Tidak ada orang yang sempurna

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

maradona fat

Jika anda ditanya, siapakah tokoh dunia yang anda kagumi, apakah jawab anda? Mungkin ada yang menjawab Mother Theresa, Bung Karno, Mahatma Gandhi atau pemimpin besar lainnya. Mungkin juga pilihan anda adalah Diego Maradona, bintang pemain sepak bola terkenal dari tahun 80an yang membawa kemenangan Piala Dunia ke Argentina pada tahun 1986.

Meninggalnya Diego Maradona membuat dunia sepak bols terkejut. Maradona meninggal dunia akibat serangan jantung di rumahnya di Buenos Aires, pada hari Rabu (25/11/2020). Mantan pemain profesional klub Barcelona dan Napoli ini meninggal pada usia 60 tahun. Pada awal November tahun ini, Maradona sudah sempat dibawa ke rumah sakit di La Plata, Argentina, untuk menjalani operasi otak. Memang kesehatannya sebelum ini sudah sangat memburuk karena gaya hidupnya.

Saya sendiri adalah pecinta sepak bola dan pengagum Maradona. Entah kenapa saya kagum kepada dia, mungkin karena ia bisa membuat gol dari posisi yang sulit atau karena kecepatannya menggiring bola dan mengecoh lawan. Banyak orang yang kagum atas kehebatan Maradona dan menganggapnya sebagai kiriman Tuhan sekalipun tingkah lakunya yang eksentrik dan kehidupannya yang kacau karena penggunaan narkoba, pesta pora dan seks.

Mengenai orang yang dikagumi, pilihan kita pasti didasarkan satu atau beberapa hal yang merupakan keunggulan orang yang kita pilih. Dengan adanya hal yang istimewa itu, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang baik yang mungkin ada dalam orang pilihan kita. Dalam hidup kekristenan, mungkin saja kita kagum kepada tokoh-tokoh perjanjian lama seperti Abraham, Musa, Daud dll., atau tokoh-tokoh perjanjian baru seperti Maria, Petrus, Paulus dan sebagainya. Karena itu banyak orang yang memakai nama yang sama dengan nama orang yang dikaguminya.

Walaupun orang-orang diatas mempunyai hal-hal yang baik dan patut dikagumi atau ditiru, ayat Roma 3: 23-24 diatas jelas menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang cukup baik dihadapan Tuhan. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengagumi seseorang, tetapi kekaguman kita itu tidak boleh membuat kita berpikir bahwa orang itu memenuhi standar kebaikan dan kesucian Tuhan. Kita tidak boleh mendewakan apapun dan siapapun sekalipun mereka dipanggil guru, raja, nabi, rasul ataupun presiden.

Sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak ada siapapun yang bisa mencapai tingkat kebaikan yang diminta oleh Tuhan. Manusia sesudah kejatuhan pada hakikatnya adalah makhluk yang jahat, termasuk semua tokoh-tokoh di dunia yang dikagumi banyak orang. Bahwa manusia karena dosanya tidak dapat lagi mendekati Tuhan yang mahasuci, merupakan inti pengajaran Kristen yang sangat berbeda dengan agama-agama lain. Diluar agama Kristen, manusia berusaha untuk berbuat baik dengan berbagai cara untuk bisa mendapat keselamatan. Tetapi ini merupakan hal yang sia-sia menurut iman Kristen.

Pagi hari ini, kita diingatkan lagi untuk kesekian kalinya bahwa satu-satunya jalan bagi manusia untuk memenuhi standar Tuhan yang maha tinggi ialah melalui inisiatif Tuhan sendiri yang mau merendahkan diriNya dan menebus dosa manusia melalui darah anakNya, Yesus Kristus. Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang bisa menghampiri tahta Tuhan kalau tidak melalui Dia.

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. ” Kisah Para Rasul 4: 12

Hukum ada untuk kedamaian bersama

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13: 3

Berita tentang adanya dua kubu yang bertentangan yang kemudian terlibat dalam perkelahian di suatu negara bukanlah suatu hal yang baru. Baik negara kecil maupun negara yang banyak penduduknya, adanya perbedaan pendapat bisa menyebabkan kekacauan jika tidak ada penerapan hukum yang ketat. Dalam hal ini, sekalipun ada hukum orang bisa saja dengan sengaja melanggarnya.

