Tuhan memegang kendali

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Pada jam 12.42 pada malam yang tenang dan diterangi cahaya bulan di tanggal 8 Maret 2014, sebuah pesawat Boeing 777 lepas landas dari Kuala Lumpur. Pesawat dengan nomor penerbangan MH370 itu take off dengan lancar dan semua penumpang kelihatannya santai. Pesawat kemudian berbelok ke arah Beijing, naik ke ketinggian jelajah yang ditetapkan yaitu 35.000 kaki.

Fariq Hamid, first officer, pada saat itu memegang kendali pesawat. Bagi Fariq yang berusia 27 tahun, ini adalah penerbangan latihan yang terakhir; karena sesudah itu dia akan segera mendapatkan sertifikasi penuh. Pelatihnya adalah pilot in command, Zaharie Ahmad Shah, yang berusia 53 tahun dan merupakan salah satu kapten paling senior di Malaysia Airlines.

Di kabin itu ada 10 pramugari, semuanya orang Malaysia. Mereka melayani 227 penumpang, termasuk lima anak. Sebagian besar penumpang adalah orang Cina; sisanya, 38 adalah Malaysia, Indonesia, Australia, India, Perancis, Amerika Serikat, Iran, Ukraina, Kanada, Selandia Baru, Belanda, Rusia, dan Taiwan.

Di kokpit malam itu, ketika First Officer Fariq menerbangkan pesawat, Kapten Zaharie menangani radio. Pada jam 1:08 penerbangan melintasi garis pantai Malaysia dan berangkat melintasi Laut Cina Selatan ke arah Vietnam. Sebelas menit kemudian, ketika pesawat itu mendekati Vietnam, pengontrol lintas udara di Kuala Lumpur Centre mengirimkan pesan melalui radio, “Malaysia tiga-tujuh-nol, hubungi Ho Chi Minh satu-dua-nol-desimal- sembilan. Selamat malam.” Zaharie menjawab, “Selamat malam. Malaysia tiga-tujuh-nol. ” Itu adalah pesan terakhir yang didengar dunia dari MH370. Pilot yang mengendalikan pesawat sesudah itu, siapa pun orangnya, tidak pernah mengontak Ho Chi Minh. Pesawat yang seharusnya mendarat di Beijing itu hilang tanpa jejak. Pesawat itu kemudian diduga tidak terkendalikan dan kemudian mengalami kecelakaan.

Pencarian pesawat MH370 awalnya terkonsentrasi di Laut Cina Selatan, antara Malaysia dan Vietnam. Itu adalah upaya internasional oleh 34 kapal dan 28 pesawat dari tujuh negara yang berbeda. Tapi MH370 tidak ditemukan jejaknya. Dalam penyelidikan lebih lanjut, data angkatan udara Malaysia mengungkapkan bahwa begitu MH370 menghilang dari radar, pesawat itu berbelok tajam ke barat daya, terbang kembali melintasi Semenanjung Melayu, dan membelok di sekitar pulau Penang. Dari sana ia terbang ke barat laut ke Selat Malaka dan keluar melintasi Laut Andaman, di mana ia menghilang di luar jangkauan radar. Apa yang sudah terjadi? Siapakah yang memegang kendali pesawat pada waktu itu?

Misteri seputar MH370 telah menjadi fokus penyelidikan yang berkelanjutan dan sumber berbagai spekulasi publik. Gagasan bahwa mesin canggih, dengan instrumen modern dan komunikasi yang lengkap, bisa hilang begitu saja sebenarnya tidak masuk akal. Di zaman ini, pesawat komersial modern tidak bisa hilang begitu saja. Bukan saja pesawat itu diterbangkan oleh pilot yang berpengalaman, rute penerbangannya adalah rute yang tidak berbahaya. Tetapi, lebih dari lima tahun kemudian dan sampai saat ini, keberadaan pesawat yang hilang ini tetap tidak diketahui.

Membaca musibah yang dialami para penumpang pesawat MH370 di atas, mau tidak mau kita menghela nafas sedih. Kehilangan itu menghancurkan keluarga di empat benua. Penumpang pesawat itu, sebagian tentunya ada yang Kristen, sampai sekarang tidak diketahui nasibnya, yang keluarganya merasa tidak berdaya.

Mengenai MH370 itu, jika kita berpikir dalam-dalam, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita:

  • Mengapa itu bisa terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi?
  • Siapa yang sebenarnya memegang kendali pesawat ini sebelum menghilang?
  • Bagaimana keadaan para penumpang selagi masih sadar?
  • Dimana pesawat ini sekarang?
  • Kapan kita bisa menemukannya?
  • Adakah sesuatu yang baik dalam kejadian itu?

Semua pertanyaan di atas kita tidak bisa menjawabnya. Kita tidak juga pasti apakah pada akhirnya orang bisa menemukan jawabnya. Hanya Tuhan yang seharusnya bisa memberi jawaban yang tepat. Satu yang kita tahu: musibah adalah sesuatu yang menyedihkan, dan kita tidak mudah menemukan apa yang baik dari satu musibah. Tidak ada orang yang mau mengalami musibah karena tidak ada faedahnya. Musibah bagi manusia adalah sesuatu yang sia-sia karena hanya membuat banyak manusia yang tidak bersalah menderita. Adanya malapetaka juga bisa membuat manusia berpikir bahwa Tuhan itu jauh di sana atau tidak ada.

  • Tuhan yang mahakuasa tentu bisa menghindarkan pesawat dari kecelakaan.
  • Tuhan yang mahakasih tentu mau menghindarkan pesawat dari kecelakaan
  • Tuhan mahakuasa dan mahakasih, jadi tentu tidak ada kecelakaan
  • Tapi kecelakaan sudah terjadi
  • Ini berarti Tuhan tidak ada.

