Mudahnya cinta, sukarnya kasih

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. 1 Korintus 13: 13

Seorang pria pergi ke sebuah toko buku di sebuah negara dan bertatap muka dengan seorang wanita. Si pria hanya memandang, tetapi itu cukup membuatnya jatuh cinta kepada si wanita. Cinta pada pandangan pertama! Berhari-hari sesudahnya, si pria pergi ke toko buku itu, berharap untuk menjumpai wanita yang sama; tetapi harapannya hanya tinggal impian, si wanita tidak pernah muncul lagi.

Benarkah ada cinta pada pandangan pertama? Mereka yang pernah mengalaminya tentu saja yakin bahwa itu ada. Mata melihat, hati berdebar, dan itu cukup untuk jatuh cinta. Siapa orangnya, apa pekerjaannya, apakah ia masih single, apakah ia orang baik-baik, semua itu mungkin tidak perlu dipertanyakan. Tetapi jelas bahwa penampilan sesaat agaknya sudah menyebabkan timbulnya rasa cinta.

Apa kata Alkitab mengenai cinta, khususnya hal cinta pada pandangan pertama? Alkitab tidak secara spesifik membahas kasus seperti ini, tetapi dari contoh-contoh yang ada, mereka yang merasa tertarik kepada orang lain tanpa berpikir panjang, akhirnya bisa mengalami berbagai kesulitan. Misalnya Simson yang jatuh cinta kepada Delila (Hakim-Hakim 14: 1 – 2), atau raja Daud yang tergiur Batsyeba, istri Uria (2 Samuel 11: 2 – 3). Cinta pada pandangan pertama, atau cinta buta, agaknya bisa berupa eros. Eros adalah cinta yang berdasarkan kepentingan diri sendiri. Aku suka, karena itu aku cinta.

Pada pihak yang lain, konsep cinta yang dikumandangkan dalam Alkitab adalah cinta yang mau berkorban untuk orang lain. Cinta yang memikirkan kebutuhan orang lain, dan bukan untuk kebutuhan diri sendiri. Cinta yang sedemikian adalah kasih atau agape, yang sudah didemonstrasikan oleh Yesus Kristus selama hidupNya di dunia, dan yang mencapai kulminasi dengan kematianNya di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Agape memang selalu menuntut pengorbanan dan karena itu tidak mudah untuk dilaksanakan.

Bagi umat Kristen, kasih adalah satu hal yang paling penting dalam kehidupan, di dunia maupun di surga. Memang mereka yang mau ke surga, harus bisa mengasihi Tuhan. Tetapi untuk bisa mengasihi Tuhan yang tidak terlihat, kita harus bisa mengasihi orang disekitar kita yang dapat kita lihat.

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” 1 Yohanes 4: 20

Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa dari tiga hal yang penting dalam hidup orang Kristen, yaitu iman, pengharapan dan kasih, yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kasih adalah yang paling sulit untuk dilakukan karena adanya tanggung-jawab.

Iman kepada Tuhan memang membawa keselamatan. Tetapi iman adalah semata-mata anugrah Tuhan, bukan karena usaha kita. Dengan iman kita menaruh harapan kepada apa yang tidak bisa kita lihat dan hal-hal yang akan datang. Dengan iman kita bisa mengambil keputusan untuk mengikut Yesus selama hidup dan yakin bahwa kita akan bertemu muka dengan muka denganNya di surga. Lalu bagaimana dengan kasih? Kasih menuntut kita untuk mau berkorban, dan bahkan mau mengorbankan nyawa untuk orang lain jika diperlukan demi kebaikan. Ini adalah tanggung jawab yang tidak mudah dilaksanakan, tetapi bukti adanya iman.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15: 13

