Hidup kita untuk memuliakan Tuhan

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Sejak hari Senin yang lalu saya bekerja dari rumah. Universitas ditutup dan karena itu setiap dosen harus memberi kuliah online. Inilah keadaan di Australia sekarang dengan adanya anjuran untuk social distancing. Karena itu, akhir pekan ini hanya saya lewatkan dengan tinggal di rumah saja. Memang ancaman wabah coronavirus sudah membuat cara hidup manusia dimana pun berubah.

Bagi banyak orang, tinggal di rumah selama berhari-hari tentunya membosankan. Berbeda dengan liburan, saat ini orang tidak bisa pergi ke mall, gym atau shopping. Semua restoran, bioskop dan toserba sudah ditutup, dan hanya toko swalayan dan apotik yang tetap buka. Tidaklah mengherankan banyak orang yang sekarang ini menghabiskan waktu dengan menonton TV atau membaca buku.

Menurut perkiraan pemerintah Australia, krisis COVID -19 ini akan berlangsung berbulan-bulan, dan bukan hanya beberapa minggu. Oleh sebab itu, orang harus siap mental untuk hidup sebagai tahanan rumah. Dalam hal ini, tentunya ada pertanyaan apakah setelah “beristirahat” di rumah selama beberapa bulan, orang tidak mengalami gangguan kejiwaan. Apalagi jika tidak ada income yang masuk, karena ekonomi yang kacau sudah membuat sekitar 1 juta orang kehilangan pekerjaannya di Australia. Inilah masalah yang harus dihindari semua orang.

Menurut Alkitab, manusia diciptakan untuk bekerja dan memuliakan Tuhan. Keharusan untuk bekerja bukanlah karena dosa, tetapi dari mulanya Tuhan sudah berfirman agar manusia menguasai bumi dan isinya. Dengan demikian, semua manusia pada hakikatnya ingin untuk mengisi hidupnya dengan kegiatan yang terasa bermanfaat bagi dirinya atau orang lain.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28.

Dalam keadaan saat ini, mau tidak mau kita akan merasa adanya keterbatasan hidup. Kegiatan yang biasanya kita jalankan, sekarang mungkin tidak bisa dilakukan.

Fiman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa keadaan yang serba kacau ini bukanlah alasan untuk mengurung dan berdiam diri saja. Justru sebaliknya, keadaan yang lebih lenggang ini adalah kesempatan untuk memikirkan hubungan kita dengan Tuhan. Jika sebelum ini kita mungkin sibuk dengan aktivitas kita dan kurang memikirkan hal menolong sesama dan memuliakan Tuhan, sekarang kita diingatkan bahwa apa pun yang kita lakukan, baik makan atau minum, atau mengerjakan sesuatu yang lain, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Kesempatan juga ada bagi kita yang mampu untuk menolong mereka yang kekurangan. Semoga setelah krisis ini berlalu hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita akan lebih dekat!

Kasih Yesus tetap beserta kita

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Pada tahun 1982-1983 saya pernah tinggal di Tokyo, ibukota Jepang. Setelah itu, dua kali lagi saya mengunjungi negara itu dan tinggal di kota Tsukuba dan Tokyo untuk beberapa bulan. Karena itu, saya cukup mengerti cara hidup orang Jepang dan budaya mereka. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah sopan-santun dan disiplin hidup mereka yang tinggi. Tetapi, selama di Jepang saya juga bisa melihat jarangnya orang Jepang yang pernah ke gereja. Itu karena hanya satu persen penduduknya yang memeluk agama Kristen.

Agama Kristen pertama kali memasuki Jepang dari kota Nagasaki sekitar 1560, ketika misionaris Jesuit dari Portugal mulai tiba. Mereka berusaha mengajak penguasa feodal untuk menganut agama Kristen. Sebagian penguasa ini kemudian menjadi Kristen agar dapat berdagang dengan Portugal. Banyak petani juga menganut Kristen sehingga pada permulaan abad ke-17, kota tersebut telah menjadi “Roma-nya Jepang”. Jumlah umat Kristen di Nagasaki saat itu pernah mencapai 500.000 orang.

