Setialah sampai mati

“Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita” 2 Timotius 2: 11 – 12

Sehidup semati. Semboyan yang lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Mereka yang menikah, biasanya berjanji untuk hidup bersama sampai mati, untuk melewati hari baik dan hari buruk, selagi kaya atau miskin, pada saat sehat atau sakit. Tetapi, dalam kenyataan hidup ini banyak orang yang begitu mudah untuk bercerai ketika keadaan rumah tangga mulai berantakan. Apalagi di kalangan orang ternama dan mereka yang mampu, untuk mendapatkan yang terbaik seringkali diartikan membuang yang lama dan membeli yang baru, karena adanya banyak pilihan yang bisa dicoba.

Alkitab menggambarkan hubungan orang Kristen dengan Tuhan adalah seperti hubungan antara suami dan istri. Karena orang Kristen adalah seperti mempelai yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Yesus yang sudah berjanji untuk menyertai kita untuk selamanya, mengharapkan agar kita juga setia kepadaNya dalam setiap keadaan. Sehidup semati.

Janji sehidup semati kepada Tuhan tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Banyak orang yang merasa bahwa adalah tugas pasangannya untuk menjamin kebahagiaannya dalam rumah tangga, dan karena itu siap untuk meninggalkannya jika keadaan tidaklah seperti yang diharapkan. Begitu juga banyak orang Kristen yang mengharapkan hidup yang penuh kemakmuran dan kesuksesan jika mereka mengikut Yesus, kemudian goncang imannya ketika hidup berubah menjadi buruk. Apa gunanya mengikut Tuhan? Bukankah Tuhan sudah berjanji memberi umatNya kebahagiaan dan kelimpahan?

Rasul Paulus yang menulis surat kepada Timotius diatas, adalah orang yang merasakan banyaknya asam-garam kehidupan. Ia pernah menjadi tokoh agama, orang kaya, pandai dan ternama, orang yang kejam terhadap pengikut Kristus. Tetapi, sesudah ia bertobat, Paulus berubah menjadi rasul yang bijaksana, penuh kasih, dan benar-benar taat kepada Kristus dalam setiap keadaan, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kelimpahan atau kekurangan; dan bahkan ketika hidupnya dalam bahaya, ia tetap berharap kepada Tuhan. Ia setia sampai mati.

Paulus dalam 2 Timotius 2: 3 – 6 juga menggambarkan kesetiaan orang Kristen kepada Tuhan sebagai seorang prajurit yang tidak memusingkan persoalan hidupnya, sebagai seorang olahragawan yang mau mengikuti peraturan-peraturan olahraganya, dan sebagai seorang petani yang harus bekerja keras untuk menikmati hasil usahanya. Memikirkan kepentingan Tuhan, menjalani hidup sesuai dengan firmanNya, dan bekerja untuk kemuliaanNya adalah tugas kita.

Hidup sebagai mempelai Kristus memang tidak mudah. Tetapi, kenyataan bahwa Ia sudah mati berkurban untuk kita seharusnya membawa kesadaran bahwa kita yang sudah dipilihnya, adalah makhluk yang sangat berharga. Kesadaran inilah yang membuat Paulus setia dalam imannya, apalagi ia tahu bahwa dalam penderitaan ia bisa menjadi contoh dalam hal kesetiaan yang sejati bagi orang lain. Begitu pula, kesetiaan kita kepada Tuhan dan orang-orang yang kita kasihi bisa membuat orang lain untuk menpunyai kesetiaan seperti kita.

“Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” 2 Timotius 2: 10

Pagi ini, pertanyaannya apakah kita mempunyai kesetiaan seperti rasul Paulus. Sebab kita yang sudah dipilih Tuhan, tentunya sudah berjanji untuk sehidup semati denganNya. Yesus sudah lebih dulu menderita dan bahkan mati untuk kita, karena itu apa arti semua tantangan kehidupan kita jika dibandingkan dengan pengurbananNya?

Api yang memurnikan

“Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.” Maleakhi 3: 3

Emas dan perak adalah dua jenis logam berharga yang dipakai untuk membuat berbagai perhiasan. Logam ini biasanya diperoleh dengan cara menambang dari perut bumi. Data dari tahun 2016 menunjukkan bahwa Australia menghasilkan sekitar 300 ton emas yang menempatkannya dalam posisi kedua sedunia. Sebaliknya, pertambangan di Australia tidak menghasilkan perak dalam jumlah yang besar.

Ketika emas dan perak baru saja diperoleh dari dalam tanah, logam-logam itu tidaklah murni karena adanya kontaminasi zat-zat lain. Batu mengandung logam yang baru ditambang biasanya harus diproses melalui proses pembersihan dan pemurnian yang cukup rumit sehingga logam-logam berharga itu bisa dipisahkan dari yang lain. Dalam hal ini, sejak ratusan tahun sebelum Masehi orang sudah bisa menggunakan api untuk membakar hasil tambang sampai apa yang tidak diingini bisa dihilangkan, dan apa yang tertinggal hanyalah logam yang murni.