Mengapa orang sengaja melanggar hukum? Ini pertanyaan lama yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Filsuf Aristotle pernah berkata bahwa “At his best, man is the noblest of all animals; separated from law and justice he is the worst“. Itu benar. Dalam keadaan terbaik, manusia adalah makhluk yang paling baik di antara hewan, tetapi ia adalah makhluk yang paling buruk jika tidak ada hukum dan keadilan. Lebih dari itu, manusia jelas bisa lebih buas dari hewan jika mereka tidak takut akan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang mampu untuk berbuat dosa apa saja dengan kebebasan yang diterimanya dari Tuhan.

Ada berbagai faktor praktis yang bisa membuat orang merasa bahwa ia ada di atas hukum. Mungkin orang itu mabuk atau merasa kuat karena berada bersama banyak teman, tetapi jelas  bahwa pada saat orang dengan sengaja melanggar hukum mereka merasa bahwa  hukum tidak dapat menangkap mereka. They act as if they are above the law. Mereka yang semestinya takut kepada hukum dan pemerintah, merasa bahwa tidak ada apapun yang bisa menghentikan perbuatan jahat mereka. Sebaliknya, orang yang melihat kelakuan mereka mungkin justru merasa takut karena kuatir kalau-kalau hukum yang ada tidak dapat melindungi mereka.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen untuk menaati hukum dan pemerintah. Etika Kristen mengajarkan bahwa jika pemerintah yang sah mengatur negara dengan segala hukumnya, adalah keharusan bagi orang Kristen  untuk taat kepadanya karena pemerintah adalah wakil Tuhan (Roma 13: 4). Hukum ada untuk membuat setiap warga menjadi orang yang berkelakuan baik.  Dengan taat kepada hukum, kita boleh mendapatkan kedamaian dalam hidup sehari-hari karena hanya orang yang melanggar hukum yang harus takut kepada pemerintah.

Bagi orang Kristen, taat kepada hukum bukan berarti boleh melakukan apa yang buruk asal tidak tertangkap oleh hukum. Dalam bentuk sederhana, ada orang yang berani menggunakan ponsel selagi mengendarai mobil, tetapi ada juga pemimpin yang berani menggunakan uang negara selagi ada kesempatan.

Adanya pemerintah bagi orang Kristen adalah bukti adanya Tuhan yang menghendaki ketertiban. Oleh karena itu, orang Kristen harus taat kepada hukum dan pemerintah setiap saat karena Tuhan yang mereka sembah adalah Oknum yang mahatahu. Takut akan Tuhan akan bisa terlihat dalam hidup seseorang yang taat kepada hukum negara.

Alkitab mengatakan bahwa kita harus tunduk kepada pemerintah dan atasan karena mereka adalah wakil Allah.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa Tuhan ada diatas segala pemerintah dan penguasa, dan karena itu kita harus lebih tunduk kepada Tuhan.

“….. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” Kolose 2: 10b

Jelaslah bahwa dalam hidup ini kita harus menaati hukum negara yang ada, tetapi lebih dari itu kita harus tunduk kepada kehendak Tuhan. Dengan demikian, kita akan bisa hidup dalam kedamaian dan ketertiban bersama orang-orang di sekitar kita.

Tuhan bukan pencipta malapetaka untuk umatNya

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Virus corona yang sudah menyebabkan tewasnya lebih dari sejuta orang baik tua atau muda, baik orang Kristen maupun bukan Kristen, tentu dipandang sebagai malapetaka. Apakah Tuhan menghendaki COVID-19 untuk mewabah di dunia?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendakNya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat virus corona merajarela. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Malapetaka bisa terjadi di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, tetapi harus dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana malapetaka dapat terjadi sekalipun tidak dikehendakiNya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi risiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan kedalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umatNya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencanaNya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendakiNya, tanpa dipengaruhi oleh apapun dan siapapun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Pagi ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita cepat-cepat menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umatNya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis atau hukuman/peringatan Tuhan untuk orang/bangsa yang sengaja mau melawan Dia.

