Kewajiban kita untuk memelihara lingkungan

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kejadian 2: 15

Dalam perjalanan ke negara-negara di sekitar laut Baltik baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana kesehatan lingkungan terlihat terpelihara di negara-negara tertentu, tetapi agak kacau di beberapa negara lain. Pada umumnya negara-negara yang tidak terlalu besar dan ekonominya baik, lebih terlihat bersih dan rapi.

Jika dengan melihat adanya berbagai sarana umum saya bisa menghargai hasil kerja pemerintah setempat dalam mengatur negara itu, saya juga bisa mengerti bagaimana penduduk setempat ikut memelihara kebersihan dan kenyamanan hidup dari apa yang bisa saya lihat di tempat umum seperti pasar dan pertokoan. Memang kenyamanan hidup di suatu negara juga tergantung dari sikap penduduknya, yaitu dalam hal menyadari adanya kewajiban bersama untuk ikut memelihara lingkungan.

Kewajiban untuk memelihara lingkungan dan alam semesta (stewardship of the land) adalah perintah Tuhan seperti yang tertulis dalam ayat di atas. Walaupun demikian, banyak gereja dan pendeta yang jarang membahasnya – mungkin karena anggapan bahwa semua itu hanya menyangkut hal duniawi dan merupakan kewajiban pemerintah. Tetapi, doktrin untuk memelihara alam semesta adalah sangat penting, dimana Tuhan yang memiliki alam semesta, menugaskan manusia untuk menjadi wakilNya di dunia. Umat Kristen adalah teman sekerja Tuhan, dan melalui kita Ia membangun kerajaanNya di bumi.

“Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” 1 Korintus 3: 9

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama hidup di dunia kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup kita. Ini bukan saja menyangkut tanggung jawab kita atas keadaan alam, kesehatan lingkungan dan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut cara hidup dan tindak-tanduk kita yang bisa mempengaruhi orang-orang di sekitar kita.

Dalam segala sesuatu yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, kita harus sadar bahwa kita adalah wakil dan duta besar kerajaan Tuhan di dunia. Selain itu, kabar baik yang kita sampaikan kepada seisi dunia, bukan saja mengenai kebahagiaan di surga tetapi juga mengenai keadilan sosial dan kesehatan lingkungan yang seharusnya bisa dinikmati setiap manusia di dunia.

Hidup dalam kebenaran setiap saat

“Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” 1 Yohanes 3: 24

Di sebuah kota di Eropa, baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana padatnya lalu-lintas pada waktu jam sibuk. Pada daerah tertentu, karena jalan macet orang memarkir mobil di tengah jalan sambil menyalakan lampu bahaya (hazard lights). Belum pernah saya melihat kejadian seperti itu di negara mana pun. Pada waktu itu polisi tidak terlihat dan kekacauan agaknya disebabkan oleh pengemudi mobil yang tidak peduli akan orang lain atau peraturan lalu lintas yang ada.

Polisi memang perlu untuk menegakkan hukum, tetapi masyarakat umum seharusnya menaati hukum dan peraturan setiap saat dan bukannya hanya sewaktu ada hamba hukum. Jika orang hanya melaksanakan hukum karena takut dihukum, kekacauan akan terjadi jika tidak ada aparat hukum atau orang yang bisa melihat atau melaporkan adanya pelanggaran hukum.

Begitulah semua manusia memang mempunyai kecenderungan untuk melanggar hukum jika keadaan memungkinkan. Dari kitab Kejadian kita tahu bahwa ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan mereka tidak sadar bahwa Tuhan tahu apa mereka lakukan. Sejak itu umat manusia melakukan berbagai dosa karena tidak sadar bahwa Tuhan selalu mengawasi mereka. God is watching us.

Bagaimana pula dengan orang Farisi yang mengharuskan masyarakat Yahudi untuk menjalankan hukum Taurat? Apakah mereka sendiri adalah orang yang taat? Mereka mengubah pelaksanaan hukum Taurat karena mereka sendiri tidak dapat menjalankan hukum itu dengan sepenuhnya. Seperti itu, kita pun sering berbuat dosa jika tidak ada peraturan manusia yang melarangnya. Sekalipun kita tahu apa yang baik, kita cenderung untuk melakukan apa yang tidak baik tetapi mudah dilakukan.