Adanya pandemi COVID-19 sekarang ini ada miripnya dengan kasus musibah yang dialami MH370. Memang apa yang dinamakan musibah adalah sesuatu yang sangat menyedihkan dan menakutkan. Adanya musibah membuat kita menjadi makhluk kecil yang tidak berdaya. Seringkali kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ini terjadi, apakah ada jalan penyelesaiannya, kapan bisa diselesaikan dan apa maknanya. Kita mencari jawabnya, tetapi mungkin kita tidak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Mengapa begitu?

Jika Tuhan itu mahakasih:

  • Dimanakah Tuhan ketika musibah terjadi?
  • Mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi? Apakah Ia tidak bisa mengendalikan keadaan?

Jika Tuhan itu mahakuasa:

  • Mungkinkah Tuhan membenci mereka yang mengalami musibah?
  • Mungkinkah Tuhan hanya mengasihi orang-orang tertentu?

Inilah beberapa pertanyaan di antara banyak pertanyaan yang sering muncul ketika musibah terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat hati kita hancur tanpa harapan jika tidak dapat memperoleh jawaban yang benar. Lalu darimanakah kita bisa mendapatkan jawabnya? Hanya satu sumber yang bisa memberikan jawaban yang benar: Tuhan. Melalui firmanNya kita dapat menemukan penghiburan dan kekuatan.

Dimanakah Tuhan ketika musibah terjadi

“TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediamanNya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.” Mazmur 33: 13-15

Tuhan kita yang berdiam di surga adalah Tuhan yang mahatahu, yang bisa melihat kita dimana pun kita berada. Ia dengan kasihNya mengatur segala sesuatu dalam alam semesta agar bisa berjalan sesuai dengan rencanaNya. Ia tahu apa yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Jika kita berjalan di pinggir pantai, Ia tahu kapan ombak akan datang dan membasahi kaki kita. Ia tahu kalau sehelai rambut akan rontok dari kepala kita. Apa pun yang terjadi, apa pun yang akan dialami dan dilakukan manusia, Tuhan pasti tahu. Ia membiarkan segala sesuatu berjalan apabila sesuai dengan kehendakNya.

Mungkinkah musibah terjadi karena Tuhan tidak bisa mengendalikan keadaan?

“Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?“ Yeremia 32: 27

Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa. Ia bukanlah seperti manusia yang lemah dan yang harus tidur pada jam-jam tertentu. Ia tahu apa yang terjadi pada umat manusia dan bahkan dalam alam semesta. Dengan kemahatahuan dan kemahakuasaanNya, seisi alam semesta tetap dapat berjalan secara sistimatis. Jika tidak demikian, bumi yang kita diami sekarang mungkin sudah musnah sejak dulu karena adanya berbagai meteor yang bisa membenturnya. Seisi alam semesta ini diaturNya selama berjuta-juta tahun menurut hukum-hukum tertentu yang jauh lebih kompleks dari apa yang memungkinkan sebuah pesawat untuk terbang selama beberapa jam. Berbagai pandemi dan krisis sudah pernah muncul di dunia, tetapi sampai saat ini dunia tetap berputar sebagaimana mestinya. Tuhan tidak pernah kehilangan kendali.

Mungkinkah Tuhan membenci mereka yang mengalami musibah?

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?” Lukas 13: 1-2

Satu pertanyaan yang bisa menghancurkan hati setiap orang ketika mengalami musibah adalah adanya perasaan bahwa Tuhan membencinya. Apa salahku sehingga aku harus mengalami ini? Perasaan masygul juga datang ketika orang lain memandang bahwa semua yang terjadi pada diri kita adalah hukuman atas dosa kita. Memang, jika apa yang terjadi adalah akibat langsung dari kesalahan kita, itu adalah sewajarnya. Tetapi, dalam musibah banyak juga orang yang harus menderita karena bukan kesalahan yang mereka perbuat. Apakah manusia mengalami bencana secara acak? Kebetulan sial? Sudah tentu tidak, karena hal sedemikian akan bertentangan dengan sifat Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa.

Semua hal yang terjadi di dunia yang sudah tercemar dosa ini adalah dengan sepengetahuan dan seizin Tuhan, dan kita sering tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkannya. Tetapi satu hal yang kita tahu ialah bahwa semua orang sudah berdosa dihadapanNya, tetapi mereka yang percaya pada akhirnya akan mendapatkan pengampunan dan hidup yang kekal. Karunia keselamatan dari Tuhan adalah sesuatu paling besar dan utama dalam hidup orang Kristen, dan karena itu adanya bencana apa pun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

Mungkinkah Tuhan hanya mengasihi orang-orang tertentu?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Dalam penderitaan yang kita alami, mungkin kita merasa bahwa Tuhan pilih kasih. Mengapa orang lain tidak mengalami penderitaan seperti kita? Mengapa orang yang hidupnya tidak mengenal Tuhan justru sering mempunyai hidup yang nyaman? Mengapa Tuhan membiarkan umatNya mengalami sakit, terkena wabah, mengalami kerugian besar dan sebagainya? Ayat di atas menyatakan bahwa dalam hidup di dunia ini, Tuhan mengasihi seluruh umat manusia. Tuhan memberi berkat umumNya untuk semua orang. Walaupun demikian, dalam hal yang khusus, yaitu dalam hubungan antara manusia dan Tuhan, Tuhan hanya memberikan Roh KudusNya kepada umatNya. Roh Kudus yang memberi pertolongan ketika musibah datang, hanya ada dalam hati umat percaya. Lebih dari itu, hanya umatNya yang menerima pengampunan dosa dan akan menjumpai Dia di surga.

