Mengapa ada bencana?

Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 2 – 3

Barangkali ada orang yang sedang mengalami bencana kehidupan yang merasa bahwa ada sesuatu dalam hidupnya yang menyebabkan hal itu. Tetapi, banyak juga orang yang tidak mengerti mengapa mereka harus menderita karena tidak membuat kesalahan apa pun. Jika pada satu pihak, rasa sesal bisa berubah menjadi keputusasaan, pada pihak yang lain rasa tidak bersalah bisa berubah menjadi kemarahan. Di balik semua itu ada satu pertanyaan: mengapa Tuhan, jika Ia memang ada, membiarkan bencana terjadi pada diriku?

Jika orang lain yang mengalami bencana, perasaan yang berbeda mungkin timbul dalam hati kita. Segala sesuatu ada sebabnya, dan mungkin semua itu terjadi karena kesalahan dan dosa orang yang bersangkutan. Dengan demikian, ada orang yang senang melihat orang lain menderita karena itu dianggap sudah sepantasnya. Bahkan ada orang yang memuji Tuhan yang baginya terlihat adil. Walaupun begitu, perasaan sedih bisa muncul jika orang yang tertimpa bencana adalah teman atau sanak sendiri. Perasaan marah juga mungkin timbul, yang ditujukan kepada Tuhan. Pertanyaan yang serupa mungkin muncul: mengapa Tuhan, jika Ia memang mahakasih, membiarkan bencana terjadi?

Jika kita membayangkan reaksi manusia atas terjadinya bencana, bisa dimengerti mengapa Tuhan tidak disukai atau dicintai semua orang. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang tidak mau percaya akan adanya Tuhan karena adanya bencana. Tetapi, apa yang dialami manusia di dunia sudah tentu adalah bagian kehidupan di dunia yang sudah jatuh kedalam dosa. Apa yang jahat bisa terjadi karena kesalahan kita atau orang lain, tetapi bisa juga terjadi karena sebab-sebab yang lain. Dalam hal ini, Tuhan mungkin membiarkan atau menggunakan apa yang terjadi untuk membawa kebaikan bagi umatNya dan untuk melaksanakan rancanganNya.

Alkitab dalam ayat di atas menyatakan jawaban Yesus atas adanya pertanyaan mengapa bencana terjadi. Pada waktu itu beberapa orang datang kepada Yesus membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang dibunuh oleh Pilatus dan darahnya dicampur dengan darah hewan yang mereka persembahkan. Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan sebuah pertanyaan: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?”

Dari pertanyaan Yesus itu, kita pertama-tama bisa menarik kesimpulan bahwa adanya suatu bencana tidak dapat dipakai sebagai ukuran dosa. Yang kedua, Yesus menyatakan bahwa setiap orang sudah berdosa dan akan menemui kematian. Siapa pun akan mengalami kebinasaan jika tidak bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Yang ketiga adalah seperti Tuhan sudah merencanakan untuk menyelamatkan manusia sejak awalnya, kita harus percaya bahwa Ia tidak mempunyai maksud atau rencana yang jahat kepada mereka yang mau menjadi umatNya.

Pagi ini, adakah perasaan gundah dalam hati anda karena adanya masalah besar yang harus dihadapi? Mungkinkah anda merasa tertekan karena adanya pikiran bahwa Tuhan mungkin membawa semua masalah itu untuk menghukum anda? Ataukah itu terjadi karena Tuhan ingin mencobai anda? Mungkinkah Dia adalah Tuhan yang semena-mena yang mendatangkan hal yang jahat untuk menghancurkan siapa saja yang ada dihadapanNya?

Firman Tuhan pagi ini menyatakan bahwa di tengah dunia yang sudah terkontaminasi dengan dosa, hal yang jahat bisa muncul, tetapi itu bukan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepada siapa pun. Ia tidak pernah mencobai siapa pun. Sebaliknya, Ia menghendaki agar umat manusia kembali ke jalan yang benar dan memilih jalan keselamatan dan kebahagiaan yang sudah disediakanNya.

Tanpa ujian, kekuatan tidak bisa tumbuh

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 2 Korintus 13: 5

Hari ini media memberitakan bahwa kasus yang menyangkut novel coronavirus COVID-19 sampai saat ini sudah ditemukan di 56 negara dan satu kapal pesiar Diamond Princess. Sebagian besar dari mereka yang terkena virus ini kemudian sembuh setelah mendapatkan perawatan dokter di rumah sakit, tetapi mereka yang asalnya kurang sehat dan tinggal di tempat yang kurang baik sarana kesehatannya bisa saja mengalami masalah besar.