Cinta dalam pandangan pertama adalah hal yang lebih mudah dilakukan, karena tidak ada pengorbanan yang perlu dipikirkan. Cinta semacam itu seringkali merupakan refleksi cinta kepada diri sendiri, bukan kasih yang bermaksud untuk memberi kebahagiaan sejati kepada orang lain seperti kasih yang dipunyai Tuhan. Sebagai umat Kristen kita melihat banyak orang yang terlihat murah hati, suka beramal dan menolong orang lain; tetapi, jika itu bukan dimaksudkan sebagai usaha untuk benar-benar mengasihi atau menyelamatkan orang lain, semua itu mungkin hanya membawa kepuasan atau keuntungan pribadi, dan bukannya membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Pagi ini kita belajar untuk menyadari bahwa mengasihi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kasih adalah lebih besar dari iman dan pengharapan, dan karena itu membutuhkan pengabdian yang penuh. Tuhan yang menghendaki agar kita mengasihiNya dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa dan segenap akal budi kita, juga menghendaki agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 4: 21

Yesus adakah penguasa hidupku

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” Lukas 1: 31

Seminggu lagi hari Natal akan datang, hari untuk memperingati kelahiran Yesus. Mereka yang beragama Kristen umumnya menyambut hari ini sebagai hari sukacita, karena Natal mengingatkan mereka atas kasih Allah kepada mereka. Karena kasihNya, Yesus Anak Allah sudah turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Dunia yang dulunya tidak mempunyai harapan, sekarang memperoleh kepastian, bahwa siapapun yang percaya kepada Yesus akan terhindar dari hukuman dosa dan bisa menerima hidup yang kekal.

Walaupun hari Natal biasanya dirayakan dengan penuh sukacita, bagi banyak orang hari ini seringkali mengingatkan mereka akan berbagai hal yang kurang menyenangkan, yang membuat mereka sedih. Memang, jika kita melihat orang disekitar kita bergembira-ria, sedangkan kita mengalami kesendirian, masalah, gangguan kesehatan dan kekurangan, hati kita bisa berubah masygul. Apa yang bisa kita rayakan jika hati kita sedih?

Ayat diatas menulis tentang pesan malaikat kepada ibu Yesus, Maria, yang dilanjutkan dengan pernyataan (ayat 32-33) bahwa Yesus akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, dan Ia akan menjadi raja atas setiap orang percaya sampai selama-lamanya. Bagaimana Ia bisa menjadi raja yang menguasai hidup setiap orang percaya untuk selamanya? Apakah Yesus menjadi raja kita di surga, ataukah Ia juga menjadi raja selama kita masih di dunia?

Bagi orang percaya, menerima Yesus sebagai Juruselamatnya berarti menyerahkan seluruh hidupnya, baik yang sekarang maupun yang akan datang, kepada Yesus. Dengan demikian, hanya Yesus yang bisa memberi perlindungan, penghiburan dan kecukupan. Yesaya 9: 6 memyebutkan:

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Jelas bahwa jika kita menerima Yesus untuk bisa sepenuhnya menguasai hidup kita, kita tidak perlu mengalami kemasygulan dalam hidup ini sekalipun ada berbagai kesulitan besar yang kita alami. Yesus berarti Tuhan yang menyelamatkan, bukan saja dalam hal menebus dosa kita, tetapi Ia jugalah yang melindungi kita selama hidup di dunia. Yesus mau membimbing hidup kita, dan sebagai Tuhan yang kekal dan mahakuasa, Ia mampu membawa kedamaian dalam hidup kita.

Pagi ini, ketika lagu Natal bergema disekeliling kita, marilah kita mengingat bahwa hidup kita sudah kita serahkan kepadaNya. Ialah yang seharusnya menjadi pemerintah hidup kita, dan bukan penderitaan, ketakutan, kekuatiran dan kekurangan. Kelahiran Yesus yang kita peringati sekarang, tidak akan membawa kedamaian selama pikiran dan hati kita terpusat pada bayi manusia yang kecil, lemah dan berbaring di palungan saja. Tetapi, bayi Yesus inilah yang kemudian menjadi penebus dosa kita, mati dan bangkit lagi. Dengan kebangkitanNya, kita boleh diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan dan karena itu, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih pemeliharaanNya setiap hari. Yesus adalah penguasa hidupku. Jesus is the Lord of my life.

Apa yang bisa dipastikan?