Pada saat ini keadaan dunia serba kacau. kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berlangsung. Akankah kita melalui goncangan hidup ini dengan selamat? Kita bagaikan penumpang yang tidak tahu kemana pilot kita akan menerbangkan pesawat kita. Akankah kita mendarat dengan selamat? Jika pilot kita berada dalam kesulitan, adakah orang yang bisa menolongnya. Bagaimana pula jika pilot kita sakit, adakah yang dapat menggantikannya?

Jika kita mengalami badai kehidupan dan hati kita menjadi kecil, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa. Ia tidak pernah meninggalkan umatNya. Janji Yesus kepada para muridnya tatkala Ia akan meninggalkan mereka dan naik ke surga, menyatakan bahwa Ia memberikan damai sejahtera yang tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Dunia dengan segala kemajuan teknologi dan peradaban, tidak bisa menjamin adanya keselamatan. Dunia dengan demikian tidak bisa memberi kedamaian. Sebaliknya, Yesus sudah memberikan kedamaian kepada murid-muridNya. Dengan itu mereka hidup dengan berani untuk menghadapi segala tantangan dan bahaya. Kepada kita Ia juga mau memberikan damai sejahtera yang sama. Seperti Yesus sudah menyertai murid-muridNya, Ia yang sekarang di surga tetap memegang kendali hidup kita dan karena itu kita tidak perlu gelisah dan gentar.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu. 1 Petrus 5: 7

Sebab Dia hidup

“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” 1 Korintus 15: 21 – 22

Siapakah yang tidak mengenal lagu “Because He lives“? Lagu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “S’bab Dia hidup” ini ditulis oleh William (Bill) dan Gloria Gather di Amerika pada tahun 1971 di tengah pergolakan sosial, ancaman perang, dan penolakan terhadap kepercayaan nasional dan pribadi. Pada saat itu, pembunuhan, lalu lintas narkoba, dan perang ekonomi menjadi tajuk berita utama setiap hari. Di tengah-tengah ketidakpastian seperti itu, kepastian akan ketuhanan Kristus bangkit meniup pikiran manusia yang bermasalah seperti angin sepoi-sepoi yang mendinginkan padang pasir yang kering.

Anak Allah Yesus namaNya
Menyembuhkan, menyucikan
Bahkan mati tebus dosaku
Kubur kosong membuktikan Dia hidup

S’bab Dia hidup, ada hari esok
S’bab Dia hidup, ku tak gentar
Kar’na ku tahu Dia pegang hari esok
Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup

Tidak dapat disangkal, tahun 1971 sudah lama berlalu. Hampir setengah abad yang lalu, dan waktu itu saya masih belajar di SMA. Pada saat itu komputer dan ponsel belum ada, dan TVRI belum mempunyai stasiun pemancar di Surabaya. Dengan demikian, berita tentang apa yang terjadi dalam masyarakat dan negara hanya bisa saya peroleh melalui radio saja. Walaupun begitu, jika ada pendapat bahwa dengan kemajuan teknologi yang sudah tercapai sampai saat ini kita sudah mencapai tingkat kemampuan yang bisa membawa hidup yang nyaman, itu mungkin adalah pandangan yang keliru.

Pada saat ini dunia sedang mengalami krisis karena adanya pandemi COVID-19. Tidak saja ini menyangkut kesehatan manusia, banyak masalah lain juga timbul seperti masalah ekonomi, sosial, politik dan juga keamanan dunia. Teknologi memang sudah maju sekali diakhir abad ke 20, tetapi dengan adanya krisis di awal abad ke 21 ini, kita mungkin kembali merasakan apa yang dirasakan orang di tahun 1970an. Manusia kehilangan pegangan hidupnya, dan mencari-cari apa yang bisa dipakai sebagai pedoman hidup.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi masa mendatang yang serba tidak menentu ini? Sebagian orang mencoba untuk melupakan apa yang terjadi dan mencoba untuk menikmati hidup ini selagi masih bisa. Sebagian lagi mencoba menimbun harta berharga seperti emas dan uang dollar untuk menghadapi kemungkinan kacaunya ekonomi. Ada juga orang yang saking kuatirnya untuk jatuh sakit, sekarang mengonsumsi berbagai obat suplemen guna meningkatkan imunitas. Walaupun demikian, kekuatiran dalam hati setiap orang tetap ada karena mereka tahu bahwa hidup mereka sebenarnya bukan di tangan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa pada saatnya mereka akan meninggalkan dunia ini.

Bagi sebagian orang, kematian mungkin bukan hal yang harus dipikirkan. Ada orang yang percaya bahwa seperti hewan, mereka akan lenyap musnah setelah kematian. Selain itu, ada juga manusia yang berpikir bahwa jika hidup ini dijalani sebagai warga dunia yang baik, pada akhirnya mereka akan menemui kebahagiaan setelah kematian. Tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa manusia tidak dapat mengabaikan adanya hidup sesudah kematian jasmani. Mereka yang percaya kepada Kristus akan menemui kebahagiaan di surga, sedangkan yang lain akan menderita di neraka.

Ayat di atas menyatakan bahwa setiap orang akan menemui kematian jasmani karena dosa yang sudah dilakukan oleh Adam, tetapi karena kedatangan Kristus ke dunia, mereka yang percaya kepadaNya akan memperoleh kebangkitan. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.