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 19

Bagaimana kita yang mengaku umat Kristus bisa menaati firmanNya? Ayat di atas menyatakan bahwa barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Orang Kristen bisa menaati semua firman Tuhan kalau Tuhan benar-benar di dalam hatinya. Tuhan berbicara dengan orang itu, membimbingnya dan memberi kekuatan untuk berusaha memilih apa yang baik.

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa orang yang mempunyai Tuhan dalam hidupnya selalu memiliki kesadaran akan apa yang dikendaki Tuhan dalam setiap keadaan, karena Roh Kudus telah dikaruniakan kepada mereka dan menyertai setiap langkah kehidupan mereka. Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak hanya berusaha menaati hukum dan etika ketika mereka melihat adanya penegak hukum atau karena takut menerima sanksinya, tetapi karena mereka tahu apa yang dikehendaki Tuhan!

Manusia manakah yang tidak mengerti kebutuhan rohaninya?

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2: 14

Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah adanya jasmani dan rohani dalam diri mereka. Jika makhluk lain hanya hidup dalam bentuk jasmani dan tidak mampu atau pernah memikirkan kemungkinan adanya kuasa Ilahi, kebutuhan spritual, keselamatan, kedamaian jiwa dan hal-hal kerohanian lainnya, Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya lengkap dengan jasmani dan rohani.

Jasmani dan rohani adalah dua unsur yang mutlak diperlukan dalam hidup manusia. Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, segi rohani ini mungkin hanya dipikirkan sebagai hal kejiwaan atau psikologis semata. Bagi mereka, tubuh dan jiwa akan hilang dengan datangnya kematian. Tetapi, bagi mereka yang beriman, segi rohani ini tentunya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan dan tetap ada sekalipun tubuh jasmani manusia sudah lenyap.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa keadaan rohani manusia ditentukan oleh jiwa dan roh, tetapi sebagian lagi menganggap jiwa dan roh adalah satu. Terlepas dari ada-tidaknya perbedaan pengertian antar umat Kristen mengenai hubungan tubuh, jiwa dan roh, jelas bahwa orang Kristen percaya bahwa segi rohani yang menyatakan adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah sangat penting karena adanya hidup di masa depan, sesudah tubuh jasmani ini berakhir.

Bagi orang yang hanya percaya bahwa hidup mereka hanya sekali saja dan tidak percaya kepada Yesus, semua hal yang berbau rohani tidaklah dapat dimengertinya. Hidup bagi mereka adalah untuk mencapai keberhasilan secara jamani: tubuh kuat, pikiran sehat, dan hidup pun nyaman. Ini tidak mengherankan karena mereka tidak menerima pengetahuan tentang kebahagiaan rohani di bumi dan di surga.

Dalam kenyataannya, bukan hanya mereka yang tidak mengenal Tuhan yang tidak dapat mengerti pentingnya soal rohani. Banyak orang yang mengaku Kristen, lebih sering mementingkan kebutuhan jasmani mereka. Mereka mau bekerja keras untuk mencapai keberhasilan jasmani, tetapi tidak mau memikirkan kebutuhan rohani mereka. Waktu adalah uang, time is money, dan karena itu mereka tidak mau terlalu memikirkan hal rohani.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan sudah memberikan segala apa yang baik untuk hidup rohani kita. Untuk itu, pendalaman firman Tuhan dan memberi prioritas kepada pertumbuhan rohani kita bukanlah suatu kebodohan. Memang semua itu tidak membawa keuntungan jasmani, tetapi apa gunanya jika kita memperoleh segala kenikmatan duniawi tetapi jiwa kita menderita dan bahkan binasa?

Antara otoritas dan otoriter

“Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?” 1 Korintus 4: 20 – 21

Otoritas dan otoriter adalah dua kata yang bunyinya mirip tapi berbeda artinya. Biasanya kedua kata ini dipakai sehubungan dengan pemerintahan, tetapi juga bisa dikenakan kepada individu. Baik individu maupun pemerintah bisa mempunyai otoritas dan bisa bertindak secara otoriter.