Apa yang ditulis oleh nabi Maleakhi diatas adalah suatu nubuat yang menggambarkan bagaimana Tuhan akan mengembalikan orang Lewi kepada keadaan yang seharusnya. Orang suku ini adalah orang pilihan yang bertugas untuk memimpin upacara agama, dan juga mempunyai pengaruh penting dalam bidang politik dan pendidikan. Sayang sekali banyak diantara mereka yang menyalahgunakan kedudukan mereka. Maleakhi menyatakan bahwa Tuhan akan menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan.

Apa yang ditulis dalam kitab Maleakhi diatas bukan hanya berlaku untuk zaman itu. Sebagai orang pilihan Tuhan, seharusnya kita hidup sesuai dengan firmanNya. Tetapi sebaliknya kita tahu bagaimanapun kita berusaha untuk menaati perintah Tuhan, kita justru lebih sering berbuat hal-hal yang tidak baik.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18 – 19

Tuhan mempunyai tujuan agar kita, seperti orang Lewi, menjadi orang pilihanNya untuk melakukan tugas-tugas kehidupan untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Tetapi, sadar atau tidak, seperti orang Lewi kita juga sering melakukan hal-hal yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan. Selain itu, seringkali kita melakukan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang jahat kepada sesama kita.

Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci jika Ia tidak peduli akan cara hidup orang-orang pilihanNya. Jika Ia memilih kita untuk tugas memuliakan Dia, itulah yang harus terjadi. Karena itulah, Tuhan mempunyai rencana-rencana yang unik untuk setiap umatNya. Seperti yang dikatakan Maleakhi, Tuhan menggunakan api penyucian untuk memurnikan mereka yang dipilihnya, agar mereka perlahan-lahan berubah menjadi logam berharga.

Tuhan menggunakan berbagai hal sebagai api penyucian umatNya. Ada kalanya Ia membuat kegagalan untuk memberi pelajaran bagi manusia. Ia mungkin juga menggunakan rasa sakit, kecewa, takut, dan susah untuk membawa kesadaran bagi kita bahwa ada sesuatu yang tidak baik dalam hidup kita. Itu wajar, karena seperti api yang memurnikan emas dan perak, semua penderitaan itu diizinkan oleh Tuhan untuk membuat kita lebih dekat kepadanya.

Api apapun tentunya terasa panas dan bisa menimbulkan rasa sakit pada tubuh kita. Tuhan yang mahabijaksana tentu tahu akan hal itu. Tetapi kita harus sadar bahwa Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12: 10 – 11).

Tuhan yang bermaksud memurnikan kita dengan api penyucianNya, tidak akan membiarkan kita untuk terbakar musnah. Api penyucian memang menimbulkan rasa sakit, tetapi bukanlah api yang menghanguskan. Segala tantangan hidup yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan adalah Tuhan yang setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Kita harus percaya bahwa pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya (1 Korintus 10: 13).

Dengan api penyucian, Tuhan bermaksud membuat hidup kita di dunia ini untuk menjadi makin baik dan makin berkenan kepadaNya. Itupun juga untuk kebaikan kita, karena semakin serupa kita dengan Dia, semakin mudah bagi kita untuk berbahagia sekalipun situasi dan kondisi disekitar kita terlihat buruk. Tetapi api penyucian tidak membuat kita secara otomatis menjadi umat Tuhan yang menyinarkan cahaya yang gemerlap. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot yang tidak mempunyai reaksi atau sambutan atas kasihNya. Tuhan memberikan api penyucianNya, tetapi respons kitalah yang membuat kita bersikap acuh tak acuh, berduka atau bergembira dalam hidup kita. Manakah yang kita pilih?

“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” 1 Petrus 4: 12 – 13

Bila kita berzina secara rohani

“Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Keluaran 34: 15

Berzina. Perbuatan yang dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang dimana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanianpun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka.

Perzinaan mungkin sering diartikan sebagai hubungan seksuil antara dua orang yang bukan suami istri, yang dilakukan dengan sengaja atas kehendak orang-orang yang bersangkutan. Perzinaan juga mencakup perselingkuhan yaitu penyelewengan seksuil antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain. Tetapi, dalam Alkitab, Yesus menyatakan bahwa perzinaan tidak hanya menyangkut hubungan badani. Perzinaan bisa terjadi melalui pengelihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan lamunan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Matius 5: 28

Jika dosa perzinaan sering diperbuat manusia karena perbuatannya terhadap orang lain, ayat pembukaan dari Keluaran 34: 15 diatas menyebutkan jenis perzinaan lain, yaitu perbuatan selingkuh rohani yang diperbuat umat Tuhan melalui pemujaan ilah-ilah yang membuat Tuhan cemburu dan marah. Perzinaan rohani, spiritual adultery, semacam itu adalah dosa besar yang menghancurkan hubungan Tuhan dan umatNya. Itulah yang disebut idolatry atau pemujaan ilah, yang bisa berupa pemujaan dewa, arwah, benda mati, hewan atau manusia lain, dan yang dilarang keras oleh Tuhan.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Jika perzinaan yang bisa dilihat orang adalah adalah hal yang mudah dimengerti, perzinaan rohani adalah sumber atau asal dari perzinaan jasamani; dan itu sering diabaikan orang. Pada waktu raja Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan kemudian tergiur, pada waktu itu juga ia sudah melakukan perzinaan rohani. Sayang , raja Daud tidak menyadarinya. Dosa perzinaan rohani sudah dilakukannya sebelum ia melakukan perzinaan jasmani.