Sayang sekali, pada abad ke-17 juga, penduduk Nagasaki yang beragama Kristen dipaksa melakukan fumie atau menginjak lempengan tembaga yang merupakan simbol Yesus Kristus yang disalib. Mereka melakukan hal ini dengan disaksikan pejabat pemerintah setempat. Ini adalah pernyataan di depan umum bahwa mereka telah murtad alias meninggalkan iman mereka. Jika umat Kristen tidak melakukan fumie , mereka akan dapat dihukum mati, disalib, atau disiksa.

Bagaimana sikap kita jika kita harus menghadapi penderitaan semacam itu? Apakah kita tetap bertahan dalam iman, ataukah kita menolak Yesus Kristus? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab jika kita jujur. Adanya ancaman, penindasan, penderitaan, penganiayaan, kelaparan, dan bahaya memang bisa membuat orang mundur dari iman mereka, lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih adalah lebih besar dari semua itu. Memang jika malapetaka terjadi, banyak orang yang meragukan kuasa dan kasih Kristus.

Saat ini, mungkin keadaan dunia sudah membuat semua orang kuatir. Ancaman wabah sudah menjalar ke seluruh penjuru dunia. Adanya kekuatiran dan ketakutan membuat orang mencari jalan keluar melalui apa saja yang dianggap baik. Tetapi, jika apa yang dilakukan tidak membawa hasil yang diharapkan, rasa sedih, kecewa dan putus asa bisa muncul. Dimanakah Tuhan di saat umatNya menderita? Ayat di atas mengingatkan kita untuk tetap beriman kepada Tuhan. Yesus yang mati di kayu salib sudah membuktikan kasihNya kepada umatNya. Apapun yang terjadi, kita adalah orang-orang yang beruntung karena sudah diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena itu, kita dengan teguh tetap berani menghadapi hari depan.

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8: 37

Berjaga-jagalah senantiasa

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Lukas 21: 36

Ayat di atas adalah ayat yang cukup sering di bahas dalam khotbah atau pemahaman Alkitab. Ayat ini adalah bagian dari apa yang diucapkan Yesus ketika Ia berada di bukit Zaitun. Dalam Lukas 21, Yesus memberikan gambaran akan apa yang terjadi pada masa depan, yang dapat dibagi dalam dua bagian utama yaitu hal kehancuran Bait Allah dan jatuhnya Yerusalem, dan hal kedatanganNya untuk kedua kali.

Jika kehancuran Bait Allah dan jatuhnya Yerusalem sudah terjadi ketika tentara Romawi memasuki Yerusalem pada tahun 70, kedatangan Yesus untuk kedua kalinya sampai sekarang belum terjadi. Oleh sebab itu, sebagian orang Kristen mungkin kurang menyadari pentingnya ayat ini pada zaman sekarang.

Kata “berjaga-jaga” bahasa Inggrisnya adalah “watchful“. Tetapi, ada juga terjemahan Alkitab berbahasa Inggris yang memakai kata “alert” dan “awake“, yang artinya “awas” dan “sadar”. Dengan demikian, Yesus menghendaki umatNya untuk selalu berjaga-jaga, awas dan sadar. Mengapa demikian?

Saya masih ingat bahwa selagi saya masih muda dan sering berpergian dengan menggunakan sepeda motor Honda 90cc yang saya punyai, ibu saya sering mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati di jalan. Itu karena di jalan raya selalu ada bahaya, ancaman dan resiko kecelakaan.

Hidup kita secara keseluruhan adalah jauh lebih rumit dari sekedar mengendarai kendaraan di jalan raya. Jalan kehidupan kita mempunyai berbagai bahaya, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, yang selalu mengancam. Yesus mengingatkan kita bahwa dalam menantikan kedatanganNya yang kedua kalinya, dan selama kita hidup di dunia, kita harus berjaga-jaga agar kita tetap setia dan beriman kepada Dia.