“…mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” Mazmur 139: 16

Adakah sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap manusia? Banyak orang yang berpendapat bahwa tidak ada satupun yang bisa kita ketahui tentang masa depan kita. Manusia dalam keterbatasannya, tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Mungkin ada yang berargumentasi bahwa sebenarnya ada satu hal yang pasti akan terjadi: kematian. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa sebenarnya ada dua hal yang tidak dapat dihindari manusia: pajak dan kematian. Memang, sekalipun kita tidak membayar pajak secara langsung, hampir semua barang yang kita beli sudah dikenakan pajak negara; kecuali jika kita hidup di satu tempat yang tidak mempunyai hukum perpajakan.

Kematian dengan demikian adalah suatu hal yang benar-benar bisa dipastikan. Walaupun begitu, tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan bagaimana kita akan mengakhiri hayat kita. Ada orang yang meninggal pada usia yang muda, ada pula yang mengalaminya pada usia yang sangat lanjut. Ada yang harus menderita lama dalam sakitnya, ada pula secara tidak disangka, meninggalkan dunia dengan tenang dalam tidurnya.

Ayat diatas menunjukkan bahwa umur manusia adalah di tangan Tuhan. Bahkan hidup kita hari demi hari sudah ada dalam rancanganNya sebelum kita dilahirkan. Itu karena Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu. Jika demikian, apakah tidak ada yang bisa dilakukan oleh manusia dalam hidupnya? Apakah manusia sama sekali tidak bisa mempengaruhi jalan dan akhir hidupnya?

Alkitab tidak mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai andil akan apa yang terjadi. Memang ada orang yang merasa bahwa Tuhan sudah menentukan segalanya, sehingga mereka yang menyia-nyiakan hidupnya dan yang mengakhiri hidupnya dengan paksa pun adalah karena kehendak Tuhan. Itu sudah tentu tidak benar. Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta untuk memuliakanNya. Karena itu, apa yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan bukanlah Dia yang menghendaki.

Pagi ini pertanyaan untuk kita: adakah yang pasti selain kematian? Ada! Mereka yang hidup dalam dosa pastilah menemui upahnya, yaitu maut atau kematian yang abadi. Alkitab memang menegaskan bahwa jika manusia tidak percaya kepada Yesus dan mempunyai hidup baru, ia tidak akan memperoleh keselamatan abadi.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sekalipun hidup dan umur setiap orang ada di tangan Tuhan, Ia memberi kita tanggung jawab untuk mengisi hidup kita dengan hal-hal yang baik, yang sesuai dengan firmanNya. Sekalipun kita tidak tahu bagaimana dan kapan kita meninggalkan dunia ini, bagi kita yang taat kepadaNya, kepastian selalu ada bahwa baik suka maupun duka tidak akan bisa memisahkan kita dari kasih karuniaNya yang menyelamatkan. Keyakinan ini juga perlu kita sampaikan kepada orang-orang di sekitar kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Akankah rumah anda tetap berdiri kokoh?

“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Matius 7: 26 – 27

Sejak beberapa hari yang lalu, beberapa daerah di negara bagian Queensland mengalami hujan lebat dan angin kencang yang disebabkan oleh topan tropis, Tropical Cyclone Owen, yang hampir saja mendarat dengan telak. Sekalipun topan ini kemudian berubah menjadi angin kencang saja, hujan yang turun dengan deras membuat beberapa daerah menjadi banjir.

Bulan Desember dan Januari di utara Australia memang biasanya bulan dimana hujan lebat dan topan sering terjadi, karena itu mereka yang ingin berekreasi dengan mobil ke daerah itu, menghindari bulan-bulan itu. Mereka yang memang tinggal di daerah itu sudah terbiasa dengan keadaan cuaca, tetapi harus tetap selalu bersiap sedia untuk menghadapi topan yang sering muncul. Mereka yang rumahnya berpotensial untuk kebanjiran, haruslah berusaha untuk memperbaki saluran air hujan; begitu juga rumah yang rumahnya kurang stabil, haruslah berusaha memperkuat struktur rumahnya agar tidak roboh jika angin kencang datang.

