Hati-hatilah dengan hatimu

“Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 19

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati, kalau menurut pantun lama. Tetapi simbol jatuh cinta adalah sebuah anak panah yang menembus sebuah heart (jantung) dan bukannya liver (hati). Hati berbeda dengan jantung, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kata “hati” sering dipakai untuk menggantikan kata “jantung”.

Hati dalam arti kiasan adalah pusat perasaan manusia yang bersifat rohani, berbeda dengan otak yang dianggap sebagai alat pemikiran duniawi. Sering jika seseorang mengalami kebingungan, nasihat yang diberikan oleh orang lain adalah “ikuti kata hatimu”. Hati dianggap lebih murni dari otak dan mempunyai kesadaran yang lebih dalam mengenai hubungan antar manusia, antara manusia dengan Tuhan, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Dengan hati juga manusia seolah bisa merasakan cinta, kemarahan (sakit hati) dan kedamaian.

Apa yang dikatakan Alkitab mengenai hati manusia? Hati dalam Alkitab dipakai untuk menggambarkan berbagai hal, seperti kehidupan, jiwa, perasaan, pikiran, tujuan, maksud dan sebagainya. Tetapi hati juga dipakai untuk menggambarkan tempat dimana dan dari mana hal yang baik dan hal yang buruk bisa tinggal dan dipancarkan.

Yesus pernah berkata bahwa dimana harta kita berada, disitu juga hati kita berada (Matius 6: 21). Itu berarti bahwa apa yang menarik perhatian kita di dunia bisa menyeret hidup (hati) kita. Yesus juga pernah menasihati murid-muridNya agar menjaga diri mereka, supaya hati mereka jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (Lukas 21: 34). Dengan demikian, menjaga kesucian hati adalah penting dalam kehidupan orang Kristen.

Lebih lanjut, dari ayat pembukaan diatas kita melihat bahwa Alkitab menulis bahwa hati manusia adalah sumber segala sesuatu yang jahat. Sebab hati yang sudah dikuasai dosa akan mengeluarkan buah-buah yang berupa segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak pernah melakukan pembunuhan, perzinahan dan apa yang kelihatannya sangat jahat dimata manusia. Tetapi, hal berbohong dan memfitnah orang lain juga berasal dari sumber yang sama: hati yang dikuasai dosa.

Adalah kenyataan bahwa sebagai orang percaya kita juga masih bisa jatuh kedalam dosa. Jika demikian, bagaimana keadaan hati kita? Hati kita tetap merupakan sumber segala hal jahat yang tertimbun didalamnya. Semakin banyak hal yang jahat yang kita simpan didalamnya, semakin sering kita melakukannya. Tetapi, jika kita mengisi hati kita dengan hal yang baik, apa yang keluar dari hati adalah hal-hal yang bisa memuliakan Tuhan. Jika kita membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita dengan sepenuhnya, dengan sendirinya hal-hal yang jahat akan terusir keluar, untuk digantikan dengan hal yang baik. Kegelapan diganti dengan terang.

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Lukas 6: 45

Pagi ini kita disadarkan bahwa kita tidak boleh puas dengan keadaan hati kita saat ini. Perjuangan hidup kita sebagai orang percaya tidak pernah berakhir sampai Tuhan memanggil kita. Kecenderungan untuk berbuat dosa selalu ada, dan oleh sebab itu kita harus berhati-hati dalam mendengarkan suara hati kita. Semangat kita untuk menjadi lebih baik dalam hal kemurnian hati tetap harus dipupuk, untuk membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, sehingga hati kita berkelimpahan dengan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yohanes 7: 38

Hidup suci yang bagaimana?

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 14 – 16

Salah satu julukan yang sering diberikan kepada orang Kristen adalah “orang yang sok suci”. Ucapan ini keluar dari mulut seseorang mungkin ketika ada orang Kristen yang menegur cara hidupnya. Bagi orang yang ditegur, adanya sesama manusia yang berani menegurnya seolah membawa kesan kurang ajar. Siapakah dia yang merasa hidupnya lebih suci dari orang lain? Jangan pura-pura suci! Orang munafik!

