Bila impian menjadi pudar

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Pagi tadi, selagi saya berjalan kaki, saya melihat sebuah papan tulis di depan sebuah kedai kopi yang berisi sebuah slogan yang lucu dan menarik perhatian: “Jangan biarkan impianmu hilang, lanjutkan tidurmu!”. Do not give away your dreams, keep sleeping! Mengapa itu lucu? Karena kata impian disini diartikan secara harafiah: jika kita tidak mau kehilangan impian kita, lebih baik terus tidur!

Dalam kehidupan sehari-hari nasihat agar tidak kehilangan apa yang kita impikan, biasanya diartikan agar kita jangan kehilangan apa yang kita cita-citakan. Impian masa depan kita, cita-cita, justru bisa hilang jika kita tetap tidur, alias tidak berjuang untuk mencapainya. Tetapi, mempertahankan impian atau cita-cita itu tidaklah semudah yang dibayangkan, karena jika kita tidak mencapainya, lama-lama semangat kita bisa ikut menjadi pudar bersama impian kita, dan kita pun menjadi putus asa dan tertidur.

Murid-murid Tuhan Yesus pun pernah mempunyai impian besar, yaitu bahwa Yesus pada suatu saat akan menjadi seorang raja umat Israel yang akan mengalahkan kerajaan Romawi. Mereka yang akhirnya melihat bahwa Yesus justru mengalami pergulatan di taman Getsemani, menjadi sangat lelah dan berdukacita sehingga mereka tertidur (Lukas 22: 45). Impian mereka tentang datangnya seorang Mesias dengan kebesaranNya kemudian diganti dengan rasa putus asa dan depresi.

Bagi kita pengikut Kristus, tentu tidak ada salahnya jika kita mempunyai sebuah impian, cita-cita, untuk masa depan. Jika itu bukan untuk diri kita sendiri, mungkin untuk anak atau cucu kita, atau juga sanak kita. Kita berharap agar mereka menjadi orang yang baik, yang takut akan Tuhan, dan memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Tetapi, jika yang kita harapkan tidak kunjung terjadi, kekuatiran mulai muncul dan rasa putus asa pun bisa mendatangi. Tidur mungkin menjadi suatu pelarian untuk bisa melupakan rasa sedih dan kecewa.

Haruskah kita menyerah dan melupakan segala impian kita jika hal itu tidak kunjung datang? Martin Luther King Jr. pada tahun 1963, membawakan pidato yang terkenal “I have a dream” yang mengutarakan impiannya tentang persamaan hak antara orang kulit berwarna dan orang kulit putih di Amerika. Pada tahun 1964, ia menerima hadiah Nobel untuk perjuangannya melawan ketidakadilan ras melalui jalan damai. Pada tahun 1968 ia ditembak mati, dan karena itu banyak orang yang merasa putus asa. Tetapi, impiannya perlahan-lahan terwujud.

Memang perjuangan hidup seringkali berat. Ayat diatas tidak menyuruh kita untuk menyerah, tetapi untuk menyerahkan segala impian kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kita tidak boleh jatuh tertidur dalam duka dan rasa putus asa. Selama kita masih dapat memohon dan bersyukur kepada Tuhan, selama itu jugalah kita masih bisa berharap kepadaNya.

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku.” Mazmur 38: 15

Kerakusan yang mengundang bencana

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Seingat saya, di Indonesia jika ada tamu berkunjung ketika tuan rumah sedang makan, pertanyaan kepada tamu itu adalah “sudah makan?”. Memang, di luar negeri pun orang kita terkenal sebagai orang yang ramah, friendly, dan menggunakan acara makan-makan untuk membina kesatuan dalam keluarga dan persahabatan.

Hal makan dan makanan memang bukan soal yang sepele. Allah yang menciptakan manusia di taman Eden sudah mempersiapkan segala yang perlu untuk bisa dinikmati oleh manusia ciptaanNya. “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas…”, begitulah Allah berfirman kepada Adam dan Hawa dalam Kejadian 2: 16.