Dengan banyaknya negara yang terkena dampak virus ini kemungkinan datangnya pandemi (wabah sedunia) mungkin bisa diduga, dan oleh sebab itu kebanyakan negara sudah mempersiapkan diri dengan membentuk tim dokter dan menyediakan fasilitas rumah sakit khusus guna merawat mereka yang terkena virus ini. Sekalipun pandemi jarang sekali terjadi di dunia, kesiapan suatu negara untuk menghadapinya seharusnya diuji secara berkala agar jika itu benar-benar datang, mereka yang bekerja dibidang kesehatan sanggup untuk menghadapinya.

Kesiapan diri (preparedness) adalah hal yang jamak untuk semua orang yang akan mengalami tugas atau tantangan yang besar. Orang yang ingin berhasil untuk mengatasi masalah besar tentunya mau menguji dan memeriksa dirinya untuk memastikan bahwa ia benar-benar siap. Itu berarti bahwa ia tidak ragu atau takut untuk menghadapi kesulitan yang sering muncul, sehingga ia berani untuk menghadapi kesulitan yang jarang muncul. Mereka yang tidak mau menghadapi masalah yang kecil, akan sulit untuk menghadapi masalah yang besar.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengatakan bahwa mereka harus menguji diri mereka sendiri, apakah mereka tetap bisa tegak di dalam iman jika ada masalah-masalah kehidupan yang terjadi. Mereka harus menyelidiki apakah keyakinan mereka tetap kuat bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri mereka. Begitu juga jika ada masalah rohani, kebenaran yang sudah mereka pelajari haruslah digunakan dan diuji. Tanpa menguji dan memeriksa apa yang mereka miliki, mereka tidak akan tahan menghadapi masalah yang lain.

Saat ini, bagaimana pula dengan hidup anda? Mungkin ada masalah-masalah yang datang silih berganti dan membuat anda merasa lelah dan hilang semangat. Tetapi, semua itu mungkin adalah ujian yang harus anda hadapi dan kesempatan untuk memeriksa iman anda. Ini untuk memastikan apakah anda yakin bahwa Yesus tinggal dalam diri anda. Apa yang terjadi, jika bisa anda atasi, akan memberikan keyakinan yang lebih besar bahwa bersama Yesus tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi di masa mendatang.

Pentingnya doa dalam keadaan siaga

“…Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Efesus 6: 18

Pagi hari ini, setelah membaca berita di berbagai media, saya merasa adanya perasaan kuatir dalam hati saya. Berita tentang coronavirus yang sudah menyebar ke banyak negara di dunia mau tidak mau membuat saya menjadi agak tegang. Bagaimana jadinya jika wabah virus ini menyerang Australia? Saat ini data sudah menunjukkan adanya 23 orang penderita yang dirawat di rumah sakit Australia, 15 di antaranya adalah orang-orang yang datang dari Wuhan sedangkan sisanya adalah penumpang kapal pesiar Diamond Princess yang diungsikan ke Australia. Melalui perawatan medis dan karantina selama beberapa minggu, kelima belas turis dari Wuhan sudah dinyatakan sembuh, sedangkan penderita yang lain masih berada dalam perawatan dokter.

Sekalipun nampaknya pemerintah Australia sampai saat ini masih bisa mengatasi ancaman penularan penyakit akibat virus yang jahat ini, sebagian penduduk Australia kelihatannya kuatir dan mulai memborong masker dan cairan pembersih tangan. Tambahan pula, adanya anjuran untuk membeli bahan-bahan makanan yang cukup untuk persediaan selama dua minggu membuat sebagian orang menjadi semakin was-was. Kebanyakan orang tentunya tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga kesehatan dan lebih berhati-hati untuk tidak ketularan sekiranya ada penderita virus yang belum dikarantina.

Sebagai manusia kita memang sering kuatir karena berbagai sebab. Keadaan gawat di dunia ini bukan saja disebabkan oleh adanya wabah penyakit; hal-hal lain seperti kekeringan dan kebakaran hutan yang baru-baru ini melanda Australia bisa juga membuat siapa pun menjadi takut dan kuatir. Untunglah jika mereka yang bertugas untuk mengatur negara masih bisa mengendalikan suasana, tetapi di banyak negara kejadian semacam ini bisa membawa penderitaan yang besar bagi rakyatnya. Sebagai orang Kristen yang hidup di tempat yang mengalami bencana seperti di atas, apakah yang bisa kita lakukan?