Memang semua orang di dunia adalah orang berdosa. Orang Kristen pun orang berdosa, tetapi karena penebusan Kristus dosanya sudah diampuni Tuhan. Orang yang sedemikian adalah orang yang merasa beruntung; dan dengan demikian, ia ingin untuk memuliakan Tuhan yang mahakasih dan hidup suci seperti apa yang dikehendakiNya. Ini bukan berarti bahwa orang itu tidak bisa berbuat dosa lagi, tetapi ia sadar bahwa dosa adalah hal yang tidak disenangi Tuhan yang mahasuci.

Bagi orang yang kurang mengerti, hidup suci atau hidup kudus adalah keadaan yang sempurna yang seharusnya terjadi setelah orang menjadi pengikut Yesus. Bukan begitu! Sebenarnya, apa yang terjadi ketika seseorang menjadi orang percaya adalah pembenaran (justification); ketika Tuhan menerima orang itu sebagaimana adanya, dan mengampuni dosa-dosanya. Sejak saat itu, orang yang benar-benar percaya akan berusaha untuk hidup dalam kesucian dengan pertolongan Tuhan (sanctification) sehingga ia mencapai kedewasaan dalam iman (maturity).

Kesempurnaan selama hidup di dunia itu tidak terjadi secara tiba-tiba seperti keajaiban. Hari demi hari pengikut Kristus tetap harus berjuang menghadapi tantangan dan godaan, dalam usaha mereka untuk menjadi suci seperti Kristus dibawah bimbingan Roh Kudus. Perjuangan ini hanya berakhir ketika pada akhir hidup, mereka berjumpa dengan Sang Juruselamat dan menerima kemuliaan dan kesucian yang sepenuhnya (glorification).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3: 2 – 3

Mereka yang benar-benar sudah diselamatkan pasti berubah hidupnya dan tidak mau untuk tetap hidup dalam dosa. Mereka bukanlah orang yang “sok suci”, tetapi orang yang benar-benar tahu apa dosa itu dan membencinya.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Pagi ini, kita diingatkan bahwa cara hidup kita di dunia adalah pilihan kita. Jika kita sudah menerima keselamatan, perubahan hidup kita adalah sesuatu yang seharusnya bisa terlihat karena adanya kesadaran bahwa hidup suci adalah perintah Tuhan. Lebih dari itu, karena kita sudah diselamatkan semata-mata karena anugerah Tuhan, hidup suci juga untuk memuliakan namaNya. Sebagai manusia kita tidak dapat hidup suci dengan kekuatan kita sendiri. Biarlah Roh Kudus membimbing hidup kita hari demi hari, supaya hidup kita makin lama makin menyerupai hidup Kristus!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Hal menjadi saksi dusta

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.” Keluaran 23: 1

Di zaman ini, berbagai berita muncul di sosial media seperti Whatsapp, Facebook dan Twitter setiap hari. Banyak diantara berita itu hanyalah kabar bohong atau setengah bohong, tetapi masyarakat umum tetap gemar membacanya. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang yang sengaja menggunakan sosial media sebagai landasan untuk mencapai tujuan mereka, baik tujuan yang benar maupun tujuan yang salah.

Dari sumber berita yang dapat dipercaya, ternyata banyak tokoh masyarakat yang menggunakan cara yang serupa untuk melakukan perang propaganda, psywar, guna menaklukkan saingan atau lawan politik mereka. Bahkan mereka mempunyai penulis-penulis dan artis-artis tertentu yang mendukung mereka dengan mengedarkan berita-berita dan meme yang “miring”, yang tidak jelas kebenarannya.