Bagi orang Kristen yang berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, perzinaan rohani adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Bukan saja keinginan daging yang ada dalam pikiran, tetapi apapun yang membuat kita mengagumi orang yang bukan pasangan kita, bisa menjadi perzinaan. Curahan hati kepada seorang teman, baik itu pria atau wanita, baik teman nyata maupun teman maya, bisa merendahkan pasangan hidup kita secara rohani.

Perzinaan rohani bukan saja menyangkut kekaguman dan kegairahan hati kepada orang lain, dan bukan hanya apa yang melukai perasaan pasangan hidup kita. Perzinaan rohani bisa berupa rasa ketergantungan kita atas harta, kesuksesan, kesehatan, dan kekaguman atas pengajaran orang yang secara langsung atau tidak, sudah mengecewakan Tuhan dan merendahkan firmanNya.

Pagi ini, kita menyadari bahwa perzinaan adalah dosa yang sering terjadi, sekalipun orang tidak menyadarinya. Karena apa yang dilihat mata bukanlah dosa satu-satunya, tetapi apa yang timbul dalam hati adalah penyebab utama. Perzinaan spiritual adalah satu dosa yang harus selalu kita perangi dan harus juga kita akui dalam permohonan ampun kepada Tuhan yang sering kita lukai perasaanNya. Tuhan yang mahakasih selalu mau mengampuni orang yang sadar akan dosa-dosanya.

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Mazmur 32: 5

Aku ini manusia berdosa

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15: 18 – 19

Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaanNya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.

Ayat diatas adalah apa yang dipikirkan oleh anak yang hilang dalam perumpamaan itu. Kita bisa membaca kelanjutan kisah itu yang menyatakan besarnya kasih bapa yang kemudian menerima kembalinya si anak yang hilang dengan tangan terbuka. Si bapa yang sudah berharap sejak lama agar anaknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar, bisa terlihat dengan jelas sebagai bapa yang penuh kasih, tidak hanya kepada anaknya yang hilang, tetapi juga kepada anaknya yang lain, yang tidak pernah meninggalkan dia. Kasih bapa itu adil dan abadi, dan itu tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan anak-anaknya; ia hanya ingin agar semua anaknya berbahagia.

Satu bahan pemikiran yang juga bisa diperoleh dari ayat diatas adalah bagaimana anak yang hilang itu menempatkan dirinya di hadapan bapanya. Ia menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh dan meminta kemurahan sang bapa untuk menerimanya kembali, bukan sebagai anak, tapi sebagai hamba. Dalam konteks iman Kristen, ini menunjuk kepada kenyataan bahwa kita orang yang berdosa, adalah orang-orang yang tidak layak di hadapan Allah dan sudah kehilangan kemuliaan kita sebagai ciptaanNya. Kita sudah kehilangan hak untuk dipanggil umat Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…” Roma 3: 23

Apapun yang akan dan sudah kita lakukan, tidaklah dapat membuat kita kembali menjadi orang yang layak untuk menemui Bapa kita. Karena dosa kita, kita tidak bisa menuntut hak apapun di hadapan Tuhan. Hanya karena kasih karunia Allah (grace), kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Pengakuan sola gratia ini tidak memberi kesempatan bagi kita untuk menyombongkan apa yang bisa kita perbuat dalam hidup kita.

“…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 24

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, itu memang adalah keputusan kita. Tetapi itu karena Tuhan yang sudah memanggil kita. Dengan itu, kita merasa ingin kembali menjumpai Tuhan Bapa kita dan berbakti kepadaNya. Seminggu kita bekerja, dan dalam waktu itu banyak dosa-dosa yang kita perbuat, secara sengaja atau tidak sengaja. Jika dibandingkan dengan standar kesucian Tuhan, hidup kita bisa dipadankan dengan hidup anak yang hilang, yang sudah menyia-nyiakan hidupnya dan mempermalukan bapanya.