Makan dengan bebas yang bagaimana? Kalau bebas tak berbatas, tentunya itu akan membawa akibat yang kurang baik untuk kesehatan. Adam dan Hawa pasti tahu bagaimana mereka seharusnya memanfaatkan berkat Tuhan sebelum mereka jatuh kedalam dosa. Bukankah kerakusan, keserakahan dan mencari kepuasan diri sendiri adalah dosa?

Hidup manusia setelah jatuh kedalam dosa menjadi berat, dan hanya dengan bersusah payah mereka dapat memperoleh makanan. Manusia setelah kejatuhannya dengan demikian tentunya sering berebut makanan dan menjadi mahluk yang rakus. Manusia siap membenci, merampok dan membunuh orang lain demi makanan. Manusia dengan keculasannya juga sering memakai makanan untuk menyuap, mempengaruhi dan menguasai orang lain, terutama mereka yang miskin dan kurang terpelajar. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, banyak orang yang menjadi pemuja makanan dan minuman.

Kerakusan adalah dosa, dan dalam tradisi sebagian orang Kristen, termasuk dalam 7 dosa besar. Karena soal makanan, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Allah dan membuatNya murka dengan mendatangkan hujan burung puyuh sehingga mereka yang rakus dan serakah mati dalam jumlah besar (Bilangan 11: 33 – 34). Karena merasa bebas, mereka yang mampu seringkali mempunyai kebiasaan makan dan minum dalam pesta pora, yang bisa menjauhkan mereka dari Tuhan (Galatia 5: 21).

Pagi ini, bagian Doa Bapa Kami diatas mengingatkan kita bahwa kita hidup bukan untuk memuaskan lidah kita. Untuk bisa hidup memuliakan Tuhan, pikiran kita tidak boleh dipusatkan pada hal makan minum, pesta pora dan kenikmatan badani. Dalam hal makan, dengan kebebasan yang Tuhan berikan kita harus bisa mengendalikan cara hidup kita. Kecukupan adalah lebih penting dari kelimpahan, sebab mereka yang berkelimpahan belum tentu merasa cukup. Lebih dari itu, keserakahan dan kerakusan jelas bisa membawa berbagai bencana dalam hidup. Karena itu, sebagai orang Kristen kita tidak boleh membuat makanan jasmani sebagai prioritas hidup diatas makanan rohani.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Karunia Allah yang terbesar adalah Yesus

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Alkisah ada seseorang yang berada didalam sebuah penjara menantikan pelaksanaan hukuman mati. Bukti-bukti sudah jelas menunjukkan bahwa ia bersalah. Tidak ada lagi harapan untuknya. Namun, suatu yang tidak tersangka terjadi. Ada orang lain yang mengaku bahwa ialah yang melakukan kejahatan itu. Orang yang di penjara itu akhirnya dibebaskan. Ia tentunya heran dan merasa beruntung. Apakah ia merasa beruntung untuk kebebasannya? Ataukah merasa beruntung karena ada orang lain yang menggantikan dia?

Seperti orang dalam kisah diatas, kita adalah orang-orang berdosa yang seharusnya mendapat hukuman yang berupa kebinasaan yang abadi. Allah yang mahatahu mempunyai bukti-bukti dosa kita. Tidak ada apapun yang bisa menolong kita, kecuali jika ada orang lain yang tidak berdosa, yang mau menggantikan kita. Yesus yang mati di kayu salib adalah orangnya. Karena pengurbanan Yesus itulah, Allah mau melupakan dosa kita. Kita harus bersyukur, tetapi untuk apa? Apakah karena kita sudah diselamatkan, ataukah karena Yesus sudah mati bagi kita?

Bagi sebagian orang Kristen, hal bersyukur karena menerima keselamatan dan bersyukur karena Yesus mau mengurbankan diriNya adalah tidak berbeda. Bukankah karena pengurbanan Yesus kita mendapat keselamatan? Bukankah keduanya tidak dapat dipisahkan?

