“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Lukas 18: 13
Di dunia ini ada berbagai manusia dan sifatnya. Ada orang yang sabar, tetapi ada juga yang mudah naik darah. Ada yang rendah hati, ada juga yang sombong. Tidak ada manusia yang sama, dan mungkin saja latar belakang, pendidikan, dan status mereka mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan mereka. Walaupun demikian, segala sifat, sikap dan tingkah laku yang bisa dilihat juga dipengaruhi oleh keadaan disekitarnya. Manusia bisa menempatkan dirinya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan disekitarnya, dan dengan siapa ia berkomunikasi. Manusia yang bijak, selalu tahu diri dan mawas diri.
Dalam hubungannya dengan Tuhan yang mahakuasa, semua manusia adalah seperti tanah liat ditangan penjunan. Tanah liat yang tidak berharga, bisa dibentuk menjadi bejana yang indah hanya karena tangan pembuat periuk.
“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Yesaya 64: 8
Karena itu, manusia yang bijaksana akan sadar bahwa ia tidak dapat menempatkan dirinya sederajat dengan Penciptanya. Kesalahan yang diperbuat oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus, tidaklah perlu diulangi lagi. Manusia yang sadar akan kebesaran Tuhan, akan selalu merendahkan dirinya di hadapan Tuhan Sang Pencipta, dan tidak juga menyombongkan diri di depan sesamanya.
Pada pihak yang lain, banyak orang yang tidak tahu bagaimana kedudukan mereka. Seperti seorang Farisi yang digambarkan Yesus, mereka merasa lebih baik dari orang lain.
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Lukas 18: 11 – 12
Dalam kehidupan gereja, kita mungkin melihat adanya orang-orang yang tinggi hati karena merasa bahwa mereka mempunyai hubungan yang istimewa dengan Tuhan, mempunyai karunia khusus dari Tuhan, atau kedudukan penting dalam organisasi. Ada juga yang merasa bahwa mereka saja yang mempunyai cara ibadah yang benar. Itulah kesombongan manusia.
Di hadapan Tuhan, semua umat manusia adalah sama, mereka adalah tanah liat. Karena itu, baik memuja atau merendahkan orang lain adalah keliru. Hanya Tuhan yang patut dipuja dan dikagumi. Sebagai manusia, kita semua adalah orang berdosa.
Sangat mudah kita melihat kesombongan orang lain. Tetapi, jika kita tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, itu juga berarti sebuah kesombongan. Pemungut cukai dalam perumpamaan diatas bukan saja sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa, ia juga tahu bahwa Tuhan adalah mahasuci. Karena itu ia tidak menganggap dirinya layak untuk menemui Tuhan di bait Allah. Ia berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, dan meminta ampun akan segala dosanya.
Pagi ini, biarlah kita merenungkan bagaimana kita menempatkan diri kita di hadapan Tuhan. Apakah kita sering merasa bahwa Tuhan adalah oknum yang harus selalu mendengar doa kita dan memenuhi keinginan kita? Ataukah Dia Tuhan yang kita sembah dan muliakan sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci? Kita harus bersyukur bahwa karena Yesus kita bisa memanggil Dia sebagai Bapa, tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak perlu menempatkan diri secara benar seperti si pemungut cukai di hadapan hadiratNya.
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18: 14
Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang anda punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang anda butuhkan. If God is all you have, you have all you need. Begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Ungkapan ini rupanya berdasarkan ayat diatas.
Di Indonesia istilah EGP (Emangnya Gue Peduli) adalah istilah yang sangat populer, yang dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang mengucapkannya tidak mau memikirkan hal atau isu yang dibicarakan. Dalam bahasa Inggris, istilah “do I care” juga mengandung arti dan nada yang serupa. Walaupun istilah EGP seringkali ditulis dengan setengah bercanda, jika dipakai untuk mengomentari kesulitan yang dialami seseorang, nadanya terdengar sinis dan egois.
Di zaman ini, jika saya pergi ke shopping centre selalu ada saja produk baru yang kelihatannya menarik perhatian. Dari bungkusnya saja, saya sering bisa menduga berapa harganya. Produk yang harganya mahal pasti punya bungkus atau kotak yang didesain sedemikian rupa, sehingga orang yang melihatnya lebih tertarik untuk membeli.
Tahukah anda bahwa Prince Harry dan Meghan Markle, The Duke and Duchess of Sussex, akan melakukan tour luar negeri pertama ke Australia pada bulan Oktober tahun ini? Persiapan yang dilakukan Australia untuk menyambut kedatangan mereka di Sydney, Dubbo, Melbourne dan Fraser Island sudah dimulai. Mereka yang tinggal ditempat-tempat itu sangat bersemangat untuk memberikan acara welcome yang sebaik-baiknya karena mereka adalah anggota keluarga Ratu Inggris yang juga Ratu Australia.
Ada dua hal yang tidak dapat dihindari manusia yaitu kematian dan pajak. Nothing is certain but death and taxes. Begitulah pernyataan yang diucapkan oleh beberapa tokoh dunia, dan barangkali untuk pertama kalinya oleh Daniel Defoe, dalam bukunya yang berjudul The Political History of the Devil, pada tahun 1726. Ungkapan ini agaknya terasa sarkastik, tetapi ada benarnya. Setiap orang agaknya harus bekerja untuk hidup dan membayar pajak selama hidup, baik secara langsung atau tidak langsung, dan akhirnya menemui kematian. Ungkapan ini seolah berkata bahwa dalam kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian, yang pasti justru adanya hal yang tidak enak.
Hari ini adalah hari Jumat di Indonesia dan Australia, dan besok adalah hari libur. Apa yang anda rencanakan untuk akhir pekan? Keluar kota? Ikut lomba lari sehat? Ataukah sekedar rileks di rumah? Mungkin anda sudah mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu sejak lama. Mungkin juga anda belum mempunyai rencana, tetapi akan memikirkannya nanti malam.
Hari ini saya melihat adanya ucapan selamat hari Yom Kippur di WA saya. Saya terperangah. Setahu saya tidak ada satupun teman saya yang merayakannya. Malahan, saya duga hampir semua tidak tahu maknanya. Apa sih Yom Kippur itu?
Apakah bayangan anda tentang Tuhan ketika sedang berdoa? Apakah anda membayangkan Dia seperti seorang raja dengan segala kemegahannya? Apakah anda membayangkan Dia dalam rupa Yesus seperti yang ada dalam berbagai buku Kristen? Bagaimana anda tahu dengan pasti bahwa Yesus mempunyai wajah seperti apa yang dipertunjukkan dalam film “The Passion of the Christ“?