Hari ini mungkin ada perasaan gundah dalam hati kita ketika melihat apa yang terjadi di dunia. Kekuatiran atau ketakutan mungkin timbul dalam diri kita. Tetapi, semua kekacauan yang kita alami adalah bagian hidup kita sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali. Karena kita tidak tahu kapan itu akan terjadi, apa yang sekarang ada di depan kita bisa melemahkan iman kita. Oleh sebab itu kita harus selalu sadar, awas dan berjaga-jaga sambil berdoa, supaya kita bisa dikuatkan untuk bisa lolos dari semua ancaman yang akan terjadi, dan agar kita tetap teguh dalam iman sampai akhir.

Yesus pun pernah ketakutan

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Lukas 22: 44

Pernahkah anda merasa takut? Jika anda adalah orang yang normal, tentunya anda pernah merasa takut. Memang setiap orang yang mempunyai kelemahan tentu pernah ketakutan. Ketakutan ialah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman eksternal. Ini berbeda dengan kegelisahan, yang umumnya terjadi tanpa adanya ancaman eksternal.

Sebenarnya rasa takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Ketakutan juga terkait dengan suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan. Ketakutan selalu berhubungan dengan peristiwa pada masa datang, seperti memburuknya suatu kondisi, atau terus terjadinya suatu keadaan yang tidak dapat diterima.

Bagaimana perasaan anda dalam menghadapi ancaman pandemi di negara kita? Banyak orang yang merasa takut bahwa mereka akan terjangkit virus corona yang sangat menular ini. Selain itu, orang juga takut akan dampak pandemi ini dalam bidang kesehatan, ekonomi dan keutuhan bangsa. Karena itu, orang yang ketakutan kemudian berusaha untuk melarikan diri dan menghindari ancaman ini. Sayang sekali, karena orang mungkin tidak bisa melihat adanya jalan keluar, kegelisahan bisa muncul dan menguasai hidupnya.

Dalam ayat di atas terlihat bahwa Yesus pada waktu di taman Getsemane juga mengalami penderitaan yang besar (agony). Ia tidak hanya ketakutan, tetapi juga merasa gelisah, tertekan dan kesepian karena besarnya penderitaan yang akan dihadapiNya, yang disebabkan murka Allah kepada manusia yang harus ditanggungnya. Allah Bapa terasa jauh dariNya dan begitu pula murid-muridNya.

Apa yang dilakukan Yesus ketika Ia mengalami ketakutan dan kegelisahan adalah apa yang harus kita contoh dalam keadaan sekarang. Dalam ayat di atas dikatakan bahwa Yesus makin bersungguh-sungguh berdoa. Ia menyerahkan apa yang akan terjadi kepada kehendak Bapa.

“Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Hari ini, jika anda merasa takut dan gelisah melihat apa yang mungkin terjadi di masa depan, biarlah anda bisa merasa terhibur karena Yesus pun pernah mengalami hal yang serupa. Seperti Yesus, kita haruslah mau menyerahkan semua kekuatiran kita kepada Tuhan yang mahakuasa. Karena Yesus sudah mengalami penderitaan besar sekalipun Ia tidak berdosa, kita boleh yakin bahwa Ia akan mendengarkan doa kita dan menguatkan kita dalam melalui masa mendatang.

Andalkan Tuhanmu

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Yeremia 17: 7 – 8

Musim kering yang berkelanjutan di Australia baru-baru ini telah membawa berbagai duka. Tidak hanya banyak hewan yang mati karena kekurangan air, musim kering itu juga membuat hutan-hutan mudah terbakar. Untunglah sejak dua bulan ini hujan mulai turun, dan karena itu warna hijau mulai kembali muncul di Toowoomba, tempat dimana saya tinggal.

Jika kesulitan hidup manusia selalu berakhir dengan kebahagiaan, tentunya tidak akan ada orang yang kuatir akan hidupnya. Kenyataannya adalah sesudah musim kering dan kebakaran hutan berhenti, sekarang Australia menghadapi bahaya COVID-19. Bahaya ini tidak hanya menyangkut kesehatan rakyat, tetapi sudah menghancurkan ekonomi dan menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Dengan itu, resesi nampaknya tidak akan bisa dihindari. Hidup manusia ternyata bisa berubah secara drastis.