Dalam Matius 7: 24 – 27, Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang orang bijaksana yang membangun rumahnya diatas batu dan orang yang bodoh yang mendirikan rumahnya diatas pasir. Rumah orang yang bijaksanalah yang bisa bertahan ketika hujan dan banjir datang. Mereka yang bijaksana adalah orang yang mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya, sehingga ketika badai kehidupan datang mereka tetap teguh dalam iman.

Dalam kenyataannya, badai kehidupan dialami setiap orang. Badai itu juga tidak hanya muncul sekali saja, tetapi bisa terjadi berulang kali. Menjadi umat percaya, bukanlah berarti bahwa kita akan bebas dari persoalan. Persoalan hidup bisa muncul karena Tuhan ingin mendidik anak-anakNya (Ibrani 12: 5 – 10).

Mereka yang sudah merasa yakin bahwa rumah mereka berdiri diatas batu, seringkali harus menghadapi badai-badai yang besar. Karena itu datangnya berbagai badai kehidupan bisa membuat mereka menjadi was-was, dan bahkan merasa tertekan dan sedih. Mengapa Tuhan membiarkan badai kehidupan menghantam kita?

Apa yang terjadi pada waktu badai datang? Rumah orang akan diombang-ambingkan oleh kekuatan angin, dan kerusakan mungkin terjadi di beberapa bagian rumah, sekalipun rumah itu berdiri diatas batu. Mereka yang bijaksana akan bisa bersikap positif dan menerima badai sebagai kenyataan hidup yang harus diterima, dan bahkan menggunakan kejadian itu sebagai kesempatan untuk menganalisa kelemahan yang ada, agar perbaikan bisa dilakukan.

Memang goncangan dan kerusakan akibat badai adalah hal yang bisa membawa duka, tetapi jika badai demi badai kita bisa lewati dengan bimbingan Tuhan, rasa damai dan keyakinan kita akan semakin besar di masa mendatang, sekalipun badai besar mendatangi.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.” Ibrani 12: 11 – 13

Hadiah natal apa yang anda inginkan?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Sepuluh hari sebelum hari Natal, pusat-pusat pertokoan di Australia biasanya penuh sesak dengan orang-orang yang mencari berbagai kebutuhan untuk merayakan hari Natal. Kebanyakan orang mencari hadiah natal untuk sanak saudara, hiasan natal untuk rumah dan pakaian baru. Memang, karena hari Natal dan Tahun Baru adalah dua hari libur yang berdekatan dan bulan Desember dan Januari adalah bulan liburan sekolah, banyak orang yang menghabiskan waktu luang dengan kegiatan shopping.

Bagi mereka yang merayakan hari Natal, mencari hadiah natal bukanlah tugas yang mudah dilakukan. Banyak hadiah natal yang diberikan oleh orangtua, anak dan saudara, berakhir dengan menyedihkan karena harus diberikan kepada orang lain, dijual atau dimasukkan keranjang sampah.

Apa yang sebaiknya diberikan kepada orang yang kita kasihi seharusnya sesuatu yang bisa berguna untuk mereka. Bukan hanya untuk kegembiraan sesaat, tetapi bisa bermanfaat untuk jangka panjang. Tetapi kebutuhan tiap orang adalah berbeda, dan orang lain seringkali salah menerka. Untuk menghindari salah pilih, kita bisa bertanya kepada orang yang akan kita beri, hadiah apa yang diingininya. Tetapi, orang itu sendiri mungkin tidak tahu pasti apa yang dibutuhkannya.

Pada waktu Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, Allah langsung mengetahui apa yang dibutuhkan mereka. Pengampunan dosa. Karena Allah adalah Tuhan yang mahasuci, manusia tidak akan bisa bebas dari hukuman dosa. Manusia akan binasa karena dosanya. Tetapi, karena kasihNya, Allah mau mengirimkan hadiah yang terbesar yang bisa diberikanNya kepada manusia, yaitu AnakNya yang Tunggal, Yesus Kristus.