Memang benar bahwa orang-orang yang sudah diselamatkan tentunya sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Tetapi, banyak orang Kristen yang merasa sudah terjamin keselamatannya, lupa bahwa mereka selamat hanya karena Yesus. Dengan demikian, mereka lupa bahwa hidup mereka seharusnya didedikasikan kepada sang Juruselamat. Mereka yang berpikir bahwa karunia Allah yang terbesar adalah keselamatan, sering menikmati hidup mereka sebagai orang yang lupa bahwa dalam kebebasan mereka dari belenggu dosa, mereka seharusnya menjadi hamba Kristus.

Pagi ini, jika kita bersyukur bahwa kita terbilang sebagai orang-orang yang diselamatkan, janganlah kita lupa untuk terus bersyukur atas pengurbanan Kristus. Bagi sebagian orang Kristen, hal menerima keselamatan dan berkat-berkat Tuhan adalah yang paling penting, bukan hal mengikut Yesus. Padahal, Yesuslah pemberian utama dan terbesar dari Allah sendiri. Allah sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk keselamatan mereka yang percaya.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Harapan satu-satunya

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7: 7

Pernahkah anda menunggu berita yang sangat anda harapkan, tetapi itu tidak kunjung datang? Berjam-jam, dan bahkan berhari-hari anda sudah menunggu, dan bulan-bulan pun kemudian lewat tanpa ada tanda-tanda kapan munculnya berita itu. Rasa ragu kemudian mungkin muncul, jangan-jangan penantian anda akan menjadi sia-sia. Memang, jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ketidaktahuan itu bisa membuat datangnya kesengsaraan.

Seperti itulah seseorang yang sudah divonis untuk menjalani hukuman mati, dan kemudian mengajukan permohonan grasi, tetapi setelah bertahun-tahun menunggu, keputusan yang dinantikan itu tidak kunjung datang. Memang orang bilang, selagi kita masih bisa hidup, kita tidak perlu memikirkan hari esok. Tetapi, bagaimana kita bisa menikmati hari ini jika kita tidak mempunyai harapan untuk hari depan? Jika tidak ada orang yang bisa diharapkan untuk bisa menolong?

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa hilang harapan ketika menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kebimbangan itu dengan melupakan hal itu, dalam hal besar orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Nabi Mikha juga mengalami kegundahan hati yang berat pada saat ia melihat bahwa bangsa Israel semakin menjauhi Tuhan. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan. Bagaimana ia bisa merasa damai jika masa depan seluruh bangsa terlihat suram?

“Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!” Mikha 7: 2 – 3

Keadaan bangsa Israel pada waktu itu memang sangat buruk, sampai- sampai rasa persahabatan, kekeluargaan dan kesatuan dalam negara, menjadi hancur berkeping-keping. Rasa curiga kepada orang-orang yang ada menjadi meningkat, dan banyak orang merasa bahwa orang lain berniat untuk mencelakakan mereka.

“Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Mikha 7: 4 – 6

Pagi ini, dimanapun kita berada, ada kejadian-kejadian yang bisa membuat kita gundah, merasa kuatir untuk menghadapi masa depan. Kita mungkin sudah lama mengharapkan datangnya perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi seringkali justru membuat keadaan menjadi semakin tidak menentu. Berapa lama lagi kita harus menunggu? Adakah yang baik, yang masih bisa kita harapkan?

Nabi Mikha tidak mempunyai harapan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia juga tidak dapat berharap bahwa keadaan akan berubah dengan sendirinya. Tetapi ia tahu bahwa Tuhanlah yang mempunyai rancangan dan Ialah yang mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, nabi Mikha tetap percaya bahwa Tuhanlah yang akan menolong bani Israel pada waktunya. Nabi Mikha tetap menunggu-nunggu TUHAN, dan mengharapkan Allah untuk menyelamatkan dia; karena ia percaya bahwa Allah akan mendengarkannya. Itu jugalah yang harus tetap kita lakukan sekarang ini.

Dapatkah kejahatan bercampur dengan kebaikan?

“Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Yohanes 3: 20 – 21

Dalam sebagian filsafat timur sering dikatakan bahwa kekuatan baik dan kekuatan jahat itu ada dalam diri tiap manusia, yang senantiasa bertarung, berebut pengaruh. Jika kekuatan baik lagi diatas angin, orang tersebut akan mempunyai tingkah laku yang baik. Sebaliknya, jika kekuatan jahat yang lebih kuat, orang itu akan berbuat jahat tanpa bisa menghindarinya.

