Antara dusta dan berhala

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.” Roma 1: 25

Jika anda rajin membaca berita media, tentu anda menyadari bahwa media apapun di zaman ini selalu berusaha menampilkan berita-berita yang membuat banyak orang menjadi tertarik untuk membacanya. Bagi pengusaha media, jumlah pembaca umumnya dapat dihubungkan dengan penghasilan uang. Makin banyak pembaca atau pemirsa, makin banyak pemasukan uang dari langganan dan iklan.

Media resmi di Australia adalah ABC (Australian Broadcasting Corporation) yang dibiayai pemerintah Australia. ABC memiliki siaran TV, radio dan koran internet yang sama sekali tidak menampilkan iklan. Jika dibandingkan dengan media-media lain di Australia, ABC adalah media yang paling bisa dipercaya karena tidak berpihak kepada partai politik tertentu dan tidak bisa dipengaruhi pemerintah. Sekalipun demikian, kadang-kadang berita yang disampaikan ABC juga bernada “miring”, mungkin karena adanya usaha untuk menarik perhatian pembaca atau pemirsa.

Mengapa manusia sering membuat berita-berita yang tidak benar, tentunya banyak sebabnya. Mungkin sekadar untuk ingin menarik perhatian, atau mungkin juga untuk mencari uang. Tetapi kebohongan juga bisa dipakai untuk menjelekkan orang lain atau menutupi kesalahan sendiri. Selain itu, tentu ada orang yang mengarang berita untuk menimbulkan kekuatiran orang lain dan maksud-maksud jahat tertentu.Karena itu, mereka yang senang mengikuti berita-berita setiap hari harus sadar bahwa berita apapun seharusnya tidak langsung bisa dianggap benar.

Ada banyak kebohongan di dunia ini. Bohong kecil, bohong besar. Ada juga bohong kecil untuk sopan santun, white lies. Mereka yang menganggap bohong kecil sebagai suatu yang bisa diterima karena tidak berdampak negatif, mungkin tidak sadar bahwa bagi Tuhan yang mahasuci, semua kebohongan adalah dosa. Allah tidak menyenangi kebohongan apapun – sekalipun  itu tidak berbahaya, dianggap lumrah, bisa dimengerti,  lucu, ataupun bertujuan baik. Memang semua kebohongan haruslah dihindari karena kebohongan besar bisa  tumbuh dari kebiasaan, kebudayaan atau sistem yang menerima kebohongan kecil.

Kebohongan dalam kenyataannya, bisa menjadi kebiasaan yang tidak lagi menjadi masalah dalam hidup manusia. Ada bohong yang dilakukan individu, ada juga bohong yang dilakukan banyak orang secara kolektif. Ada yang muncul dalam rumah tangga, di kantor, dalam pemerintahan dan dimana saja. Malahan, khotbah-khotbah di gereja pun sering diselingi dengan hal-hal yang tidak nyata kebenarannya. Orang memang senang mendengarkan ilustrasi-ilustrasi yang lucu, yang bisa menghilangkan rasa bosan atau kantuk. Selain itu, kesaksian-kesaksian yang tidak jelas kebenarannya sering juga dipakai untuk menarik perhatian masyarakat.

Sekalipun mungkin tidak disadari, semua kebohongan pada akhirnya berakhir dengan penistaan. Mungkin ada orang lain yang ternista, ataupun kelompok lain. Tetapi yang jelas ternista adalah Tuhan yang membenci apa yang tidak benar. Tuhan dengan kesucianNya melarang semua manusia untuk berdusta. Dusta apapun adalah pelanggaran akan hukumNya dan karena itu adalah tindakan yang mengabaikan Dia. Lebih-lebih lagi, dengan dusta banyak orang berusaha untuk mencapai kesuksesan dan kemasyhuran. Dengan dusta, banyak orang ingin dipandang sebagai orang baik yang patut dihargai dan dihormati dalam lingkungan hidupnya. Dengan membuat dan mempercayai dusta, orang bisa terjebak dalam pemujaan sesama manusia. Pemujaan berhala memang sering terjadi jika kebenaran Tuhan diganti dengan kebohongan manusia. Idolatry begins when truth about God is exchanged for a lie.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk hidup dalam kebenaran Tuhan dengan menghindari dusta, dan dengan mengingat bahwa hidup kita adalah untuk kebesaranNya. Kita harus awas bahwa dusta-dusta kecil  dan besar bisa saja muncul dari mulut kita atau orang lain. Kita harus sadar bahwa semua manusia sering tergoda dan jatuh kedalam dosa ini. Berbagai dusta bisa saja muncul dari orang-orang yang kita hormati dan segani; dan jika kita tidak berhati-hati dengan memegang kebenaran Tuhan, kita bisa tertipu dan terjebak dalam dosa pemujaan berhala. Marilah kita selalu berdoa agar Roh Kudus selalu membimbing kita dalam hidup ini, sehingga kita bisa menghindari dusta dan bisa selalu hidup dalam kebenaran Tuhan demi kebesaranNya.

Hidup dalam pengharapan

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Roma 8: 24

Tetangga saya yang cukup berada mempunyai dua orang anak remaja, putra dan putri, yang baru lulus SMA. Kedua anak itu terlihat cukup baik karakternya dan sekarang membantu orang tuanya dalam menjalankan bisnis konstruksi mereka. Memang di Australia, tidak semua lulusan SMA akan melanjutkan ke universitas. Mereka yang lebih menyukai pertukangan misalnya, akan memilih untuk magang dan mencari pengalaman, untuk kemudian bisa mempunyai bisnis sendiri. Orang tua anak-anak itu tentunya berharap agar kedua anak itu akan sukses di hari depan, tetapi masa depan mereka tentunya tidak ada yang bisa memastikan.

