Hal menempatkan diri

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Lukas 18: 13

Di dunia ini ada berbagai manusia dan sifatnya. Ada orang yang sabar, tetapi ada juga yang mudah naik darah. Ada yang rendah hati, ada juga yang sombong. Tidak ada manusia yang sama, dan mungkin saja latar belakang, pendidikan, dan status mereka mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan mereka. Walaupun demikian, segala sifat, sikap dan tingkah laku yang bisa dilihat juga dipengaruhi oleh keadaan disekitarnya. Manusia bisa menempatkan dirinya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan disekitarnya, dan dengan siapa ia berkomunikasi. Manusia yang bijak, selalu tahu diri dan mawas diri.

Dalam hubungannya dengan Tuhan yang mahakuasa, semua manusia adalah seperti tanah liat ditangan penjunan. Tanah liat yang tidak berharga, bisa dibentuk menjadi bejana yang indah hanya karena tangan pembuat periuk.

“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Yesaya 64: 8

Karena itu, manusia yang bijaksana akan sadar bahwa ia tidak dapat menempatkan dirinya sederajat dengan Penciptanya. Kesalahan yang diperbuat oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus, tidaklah perlu diulangi lagi. Manusia yang sadar akan kebesaran Tuhan, akan selalu merendahkan dirinya di hadapan Tuhan Sang Pencipta, dan tidak juga menyombongkan diri di depan sesamanya.

Pada pihak yang lain, banyak orang yang tidak tahu bagaimana kedudukan mereka. Seperti seorang Farisi yang digambarkan Yesus, mereka merasa lebih baik dari orang lain.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Lukas 18: 11 – 12

Dalam kehidupan gereja, kita mungkin melihat adanya orang-orang yang tinggi hati karena merasa bahwa mereka mempunyai hubungan yang istimewa dengan Tuhan, mempunyai karunia khusus dari Tuhan, atau kedudukan penting dalam organisasi. Ada juga yang merasa bahwa mereka saja yang mempunyai cara ibadah yang benar. Itulah kesombongan manusia.

Di hadapan Tuhan, semua umat manusia adalah sama, mereka adalah tanah liat. Karena itu, baik memuja atau merendahkan orang lain adalah keliru. Hanya Tuhan yang patut dipuja dan dikagumi. Sebagai manusia, kita semua adalah orang berdosa.

Sangat mudah kita melihat kesombongan orang lain. Tetapi, jika kita tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, itu juga berarti sebuah kesombongan. Pemungut cukai dalam perumpamaan diatas bukan saja sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa, ia juga tahu bahwa Tuhan adalah mahasuci. Karena itu ia tidak menganggap dirinya layak untuk menemui Tuhan di bait Allah. Ia berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, dan meminta ampun akan segala dosanya.

Pagi ini, biarlah kita merenungkan bagaimana kita menempatkan diri kita di hadapan Tuhan. Apakah kita sering merasa bahwa Tuhan adalah oknum yang harus selalu mendengar doa kita dan memenuhi keinginan kita? Ataukah Dia Tuhan yang kita sembah dan muliakan sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci? Kita harus bersyukur bahwa karena Yesus kita bisa memanggil Dia sebagai Bapa, tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak perlu menempatkan diri secara benar seperti si pemungut cukai di hadapan hadiratNya.

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18: 14

Aku membutuhkan Tuhan dalam hidupku

Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Yohanes 14: 8

Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang anda punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang anda butuhkan. If God is all you have, you have all you need. Begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Ungkapan ini rupanya berdasarkan ayat diatas.

Pada waktu itu, Tuhan Yesus menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka untuk menjumpai BapaNya yang mempunyai banyak tempat kediaman. Ia menghibur murid-muridNya dan berkata bahwa kemana Ia pergi, murid-muridNya akan kesana juga.

Kemana Yesus akan pergi? Tomas tidak tahu, dan karena itu bertanya bagamana mereka bisa kesana jika mereka tidak tahu kemana Yesus pergi. Yesus kemudian menjawab bahwa Ia akan pergi menjumpai BapaNya; dan hanya melalui Dia, manusia bisa menjumpai Bapa. Dengan jawaban Yesus itu, Filipus meminta agar Yesus menunjukkan Bapa itu, karena jika ia kenal Bapa, itu sudah cukup baginya. Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang Filipus punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang dibutuhkannya.