Bagi banyak orang Kristen, ikut-ikutan membaca dan menyebarkan berita-berita semacam itu mungkin dianggap lumrah. Selama apa yang diungkapkan dalam tulisan itu sesuai dengan selera dan pandangan mereka, barangkali itu dianggap bisa diterima. Sekalipun mereka tahu bahwa ada kemungkinan apa yang disampaikan adalah tidak benar, mereka mungkin berpendapat bahwa kebenaran bisa ditegakkan dengan cara apapun. Mereka mungkin juga percaya bahwa maksud baik boleh menghalalkan cara. Apa kata firman Tuhan dalam hal ini?

Dari ayat pembukaan diatas kita bisa membaca bahwa dari awalnya bani Israel diperintahkan untuk tidak menyebarkan kabar bohong; atau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak pernah melakukan hal-hal itu dengan sengaja. Tetapi dengan ikut-ikutan menyebarkan, kita sebenarnya membantu orang lain untuk melakukannya.

Masalahnya, di zaman ini kita sering tidak bisa dengan mudah membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Kita juga sering tidak tahu pendapat siapa yang benar dan ucapan siapa yang salah. Tambahan pula, pengetahuan manusia adalah sangat terbatas dan karena itu kita tidak dapat membaca pikiran dan hati orang lain. Hanya Tuhanlah yang tahu segala apa yang tersembunyi dari mata manusia.

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Pagi ini, sebagai umat Kristen kita dipanggil untuk menjadi terang dunia yang menyinarkan kemuliaan Tuhan dalam segala tindak tanduk kehidupan kita. Sebagai orang percaya, kita harus berbeda dengan orang yang tidak mengenal Kristus. Karena itu, sudah seharusnya kita tidak ikut-ikutan terpancing dalam mengeluarkan atau mengedarkan berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, atau hal-hal yang menimbulkan kebencian dan kekacauan dalam masyarakat.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Jangan membahayakan dirimu atau orang lain

“Apabila engkau mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya.” Ulangan 22: 8

Di zaman modern ini manusia pada umumnya sudah mempunyai kesadaran akan perlunya keselamatan fisik (safety) dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas kehidupan. Hari-hari dimana kita boleh mengendarai motor tanpa memakai helm, atau mengendarai mobil tanpa sabuk pengaman, dan juga memakai ponsel sambil menyetir mobil sudah berlalu, dan sekarang kita bisa didenda polisi jika melakukan hal-hal semacam itu. Walaupun demikian, setiap hari mungkin kita masih bisa melihat adanya orang-orang yang melanggar peraturan keamanan, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai tempat di dunia.

Angka kecelakaan di banyak negara pada saat ini masih sangat tinggi, baik di jalan raya, industri maupun rumah tangga. Karena banyaknya kecelakaan, mungkin orang merasa biasa, dan bahkan kebal, dalam melihat apa yang seharusnya terasa menyedihkan, yang terjadi dalam masyarakat. Begitu juga orang Kristen, banyak diantara mereka yang kurang sadar akan peran mereka dalam mengurangi angka kecelakaan.

Masalah safety adalah masalah yang sangat penting, tetapi jarang dibahas di gereja. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan bahwa hal ini termasuk dalam domain hukum, bukan agama. Walaupun begitu, ayat diatas jelas menunjukkan bahwa kita harus memikirkan hal keselamatan orang lain dalam setiap tindakan kita. Itu karena Tuhan berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 39).

Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, sudah cukup baik untuk orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita rasakan baik untuk diri kita akan membawa kebaikan untuk orang lain. Tidaklah mengherankan jika banyak orang berpendapat bahwa apa yang aman untuk dirinya, juga aman dan tidak berbahaya untuk orang lain.

Memang, untuk bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa dengan secara benar mengasihi diri kita sendiri, seperti Kristus yang sudah mengasihi umatNya.

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” Efesus 5: 29

Mereka yang serampangan dengan hidupnya, tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Mereka yang sering membahayakan diri sendiri, sering juga membahayakan orang lain. Mereka yang sering berani mengambil resiko, pastilah kurang bisa mempertimbangkan resiko bagi orang lain, terutama resiko bagi mereka yang kurang dalam hal kepandaian, ketrampilan dan kemampuan.