Beberapa minggu yang lalu, saya melihat munculnya seorang pemuda lain dalam keluarga itu. Mulanya saya menyangka bahwa pemuda itu adalah salah satu pekerja mereka, yang ikut membantu membangun gudang dibelakang rumah. Namun ternyata pemuda itu adalah teman dari putra tetangga yang tidak mempunyai rumah. Ia pernah hidup dalam mobilnya dan berpindah-pindah dari tempat ke tempat untuk mencari pekerjaan. Ia tidak mempunyai ayah, dan ibunya adalah seorang pemabuk. Bagi anak muda itu  masa depan adalah suram, sampai saat dimana  ia diajak untuk tinggal di rumah tetangga saya. Jika dulu pemuda itu tidak mempunyai orang tua yang bisa memberi harapan apapun, sekarang pemuda itu setidaknya mempunyai sedikit harapan untuk masa depan.

Apa harapan anda untuk masa depan? Apa juga harapan anda untuk sanak saudara anda? Semua orang tentu mengharapkan apa yang baik, untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang yang dikasihinya. Apa yang diharapkan selagi hidup di dunia, tentunya berkisar pada kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan sejenisnya. Itu adalah wajar. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk bagi dirinya atau kerabatnya. Walaupun demikian, hal-hal yang buruk bisa saja terjadi pada diri siapa saja sekalipun itu bukan karena kesalahan orang yang bersangkutan. Harapan yang bagaimanapun baiknya, belum tentu terjadi dalam hidup kita.

Apa yang diharapkan manusia pada umumnya adalah hal yang bisa dilihat, karena apa yang bisa dilihat adalah mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Tetapi apa yang bisa dilihat juga merupakan sesuatu yang mudah untuk membawa kekecewaan. Apa saja yang kita inginkan dan miliki di dunia ini, mungkin terlihat baik pada hari ini, tetapi bisa berubah rupa esok hari dan bahkan lenyap tidak berbekas. Apa yang bisa dilihat manusia adalah hal yang fana, yang tidak kekal adanya.

Ayat diatas menyebutkan pengharapan yang berbeda, karena pengharapan ini adalah untuk sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dalam hati selama kita ada di dunia. Tidak semua orang bisa mempunyai pengharapan akan apa yang tidak terlihat, tetapi itu adalah pengharapan yang benar. Apa yang tidak terlihat saat ini adalah keselamatan yang sudah dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Allah adalah Bapa kita yang bukan seperti orang tua yang hanya bisa mengharapkan agar sesuatu yang baik terjadi pada diri anak-anaknya, tetapi Ia adalah Allah yang sanggup memberikan masa depan yang terbaik untuk mereka.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pagi ini, jika kita bangun tidur dan memikirkan masa depan kita dan juga masa depan sanak keluarga kita, adakah harapan bahwa kita bisa mencapai apa yang kita idamkan? Ataukah kita merasa bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan tanpa tujuan dan harapan? Mungkin pikiran kita hanya terpaku pada hal-hal yang dapat terlihat oleh mata kita, segala penderitaan, kekecewaan dan kegagalan. Kita mungkin lupa bahwa apa yang tidak terlihat sekarang ini sebetulnya adalah pengharapan yang benar dan terbesar. Kita mungkin tidak sadar bahwa apa yang tidak terlihat itu sebenarnya adalah rencana Bapa kita yang di surga. Ialah yang membimbing kita selama hidup di dunia dan memberi ketekunan dan kekuatan agar kita tetap bisa berharap dan berdoa untuk masa depan yang cemerlang bersama Dia. Sekalipun hidup di dunia ini penuh tantangan dan penderitaan, kita harus yakin bahwa Tuhan bisa dan mau menguatkan kita yang menantikan saat itu dengan tekun.

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 25 – 26

Terang Kristus menghilangkan kegelapan dosa manusia

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Di Australia, lampu bertenaga surya sekarang sangat populer. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, lampu ini bisa menyala tanpa memerlukan tenaga listrik PLN. Dengan memakai lampu jenis LED yang bertenaga rendah, pemakaian solar power ini menjadi atraktif di beberapa negara bagian karena membutuhkan biaya yang lebih rendah dari lampu-lampu tradisional lainnya.

Dengan kemajuan teknologi, tenaga sinar matahari pada siang hari bisa disimpan dalam baterai untuk digunakan pada malam hari. Memang sinar matahari di Australia cukup konsisten. Lama sinar matahari dalam sehari berfluktuasi dengan musim, berkisar sekitar 7- 8 jam sehari di Brisbane (sebelah utara Australia), sedang di Melbourne yang berada di selatan berkisar antara 3-8 jam.

Sinar matahari adalah berkat Tuhan yang memungkinkan semua makhluk di dunia untuk hidup. Tanpa matahari yang diciptakan Tuhan, sebagian besar dari dunia akan mengalami musim dingin dan kegelapan sepanjang masa. Tuhan memang menciptakan matahari untuk mengusir kegelapan sehingga semua ciptaanNya bisa hidup menurut ritme kehidupan yang teratur. Dengan adanya terang, kegelapan bisa dihilangkan.