Tuhan mengasihi setiap umatNya. Itu tidak perlu diragukan. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umatNya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendakNya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Sesudah dipilih tentu ada perubahan

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Pemilihan umum di Amerika sudah dilangsungkan pada tanggal 3 November yang lalu, namun hampir tiga minggu kemudian orang belum mendapat kepastian resmi siapakah yang mendapatkan suara terbanyak. Hal ini disebabkan karena adanya pihak yang meminta penghitungan suara untuk dilakukan lagi. Jumlah suara terbanyak nantinya akan menentukan siapa yang terpilih sebagai presiden.

Sebagai ciptaan Tuhan, manusia tidak dapat memilih Tuhan yang disukainya. Tuhan yang benar bukanlah apa yang dipilih oleh banyak manusia. Seandaintya bisa memilih satu Tuhan di antara banyak oknum yang dikenal manusia sebagai “tuhan”, manusia pasti memilih apa yang bukan Tuhan karena tidak ada orang yang mengerti manakah Tuhan yang benar. Tuhan yang benar adalah satu Tuhan yang maha besar dan karena itu manusia tidak dapat menyelami besarnya dan dalamnya kebesaran Tuhan. Dengan demikian, Tuhanlah yang harus memilih manusia yang akan diberiNya pengertian yang benar.

Bagi orang Kristen, kenyataan bahwa mereka sudah dipilih oleh Tuhan mungkin tidak terlalu sering diberitakan. Namun kita harus mengerti bahwa kita menjadi anak-anak Tuhan bukan karena kita yang memilih Dia, tetapi karena Dia yang sudah memilih kita. Tidak ada alasan lain bagi Tuhan untuk memilih manusia berdosa seperti kita untuk diselamatkan, kecuali karena kasihNya yang juga menjadikan kita orang-orang yang berkecukupan dalam segala hal yang baik.

Sayang sekali, banyak orang yang merasa bahwa mereka sudah diselamatkan, merasa bahwa menerima keselamatan dari Tuhan adalah karena melakukan hal-hal yang baik. Dari dulu memang manusia cenderung untuk berusaha untuk mencapai surga dengan mengikuti berbagai ritual agama. Pada pihak yang lain, setelah memenuhi persyaratan agama, mereka cenderung untuk menjalani hidup mereka seperti biasa, dan tidak merasakan perlunya adanya kelahiran baru yang sebenarnya.

Percakapan Yesus dengan Nikodemus, orang Farisi yang taat kepada hukum Torat, menunjukkan bahwa manusia sering merasa bahwa mereka sudah memenuhi syarat untuk mencapai keselamatan melalui hukum agama, dan bukannya anugerah Tuhan. Mereka merasa bahwa hidup mereka sudah dibenarkan sekalipun mereka belum berubah dari dalam. Memang, hidup baru atau lahir baru hanya dimungkinkan melalui darah Yesus yang membawa pengampunan dosa dan Roh Kudus yang membawa kesadaran bagi manusia.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Manusia zaman ini juga sering yang menunjukkan gejala sindrom Nikodemus, yaitu hidup dengan “ayem-tentrem” karena merasa bahwa mereka sudah menjadi orang percaya dengan membaca Alkitab dan pergi ke gereja. Mereka tidak sadar bahwa mereka yang benar-benar sudah mengikut Yesus tentu akan membuat persiapan dan mengalami perubahan hidup. Dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru yang penuh kasih dan menjauhkan diri dari dosa. Mereka akan berusaha untuk hidup suci dan menghasilkan buah-buah yang baik, karena Yesus adalah suci.

Orang yang benar-benar percaya kepada Kristus adalah orang yang menantikan perjumpaan dengan Sang Juruselamat. Karena itu tidak mungkin baginya untuk tidak mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Orang Kristen yang tetap membiarkan hidupnya berjalan seperti biasa, yang tidak mau dipimpin Roh Kudus untuk disucikan, mungkin adalah orang-orang yang belum mengenal Kristus seperti halnya Nikodemus.

“Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” 1 Yohanes 3: 7

Biarlah kita tetap memancarkan kehangatan

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12

Sebulan lagi kita akan merayakan hari Natal. Saat ini adalah transisi musim semi ke musim panas di Australia, tetapi transisi dari musim gugur ke musim dingin di belahan utara bumi. Natal di Australia mungkin sulit dibayangkan karena umumnya orang mengaitkan suasana Natal dengan musim dingin dan salju, seperti lagu “White Christmas”.

Pada musim dingin di benua utara, dinginnya udara membuat orang yang sedang berada di luar rumah membungkus diri dengan memakai jaket, topi, dan apapun untuk melindungi tubuh dari udara yang dingin. Bagi mereka yang punya rumah, pemanas ruangan bisa dipakai untuk melupakan udara dingin di luar, tetapi mereka yang tuna wisma terpaksa tidur di pinggir jalan dibawah selimut saja. Bagi mereka, udara dingin menambah kesulitan hidup akibat pandemi yang sudah ada.

Dinginnya udara di musim dingin mungkin seperti dinginnya hati manusia dalam ayat di atas. Dengan udara yang dingin, mereka yang yang berada dalam keadaan yang kurang baik akan merasakan beratnya hidup tanpa adanya kehangatan rumah dan makanan. Dengan dinginnya hati manusia, mereka yang mengalami penderitaan tidak dapat mengharapkan adanya perhatian dan pertolongan dari sesama. Bahkan dengan dinginnya hati mereka yang mengaku Kristen, apa yang mereka lakukan dalam hidup sehari-hari bukannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya, tapi untuk memuliakan diri sendiri dan untuk memperoleh kepentingan pribadi.

Ayat diatas menunjukkan bahwa banyak orang yang dulunya mempunyai kasih, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak mempunyai kasih. Mereka yang dulunya pernah mendengar panggilan Tuhan dan mengerti perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan untuk mengasihi sesama manusia, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak lagi taat kepada Tuhan. Mereka lebih taat kepada keinginan dan kebahagiaan duniawi yang berupa kemasyhuran, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan dan semacamnya.

Di hari Minggu ini, banyak orang Kristen yang ke gereja dengan kerinduan untuk mendapatkan kehangatan kasih dalam persekutuan dengan saudara seiman dan mendengar kasih penghiburan Tuhan. Tetapi di banyak negara, gereja sudah berubah menjadi seperti tempat pertemuan yang dipenuhi banyak orang yang kemudian pulang ke rumah masing-masing tanpa dapat merasakan adanya kasih dan perhatian dari orang lain. Yang lebih aneh lagi adalah adanya orang-orang yang hanya karena ke gereja, percaya bahwa mereka sudah memenuhi perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Tuhan melalui rasul Paulus mengingatkan bahwa di zaman ini ada berbagai tanda hilangnya kasih dan bertambahnya hal-hal yang jahat di antara umat Kristen (2 Timotius 3: 1-9). Karena itu, hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hanya ke gereja sebagai kebiasaan atau keharusan. Ia ingin kita datang kepadaNya dengan kehangatan kasih, dan bukannya kepalsuan.

Tuhan tidak mengharapkan uang persembahan manusia tetapi Ia menghargai hati umatNya yang dipenuhi kasih. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan kepada umatNya, dan karena itu Ia membenci orang-orang yang seakan berbakti kepadaNya, tetapi hanya mengharapkan Tuhan memberikan apa yang diinginkan mereka.

Tuhan menyenangi umatNya yang mengabarkan kabar baik tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan, dan bukannya kisah-kisah duniawi. Tuhan menghendaki umatNya untuk benar-benar bisa taat kepadaNya, dan bukannya hanya hidup dalam kepalsuan.

Memang dengan banyaknya orang Kristen yang mundur dari iman, dan tidak lagi mau ke gereja, kita mudah terpengaruh. Tetapi pagi ini kita dingatkan bahwa apapun keadaan yang ada di sekeliling kita, biarlah hati kita tidak ikut menjadi dingin.