Sebagai manusia mungkin kita berusaha untuk melupakan hal-hal yang jahat yang telah kita perbuat. Mungkin kita ingin menebusnya dengan banyak berbuat amal. Mungkin kita berusaha menutupinya dengan usaha untuk mencari hal-hal yang berbau kerohanian. Mungkin kita sudah berusaha untuk mengubah cara hidup kita, supaya bisa dikagumi oleh orang lain. Atau mungkin saja Tuhan sudah memberi kita berbagai karunia rohani yang hebat. Tetapi, semua itu tidak bisa mengubah status kita: kita adalah anak yang hilang, yang sudah tersesat dan kehilangan hak untuk menjadi anakNya. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa menghampiri Tuhan dan meminta pengampunanNya hari demi hari, dan berjanji untuk menjalani hidup kita sesuai dengan firmanNya sebagai pernyataan rasa syukur kita atas kasihNya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pertumbuhan yang membawa kebaikan

“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Lukas 2: 52

Tuhan Yesus datang dari surga sebagai Anak Allah untuk menebus dosa manusia. Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia sepenuhnya, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai manusia ia dilahirkan sebagai seorang bayi melalui anak dara Maria, dan tumbuh menjadi dewasa. Tidak banyak yang kita ketahui mengenai masa kecil Yesus, selain Ia tentunya ikut bekerja sebagai tukang kayu seperti ayahNya, Yusuf (Markus 6: 3). Yesus sebagai manusia adalah orang biasa yang sederhana, bukan orang kaya ataupun orang yang berkuasa.

Benarkah bahwa Yesus tidaklah berbeda dengan manusia biasa? Banyak orang yang sampai sekarangpun berpendapat bahwa Yesus adalah manusia yang baik dan barangkali guru filsafat yang pandai, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka yang bukan umat Kristen tidak dapat menerima pernyataan Alkitab bahwa Yesus adalah Anak Allah. Walaupun demikian, sejarah mencatat bahwa Yesus adalah orang yang paling berpengaruh di dunia dari segala masa.

Selama di dunia, Yesus adalah Tuhan dan juga manusia, tetapi bukannya berganti-ganti diantara kedua eksistensi itu. Sebagai manusia Ia dilahirkan, tumbuh menjadi dewasa dan menjalankan tugas-tugasNya untuk sesama manusia, dan juga untuk kemuliaan Bapa di surga. Tidaklah mengherankan bahwa ayat diatas mencatat bahwa dalam proses pertumbuhanNya sebagai manusia, Yesus bertambah besar dan makin bijaksana, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Bagaimana kita sebagai umat Kristen bisa bertumbuh dan menjadi serupa dengan Yesus? Itulah pertanyaan yang sulit dijawab. Sebab orang bisa tumbuh dengan baik secara jasmani dan menjadi dewasa, tetapi secara rohani pertumbuhannya tidaklah seperti seharusnya.

Banyak orang yang sudah bertahun-tahun mengaku Kristen, tetapi tidak mempunyai kebijaksanaan dan cara hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Mereka lebih sering memperdebatkan hal-hal duniawi seperti hal makanan dan minuman, atau mempersoalkan apa yang baik atau buruk menurut ukuran manusia, dan itu seringkali justru membawa kekacauan dan kebingungan dalam masyarakat. Mungkin karena adanya batu sandungan seperti itulah, orang lain kemudian menjadi ragu untuk mengikut Kristus.

Pagi ini, mungkin kita sudah menjalani hidup kita di dunia ini cukup lama. Kita mungkin sudah tumbuh sepenuhnya secara jasmani tetapi apakah dalam hal rohani kita juga sudah makin dewasa dan makin bijaksana? Jika pertumbuhan itu ada, apakah itu sudah membawa kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dari Roh Kudus demi kebaikan untuk Tuhan dan sesama?

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.” Roma 14: 17 – 18

Hal mendoakan saudara seiman

“….Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.” Kolose 1: 9 – 12

Pernahkah anda mendengar permintaan seseorang agar kita mendoakan mereka? Seringkali permintaan itu hanya sekedar basa-basi, tetapi memang ada orang-orang yang dengan serius ingin agar kita mendoakan mereka yang sedang mengalami masalah.

Adalah suatu kehormatan bagi kita, jika orang memang meminta kita untuk mendoakan mereka. Siapakah kita, sehingga orang memohon agar kita mau berdoa untuk mereka? Mungkin itu karena mereka tahu bahwa Tuhan mendengarkan permohonan setiap umatNya dan mau memberikan apa yang baik, yang sesuai dengan kehendakNya. Atau barangkali mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih akan mengabulkan setiap permohonan orang yang beriman. Bagi kita yang mendoakan, tentunya kita harus tahu doa bagaimana yang benar.

Mendoakan orang lain tidaklah mudah, karena kita tidak sepenuhnya tahu apa yang dibutuhkan, atau apa yang menjadi pokok masalah mereka. Mungkin saja kita bisa melihat adanya persoalan hidup, kekurangan, atau penyakit yang dialami seseorang, tetapi seringkali hal-hal itu adalah gejala-gejala yang timbul karena adanya masalah yang utama, yang lebih mendasar.