Orang jelas tidak dapat bersandar pada diri sendiri ataupun mengandalkan para pemimpin. Kekecewaan atau pun kekuatiran akan timbul jika apa yang terjadi tidaklah seperti yang diharapkan. Lalu bagaimana manusia bisa terus hidup jika tidak ada yang bisa diandalkan? Baik harta, kuasa maupun kepandaian tidak akan selalu bisa menghindarkan kita dari malapetaka!

Ayat di atas menunjukkan adanya satu Oknum yang mahakuasa, yang sudah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, dan hanya kepadaNya kita bisa tetap berharap jika langit berubah kelam.

Ayat di atas menyatakan bahwa orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Dia, adalah orang-orang yang diberkati secara rohani. Ia akan tumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke batang air. Ia adalah orang yang melalui iman memperoleh kekuatan dari sumber kehidupan, yaitu Tuhan sendiri.

Dalam hal ini, Yesus juga pernah berkata bahwa Ia adalah sumber air yang memberi kekuatan kepada mereka yang percaya kepadaNya. Barang siapa minum air yang diberikanNya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Lebih dari itu , air yang diberikan Yesus akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar, yaitu Roh Kudus yang memberi kekuatan sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 4: 14).

Hari ini mungkin kita merasakan penderitaan dan kekuatiran dengan datangnya panas terik matahari. Kemana kita bisa berlindung? Kepada siapa kita dapat bersandar? Ayat di atas mengingatkan kita untuk tetap mengandalkan kuasa dan kasih Tuhan. Mereka yang bertahan dalam iman akan tetap kuat dalam menghadapi goncangan hidup, bagai daun yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang warnanya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah-buah yang baik untuk kemuliaan Tuhan. Tetaplah bersandar pada Tuhan!

Tetaplah bertahan!

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” 2 Timotius 4: 5

Pagi hari ini, untuk pertama kalinya saya menghadiri kebaktian Minggu lewat internet. Rasa aneh timbul dalam hati saya, karena ini lain dengan gereja, persekutuan orang Kristen, yang saya kenal. Rasa sedih juga muncul karena social distancing ini mungkin hanya permulaan dari apa yang akan terjadi di kemudian hari. Memang, kemungkinan lockdown atau penutupan total beberapa kota atau daerah di Australia adalah cukup besar dan kalau itu terjadi, interaksi sosial akan menjadi lebih sulit dilakukan dan orang mungkin tidak bisa menjumpai teman atau sanak-saudara

Jika bagi masyarakat umum keadaan saat ini sudah terasa berat, keadaan mereka yang tergolong lanjut usia, yang lemah fisiknya, dan yang saat ini sudah menderita penyakit serius adalah jauh lebih buruk karena merekalah yang cenderung untuk mengalami komplikasi kesehatan karena efek virus COVID-19. Walaupun demikian, tiap orang dalam keadaan saat ini tentunya ingin untuk tetap bisa berfungsi sebaik mungkin.

Bagaimana kita tetap bisa hidup dalam kedamaian, menjalankan tugas sehari-hari dan survive dalam keadaan sekarang? Inilah pertanyaan semua orang, termasuk orang Kristen. Ayat di atas pertama-tama menyebutkan bahwa kita harus bisa menguasai diri dalam segala hal, dan sabar dalam menderita. Memang jika orang tidak dapat menguasai diri dalam keadaan sekarang, apa yang akan terjadi adalah kebingungan dan kekacauan dalam hidup. Kita harus sadar bahwa dalam keadaan yang seburuk apa pun, Tuhan tetap sepenuhnya memegang kontrol.