Pagi ini, sebelum kita mulai mengerjakan kegiatan kita sehari-hari, marilah kita memikirkan perbuatan apa saja yang kita biasa lakukan, yang bisa membahayakan diri kita. Lebih dari itu, kita harus mengerti apa saja yang bisa membahayakan orang lain. Selain itu kita harus bisa memperhitungkan hal yang terburuk, yang mungkin terjadi pada diri kita dan orang lain. Jika kita enggan untuk memikirkan hal-hal itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Benarkah kita mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri?

Jadilah penjala manusia

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Matius 4: 19

Kemarin pagi, selagi saya berjalan menyusuri pantai Broadwater di Gold Coast saya melihat pemandangan yang menarik. Ratusan burung camar dan bangau bakau berlomba terbang dan terjun ke laut untuk menangkap ikan. Kelompok ikan yang kebetulan berenang dalam jumlah besar disepanjang pantai itu merupakan makanan empuk untuk burung-burung liar yang kelaparan itu.

Apa yang saya lihat kemarin sering terjadi di danau Galilea yang dihuni banyak burung camar dan berbagai burung pemakan ikan lainnya. Israel adalah tempat dimana berbagai burung yang melakukan migrasi tahunan dari negara lain berkumpul pada musim tertentu di danau-danaunya. Mungkin saja pada saat Yesus masih di dunia, burung-burung itu sudah bersaing dengan para nelayan dalam hal menangkap ikan, seperti apa yang terjadi sekarang.

Ketika itu Yesus sedang berjalan menyusur danau itu, dan Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus kemudian mengajak mereka berdua untuk mengikut Dia dan meninggalkan pekerjaan mereka, untuk menjadi penjala manusia. Dan keduanya, tanpa membantah, menuruti ajakan Yesus!

Seperti apa yang dikatakan Yesus kepada Simon dan Andreas pada waktu itu, ajakan untuk menjadi penjala manusia masih tetap dikumandangkanNya kepada setiap orang percaya. Yesus sebelum meninggalkan dunia ini berkata:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Menjadi penjala orang, menarik manusia kepada Kristus adalah tugas yang sangat penting, yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku pengikutNya. Di dunia ini masih banyak orang yang perlu diperkenalkan kepada Injil keselamatan, agar mereka mau menerima Yesus sebagai Juruselamat. Yesus adalah satu-satunya jalan, dan itu harus diberitakan agar bukan diri kita saja yang memperoleh keselamatan.

Memberitakan Injil bukan hanya berarti menjadi penginjil dan pendeta, tetapi juga bisa berarti menjadi orang-orang yang mau mengamalkan firman Tuhan dalam hidup mereka, sehingga orang lain bisa mengenal Tuhan yang hidup dalam hati mereka. Memberitakan firman tidak hanya melalui mimbar, tetapi di zaman ini bisa melalui berbagai media, pendekatan dan cara.

Sewaktu Simon dan Andreas masih menjala ikan, burung-burung liar bersaing dengan mereka. Sebagai penjala manusia, mereka kemudian mendapat saingan dan bahkan musuh berbahaya yang berusaha mencuri kabar keselamatan yang mereka sampaikan, bagaikan burung-burung liar yang mencuri benih yang ditaburkan (Matius 13: 3 – 4).

“Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.” Matius 13: 19

Pagi ini kita diingatkan untuk bisa menjadi penjala manusia dimanapun kita berada. Kita juga diingatkan bahwa kita akan bersaing dengan iblis yang berusaha untuk mencuri perhatian manusia dan membuat mereka melupakan firman Tuhan yang sudah ditaburkan.

Adakah perasaan belas kasihan dalam hati kita, ketika melihat begitu banyak orang disekitar kita, dan bahkan sanak keluarga, yang belum benar-benar menerima hidup baru didalam Kristus? Bahwa mereka akan akhirnya menemui kebinasaan? Yesus sudah memanggil kita: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Maukah kita menjawab dengan “ya”?

