kehidupan dengan segala cara. Mereka lupa bahwa Tuhan yang memegang kontrol atas hidup kita di setiap saat, bahwa roda kehidupan itu tidak selalu berputar seperti apa yang diharapkan. Mereka tidak sadar bahwa dinamika hidup ini adalah sangat kompleks. Roda kehidupan bukanlah seperti roda yang berputar dengan kecepatan dan arah yang tidak pernah berubah.

Adakah yang bisa diharapkan dalam hidup ini? Adakah yang bisa dipastikan jika roda kehidupan selalu berputar? Yeremia 17 berisi peringatan bagi bangsa Israel bahwa mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Peringatan ini secara umum juga berlaku untuk setiap orang yang hidup di dunia, dari dulu sampai sekarang.  Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mereka yang merasa bahwa hidup dan hasil usaha mereka berada dalam tangan sendiri, pada suatu saat akan kecewa karena apa yang terjadi bisa di luar dugaan mereka. Tuhan melalui Yeremia dengan jelas menyatakan rasa tidak senangNya atas kesombongan manusia.

Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Yeremia 17: 5

Sebagai umat Kristen, kita harus percaya bahwa Tuhan benar-benar  membenci manusia yang sombong, yang merasa bahwa ia dapat mengatur jalannya roda kehidupan dengan berbuat ini dan itu. Kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai rencana untuk seisi alam semesta, dan itu harus terjadi. Ini bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja sebaik mungkin dalam keadaan apapun yang mereka alami. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Manusia mungkin berusaha untuk bekerja dan mencapai kesuksesan. Itu adalah baik jika mereka seperti bekerja untuk Tuhan dan tidak lupa untuk memuliakan namaNya. Dalam kenyataannya, terlalu banyak orang yang sukses dalam hidupnya tetapi tidak sukses dalam usaha memuliakan Tuhan. Ada juga yang nampaknya bekerja untuk kemuliaan Tuhan, tetapi segala apa yang dicapainya sebenarnya hanya dipakai untuk kenikmatan diri sendiri. Ayat pembukaan kita berkata bahwa Tuhanlah yang menyelidiki hati, yang menguji pikiran, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Ia tahu apakah orang menyombongkan keberhasilannya; Ia juga tahu jika orang menyalahgunakan berkatNya. Tetapi Ia juga tahu jika orang menyia-nyiakan hidupnya dengan tidak berusaha untuk memuliakan Tuhan dalam setiap keadaan. Tuhan tahu apa yang akan diperbuat manusia, tetapi Ia bukan Tuhan yang membuat manusia salah langkah.

Hari ini, biarlah kita memikirkan roda kehidupan yang kita jalani.  Mungkin roda kehidupan kita sekarang ini memberikan kesempatan untuk menikmati berkatNya. Kepada kita diingatkan bahwa semuanya datang dari Tuhan dan karena itu kita harus makin menaruh harapan kepada Tuhan. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa hidup kita ada di tanganNya. Sebaliknya, jika kita pada saat pandemi ini berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan, kita tidak boleh berputus asa karena Tuhan menilik hati dan pikiran kita. Ia tahu apa kebutuhan dan motivasi kita. Mereka yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapan mereka kepada pimpinan Tuhan dalam setiap langkah mereka, akan dikuatkan dan diberkati, sehingga dalam keadaan apapun mereka akan tetap berdiri teguh dan bisa merasakan kasihNya.

Ini hidup baru, ini baru hidup

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai ciri-ciri hidup baru (born again) belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga hidup baru mereka tidaklah jauh berbeda dari hidup sebelumnya.

Pada waktu seseorang memasuki hidup baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman. Dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama mengaku Kristen. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan pribadi.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepadaNya. Mereka yang hidup dengan mengandalkan akal budi saja, cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka hidup di luar firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang yang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah. Dengan demikian, seperti pohon yang berdaun hijau belum tentu pohon yang hidup, mereka yang mengaku Kristen mungkin adalah orang-orang yang masih berada dalam hidup lama yang membawa kematian (Matius 7: 19-20).