Otoritas bisa mempunyai banyak arti. Seringkali kata itu diartikan sebagai kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya. Tetapi kata itu juga bisa diartikan sebagai hak untuk bertindak; kekuasaan; wewenang; atau hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain

Otoriter adalah sebuah sikap yang mengambil keputusan terlebih dahulu tanpa mempertimbangkan akibatnya. Pemimpin yang otoriter biasanya memiliki 3 ciri khas, yaitu menolak keanekaragaman pendapat, tidak menghargai pendapat orang lain, dan selalu memaksakan kehendak pribadi.

Dalam hidup ini kita bisa melihat orang-orang dan pemerintah yang menggunakan otoritas yang dimiliki mereka untuk mengatur dan memimpin dalam masyarakat, tetapi ada juga mereka yang menggunakan otoritas mereka secara otoriter dan sewenang-wenang. Ini bukan saja terjadi dalam organisasi dan pemerintahan, tetapi juga dalam hidup berkeluarga. Bagaimana kita sebagai orang Kristen harus bersikap?

Tuhan Yesus, ketika akan kembali ke surga memberi perintah untuk mengabarkan injil dan juga otoritas untuk membaptis dan mengajar kepada para muridNya karena Ia sebagai Anak Allah sudah diberi semua otoritas, baik di surga maupun di bumi.

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 18 – 20

Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita juga mempunyai tugas dan otoritas yang serupa dengan muridNya. Walaupun demikian, itu bukan berarti bahwa kita boleh melaksanakannya secara otoriter. Mengabarkan injil tidak dapat dilakukan dengan paksaan, mengajar orang untuk mengikuti firman Tuhan bukannya dengan kekerasan.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai hamba Tuhan ia sudah memperoleh kuasa. Walaupun demikian, ia tahu bahwa adalah lebih baik baginya untuk menegur mereka bukan dengan cambuk tetapi dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut. Begitu juga kita dalam segala segi kehidupan, harus bisa menggunakan segala bentuk otoritas dari Tuhan dengan kasih dan bukannya secara otoriter.

Yesus benar-benar Tuhan dan Raja

“Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.” 2 Petrus 1: 16

Kemarin dalam rangka perjalanan ke beberapa negara di Eropa, saya sempat berjalan-jalan di ibukota negara Denmark, Copenhagen. Bagi orang Indonesia, Denmark mungkin dikenal sebagai tempat tinggal penulis dari abad 19 yang terkenal di seluruh dunia: Hans Christian Andersen. Penulis ini dikenal sebagai penulis dongeng anak-anak yang berjumlah 3381 dan sudah diterjemahkan kedalam lebih dari 125 bahasa. Patung Hans yang terbuat dari tembaga ada di tengah kota Copenhagen.

Dongeng-dongeng yang ditulis Hans adalah karya-karya seni untuk pengembangan moral dan ketabahan mental anak-anak dan sudah diakui sebagai karya sastra bermutu di dunia barat. Jika anak-anak tentunya mempunyai kesempatan untuk berimajinasi karena dongeng-dongeng itu, orang dewasa pun banyak yang menyukainya karena hal yang sama. Dongeng memang bisa membawa kenikmatan berkhayal yang tidak ada batasnya.

Dalam kenyataan hidup, daya khayal manusia memang bisa membawa berbagai keuntungan. Bukan saja khayalan bisa memberi rasa nikmat, dan untuk sejenak membawa manusia ke alam maya, banyak khayalan manusia, seperti hal berpergian ke luar angkasa, akhirnya bisa menjadi kenyataan.

Walaupun demikian, kemampuan manusia untuk berkhayal juga bisa membawa kerugian. Ada orang-orang yang karena tidak dapat menghadapi kenyataan hidup, kemudian beralih ke dunia fantasi pribadi. Selain itu, ada orang yang berusaha memperdaya orang lain dengan memakai kabar bohong hasil khayalannya. Lebih dari itu, ada orang yang karena tidak mengerti apa yang benar-benar terjadi, kemudian terpaksa berpegang pada apa yang bisa difahami menurut pengertian dan khayalan sendiri. Hal-hal di atas sering terjadi pada manusia manapun dan dimanapun karena keterbatasan kemampuan mereka.