Pertama-tama, Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengajak umatNya untuk berdoa bagi para pemimpin.

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Dengan demikian, kita pun harus berdoa agar para pemimpin kita bisa mempunyai kebijaksanaan untuk dapat mengatasi masalah yang ada, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram. Kita harus berdoa sambil mengucap syukur kepada Tuhan, karena kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih.

Yang kedua, satu hal yang sering dilupakan dalam berdoa, adalah untuk mendoakan sesama orang beriman.  Ayat di atas adal;ah ajakan Paulus kepada jemaat di Efesus untuk berdoa bagi segala orang kudus, yaitu semua orang yang percaya kepada Kristus. Sekalipun mereka tidak menjabat kedudukan dalam pemerintahan dunia, mereka adalah anak-anak Allah. Doa kita untuk sesama orang beriman harus dilakukan dengan tidak putus-putusnya sebagai bukti bahwa kita bersama dengan saudara-saudara seiman  bersatu dalam keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita dalam keadaan yang bagaimana pun.  Doa yang senatiasa kita sampaikan kepada Tuhan haruslah berisi ucapan syukur atas penyertaanNya sampai saat ini, dan pengharapan akan pertolongan Tuhan pada  masa mendatang.

Berdoa dengan tidak putus-putusnya bukanlah dimaksudkan untuk “memaksa” agar Tuhan segera bertindak. Sebaliknya, doa yang selalu kita sampaikan adalah kemauan untuk menunggu dan penyerahan kita kepada Dia yang mahakuasa. Doa yang tidak berkeputusan adalah bukti kesabaran dalam iman dan pernyataan syukur kita atas kasihNya. Dengan itu kita akan tetap kuat dalam menghadapi ancaman yang bagaimana pun besarnya.

Rasa takut bukan untuk orang percaya

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Semua orang tentunya pernah merasa takut. Itu adalah normal. Jika ada orang yang tidak pernah merasa takut, mungkin orang itu tidak ada dalam alam nyata. Mungkin orang itu ada dalam dongeng saja, atau sudah meninggalkan dunia ini. Ini karena adanya rasa takut membuat orang lebih berhati-hati dalam menghadapi bahaya. Memang, tanpa adanya rasa takut orang bisa membuat kekeliruan yang fatal.

Rasa takut kepada Allah juga seharusnya normal, jika orang percaya bahwa Allah adalah Oknum yang mahakuasa. Walaupun demikian, bagi umat Tuhan rasa takut yang disebabkan oleh pelanggaran hukum atau perintah Tuhan adalah berbeda dengan rasa hormat kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan. Rasa takut yang muncul pada manusia karena sudah melanggar hukum Tuhan sudah seharusnya muncul, tetapi ini tidak berarti bahwa orang itu adalah orang yang pada mulanya benar-benar hormat kepada Tuhan. Itu karena jika orang benar-benar hormat kepada Tuhan, ia tentunya tidak mau melakukan hal-hal yang menyebabkan kemarahanNya. Pada pihak yang lain, orang bisa saja takut kepada Tuhan dan bahkan selalu hidup dalam ketakutan karena adanya perasaan bahwa Tuhan adalah Oknum yang semena-mena, tetapi perasaan itu bisa membuat orang itu makin jauh dari Tuhan.

Mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamatnya tentunya tahu bahwa dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, segala dosanya sudah diampuni oleh Allah. Ayat di atas mengatakan bahwa karena darah Kristus, kita menjadi anak-anak Allah dan bisa memanggil Dia Bapa. Dengan penebusan itu, hidup kita tidak lagi dihantui dengan perasaan takut jika kita tidak dapat melakukan apa yang baik menurut pikiran manusia. Tetapi, karena kita mempunyai rasa hormat kepada Dia yang mahakuasa dan bersyukur atas kasihNya, kita dengan sendirinya terdorong untuk hidup menurut perintahNya.