Bahwa terang adalah baik dan Tuhan adalah sumber terang, itu sudah dimengerti sejak zaman dulu. Pemazmur dalam Mazmur 27:1 memuji Tuhan sebagai terang dan keselamatannya. Dengan demikian orang Israel tentunya faham dengan konsep Tuhan sebagai terang dalam hidup mereka.

“…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Dengan demikian, ketika Yesus berkata dihadapan orang Farisi bahwa Ia adalah terang dunia, orang Farisi tentu mengerti bahwa Yesus mengklaim bahwa Ia adalah sumber kehidupan manusia. Tetapi mereka tidak dapat menerima pernyataan Yesus itu, karena bagi mereka Yesus adalah orang biasa, anak tukang kayu. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus datang ke dunia sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Ia datang sebagai terang untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa. Jika Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan, Ia mengaruniakan AnakNya untuk mengusir dosa manusia agar manusia bisa memperoleh kehidupan yang kekal.

Sayang sekali, dalam hidup ini seringkali manusia tidak sadar bahwa mereka hidup dalam kegelapan. Sebagian manusia malahan lebih menyukai kegelapan karena perbuatan-perbuatan mereka jahat (Yohanes 3: 19). Sekalipun mereka mungkin tahu bahwa ada banyak hal-hal yang tidak baik yang mereka lakukan, mereka akan tetap hidup dalam dosa jika mereka dengan sengaja mengabaikan suara Roh Kudus yang mengingatkan mereka akan dosa-dosa yang mereka perbuat.

Dengan dorongan Roh Kudus, manusia bisa menyadari bahwa mereka akan binasa karena tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari hukuman Tuhan. Hanya karena Yesus sudah datang sebagai terang dunia, kegelapan dosa bisa dihilangkan melalui pengampunan total dari Allah yang terjadi karena darah Kristus sudah tercurah bagi mereka yang mau percaya kepadaNya. Mereka yang sudah diselamatkan akan memakai terang Kristus untuk menjalani hidup baru yang senantiasa mengalami pembaharuan, hari demi hari dengan pertolongan Roh Kudus yang sudah diberikan kepada umatNya. Mereka melakukan apa yang benar, supaya menjadi nyata bahwa hidup mereka ada dalam Allah (Yohanes 3: 21).

Pagi ini, ayat diatas adalah panggilan untuk kita menyadari bahwa tanpa Yesus hidup kita akan tetap dalam kegelapan. Mungkin saja kita tidak merasa bahwa sudah lama kita mengabaikan terang Kristus yang dulu pernah datang ke dalam hidup kita ketika kita pertama kali menyatakan iman percaya kita. Mungkin sejak itu, terang api Roh Kudus mulai perlahan-lahan menjadi padam karena kita sering mengabaikanNya. Pagi ini kita diingatkan bahwa jika terang hidup itu tidak bertambah besat dalam hidup kita, besar kemungkinan bahwa terang itu akan mengecil dan kegelapan dalam hidup kita akan bertambah besar.  Saat ini adalah saat yang penting untuk kita sadari bahwa kita perlu untuk makin bisa mengikut Yesus dalam terangNya. Dengan memakai terang Kristus, kita akan bisa menghindari kegelapan dosa; dan dengan memancarkan terang Kristus, orang lain akan dapat ikut memuiliakan Dia yang sudah mengubah hidup kita.

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Yohanes 12: 46

 

 

 

Keberanian menghadapi kenyataan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, memang ayat itu seolah menggambarkan bagaimana pemazmur merasa terhibur ketika ia “berjalan dalam lembah kekelaman” atau “berjalan dalam lembah kegelapan”. Sekalipun tidak sukar untuk mengartikan kata-kata itu sebagai “mengalami kesulitan besar”, dalam beberapa terjemahan berbahasa Inggris bunyi ayat ini agak berbeda:

“Even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for you are with me; your rod and your staff, they comfort me.”

Memang kata Ibrani untuk “bayang-bayang maut” adalah sal-ma-wet, yang artinya “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan yang menghubungan kata kegelapan dengan kata kematian atau maut. Sayang sekali, karena pemakaian kata-kata “the valley of the shadow of death” yaitu “lembah bayang-bayang maut”, orang lebih sering memakai ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus.

Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Semua itu seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Pagi ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menghindari persekutuan kita dengan saudara-saudara seiman. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Berlatih untuk mendengarkan suara Tuhan

Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3: 10

Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa sanak saya pergi ke sebuah cafe di daerah Southbank, Brisbane, untuk makan pagi. Hari Sabtu dan masih pagi, dan kami pun menjadi langganan pertama yang datang. Ketika kami baru mulai makan, dari seberang jalan terdengar suara berisik yang berasal dari mesin penghancur beton yang dijalankan beberapa pekerja kotamadya. Suara berisik itu terasa sangat mengganggu, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kemudian hanya bisa makan tanpa bisa berbincang-bincang karena adanya kebisingan yang membuat saya tidak bisa mendengar suara orang lain.

Memang tingkat kebisingan yang ada di latar belakang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Sebuah konser rock band tidak jarang mencapai tingkat kebisingan sekitar 90-100 desibel, dan itu bisa mengakibatkan ketulian, paling tidak untuk sementara. Untuk menghindari kebisingan kota, ada gedung perpustakaan bisa dibangun di bawah tanah, seperti yang ada di Green Square, Sydney. Tetapi, ditempat yang sedemikian sepi orang mungkin mudah mengantuk.