Apa rencanamu?

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14

Hari kemarin adalah hari berkabung. Seorang teman sejawat yang kantornya bersebelahan dengan kantor saya meninggal dunia. Sedih memang, karena kejadian itu tidak disangka. Minggu lalu beliau masih bekerja seperti biasa, hari Senin di awal minggu ini masuk ke rumah sakit untuk dioperasi; tetapi belum itu sempat dilakukan, beliau meninggal sewaktu tidur.

Buat banyak orang, meninggalnya seorang teman atau sanak adalah hal yang membawa kesedihan. Tetapi, untuk orang Kristen hal yang benar-benar menyedihkan adalah jika orang yang dikenalnya meninggalkan dunia ini tanpa mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mengapa begitu? Karena mereka tidak mungkin berjumpa lagi untuk selamanya. Perpisahan itu adalah perpisahan yang abadi.

Walaupun hal meninggalkan dunia ini adalah bagian dari kenyataan hidup, sebagian besar manusia tidak mau memikirkannya. Mungkin karena kematian adalah hal yang menakutkan, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah itu.

Sebaliknya, bagi umat Kristen kematian seharusnya disambut dengan sukacita; karena dengan itu, kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan akan menjadi kenyataan. Tetapi, tidak semua orang Kristen bisa berpikir seperti Paulus yang menerima hidup sebagai pengabdian untuk Kristus dan kematian sebagai keuntungan.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Bagi kebanyakan orang, termasuk orang Kristen, hidup justru kesempatan untuk mencari untung. Untuk memperoleh kesuksesan, kekayaan, kepandaian, kenikmatan dan berbagai kenyamanan pribadi. Mumpung bisa, selagi masih hidup. Mereka lebih suka memikirkan hal-hal duniawi daripada memikirkan hal-hal surgawi. Padahal Yesus pernah berkata bahwa adalah lebih baik jika kita mengumpulkan harta di surga.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19 – 20

Memang sepandai-pandainya manusia, ia tidak berarti di hadapan Tuhan. Mereka yang merasa bijak dengan menggunakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mencari keuntungan duniawi, adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti bahwa Tuhanlah yang akhirnya menentukan apa yang akan terjadi pada hidup mereka. Ayat pembukaan diatas menggambarkan hidup manusia yang seperti uap, tiba-tiba bisa lenyap.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk jangan terlena dalam hidup ini. Jangan sampai pandangan hidup kita dipusatkan pada hal mencari keberhasilan di dunia, seperti yang diajarkan oleh banyak motivator dan ditunjukkan oleh beberapa pemuka agama kaliber dunia. Sungguh menyedihkan kalau itu terjadi dalam hidup orang Kristen.

Apa yang seharusnya kita lakukan? Bukankah sebagai orang beriman kita harus memberi teladan kepada masyarakat di sekeliling kita dengan hidup kita? Benar! Memang setiap orang Kristen harus mempunyai rencana yang baik dan bekerja keras dalam hidupnya, tetapi itu haruslah disesuaikan dengan kehendak Tuhan dan dipakai untuk kemuliaanNya.

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Manusia berusaha, Tuhan menentukan

“Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” Efesus 1: 11

God is in control. Ungkapan ini sering kita dengar, tetapi tidak dapat diterjemahkan secara tepat dan singkat kedalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang mengartikan “Tuhan yang menentukan” , “Tuhan yang berkuasa” atau “Kehendak Tuhan jadilah” ; tetapi semua itu tidak sama dengan “Tuhan yang memegang kemudi”.

Dalam kehidupan, manusia berusaha; tetapi Tuhan yang mempunyai rencana, akan mewujudkan rencana itu. Kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya terjadi, sekalipun manusia melakukan apa saja yang diingininya. Manusia dengan akal budinya bekerja dan menempuh perjalanan hidup yang berliku-liku, tetapi Tuhan bisa mengakomodasi semua apa yang terjadi untuk mewujudkan semua kehendakNya.