Dalam ayat di atas, sebagai umat Kristen kita diperingatkan oleh rasul Petrus bahwa iman kita tidaklah berdasarkan dongeng-dongeng isapan jempol manusia. Ketika Petrus dan rekan-rekannya memberitakan kuasa dan kedatangan Yesus, mereka yakin bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja di atas segala raja karena mereka adalah saksi mata dari kebesaranNya.

Pagi ini, adakah keraguan kita bahwa Yesus itu Tuhan yang mahakuasa? Mungkinkah kita masih membayangkan bahwa Ia adalah sekadar manusia yang baik budi dan dipilih Tuhan untuk menjadi rasulNya? Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak mendengarkan ajaran manusia yang seringkali berupa dongeng isapan jempol saja. Sebaliknya, kita harus berpegang pada iman yang benar, seperti yang pernah diberitakan oleh Rasul Petrus.

Jangan biarkan perasaan menjadi tumpul

“Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.” Efesus 4: 19

Dalam kehidupan sehari-hari ada istilah “orang yang tidak berperasaan”, yang artinya orang yang tidak lagi sensitif atas suatu hal yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang sedemikian adalah orang yang “kebal”, yang tidak lagi dapat merasakan hal-hal yang kurang baik yang dilakukan oleh dirinya sendiri atau orang lain.

Ada banyak faktor yang bisa membuat orang kehilangan perasaan. Biasanya, faktor-faktor seperti lingkungan, kebiasaan, budaya, pendidikan, hukum dan agama mempunyai andil dalam membentuk perasaan seseorang. Tetapi, pada akhirnya setiap orang tentunya bertanggung jawab atas kehidupannya.

Adalah kenyataan bahwa karena banyaknya hal yang dianggap biasa atau normal, lambat laun membuat orang tidak peka dan kemudian kehilangan perasaan. Dengan demikian, hal- hal yang bisa membuat orang lain mengerutkan dahi atau menghela nafas, untuk mereka adalah soal yang tidak lagi perlu dipikirkan.

Jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, ada banyak contoh dimana orang tidak lagi merasa canggung untuk berbuat dosa. Di dunia ini, mereka yang melakukan korupsi, perbuatan asusila, perampasan, pencurian, penipuan dan semacamnya sering muncul di koran, dan para pelakunya mungkin tidak lagi menakuti sanksi atau hukuman yang ada. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari, hubungan antar manusia juga berubah sehingga apa yang dulu tidak baik, sekarang dianggap sebagai bagian hak azasi, kebebasan atau budaya manusia modern.

Mereka yang membaca hal-hal ini di media, mungkin juga sudah tidak lagi heran dan karena itu kurang sensitif atas penyebab dan akibat perbuatan jahat semacam itu. Masyarakat dalam hal-hal tertentu justru menganggap apa yang dulunya jahat atau dosa sebagai sesuatu yang lumrah, dan malahan memusuhi orang yang berusaha mengingatkan bahwa firman dan hukum Tuhan tidaklah berubah sepanjang zaman.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dalam satu segi kita mungkin sudah mengalami perubahan, yaitu dari tidak mengenal Yesus, kita sekarang sudah mengakui Dia sebagai Juruselamat kita. Walaupun demikian, mengakui dengan mulut saja belumlah berarti bahwa kita sudah menerima Dia dengan sepenuhnya. Jika kita tidak membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita, hidup kita tidaklah akan berubah menjadi semakin baik. Sebaliknya, jika Roh Kudus bekerja dengan sepenuhnya dalam hati kita, Ia akan membimbing kita hingga perasaan kita tidak akan menjadi tumpul.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Efesus 4: 17

Bukan cinta buta

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9

Apa arti kata cinta buta? Cinta buta mungkin bisa diartikan sebagai rasa cinta yang tidak berdasarkan alasan yang bisa diterima akal sehat. Selain itu, kejadian dimana seseorang jatuh cinta kepada orang lain yang tidak benar-benar dikenal, dalam pandangan umum mungkin adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa cinta itu buta. Love is blind.