Jika Tuhan adalah satu-satunya yang kita miliki, itu mungkin diartikan oleh sebagian orang bahwa kita adalah orang yang miskin dan malang. Jika kita tidak mempunyai rumah, harta, karir, kesuksesan, kesehatan, keluarga dan segala yang dianggap kenikmatan di dunia ini, kita mungkin dianggap sebagai orang-orang yang tidak diberkati. Itu pendapat dunia. Sebaliknya, bisa kita lihat bahwa mereka yang mempunyai berbagai hal dalam hidup mereka, justru sering adalah orang-orang yang selalu merasa kurang puas atau tidak bahagia dalam hidup mereka. Hati mereka tidak terisi denganTuhan saja, tetapi juga dengan berbagai hal duniawi. Karena itu, mereka tidak pernah mengenal rasa cukup dalam hidup.

Di kalangan gereja pun, banyak yang percaya bahwa kita tidak dapat hidup dengan Tuhan saja. Kita harus bisa memperoleh kelimpahan dan kesuksesan dari Tuhan, begitu kata mereka. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak bisa berbahagia karena hal-hal duniawi.

Pada suatu ketika, Tuhan Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya Yesus merasa sangat lapar. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Apa jawab Yesus?

“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Walaupun Yesus lapar, Ia tahu bahwa selama komunikasi dengan Allah tetap ada, hidupNya akan tetap terlindungi dan rasa bahagia tetap ada.

Adalah kekeliruan besar jika manusia merasa bahwa hidupnya bergantung kepada berkat Tuhan, dan bukannya kepada Tuhan. Adalah suatu dosa jika kita berkata bahwa kita tidak dapat hidup tanpa berkat Tuhan. Yang benar adalah kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Hidup kita bergantung kepada Tuhan, bukan kepada apa yang diberikanNya. Kita memuji Tuhan, bukan memuji berkatNya.

Kita bisa hidup tanpa segala kekayaan dan kenikmatan, jika kita hidup didalam Tuhan yang tahu dan mau memberikan apa yang terbaik untuk kita. Tuhan jauh lebih besar daripada apa yang kita lihat dan kita terima. Karena itu motivasi utama kita dalam berbakti kepada Tuhan adalah untuk bisa dekat denganNya, dan bukan untuk memperoleh berkatNya.

Pagi ini, adakah yang anda sangat butuhkan dan rindukan? Mungkin ada sesuatu yang terasa sebagai kebutuhan yang harus ada dalam hidup anda saat ini. Anda mungkin merasakan tekanan hidup dan sangat menderita karena tidak adanya hal-hal itu. Tetapi, apakah anda tetap memiliki Tuhan dalam hidup ini? Jika benar begitu, anda mungkin seperti Filipus yang percaya jika ia bisa melihat adanya Tuhan, itu sudah cukup baginya.

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Mazmur 42: 1

Buat apa peduli atas hidup orang lain?

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Galatia 6: 1

Di Indonesia istilah EGP (Emangnya Gue Peduli) adalah istilah yang sangat populer, yang dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang mengucapkannya tidak mau memikirkan hal atau isu yang dibicarakan. Dalam bahasa Inggris, istilah “do I care” juga mengandung arti dan nada yang serupa. Walaupun istilah EGP seringkali ditulis dengan setengah bercanda, jika dipakai untuk mengomentari kesulitan yang dialami seseorang, nadanya terdengar sinis dan egois.

Sebenarnya sikap yang bernada EGP itu sering dipakai orang dalam hidup sehari-hari di Australia. Jika orang berjumpa dengan teman sekantor di pagi hari, mungkin mereka saling menyapa dengan “how are you” yang artinya “apa kabar”. Tetapi, dengan mengucapkan sapaan itu, sebenarnya mereka tidak mengharapkan untuk mendapat jawaban. Memang di zaman ini, orang tidak peduli atas apa yang terjadi pada orang lain, dan sapaan semacam itu hanya untuk sopan santun saja.

Ada banyak orang yang berpendapat bahwa sebagai manusia yang ingin hidup tenteram, sebaiknya mereka tidak melihat, mendengar atau membuat komentar apa-apa atas apa yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada hal-hal yang tidak baik yang terjadi, lebih baik tidak ikut campur. See no evil, hear no evil, say no evil. Jika orang tidak usil, tidak mencampuri urusan orang lain, hidupnya akan terasa damai. Ignorance is bliss. Memang jarang orang yang mau menolong orang lain, persis seperti yang diungkapkan dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10: 30 – 37).