Apakah manusia mau menerima hadiah natal dari Allah? Sejarah membuktikan bahwa banyak manusia tidak mengerti betapa berharganya karunia Allah itu. Mereka tidak juga mengerti bahwa apa yang dikaruniakan Tuhan itu adalah mutlak untuk memenuhi kebutuhan mereka, agar mereka tidak binasa. Karena itu hanya sebagian dari umat manusia yang akhirnya mau menerima uluran tangan Tuhan. Sebagian yang lain, memilih hadiah yang berupa kenikmatan duniawi.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah apa yang kita inginkan sebagai hadiah natal kita. Bagi kita yang sudah menerima hadiah keselamatan melalui Yesus Kristus, apapun yang lain tidak akan seindah dan berharga seperti karunia keselamatan. Karena itu kita harus tetap bisa bersyukur sekalipun kita tidak selalu memperoleh apa yang kita inginkan dalam hidup ini. Walaupun demikian, jika Tuhan kali ini masih mau memberikan hadiah natal untuk kita, apakah yang anda inginkan? Semoga kita mau meminta kepada Tuhan agar semua orang disekitar kita bisa menyadari kebutuhan hidup mereka yang utama dan datang bertobat kepada Tuhan. Itu adalah hadiah natal yang terbesar untuk mereka!

Iman bukan agama

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Di Indonesia, semua penduduk harus mempunyai KTP atau kartu tanda penduduk yang merupakan tanda pengenal yang sah. Tetapi, kartu yang sering dipakai di Australia sebagai tanda pengenal resmi adalah surat ijin mengemudi atau SIM. Ada perbedaan besar antara data yang ada pada KTP Indonesia dan yang tertera pada SIM Australia. Pada KTP Indonesia ada informasi tentang agama, status perkawinan dan pekerjaan, sedang pada SIM Australia, ketiganya tidak dicantumkan karena itu dianggap data pribadi yang tidak perlu diketahui orang lain.

Agama adalah salah satu status yang penting di Indonesia, seperti juga status pekerjaan dan perkawinan. Mungkin saja sebagian besar penduduk Indonesia berpendapat bahwa mereka yang hidupnya berhasil adalah orang yang beragama, yang mempunyai pekerjaan tetap, dan yang rumah tangganya berjalan baik. Walaupun demikian, tentunya orang setuju bahwa tidak semua orang yang beragama itu adalah orang-orang yang saleh, atau mereka yang mempunyai pekerjaan itu pasti mendapat penghasilan yang cukup, atau  mereka yang berstatus kawin itu pasti mempunyai rumah tangga yang bahagia. Dengan demikian, status yang bisa dilihat atau dibaca orang, belum tentu bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Bagaimana dengan status beragama Kristen? Apakah ada artinya? Dalam Alkitab berbahasa Indonesia, kata “agama”  muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tetapi, dalam terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris, kata “religion” hanya muncul kurang dari 10 kali. Memang dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa-bahasa aslinya (Yahudi dan Yunani) beberapa kata yang sebenarnya berbeda artinya dengan arti kata “agama” yang sekarang, diterjemahkan sebagai “agama”. Apa yang disebut-sebut di Alkitab  sebagai kepercayaan atau iman kepada Tuhan, dianggap sama dengan “agama”. Kata yang dipilih penerjemah itu bisa menyebabkan kekeliruan dalam pengertian umat Kristen.

Ayat diatas menulis bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Berdasarkan ayat ini, dan untuk zaman ini, kita bisa menafsirkan bahwa orang Kristen dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus, dan bukan karena ia melakukan kewajiban-kewajiban agama, seperti ke gereja, mengikuti perjamuan kudus, rajin berdoa, berbuat amal dan sebagainya. Mereka yang rajin melakukan kewajiban agama saja adalah seperti mereka yang digolongkan sebagai orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka yang merasa sudah diselamatkan karena kesalehannya adalah orang yang beragama, tetapi belum tentu beriman kepada Yesus. Mereka yang hidupnya terlihat tertib, bersih dan teratur mungkin saja belum diselamatkan!