Inti hidup baru dalam Kristus adalah perubahan hidup lama yang sia-sia, menjadi hidup baru yang membawa kemuliaan bagi Tuhan. Hidup lama yang berisi ketakutan yang sia-sia adalah hidup yang membawa beban yang berat dan kehancuran. Sebaliknya, hidup baru adalah hidup dengan kesadaran bahwa Allah yang mahakuasa adalah Allah yang mahakasih. Dalam hidup baru kita akan dapat merasakan kebesaran kasih Allah yang sudah membuka hati kita sehingga kita bisa merasa adanya bimbingan Roh Kudus pada setiap saat. Bimbingan inilah yang selalu mengingatkan kita bahwa  kita adalah orang-orang yang sudah diadopsi oleh Allah dan karena itu kita mengasihiNya.

Sebagai Bapa yang sudah mengambil kita sebagai anak-anakNya, Ia adalah Tuhan yang mahakasih. Ia ingin agar kita hidup dalam kedamaian didalam Dia, bukan dalam ketakutan selama kita hidup di dunia. Segala kekuatiran kita akan adanya kemungkinan kegagalan, penderitaan, dan marabahaya bisa dihilangkan dengan keyakinan bahwa Bapa adalah Tuhan yang lebih dahulu mengasihi kita.

Adakah hal-hal yang sekarang kita gumuli dan kuatirkan? Adakah rasa takut yang begitu menghantui hidup kita dan memperbudak kita sehingga kita tidak dapat melihat sinar kasihNya? Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah adalah Bapa kita. KepadaNya kita harus percaya bahwa segala sesuatu tidak akan luput dari pandangan mataNya. Ia yang mahakasih akan selalu membimbing dan melindungi kita dalam menghadapi semua tantangan kehidupan kita.

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

 

Mintalah apa yang bisa memuliakan Tuhan

Berfirmanlah Allah kepada Salomo: “Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau, maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau.” 2 Tawarikh 1: 11 – 12

Sebuah film anak-anak yang baru-baru ini juga muncul sebagai drama musikal di Australia adalah “Aladdin”. Aladdin adalah film fantasi musikal Amerika Serikat produksi tahun 2019 yang disutradarai oleh Guy Ritchie, yang  merupakan adaptasi film animasi Disney dari tahun 1992 dengan judul sama. Film yang sukses besar ini dibuat berdasarkan cerita rakyat Aladdin, dari kumpulan cerita epik berjudul Seribu Satu Malam. Film ini mengisahkan perjalanan Aladdin, pemuda yatim piatu yang jatuh cinta dengan Putri Jasmine, dan berteman dengan jin pengabul permintaan bernama Genie. Genie yang sifatnya agak lucu ini membuat penonton ikut membayangkan betapa enaknya jika mereka dapat meminta apa saja yang diingini.

Jika Genie bukanlah makhluk yang benar-benar ada untuk bisa memberikan apa yang kita minta, bagaimana pula dengan Tuhan yang mahakuasa? Bagi mereka yang percaya, tentunya Tuhan ada dan mampu memberikan apa saja. Dalam hal ini, jika anda boleh meminta apa saja kepada Tuhan, apakah yang akan anda minta?

Pertanyaan yang sama mungkin muncul dalam pikiran Salomo ketika Tuhan berkata kepadanya: Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (2 Tawarikh 1: 7). Salomo bisa meminta apa saja, tetapi ia tidak meminta sesuatu yang hanya berguna untuk dirinya sendiri. Ia sadar bahwa Tuhan senang jika umatNya memakai hidup mereka untuk memuliakan Dia. Oleh karena itu, Salomo meminta kepada Tuhan agar memberikannya hikmat dan kebijaksanaan untuk bisa memimpin bangsa Israel, umat Tuhan. Apa yang diminta Salomo bukannya untuk membawa keuntungan atau kebaikan bagi dirinya, tetapi untuk kebesaran Tuhan.

Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umatMu yang besar ini?” 2 Tawarikh 1: 10