Sekalipun cara hidup dan penampilan yang baik seringkali dianggap sebagai tanda hidup baru, itu belum tentu bukti hidup baru. Hidup baru benar-benar bisa terlihat jika orang tetap bertahan dalam iman sekalipun menghadapi semua tantangan atau masalah kehidupan baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Seperti pohon yang tetap berdiri kokoh walaupun diterjang badai. Dalam situasi pandemi saat ini, mereka yang benar-benar sudah hidup baru mungkin mengalami berbagai penderitaan, tetapi tetap teguh dalam iman. Dalam kesulitan hidup mereka mungkin menjumpai berbagai godaan dan jalan pintas yang memikat, tetapi tetap bisa berdiri tegap dalam kebenaran firman Tuhan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani dan menghasilkan buah yang baik dalam suka maupun duka. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai tipu-daya dan keadaan, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan. Mereka yang benar-benar sudah mempunyai hidup baru adalah orang-orang yang tetap setia kepada Tuhan dalam keadaan apapun.

Hidup di dunia hanya sementara

“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” Mazmur 39: 4

Dalam keadaan di saat ini, hampir setiap orang tahu adanya orang yang dikenal, entah itu teman, sanak atau anggota keluarga yang menjadi korban Covid-19. Sedih memang, apalagi jika mereka belum benar-benar mencapai usia tua. Mereka yang dulunya terlihat sehat, tiba-tiba harus berpulang. Mereka yang dikenal sebagai orang yang baik hati, secara tidak disangka meninggal dunia. Hidup manusia di dunia memang singkat dan sementara, tetapi tetap saja orang ingin agar bisa mempunyai usia yang panjang. Umumnya, tidak ada seorang pun yang ingin untuk mempunyai usia yang pendek, apalagi karena jatuh sakit.

Bagi banyak orang, kenyataan bahwa pada suatu saat mereka harus meninggalkan dunia ini adalah suatu hal yang menakutkan, yang tidak perlu dipikirkan. Walaupun demikian, kesadaran bahwa hal itu bisa terjadi lebih awal dari apa yang mereka harapkan membuat sebagian orang sibuk dengan diet, olahraga, vitamin, dan lain-lain. Perbuatan yang sia-sia menurut iman Kristen, karena seorang pun tidak dapat memperpanjang hidupnya dengan sehasta saja (Matius 6: 27). Walaupun demikian, adalah kewajiban untuk setiap orang Kristen untuk memelihara tubuhnya selama masih hidup karena tubuh adalah milik Allah (1 Korintus 6: 19).

Pemazmur diatas seolah memohon Allah untuk membuka rahasia umurnya, agar ia tahu kapan ia akan mati. Kalau permohonan itu memang demikian, itu adalah perbuatan yang sia-sia karena tak ada seorang pun yang tahu waktunya (Pengkhotbah 9: 12). Karena itu, ayat diatas sebenarnya adalah pengakuan akan ketidaktahuan manusia akan masa depannya dan kesadaran akan kefanaannya; bahwa manusia akan mati pada saat yang tidak diketahuinya. Sungguh menyedihkan kedengarannya.

Memang kefanaan manusia adalah akibat dosa. Seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, kutuk Allah tidak bakal ada. Manusia akan hidup bahagia bersama Sang Pencipta selamanya. Walaupun demikian, karena Allah itu Mahakasih, mereka yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal setelah hidup di dunia ini berakhir. Kefanaan membuka pintu menuju kekekalan.

Kefanaan memberi kesadaran bahwa manusia tidak hidup untuk selamanya di dunia ini, tetapi apa yang kekal akan datang sesudahnya. Mereka yang sadar bahwa hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan apa yang akan datang, seharusnya memikirkan apa yang terbaik untuk jangka panjang. Walaupun begitu, banyak orang yang justru berusaha untuk menikmati hidup yang fana ini saja, dan tidak mau memikirkan apa yang datang.

Kefanaan manusia bisa membawa manusia kepada hidup yang benar, yaitu hidup yang berfokus pada kekekalan hidup masa depan. Tetapi kefanaan bagi sebagian orang membuat mereka lupa bahwa jika mereka hanya hidup untuk masa kini, mereka akan hidup terpisah dari Tuhan untuk selamanya di masa depan. Kefanaan memang bisa berakhir dengan kebahagiaan yang kekal atau penderitaan yang kekal. Itu adalah pilihan pribadi tiap orang, tetapi bagi mereka yang hidup dalam Kristus kefanaan jelas adalah keuntungan. Haleluya!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Dalam kesesakan, kasih Tuhan tetap ada

“Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” Mazmur 25: 10

Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Mazmur ini adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.