Apa yang membawa kepada keselamatan adalah iman kepada Yesus yang merupakan karunia Allah untuk menebus dosa manusia. Jika manusia ingin berbuat baik untuk bisa masuk ke surga melalui agama, itu adalah usaha yang sia-sia karena sebagai manusia kita tidak dapat memenuhi syarat kesucian Allah. Agama penuh dengan peraturan yang dibuat manusia, tetapi iman datang dari Allah. Mereka yang beriman bisa digolongkan kedalam satu agama dan bahkan kedalam satu aliran teologi, tetapi penggolongan itu bukanlah yang diciptakan oleh Tuhan. Tuhan tidak akan bertanya apakah kita anggota gereja A atau gereja B jika kita masuk ke surga!

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pagi ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Kristus. Apakah kita sudah mempercayakan masa depan kita, baik di bumi maupun di surga, kepadaNya. Ataukah kita masih berusaha berbuat berbagai kebaikan untuk memastikan keselamatan kita? Jika kita memang beriman, kita tidak perlu menguatirkan masa depan kita. Sebaliknya, dengan rasa syukur kita bisa hidup dalam kedamaian, dan dengan itu kita mau memuliakan Tuhan yang mahakasih dengan membaktikan kasih kita kepadaNya dan sesama kita setiap hari.

Mungkinkah kita kehilangan keselamatan?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya keraguan apakah mereka atau sanak-saudara akan diselamatkan pada akhir hidup mereka. Tambahan lagi, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagiNya.  Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas memenuhi syarat untuk masuk ke neraka!

Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwaYesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Kembali kepada pertanyaan diatas, dapatkah orang yang sudah mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, untuk kehilangan keselamatan yang sudah diberikan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah singkat dan pasti: tidak mungkin. Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintahNya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus.

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggilNya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apapun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubahNya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan namaNya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu meragukan janji keselamatanNya.

Pada pihak yang lain, mungkin diantara kita masih ada yang  bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau dorongan dunia. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima keselamatan. Disini peranan doa adalah sangat penting, karena Tuhan bekerja menurut rencanaNya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukanNya kepada orang-orang yang belum percaya kepadaNya luar dan dalam. Doa kita haruslah merupakan pernyataan iman kita bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan ingin agar manusia bisa diselamatkan pada waktu yang ditetapkanNya. Dengan doa, kita menyerahkan hidup kita dan hidup orang lain agar bisa berubah secepat mungkin karena hidup manusia di dunia adalah terbatas; tetapi semua itu biarlah sesuai dengan kehendakNya.

Jangan kecewa kepada Tuhan

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” 2 Korintus 12: 7

Jika kita jujur kepada diri kita sendiri, tentu kita harus mengaku bahwa dalam hidup ini kita sering kecewa karena berbagai sebab. Diantara kekecewaan yang ada, mungkin ada yang besar atau yang kecil, dan mungkin disebabkan oleh apa yang terjadi pada diri kita, orang lain atau lingkungan.

Kekecewaan terjadi ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi, atau jika apa yang tidak kita harapkan terjadi.  Bagi orang yang percaya kepada Tuhan yang mahakasih, pertanyaan mereka mungkin bertalian dengan kenyataan bahwa Tuhan seakan membuat umatNya kecewa. Doa yang diucapkan sejak lama misalnya, tidak kunjung terjawab; dan itu membuat manusia merasa dikecewakan.

Pada intinya, bagi manusia kekecewaan adalah rasa sedih karena kita tidak mengerti mengapa sesuatu berjalan tidak sesuai dengan pengharapan kita. Kekecewaan belum tentu dosa, karena Tuhan juga sering dikecewakan oleh manusia sekali pun Ia tahu segala yang akan terjadi dan penyebabnya. Jika kekecewaan Tuhan adalah karena kebodohan manusia, kekecewaan manusia adalah juga karena hal yang sama. Kekecewaan manusia menjadi dosa jika manusia tidak mengakui bahwa kebodohan manusia adalah penyebabnya dan itu mungkin termasuk kebodohan dirinya sendiri.

Mereka yang tidak mengerti bahwa segala sesuatu berjalan menurut rancangan Tuhan adalah orang-orang yang bodoh. Mereka yang kecewa adalah orang-orang bodoh yang kemudian bisa membenci orang lain, keadaan di sekelilingnya atau dirinya sendiri. Mereka yang kecewa bisa saja melakukan hal-hal yang lebih bodoh lagi dengan melakukan kekerasan atau kebencian kepada orang lain, lingkungan dan dirinya sendiri. Mereka yang sangat kecewa bisa saja mengutuki Tuhan.