Banyak orang yang berdoa kepada Tuhan guna memohon sesuatu yang baik bagi dirinya. Dalam kesusahan orang berdoa memohon kekuatan dan penghiburan, dalam kekurangan orang berdoa dan berharap akan kecukupan dan bahkan kelimpahan; dan dalam sakit, orang berdoa memohon kesembuhan. Memang inilah yang sering diajarkan di gereja, agar umat Kristen mau bersandar kepada Tuhan. Semua itu kelihatannya baik karena menunjukkan adanya iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Walaupun demikian, doa semacam itu adalah doa untuk kepentingan diri sendiri saja. Orang Kristen sering lupa bahwa mereka harus melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan: untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Doa permohonan kita akan membuat Tuhan senang jika kita mempunyai tekad untuk mendahulukan kepentingan Tuhan dan sesama.  Seperti Salomo yang tidak meminta kekayaan dan kemasyhuran, tetapi meminta hikmat dan kebijaksanaan, kita harus mengerti apa yang bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Mungkin banyak orang yang menafsirkan bahwa permohonan Salomo adalah baik karena hikmat dan kebijaksanaan adalah lebih baik dari harta, umur panjang dan kemasyhuran. Tetapi ini sebenarnya kurang tepat karena Tuhan senang bahwa Salomo memikirkan kepentingan Tuhan dan sesama di atas kepentingan dirinya sendiri. Tuhan senang karena Salomo  meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umatNya. Tuhan senang karena Salomo ingin memelihara umat Israel agar nama Tuhan dibesarkan melalui kehidupan bangsa itu.

Pagi ini, adakah sesuatu yang benar-benar anda butuhkan? Percayakah bahwa Tuhan mampu memberikan apa saja kepada umatNya? Sebagai orang percaya kita tidak boleh ragu bahwa jika Tuhan menghendaki, apapun bisa terjadi. Walaupun demikian, menarik kesimpulan dari apa yang dialami Salomo kita harus sadar bahwa sebelum kita meminta sesuatu dari Tuhan, hendaknya kita memikirkan bagaimana kita bisa menggunakan apa yang akan kita minta untuk kemuliaan Tuhan, dan untuk mengasihi sesama kita. Kita tahu bahwa Tuhan tidak hanya memberikan apa yang diminta Salomo, tetapi juga  banyak hal yang lain karena Tuhan tahu bahwa Salomo akan menggunakannya untuk kemuliaanNya.

 

Patutkah kita mengasihi orang yang jahat?

Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Lukas 6: 32

Sebuah lagu pop yang sangat populer sewaktu saya masih tinggal di Indonesia adalah “Mengapa tiada maaf” yang dinyanyikan oleh Broery Marantika. Saya sangat menyukai lagu yang bernada romantik itu, dan karena itu saya senang mendengar kabar bahwa lagu itu kemudian menjadi populer lagi dikalangan generasi penerus saya berkat adanya penyanyi spesialis lagu daur ulang Yuni Shara.

Agaknya memaafkan adalah hal yang sulit dilakukan, apalagi jika kita sudah dijahati orang lain. Karena itu kata “tiada maaf bagimu” menjadi istilah yang cukup sering didengar. Bahkan di Malaysia ada lagu yang berjudul “Tiada maaf bagimu” yang dinyanyikan oleh biduanita negara, Sharifah Aini.

Bagaimana pengalaman anda sendiri dalam hal minta maaf, dimaafkan dan memaafkan? Adakah pengalaman pahit yang membuat anda sulit memaafkan orang yang bersalah kepada anda? Ataukah ada pengalaman pahit ketika orang lain tidak mau memaafkan anda atau menerima pernyataan maaf anda?

Mungkin dalam hati kita ada perasaan bahwa ada orang-orang yang bisa dimaafkan, tetapi ada juga orang yang sudah melakukan apa yang kita pandang sangat jahat, sehingga mereka tidak patut dimaafkan. Mungkin juga ada orang-orang tidak patut dikasihani atau dikasihi sekalipun mereka adalah orang-orang yang kita kenal, karena mereka pernah menyakiti kita. Mungkin bagi kita lebih mudah untuk mengasihi orang yang terlihat baik, atau orang yang pernah berbuat baik kepada kita. Bukankah ini adalah hal yang biasa dalam hidup bermasyarakat?

Ayat di atas menyatakan hal yang sebaliknya. Yesus menegur orang yang mempunyai kebiasaan berbuat baik hanya kepada mereka yang berbuat baik. Yesus mengingatkan bahwa jika kita mengasihi orang yang mengasihi kita, itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Adalah fakta bahwa orang-orang tidak mengenal Kristus juga mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka. Oleh sebab itu, kita yang mengaku anak-anak Tuhan harus bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang belum menerima pengampunan dosa melalui darah Kristus.

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4: 32

Sebagai anak-anak Allah kita juga harus bisa memiliki sifat murah hati yang dimiliki oleh Bapa kita. Dengan demikian, kita bisa menjadi anak-anak Bapa yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5: 45). Adakah keinginan dalam hati kita untuk meniru kasih yang sudah diperlihatkan oleh Bapa kita?