Membayangkan kebahagiaan yang akan kita terima di surga memang bisa membuat kita terhibur. Walaupun demikian, kita mungkin mengharapkan agar kita bisa berbahagia juga selama hidup di dunia. Mengapa kita harus menderita selama menantikan saat untuk meninggalkan dunia ini? Dalam hal ini, Alkitab menyatakan bahwa sebenarnya setiap orang percaya tidak perlu merasa hidup ini terlalu berat untuk dijalani. Keyakinan bahwa Tuhan sudah memberi kita pengampunan seharusnya memberi kita keberanian untuk menghadapi gelora kehidupan karena kita yakin akan kasihNya. Seperti syair lagu “Because He lives” kita percaya bahwa sebab Dia hidup, ada hari esok untuk kita. Sebab Dia hidup, kita tak gentar menghadapi hari depan. Kita tahu bahwa Yesus memegang hari esok, dan hidup kita akan menjadi berarti jika kita yakin bahwa Dia benar-benar Tuhan yang hidup.

Tugas kewajiban di saat sulit

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Berapa lama anda sudah menjadi orang Kristen? Percayalah, pertanyaan ini bersangkutan dengan bagaimana anda hidup di masa yang penuh tantangan sekarang ini. Jika anda tahu jawaban yang benar, hidup anda akan bisa berubah, dan anda akan menjadi lebih tabah dan lebih bisa bersukacita dalam segala keadaan. Pertanyaan ini sering dilontarkan orang dan mungkin dijawab dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran yang panjang. Kebanyakan orang mengartikannya sebagai jangka waktu dari saat dibaptis hingga sekarang. Namun, ada juga orang yang mengartikannya sebagai jangka waktu sejak ia menerima Yesus Kristus sebagai JuruselamatNya. Selain itu, ada juga orang yang berpendapat bahwa jangka waktu itu harus dihitung dari saat ia mengenal siapa Yesus itu. Semua jawaban itu boleh saja diberikan, walaupun semuanya bukan jawaban yang tepat. Mengapa demikian?

Menjadi orang Kristen adalah menjadi pengikut Kristus. Alkitab menyatakan bahwa di Antiokhialah murid-murid Yesus untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kisah Para Rasul 11: 26). Dengan demikian, nama “Kristen” adalah sebutan yang diberikan orang kepada pengikut Yesus pada waktu itu, sekalipun mereka tentunya sudah menjadi pengikut Yesus sebelum sebutan itu ada. Sejak kapan orang menjadi Kristen sebenarnya bukanlah hal yang penting. Pengertian manusia tidaklah sama dengan apa yang dipikirkan Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa setiap pengikut Kristus menjadi orang pilihan Tuhan sebelum mereka lahir. Tuhan yang memilih mereka, dan bukan mereka yang memilih Tuhan. Begitu juga kita adalah orang-orang yang sudah dipanggil dan dipilih oleh Tuhan untuk menerima pengampunan dan keselamatan, dan itu terjadi sebelum kita lahir.

“Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya” Galatia 1: 15

Pengampunan dosa adalah kasih karunia Tuhan dan bukan hasil usaha kita sendiri. Kita tidak bisa menjadi pengikut Kristus melalui tindakan kita, karena kita tidak bisa memenuhi tingkat kekudusan yang ditentukan Tuhan. Walaupun demikian, rasul Petrus dalam ayat pembukaan di atas mengatakan bahwa setiap orang yang sudah dipilih Tuhan seharusnya menyambut panggilan dan pilihan Tuhan dengan hidup dan berperilaku yang baik. Khususnya, orang Kristen yang diselamatkan seharusnya mengonfirmasi keselamatan mereka, untuk diri mereka sendiri dan orang lain, dengan memiliki sifat-sifat yang dimiliki Yesus. Ini bukan berarti bahwa sifat baik seperti Yesus bukanlah ujian sulit yang harus kita lewati untuk mencapai keselamatan. Juga tidak menyiratkan bahwa keselamatan sudah diperoleh jika kita menunjukkan sifat-sifat ini.

Mereka yang telah dipilih oleh Allah dan dipanggil untuk beriman kepada Kristus, benar-benar dapat memiliki dan berlimpah dalam sifat-sifat ini dalam keadaan apa pun. Karena itu, mereka yang menunjukkannya memiliki kepercayaan diri yang baik dalam hubungan mereka dengan Kristus dan sesamanya. Mereka yang tidak, akan kurang percaya diri dalam menghadapi segala masalah yang harus mereka hadapi. Jika kita hidup karena hanya anak-anak Allah dalam Kristus yang diberi kuasa untuk hidup, kata Petrus, kita tidak akan memiliki alasan untuk meragukan atau tersandung oleh iman. Penggunaan kata “tersandung” bukan tentang kehilangan keselamatan. Dalam konteksnya, ini adalah hidup yang terbuang sia-sia, tidak produktif dan tidak efektif, hidup dalam kekuatiran dan ketakutan, yang seharusnya kita tinggalkan karena semuanya bukan apa yang diperlihatkan Yesus.

Bagaimana keadaan hidup anda di saat ini? Apakah adanya pandemi membuat hidup anda terasa kacau? Apakah anda merasa kuatir dalam menghadapi hari depan? Ataukah ada perasaan bahwa semua yang ada adalah sia-sia? Adakah ketakutan dalam hidup anda sehingga anda lupa bahwa anda adalah orang yang terpilih untuk menerima keselamatan sejak mulanya? Biarlah kita bisa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjalani hidup kita supaya kita merasa makin yakin bahwa kita adalah orang yang terpanggil dan terpilih agar kita bisa tetap teguh dalam menghadapi hari-hari mendatang!

Jangan takut, Yesus selalu beserta kita!

“Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” 1 Tesalonika 5: 9 – 10

Sudah lebih dari setengah tahun wabah Covid-19 ini merajalela di dunia. Keadaan saat ini bukannya membaik, tetapi sebaliknya makin memburuk di banyak negara. Beberapa negara yang dulunya pernah merasa sudah memenangkan perjuangan melawan virus corona, sekarang harus menghadapi gelombang kedua. Selain itu ada negara-negara yang sampai saat ini belum mengalami pelandaian kurva penularan. Semua ini membuat semua orang merasa gundah.