Banyak orang yang berpendapat bahwa cinta itu pada umumnya seharusnya tidak buta dan manusia yang jatuh cinta tidak seharusnya membabi-buta. Memang jika dua insan bisa jatuh cinta tanpa mengenal dan mengetahui sifat masing-masing, itu tentunya membawa resiko. Dan orang yang tahu bahwa orang yang disenanginya adalah buruk sifatnya tetapi tetap bertekad untuk hidup dengan orang itu, tentunya adalah orang yang buta pikirannya.

Bagi orang yang melihat umat Kristen yang mengaku Yesus sebagai Juruselamat mereka dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati, mungkin ada juga perasaan bahwa cinta umat Kristen adalah buta. Bagaimana mungkin mereka mengasihi seseorang yang tidak pernah dijumpai? Bukankah Yesus hanya ada dalam Alkitab? Mungkin umat Kristen adalah orang-orang yang bodoh!

Dari ayat diatas kita bisa mengetahui bahwa kasih kita kepada Yesus adalah karena Ia sudah memungkinkan kita untuk menerima keselamatan. Yesus sudah lebih dulu mengasihi kita, dengan mau mati berkurban untuk menebus dosa manusia. Tidak ada orang yang bisa menjamin keselamatan kita selain Yesus, Anak Tunggal Allah. Karena itu sekalipun kita belum pernah melihat Dia, kita sudah bisa merasakan kehadiranNya dalam hidup kita.

Pagi ini, kita bisa merenungkan keadaan disekitar kita. Adakah orang atau oknum yang bisa menjanjikan keselamatan untuk manusia? Adakah orang yang pernah memastikan bahwa di surga ada banyak tempat kediaman untuk orang percaya? Semua tokoh agama di dunia mengharuskan manusia untuk mencapai surga dengan usaha sendiri. Apa itu mungkin dilakukan?

Dengan usaha sendiri, manusia tidak akan dapat memenuhi standar kesucian Tuhan. Menurut Tuhan semua manusia sudah berdosa dan hidup mereka seharusnya berakhir di neraka. Hanya Yesus yang sanggup memberi kita keselamatan, dan hidup kekal karena Ia adalah Tuhan sendiri. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa orang Kristen bisa merasakan sukacita yang luar biasa dalam hidup mereka. Roh Kudus yang ada dalam hati kita sudah membuka mata rohani kita sehingga kita yang dulunya buta, sekarang bisa melihat kasihNya.

Amazing Grace, How sweet the sound

That saved a wretch like me

I once was lost, but now am found

T’was blind but now I see

Arti liburan untuk orang Kristen

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Akhir minggu ini adalah permulaan liburan bagi banyak sekolah dan universitas di Australia. Pada umumnya liburan ini berlangsung selama dua minggu, kecuali untuk sekolah swasta yang mempunyai lebih banyak hari libur. Biasanya, pada musim liburan seperti ini tempat kamping (camping ground) di berbagai tempat pesiar dipenuhi banyak caravan.

Liburan adalah sesuatu yang umumnya disambut orang dengan gembira, kalau itu diartikan sebagai kesempatan untuk beristirahat dan menikmati hidup. Walaupun demikian, bagi mereka yang tetap harus bekerja atau tidak mempunyai kesempatan untuk berlibur, adanya hari libur mungkin bisa mendatangkan rasa sebal.

Alkitab tidak secara jelas membahas soal liburan selain adanya satu hari yang dikhususkan untuk beristirahat dan memuliakan Tuhan. Memang diluar libur sehari dalam seminggu, hari libur lainnya ditentukan oleh kebijaksanaan pemerintah atau organisasi setempat. Dalam hal ini banyak negara yang menentukan adanya liburan selama beberapa minggu dalam setahun kepada mereka yang bekerja, agar mereka dapat beristirahat untuk memulihkan keadaan tubuh dan pikiran.