Apa yang dirasakan Daud pada waktu itu, mungkin sering dialami manusia manapun ketika mereka mengalami penderitaan atau persoalan besar. Mengapa ini harus terjadi pada diriku? Itulah pertanyaan yang sering muncul. Tetapi, jika orang sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak adil, Daud tidaklah demikian. Daud merasa  bahwa ia adalah orang yang berdosa, bahkan ia sudah merebut Batsyeba dan menyebabkan kematian suaminya, Uria. Ia sadar bahwa ia pernah sesat dalam hidupnya dan sekarang mempunyai banyak musuh yang ingin menghancurkannya. Dengan kerendahan hati, Daud memohon pertolongan Tuhan.

Sebenarnya, apa yang dialami Daud tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin mengalami berbagai kesulitan dan ingin agar Tuhan menolong kita. Tetapi, apa yang mungkin berbeda ialah bahwa kita seringkali menganggap bahwa pertolongan Tuhan dan hidup aman-tenteram itu sudah sepantasnya karena kita adalah umatNya. Jika kita baca dengan teliti dalam mazmur ini, Daud, raja yang dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatanNya, tidak menggunakan statusnya untuk menuntut pertolongan Tuhan. Tetapi, ia dengan rendah hati mengakui kesesatannya dan meminta ampun kepada Tuhan. Daud sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu ia takut kepadaNya; tetapi Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih dan mau membimbing dia (ayat 9 – 12).

Daud lebih lanjut percaya bahwa ia akan menerima kebahagiaan dari Tuhan dalam setiap keadaan, karena Tuhan dekat kepada mereka yang takut akan Dia (ayat 13 – 14). Tuhan memang mengasihi semua orang, tetapi Ia akrab dengan orang-orang yang taat kepadaNya. Karena itu, Daud yang sudah terperangkap dalam kesulitan besar (ayat 15, kakinya sudah terperosok dalam jaring) tetap bisa berharap kepada Tuhan. Mata Daud hanya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang ataupun hal-hal yang ada di sekitarnya. Ia menjerit kepada Dia saja, yang bisa memberi pertolongan.

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” Mazmur 26: 16 – 17

Saat ini, ada banyak orang yang menderita karena dampak pandemi. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang kehilangan sanak saudara, suami atau istri, atau pun orangtua. Kapan pandemi ini berakhir belumlah dapat dipastikan, sekalipun dapat diperkirakan bukan di tahun 2021. Sebagai manusia, kita merasa sedih dan kuatir. Seperti Daud,  kaki kita terasa seperti sudah terperosok dalam jaring. Mengapa semua ini harus terjadi dalam hidup kita?

Apa yang dialami Daud bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa karena dunia ini penuh dosa, siapapun bisa mengalami saat-saat yang berat. Mungkin itu akibat kekeliruan kita sendiri, tetapi bisa juga karena kesalahan orang lain. Mungkin juga, itu adalah pelajaran yang kita terima dari Tuhan. Bagaimana kita bisa tetap kuat bertahan?  Mazmur 25 menyatakan bahwa kunci kemenangan adalah takut kepada Tuhan. Bagi orang yang mau mengakui kesalahan mereka, Tuhan mau mengampuni mereka. Tuhan yang mahakasih juga mau memberi pertolongan kepada mereka yang bergantung sepenuhnya kepada kemurahan dan bimbinganNya. Lebih dari itu, jika kita memohon agar ketulusan dan kejujuran tetap ada selama kita menantikan pertolongan Tuhan (ayat 21), Ia pasti membebaskan kita dari kesesakan kita pada waktunya.

Mengapa ada kabar palsu?

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” 2 Korintus 11: 14

Di saat semua negara berlomba untuk mengadakan vaksinasi bagi rakyatnya, mereka yang anti vaksin juga bertambah giat menyuarakan pendapat mereka. Seiring dengan itu, di berbagai media muncul berita-berita miring yang menyebutkan bahwa vaksin tertentu bisa menyebabkan kemandulan, vaksin yang lain adalah pemasangan chip untuk memonitor kehidupan orang, atau vaksin tertentu akan mengubah genetik pemakainya dan berita-berita lainnya. Semua itu menambah kebingungan rakyat jelata yang sebenarnya hanya ingin agar pandemi ini segera berakhir.

Sejak adanya internet, orang bisa mendapat berita dari mana saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Hal itu memang baik jika berita yang disampaikan adalah berita yang benar, yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, berita palsu atau fake news seringkali membawa kekacauan dan kekuatiran dalam hidup bermasyarakat. Celakanya, orang seringkali menyampaikan berita palsu sedemikian kepada orang lain sekedar untuk berbagi berita. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau berbagai hoax yang muncul dan beredar selama bertahun-tahun masih juga bisa memakan korban baru.