Dalam Alkitab, sering digambarkan bahwa perjumpaan manusia dengan Tuhan terjadi di tempat yang sepi. Tetapi, ada juga banyak kejadian dimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia ketika mereka berada dalam keadaan terancam, dalam situasi yang kacau dan tegang. Memang, berkomunikasi dengan Tuhan tidak selalu harus menggunakan pendengaran; malahan, pada zaman ini Tuhan lebih sering menyatakan kehendakNya melalui hati dan pikiran kita. Sekalipun demikian, manusia membutuhkan kemauan, latihan dan kebiasaan untuk dapat mendengar suara Tuhan dalam keadaan apapun.

Alkisah, pada waktu itu Samuel masih berumur sekitar 11 tahun. Pada masa itu firman Tuhan jarang disampaikan oleh hamba-hambaNya dan penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Samuel yang masih kecil, belum mengenal Tuhan secara pribadi; dan firmanNya belum pernah dinyatakan kepadanya. Ketika Tuhan memanggil Samuel untuk pertama kalinya, Samuel tidak menyadarinya. Sampai tiga kali Tuhan memanggil, dan dengan nasihat nabi Eli, Samuel akhirnya menjawab panggilan Tuhan: “Berbicaralah, sebab hambaMu ini mendengar.” Sejak saat itu Samuel mengenal Tuhan secara pribadi.

Pernahkan anda berkomunikasi secara pribadi dengan Tuhan? Bukan anda yang secara sepihak menyampaikan doa permohonan kepadaNya, tetapi Ia yang mengajak anda untuk berbincang-bincang? Berapa kali Tuhan memanggil anda sebelum anda menyadari panggilanNya? Mungkin bagi kita lebih mudah untuk memanggil Tuhan, agar Ia mau mendengarkan keluh-kesah dan permohonan kita, tetapi agaknya sulit bagi kita untuk mengenali suara panggilanNya, jika kita belum mengenalNya secara pribadi.

Tuhan mungkin sudah sering memanggil kita melalui apa yang kita rasakan dalam hati dan pikiran (akal budi), tetapi karena hidup kita yang penuh dengan hingar-bingar kesibukan sehari-hari, kita mungkin tidak pernah mempunyai kemauan untuk memusatkan perhatian kita kepadaNya, tidak sempat berlatih untuk mengenali suaraNya, dan tidak mempunyai kebiasaan mendengar panggilanNya. Mungkin saja kita lebih mengenali dan menggemari ucapan dan suara pemimpin atau tokoh populer tertentu, tetapi kurang bisa memahami apa yang difirmankan Tuhan kepada kita secara pribadi.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa seperti Samuel mungkin kita harus belajar untuk memusatkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan. Terlalu sering kita hanya bisa mendengar kebisingan suara dan pendapat manusia dan bukannya menangkap suara Tuhan. Kita harus sadar bahwa sebagai domba-domba Yesus, kita harus mengenal suaraNya. Kita harus mempunyai kemauan, mau berlatih dan mengembangkan kebiasaan untuk mendengarkan suara Tuhan dalam setiap keadaan.

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” Yohanes 10: 27

Mengubah cara berpikir

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Sistim pendidikan di berbagai negara adalah berlain-lainan, tetapi semua tentunya bertujuan untuk memberi murid pengetahuan yang cukup untuk nantinya bisa digunakan untuk mencari nafkah. Di Australia, pendidikan SD, SMP dan SMA negeri adalah serupa dengan apa yang di Indonesia dan secara umum bebas biaya.

Pendidikan universitas tidaklah gratis, tetapi bisa dibayar dengan angsuran setelah lulus dan mendapat pekerjaan. Dengan demikian, orang tua umumnya tidak terlalu terbebani secara ekonomi untuk menyekolahkan anak-anak mereka, sekalipun apa yang dipilih mungkin jurusan mahal seperti kedokteran.

Pendidikan yang sekarang diberikan di Australia bukan hanya mencakup ilmu pengetahuan saja (hard skills), tetapi juga mengenai cara hidup bermasyarakat (soft skills). Malahan, sekarang orang mulai sadar bahwa soft skills sama pentingnya dan bahkan bisa lebih penting dari hard skills untuk mendukung karir.

Masalahnya, sekalipun soft skills bisa diajarkan dan dipelajari, kemampuan tiap orang juga dipengaruhi oleh sifat dan sikap hidup perorangan. Dengan demikian, pendidikan tidak menjamin semua lulusan bisa menjadi orang-orang yang komplit dan siap terjun ke masyarakat.

Berbeda dengan Indonesia, pendidikan agama tidaklah ditekankan di Australia, kecuali di sekolah atau universitas yang didukung organisasi agama tertentu. Apa yang diajarkan pada umumnya adalah bersifat sekuler dan tidak ada hubungannya dengan iman kepercayaan.

Mereka yang makin pandai dalam pengetahuan duniawi, belum tentu tumbuh dalam hal rohani. Ini adalah hal yang biasa di negara manapun – tingginya pendidikan dan umur seseorang tidaklah menjamin bahwa ia adalah orang yang taat kepada Tuhan. Memang di dunia ini agaknya banyak orang yang sadar akan adanya Tuhan, tetapi tidak takut atau taat kepada Tuhan.