Memang dalam kehidupan manusia selalu dihadapkan pada pilihan akan hal yang baik dan buruk. Walaupun demikian, seringkali orang mempunyai berbagai ragam pengertian tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam usaha untuk mencapai suatu hasil.

Dalam memilih apa yang baik, ada orang yang melihat dari segi maksud, ada yang menimbang dari segi cara, dan ada juga yang memikirkan hasilnya saja. Sebagai contoh, orang mungkin mempunyai maksud atau iktikad yang baik tetapi menggunakan cara yang kurang baik. Orang itu bisa saja tidak merasa bersalah karena ia yakin bermaksud baik. Menurut pemikiran orang ini,

baik + buruk = baik

Selain itu, jika ada orang yang mempunyai maksud buruk, tetapi menggunakan cara yang tidak melanggar hukum, apapun hasilnya orang itu tetap merasa tak bersalah.

buruk + baik = baik

Ada juga orang yang mempunyai maksud buruk dan menggunakan cara yang buruk, tetapi hasilnya terlihat baik.

buruk + buruk = baik

Orang ini mungkin bangga bahwa ia mencapai kesuksesan!

Bagi kita orang Kristen, konsep tentang kebaikan adalah didasarkan pada firman Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa apa yang jahat adalah jahat, dan dosa tidaklah dapat dicampur dengan apa yang baik untuk memperoleh hasil yang baik. Apa yang buruk tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Hasil yang terlihat baik tidak dapat dicapai dengan cara-cara yang buruk. The ends do not justify the means. Kita harus hidup dalam kebenaran pada setiap waktu dan keadaan.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 15 – 16

Dalam kenyataan hidup, orang yang senang melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan biasanya tidak ingin mendengar firman Tuhan dan memahaminya. Itu karena firman Tuhan adalah seperti terang yang membuat kekeliruannya terlihat jelas. Sebaliknya, mereka lebih senang untuk hidup dan berteman dengan orang-orang yang sepaham. Sebaliknya, mereka yang berjalan dalam terang Kristus selalu rindu untuk mempelajari firman Tuhan agar mereka makin bersinar dalam kebenaran.

Pagi ini, panggilan Tuhan kepada kita adalah untuk bersekutu denganNya. Sebagian diantara kita mungkin menyambutnya dengan kerinduan dan semangat. Tetapi mungkin ada juga orang-orang yang merasakan keseganan dan bahkan ketakutan untuk datang kepadaNya. Memang kegelapan tidak bisa bercampur dengan terang, tetapi terang Tuhanlah yang pada akhirnya dapat menyelamatkan semua orang yang bertobat.

Kita adalah terang dunia

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 46 – 47

Melihat hidup orang Kristen zaman sekarang, seringkali kita tidak dapat dengan mudah membedakannya dengan hidup orang yang bukan Kristen. Dunia ini sudah berubah sedemikian sehingga kebanyakan manusia hidup secara individuil dan memisahkan kepercayaan dari kegiatan sehari-hari. Malahan, orang yang sering menunjukkan ciri-ciri kekristenannya dalam masyarakat yang plural ini, justru sering dipandang aneh atau sok. Mereka yang duduk dalam kepemimpinan negara pun seringkali tidak dapat diharapkan untuk memberi teladan.

Kegiatan orang Kristen, dan juga persekutuan orang percaya, mungkin hanya terlihat nyata dikalangan sendiri. Di dunia Barat, tidak hanya jumlah orang Kristen berkurang, kegiatan umat Kristen pun harus berjalan dibalik kedok kegiatan badan-badan sosial umum untuk tidak dituduh “eksklusif”. Di banyak negara, orang yang benar-benar menunjukkan sifat-sifat Kristennya seringkali menjadi orang yang kurang populer. Karena itu, menjalankan firman Tuhan dan memuji Tuhan mungkin hanya bisa dilakukan secara “incognito” alias tersembunyi dan “untuk kalangan sendiri ” agar tidak menyinggung orang lain atau menimbulkan pergunjingan.