Salah satu orang yang hampir kecewa adalah rasul Paulus, yang menderita karena suatu sebab. Apakah penderitaan itu adalah penderitaan fisik, spiritual atau emosional, tidaklah ada orang yang bisa memastikan. Tetapi ia jelas sangat menderita karena ia mengatakan bahwa ia mempunyai suatu “duri dalam daging”. Jika duri itu tidak mematikan tubuh jasmaninya, jelas bahwa ia merasa sakit sekali. Karena itu ia sudah berseru tiga kali untuk memohon pertolongan. Tetapi seakan Tuhan tidak mendengar.

Tuhan malahan memberi Paulus pengetahuan bahwa Ia sendiri sudah menyurus utusan iblis untuk menyiksa Paulus. Bagaimana Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan iblis untuk mengganggu Paulus adalah hal yang menakutkan semua orang percaya. Tetapi itu bukanlah hal yang tidak mungkin, karena Ayub yang sangat taat kepada Tuhan juga mengalami penderitaan yang sangat besar ketika Tuhan mengizinkan iblis untuk menyerang Ayub (Ayub 1: 12). Tetapi Ayub bukanlah orang yang bodoh; ia mengerti bahwa Tuhan mempunyai maksud tertentu dalam semua yang dialaminya. Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dalam semua keadaan.

Tahukah Paulus maksud Tuhan dengan membiarkan dirinya menderita? Mungkin saja ia pada mulanya tidak mengerti hal itu. Karena itu, Paulus memohon sampai tiga kali agar Tuhan melepaskannya dari duri itu. Jika ia mengerti apa maksud Tuhan dari mulanya, tentu Paulus sebagai rasul tidak perlu memohon kelepasan. Tetapi, melalui pergumulannya, Paulus kemudian mengerti bahwa semua itu terjadi agar ia tidak meninggikan diri. Sebagai anak Tuhan, Paulus bisa saja merasa sombong jika Tuhan selalu memberikan kenyamanan, kesuksesan dan kemakmuran kepadanya.

Pagi ini, jika kita mengalami penderitaan dan kekecewaan karena orang lain, karena lingkungan,  atau karena diri kita sendiri, kita harus menyadari bahwa seperti Ayub dan Paulus, kita pun pengikut Tuhan. Bagi pengikut Tuhan, penderitaan hidup adalah hal yang biasa. Berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh sebagian orang Kristen, kita harus menghindari kebodohan manusia yang merasa bahwa Tuhan harus selalu melimpahkan berkatNya dalam bentuk apa yang enak saja. Sebab Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang besar dalam diri setiap umatNya, dan melalui pergumulan hidup kita bisa menerima berkat yang besar yaitu iman yang makin teguh kepada Dia. Jangan mudah kecewa!

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Jika kesulitan hidup mendatangi

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya setiap orang ingin hidup berbahagia. Hanya saja, tiap orang mempunyai pengertian yang berbeda tentang apa yang disebut kebahagiaan. Ada falsafah Jawa yang berbunyi “mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Artinya, lebih baik hidup susah di desa atau di kampung daripada harus berpisah dengan keluarga dan kerabatnya untuk sekedar mencari makan ditempat lain. Kebahagiaan agaknya bukan ditentukan oleh adanya harta atau kenyamanan. Tetapi, orang yang tidak setuju dengan falsafah itu bisa saja berpendapat bahwa untuk bisa hidup bersama dengan keluarga dan kerabat, orang tetap harus mempunyai penghasilan yang cukup, setidaknya untuk bisa makan.

Memang untuk bisa hidup berbahagia sebagian orang berpikir bahwa dengan adanya harta, semua bisa dibeli. Kebahagiaan seolah bisa diperoleh melalui kemakmuran. Tetapi ini tentu saja tidak benar. Alkitab menyatakan bahwa orang yang gila harta mudah jatuh kedalam berbagai pencobaan (1 Timotius 6: 10). Sebaliknya, orang yang hidup dalam kekurangan yang besar, mungkin juga sulit untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Jika kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dukacita dan penderitaan sering datang tanpa diundang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa dalam kemalangan masih ada keuntungan, yaitu datangnya penghiburan dari Tuhan.