Kita akan dikuatkan dalam mengikut Yesus

Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”`Yohanes 21: 18 – 19

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal yang dikatakan Yesus untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dengan memuliakan Allah. Menurut tradisi (yang dicatat oleh Hieronimus), Petrus mati secara martir dengan cara disalibkan terbalik (kepala di bawah, kaki di atas) di Roma pada saat pemerintahan Nero setelah menolak disalibkan dengan kepala di atas karena ia merasa tidak layak untuk mati dalam posisi yang sama seperti Yesus.

Membaca ayat di atas, banyak orang yang tidak merasakan adanya kaitan dengan kehidupan mereka. Bukankah ayat itu hanya untuk Petrus? Bukankah pada zaman ini jarang orang Kristen yang mengalami penganiayaan sadis seperti yang dialami Petrus? Apalagi, untuk mereka yang tinggal di negara berlandaskan hukum, kematian seperti yang dialami Petrus tentunya tidak ada. Walaupun demikian, ayat itu mengandung kenyataan bahwa setiap manusia bisa mengalami kejadian yang tidak diharapkan atau tidak disukai. Malahan, ada saatnya bahwa manusia akan terpaksa mengikuti perintah orang lain, entah karena keadaan setempat, berkurangnya kemampuan atau bertambahnya umur.

Memang nasib kita di masa depan belum tentu dapat kita pastikan. Dalam hidup ini, kita bisa mengalami berbagai goncangan yang membuat hidup ini terasa berat. Entah itu karena persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, persahabatan dan lain-lainnya, terkadang hidup manusia terlihat porak-poranda. Dan jika kita mengalami hal-hal itu, sudah sewajarnya kita bertanya-tanya: adakah masa depan bagiku? Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan?

Bagi banyak orang sudah jauh dari Tuhan, hidup serasa ada dalam tangan mereka sendiri. Dalam kebodohan mereka, mereka merencanakan segala sesuatu menurut keinginan mereka, dan merasa yakin akan dapat melakukan hal itu. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini tidak akan selalu berjalan sesuai dengan harapan kita. Malahan, tua atau muda, manusia bisa mengalami hidup yang berat secara jasmani atau rohani.

“Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” Amsal 27: 1

Masa depan umat manusia sepenuhnya bergantung pada rencana Tuhan. Tidak ada seorangpun yang terkecuali, dan tidak ada satu bangsa pun yang bisa bebas dari rancangan Tuhan untuk seisi bumi ini. Mereka yang berusaha untuk mencari kehendak Tuhan adalah orang-orang yang bijaksana. Mereka yang tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai persoalan hidup di masa depan adalah orang-orang yang bodoh.

Bagaimana kita dapat bersiap menghadapi tantangan hidup di hari depan? Satu hal yang penting adalah membina hubungan kita dengan Yesus. Di dalam Yesus kita bisa menemukan kepastian bahwa apapun yang terjadi, Ia sudah memilih kita untuk menjadi umatNya yang diselamatkan. Yesus yang mengajak Petrus untuk mengikutiNya adalah Yesus yang akan menguatkan kita dalam menghadapi segala tantangan.

“Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan” Mazmur 37: 39

Strengthened in the love of Christ

“I pray that out of his glorious riches he may strengthen you with power through his Spirit in your inner being, so that Christ may dwell in your hearts through faith. And I pray that you, being rooted and established in love” Ephesians 3: 16 – 17

Jacaranda is a flowering plant that comes from tropical and subtropical regions of Central America and South America. Because of its beauty, this plant is widely grown in various countries, including Indonesia, which can be found on the grounds of the IPB campus in Bogor. The name Jacaranda is actually the genus name which is the common name of the plant.

The Jacaranda plant, which can grow to 20-30 meters high, is a large tree with strong roots. This tree begins to flower at the beginning of the dry season in Indonesia and summer in Australia. With a bluish purple color, this flower can last up to 2 months before falling off. When entering the peak, the flowers of this plant almost cover the entire tree so that it looks very beautiful to the eye.

The fruit of the Jacaranda tree is shaped like a flat capsule containing many slender seeds. From small seeds, this tree can thrive in the sun on sandy soil. Mature plants are tough trees that can be said to withstand all weather conditions, but young plants are more susceptible and often may not survive the winter months.