Banyak orang yang dengan mudah berkata bahwa apapun yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Tuhan. Tetapi, sekalipun maksudnya baik, ucapan itu tidak selalu tepat. Manusia sebagai ciptaan Tuhan bisa berbuat apa saja, tetapi belum tentu apa yang diperbuat mereka sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena itu adalah dosa, jika manusia berjalan menurut jalannya sendiri. Tetapi, ayat diatas menunjukkan bahwa Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang memungkinkan orang yang percaya kepadaNya untuk bisa pada akhirnya menerima keselamatan melalui darah Yesus, sesuai dengan kehendakNya dari semula.

Seperti apa yang terjadi dalam hidup rohani kita, apa yang terjadi dalam hidup jasmani kita dan juga apa yang terjadi di dunia, belum tentu indah. Manusia bisa jatuh sakit, entah itu karena pembawaan atau kelalaian, tetapi kehendak Tuhan yang mahakuasa pasti terjadi pada akhirnya. Malapetaka bisa terjadi di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, baik karena kebodohan manusia maupun hukum alam, tetapi Ia jugalah yang memegang kemudi, dan pada akhirnya mencapai apa yang direncanakanNya.

Apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari seringkali membuat kita merenung. Apakah hal ini dan hal itu adalah kehendak Tuhan? Sebagai manusia kita mungkin tidak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Apa yang dipikirkan manusia tidaklah sama dengan apa yang dipikirkan Tuhan. Kehendak Tuhan seringkali tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Walaupun demikian, setiap orang beriman harus tetap setia untuk berkomunikasi dengan Tuhan untuk mencari kehendakNya. Hidup kita akan berjalan lebih lancar jika kita mengerti dan menuruti apa yang dikehendaki Tuhan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa hidup di dunia ini adalah seperti perjalanan sebuah perahu. Kita mungkin ingin mengemudikan perahu itu karena merasa paham dan sanggup. Kita mungkin ingin mengabaikan rambu-rambu Tuhan dalam perjalanan, karena itu seolah cara yang cepat dan tepat untuk mencapai tujuan. Tetapi apa yang kita lakukan selalu membawa akibat dan resiko yang harus kita tanggung sendiri. Karena itu, adalah bijaksana jika kita selalu menuruti apa yang dikehendaki Tuhan dan membiarkan Dia memegang kemudi kehidupan kita, sebab kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya terjadi.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 17

Keselamatan kita dijamin Tuhan

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1: 3 – 5

Pernahkah anda mengalami kesulitan besar dalam hidup anda, sedemikian rupa sehingga anda merasa bahwa hidup ini terlalu sulit untuk ditempuh dan barangkali lebih enak kalau anda bisa ke surga sekarang juga? Mungkin anda belum pernah mengalami perasaan semacam ini. Walaupun demikian, setiap hari di dunia ini ada banyak orang Kristen yang membandingkan pilihan untuk terus hidup dalam perjuaangan dan penderitaan di dunia, dengan kesempatan untuk ke surga. Rasul Paulus pun pernah membandingkan hal hidup dan mati baginya.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Filipi 1: 21 – 22

Sudah tentu Paulus tidak bisa menentukan kapan ia akan dipanggil ke surga; karena itu, ia memutuskan bahwa selama masih hidup, ia akan berjuang untuk memuliakan nama Tuhan.

Memang, adalah baik jika kita bisa seperti Paulus, tetap kuat menghadapi hidup di dunia ini. Tetap bisa memakai kesempatan apapun untuk melayani Tuhan dan sesama. Tetapi, ada kalanya hidup ini sangat berat dan kita merasa lelah dan berputus asa.

Mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana dalam perjuangan hidupnya, Paulus bisa tetap bisa tabah dalam iman dan yakin bahwa ia akan bisa menerima keselamatan. Banyak umat Kristen yang menjadi ragu untuk keselamatan yang dijanjikan Tuhan, bukan karena kuatir bahwa Tuhan akan melupakan janjiNya, tetapi karena keraguan apakah mereka tetap bisa hidup bertahan menghadapi segala persoalan. Hidup memang bisa menjadi sangat berat, dan jika Tuhan tidak menolong mereka, bagaimana mereka bisa bertahan dalam iman dan tetap diselamatkan?