Semua ketidakpedulian seperti diatas bukanlah sikap yang patut ditiru; tambahan lagi, ajaran dunia untuk “mind your own business” dalam hal-hal tertentu bisa bertentangan dengan prinsip kasih orang Kristen. Paulus menulis kepada jemaat di Galatia, bahwa sebagai orang percaya kita harus peduli atas apa yang terjadi pada orang lain dan mempunyai rasa empati dan simpati. Tidak hanya jika kita melihat orang yang menderita secara jamani, jika kita menjumpai orang yang sakit rohaninya, maka kita harus mau memimpin orang itu ke jalan yang benar dengan lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri, supaya kita sendiri jangan kena pencobaan. Sikap EGP atas kerohanian orang lain bukanlah sikap orang Kristen yang baik, dan sikap peduli kepada orang lain bukan hanya tugas para pendeta.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita tidak peduli atas cara hidup orang lain, kita secara tidak langsung membiarkan mereka jatuh dalam kesulitan atau hidup dalam dosa. Dapatkah kita melaksanakan hukum kasih selagi kita tidak peduli akan keadaan orang lain? Sudah tentu itu tidak mungkin. Yesus berkata bahwa hukum kasih yang kedua yang harus kita lakukan selagi kita hidup adalah untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri, dan dengan demikian kita harus selalu peduli akan keadaan orang lain dengan maksud untuk menolong mereka.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Isi lebih penting dari bungkus

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Roma 2: 29

Di zaman ini, jika saya pergi ke shopping centre selalu ada saja produk baru yang kelihatannya menarik perhatian. Dari bungkusnya saja, saya sering bisa menduga berapa harganya. Produk yang harganya mahal pasti punya bungkus atau kotak yang didesain sedemikian rupa, sehingga orang yang melihatnya lebih tertarik untuk membeli.

Walaupun begitu, untuk sebagian orang isi lebih penting dari bungkus; dan kualitas tentunya lebih disenangi daripada penampilan. Memang, ada produk yang terlihat bagus bungkusnya, tetapi isinya mengecewakan. Tambahan pula, harga bungkus itu sudah pasti termasuk dalam harga yang harus dibayar pembeli. Rasa sayang sering muncul kalau akhirnya bungkus yang indah itu harus dibuang ke tempat sampah.

Dalam hidup beragamapun, ada orang-orang yang lebih mementingkan bungkus daripada isi. Pada saat itu Paulus melihat bahwa orang Kristen di Roma mulai menonjolkan hal-hal yang berbau Yahudi, seperti hal mengikuti hukum Taurat dan kebiasaan Yahudi. Ia menegur jemaat Roma dengan menjelaskan bahwa semua yang nampak dari luar itu tidaklah penting. Apa yang penting adalah yang ada dalam hidup mereka sehari-hari.

Hukum Taurat yang berat itu, memang dalam pelaksanaannya sering membuat orang mencari jalan untuk bisa melanggarnya secara “halus”, yaitu melalui apa yang diperbolehkan menurut pikiran dan keputusan para pemimpin agama. Mereka terpaksa untuk memakai siasat “pilih-pilih” atau “pick and choose” untuk mencari cara gampangnya. Itulah sebabnya mengapa Paulus ,yang sebenarnya adalah orang Farisi yang mengenal seluk-beluk hukum Taurat dan kebiasaan orang Yahudi, mengatakan bahwa mereka yang bersikeras untuk menerapkan hukum Taurat tetapi melanggarnya adalah lebih buruk dari mereka yang hidup dalam kebenaran walaupun tidak mengenal hukum Taurat.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.” Roma 2: 14

Bagaimana orang percaya bisa berjalan dalam kebenaran tanpa memiliki hukum Taurat? Bagaimana mereka bisa menjadi orang Kristen sejati tanpa melalui hukum Taurat dan adat istiadat orang Yahudi? Yesus pernah berkata bahwa Ia tidak meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. Ia menjelaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dapat diringkas menjadi hukum kasih (Matius 22: 47 – 40).