Doa permohonan yang kita sampaikan kepada Tuhan seharusnya tidak bertele-tele, tetapi disampaikan dengan penuh keyakinan bahwa apa yang dibutuhkan sudah didoakan. Dengan demikian, kita tidak boleh lupa bahwa doa kita harus mencakup poin-poin yang paling penting. Paulus dalam ayat-ayat diatas menyatakan doanya untuk jemaat Tuhan di Kolose. Apa saja yang didoakannya?

1. Agar mereka menerima hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.

Bagi umat Kristen, Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu dan mahakasih. Karena itu doa siapapun tidak akan bermanfaat jika tidak ada kesadaran bahwa Tuhanlah yang tahu apa yang paling baik untuk kita. Doa kita bukanlah suatu usaha untuk memaksakan kehendak kita diatas kehendak Tuhan. Sayang sekali banyak orang Kristen yang justru yakin bahwa dengan banyaknya doa dan kata, Tuhan mau merubah kehendakNya agar sesuai dengan apa yang mereka minta. Dengan demikian kita seharusnya memohon kepada Tuhan agar mereka bisa mendapat hikmat dan pengertian yang benar tentang kehendak Tuhan.

2. Agar mereka berbuah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.

Banyak ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi semua orang, tetapi Ia lebih mengasihi mereka yang taat kepadaNya dan hidup menurut firmanNya. Dengan demikian, doa yang efektif selalu berharap agar mereka yang didoakan adalah orang-orang yang bisa selalu berjalan di jalan yang benar. Oleh karena itu,  jika kita memohon agar Tuhan mau melimpahkan kasihNya kepada seseorang, kita tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang itu benar-benar kenal dan percaya kepada Tuhan, serta menurut firmanNya dalam hidup mereka.

3. Agar mereka dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.

Kita berdoa, tetapi apa yang akan dilakukan Tuhan tidaklah ada yang tahu. Walaupun demikian, umat Kristen harus percaya bahwa dalam segala sesuatu Tuhan bekerja untuk kebaikan mereka yang percaya kepadaNya. Ini tidaklah mudah dilakukan. Seringkali, dalam menanggung penderitaan dan menghadapi persoalan, kita merasa bahwa semua itu adalah terlalu berat atau terlalu lama untuk kita. Karena itu dalam berdoa untuk orang lain, kita harus ingat bahwa mereka mungkin merasakan hal yang serupa. Biarlah kita berdoa agar mereka dikuatkan Tuhan dan  mempunyai ketekunan dan kesabaran.

4. Agar mereka bisa mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa.

Memang dalam dunia ini, semua orang tidak terluput dari berbagai persoalan, derita dan masalah. Tetapi, doa yang disertai rasa cukup akan memberi keuntungan besar bagi mereka yang mengenal Tuhan. Mereka yang berkelimpahan belum tentu bisa merasa kecukupan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang merasakan kasih Tuhan akan dapat hidup dalam rasa syukur dan sukacita. Dengan demikian, kita boleh tetap berdoa untuk apa  yang mereka butuhkan, tetapi kita harus juga berdoa agar mereka sadar bahwa itu adalah kurang penting jika dibandingkan dengan adanya rasa cukup dalam Tuhan.

Pagi ini, jika kita berdoa untuk orang lain, biarlah kita bisa meresapi arti dan tujuan doa Paulus untuk jemaat di Kolose. Doa yang baik tidak selalu menghasilkan jawaban yang sesuai dengan pengharapan kita, tetapi selalu membuat kita makin mengenal Dia yang mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, dan makin bisa berserah kepadaNya!

Adakah yang mengerti perasaanku?

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” Mazmur 62: 8

Manusia adalah makhluk sosial dan karena itu membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Mereka yang mempunyai keluarga dan yang masih aktif berkarya tentunya bisa mempunyai banyak kesempatan untuk menjumpai orang lain dan berkomunikasi muka dengan muka. Tetapi, banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan yang serupa; mereka yang hidup jauh dari keluarga, mereka yang hidup sendirian, ataupun mereka yang terkucil dari masyarakat, sering merasakan sepinya hidup.

Memang di zaman ini, orang dapat menggunakan berbagai teknologi untuk berhubungan dengan sesama atau untuk melihat kehidupan masyarakat di sekelilingnya. Jika pada abad yang silam kita hanya bisa menulis surat dan mengirim telegram untuk menghubungi teman atau kerabat di tempat yang jauh, dan bisa memakai koran, radio dan kemudian TV untuk mengetahui keadaan dunia, sekarang kita bisa dengan sangat mudah melakukan hal yang serupa melalui internet, handphone atau komputer, jika ada fasilitas untuk itu.

