Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15
Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah SMS yang berisi sebuah kabar gembira. Berita berbahasa Inggris itu itu berbunyi: “Nomer HP anda sudah memenangkan 3 juta poundsterling, untuk mengklaim silahkan kontak alamat web ini…”. Tentu anda tahu bahwa semua SMS semacam ini hanyalah tipuan saja. Di Indonesia banyak juga hal yang serupa, walaupun hadiahnya mungkin tidak sebesar yang dijanjikan kepada saya. Kabar gembira seperti itu setidaknya bisa membuat kita tertawa geli, karena kebohongan yang terang-terangan terlihat. Walaupun demikian, sebagian orang menanggapi kabar semacam itu dengan serius, dan karena itu mereka sering terjebak dalam hal-hal yang menimbulkan banyak masalah.
Di Australia, kasus penipuan melalui media elektronik sangat sering terjadi. Tidak semua penipuan berisi kabar gembira yang menjanjikan hadiah uang; sebagian malahan berisi ancaman agar orang membayar sejumlah uang karena mereka seolah terlibat dalam pelanggaran hukum. Dengan kabar buruk ini, orang yang merasa takut kemudian membayar sejumlah uang. Tahun lalu saja, orang membayar sekitar 3 juta dolar karena tertipu oleh kabar buruk palsu yang seolah berasal dari kantor pajak. Pada tahun itu juga, hampir 500 juta dolar diperkirakan lenyap akibat semua jenis penipuan eletronik di Australia. Gara-gara uang manusia menjadi tamak dan melakukan kejahatan, gara-gara uang juga orang bisa tertipu dan dirugikan.
Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, uang mungkin identik dengan berkat dan kasih Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup disebabkan oleh tidak adanya uang atau karena adanya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, kehilangan uang mungkin berarti kehilangan berkat dan kasih Tuhan. Bukankah Tuhan yang mahakaya dan mahakasih mengerti bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup di dunia dan senang jika mempunyai banyak uang?
Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar. Tetapi firman Tuhan di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa kehilangan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.
Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta.
Pagi ini kita diingatkan bahwa ketamakan membuat orang lupa bahwa hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan. Ini adalah bencana. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan (1 Timotius 6: 9 – 10). Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan, baik itu kelimpahan ataupun kekurangan.
“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 11 – 13


Dalam perjalanan ke luar negeri baru-baru ini saya mendapat kesempatan untuk membandingkan keadaan sosial-ekonomi dari beberapa negara. Dalam beberapa negara yang ekonominya kuat, saya membayangkan tentunya tidak ada orang gelandangan (homeless people) di tengah kota. Harapan saya ternyata adalah hampa karena agaknya keadaan ekonomi sebuah negara belum tentu seirama dengan keadaan sosial rakyatnya.
Pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.
Di zaman ini, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari, seringkali ada opini yang menyudutkan golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?
Hari ini saya pergi ke sebuah museum di Copenhagen. Sebenarnya saya bukanlah orang yang gemar mengunjungi museum, tetapi saya menyempatkan diri karena kebetulan museum itu dibuka gratis untuk umum.
Bagi saya, perjalanan ke luar negeri sering membawa berbagai kesan. Selain kesan yang baik, kesan yang kurang baik juga bisa muncul. Di beberapa negara jelas terlihat bahwa rakyat hidup dalam kecukupan, sehingga mereka yang tidak mempunyai posisi tinggi pun tetap dapat menikmati berbagai hal yang tergolong mewah di negara lain.
Siapa saja yang ke Eropa tentu bisa melihat bahwa banyak kota disana yang memiliki gedung-gedung gereja kuno yang sangat indah arsitekturnya. Walaupun demikian, kebanyakan gedung gereja yang besar dan megah itu sekarang cenderung berfungsi sebagai museum daripada sebagai tempat berbakti kepada Tuhan.