Yang kedua, ayat di atas mengajak kita untuk tetap melakukan apa yang harus dilaksanakan sebagai umat Tuhan. Kita harus tetap bisa menjadi terang dunia dan mengabarkan berita Injil keselamatan kepada semua orang. Justru dalam keadaan darurat seperti ini banyak orang akan sadar bahwa mereka tidak berkuasa atas hidup atau mati. Hanya Tuhan yang bisa menentukan apa yang akan terjadi dalam hidup manusia. Dengan demikian, keadaan darurat seperti ini adalah kesempatan bagi kita untuk ingat dan saling mengingatkan bahwa dalam Yesus selalu ada harapan.

Yesus sahabatku, Kaulah perlindunganku

Yesus Kau rajaku, kota benteng hidupku

Sekalipun kuberjalan di dalam lembah yang kelam

Ku tak takut s’bab Kau besertaku

Kubersyukur padaMu Tuhan

S’bab kasih setiaMu di dalam hidupku

Anug’rahMu besar bagiku

Di setiap langkahku ku memujiMu

Percaya atau tidak?

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Ripley’s Believe It or Not! adalah nama museum barang serba aneh sebagai penghargaan bagi tokoh pertunjukan Amerika Serikat, Robert Ripley, yang pernah menjelajahi dunia untuk mencari hal unik dan tak biasa. Di Indonesia, museum serupa dulu ada di Pondok Indah Mall, Jakarta, yang memamerkan barang yang jarang dijumpai di dunia, tetapi benar-benar ada.

Bagi banyak orang di zaman ini, setiap hari selalu ada saja hal-hal aneh yang dijumpai terutama dalam berbagai media. Suatu hal yang menarik perhatian adalah mudahnya orang percaya adanya sesuatu yang tidak benar-benar ada, tetapi sukar untuk menerima apa yang memang ada. Tentu saja orang yang percaya akan apa yang tidak ada adalah orang yang kurang bijak, tetapi mereka akan lebih tidak bijak jika tidak mempercayai apa yang benar ada!

Ketidakbijakan manusia memang sudah dari dulu. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena mereka percaya kepada apa yang diucapkan iblis, tetapi tidak percaya kepada apa yang difirmankan Tuhan. Setelah kejadian itu, banyak tokoh Alkitab yang juga menunjukkan kebodohan yang serupa. Dan di zaman ini pun orang sering melakukan hal yang sama.

Jika kita menghadapi berbagai masalah kehidupan, kita mungkin lebih percaya kepada kata orang. Berbagai informasi yang kita dapat dari internet misalnya, bisa membuat kita kuatir atau takut. Pada pihak yang lain, kabar burung yang ada di media bisa juga menciptakan rasa percaya diri yang besar, tetapi yang akhirnya membawa kekecewaan. Banyak manusia kemudian bingung: mana yang bisa dipercaya, dan mana yang tidak bisa dipercaya?

Firman Tuhan pagi ini mengingatkan kita bahwa di tengah gejolak kehidupan, hanya Yesus yang bisa kita percayai. Dia yang pernah turun ke dunia adalah Tuhan yang dapat mengerti segala persoalan dan perasaan kita. Dalam marabahaya, Yesuslah yang dapat memberi kita kedamaian. Memang melalui Dialah damai sejahtera dari Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita.

When peace like a river, attendeth my way,

When sorrows like sea billows roll

Whatever my lot, thou hast taught me to say

It is well, it is well, with my soul

Tuhan adalah tempat perlindungan kita

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” Mazmur 46: 1 – 3

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini banyak orang yang merasa kuatir ketika mengikuti perkembangan krisis COVID 19 di seluruh dunia, terutama apa yang dilaporkan dari Eropa. Tiap hari, berita utama di berbagai media berkisar pada berbagai masalah yang timbul karena adanya pandemi ini.

Salah satu tindakan yang dianjurkan pemerintah di seluruh dunia untuk memperkecil resiko penularan virus corona adalah dengan menjauhkan diri dari tempat yang banyak orangnya, dan itu dinamakan social distancing. Teknik ini bukanlah barang baru, karena dalam menghadapi penyakit menular, masyarakat memang dianjurkan untuk menjauhi kerumunan orang yang ada di pusat pertokoan, bioskop, restoran dan bahkan rumah ibadah.