Bagaimana dengan kehidupan zaman dulu, ketika orang Kristen baru saja dikenal sebagai kelompok masyarakat yang lain dari yang lain? Apa ciri-ciri mereka dan bagaimana tanggapan masyarakat? Dari ayat diatas kita bisa membaca bahwa mereka adalah orang-orang yang tekun dan sehati dalam berbakti kepada Tuhan. Mereka berkumpul tiap hari dalam Bait Allah dan mengadakan perjamuan kudus di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira sambil memuji Allah. Mereka disukai semua orang dan karena itu jumlah orang yang diselamatkan berkembang pesat. Baik di rumah maupun di tempat lain, masyrakat bisa melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang baik perilaku dan cara hidupnya.

Pagi ini kita mendapatkan kesempatan untuk memikirkan hal perilaku dan kehidupan kita. Pertanyaan untuk kita: apakah kita mempunyai perilaku dan cara hidup yang bisa membuat orang lain tertarik untuk menjadi pengikut Kristus? Ataukan hidup kita selalu membaur dengan orang yang belum benar-benar mengenal Tuhan?

Mereka yang belum mengenal Tuhan selalu mencintai dirinya sendiri dan suka menjadi hamba uang. Mereka senang membual dan menyombongkan diri. Mereka tidak segan untuk memfitnah dan berontak terhadap orang tua. Orang yang sedemikian tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, suka berlagak tahu, dan lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah (2 Timotius 3: 2 – 4).

Sudah tentu, jika hidup kita tidak berbeda dari mereka yang belum diselamatkan, orang lain tidak akan tertarik untuk mengikut Kristus. Tetapi jika kita tetap mempunyai perilaku dan cara hidup yang baik di zaman ini, banyak orang akan bisa melihat bagaimana iman kita sudah mengubah hidup kita, dari sesuatu yang tidak berguna, menjadi terang untuk masyarakat di sekeliling kita.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5: 14

Takutlah kepada Tuhan, bukan kepada manusia

Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13: 6

Kemarin saya mendapat kiriman sebuah video tentang seseorang yang mengemudikan sebuah mobil dan terjebak di sebuah jalan di tengah kota setelah ia menyerempet kendaraan lain. Segerombolan orang-orang yang mengejarnya kemudian menghancurkan kaca mobil dan merusak mobil itu. Kejadian di siang hari bolong itu sungguh bisa membuat hati siapapun berdebar-debar. Bagaimana jika kejadian itu terjadi pada diri kita?

Dalam hidup manusia, mungkin ada kejadian yang lebih menakutkan dari apa yang terjadi di atas. Apa yang timbul dalam pikiran orang-orang yang mengalaminya tentunya berbeda-beda. Walaupun demikian, kejadian semacam itu, baik untuk orang Kristen maupun bukan Kristen, sudah tentu bisa membuat detak jantung menjadi lebih cepat, dan bahkan bisa saja membuat orang mendapat serangan jantung.

Apa reaksi kita jika hal itu terjadi pada diri kita? Menjerit minta tolong? Menutup mata dan menyerah? Mencoba melawan? Melarikan diri? Bagaimana pula dengan berdoa? Bagaimana jika rasa takut sudah menguasai kita? Bagaimana pula jika ada hal-hal yang menakutkan yang belum terjadi, tetapi bisa datang sewaktu-waktu? Akankah hidup kita menjadi lumpuh? Hal ini memang sukar untuk bisa dipastikan, karena hanya yang pernah mengalaminya bisa menceritakan apa yang ia lakukan.

Memang dalam sejarah, berbagai kejadian yang mengerikan sudah terjadi pada pengikut-pengikut Kristus. Stefanus menemui ajalnya karena dirajam banyak orang. Rasul Petrus, dikabarkan menemui ajalnya karena disalibkan dengan posisi tubuh yang terbalik. Yohanes Pembaptis dipancung kepalanya dan begitu juga Rasul Paulus, mungkin menerima nasib yang sama.