Paulus pada zamannya agaknya melihat hal yang serupa dalam masyarakat di sekelilingnya. Ayat yang ditulisnya untuk jemaat di Roma menyerukan agar pengikut Kristus tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi agar berubah dengan pembaharuan akal budi, sehingga mereka dapat mengerti apa kehendak Allah. Supaya mereka tahu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Tetapi, bagaimana orang bisa mengalami pembaharuan pikiran seperti itu, jika pendidikan apapun tidak bisa membuat orang takut dan hormat kepada Tuhan?

Mereka yang tidak pernah memikirkan Tuhan tentunya tidak sadar bahwa kehendak Tuhan bukan saja bisa muncul sebagai apa yang diluar kontrol manusia, tetapi juga apa yang difirmankanNya dan apa yang baik yang muncul dalam pikiran atau hati kita. Mereka yang tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dan mereka yang tidak mau menuruti atau melaksanakan perintahNya, belumlah mengalami perubahan akal budi. Mereka adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak bijaksana, sekalipun sudah berpendidkan tinggi.

Memang dengan bertambah tingginya pendidikan kita, hidup kita biasanya makin sibuk. Kita juga makin pandai membuat alasan praktis pragmatis bahwa kita boleh melakukan hal ini dan itu. Dengan bertambahnya umur, kita juga cenderung percaya bahwa kita adalah orang yang cukup bijaksana dan bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang yang berstatus pemimpin dalam masyarakat karena mempunyai hard skills dan soft skills, tetapi tidak mempunyai pengertian tentang kehendak Allah: apa yang benar-benar baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pagi ini kita harus sadar bahwa perubahan akal budi yang membuat orang bijaksana dalam pandangan Tuhan, hanya bisa terjadi dengan pertolongan Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Transformasi untuk menjadi orang yang bijaksana tidaklah terjadi dalam sehari, tetapi seumur hidup, selama kita dekat dengan Tuhan.

Keadilan Tuhan adalah pencerminan kuasa dan kasihNya

Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9: 15

Dalam hidup ini kita melihat pemerintah manapun berusaha menegakkan keadilan di negaranya. Tidak hanya dalam bidang hukum, tetapi juga dalam bidang sosial, ekonomi, dan lainnya. Prinsip bahwa semua orang harus diberikan hak dan kesempatan yang sama, pernah muncul di Prancis dengan semboyan liberté, égalité, fraternité (bahasa Prancis untuk “kebebasan, keadilan, persaudaraan”). Sekarang, slogan ini adalah moto resmi dari Republik Prancis dan Republik Haiti, dan bahkan sudah menjadi bagian dari artikel pertama dari Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia dari PBB pada tahun 1948:

All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.

Itu dapat diterjemahkan sebagai:

“Semua umat manusia dilahirkan dengan kemerdekaan dan kesamaan derajat serta hak. Mereka diberi pikiran dan kesadaran dan karena itu seharusnya hidup dalam semangat persaudaraan.”

Dalam kenyataannya, bagaimanapun manusia berusaha untuk mewujudkan keadilan di dunia, keadilan nampaknya tidak dapat terjadi sepenuhnya. Memang pemerintah di satu negara bisa berusaha untuk memberikan hak  yang sama untuk semua rakyatnya, tetapi keadilan semacam itu tidaklah menjamin bahwa setiap orang akan hidup dalam kesamaan. Sebagian orang dilahirkan dalam kemiskinan, sebagian lagi lahir sebagai anak orang kaya. Ada orang yang dilahirkan dengan cacat bawaan, tetapi ada pula yang lahir dengan faktor genetika tertentu yang memungkinkan umur panjang. Dalam suatu musibah, ada orang yang mengalami cedera tetapi ada pula orang yang selamat. Siapakah yang sebenarnya bisa untuk menegakkan keadilan di dunia?

Ada orang yang merasa bahwa jika Tuhan itu ada, tentu Ia itu kejam atau tidak peduli dengan penderitaan manusia. Ada pula orang yang percaya bahwa jika seseorang mengalami hal-hal yang kurang baik, itu adalah sehubungan dengan dosa yang dilakukannya. Tetapi dalam banyak hal, manusia tidak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Apakah Tuhan itu memang kejam? Apakah Ia kadang-kadang terlena? Ataukah Tuhan sudah mati? Apakah ketidakadilan selalu akibat dosa seseorang?

Ayat diatas menulis bahwa Tuhan menaruh belas kasihan kepada siapa  Ia mau menaruh belas kasihan dan Tuhan akan bermurah hati kepada siapa Ia mau bermurah hati. Ayat ini seolah menggambarkan bahwa Tuhan itu semena-mena dan sombong. Tetapi itu sama sekali tidak benar. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan karena itu Ia berhak melakukan apa saja yang dimauiNya. Tidak ada sesuatupun di jagad raya yang bisa mengubah keputusan dan rancanganNya. Jika tidak demikian, Tuhan bukanlah Tuhan.  Iblis pernah berusaha mengubah jalannya kehidupan di surga dan ia gagal. Iblis kemudian mencoba mengubah jalannya kehidupan manusia di bumi, dan kegagalan juga yang diperolehnya. Jelas bahwa Tuhan adalah mahakuasa. God is sovereign.