Walaupun demikian, semua bentuk komunikasi dipengaruhi oleh iktikad dan sifat manusia yang melakukannya. Tidak dapat dipungkiri, dengan kemajuan teknologi kita sering merasakan hilangnya kehangatan, keakraban dan keramahan dalam hubungan antar manusia. Semakin jarangnya hubungan muka dengan muka, membuat berkurangnya hubungan dari hati ke hati; baik di rumah, di sekolah ataupun di kantor. Hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, ataupun antar kolega seringkali hanya terjadi kalau terpaksa, atau jika ada keuntungan pribadi yang bisa diperoleh. Manusia menjadi makin individualis dan egois dalam hidup sehari-hari.

Dalam hati, sebenarnya banyak orang yang menjerit minta tolong karena kesepian hidup mereka. Karena walaupun ada hingar-bingar disekitar mereka, tidak ada seorang pun yang bisa diajak untuk mendengarkan curahan hati. Hari demi hari mungkin harus dilewati seorang diri tanpa ada orang yang bisa mendengarkan keluh kesah mereka, apalagi untuk menolong. Karena itulah, banyak peristiwa dalam rumah tangga dan kehidupan seseorang kemudian berakhir dengan hal yang memalukan atau menyedihkan. Nasi mungkin sudah menjadi bubur.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, barangkali ada harapan bahwa dalam kesepian dan kesulitan, Tuhan masih bisa menyelami perasaan mereka dan memberi pertolongan pada waktunya. Tetapi, Tuhan yang diharapkan seringkali terasa jauh dan tidak peka akan kesulitan hidup manusia. Memang, jika Allah hanya duduk di singgasanaNya dan menonton kehidupan manusia, siapakah yang bisa yakin bahwa Ia sepenuhnya mengerti penderitaan kita? Untunglah bahwa Allah pernah datang ke dunia sebagai manusia dan bahkan mengalami penderitaan yang luar biasa. Yesus yang akhirnya mati di kayu salib, tidak hanya menunjukkan kasih Allah; Ia juga memberi keyakinan kepada kita bahwa Ia dapat merasakan penderitaan dan kesepian kita.

Pagi ini, jika kita merasakan adanya penderitaan dan kesepian dalam hidup, jika kita merasa tidak ada seorangpun yang mengerti dan bisa menolong kita, biarlah kita ingat bahwa Allah adalah tempat perlindungan kita. Melalui pengurbanan Yesus kita boleh menyebut Bapa kepada Allah. Dan sebagai Bapa yang baik, Ia tidak pernah meninggalkan anak-anakNya yang berada dalam kesulitan. Karena itu, kita boleh percaya bahwa Allah ikut bekerja dalam segala apa yang kita alami untuk memberi apa yang terbaik untuk kita.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hanya Tuhan yang tahu

“Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.” Ulangan 18: 14

Suatu kelebihan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi derajatnya di bumi ini adalah rasa ingin tahu akan segala sesuatu: ingin tahu akan asal usul, pelaku, alasan, akibat, tujuan dan guna dari segala yang ada di bumi. Makhluk lain mungkin ada yang memiliki rasa ingin tahu, tetapi itu hanya sangat terbatas dan tidak muncul pada setiap saat. Manusia memang menggunakan sifat ingin tahu, curiosity, itu sehingga ilmu pengetahuan, budaya dan juga agama bisa berkembang.

Dari satu segi, rasa ingin tahu itu memang baik. Walaupun begitu, rasa ingin tahu yang berlebihan bisa saja membawa masalah. Mereka yang “kepo” misalnya, mungkin dianggap orang yang sok tahu, usil dan ingin mencampuri urusan orang lain. Orang yang demikian seringkali mengundang kesulitan kepada dirinya sendiri. Tidak hanya kemarahan orang bisa timbul bagi mereka yang usil, hal-hal yang lebih buruk bisa terjadi pada mereka yang secara sengaja atau tidak, menemukan rahasia orang lain. Curiosity killed the cat, tulis Shakespeare.

Rasa ingin tahu tidak terbatas pada hal-hal yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Manusia dari awalnya ingin tahu bagaimana segala sesuatu di bumi ini bisa muncul. Siapa yang bisa menciptakan segala sesuatu yang bernafas dan yang mati? Dalam hal ini umat Kristen percaya bahwa hanya karena kemurahan Tuhan, manusia bisa mempunyai kesadaran tentang adanya Tuhan semesta alam, pertama-tama melalui segala ciptaanNya, kemudian melalui firmanNya, dan yang paling nyata adalah dalam diri Yesus, Firman yang hidup.

Pengenalan akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu tidaklah menghentikan usaha manusia untuk mencari jawaban akan apa yang akan terjadi di masa depan. Sejarah membuktikan dimana saja ada orang-orang yang dikenal sebagai manusia istimewa, yang bisa melihat ke masa depan. Sebagian dari ramalan mereka, seperti apa yang ditulis Jayabaya dan Nostradamus, masih sering menjadi topik diskusi masyarakat tertentu.

Sampai sekarang tentu kita bisa menemukan orang-orang yang mengaku bisa melihat jalan kehidupan manusia, meramalkan masa depan seseorang, atau meramalkan apa yang bakal terjadi di dunia. Mereka bisa melakukan hal itu dengan memakai kartu, membaca garis tangan, melalui ritual tertentu, atau menafsirkan mimpi dan semacamnya.