Apa yang akan terjadi pada bulan-bulan mendatang, tidaklah ada seorang pun yang tahu. Ketidaktahuan akan masa depan inilah yang bisa membuat manusia menderita. Manusia dari awalnya selalu ingin untuk merancangkan dan menentukan masa depannya. Jika sekarang semua rencana dan angan-angan sudah menjadi berantakan, manusia mudah menjadi hilang harapan.

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, keadaan saat ini mungkin membuat mereka menghitung-hitung apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk yang bisa terjadi di dunia. Vaksin tidak ditemukan? Resesi? Kekacauan sosial? Perang? Media tidak henti-hentinya menampilkan berbagai skenario yang menakutkan. Semua itu membuat mereka hidup dalam kekuatiran yang besar.

Bagi orang yang percaya adanya kuasa ilahi, keadaan saat ini mungkin dihadapi dengan rasa takut, jangan-jangan semua ini adalah bentuk kemarahan Tuhan. Mungkinkah ini tanda datangnya hari kiamat? Kekuatiran akan datangnya berbagai masalah di dunia juga disebabkan karena adanya ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi pada hidup mereka sesudah kematian. Mungkin mereka merasa bahwa hidup mereka sampai sekarang mungkin belum mencapai syarat untuk masuk ke surga.

Bagi kita unat Kristen, keadaan saat ini tentunya juga terasa berat. Adanya iman kepada Yesus tidak mengubah kenyataan bahwa penyakit, kelaparan, kekacauan atau perang adalah hal-hal yang tidak dapat kita nikmati. Tetapi, kita tahu bahwa semua penderitaan itu adalah bagian hidup manusia di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Walaupun demikian, ayat di atas menyatakan bahwa Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka.

Sekali pun keadaan dunia bisa menjadi sangat buruk, kasih Allah kepada kita tidaklah pernah berkurang. Mengapa begitu? Karena Ia sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus demi keselamatan kita. Ini adalah pernyataan kasih Allah yang terbesar. Jika Ia sedemikian mengasihi kita sewaktu kita masih berdosa, tambahan lagi sekarang karena kita sudah menjadi umatNya. Oleh karena itu, dalam hidup atau mati kita boleh yakin bahwa Yesus tetap bersama kita.

Satu daging, satu roh

“Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” 1 Korintus 6: 17

Tidak dapat disangkal bahwa banyak orang percaya bahwa manusia berbeda dengan hewan karena manusia mempunyai “roh”. Tetapi apa arti kata roh (spirit) ini mungkin berbeda-beda dari orang yang satu ke orang yang lain. Bagi sebagian orang kata roh dihubungkan dengan kerohanian yang mungkin diartikan sebagai kemampuan untuk merasakan hal-hal yang tidak dapat ditangkap pancaindera, seperti rasa cinta, bahagia, tenteram, terharu, khusyuk dan sebagainya. Bagi orang beragama, kata roh juga dihubungkan dengan kepercayaan bahwa manusia terdiri dari tubuh jasmani dan rohani – manusia terdiri dari daging dan roh. Mereka yang beragama umumnya menyembah Tuhan yang tidak dapat dilihat atau berupa roh.

Ayat di atas adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya yang diucapkan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Korintus pada waktu itu adalah tempat dimana banyak orang dari berbagai tempat di dunia pergi berkunjung dan berniaga. Korintus juga kota dimana banyak patung berhala, dan juga tempat dimana hubungan seksuil dengan pelacur adalah bagian dari kegiatan religi. Tidaklah mengherankan bahwa di antara jemaat Korintus pada waktu itu juga ada orang yang terperosok ke dalam dosa perzinahan. Karena itu, Paulus menegur mereka dengan mengatakan bahwa perzinahan adalah dosa karena mereka sudah “menjadi satu daging” dengan orang yang bukan pasangannya.

Apa artinya menjadi satu daging? Pada umumnya, dari kitab Kejadian 2:24 orang tahu bahwa suami dan istri adalah satu daging, satu tubuh secara jasmani. Tetapi, dari Galatia 2:20 kita tahu bahwa karena Kristus hidup di dalam tubuh jasmani kita, kita adalah satu dengan Dia secara jasmani dan rohani.

“….namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Galatia 2: 20

Hubungan antara suami dan istri yang menggambarkan hubungan kita dengan Kristus dengan demikian adalah menggambarkan hubungan antara anggota dari satu tubuh secara jasmani dan rohani. Mereka yang melakukan hubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya dengan demikian tidak hanya menodai jasmani, tetapi juga rohani mereka. Secara jasmani dan rohani, mereka sudah merusak hubungan mereka dengan Kristus.

Jika seseorang sudah ditebus oleh darah Kristus, tubuh jasmani dan rohaninya sudah secara keseluruhan menjadi milik Kristus. Mereka yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Dengan demikian, jika orang menyerahkan tubuhnya kepada percabulan, itu berarti ia juga menyerahkan milik Kristus kepada dosa. Menyerahkan tubuh kita kepada dosa tidak hanya berarti bahwa secara jasmani kita berbuat dosa, tetapi jika pikiran kita terisi oleh hal-hal yang kotor, itu pun sudah menodai diri kita yang sudah sepenuhnya menjadi milik Kristus (Matius 5: 27 – 28). Selain itu, jika kita membuat tubuh kita menjadi obyek pikiran dan perbuatan kotor orang lain, itu pun berarti menodai nama Kristus yang memiliki kita.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita bukannya kita lagi tetapi Kristus yang hidup dalam kita. Karena itu, kita adalah satu daging dan satu roh dengan Dia. Kesetiaan kita kepada Kristus secara jasmani dan rohani haruslah juga dinyatakan dalam hubungan kita dengan orang lain dalam kesucian jasmani dan rohani.