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Lukas 6: 36

Yesus sobat kita yang setia

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Di zaman ini berbagai jenis obat-obatan ditawarkan kepada mereka yang ingin hidup sehat dan kuat. Banyak produk yang berupa vitamin, obat kuat atau makanan sehat, dijual bebas atau melalui program penjualan bertingkat (multi level marketing). Mereka yang membeli produk-produk itu belum tentu membutuhkannya, tetapi jika memang ada uang apa pun yang ditawarkan orang selalu mempunyai daya pemikat tersendiri.

Banyak orang yang tertarik untuk membeli obat-obat atau vitamin yang dijual bebas karena anggapan bahwa produk itu berbeda dengan obat dokter karena dianggap tidak ada akibat sampingannya. Dengan adanya berbagai produk yang indah kemasannya, orang yang mampu merasa bebas untuk memilih apa yang disukai, yang mungkin bisa membuat tubuh terasa kuat sekalipun hanya untuk sementara.

Jika usaha manusia untuk menjadi sehat jasmani melalui jalan pintas seringkali dimungkinkan oleh adanya uang, usaha untuk mencapai kekuatan batin tidaklah semudah itu untuk dilaksanakan. Sebaliknya, semakin jaya hidup manusia, kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati sering menjadi semakin kecil. Karena itu, banyak orang yang hidup sehari-harinya nampak nyaman, tetapi dalam hatinya merasa letih lesu dan berbeban berat.

Dalam kekosongan hidup, seolah tidak ada seorang pun yang peduli atau bisa menolong. Sekalipun banyak usaha sudah dilakukan, ketenteraman hati tidak kunjung datang. Jika obat apa pun bisa dibeli, sobat yang setia tidaklah mudah didapatkan. Banyak sedikitnya uang ternyata tidak bisa memberikan jalan untuk memperoleh kebahagiaan batin.

Ayat di atas menjelaskan mengapa ketenteraman hati yang sejati tidak dapat diperoleh manusia dengan usahanya sendiri atau dengan bantuan orang lain. Kesehatan rohani dan kedamaian hidup tidak dapat dibeli dengan uang atau diperoleh dengan mencoba-coba apa yang terlihat menarik dan dipopulerkan banyak orang. Memang ada banyak orang yang mengajarkan berbagai cara untuk meringankan hati manusia yang letih, lesu dan berbeban berat, tetapi semua itu hanyalah usaha sia-sia. Sebagian orang mungkin sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa memberi pertolongan, tetapi apa yang mereka sembah seringkali terasa jauh dan tidak peduli akan penderitaan manusia.

Yesus yang pernah turun ke dunia adalah Tuhan yang pernah menjadi manusia dan mengalami penderitaan jasmani dan rohani ganti kita. Karena itu, jika Ia mengajak kita untuk datang kepadaNya, ajakan itu bukannya sekedar janji untuk memberi kita keringanan dan kelegaan, tetapi itu adalah suatu kepastian. Sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, Yesus akan memberikan kita kedamaian dan kekuatan dalam hidup kita yang penuh tantangan. Apa lagi yang kita cari dalam hidup ini?

Yesus sobat yang sejati, tanggung s’gala dosaku,

tiap hal ‘ku boleh bawa, dalam doa pada-Nya.

Bila hatiku gelisah, percumalah berlelah,

bersandarlah pada Yesus, berdoalah pada-Nya.

Kepada siapa aku bisa berharap?

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku! Mazmur 42: 11

Kemarin media memberitakan adanya kejadian yang tragis di Brisbane. Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 anak kecil tewas terbakar dalam sebuah mobil. Diduga ini adalah hasil pembunuhan-bunuh diri (murder-suicide). Orang yang bagaimana tega untuk membunuh seisi keluaga dan kemudian membunuh diri sendiri?

Murder-suicide memang sudah lama menjadi bagian gelap dari sejarah kejahatan di Australia, dan ini biasanya menyangkut pembunuhan yang dilakukan anggota keluarga yang kehilangan kontrol diri. Tentunya orang yang dapat menguasai pikirannya tidak akan melakukan hal seperti itu. Tetapi, jika pikiran manusia lagi tertekan atau terluka, semua yang jahat bisa dilakukannya. Manusia dalam kelemahannya memang seringkali tidak dapat mengendalikan emosi dan perbuatannya. Hal itu juga tertulis dalam Alkitab.

“Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 19

Dapatkah manusia sepenuhnya menghindari hal yang jahat dalam pikirannya? Selama hidup di dunia tidak ada seorang pun yang bisa. Orang Kristen juga tetap bisa tergoda untuk melakukan apa yang jahat atau yang tidak baik, tetapi karena Roh Kudus tinggal di hati mereka, adanya godaan dan pencobaan seharusnya lebih mudah untuk bisa diatasi. Walaupun demikian, Yesus pernah mengingatkan murid-muridNya bahwa sekalipun hati kita mau menurut perintahNya, tubuh jasmani kita mungkin lemah, mudah lelah dan gampang tergoda untuk melakukan apa yang tidak baik.

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Matius 26: 41

Orang Kristen yang bagaimana pun bisa mengalami masalah jasmani, terutama mengenai kesehatan kejiwaan. Jika kita meneliti kehidupan Raja Daud, kita bisa menduga bahwa ia pernah menderita gangguan kejiwaan yang setidaknya berbentuk depresi. Beberapa kali ia menunjukkan perasaan kosong, kekuatiran, jeritan, dan sebagainya. Ini bukanlah hal yang mudah diatasi, apalagi jika tidak ada orang yang bisa atau mau untuk memberikan penghiburan atau dukungan moril.

Dalam ayat pembukaan di atas Daud jelas menunjukkan pergumulannya. Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Daud yang pernah mengalahkan Goliat ternyata bukanlah orang yang selalu kuat secara psikologis. Tetapi, kelemahan Daud bukanlah suatu yang aib baginya. Daud tidak merasa malu atau segan mengutarakan perasaannya. Sebaliknya, dengan mengutarakan isi hatinya ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Karena itu, ia bisa melanjutkan jeritannya dengan keyakinan baru. Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Pagi ini, adakah kegundahan dalam hidup anda? Apakah anda merasa bahwa tidak ada seorang pun yang mengerti perasaan dan masalah anda? Apakah ada rasa segan dan malu dalam diri anda sehingga sulit bagi anda untuk mencurahkan isi hati anda kepada orang lain? Pada pihak yang lain, mungkinkah ada orang yang anda kenal yang selama ini membuat anda kuatir atau takut karena keadaan jiwanya? Firman Tuhan berkata bahwa kita bisa berharap kepadaNya. Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih yang bisa menolong kita melalui berbagai cara. Ia juga bisa memakai orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang bisa menganalisa keadaan kita, untuk membimbing, menguatkan dan mengobati. Berdoalah selalu dan mohonlah agar Ia melindungi anda dari apa yang jahat dan menunjukkan jalan yang bijaksana!

The two sides of Jesus

“All I want is to know Him and the power of His resurrection and the fellowship of His sufferings, in which I became like Him in His death, that I might be raised from the dead.” Philippians 3: 10-11

Which life do you want? A life full of comfort or a life full of suffering? Of course, for all people who are faced with just two choices, they will choose the first. Who wants to live in suffering? However, many wise people want them not to be too rich or too poor. Why is that?

Humans often face problems in two circumstances: too rich and too poor. Proverbs 30: 8 begs God that He does not give poverty or wealth. He asked God to let him have enough if he could enjoy the food that was part of it. Why is it so? The writer in the next verse explained: “So that if I am full, I will not deny you and say, Who is the LORD? Or, if I am poor, I steal, and defile the name of my God.”

Of course, the meaning of wealth and poverty is different for each person. Each person’s measure of sufficiency and deficiency is not the same. There are people who are already rich, but still want to be richer. There are people who are abundant but still do bad things to get even richer. Conversely, many people suffer so much that they deny God. In addition, there are also people who are poor but their lives are full of happiness.

Which do you want in life? Live in success and luxury or live simply and struggle? Maybe there are people who do not mind tough life , as long as there is happiness and peace. This is true, but how? How can we feel happy, feel enough, or not suffer if other people’s lives seem more comfortable in abundance? This question is not easy to answer.

The Apostle Paul in his letter to the Philippians wrote that he wanted to know Jesus so that he could get answers to the questions above. This is a wise act that returns to the basis of true faith. Back to the basics. As Christians, we are followers of Christ and therefore we should follow in His footsteps through this life.

What can we imitate from Jesus? Paul wrote that Jesus had two sides of life: suffering and glory. Through His suffering, Jesus received glory from God the Father. Through His sacrifice on the cross and His death, He was resurrected and ascended to heaven. Paul wanted such a life so that he could imitate Jesus. Paul desired to know Jesus and the power of His resurrection, and the fellowship in His sufferings, so that he would be like Him in His death, so that he could finally live in victory. Because Jesus had two sides of life, Paul also wanted to be like that.