Sebenarnya fake news itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Berita palsu yang diciptakan iblis, membuat Adam dan Hawa terkecoh (Kejadian 3: 4-5). Karena itu, berita palsu yang muncul setiap hari di zaman ini dan yang berusaha mengacaukan masyarakat pada umumnya, dan umat Kristen pada khususnya, sudah dapat dipastikan akan mendapat dukungan iblis. Iblis adalah bapa segala dusta.

“…Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Jika sebuah berita palsu itu terkadang sulit dibedakan dari berita yang benar, dengan penyelidikan yang teliti biasanya orang bisa memutuskan benar tidaknya berita itu. Walaupun demikian, orang seringkali tidak mau menyempatkan diri untuk mempelajari benar tidaknya, tetapi langsung menyampaikan berita itu ke orang lain. Mungkin saja si pengirim menganggap bahwa jika pun berita itu palsu, ia bukanlah pembuatnya dan karena itu ia tidak bersalah. Benarkah?

Apa yang harus kita sadari ialah kekacauan di dunia dan diantara umat Tuhan adalah sesuatu yang dikehendaki iblis. Karena itu, jika kita melakukan hal-hal yang serupa dengan apa yang dilakukan iblis, kita sudah sependapat dengannya; kita seolah sudah menjadi “agen” iblis. Lebih parah dari itu, ada orang-orang yang mengaku Kristen tetapi dengan sengaja memutarbalikkan fakta dengan menyebarkan berita palsu. Mungkin saja iblis sudah menyamar sebagai anak-anak Tuhan!

Memang mungkin kita tidak dengan sengaja menyebarkan berita palsu. Kita memang tidak selalu sadar bahwa melalui perbuatan kita, iblis bisa mendapat kesempatan untuk mengacaukan kehidupan manusia, terutama umat Tuhan. Dalam hal ini, iblis sering memanfaatkan kelemahan manusia yang seringkali memilih apa yang tidak baik dalam ketidaktahuannya.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita berpihak kepada Yesus, kita harus awas dan waspada untuk menghindari apa yang tidak baik. Kita harus mempunyai kebijaksanaan dan tanggung jawab untuk bisa membedakan apa yang baik dari yang buruk, apa yang benar dari apa yang palsu. Biarlah Tuhan menolong kita dengan bimbingan Roh Kudus!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Ingin jadi nomer satu?

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 26 – 28

Sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris berbunyi: “The first to apologise is the bravest. The first to forgive is the strongest. The first to forget is the happiest” yang berarti “Orang pertama yang bisa minta maaf adalah yang paling berani. Orang pertama yang bisa mengampuni adalah yang paling kuat. Orang yang pertama bisa melupakan apa yang jelek adalah yang paling berbahagia”. Pengarang ungkapan ini tidaklah diketahui, walaupun ini sangat sering disebut orang karena maknanya yang dalam.

Memang kebanyakan orang ingin untuk mempunyai keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan, terutama dalam suasana pandemi saat ini. Orang ingin dipandang sebagai orang yang kuat dan teguh dalam menghadapi bahaya dan ancaman. Orang juga ingin untuk menjadi orang yang berbahagia dan tetap bisa merasa tenteram sekalipun keadaan di sekelilingnya kacau balau.

Dalam kenyataannya, tidaklah ada orang bisa sepenuhnya mempunyai keberanian, kekuatan dan kebahagiaan selama hidup di dunia. Hidup manusia sejak jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa memang penuh semak duri, bahaya, perjuangan dan air mata. Mungkin manusia mencoba untuk menjadi pemimpin yang dikagumi atau ditaati karena keberaniannya, dan dengan itu selalu meyakinkan diri sendiri bahwa ia adalah orang yang selalu benar, dan tidak perlu meminta maaf. Pada pihak yang lain, ada orang yang merasa bahwa dirinya paling kuat dan berkuasa, dan karena itu tidak mau memaafkan orang lain. Selain itu, ada orang yang tidak bisa melupakan pengalaman pahit yang telah terjadi pada dirinya karena merasa bahwa ia tidak sepantasnya untuk mengalami hal itu.

Ketiga reaksi manusia: yang tidak mau meminta maaf, yang tidak mudah memaafkan, dan yang tidak mudah melupakan perbuatan orang lain mungkin sering dipandang manusia sebagai karakter orang yang mempunyai harga diri. Bukankah orang yang tidak demikian justru sering menjadi bulan-bulanan orang lain? Bukankah mereka yang lemah lembut dan murah hati justru sering diperlakukan dengan semena-mena dan dibully orang lain? Dalam hal ini dunia mengajarkan bahwa jika kita tidak menempatkan diri kita setinggi mungkin, orang lain akan menginjak-injak kita.