Memang banyak orang yang percaya bahwa Tuhan bisa dipengaruhi sehingga Ia mengubah keputusanNya. Dengan doa-doa permohonan dan tindakan-tindakan lain mereka percaya bahwa kehendak Tuhan bisa diipengaruhi. Setidaknya ada dua hal yang tidak cocok dengan anggapan ini. Yang pertama, jika kita bisa mengubah keputusan Tuhan, itu menunjukkan bahwa keputusan Tuhan tidaklah sempurna. Yang kedua, jika keputusan Tuhan bisa diubah manusia, manusia tentunya lebih berkuasa daripada Tuhan. Walaupun begitu, masih banyak orang yang percaya bahwa karena Tuhan itu mahakasih, Ia akan mendengarkan doa permohonan kita dan selalu bersedia untuk memberikan apa yang kita inginkan. Jika demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahatahu, yang mengerti apa yang benar-benar kita butuhkan sebelum kita memintanya.

Pagi ini, jika kita merenungkan hidup kita atau hidup orang yang disekitar kita, kita mungkin merasa gundah. Ketidakadilan ada dimana-mana, dan penderitaan manusia seolah terjadi tanpa alasan yang jelas. Apakah Tuhan itu benar mahaadil? Jawabnya adalah “ya”, tetapi keadilanNya harus dihubungkan dengan hakikiNya yang lain: Ia mahakuasa, mahakasih dan mahatahu. Ketidakadilan yang kita lihat bisa merupakan akibat dosa yang membuat dunia ini kacau-balau dan membuat hidup  kita terasa berat. Tetapi karena Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa, Ia dapat melakukan hal apa saja untuk menolong umat manusia seperti yang dikehendakiNya. Karena Tuhan mahakasih dan mahakuasa, Ia mau dan bisa membuat rencana agung untuk menolong manusia. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan menawarkan keselamatan bagi mereka yang percaya, itu juga keputusanNya. Tuhan sudah memilih kita untuk diselamatkan karena Ia tahu apa yang ada dalam hati kita, dan itu semata-mata karena kasihNya dan bukan karena usaha kita.  Bukankah Tuhan yang sedemikian berkuasa tetapi penuh kasih adalah Tuhan yang benar dan patut kita sembah?

 

Rancangan Tuhan pasti terjadi

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Amsal 19: 21

Apakah anda mempunyai cita-cita? Pernahkah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu? Yakinkah anda bahwa anda bahwa cita-cita atau rencana anda akan tercapai? Mungkin ada yang menjawab bahwa keyakinan kita tentunya bergantung pada besar-kecilnya rencana; jika rencana itu kecil saja tentunya tidak akan sulit untuk dilakukan, tetapi jika rencana itu besar dan kompleks tentunya kita tidak bisa selalu yakin untuk bisa terlaksana. Segala sesuatu ada resikonya dan itu termasuk resiko gagal.

Mengapa rencana kita bisa gagal? Bagi orang Kristen, jawabnya bisa bermacam-macam. Kegagalan bisa karena keterbatasan kita, kekeliruan kita, atau berbagai faktor eksternal. Memang sekalipun kita berusaha keras, dunia tidak selalu menjanjikan hasil yang sepadan. Mereka yang percaya bahwa Tuhan menentukan segala apa yang terjadi di dunia mungkin menganggap kegagalan adalah lumrah – karena Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi. Jika apa yang diperbuat manusia adalah sesuai dengan kehendak Tuhan, tentu itu akan terjadi. Selain itu, ada juga orang yang beranggapan bahwa apa saja yang terjadi di dunia, baik itu berupa kebaikan atau kejahatan, sudah ditentukan oleh Tuhan. Karena itu jugalah ada orang yang percaya bahwa segala masalah yang dialaminya adalah takdir dari Tuhan dan tidak dapat dihindari.

Benarkah bahwa semua masalah, kejahatan dan kegagalan sudah ditentukan Tuhan? Benarkah bahwa Tuhan sudah menentukan nasib kita sepenuhnya? Pertanyaan semacam ini sudah menjadi bahan diskusi dan bahkan perdebatan antar berbagai golongan. Ada orang Kristen yang karena menjunjung tinggi kedaulatan Tuhan, mempunyai keyakinan bahwa Tuhan yang menentukan segala apa yang terjadi, tetapi manusia tetap bertanggung-jawab atas apa yang dilakukan atau dialaminya. Ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan siapa yang akan diselamatkan, tetapi Ia memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih apa yang baik dan yang buruk dalam hidupnya. Juga ada orang yang percaya bahwa manusia bisa memilih apapun menurut kehendaknya, sekalipun bimbingan Roh Kudus selalu berusaha untuk membawanya kearah yang benar. Dan tentu saja ada orang percaya bahwa di dunia ini Tuhan tidak ikut campur tangan, Ia hanya melihat apa yang akan terjadi dan membuat rancanganNya  yang disesuaikan dengan apa yang ada. Bagaimana kata Alkitab?

Jika Tuhan mahakuasa dan mahakasih, sudah tentu Ia tidak hanya merencanakan hasil akhir rancanganNya. Tuhan tentunya ikut bekerja diantara manusia setiap hari untuk mewujudkan rencanaNya. Ayat diatas berkata bahwa jika manusia bisa membuat banyak rencana, keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Itu berarti bahwa Tuhan bekerja pada setiap saat. Masalahnya, bagaimana Tuhan bekerja dalam dinamika kehidupan manusia? Apakah Ia memaksa setiap manusia untuk berbuat ini dan itu agar rencananya terjadi? Jika demikian bukankah manusia menjadi sepeti robot yang hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan pemiliknya? Bukankah dengan demikian si robot tidak dapat dipersalahkan jika ia membuat kekeliruan?

Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, bukan atas apa yang ditentukan Tuhan. Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa bukan karena rencana Tuhan, tetapi Tuhan mempunyai rencana keselamatan karena Ia tahu bahwa manusia akan jatuh kedalam dosa. Sejak kejatuhan manusia kedalam dosa, manusia bertambah jahat dan Tuhan membiarkan hal itu terjadi sesuai dengan rencanaNya, sampai Ia mengambil keputusan untuk melenyapkan semua manusia kecuali Nuh dan keluarganya. Manusia dalam kebebasannya tidak bisa menghilangkan Tuhan dan kuasaNya. God is always in control.

Sekalipun Tuhan selalu memegang kemudi kehidupan di dunia, itu tidak berarti Ia selalu membatasi gerakan dan tingkah laku manusia. Jika manusia jatuh kedalam dosa, ia tidak dapat mempersalahkan Tuhan yang membiarkan hal itu terjadi. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini memang sangat besar pengaruhnya kepada orang yang jauh dari Tuhan.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Jika manusia mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang baik dan yang buruk,  apapun yang terjadi tidaklah mempengaruhi rencana Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan dapat dibayangkan sebagai pemain catur yang hebat. Chess Grandmaster. Setiap gerakan manusia yang bagaimanapun tidak akan membuatNya bingung, karena Ia tahu kemana manusia akan pergi. Tuhan bisa mengambil keputusan untuk membiarkan manusia untuk terus maju, tetapi Ia pada saat itu juga membuat hal-hal lain yang tidak diketahui manusia – dan itu memungkinkan rencanaNya untuk tetap terjadi. Dilain pihak, Tuhan juga bisa mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang mengejutkan manusia, juga untuk mewujudkan rencana agungNya. RencanaNya tidak dapat dihentikan oleh tindakan manusia. Rencananya tidak tergantung pada manusia. Tetapi rencanaNya adalah untuk manusia.

Pagi ini, jika kita merenungi hidup kita, mungkin kita teringat akan kesulitan, kegagalan, dosa dan penderitaan yang pernah atau sedang kita alami. Mungkin kita menyesali bahwa Tuhan nampaknya tidak peduli atas hidup kita. Tetapi, sebagai manusia kita tetap harus bertanggung-jawab atas kehidupan dan tingkah laku kita. Apa yang kita alami mungkin saja adalah bagian kehidupan di dunia yang sudah cacat. Walaupun demikian, sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa sekalipun Tuhan tidak menyukai semua hal yang buruk itu, Ia bisa memakai semuanya dengan caraNya sendiri untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang beriman kepadaNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apa yang anda lihat sekarang?

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18

Dalam bidang teknologi komputer, baik perangkat keras maupun perangkat lunak adalah penting. Sehubungan dengan perangkat lunak, istilah WYSIWYG dikenal sebagai singkatan dari What You See Is What You Get (yang berarti  Apa Yang Anda Lihat Adalah Apa Yang Anda Dapatkan). Istilah ini dipakai untuk suatu sistem di mana konten yang sedang disunting akan terlihat sama persis dengan output atau hasil akhir, yang mungkin berupa dokumen cetak, halaman web, slide presentasi, atau bahkan pencahayaan yang dipakai untuk acara teater.

Istilah “Apa Yang Anda Lihat Adalah Apa Yang Anda Dapatkan” sekarang dipakai bukan hanya dalam teknologi komputer, tetapi juga dalam bidang-bidang lain, termasuk sosial, ekonomi dan budaya. Istilah ini menjanjikan bahwa apa yang terlihat saat ini akan serupa dengan apa yang akan diperoleh di masa depan. Ada kalanya memang janji ini terwujud, tetapi sering juga terjadi bahwa apa yang akhirnya didapat tidaklah sama dengan apa yang sudah dilihat sebelumnya.

Ayat diatas menulis bahwa Paulus tidak memperhatikan apa yang sekarang kelihatan, melainkan apa yang tak kelihatan, karena apa yang kelihatan saat ini adalah sementara, sedangkan apa yang tak kelihatan adalah kekal. Apa yang kita lihat sekarang, bukanlah apa yang akan kita dapat di masa depan. Jelas bukan WYSIWYG. Apa maksudnya?

Paulus berusaha menjelaskan bahwa apapun yang kita lihat selama kita hidup, baik itu penderitaan ataupun kebahagiaan, bukanlah sesuatu yang abadi. Selama hidup di dunia, orang Kristen  harus menjalankan tugas kewajiban mereka, tetapi apapun yang mereka rasakan atau lihat tidak perlu membuat hidup mereka terpengaruh. Hidup orang Kristen adalah untuk memuliakan Tuhan yang tidak kelihatan dan untuk itu mereka cukup bermodalkan iman yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Dengan iman mereka bisa berharap akan masa depan dan yakin akan keselamatan yang sudah diberikan sekalipun mereka masih belum berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Memang manusia cenderung berpikir bahwa apa yang mereka alami atau rasakan adalah faktor yang menentukan kehidupan mereka di dunia.  Karena itu mereka  merasa bangga dan puas jika mereka berhasil memperoleh kesuksesan, atau merasa tertekan jika mereka mengalami apa yang tidak diharapkan. Bahkan banyak orang Kristen yang percaya bahwa hidup di dunia  sebagai orang diberkati Tuhan seharusnya ditandai dengan kemakmuran. Banyak orang mungkin lupa bahwa jika mereka meninggalkan dunia ini, semua harta miliknya tidak akan berguna lagi. Begitu juga, dalam penderitaan orang mungkin lupa bahwa itu adalah sementara. Karena itu kita seharusnya memusatkan pikiran kepada apa yang abadi, yaitu hidup sesudah hidup di dunia. Kebahagiaan di surga adalah hal yang harus kita perhatikan agar selama kita hidup di dunia kita tidak terpikat oleh apa yang bisa dilihat mata saja dan apa yang ditawarkan oleh dunia.