Mencari ketenangan dalam ketegangan

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.” Markus 6: 31

Beberapa saat yang lalu ada berita di media Australia yang mengabarkan bahwa polisi sudah menjatuhkan denda lebih dari $20.000 kepada beberapa orang yang melanggar peraturan penjagaan jarak dengan mengadakan acara “makan besar” di rumah seseorang. Polisi mendapat laporan dari seseorang yang melihat adanya beberapa orang yang membeli ayam goreng Kentucky yang banyak jumlahnya, yang tidak mungkin dikonsumsi oleh para pembeli saja. Dengan laporan itu, polisi kemudian bisa menemukan tempat dimana ada banyak orang berkumpul dan beramai-ramai makan ayam goreng.

Mengapa orang senang untuk tetap berpesta pora di tengah pandemi saat ini? Agaknya mereka yang mengabaikan peraturan pemerintah untuk menghindari penularan virus corona itu adalah orang-orang yang hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri. Mereka ingin bergembira ria tanpa memikirkan risiko bagi dirinya dan orang lain. Mereka lupa bahwa banyak dokter dan petugas medis saat ini berjuang untuk menolong mereka yang terjangkit virus corona dan seringkali harus melupakan saat makan karena terlalu sibuk. Banyak diantara mereka yang merawat pasien di rumah sakit merasa sangat lelah karena adanya begitu banyaknya pasien yang menderita. Mereka kurang tidur dan mengalami stress dan trauma karena keadaan pasien yang mereka jumpai di rumah sakit.

Tuhan Yesus yang pernah hidup di dunia pun mengalami saat-saat dimana Ia dan murid-muridNya mengalami kesibukan yang luar biasa karena adanya orang-orang yang datang dan pergi untuk mendapatkan penghiburan dan pelayanan. Walaupun demikian, Yesus dapat merasakan bahwa Ia dan murid-muridNya memerlukan waktu untuk beristirahat dan makan. Karena itu, dalam ayat diatas Yesus mengajak para muridNya untuk pergi ke tempat yang sunyi. Kesadaran bahwa kesibukan dapat merusak kehidupan ada pada Yesus. Manusia, seperti juga makhluk lainnya, memerlukan istirahat.

Istirahat bukan saja untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan jiwa kita. Dalam kesibukan kita, mungkin kita tidak atau kurang sempat untuk mendengarkan suara Tuhan. Seringkali juga, karena sibuk kita memilih untuk terus bekerja sekalipun hati dan pikiran kita mengomel. Tidak jarang, karena kelelahan jasmani dan rohani, orang kemudian tidak sanggup lagi untuk bekerja, alias burned-out. Hubungan mereka yang lelah dengan orang disekitarnya pun bisa terganggu karenanya.

Pada waktu Yesus mengunjungi rumah Maria dan Marta di Betania, Marta sangat sibuk menyiapkan makanan. Maria adiknya, sebaliknya hanya duduk mendengarkan Yesus. Ketika Marta merasa kesal karena Maria tidak mau membantunya di dapur, ia meminta Yesus untuk menegur adiknya. Tetapi Yesus justru menegur Marta.

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Pagi ini, sebagai orang percaya kita sadar bahwa memang setiap orang di dunia ini harus mau giat bekerja. Lebih dari itu, setiap orang Kristen harus bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan sesama. Itu berarti kita harus bisa melihat arti kerja menurut pandangan Tuhan. Banyak pekerjaan dan kesibukan yang nampaknya baik, tetapi bisa membuat hidup kita menjadi kering dan layu.

Mungkin kesibukan kita yang disebabkan oleh tuntutan atau ulah orang lain. Selain itu, kesibukan bisa yang terjadi karena kekuatiran kita atas diri kita sendiri atau diri orang lain. Bahkan banyak hamba Tuhan yang terbenam dalam kesibukan yang luar biasa karena kekuatiran atas masalah umat dan gereja. Banyak orang yang tenggelam dalam kesibukan karena tidak menyadari bahwa apa yang sudah mereka kerjakan secara maksimal pada akhirnya harus diserahkan kepada kehendak Tuhan yang mahakuasa.

Segala kesibukan yang secara sengaja atau tidak disengaja menjadi tak terkontrol, bisa menyebabkan kita menjauhi Tuhan; dan itu pada akhirnya akan merusak kehidupan dan kebahagiaan kita. Biarlah kita mau menganalisa hidup kita sambil mengingat bahwa Tuhan selalu beserta kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Pencobaan bisa membentuk pribadi yang baik

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Bagi banyak orang, diagnosis coronavirus hanyalah permulaan impian yang buruk. Menurut penyelidikan, orang-orang yang pulih dari penyakit ini ternyata bisa mengalami berbagai gejala persisten: sesak napas, lemah, pikiran berkabut, kelelahan, dan depresi. Karena itu, negara-negara yang dilanda pandemi di Eropa telah mulai menawarkan layanan rehabilitasi kepada para penyintas COVID-19 sekalipun ilmu kedokteran belum tahu banyak tentang bagaimana tubuh manusia bisa pulih dari serangan virus di paru-paru, saluran pencernaan, jantung, ginjal, hati , otak, dan sistem saraf.

Bagi banyak orang, adanya pandemi membuat mereka berpikir dan merenung, kalau-kalau virus itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada manusia. Kalau betul demikian, untuk apa? Memang soal sakit, semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong, apalagi jika pikiran bahwa Tuhan memang membiarkan mereka sakit.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengizinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita makin bergantung kepadaNya.