Our Christian life might be described as a Jacaranda tree which has to grow from a tiny seed in a favorable environment and climate for many years to become a strong, flowery tree. In the above verse, Paul mentions two things that are important for the Christian life.

First, his desire for the Ephesians to grow in faith, not knowledge, although both are important. Please note, Paul in Ephesians 2:22 also uses the idea of ​​”the dwelling place of God, in the Spirit”. Furthermore, Paul also taught the Colossians, “Let the words of Christ dwell, and all their riches among you” (Colossians 3:16). Thus, a good environment for the growth of our faith is a life in closeness to Jesus Christ.

Second, Paul prays that his readers will be safe in their dependence on the love of Christ. The image is a tree that must be firmly supported by deep roots (Matthew 13: 6, 21; 15:13; Mark 4:17). Love, especially that expressed among fellow Christians, and that comes from Christ is a hallmark of our faith (John 13: 34-35). Love is also meant to keep Christians strong on earth, staying in a place with Christ who grows us to maturity. In this regard, Colossians 2: 7 says something similar about “taking root in Him and being built up on Him and growing steadfast in the faith”.

Today God’s word invites us to be more focused on our spiritual life. Having a good inner life is absolutely necessary so that we will know more about God who has revealed Himself to us and can understand more about His love. Our outer person may degenerate more and more, and the challenges of life may weaken our physical body, but the person we are inside must grow stronger. Despite the many challenges in our life, our faith will grow bigger and bigger in our spiritual fellowship with Christ.

Dikuatkan dalam kasih Kristus

“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Efesus 3: 16 – 17

Jacaranda, tanaman berbunga yang berasal dari daerah Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang beriklim tropis dan subtropis. Karena keindahannya, tanaman ini banyak ditanam di berbagai negara termasuk di Indonesia yang bisa dijumpai di halaman kampus IPB di Bogor. Nama Jacaranda sebetulnya adalah nama genus yang menjadi nama umum dari tanaman tersebut.

Tanaman Jacaranda yang bisa tumbuh sampai setinggi 20-30 meter ini adalah pohon besar yang berakar kuat. Pohon ini mulai berbunga pada awal musim kemarau di Indonesia dan musim panas di Australia. Dengan warnanya yang ungu kebiru-biruan, bunga ini bisa bertahan sampai 2 bulan sebelum rontok. Ketika memasuki puncaknya, bunga tanaman ini hampir menutupi seluruh pohonnya sehingga kelihatan sangat indah memesona dipandang mata.

Buah pohon Jacaranda berbentuk seperti kapsul pipih yang mengandung banyak biji ramping. Dari biji yang kecil, pohon ini bisa tumbuh subur di bawah sinar matahari di tanah berpasir. Tanaman dewasa adalah pohon yang kuat yang dapat dikatakan tahan segala cuaca, tetapi tanaman muda lebih rentan dan sering tidak dapat bertahan di musim dingin.

Hidup kita mungkin bisa digambarkan seperti pohon Jacaranda yang harus bertumbuh dari biji yang kecil dalam lingkungan dan iklim yang baik selama bertahun-tahun untuk bisa menjadi pohon yang kuat dan berbunga indah. Dalam ayat di atas, Paulus menyebutkan dua hal yang penting untuk kehidupan orang Kristen.

Pertama, keinginannya agar jemaat di Efesus untuk bertumbuh dalam iman, bukan pengetahuan, meskipun keduanya penting. Perlu diketahui, Paulus dalam Efesus 2:22 juga menggunakan gagasan tentang “tempat kediaman Allah, di dalam Roh”. Lebih lanjut, Paulus juga mengajar orang Kolose, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu” (Kolose 3:16). Dengan demikian, lingkungan yang baik untuk pertumbuhan iman kita adalah kehidupan dalam kedekatan kepada Yesus Kristus.