Ayat-ayat pembukaan diatas adalah tulisan rasul Petrus yang ditujukan kepada jemaat Kristen di beberapa tempat yang mengalami berbagai pencobaan. Petrus menulis bahwa Yesus Kristus dengan kasihNya yang besar, melalui kematian dan kebangkitanNya, akan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima hidup yang kekal. Petrus lebih lanjut menulis bahwa kita akan dipelihara Allah karena iman kita sementara kita menantikan keselamatan yang telah tersedia.

Pagi ini, jika kita meragukan apakah keselamatan itu akan tetap tersedia untuk kita karena hidup kita saat ini bagaikan perahu yang diombang-ambingkan ombak, firmanNya berkata bahwa Tuhanlah yang akan memelihara kita. Iman bukanlah hasil jerih payah kita; iman berasal dari Tuhan yang sudah diberikan kepada kita, besar ataupun kecil, menurut ukuran yang sesuai dengan kehendakNya (Roma 12: 3). Selama kita tetap berpegang pada iman itu, Tuhan akan memelihara dan melindungi kita sehingga keselamatan itu tidak bisa lenyap. Tuhan tidak berjanji untuk menghilangkan ombak kehidupan kita, tetapi Ia berjanji untuk memelihara kita sampai akhir zaman!

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6

Bukan hanya bermanis-manis di bibir

“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Keluaran 20: 7

Di zaman ini, orang agaknya bisa mendengar nama Tuhan disebut-sebut dalam pergaulan sehari-hari dan bahkan juga dalam pidato-pidato para pejabat. Memang dalam kehidupan sehari-hari, nama Tuhan dikaitkan dengan berkat dan kuasaNya. Karena itu, menyebut-nyebut nama Tuhan mungkin bisa membawa kesan baik dalam hubungan antar umat manusia yang mengakui adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Sering kita mendengar orang yang dengan kesungguhan berkata “Tuhan memberkati kamu” atau “semoga Tuhan menyertaimu”. Bisa juga diucapkan “semoga Tuhan membalas kebaikanmu berlipat ganda” atau “puji nama Tuhan”. Dalam sosial media, kita sering pula menjumpai meme yang menyebut-nyebut nama Tuhan, atau pesan-pesan yang diakhiri dengan singkatan “GBU” atau “YLU”. Tetapi selain itu ada orang-orang yang sepertinya “latah”, yang menyatakan rasa terkejut atau heran, dan bahkan memaki, dengan memanggil nama Tuhan. Di negara barat malahan acara komedi dewasa (adult comedy) sering berisi kata-kata kotor dan lelucon yang menyebut-nyebut nama Tuhan.

Ayat diatas adalah bagian yang ketiga dari sepuluh hukum Tuhan yang diterima oleh Musa untuk ditaati bani Israel. Dengan adanya kedua hukum kasih dari Tuhan Yesus (Matius 22: 36 – 40), banyak orang Kristen yang sekarang merasa bahwa sepuluh hukum Taurat itu sudah tidak berlaku, atau tidak penting lagi untuk dibahas. Tetapi itu tidak dapat dibenarkan. Yesus berkata bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5: 17).

Jelas bahwa kita tetap harus berusaha untuk tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan seperti yang ditulis dalam kesepuluh hukum Tuhan yang dinyatakan kepada Musa. Tetapi apa yang dimaksud dengan kata “sembarangan” itu bukanlah sesuatu yang mudah dimengerti, apalagi jika orang mengucapkannya dengan “maksud baik”.