Memang rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Hari ini, jika kita merasakan hidup ini adalah terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11

Kita sudah menerima mukjizat terbesar

“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” 2 Timotius 1: 9-10

Dengan adanya pandemi dan masalah ekonomi yang melanda semua negara di dunia saat ini, banyak orang yang merasa bahwa tanpa intervensi Tuhan, dunia ini akan mengalami kekacauan besar. Dalam keadaan yang sedemikian, tidak dapat diragukan bahwa banyak orang Kristen yang berdoa dan mengharapkan untuk datangnya mukjizat Tuhan. Mukjizat adalah sesuatu yang terjadi diluar apa yang bisa dijangkau dengan pikiran manusia, yang dipercayai sebagai suatu hal supranatural yang berasal dari Tuhan. Semua orang Kristen percaya adanya mukjizat yang dilakukan Tuhan, walaupun sering ada perbedaan pengertian tentang detilnya.

Diantara dua posisi ekstrim, ada orang Kristen yang percaya bahwa mukjizat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja dalam setiap segi kehidupan manusia, dan ada yang percaya bahwa mukjizat hanya terjadi secara unik pada zaman sebelum Alkitab tertulis. Dengan demikian, golongan yang pertama adalah orang-orang yang selalu mengharapkan agar Tuhan melakukan mukjizatNya, dan golongan kedua adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa Tuhan perlu untuk membuat mukjizat seperti dulu. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen tidak menolak kenyataan bahwa mukjizat di zaman ini tetap bisa terjadi karena Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.

Memang dalam hidup di dunia, manusia sering mengalami saat-saat dimana kemampuannya tidak lagi dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Untuk mereka yang beriman, adalah normal jika mereka berseru meminta tolong kepada Tuhan. Seringkali jika hal yang diharapkan itu datang, orang menerimanya sebagai mukjizat Tuhan yang mengabulkan doa-doa mereka. Bagi orang lain, mukjizat belum tentu datang langsung dari Tuhan karena Ia bisa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk menolong umatNya. Pertolongan yang terjadi karena usaha manusia tidaklah meniadakan kasih Tuhan yang memungkinkan hal itu terjadi.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mereka yang mengharapkan mukjizat langsung dari Tuhan seringkali menekankan pentingnya iman yang teguh. Malahan, ada yang percaya bahwa jika apa yang diminta tidak terjadi, itu disebabkan oleh kelemahan iman. Padahal, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa agar bukan kehendak kita yang terjadi, tetapi kehendakNya. Yesus juga mengajarkan bahwa ukuran iman tidak menentukan apa yang akan terjadi, tetapi adanya iman memberi keyakinan bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja yang dikehendakiNya dan pada saat yang dipilihNya.

“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Walaupun demikian, tidaklah benar jika manusia mengharapkan mukjizat terjadi di setiap saat dan tempat menurut kehendak mereka; karena jika memang demikian, mukjizat itu terjadi karena usaha manusia dan bukannya menurut kehendak Tuhan. Tuhan tidak dapat diperintah manusia untuk melakukan segala hal yang dimaui mereka. Dari awalnya, Tuhan melakukan suatu mukjizat untuk tujuan khusus sesuai dengan maksud dan waktu Tuhan sendiri, dan itu bisa terjadi pada siapa saja dan bukan hanya pada umatNya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Satu hal yang pasti, mereka yang berharap akan pertolongan Tuhan dimanapun dan kapanpun, tidak akan dikecewakan jika pikiran mereka tidak hanya terpusat pada apa yang mereka maui.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang selalu berharap atas datangnya intervensi Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan sudah melakukan mukjizat yang terbesar dalam hidup mereka. Setiap orang beriman adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan diselamatkan melalui darah Kristus dan sudah lahir baru. Ini adalah mukjizat terbesar yang tidak dapat dimengerti oleh dunia.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sejak mulanya. Dengan hidup baru ini kita seharusnya mempunyai perspektif baru tentang adanya tantangan kehidupan. Mukjizat demi mukjizat tetap terjadi, tetapi hidup baru kita tidak lagi bergantung padanya!

Giatlah berdoa di masa sulit

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 11 – 12

Jika kita menyangka bahwa korban Covid-19 ini sudah terlalu besar, itu tentunya tak salah. Data yang ada menunjukkan bahwa di seluruh dunia sudah banyak orang yang terinfeksi virus corona dan di antaranya banyak yang tewas. Walaupun demikian, kita mungkin kurang menyadari bahwa di antara mereka yang tetap hidup, banyak yang mengalami masalah kesehatan untuk jangka panjang. Memang virus ini bisa membuat kerusakan yang luar biasa pada berbagai anggota tubuh. Selain itu, adanya pandemi dapat dipastikan sudah membuat banyak orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi, saat ini data yang akurat belumlah diketahui karena gangguan kejiwaan ini umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi meningkat secara perlahan-lahan.

Di antara mereka yang terpengaruh oleh keadaan gawat saat ini, ada banyak orang yang perlahan-lahan kehilangan semangat untuk beraktivitas, berinteraksi, bekerja dan bahkan untuk hidup. Adanya pembatasan sosial dan berita-berita yang kurang menyenangkan yang timbul setiap hari memang bisa menghancurkan perasaan orang yang setabah apa pun. Apalagi, pada saat ini apa yang biasanya dianggap bisa menguatkan hidup manusia tidaklah mudah dijumpai. Berbagai aktivitas sosial, budaya dan religi memang sudah menghilang sejak wabah ini menjadi besar. Manusia dalam keadaan ini mudah kehilangan arti hidup dan jatuh ke dalam depresi.