Kedua, Paulus berdoa agar para pembacanya aman dalam ketergantungan mereka pada kasih Kristus. Gambarannya adalah pohon yang harus didukung dengan kuat oleh akar yang dalam (Matius 13: 6, 21; 15:13; Markus 4:17). Kasih, khususnya yang diperlihatkan di antara sesama orang Kristen, dan berasal dari Kristusadalah ciri khas iman kita (Yohanes 13: 34-35). Kasih juga dimaksudkan untuk membuat orang Kristen tetap kuat hidup di bumi, tetap di tempat dengan Kristus yang menumbuhkan kita hingga dewasa. Dalam hal ini, Kolose 2: 7 menyebutkan hal yang serupa tentang “berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia dan bertambah teguh dalam iman”.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita untuk lebih  memusatkan perhatian kepada hidup kerohanian kita. Mempunyai hidup batiniah yang baik adalah mutlak diperlukan agar kita makin mengenal Tuhan yang sudah menyatakan diriNya kepada kita dan makin bisa mengerti akan kasihNya. Manusia lahiriah kita mungkin makin merosot, dan tantangan kehidupan mungkin membuat tubuh jasmani kita lemah, tetapi manusia batiniah kita haruslah tumbuh semakin kuat. Sekalipun banyak tantangan dalam hidup kita, iman kita akan tumbuh semakin besar dalam persekutuan rohani kita  dengan Kristus.

Hikmat untuk menghindari kekacauan

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Bacaan: Yakobus 3: 1 – 18

Tidak terasa tahun 2020 ini akan berakhir. Tinggal satu setengah bulan lagi kita akan memasuki tahun baru. Biasanya, banyak orang di saat seperti ini sudah mulai merencanakan apa yang akan dilakukan selama liburan Natal dan tahun baru. Tetapi tahun ini agaknya lain dari tahun-tahun yang sebelumnya. Bukan saja sejak bulan Febuari yang lalu seluruh dunia dicengkam kekuatiran dengan munculnya pandemi, akhir-akhir ini mulai muncul kekacauan yang diakibatkan oleh tingkah laku dan perbuatan manusia. Kekacauan yang terjadi di berbagai negara sudah membuat keadaan tampak semakin tidak terkontrol.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apapun yang terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya adalah cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang seringkali iri hati dan lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan memengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena ada orang-orang yang mahir memakai kata-kata yang membakar dan menghasut yang bisa membuat orang lain melakukan tindakan yang jahat.

Yakobus 3: 13–18 mempertanyakan konsep kita tentang siapa yang bijak dan mempunyai pengertian. Orang yang benar-benar bijaksana dan berpengertian adalah orang yang karena imannya kepada Tuhan mengarah pada perbuatan baik tanpa pamrih. Orang bijak hidup dalam kerendahan hati dan kebijaksanaan, menyisihkan diri untuk melayani orang lain. Itu lain sekali dengan kebijaksanaan duniawi, yang mengajarkan bahwa setiap orang harus melayani dirinya sendiri terlebih dulu. Sikap duniawi seperti inilah yang mudah mendorong timbulnya rasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain, dan ambisi untuk memperoleh apa yang disukainya dengan segala cara. Hasilnya adalah kekacauan dan kejahatan, bukan kedamaian atau kelembutan, dan belas kasihan yang mengikuti hikmat surgawi.

Definisi kesuksesan dunia adalah bisa mendapatkan apa pun yang kita inginkan dalam hidup. Menurut sikap ini, setiap orang harus melihat sekeliling dan memutuskan apa yang akan membuat diri mereka bahagia – seperti kenyamanan, uang, kekuasaan – dan kemudian membuat rencana untuk mendapatkannya. Dengan motivasi itu, orang dengan ambisi egois mau melakukan apapun yang diperlukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam hal ini, Yakobus menunjukkan bahwa akibat dari setiap orang yang berfokus pada diri mereka sendiri, dan bekerja untuk diri mereka sendiri, adalah kekacauan bagi masyarakat di sekelilingnya.

Hasil kedua dari hikmat duniawi adalah berbagai praktik penipuan, kejahatan atau kekejian. Mengapa? Ambisi diri kita pada akhirnya akan menuntut kita untuk menyakiti orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Itu mendorong kita untuk membuat alasan atas keegoisan kita. Itu membuat kita keras dan kebal atas koreksi. Standar kita untuk apa yang dapat diterima pada akhirnya perlu dikompromikan agar kita terus bergerak maju, bekerja di bawah sistem dunia. Kita tidak akan ragu-ragu untuk menjelekkan, memfitnah dan mengutuk orang lain.