Pagi ini, jika kita meneliti hidup kita, biarlah Firman Tuhan bisa menyentuh hati kita. Bahwa bukannya kebiasaan dan ritual agama yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati, karena apa yang kita pikir dan lakukan dalam hidup sehari-harilah yang lebih penting. Seperti bungkus tidak menentukan isi, begitu juga isi hidup kitalah yang lebih penting di hadapan Tuhan. Yesus sudah membayar hidup kita dengan harga termahal, dan pengurbananNya bukanlah agar kita mempunyai penampilan yang baik menurut hukum Taurat, tetapi agar kita memiliki hidup baru didalam Dia.

Siapa yang mengerti kesedihanku?

“Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.” Mazmur 22: 11

Alkisah ada dua orang gadis yang sudah sejak lama berteman, dan merasa bahwa mereka bisa saling mengerti. Sebagai dua sahabat kental mereka saling mengenal apa yang disukai dan dibenci oleh sahabatnya. Mereka sering pergi bertamasya bersama, menikmati perjalanan sambil beryukur bahwa mereka mempunyai seorang sahabat yang bisa dipercaya.

Pada suatu hari, berita yang tidak terduga datang, bahwa gadis yang satu tiba-tiba meninggal dunia. Apa sebabnya, tidak ada yang tahu. Namun, sudah tentu kejadian ini diluar dugaan siapapun. Orang yang masih muda, secara mengejutkan dan tanpa menunjukkan gejala sakit, bisa secara mendadak kehilangan hidupnya.

Bagi gadis yang lain, berita ini adalah berita yang sangat buruk. Ia merasa bahwa bagian hidupnya ikut hilang lenyap bersama hilangnya seorang sahabat. Apa salah sahabatku, sehingga ia harus mati dalam usia muda? Mengapa harus dia dan bukan aku? Mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi? Apakah Tuhan benar-benar ada? Jika Tuhan memang ada, mengapa Ia tidak bisa menolong?

Perasaan kesepian atau loneliness memang bisa timbul jika hidup kita mengalami badai. Bukan saja kesepian itu karena tidak adanya orang yang mengerti persoalan kita, tetapi juga karena kita merasa bahwa kita harus menghadapi badai itu seorang diri. Penulis Mazmur menulis ayat diatas ketika ia merasa bahwa Tuhan sudah mengecewakannya. Ia menjerit seperti Yesus sewaktu disalibkan: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Pemazmur berseru, tetapi Tuhan serasa tetap jauh dan tidak menolongnya (Mazmur 22: 1).

Pagi ini kita melihat bahwa perasaan lonely itu adalah wajar jika timbul dari dalam hidup kita. Pemazmur dan Yesus pun mengalaminya. Tidak ada hal yang salah jika kita merasa sedih karena ditinggalkan orang yang kita kasihi, atau mengalami kesulitan hidup yang besar baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, keuangan dan keluarga. Semua itu adalah bagian kehidupan di dunia. Baik orang Kristen maupun orang yang belum percaya bisa mengalaminya.

Walaupun demikian, perbedaan yang jelas terlihat dalam Mazmur diatas adalah bahwa pemazmur sebenarnya masih yakin bahwa Tuhan itu ada dan mau mendengar doanya. Karena itu, seperti Yesus di kayu salib, pemazmur menjerit kepada Tuhan; dan ia memohon agar Tuhan tetap menyertainya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!” Mazmur 22: 19

Apakah kesulitan yang anda alami saat ini sangat besar? Tidak adakah orang yang bisa menolong anda? Jika demikian, anda bukanlah orang satu-satunya yang mengalaminya. Yesus yang pernah merasakan penderitaan di kayu salib, adalah Tuhan yang mengerti apa yang anda derita dan rasakan. Ia jugalah yang mau mendengar seruan anda dan mampu menolong anda.

“Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.” Mazmur 22: 24

Adakah persiapan kita?

“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3: 3

Tahukah anda bahwa Prince Harry dan Meghan Markle, The Duke and Duchess of Sussex, akan melakukan tour luar negeri pertama ke Australia pada bulan Oktober tahun ini? Persiapan yang dilakukan Australia untuk menyambut kedatangan mereka di Sydney, Dubbo, Melbourne dan Fraser Island sudah dimulai. Mereka yang tinggal ditempat-tempat itu sangat bersemangat untuk memberikan acara welcome yang sebaik-baiknya karena mereka adalah anggota keluarga Ratu Inggris yang juga Ratu Australia.