Walaupun tidak jelas dikemukakan, sebenarnya Alkitab juga memberi gambaran adanya liburan untuk prajurit Israel pada kitab 1 Tawarich 27: 1.

“Adapun orang Israel, inilah daftar para kepala puak, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pengatur yang melayani raja dalam segala hal mengenai rombongan orang-orang yang bertugas dan libur, bulan demi bulan, sepanjang tahun. Setiap rombongan berjumlah dua puluh empat ribu orang.”

Ternyata, pada zaman dulu orang sudah mengerti perlunya untuk bekerja dan berlibur. Memang, jika orang harus bekerja terus tanpa adanya liburan panjang, mereka akan mudah menjadi lelah (fatigue).

Jika liburan panjang itu perlu, apa yang bisa dikerjakan pada waktu itu? Pertanyaan ini agaknya aneh bagi mereka yang ingin untuk 100% beristirahat tanpa mau memikirkan pekerjaan atau tugas. Tetapi, bagi mereka yang senang bekerja, pertanyaan ini adalah lumrah. Jika liburan tidak diisi dengan kegiatan, memang itu bisa juga membosankan dan juga melelahkan. Lalu kegiatan apa yang sebaiknya dilakukan?

Bagi umat Kristen, liburan panjang bukan berarti libur dari memuliakan Tuhan. Banyak orang yang berpikir bahwa selama liburan kegiatan memuji Tuhan dan bersyukur kepadaNya boleh dikurangi. Namun ayat pembukaan kita berkata bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan, kita wajib melakukannya dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah, Bapa kita. Dengan demikian, adanya liburan dari pekerjaan dan aktivitas rutin justru seharusnya memberi kita kesempatan yang lebih besar untuk bersyukur atas kasihNya. Dengan demikian, liburan panjang adalah sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

Berpihak kepada siapa?

“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Yakobus 4: 4

Bulan ini pertandingan tenis Wimbledon dimulai. Mereka yang menggemari tenis tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menonton TV channel yang menyiarkan pertandingan ini. Wimbledon adalah turnamen tenis yang paling tua sedunia dan dipandang paling elit diantara pertandingan tenis grand slam lainnya.

Bagi mereka yang mengikuti Wimbledon, sistim pertandingannya tidaklah jauh berbeda dengan pertandingan sepakbola sedunia. Setiap pemain yang terpilih untuk ikut bertanding harus menghadapi lawannya, dan jika menang ia bisa maju ke babak berikutnya. Dalam hal ini, pecinta tenis sejati tentu mempunyai seorang pemain favorit yang diharapkan untuk memenangkan semua pertandingannya dan kemudian menjadi juara. Bagi mereka, tidak ada pemain lain yang patut dikagumi selain favorit mereka.

Bagi orang-orang Kristen sejati, Tuhan adalah satu-satunya Oknum yang patut dihormati. Mereka percaya bahwa tidak ada hal, benda atau makhluk apapun yang bisa dimuliakan selain Tuhan. Semua yang di luar Tuhan adalah kesia-siaan dan pada akhirnya akan lenyap atau mati. Karena itu, Tuhan yang mengasihi umatNya, ingin agar mereka selalu menyadari bahwa jika ada yang terlihat sebagai sesuatu yang berharga di mata manusia, semua itu bukanlah tandingan Tuhan.

Adalah suatu yang mengherankan jika ada orang Kristen yang masih mengagumi sesuatu yang terlihat berharga di dunia ini. Mungkin itu adalah cara hidup, gaya hidup, harta-benda, karir ataupun orang-orang tertentu yang dikagumi. Bagi Tuhan, semua itu adalah tindakan penyelewengan. Bagaimana bisa orang yang mengaku bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang mahakuasa, Sang Juara di atas segala juara, tetapi tetap mau mendukung apa yang fana?

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu jika Ia melihat bahwa sebagian umatNya mempunyai banyak favorit, yang membuat mereka sering melupakan bahwa Tuhan saja yang patut disembah dan dimuliakan. Melihat umatNya yang bersahabat dengan dunia, Tuhan dengan tegas berkata bahwa mereka menjadikan diri mereka musuhNya. Umat Tuhan tidak bisa mendukung Tuhan dan juga pengikut dunia. Umat Tuhan tidak dapat menjadi pendukung Tuhan dan juga pendukung iblis.