Kata-kata manusia sangat kuat. Lidah kita kecil, tetapi mampu menimbulkan malapetaka besar. Siapa pun yang dapat dengan sempurna mengendalikan kata-katanya akan memiliki kendali sempurna atas seluruh tubuh mereka. Sebaliknya, sebagai manusia yang berdosa, lidah kita tidak bisa dijinakkan dengan usaha kita sendiri. Karena kurangnya hikmat, kata-kata kita adalah seperti api, yang mampu menyulut apa yang ada di sekitar kita. Dalam hal ini, hikmat yang sejati tidak selalu ditemukan pada mereka yang ternama, berpendidikan, beruang, atau banyak temannya. Hikmat yang sejati hanya bisa datang dari Tuhan dan diberikan kepada umatNya.

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca koran atau media apapun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi dimana-mana. Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang sopan dan menghargai orang lain. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk bisa mengasihi masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Keinginan jangan sampai menimbulkan kekuatiran

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hampir semua orang tentunya mempunyai keinginan. Jika keinginan kita menjadi kenyataan, tentu kita merasa senang atau lega; tetapi jika itu tidak tercapai setelah menunggu sekian lama, harapan kita mungkin berubah menjadi kekecewaan. Memang sejak munculnya wabah corona semua orang menginginkan bahwa semua masalah yang timbul bisa diatasi dengan cepat. Dalam kenyataannya, seluruh negara di dunia saat ini masih bergulat dengan pandemi dan segala akibatnya. Karena itu banyak orang yang kuatir akan masa depan.

Dalam keadaan normal apa yang diinginkan manusia tentunya berbeda satu dengan yang lain. Mungkin bagi seseorang, keinginan yang ada hanyalah sederhana, untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya. Tetapi ada juga orang-orang yang menginginkan sesuatu yang kelihatannya lebih bergemerlapan, seperti kekayaan dan kedudukan. Hari-hari mereka digunakan untuk mengejar segala impian, dan jika itu tidak atau belum tercapai, kegundahan mulai muncul. Bagi banyak orang Kristen, keinginan yang tidak atau belum tercapai bisa melemahkan iman karena keyakinan akan kasih Tuhan yang mulai luntur.

Kekuatiran akan masa depan bisa mempengaruhi hidup kita. Baik hati maupun pikiran kita bisa mengalami kekosongan. Tuhan terasa jauh jika kesulitan dunia yang ada terasa sangat besar dan tidak teratasi. Kita mungkin lupa bahwa hidup orang Kristen sebenarnya bukanlah suatu dualisme: hidup di dunia dan hidup di surga. Hidup manusia yang sudah diselamatkan adalah sebuah kesatuan antara hidup di bumi dan hidup di surga, karena hidup secara keseluruhannya sudah menjadi milik Kristus, juga selagi mereka masih di dunia (Roma 1: 6).

Baik dalam suka atau duka, kita seharusnya tahu bahwa kita sudah memiliki hidup yang baru didalam Kristus, yang sesuai dengan rencana Tuhan. Hidup kita dengan demikian, haruslah diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan yang sudah memberi karunia yang terbesar yaitu keselamatan surgawi, tentu akan memelihara kita selama hidup di dunia. Karena itu, dalam hidup ini kita seharusnya hanya mempunyai satu tujuan utama, satu keinginan besar untuk mengingat dan mempermuliakan Tuhan.

Ayat diatas menjelaskan bahwa jika manusia lupa kepada Tuhan yang memegang kuasa atas hidup mereka, kekuatiran akan muncul. Sebaliknya, mereka yang selalu ingat kepada Tuhan akan bisa merasakan kehadiran Tuhan pada setiap saat dan memperoleh kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada situasi saat itu. Hidup manusia yang sudah diselamatkan seharusnya diisi dengan rasa syukur kepada Tuhan. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup selama di dunia kita boleh menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Jika kasih Tuhan bisa kita rasakan setiap hari, rasa damai akan ada dalam hati dan pikiran kita selama kita menantikan jawaban dan pertolongan Tuhan.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7