This morning, if our lives have been filled with abundance and success, is there still willingness to struggle, suffer and sacrifice for others? Is there our desire to be like Jesus who obeyed the Father’s call to sacrifice Himself for human salvation? And if we are currently living in suffering, are we aware that Jesus, the Son of God, had experienced a far greater suffering to replace us? Like Jesus, every Christian must take up the cross and follow Him. Like Jesus who has received the glory, all our hard work will ultimately produce eternal happiness.

Mengenal Yesus dari dua sisi

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Filipi 3: 10 – 11

Manakah hidup yang anda kehendaki? Hidup yang penuh dengan kenyamanan ataukah hidup yang penuh dengan penderitaan? Tentunya bagi semua orang yang dihadapkan pada dua pilihan saja akan memilih yang pertama. Siapakah yang mau hidup dalam penderitaan? Walaupun demikian, banyak orang yang bijaksana ingin agar mereka tidak terlalu kaya atau terlalu miskin. Mengapa demikian?

Manusia sering menghadapi masalah dalam dua keadaan: terlalu kaya dan terlalu miskin. Amsal 30: 8 memohon kepada Tuhan agar Ia tidak memberikan kemiskinan atau kekayaan. Ia meminta Tuhan untuk membiarkannya merasa cukup jika ia bisa menikmati makanan yang menjadi bagiannya. Apa sebabnya? Penulis Amsal dalam ayat berikutnya menulis: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”

Sudah tentu, ukuran kekayaan dan kemiskinan itu berbeda untuk setiap insan. Ukuran tiap orang tentang kecukupan dan kekurangan itu tidak sama. Ada orang yang sudah kaya, tetapi masih ingin lebih kaya. Ada orang yang berkelimpahan tetapi masih juga melakukan hal-hal yang buruk untuk bisa lebih kaya. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat menderita sehingga ia menyangkali Tuhan. Selain itu, ada juga orang yang miskin tetapi hidupnya penuh kebahagiaan.

Manakah yang anda kehendaki dalam hidup? Hidup dalam kesuksesan dan kemewahan atau hidup sederhana dan penuh perjuangan? Mungkin ada orang yang menjawab hidup bagaimana pun baik, asal ada kebahagiaan dan kedamaian. Ini benar, tetapi bagaimana caranya? Bagaimana kita bisa merasa bahagia, merasa cukup, atau tidak menderita jika hidup orang lain terlihat lebih nyaman dalam kelimpahan? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab.

Rasul Paulus dalam suratnya ke jemaat di Filipi menulis bahwa ia ingin mengenal Yesus agar ia bisa mendapatkan jawaban pertanyaan di atas. Ini adalah tindakan yang bijaksana yang kembali ke dasar iman yang benar. Back to the basics. Sebagai orang Kristen kita adalah pengikut Kristus dan karena itu sudah seharusnya mengikut jejakNya dalam mengarungi hidup ini.

Apa yang bisa kita tiru dari Yesus? Paulus menulis bahwa Yesus mempunyai dua sisi kehidupan: penderitaan dan kemuliaan. Melalui penderitaanNya, Yesus menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Melalui pengurbananNya di kayu salib dan kematianNya, Ia dibangkitkan dan naik ke surga. Paulus menghendaki agar ia bisa meniru Yesus.

Yang dikehendaki Paulus ialah mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya, dan persekutuan dalam penderitaanNya, supaya ia menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, agar ia akhirnya beroleh hidup dalam kemenangan. Karena Yesus mempunyai dua sisi kehidupan, Paulus juga ingin bisa seperti itu.

Pagi ini, jika hidup kita sudah terisi dengan kelimpahan dan kesuksesan, masih adakah kemauan untuk pergumulan, penderitaan dan pengurbanan bagi orang lain? Adakah kerinduan kita untuk menjadi seperti Yesus yang menaati panggilan Bapa untuk mengurbankan diriNya demi keselamatan manusia? Dan jika saat ini kita hidup dalam penderitaan, sadarkah bahwa Yesus, Anak Allah, sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar untuk ganti kita? Seperti Yesus, setiap orang Kristen harus memikul salib dan mengikut Dia. Seperti Yesus yang sudah menerima kemuliaan, segala susah payah kita pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan yang kekal.