Harga diri, sakit hati dan pengalaman buruk adalah tiga hal yang menyebabkan manusia hidup dalam api kemarahan. Ini tidak saja bisa terjadi di tempat kerja dan di sekolah, tetapi juga di gereja dan bahkan di rumah tangga. Begitu mudah orang bertengkar karena adanya perbedaan pendapat yang kemudian menimbulkan rasa benci dan saling tuding. Keadaan bisa makin memburuk jika tidak ada pihak yang mau meminta maaf, mau memaafkan dan mau melupakan apa yang sudah terjadi. Dengan demikian banyak hubungan yang retak antara suami dan istri, antar teman, antara orangtua dan anak, dan bahkan sampai pada hubungan antara para pemimpin perusahaan, gereja dan negara.

Setiap orang ingin dihargai, dan sering merasa dirinya adalah yang paling benar. Selain itu, jika ia membuat kesalahan, ia selalu mengharapkan orang lain untuk melupakannya. Sebaliknya, orang tidak mudah mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain. Mereka yang merasa besar atau ingin dipandang sebagai pemimpin tidak mau menunjukkan kelemahannya karena kuatir kalau-kalau derajatnya menurun dalam pandangan orang lain. Dengan demikian, hidup orang semacam itu biasanya penuh kekuatiran, kemarahan dan jauh dari kedamaian.

Ayat di atas diucapkan oleh Yesus sebagai pedoman hidup mereka yang ingin bebas dari kekuatiran, kemarahan dan ingin bahagia hidupnya di tengah masyarakat, gereja dan keluarga. Mereka yang ingin menjadi besar dan dihormati haruslah siap untuk melayani dan berkurban untuk orang lain, seperti Yesus yang sudah disalibkan untuk ganti kita. Dengan demikian hidup orang yang benar bukanlah berpusat pada “aku” dan “ego”, tetapi pada bagaimana ia bisa menolong dan membimbing orang lain. Seorang murid Tuhan tidak segan untuk meminta maaf, memaafkan dan melupakan perbuatan orang lain yang kurang baik, karena ia sudah lebih dulu diampuni oleh Tuhan. Orang Krisen yang sedemikian adalah orang yang pemberani, yang kuat dan yang berbahagia dan mau berkurban untuk orang lain.

“Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Matius 18: 2-4

Manusia berusaha, Tuhan memutuskan

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Secara umum, perubahan iklim (climate change) adalah fenomena pemanasan global (global warming), dimana terjadi peningkatan gas rumah kaca (green house gasses) pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Penyebab perubahan iklim dan pemanasan global terdiri dari berbagai faktor yang berbeda serta menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia.

Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan faktor-faktor disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan pengunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil.

Ada banyak dampak perubahan iklim itu, antara lain:

  • Curah hujan tinggi
  • Musim kemarau yang berkepanjangan
  • Peningkatan volume air laut akibat mencairnya es di kutub
  • Terjadinya bencana alam angin puting beliung
  • Berkurangnya sumber air

Diantara mereka yang sering terkena dampak langsung perubahan iklim adalah kaum petani yang bergantung pada adanya persediaan air yang cukup. Musim kemarau yang berkepanjangan dan curah hujan yang terlalu tinggi bisa memorakporandakan usaha mereka.

Hidup manusia mungkin bisa dibayangkan sebagai hidup para petani yang bergantung pada adanya air dalam jumlah yang dibutuhkan. Adakalanya manusia dalam hidup ini menantikan datangnya pasangan hidup, pekerjaan, vaksin dan berbagai kebutuhan yang lain. Seringkali penantian itu berlangsung lama sekali dan karena itu rasa kuatir pun mulai muncul. Akankah aku mendapatkannya?

Mereka yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan mungkin merasa lega. Rasa gembira muncul sesaat, namun apa yang diperoleh sering tidak seperti yang diharapkan. Rasa khawatir mula-mula muncul karena tidak adanya sesuatu, berubah menjadi rasa kuatir lain setelah datangnya sesuatu yang semula diharapkan. Hidup manusia dengan demikian tidak dapat mengalami kedamaian. Kurang bisa menjadi kuatir, tetapi terlalu banyak juga bisa menimbulkan rasa kuatir. Mengapa manusia selalu cenderung kuatir?