Penderitaan orang-orang Kristen memang terjadi karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Tetapi, seperti yang ditulis Rasul Paulus, mereka tidak merasa hancur karena adanya berbagai penindasan dan penganiayaan.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Siang ini, mungkin hati kita gundah melihat keadaan di sekeliling kita. Tetapi, apa yang dikatakan Yesus harus selalu kita ingat. Kita tidak boleh takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Sebaliknya, kita harus takut kepada Tuhan yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Dengan demikian, sekalipun itu tidak mudah dilakukan, kita harus melatih diri kita untuk bisa menyerahkan hidup dan segala kekuatiran kita kepadaNya hari demi hari. Hanya dengan cara ini, kita tetap bisa hidup dan tidak menjadi hancur dalam ketakutan kita.

“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Matius 10: 28 – 31

Hidup baik hanya dimungkinkan oleh Tuhan

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22 – 23

Satu hal yang membuat saya merasa agak sedih jika membeli suatu produk di zaman now adalah bungkus atau packaging -nya. Barang apapun yang dijual di toko harus dibungkus sedemikian rupa, sehingga kelihatan seperti barang yang bagus dan berharga. Tetapi, kecantikan bungkus belum tentu menjamin kualitas isinya. Selain itu, kertas bungkus yang berlapis-lapis itu akhirnya harus dibuang ke tempat sampah.

Bukan saja barang yang dibungkus, orang zaman ini pun sering dibungkus dengan berbagai “hiasan” yang menutupi keburukan cara hidup dan sifat mereka. Sering kita jumpai orang yang nampaknya baik dan terpelajar, tetapi hidup dan hatinya dipenuhi kejahatan dan kebencian. Ada pula orang yang kelihatannya menarik dan kaya raya, tetapi kotor pikirannya dan kejam sifatnya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang karena itu merasa was-was ketika menjumpai mereka yang terlihat “terlalu baik”.

Memang agaknya kebanyakan orang ingin terlihat rapi dan indah dalam penampilannya sehari-hari. Itu tidak ada salahnya. Tetapi, jika itu dimaksudkan agar orang lain mengaguminya, barulah muncul tanda tanya. Apalagi, jika orang berusaha untuk terlihat baik untuk menutupi hidup yang sebenarnya. Selain itu, mungkin saja ada yang percaya bahwa dengan berbuat baik, dosanya akan berkurang; sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan iman Kristen.

Manusia yang terbungkus keindahan mungkin saja hanya kepalsuan. Tetapi tidak semua manusia yang terlihat baik adalah kepura-puraan. Mereka yang lahir baru, seharusnya sudah menanggalkan hidup lamanya, dan dengan itu, hidup baru dalam Kristus perlahan-lahan muncul. Hidup yang berbuah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, dimungkinkan Tuhan melalui Roh Kudus yang bekerja dalam diri setiap orang percaya.

Buah-buah Roh adalah berlawanan dengan hidup lama manusia yang sering diisi dengan percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatia 5: 19 – 21).

Dapatkah orang menjadi baik tanpa Roh Kudus? Dikatakan dalam ayat diatas bahwa segala yang terlihat baik itu adalah buah Roh Kudus yang bekerja dalam diri seseorang. Bukan hasil perbuatan manusia, bukan rekayasa, tetapi hasil pekerjaan Roh Kudus yang mengisi hidup orang yang percaya. Dan semua itu dimaksudkan untuk membawa kemuliaan kepada Tuhan, bukan untuk diri sendiri atau demi rasa kemanusiaan. Dengan demikian, mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak dapat berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan.

Pagi ini, jika kita membaca ayat diatas, adakah keyakinan kita bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita? Apakah kita merasakan bahwa hidup kita sudah banyak berbuah untuk kemuliaan Tuhan? Memang untuk bisa banyak berbuah, kita harus menyerahkan hidup kita kedalam pimpinan Roh di setiap waktu, dan itu tidak mudah dilakukan. Biarlah kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kita sekalian.

Apa yang kau perbuat dengan talentamu?