Pagi hari ini, apakah yang anda lihat dengan mata anda? Apakah yang terjadi dalam hidup anda? Apakah yang dialami oleh keluarga anda? Adakah orang-orang yang anda kasihi yang saat ini mengalami sakit atau kesusahan? Adakah rasa tertekan dan rasa sedih dalam diri anda karena adanya hal-hal yang tidak anda harapkan? Firman Tuhan berkata melalui Paulus bahwa kita tidak perlu tawar hati sekalipun apa yang kita lihat dengan mata jasmani kita menunjukkan adanya hal yang tidak baik. Sebagai orang beriman, kita bisa memakai mata rohani kita untuk melihat bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertai kita hingga kita bertemu dengan Dia dalam kebahagiaan yang kekal.

 “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” 2 Korintus 4: 16 – 17

Hal mengisi hati

“Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.” Ayub 5: 2

Apakah arti kata hati dalam Alkitab? Kata ini pada umumnya dipakai untuk menyatakan pusat kehidupan manusia. Hati dipandang sebagai tempat kemauan, kebijaksanaan dan perasaan manusia. Karakter, sifat dan pikiran adalah kata-kata yang mungkin bisa dipakai sekarang sebagai ganti kata hati. Hati dengan demikian sudah ada dalam diri manusia sejak lahirnya tetapi bertumbuh sesuai dengan cara hidup dan lingkungan. Setiap orang sudah dilahirkan dengan hati yang cacat karena dosa, tetapi melalui pertobatan hati mereka bisa diperbaharui oleh Roh Kudus sehingga hidup mereka berubah secara bertahap bisa menjadi semakin dewasa, dan dengan demikian hati mereka pun menjadi semakin baik.

Hidup manusia memang dipengaruhi keadaan hatinya. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”, kata Solaiman dalam Amsal 17: 22. Mereka yang mengisi hatinya dengan kegembiraan akan tenang hidupnya – ini serupa dengan apa yang dikatakan para motivator yang sering mengajarkan orang untuk berpikir positif untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa kegembiraan apapun yang diperoleh manusia adalah kegembiraan yang semu, jika tidak datang dari Tuhan. Manusia bisa berusaha untuk mengubah isi hatinya, tetapi jika perubahan itu  tidak datang dari Tuhan, itu tidak akan mempunyai akibat yang abadi karena manusia selalu mempunyai tendensi untuk memilih apa yang jahat.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Memang manusia sejak awalnya sering melakukan apa yang tidak baik, sekalipun Tuhan sudah memberikan peringatan. Ketika Kain melihat bahwa Tuhan menerima persembahan adiknya, Habel, ia menjadi sangat panas dan mukanya muram (Kejadian 4: 5 – 7). Tuhan kemudian berkata kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kain seharusnya tahu bahwa ia sudah berbuat apa yang tidak baik, tetapi ia tidak menghentikannya karena kebodohannya.

Apa yang terjadi pada Kain, bisa terjadi pada diri kita juga. Sekalipun kita sudah menjadi umat Allah, itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa jatuh dalam dosa sakit hati dan iri hati. Apalagi dalam masyarakat yang cenderung bersifat materialistik dan kapitalistik, semboyan “greed is good” atau “keserakahan itu baik” seringkali mendorong untuk orang seakan berlomba untuk mencari berkat Tuhan. Akibatnya, banyak orang Kristen yang menjadi bodoh karena membiarkan hidupnya secara sadar atau tidak dikuasai dengan sakit hati dan iri hati karena orang lain yang nampaknya lebih sukses hidupnya. Hidup mereka kemudian kehilangan rasa syukur dan kebahagiaan, dan bahkan seolah terasa mati.

Pagi ini, ayat pembukaan dari Ayub 5: 2 mengatakan bahwa orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati. Ayub bisa mengatakan hal ini berdasarkan apa yang dialaminya. Karena jika ia hanya melihat keberuntungan orang lain dan menimbang penderitaan yang dialaminya, wajarlah ia menjadi sakit hati dan iri. Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka datang kepadanya, padahal ia hidup dengan ketaatan kepada Tuhan?

Apa yang kita bisa simpulkan dari Ayub adalah bahwa ia bukanlah orang yang bodoh yang merasa dirinya lebih pandai dari Tuhan. Ayub tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana. Ayub menghindari rasa iri dan sakit hati karena keduanya akan meracuni hatinya. Ayub tahu bahwa untuk tetap bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, ia harus tetap memakai kebijaksanaan yang diperolehnya dari Tuhan. Ayub mengisi hatinya dengan rasa syukur, untuk menerima apa yang dikehendaki Tuhan, untuk percaya akan kasih pemeliharaanNya setiap hari, dan untuk berharap bahwa segala yang indah akan datang pada waktunya.