Kekuatiran menunjuk kepada kelemahan manusia yang tidak berkuasa atas masa depannya. Seandainya manusia bisa mengatasi semua persoalan hidup, kekuatiran tidak akan muncul. Dengan demikian, bagi orang beriman adanya kekuatiran di dunia hanya membuktikan bahwa semua manusia bergantung kepada kemurahan Tuhan semata. Karena itu, untuk orang yang percaya kepada Tuhan, kekuatiran sebenarnya tidak ada gunanya dan hanya memperlemah semangat hidup mereka.

Jika kekuatiran itu harus dihindari, “kepikiran” itu lumrah. Kita sebagai manusia harus bisa memikirkan apa yang bisa terjadi dan mengambil tindakan dan keputusan. Sebagai manusia kita tahu bahwa tiap hari ada persoalan yang harus kita hadapi (Matius 6: 34). Hidup tanpa menyadari adanya berbagai kemungkinan, risiko dan bahaya adalah hidup dalam alam mimpi. Tetapi, sebagai anak-anak Tuhan kita bisa menyerahkan segala persoalan kita kepadaNya. Tuhanlah yang mengambil keputusan apakah usaha kita adalah sesuai dengan rencanaNya dan Dia bisa membuat segala sesuatu yang tidak dikehendakiNya untuk menjadi apa yang baik sesuai dengan kasih dan kebijaksanaanNya.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hanya Tuhan yang tidak pernah lelah

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 40: 28-29

Rasa lelah. Semua orang tahu bagaimana rasanya. Hari ini saya berkebun selama 6 jam, dan sekarang kaki serta punggung saya terasa kurang nyaman. Begitulah hidup di negeri orang, semua harus dikerjakan sendiri.

Sejak kecil kita tentu pernah merasa lelah; lebih sering sewaktu kanak-kanak, agak berkurang setelah dewasa, tetapi kembali menjadi sering ketika mulai tua. Istirahat yang cukup biasanya bisa memulihkan kesegaran. Namun, berapapun umur kita, kadang-kadang kita bangun dari tidur yang cukup lama, tetapi masih tetap merasa lelah.

Apa penyebab rasa lelah? Dari segi medis, kelelahan bisa terjadi secara fisik maupun psikologis. Seorang yang sudah bekerja berat atau berolahraga intensif akan mengalami kelelahan. Begitu juga orang yang mengalami beban mental yang berat, cepat atau lambat akan mengalami kelelahan psikis. Karena fisik dan psikis saling memengaruhi, adanya kelelahan fisik bisa memengaruhi keadaan psikis atau mental seseorang, dan begitu juga kelelahan psikis atau mental bisa membuat orang mudah lelah secara fisik. Kedua kelelahan ini biasanya bisa diatasi dengan mengistirahatkan tubuh dan pikiran.

Bagaimana pula dengan kelelahan spiritual? Kelelahan spiritual terjadi jika seseorang merasa Tuhan itu tidak ada atau jauh darinya. Keadaan ini sering membuat manusia mengalami kelelahan yang luar biasa dan bahkan kehancuran karena manusia kehilangan arti hidupnya.

Manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah selalu merasakan adanya sesuatu yang mahabesar, yang tidak dapat dilihatnya: Tuhan. Selama beribu-ribu tahun, dalam sejarah tercatat bahwa manusia melalui berbagai agama dan kepercayaan, berusaha menemukan tuhan-tuhan yang hanya bisa mereka bayangkan. Tetapi, jika manusia bisa menemukan Tuhan yang mahabesar, pastilah itu bukanlah Tuhan. Jika manusia yang terbatas bisa mengenal Oknum yang mahabesar, itu berarti ia adalah mahabijaksana; atau sebaliknya, ia tidak mengerti bahwa Tuhan yang benar adalah Oknum yang tidak bisa dimengertinya,

Bagi kita umat Kristen, Tuhan yang satu-satunya hanya dapat dikenali dengan sempurna melalui Yesus Kristus, karena Ia yang telah menyatakan diriNya sebagai manusia. Allah membuat diriNya dikenal oleh manusia karena dengan usaha sendiri mustahillah manusia bisa menentukan mana Tuhan yang benar. Mereka yang mencoba mengenali Allah tanpa menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka akan menemui jalan buntu.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Hari ini, jika kita mengalami kelelahan fisik dan psikis yang berat dan melihat bahwa tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menolong kita, ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Ia mahabijaksana dan mau memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Apa yang harus kita lakukan dalam beratnya kehidupan di saat ini hanyalah berdoa dengan iman kepada Allah kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28