Memang menyebut nama Tuhan secara sia-sia dan tanpa alasan adalah salah. Tetapi ada hal-hal lain yang juga keliru jika kita menyebutkan nama Tuhan:

  • sekedar karena kebiasaan,
  • tanpa adanya kesungguhan,
  • untuk menyenangkan yang mendengar,
  • tanpa mengerti sebab dan akibatnya, dan
  • tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus, tiap kali kita menyebut nama Tuhan itu harus benar-benar dimaksudkan untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Kita menyebut nama Tuhan sebagai wakilNya, dan karena itu harus sadar akan perintah dan kehendakNya. Tidak sepatutnya kita mengeluarkan kata-kata pemanis bibir yang terdengar indah, jika kita tidak benar-benar mengerti apa arti, tujuan dan kebenarannya. Karena itu, setiap kali kita menyebut nama Tuhan, kita harus yakin bahwa Tuhan setuju akan apa yang kita ucapkan. Apa yang kita ucapkan harus selalu berdasarkan firman Tuhan dan bukan berdasarkan kebiasaan saja. Dengan demikian, apa yang kita sampaikan kepada orang lain juga bisa bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3: 16).

Semoga Tuhan membimbing kita dalam melaksanakan perintahNya!

Apakah kita cukup baik untuk Tuhan?

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Apakah anda orang baik? Kalau saja pilihannya hanya dua, orang baik atau orang jahat, di hadapan orang lain mungkin bisa dipastikan bahwa jawaban anda adalah “orang baik”. Memang dalam pengertian umum, orang jahat adalah perampok, pembunuh, koruptor dan sejenisnya. Sudah tentu kita bukanlah seperti mereka yang suka melanggar hukum, the outlaws.

Tetapi, apa beda orang baik dan orang jahat di hadapan Tuhan? Dalam Lukas 18: 11 – 14, dikisahkan adanya dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri tegap dan berdoa mengucap syukur karena ia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah. Sebaliknya, pemungut cukai itu tidak berani menengadah ke langit, tetapi memohon agar Allah mengasihani dia karena dosanya. Yesus yang menyampaikan kisah itu kemudian berkata bahwa orang pemungut cukai itu justru adalah orang yang dibenarkan Allah.

Orang Farisi itu merasa yakin bahwa ia orang baik. Begitu pula banyak orang di zaman ini yang merasa sudah banyak berbuat baik. Tetapi, dihadapan Tuhan semua orang adalah orang yang tidak benar, alias orang jahat.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Mereka yang seperti pemungut cukai itu mengaku sebagai orang-orang yang berdosa, sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang sakit, yang memerlukan tabib untuk memperoleh pengobatan. Mereka akan dibenarkan karena Yesus sudah datang untuk menebus dosa mereka.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Darah Yesus sudah menjamin bahwa dosa yang segelap apapun bisa diampuni. Karena itu, mereka yang mengakui dosa-dosanya dan berpaling kepada Yesus akan diterima Tuhan sebagai anak-anakNya, sekalipun jauh dari sempurna.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Walaupun demikian, ada orang-orang yang sering merasa bahwa hidup mereka belum cukup baik untuk bisa menerima keselamatan dari Tuhan. Apalagi jika pengalaman masa lalu muncul lagi dalam pikiran. Dengan segala penyesalan dan rasa malu, setiap hari mereka merasa tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Hidup mereka terasa sengsara, sebab Tuhan terasa jauh dan tidak peduli. Mereka tidak sadar bahwa di dunia ini tidak ada orang yang cukup baik untuk Tuhan, kecuali jika mereka sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat dan mempersilahkan Roh Kudus untuk tinggal dalam hidup baru mereka, dan memperbaiki hidup mereka hari demi hari.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11

Pagi ini, jika kita masih mempertanyakan apakah Tuhan menuntut kita untuk mencapai tingkat kebaikan tertentu untuk bisa diselamatkan, mungkin kita lupa bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar Tuhan yang mahasuci. Hanya karena darah Kristus, kita orang yang jahat ini bisa diterima sebagai orang yang baik dihadapan Tuhan. Pujilah Tuhan selalu karena kasihNya!