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Dalam kehidupan ini, mereka yang berhasil dalam karir adalah orang-orang yang bisa  menghasilkan sesuatu yang baik dalam pekerjaannya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang bisa menunjukkan apa hasil pekerjaan mereka. Orang yang berhasil adalah orang yang bisa meng-klaim upah untuk apa yang baik yang sudah dihasilkannya.

Tidak ada yang salahnya jika kita meng-klaim apa yang memang sudah semestinya kita peroleh. “Claim your reward” adalah sesuatu yang sering diucapkan agar orang tidak ragu untuk meminta penghargaan atas hak dan prestasinya. Walaupun demikian, untuk orang Kristen, bekerja dan menghasilkan sesuatu yang baik bukanlah semata-mata untuk mendapat penghargaan. Orang Kristen percaya bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan karena itu segala kemuliaan seharusnya untuk Dia yang memungkinkan.

Untuk orang Kristen, hidup di dunia mengharuskan mereka untuk bisa bekerja dengan efisien. Malahan, sebagai orang percaya, kita harus bisa bekerja dengan lebih giat karena majikan kita bukanlah pimpinan atau boss yang kita temui di kantor, tetapi adalah Tuhan sendiri.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Karena itu, sudah selayaknya kita bekerja dengan penuh semangat untuk kemuliaanNya.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14 – 30), tiga hamba yang sudah diberikan modal bekerja yang berlainan oleh tuan mereka, pada akhirnya melalui penilaian hasil kerja atau performance assessment, harus menunjukkan laba yang sudah mereka peroleh. Kita bisa membaca bahwa mereka yang dibekali dengan lima dan dua talenta, kemudian mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 23

Hamba yang ketiga hanyalah menerima satu talenta. Ia merasa kecewa dan tidak yakin akan kegunaannya. Karena itu ia tidak mengolah talenta yang sudah dipercayakan kepadanya dan hanya menyimpannya didalam tanah. Bagi hamba ini, bukannya upah yang diterimanya, tetapi hukuman atas kemalasannya.

Sangat menarik perhatian, bahwa dalam perumpamaan itu ketiga hamba itu hanya diperintahkan untuk mengolah harta majikannya. Mereka dipercayai untuk memegang sejumlah uang sesuai dengan kesanggupan mereka untuk mengolahnya. Sebagai hamba mereka tidak dijanjikan hadiah jika mereka mencapai hasil tertentu. Tetapi, tentunya setiap hamba tahu bahwa mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan apa yang terbaik untuk sang majikan. Dengan demikian, sekalipun kita tahu bahwa Tuhan menghargai kesetiaan kita, “upah” dari Tuhan tidak seharusnya menjadi motivasi kita untuk bekerja bagi Tuhan karena segala sesuatu berasal dari Tuhan.

Pagi ini, sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan kita talenta, kemampuan untuk bekerja baik dalam bidang jasmani maupun rohani. Sebagai hamba Tuhan, kita hanya menjalankan perintahNya untuk mengembangkan apa yang sudah dititipkanNya kepada kita. Banyak orang yang merasa bahwa keberhasilan hanya terlihat dari benda-benda yang dapat diperolehnya. Mereka tahu bagaimana bisa meng-klaim hadiah dari jerih payahnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani dan materi. Tetapi, orang yang mau memikirkan talenta rohani yang diberikan Tuhan mungkin tidaklah banyak. Mereka hanya memendam talenta itu, seperti halnya hamba yang ketiga.

Firman Tuhan pagi ini berkata bahwa segala sesuatu, baik kemampuan jasmani ataupun rohani, adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan kepada Tuhan. Karena itu bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Apakah kita sudah memakai semua kemampuan itu sebagaimana mestinya?

Nasib kita memang mujur

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Ungkapan “memang sudah nasib” sering kita dengar di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, orang membicarakan soal nasib (fate) di rumah, pasar, mal, kantor dan dimanapun juga. Nasib agaknya berlaku untuk siapapun juga, baik mereka yang kaya atau yang miskin, baik yang berpendidikan atau yang kurang berpendidikan. Memang kata orang, nasib adalah penentu keadaan atau keberuntungan seseorang.