Persiapan untuk kunjungan orang penting biasa dilakukan di kota besar seperti Sydney dan Melbourne, tetapi bagi kota kecil Dubbo yang berpenduduk sekitar 55 ribu orang, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Karena itu,tentunya beberapa fasilitas yang akan dipakai atau dilihat para tamu agung ini tentunya harus dibersihkan atau diperbaiki sebelum mereka datang. Tidak adanya persiapan yang baik akan menunjukkan bahwa Dubbo tidak benar-benar menghargai kunjungan mereka yang sudah memilihnya diantara kota-kota lain yang lebih megah di Australia.

Bagi orang Kristen, kenyataan bahwa mereka sudah dipilih oleh Tuhan mungkin tidak terlalu sering diberitakan. Namun kita harus mengerti bahwa kita menjadi anak-anak Tuhan bukan karena kita yang memilih Dia, tetapi karena Dia yang sudah memilih kita. Tidak ada alasan lain bagi Tuhan untuk memilih manusia berdosa seperti kita untuk diselamatkan, kecuali karena kasihNya yang juga menjadikan kita orang-orang yang berkecukupan dalam segala hal yang baik.

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Sayang sekali, banyak orang yang merasa bahwa mereka sudah diselamatkan, merasa bahwa menerima keselamatan dari Tuhan adalah karena melakukan hal-hal yang baik. Dari dulu memang manusia cenderung untuk berusaha untuk mencapai surga dengan mengikuti berbagai ritual agama. Pada pihak yang lain, setelah memenuhi persyaratan agama, mereka cenderung untuk menjalani hidup mereka seperti biasa, dan tidak merasakan perlunya adanya kelahiran baru yang sebenarnya.

Percakapan Yesus dengan Nikodemus, orang Farisi yang taat kepada hukum Torat, menunjukkan bahwa manusia sering merasa bahwa mereka sudah memenuhi syarat untuk mencapai keselamatan melalui hukum agama, dan bukannya anugerah Tuhan. Mereka merasa bahwa hidup mereka sudah dibenarkan sekalipun mereka belum berubah dari dalam. Memang, hidup baru atau lahir baru hanya dimungkinkan melalui darah Yesus yang membawa pengampunan dosa dan Roh Kudus yang memimpin hidup umat Tuhan hari demi hari.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Manusia zaman now juga sering yang menunjukkan gejala sindrom Nikodemus, yaitu hidup dengan “ayem-tentrem” karena merasa bahwa mereka sudah menjadi orang percaya; dengan membaca Alkitab dan pergi ke gereja. Mereka tidak sadar bahwa mereka yang benar-benar sudah mengikut Yesus tentu akan membuat persiapan dan mengalami perubahan hidup. Dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru yang penuh kasih dan menjauhkan diri dari dosa. Mereka akan berusaha untuk hidup suci, karena Yesus adalah suci.

Orang yang benar-benar percaya kepada Kristus adalah orang yang menantikan perjumpaan dengan Sang Juruselamat. Karena itu tidak mungkin baginya untuk tidak mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Orang Kristen yang tetap membiarkan hidupnya berjalan seperti biasa, yang tidak mau dipimpin Roh Kudus untuk disucikan, mungkin adalah orang-orang yang belum mengenal Kristus seperti halnya Nikodemus.

“Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” 1 Yohanes 3: 7

Badai membuktikan adanya bimbingan Tuhan

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran.” 2 Korintus 6: 4

Ada dua hal yang tidak dapat dihindari manusia yaitu kematian dan pajak. Nothing is certain but death and taxes. Begitulah pernyataan yang diucapkan oleh beberapa tokoh dunia, dan barangkali untuk pertama kalinya oleh Daniel Defoe, dalam bukunya yang berjudul The Political History of the Devil, pada tahun 1726. Ungkapan ini agaknya terasa sarkastik, tetapi ada benarnya. Setiap orang agaknya harus bekerja untuk hidup dan membayar pajak selama hidup, baik secara langsung atau tidak langsung, dan akhirnya menemui kematian. Ungkapan ini seolah berkata bahwa dalam kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian, yang pasti justru adanya hal yang tidak enak.

Mengapa manusia harus menghadapi segala macam penderitaan dan masalah dalam hidup ini? Sudah jelas bahwa karena kejatuhan kedalam dosa, manusia harus bekerja keras mencari nafkah seumur hidup dan akhirnya kembali menjadi debu.