Tuhan yang mahakasih sebenarnya ingin untuk selalu berkomunikasi dengan umatNya. Setiap saat Ia ingin untuk membimbing dan menguatkan mereka yang mau mendengarkanNya. Tetapi, seperti seorang anak kecil yang melupakan orangtuanya ketika sibuk bermain ayunan di halaman, kita pun sering melupakan Tuhan ketika hidup kita sedang berjalan lancar.

Untuk seorang anak, adanya orangtua adalah suatu berkat. Mereka yang tidak mempunyai orangtua bisa merasakan saat-saat dimana rasa sepi dan takut mendatangi. Anak-anak yang mempunyai orangtua yang baik dan bijaksana adalah orang-orang yang berbahagia karena adanya penghiburan dan perlindungan ketika mereka mengalami hal yang tidak diinginkan.

Semoga pagi ini kita disadarkan bahwa Bapa kita yang di surga tidak pernah meninggalkan kita. Berbahagialah umat Tuhan yang mau memanggil namaNya ketika badai kehidupan menerpa!

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3: 22 – 23

Melawan kuasa iblis

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 11 – 12

Banyak orang yang percaya bahwa hantu itu ada. Anehnya, hanya sebagian dari orang-orang itu yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Jadi, sekalipun mereka percaya bahwa dunia roh itu ada, hanya sebagian orang yang percaya bahwa roh yang mahakuasa itu ada.

Banyak orang yang pernah menjumpai, melihat dan merasakan kehadiran roh-roh yang bergentayangan, percaya bahwa dunia roh adalah dunia yang penuh misteri. Di beberapa negara yang dipengaruhi budaya setempat, orang mengenal banyak roh-roh yang bisa muncul dengan berbagai bentuk dan mempunyai berbagai nama. Selain itu, ada orang-orang yang percaya bahwa diantara roh-roh itu ada roh yang baik dan ada yang roh yang jahat. Mereka mungkin percaya bahwa ada roh-roh yang bisa mereka gunakan sebagai pembantu atau penolong mereka.

Untuk orang Kristen dunia roh itu memang ada, dunia dimana iblis dan pengikutnya berkeliaran seperti singa yang mencari kesempatan guna menyerang anak-anak Tuhan. Orang Kristen tidak memuja roh atau berdoa kepada roh, jin dan arwah, karena mereka hanya beriman kepada Tuhan.

Roh yang jahat sering dibayangkan berupa makhluk yang mengerikan, tetapi orang Kristen tahu bahwa itu tidaklah selalu benar. Iblis dulunya adalah malaikat Tuhan yang rupawan, dan ia tahu bahwa dengan penampilan yang memikat, manusia tentu mudah terkecoh dan jatuh dalam dosa. Karena itu, iblis justru seringkali menggoda manusia dengan hal-hal yang indah, nikmat dan menggairahkan. Bukannya menghindari, manusia justru sering mendekati iblis untuk mencoba dan merasakan apa yang ditampilkannya.

Bagaimana kita dapat mengatasi serangan iblis? Sebagian orang memakai doa-doa dan tindakan istimewa untuk melawan serangan iblis, tetapi ini tidak selalu diperlukan. Sebenarnya umat Kristen tidak perlu takut kepada iblis, karena Yesus sudah mengalahkannya di kayu salib.

Apa yang perlu kita lakukan hanyalah hidup dekat dengan Tuhan. Jika hidup kita dipakai untuk memuliakan Tuhan setiap saat, iblis tidak akan mempunyai kesempatan untuk menggoda atau menyerang kita. Darah Kristus adalah senjata orang Kristen baik secara defensif maupun ofensif terhadap kuasa iblis. Karena itu, untuk menolong orang lain yang mengalami serangan iblis, kita harus membantu mereka dengan doa dan peringatan agar mereka mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan.” Efesus 6: 14 – 18