Dalam pertandingan antara Tuhan dengan iblis, iblis sudah dikalahkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Mengapa pula ada orang-orang yang masih mengagumi iblis dan segala tipu-dayanya yang membawa kebinasaan?

Siapakah Tuhanmu?

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Di dunia ini ada banyak agama dan ada banyak orang yang beragama. Jika kita mungkin mengenal adanya sekitar 10 agama di suatu negara, itu tidaklah banyak. Diperkirakan ada sekitar 4200 agama di dunia. Sekitar 84% penduduk dunia mengaku beragama, dan sepertiga diantaranya menganut agama Kristen. Walaupun demikian, tidak ada data yang menjelaskan berapa banyak orang beragama yang mengenal Tuhan mereka.

Bagi mereka yang beragama, adanya Tuhan tentunya adalah suatu kenyataan tidak dapat dibantah. Mereka bisa melihat bahwa seluruh jagad raya tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mencipta dan yang mengatur. Apalagi, dalam hidupnya manusia bisa mengalami hal- hal yang ada di luar kuasa mereka. Karena itu, dari zaman purba manusia selalu berusaha mengenal siapa yang dibalik semua hal yang terjadi dalam alam semesta. Oknum yang mahakuasa yang ada dari awalnya itulah yang mereka percayai sebagai Tuhan,

Walaupun demikian, jika kepada orang yang beragama diajukan sebuah pertanyaan apakah mereka mengenal Tuhan mereka, seringkali jawabnya kurang meyakinkan. Tidak seorang pun yang pernah melihat sang tuhan, dan apa yang bisa dilihat biasanya adalah gambar, patung atau wakil/penjelmaan tuhan mereka. Sifat apa yang seharusnya nyata ada dalam Tuhan, seperti mahatahu, mahakuasa, kekekalan dan lain-lainnya, tidaklah bisa ditemukan di dunia. Semua “tuhan” yang ada di dunia adalah benda mati atau manusia yang pernah hidup atau yang bakal mati.

Bagaimana dengan Tuhan orang Kristen? Dapatkah orang Kristen mengenal Tuhan mereka? Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan yang mahabesar dan mahasuci jika Tuhan sendiri tidak membuat diriNya dikenal oleh umatNya. Pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diriNya dalam berbagai bentuk yang ajaib seperti api atau suara, tetapi manusia yang berdosa tidak dapat melihat Dia secara pribadi. Tuhan memang mengirimkan nabi-nabi untuk mewakiliNya, tetapi mereka semua adalah manusia fana yang berdosa dan tidak sempurna.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan jika Ia turun ke dunia sebagai manusia seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa dan tidak dapat mengalami kematian. Tuhan yang benar adalah sumber kehidupan dan karena itu tidak dapat dikalahkan maut. Tuhan yang mahahadir, sudah tentu ada dimana-mana di antara umatNya di segala zaman. Hanya satu Oknum yang bisa memenuhi persyaratan di atas: Yesus Kristus.

Pada ayat di atas ditulis bahwa pada saat sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Roh Allah turun seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Ayat di atas menegaskan bahwa bagi umat Kristen hanyalah ada satu Tuhan, dan Yesus Anak Allah adalah Allah sendiri yang turun ke dunia sebagai manusia yang dipenuhi Roh Allah. Yesus sudah lahir, mati, bangkit dan naik ke surga, dan itu dapat dilihat mata manusia dan tercatat dalam sejarah. Karena itu, bagi kita tidaklah sulit membayangkan bahwa Allah adalah seperti Yesus: mahakasih, mahaadil dan mahakuasa. Lebih dari itu, karena Yesus yang sekarang di surga sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap umatNya, tidaklah sulit bagi kita untuk merasakan bahwa Tuhan beserta kita setiap saat dan untuk selamanya. Pujilah Tuhan yang dalam Yesus Kristus sudah menebus dosa kita dan memberikan pengenalan akan kasih dan kebesaranNya!