“….dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 19

Walaupun demikian, kejadian yang menyedihkan yang tiba-tba muncul seperti sakit berat, kecelakaan, kebangkrutan dan kematian dalam usia muda, seringkali membuat orang kaget dan bertanya-tanya mengapa semua itu harus terjadi. Apalagi, jika hal-hal itu terjadi pada umat Tuhan. Bukankah Tuhan menyayangi umatNya? Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, keadaan sedemikian memang bisa menimbulkan tanda tanya besar, apalagi karena banyaknya orang Kristen yang mengajarkan bahwa dalam Tuhan selalu ada kebahagiaan, kecukupan dan bahkan kelimpahan.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus mengatakan bahwa dalam hidup, rasul-rasul sering menderita dan berdukacita, namun mereka senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin mereka justru mampu memperkaya banyak orang dalam iman dan pengetahuan yang benar; dan sekalipun mereka memiliki segala sesuatu dalam Tuhan, penampilan mereka terlihat sebagai orang yang rendah hati (2 Korintus 6: 10).

Paulus menulis bahwa keadaan rasul-rasul justru menunjukkan bahwa mereka adalah pelayan Allah karena mereka sanggup menahan dengan penuh kesabaran segala penderitaan, kesesakan dan kesukaran. Keadaan rasul-rasul itu dengan demikian tidaklah membuat orang lain menjadi enggan untuk menjadi pengikut Tuhan. Justru sebaliknya.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa jika keadaan yang kurang baik terjadi pada kita atau saudara seiman kita, kita tidak boleh merasa bahwa Tuhan itu sudah mengabaikan kita. Kita tidak bisa mengharapkan bahwa hidup kita selalu lancar, berkelimpahan dan nyaman, karena hal-hal itu belum tentu adalah tanda kasih Tuhan. Kasih Tuhan justru terlihat ketika kita tetap kuat dalam menghadapi segala macam badai kehidupan!

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62: 6

Mengambil keputusan

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3: 5 – 6

Hari ini adalah hari Jumat di Indonesia dan Australia, dan besok adalah hari libur. Apa yang anda rencanakan untuk akhir pekan? Keluar kota? Ikut lomba lari sehat? Ataukah sekedar rileks di rumah? Mungkin anda sudah mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu sejak lama. Mungkin juga anda belum mempunyai rencana, tetapi akan memikirkannya nanti malam.

Mengambil keputusan atau decision making adalah salah satu kemampuan manusia yang membedakannya dari makhluk lain. Jika ada hewan yang terlihat cerdas dan bisa mengambil keputusan, sebagian saintis berpendapat bahwa naluri dan kebiasaanlah yang membuat mereka melakukan hal itu. Walaupun pendapat ini masih sering diperdebatkan di dunia sains, yang bisa dipastikan adalah bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang menyadari konsep waktu dan karena itu bisa membuat keputusan dan rencana untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Jika manusia adalah makhluk yang istimewa karena bisa dan mau mengambil keputusan, ayat diatas menunjukkan bahwa mereka yang mengenal Tuhan adalah manusia yang istimewa. Mereka yang mengenal Tuhan mengerti bahwa dalam mengambil keputusan, Tuhanlah yang pada akhirnya menentukan hasilnya. Ini bukan berarti bahwa mereka tidak perlu bersusah-payah untuk mengambil keputusan, tetapi lebih dari itu, mereka harus meminta bimbingan Tuhan agar mereka bisa mengambil keputusan yang terbaik, sesuai dengan kehendakNya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan adalah Mahakuasa, Mahatahu, Mahahadir dan juga Mahakasih. Dengan kemahakuasaanNya, Tuhan mampu melakukan apa saja yang dikehendakiNya, pada waktu yang dipilihNya. Sebagai Tuhan yang mahatahu, Ia tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita mengucapkannya, dan juga tahu apa yang sudah dan yang akan terjadi. Ia jugalah Tuhan yang ada dimana-mana, dan karena sifatNya yang mahakasih, Tuhan yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang menyertai kita dalam setiap langkah kehidupan kita.

Sepandai-pandainya manusia apapun di dunia ini, tidak ada yang seperti manusia yang mengenal adanya Tuhan. Sebaliknya, sepandai-pandainya manusia manapun di dunia ini, ia pada hakikatnya tidak berbeda dengan hewan jika ia tidak mengerti adanya Tuhan yang mengatur jalannya seisi bumi dan jagad raya.