Manusia sebagai makhluk sosial sudah tentu sulit untuk menghindari hubungan dengan sesamanya. Dengan demikian, social distancing hanya bisa dilaksanakan dengan peraturan pemerintah, dan rakyat mau tidak mau harus menaatinya. Dalam keadaan sedemikian, cepat atau lambat banyak orang merasa tertekan karena tidak dapat dengan bebas bertemu dengan sanak keluarga, teman atau kolega. Mereka yang sudah merasa kuatir akan kesehatannya, sekarang tidak dapat menghindari rasa sepi karena tiap orang terlihat sibuk dengan kepentingan mereka sendiri.

Dalam kesepian, penderitaan dan ancaman, manusia mencari seseorang yang bisa memberi harapan. Mungkin itu orangtua, anak, pendeta atau pun pemimpin negara. Memang dalam keadaan kritis, kita lebih bisa melihat kualitas manusia yang sebenarnya dan menyimpulkan siapakah yang benar-benar bisa memimpin dan mengatasi keadaan. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa sepenuhnya bergantung kepada sesamanya. Dalam keadaan bahaya seperti yang kita alami saat ini, tidak akan ada manusia yang benar-benar yakin akan kekuatan dan kemampuannya sendiri.

Ayat di atas menunjukkan bahwa hanya Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Karena itu, Ia adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita. Allah adalah penolong kita di masa lalu, ketika kita mengalami kesesakan, dan Ia jugalah yang akan melindungi kita dihari-hari mendatang. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi bergoncang dan sekalipun bahaya besar datang mengancam kita. Allah adalah Sang Pencipta yang mahakuasa, kepadaNya kita bisa berharap akan datangnya pertolongan dan penghiburan.

Sehati sepenanggungan

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pada saat ini keadaan di dunia terasa kurang enak. Dimana-mana orang agaknya cemas mendengar kabar bahwa makin banyak orang yang terkena serangan virus corona. Di Australia, supermarket penuh dikunjungi orang yang ingin membeli bahan-bahan makanan yang bisa disimpan lama untuk berjaga-jaga sekiranya lockdown kota atau negara benar-benar terjadi. Memang kalau ada pembatasan sosial, orang akan sulit mencari makanan atau barang-barang lain.

Hari ini, supermarket membuka pintu jam 7 pagi untuk memberi kesempatan bagi orang yang sudah tua atau yang fisiknya kurang kuat untuk berbelanja secara terpisah dari masyarakat umum selama satu jam. Ini untuk menghindari ramainya pengunjung yang berebut barang. Memang mereka perlu dikasihani dan dilindungi selama krisis ini berlangsung.

Dalam keadaan genting, sifat orang yang asli dapat terlihat. Banyak orang yang terlihat kurang peduli akan kepentingan orang lain dan malahan berlaku kejam kepada mereka yang lebih lemah. Dalam memperebutkan barang kebutuhan, yang lemah mudah untuk menjadi bulan-bulanan yang lebih kuat. Tidaklah mengherankan bahwa dalam suasana seperti ini kebanyakan orang mengalami stress.

Mengapa semua ini harus terjadi? Apa yang harus aku lakukan? Begitu mungkin jeritan banyak orang, baik mereka orang Kristen maupun bukan. Memang jika malapetaka terjadi, tidak ada seorang pun yang bisa yakin bahwa ia akan bebas darinya. Tuhan yang mahakasih memang menyayangi umatNya, tetapi itu bukan berarti mereka akan bebas dari penderitaan di dunia. Jika demikian, apakah untungnya menjadi orang Kristen?

Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap orang percaya adalah anak Allah yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus. Tetapi, untuk menjadi anakNya kita harus sehati sepenanggungan dengan AnakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus. Jika kita bersedia untuk menderita bersama-sama dengan Dia yang sudah mati di kayu salib, kita juga akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia di surga. Dengan demikian, penderitaan apa pun tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah. Tuhan bisa menggunakan keadaan saat ini untuk memperkokoh iman dan menyempurnakan kasih kita.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28