Dalam Alkitab memang Tuhan pernah menyatakan apa yang akan terjadi kepada orang-orang tertentu, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi Alkitab juga menulis adanya orang-orang yang disesatkan oleh iblis yang bekerja melalui berbagai cara. Apa yang pasti adalah Tuhan menyatakan kehendakNya sesuai dengan cara dan pada saat yang ditentukanNya, bukan untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia pada saat dan melalui cara yang mereka sukai. Pada pihak yang lain, manusia dari awalnya selalu ingin tahu apa yang akan terjadi dan karena itu iblis seringkali menggunakan kesempatan untuk menyesatkan melalui cara-cara yang dipilih manusia.

Ayat diatas adalah peringatan Musa kepada bani Israel untuk tidak mencari nasihat dari para peramal dan petenung, karena perbuatan itu tidak hanya merendahkan Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu, tetapi juga membuka kesempatan bagi iblis untuk menyesatkan umatNya. Pada masa sekarang peramal dan petenung masih bisa ditemui. Bagi mereka yang merasa berpikiran “maju”, mungkin sudah ada rasa segan atau malu untuk mempercayai ramalan mereka. Tetapi, apa yang dianggap tetap aktuil dalam masyarakat saat ini adalah ramalan masa depan berdasarkan kartu tarrot, garis tangan, zodiak, shio, impian dan pengelihatan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi, karena segala sesuatu yang terjadi harus sesuai dengan kehendak atau izin Tuhan. Usaha manusia untuk meramalkan masa depan tidak lain adalah perbuatan sia-sia yang merendahkan Tuhan. Usaha merampas kemahakuasaan Tuhan. Bagi umat Tuhan yang sejati, masa depan mereka berada dalam tangan kasihNya; karena itu, mereka seharusnya tidak memusatkan perhatian kepada apa yang fana, tetapi kepada apa yang kekal yaitu firmanNya.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus 4: 13 – 14

Iman yang memindahkan gunung

“Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Sebuah survei acak yang dilakukan oleh by Win-Gallup International pada tahun 2012 menemukan 48% penduduk Australia mengaku tidak mempunyai agama; 37% beragama; dan 10% yakin bahwa mereka ateis. Sebelum itu, dari penyelidikan Pippa Norris and Ronald Inglehart (2004) diperkirakan 25% penduduk Australia tidak mengenal adanya konsep tuhan. Pada pihak yang lain, sensus nasional tahun 2016 menemukan bahwa kira-kira 30% penduduk Australia (atau sekitar 7 juta orang) mengaku tidak beragama, dan 52% dari penduduknya mengikuti berbagai ragam ajaran kekristenan.

Bagaimanapun juga, Australia pada saat ini tidak dapat digolongkan sebagai negara Kristen ataupun negara yang beragama. Memang di dunia, Australia menempati kedudukan nomer 14 dari bawah untuk keagamaan dan urutan 11 dari atas untuk ateisme. Australia adalah negara sekuler. Seiring dengan keadaan itu, Australia mengalami banyak masalah sosial dengan tingginya angka perceraian, angka bunuh diri kaum muda, pemakaian narkoba dan kebebasan seks.

Jika kita membaca ayat diatas, mungkin dapat kita bayangkan bahwa Yesus akan mengatakan hal yang serupa kepada penduduk Australia yang nampaknya kurang berhasil mengatasi berbagai masalah sosial itu. Sudah tentu Yesus menggunakan kata “gunung” sebagai metafor untuk menyatakan masalah hidup yang besar. Yesus menyatakan kepada kita bahwa banyak persoalan hidup kita disebabkan oleh iman yang sangat lemah. Jika kita mempunyai iman yang sekecil biji sesawi (sebagai metafor), tentu kita akan dapat mengatasi masalah. Pesan inilah yang sering disampaikan di gereja.

Iman yang lemah, iman yang terlalu kecil, adalah iman yang tidak bekerja. Itu adalah apa yang sering dikatakan orang jika apa yang diharapkan orang lain tidak kunjung terjadi. Bagi mereka yang mengharapkan pertolongan Tuhan, “vonis” ini bukannya memperbaiki suasana, tetapi malahan bisa menambah duka. Karena mungkin beribu doa dalam nama Yesus sudah disampaikan, tetapi apa yang diminta tidak terjadi. Mungkin dalam hal ini, orang lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih bisa mempunyai rencana yang berbeda dengan harapan manusia. Selain itu, orang lupa bahwa iman bukanlah hasil usaha sendiri, tetapi adalah pemberian Tuhan. Karena itu iman harus dipakai sejalan dengan kehendakNya.

