“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3
Sekitar 25 tahun yang lalu saya tinggal di kota Sydney, kota terbesar di Australia yang berpenduduk sekitar 4 juta. Pada waktu itu saya senang sekali memancing dan salah satu tempat yang paling sering saya kunjungi adalah pantai Manly yang berada di daerah Sydney Harbour. Di dermaga feri Manly, setiap akhir minggu biasanya banyak orang yang seperti saya berdiri memegang pancing dan berharap untuk menangkap ikan besar jika lagi mujur. Memang sekalipun daerah itu terkenal banyak ikannya, tidak selalu orang bisa mendapat ikan. Dari pengalaman, saya belajar bahwa jika ombak terlalu besar biasanya ikan-ikan bersembunyi di karang-karang dan tidak bisa dipancing. Seperti feri Manly yang dihempas ombak, ikan yang hidup di laut pun tidak sanggup menghadapi arus atau gelombang yang terlalu besar!
Seperti ikan, kita yang hidup di dunia ini sering merasa capai dan takut dengan keadaan di sekeliling kita. Karena itu, kita mungkin merasa sangat menderita jika gelombang kehidupan yang besar datang melanda. Hal ini agaknya tidak mengherankan, karena tentu tidak ada manusia yang menyenangi adanya masalah kehidupan. Siapa yang tidak ingin hidup yang tenteram dan damai? Seperti ikan yang senang berenang di air tenang, sudah tentu semua manusia mendambakan adanya hidup yang berkecukupan dan yang bisa terus dinikmati. Tetapi itu bukanlah kenyataan hidup.
Adalah fakta bahwa semua makhluk hidup pernah mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan atau berbahaya. Sebagian makhluk malahan sudah punah (extinct) karena tidak sanggup memenangkan perjuangan hidup mereka, baik karena keadaan lingkungan maupun serangan makhluk lain. Tetapi manusia sebagai makhluk yang paling besar ukuran otaknya, secara umum tidak pernah mengalami ancaman yang menjurus kearah kepunahan. Manusia sebagai peta dan teladan Allah diberi kemampuan untuk menghadapi segala tantangan hidup dan justru makin kuat dan makin mampu menghadapi masalah kehidupan, terutama dengan majunya teknologi. Karena itu juga, jumlah manusia di dunia ini makin membengkak dan sekarang lebih dari 7,5 miliar jiwa.
Bertambahnya penduduk dunia tidaklah berarti bahwa semua manusia hidup dalam kecukupan dan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ada banyak penduduk di dunia yang masih hidup dalam penderitaan. Begitu juga dengan bertambahnya jumlah orang yang menemukan keselamatan dalam Kristus, ada banyak yang masih harus berjuang mati-matian dalam hidup sehari-hari. Bagi banyak orang Kristen, gelombang kehidupan yang tidak kunjung reda membuat mereka sangat lelah dan putus asa. Mereka yang ingin untuk mencari ketenangan sekalipun hanya sejenak, seringkali sulit untuk mendapatkannya.
Ayat di atas menyebutkan bahwa sekalipun adanya gelombang kehidupan tidaklah membawa rasa nyaman, kita bisa menganggap itu sebagai kebahagiaan, sebagai suatu berkat. Bagaimana mungkin? Itu karena kita tahu bahwa ujian terhadap iman akan membuat kita ingat bahwa kita harus mencari tempat berlindung dalam Tuhan. Tiap-tiap kali kita menghadapi gelombang kehidupan, tiap kali juga kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa melindungi umatNya. Oleh karena itu, dengan adanya tantangan kehidupan, kita bisa menjadi makin tekun dalam berdoa, dalam bersekutu dengan saudara seiman dan dalam mengikuti perintahNya. Gelombang kehidupan selalu ada, tetapi itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39
Ada orang yang berkata bahwa tujuan menghalalkan cara. Siapa yang mempunyai maksud baik, tidak perlu ragu-ragu untuk bertindak. Barangkali ini seperti kisah Robin Hood dalam buku cerita anak-anak yang tidak segan-segan mencuri atau merampok harta orang kaya untuk bisa dipakai menolong orang miskin.
Sudah seminggu ini media di Australia ramai memberitakan kasus bangunan apartemen di Sydney yang mengalami kerusakan berat sehingga semua penghuninya harus mengungsi. Kejadian ini bukan yang pertama karena beberapa bulan yang lalu ada kejadian yang serupa. Pada kejadian yang terakhir, bangunan apartemen mengalami retak-retak yang membahayakan sehingga atap beton dari tempat parkir bawah tanah harus ditopang dengan tiang-tiang besi.
Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Ayat ini jarang di khotbahkan di gereja, mungkin karena adanya rasa rikuh di pihak orang yang menyampaikan pesan. Membaca ayat ini, memang sepertinya Paulus menyatakan tekadnya untuk “berdikari”, agar ia tidak membebani jemaat. Seolah ada rasa angkuh bahwa ia yang sanggup bekerja tidak membutuhkan bantuan jemaat.

Sebuah berita di media hari ini agak membuat saya merenungkan kenyataan bahwa orang mudah untuk berganti nasib. Seorang atlit pedayung Australia yang pernah mendapat dua medali perak Olimpiade ditangkap polisi bersama dua sanaknya karena terlibat dalam kasus impor narkoba dalam jumlah besar. Saya tidak habis mengerti mengapa orang yang sudah mencapai posisi tinggi dalam masyarakat bisa jatuh kedalam kejahatan yang tentunya akan membuahkan hukuman penjara yang cukup lama. Padahal, di Australia orang yang pernah menjadi juara olahraga seringkali bisa hidup enak dengan bekerja sebagai motivator, atau tampil di berbagai iklan komersial. Agaknya benar kata orang tua, bahwa nasib manusia ada ditangan sendiri.
Sekitar 30 tahun yang lalu, beberapa orang yang mewakili sebuah rumah lelang internasional (international auction house) datang ke Melbourne untuk mencari barang-barang kuno yang ingin dilelang pemiliknya. Saya yang pada waktu itu tinggal di Melbourne, tahu adanya beberapa rumah lelang terkenal seperti Christie’s dan Sotheby’s, yang sering berhasil melelang barang-barang artistik atau antik dengan harga yang tinggi. Saya dengan penuh harapan membawa sebuah gambar hitam putih yang dilukis oleh seorang artis Belanda pada abad 19 yang kebetulan saya punyai untuk diberi pertimbangan harga.
Pagi ini media memberitakan kabar suksesnya sebuah transplantasi hati yang di lakukan di Melbourne. Seorang anak yang berusia baru setahun tiba-tiba sakit dan mengalami gagal hati. Dokter tidak tahu penyebabnya, tetapi diduga anak kecil itu mendapat serangan virus dan hanya mempunyai beberapa hari saja untuk hidup. Dalam keadaan sedemikian, tentu saja kedua orang tua anak itu menjadi panik. Persediaan hati dari donor yang sudah meninggal tidaklah banyak dan yang antri panjang sekali. Selain itu, hati yang ada belum tentu cocok (compatible) dengan orang yang membutuhkan.
Bagi kebanyakan orang yang mengaku Kristen, Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan yang turun ke dunia. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi oknum ilahi yang diutus Tuhan untuk menebus dosa manusia. Bagi mereka, Yesus tidaklah sama dengan Allah.