Bagaimana tindakan kita sebagai orang Kristen di tengah kekacauan saat ini? Bagi mereka yang biasanya sangat aktif di gereja dan sekarang hanya bisa mengikuti acara kebaktian yang sederhana melalui internet, tentunya merasakan adanya suatu kekosongan. Jika biasanya kita dapat memuji Tuhan dengan diiringi musik yang merdu dan bersama-sama berdoa dengan saudara seiman di gereja, sekarang banyak orang terpaksa tinggal di rumah dan hanya bisa menyanyi dan berdoa dengan orang yang serumah. Memang manusia sebagai makhluk sosial agaknya tidak dapat mengabaikan perlunya hidup bermasyarakat.

Sekalipun demikian, ayat di atas menyatakan bahwa di dalam menghadapi kesulitan hidup, kita tidak boleh membiarkan kerajinan kita kendor. Sebaliknya, kita harus mempertahankan semangat kita untuk tetap menyala-nyala, untuk tetap bisa melayani Tuhan. Di dalam kesulitan, kita tetap harus bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa. Mengapa demikian? Itu karena hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan rohani, bukan jasmani. Biarpun secara jasmani tubuh kita lemah dan keadaan di sekeliling kita tidak memungkinkan adanya interaksi jasmani antar umat Kristen, interaksi kita dengan Tuhan dan sesama umat percaya tetap bisa berlangsung secara rohani melalui doa dan persekutuan dari hati ke hati yang berlandaskan pengharapan, kesabaran dan ketekunan.

Saat ini, jika kita merasa lemah, letih, lesu dan padam semangat, mungkin itu suatu tanda yang harus kita sadari bahwa secara rohani kita sudah mengalami masalah yang besar. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk mengingat bahwa bagaimana pun beratnya hidup ini, hubungan antara kita dengan Tuhan adalah satu-satunya yang bisa menyegarkan kita kembali. Keadaan yang kurang baik saat ini seharusnya mengingatkan kita untuk kembali kepada doa, yang merupakan nafas kehidupan spiritual kita. Hanya melalui hubungan yang baik dengan Tuhan yang mahakuasa, kita akan tetap dapat mempertahankan dan bahkan memperkuat semangat hidup kita di masa sulit ini.

Akulah Tuhanmu

“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengharubirukan laut, sehingga gelombang-gelombangnya ribut, TUHAN semesta alam namaNya.” Yesaya 51: 15

Aku percaya kepada Tuhan yang mahakuasa

Ada berapakah ayat yang mengandung kata-kata “Akulah Tuhan” dalam Alkitab? Ada banyak, mungkin ada sekitar 20. Barangkali kita heran mengapa Tuhan begitu sering memperkenalkan diriNya sebagai Tuhan kepada umat Israel. Tetapi semua itu wajar jika kita ingat bahwa umat Israel sering lupa atau sengaja melupakan Tuhan yang sudah banyak membuat berbagai keajaiban dalam hidup mereka. Tuhan yang tahu bahwa umatNya memerlukan Dia, sering mengingatkan mereka hanya bisa hidup bergantung kepadaNya.

Tuhan juga sering mengingatkan kita bahwa Ia adalah Tuhan kita. Melalui berbagai kejadian dalam hidup kita, mungkin kita ingat bahwa ada saat-saat tertentu dimana kita merasakan kehadiran atau campur tangan Tuhan. Jika itu terjadi, barangkali hati kita berdebar dan pikiran kita terisi kekaguman bahwa Tuhan itu adalah mahakuasa. Sayang sekali, kejadian semacam itu mungkin agak jarang terjadi; dan karena itu hari demi hari berjalan dan kita mungkin lupa bahwa Tuhan ada dan bekerja dalam kehidupan manusia.

Manusia sering lupa akan Tuhan jika hidupnya terasa tenang. Tetapi jika kesulitan hidup terjadi bagaikan ombak lautan yang bergelora, mungkin orang tersadar bahwa ia tidaklah berkuasa atas hidupnya. Melalui berbagai kejadian, Tuhan kembali menyatakan bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya. Ia adalah Tuhan, Allah yang membuat laut, bergelora sehingga gelombang-gelombangnya ribut.

Jika Ia adalah Raja semesta alam, dimanakah Ia gerangan di saat ini, saat dimana banyak manusia mengalami penderitaan akibat pandemi Covid-19? Apakah Ia bersembunyi di balik semua kejadian di bumi? Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang terlihat menakutkan pun terjadi atas sepengetahuan dan seizinNya. Malahan, Ia bisa menggunakan kekacauan yang terjadi di bumi untuk mengingatkan umatNya bahwa Ia adalah Tuhan, Allah mereka.

Adalah manusia yang sering lupa atau sengaja melupakan adanya Tuhan jika laut tidak bergelora, dan hidupnya berjalan mulus. Tetapi keadaan yang sedemikian bisa membuatnya lupa akan ketergantungannya kepada Tuhan yang mahakuasa. Melalui adanya kekacauan dan persoalan di dunia, Tuhan ingin mengingatkan manusia untuk kembali bernaung dalam perlindunganNya.

Hari ini, apakah anda merasa bahwa Tuhan itu jauh karena Ia nampaknya tidak berbuat apa-apa ketika laut bergelombang mengeluarkan suara yang menakutkan? Ingatlah bahwa laut yang bergelora membuktikan bahwa Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang mahakuasa. Ia telah memberi firmanNya kepada kita agar kita selalu ingat kepadaNya yang melindungi kita hari lepas hari.

“Aku menaruh firmanKu ke dalam mulutmu dan menyembunyikan engkau dalam naungan tanganKu, supaya Aku kembali membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, dan berkata kepada Sion: Engkau adalah umatKu!” Yesaya 51: 17