Tuhan sudah memberikan iman sebagai karunia bagi umatNya, sehingga mereka mau meninggalkan hidup lama dan menyerahkan hidup kepada Tuhan. Tuhan jugalah yang menambahkan iman dan membimbing hidup orang Kristen untuk bisa hidup sesuai dengan perintahNya. Dalam hal ini, bukanlah ukuran iman yang penting, tetapi bagaimana kita mau untuk memakai iman yang ada guna menjalani hidup kita hari demi hari. Dengan itu, keyakinan kita akan bertambah hari lepas hari, bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana.

Dalam hidup ini memang kita harus menghadapi berbagai gunung rintangan dan masalah. Tuhan bisa memindahkan gunung rintangan itu ketempat lain, tetapi Ia seringkali memberi kita iman untuk kuat mendakinya. Memang jika kita berhasil mencapai puncak gunung, gunung yang sebelumnya kita hadapi menjadi lenyap.

Pagi ini, apa yang harus kita lakukan adalah mempercayakan semua tantangan hidup kita kedalam tangan pemeliharaan Tuhan dan memohon agar Ia tetap menambahkan iman kita sehingga makin lama kita makin mampu menghadapi hidup ini dengan penyerahan total kepada kuasa dan kasihNya. Total surrender.

Berserah kepada Yesus,

tubuh, roh, dan jiwaku.

Aku ingin s’lalu hidup,

bagi Yesus Tuhanku.

Aku berserah,

aku berserah,

pada Yesus, Jurus’lamat,

aku berserah.

Kebahagiaan adalah karunia dan kewajiban

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Be happy! Bergembiralah! Begitulah anjuran banyak motivator kepada mereka yang merasa susah atau tertekan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak semua orang, dan karena itu setiap orang seharusnya mencari dan bahkan berusaha keras untuk memperolehnya. Mereka yang tidak mau mencarinya akan mengalami kerugian karena setiap orang berhak untuk bahagia. Betulkah begitu?

Menurut banyak ahli sosial, kebahagiaan manusia bukanlah hak ataupun berkat. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat kita tuntut ataupun sesuatu yang harus kita syukuri. Tetapi, kebahagiaan adalah pilihan setiap orang atau choice. Kebahagiaan ada tersedia bagi seluruh umat manusia, tetapi orang harus memilihnya untuk bisa berbahagia.

Konsep kebahagiaan menurut Alkitab lain dengan konsep duniawi diatas. Kebahagiaan duniawi, happiness, adalah menyangkut soal happy, yaitu kebahagiaan karena kebutuhan manusiawi kita sudah terpenuhi. Sebaliknya, kebahagiaan surgawi adalah kebahagiaan kekal yang tidak tergantung situasi dan kondisi. Dalam bahasa Inggris mungkin kata joy, lebih cocok dari pada kata happy. Sehubungan dengan kata joy atau sukacita itu, ada kata joyful untuk menyatakan rasa sukacita besar yang datangnya dari hati.

Dari mana datangnya rasa sukacita? Menurut Alkitab, sukacita yang sejati datang dari Tuhan. Manusia dengan keterbatasannya hanya bisa mendapat kebahagiaan yang datang dari apa yang bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Tetapi rasa sukacita datang melalui iman kepada Tuhan, karena dengan iman manusia percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertainya. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Rasa sukacita adalah karunia Tuhan, karena tanpa Dia, apa yang kita rasakan sebagai kebahagiaan hari ini, mungkin tidak dapat membuat kita bahagia esok hari. Tidak ada yang kekal di muka bumi! Tetapi, Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang menghendaki kita mempunyai rasa sukacita, karena itu Ia memberi kita keyakinan akan penyertaanNya pada setiap saat. Rasa sukacita sejati yang hanya diberikanNya kepada orang yang percaya.

Tuhan juga memerintahkan umatNya untuk bersukacita dalam setiap keadaan. Ini tidak mudah karena iman kita selalu diuji pada saat penderitaan terjadi dalam hidup kita. Paulus dalam hal ini adalah seorang Rasul yang sudah belajar untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan dan untuk tetap bisa bersukacita, rejoicing, setiap saat. Ia tahu bahwa jika ia bisa tetap bersukacita dalam segala keadaan itu karena adanya kekuatan dari Tuhan. Dengan demikian, nama Tuhanlah yang akan dipermuliakan dalam sukacitanya.

Pagi ini, apakah anda mengalami masalah yang besar? Apakah anda merasakan sulitnya untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup? Firman Tuhan berkata bahwa kita seharusnya bersukacita karena keselamatan yang sudah kita terima. Kita juga bersukacita karena iman yang membawa keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman. Lebih dari itu kita bisa bersyukur karena apa yang tersedia di surga untuk kita, tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang ada saat ini.

Bagaimana reaksi anda atas perintah Tuhan untuk bersukacita senantiasa? Itu adalah pilihan anda, menurut atau tidak adalah keputusan masing-masing. Biarlah Roh Kudus yang membuka hati kita dan mengingatkan kita kepada kemurahan Tuhan dalam hidup kita.