Pagi ini, jika anda harus mengambil keputusan untuk hal yang penting, dan ada rasa takut dan bimbang dalam hati anda, percayalah bahwa Tuhan anda adalah Tuhan yang mahakuasa, mahatahu, mahahadir dan mahakasih. Ini adalah iman kita, bahwa karena Yesus Kristus kita bisa memanggil Tuhan sebagai Bapa. Dan sebagai Bapa, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita seorang diri dalam menghadapi masa depan. Biarlah Roh Kudus membimbing kita dalam kita melangkahkan kaki kita selama hidup di dunia.

“Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.” 2 Tesalonika 3: 17

Hal menjadi satu daging

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Kejadian 2: 24 – 25

Hari ini saya melihat adanya ucapan selamat hari Yom Kippur di WA saya. Saya terperangah. Setahu saya tidak ada satupun teman saya yang merayakannya. Malahan, saya duga hampir semua tidak tahu maknanya. Apa sih Yom Kippur itu?

Menurut Wikipedia, Yom Kippur (יום כיפור yom kippūr); Hari Penebusan atau Hari Pendamaian (hari grafirat) adalah hari yang dianggap paling suci dalam agama Yahudi. Di Australia, Yom Kippur berlangsung sejak Selasa malam 18 September, sampai Rabu malam 19 September 2018.Walaupun disebut perayaan, sebenarnya ini dilakukan puasa selama 25 jam, dihitung dari terbenamnya matahari.

Ada hal-hal yang pantang dilakukan selama perayaan ini berlangsung. Selain tidak diperkenankan untuk makan dan minum, umat tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual. Memang dalam perkawinan Yahudi ortodoks, selalu ada hari-hari tertentu dimana hubungan seks tidak boleh dilakukan karena mereka ingin memusatkan diri kepada Tuhan.

Menurut Alkitab, seks adalah pemberian Tuhan yang baik, yang harus dipertahankan kemurniannya. Seks hanya baik jika dilakukan pada saat yang baik, dengan cara yang benar dan untuk tujuan yang mulia. Pengertian keadaan apa yang baik dan tidak baik agaknya berbeda dengan apa yang dijalankan orang zaman now, yang mungkin menganggap bahwa asal dua orang saling menyukai, seks dalam bentuk apapun, dimanapun dan kapanpun jadilah.

Menurut agama Kristen, seks adalah bagian kehidupan antara suami dan istri yang merupakan pemberian Tuhan. Seks seharusnya adalah sesuatu yang suci yang berdasarkan kasih antara suami dan istri sesuai dengan perintah Tuhan untuk menghasilkan keturunan (Kejadian 1: 28). Seks adalah bukan sesuatu yang tabu, kotor, atau memalukan jika dilakukan dua orang yang hidup dalam pernikahan. Hubungan antara suami dan istri seharusnya membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Kejadian 2: 24 – 25

Mengapa pandangan dunia akan pernikahan sekarang sudah berubah? Itu karena dosa manusia. Manusia sudah menjadikan manusia lain sebagai obyek nafsu mereka, baik dalam dunia nyata maupun maya. Banyak orang yang merasa bahwa hidup adalah milik mereka dan itu ada ditangan mereka sendiri. Hidup adalah untuk kenikmatan tubuh dan bukan untuk memuliakan Sang Pencipta. Tidak lagi menghormati perkawinan seperti yang ditentukan Tuhan, manusia justru berbuat hal-hal yang bisa menghancurkan perkawinan dan hidup mereka sendiri.

“Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” Ibrani 13: 4

Pagi ini, jika kita sudah diberkati Tuhan dengan seorang pendamping, biarlah kita hidup suci dalam perkawinan untuk seumur hidup. Hubungan kita dengan pasangan kita adalah ibarat hubungan gerejaNya dengan Yesus Kristus, dan karena itu harus didasarkan pada kasih.

Begitu pula jika ada diantara kita yang mendambakan seorang kekasih, biarlah kita menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan, agar kita mendapat seorang yang sepadan dalam iman kepada Tuhan. Selama dalam penantian, pikiran kita tidak boleh dipengaruhi oleh ajaran dunia yang merendahkan dan mengotori apa yang pada mulanya ditentukan Tuhan sebagai sesuatu yang baik adanya.

“…….. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.” 1 Korintus 6: 13b

Bagaimana bayangan anda tentang Tuhan?