Dalam beberapa agama dan budaya, memang hal nasib itu diajarkan sebagai suatu keputusan Ilahi yang tidak dapat diganggu gugat. Seorang menjadi dokter karena sudah ditentukan Tuhan, dan orang lain yang menjadi tukang sapu juga sesuai dengan kehendakNya. Sebuah negara yang makmur adalah karena kehendak Tuhan, dan negara lain yang miskin dan bahkan terjajah adalah karena keputusan Tuhan juga. Memang sudah nasibnya.

Dalam pandangan Kristen, kata nasib itu sebenarnya tidak ada. Memang dalam Alkitab terjemahan Indonesia, kata “nasib” itu muncul beberapa kali, tetapi itu adalah bertalian dengan soal bahasa dan budaya. Alkitab tidak mengajarkan bahwa Tuhan menentukan manusia untuk berbuat dosa, atau memutuskan bahwa hanya bangsa tertentu yang bisa diselamatkan. Tuhan tidak juga menentukan keadaan tertentu agar orang terpaksa untuk menjadi pengikutNya, tetapi setiap orang diberikanNya kesempatan untuk menjawab panggilanNya. Manusia bukan “robot” Tuhan, dan Tuhan bukanlah “dalang” kehidupan manusia dan alam semesta.

Memang bagaimana Tuhan yang maha kuasa itu menjalankan kuasa dan kedaulatanNya di seluruh jagad raya sudah diperdebatkan manusia sejak dulu. Di kalangan orang Kristen pun ada berbagai pendapat yang agaknya bertentangan. Tetapi tentu saja apa yang sebenarnya dipikirkan dan dilakukan Tuhan, hanyalah Tuhan yang tahu.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

Walaupun demikian, hal yang pasti dalam iman Kristen ialah kepercayaan bahwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuai dengan pemeliharaan (providensia) Tuhan, yang ada sejak dari awalnya dan tidak pernah berubah, karena Ia maha tahu dan sempurna. Tuhan yang menciptakan manusia dengan kasihNya adalah Tuhan mau menyelamatkan manusia dengan kasihNya.

Memang manusia yang sudah jatuh dalam dosa tidaklah bisa bebas dari kasih Tuhan. Jika itu dikatakan “nasib”, itu mungkin satu-satunya kenyataan yang tidak dapat ditolak manusia. Sekalipun dosa manusia sebesar apapun, Tuhan senantiasa mau mengampuni mereka yang bertobat. Nasib mujur?

“Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Walaupun kasih dan kemurahan Tuhan itu tidak ada batasNya, keputusan ada di tangan manusia untuk mau menerimanya. Segala hal yang perlu untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mahluk ciptaan nomer satu yaitu manusia, sudah diperbuatNya. Tuhan memberikan matahari dan hujan kepada semua orang, baik yang jahat maupun yang baik, tetapi tidak semua orang mau bersyukur kepada Dia.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Lebih dari itu, Tuhan sendiri sudah turun ke dunia untuk memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk percaya dan diselamatkan; tetapi dalam kenyataannya, tidak semua orang mau percaya kepada Yesus Kristus.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini, kita melihat bahwa Tuhan mempunyai rencana kasih untuk seluruh umat manusia yang diciptakanNya. Rencana Tuhan untuk manusia, baik dalam hal jasmani maupun rohani, adalah rencana yang melibatkan Dia sebagai Sang Pencipta dan manusia yang diciptakanNya sebagai gambar Tuhan. Karena itu, sebagai orang yang sudah mengambil keputusan untuk mengikut Dia, kita harus percaya bahwa apapun keadaan kita sekarang ini, itu bukanlah sesuatu yang kita harus terima sebagai “nasib” saja, tetapi sebagai kesempatan untuk bisa bekerja bersama Tuhan untuk memuliakan Dia dan mendatangkan kebaikan bagi sesama kita yang saat ini “bernasib malang”.

Tuhan memerintahkan agar setiap orang percaya untuk mengabarkan injil keselamatan ke seluruh penjuru dunia, agar orang yang belum mengenal Kristus bisa menerima kabar keselamatan itu dan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus. Biarlah mereka menjadi mujur seperti kita!

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19