“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Yohanes 4: 24

Apakah bayangan anda tentang Tuhan ketika sedang berdoa? Apakah anda membayangkan Dia seperti seorang raja dengan segala kemegahannya? Apakah anda membayangkan Dia dalam rupa Yesus seperti yang ada dalam berbagai buku Kristen? Bagaimana anda tahu dengan pasti bahwa Yesus mempunyai wajah seperti apa yang dipertunjukkan dalam film “The Passion of the Christ“?

Memang banyak orang yang merasa bahwa mereka akan lebih khusyuk berdoa jika mereka bisa membayangkan rupa Yesus, seolah Ia ada didekat mereka. Tetapi karena Alkitab tidak menjelaskan bagaimana rupa Yesus, apa yang digambarkan dalam buku dan film hanyalah khayalan manusia. Bagaimana pula dengan Allah? Allah adalah Roh, jadi kita juga tidak bisa membayangkan bagaimana penampilanNya.

Mengapa orang membutuhkan suatu gambaran tentang Tuhan? Ada beberapa sebabnya. Yang pertama ialah karena keterbatasan manusia, mereka hanya bisa melihat dan merasakan apa yang bersifat jasmani. Dari dulu, orang ingin mempunyai Tuhan yang bisa dilihat atau disentuh. Umat Israel pernah menuntut Harun untuk membuat patung anak lembu untuk disembah. Tentu saja Tuhan menjadi marah karena Ia dengan kebesaranNya telah digantikan dengan benda mati dalam wujud anak lembu (Keluaran 32: 1 – 4).

Kedua, sebagai manusia mereka merasa bahwa jika Tuhan bisa diwujudkan dalam bentuk badani, mereka akan lebih mudah untuk menyembahNya. Mereka akan dapat membawa Tuhan kemana saja. Tuhan selalu bisa terlihat dan dijumpai. Dengan demikian, ada orang yang menaruh gambar atau patung di rumah, di kantor, di mobil, di kalung dan dimanapun. Dan jika mereka tidak ingin selalu memikirkan Tuhan, dengan mudah mereka meninggalkan obyek penyembahan mereka di satu tempat. Mereka seolah mempunyai kontrol atas keberadaan Tuhan.

Bagi umat Kristen, Tuhan adalah Roh dan karena itu mereka tidak dapat menggambarkanNya. Mereka tidak perlu bisa membayangkan rupa Tuhan karena yang lebih penting adalah sifat-sifat dasar Tuhan seperti yang ditulis dalam Alkitab: mahakuasa, mahahadir, mahatahu (omnipotence, omnipresence dan omniscience). Dengan turunnya Yesus ke dunia untuk menebus dosa manusia, Tuhan juga terbukti mahakasih (omnibenevolence).

Manusia sebagai ciptaan Tuhan hanya dapat mengenal Tuhan melalui sifat-sifatNya, dan Tuhan hanya mengingini kita untuk mengingat apa yang sudah diperbuatNya dalam hidup kita. Tuhan tidak menghendaki manusia mempunyai bayangan yang keliru tentang kebesaranNya.

Ia memperkenalkan diriNya kepada umat Israel sebagai Tuhan yang sudah menyelamatkan mereka dari perbudakan Firaun.

“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Keluaran 20: 2 – 4

Ia jugalah yang sudah menyatakan kasihNya kepada kita melalui Yesus Kristus.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini, jika anda berdoa kepada Tuhan, kepada Tuhan yang mana pikiran dan hati anda akan dipusatkan? Kepada Tuhan yang terlihat dalam bayangan anda? Ataukah kepada sesuatu yang tergambar dalam bentuk jasmani di depan anda? Semua itu tidaklah bisa menggantikan Tuhan yang Roh. Sekalipun kita mengagumi alam semesta ciptaan Tuhan, alam semesta bukanlah Tuhan. Tuhan adalah Roh dan kita harus menyembahnya dalam roh.

Tidak ada sesuatu yang bisa menggambarkan kebesaran Tuhan, kecuali Yesus yang adalah Tuhan kita. Yesus yang sudah menggenapi janji Allah, adalah kebenaran Allah yang memungkinkan kita untuk mendekati Dia yang maha kuasa dan maha suci. Berbeda dengan murid Yesus yang bernama Tomas, sekalipun kita tidak pernah berjumpa dengan Yesus, kita berbahagia karena kita beriman kepadaNya. Walaupun kita tidak dapat membayangkan rupa Yesus, kita tahu bahwa Ia adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menyelamatkan kita.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29