Menjadi pemimpin yang baik

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.“ 1 Petrus 5: 3

Leaders are born not made. Seorang pemimpin adalah dilahirkan, bukan dibuat, begitu ungkapan yang sering dikumandangkan. Memang ada benarnya bahwa seorang pemimpin yang hebat adalah orang yang kelihatannya sudah sejak dari kecil tumbuh dengan bakat memimpin orang lain. Walaupun demikian, sebagian ahli jiwa berpendapat bahwa seorang pemimpin adalah dibuat dan bukannya dilahirkan. Hanya melalui pendidikan dan latihan, seorang bisa menjadi pemimpin yang baik. Leaders are made not born.

Mana yang benar? Apakah pemimpin itu dilahirkan sebagai pemimpin atau belajar menjadi pemimpin? Tentu saja mereka yang bisa menjadi pemimpin yang baik adalah orang yang berbakat dari lahir dan memperoleh didikan, latihan dan pengalaman yang cukup. Tidak ada orang yang bisa menjadi pemimpin dunia tanpa menerima gemblengan yang cukup dari orang lain.

Bagi orang Kristen, satu-satunya pemimpin yang dilahirkan dan tidak dibuat adalah Yesus Kristus yang sebagai Allah sudah turun ke dunia sebagai manusia. Ialah pemimpin terbesar, Raja diatas segala raja yang harus dimuliakan. Semua pemimpin lain yang ada di dunia adalah manusia biasa yang bercacat-cela dan yang tidak perlu disembah.

“Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Kisah Para Rasul 5: 31

Jika Yesus adalah Pemimpin manusia yang terbaik, bagaimana orang Kristen bisa menjadi pemimpin yang baik? Dengan mencontoh Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 5 – 7). Ia menjadi pemimpin terbesar karena mau mengurbankan diriNya.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2: 8

Dengan demikian, pemimpin Kristen yang baik adalah orang yang mau berkurban seperti Yesus, dan bukannya orang yang menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya bisa memerintah dan menyuruh orang lain. Pemimpin yang baik harus mau belajar untuk bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain. Ia harus mempunyai kasih dan kesabaran serta bisa menghargai seluruh bawahannya.

Pagi ini kita belajar bahwa setiap orang Kristen yang mendapat kesempatan untuk memimpin orang lain, baik dalam negara, perusahaan, masyarakat maupun keluarga, haruslah menjadikan dirinya sebagai orang yang siap bekerja untuk kebaikan orang lain.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 25 – 28

Tuhan melindungi kita

“Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” Yohanes 17: 15

Sejak kelahirannya, seorang anak mendapat perhatian dan bimbingan orangtuanya. Semua orangtua tentunya mengingini anak-anak mereka berhasil dalam hidup mereka. Karena itu, sedapat mungkin orangtua umumnya ingin membantu anak-anaknya sejak dari kecil, melewati masa- masa sekolah, universitas, bahkan sampai mereka bisa berumah-tangga.

Maksudnya baik tetapi caranya sering salah, ada orangtua yang membantu anaknya agar bisa berhasil dalam bersekolah dengan cara-cara yang tidak benar; bahkan untuk bisa masuk dan lulus di universitas idaman, orang tua menggunakan berbagai cara agar itu bisa tercapai. Cara “menebus” atau bail out kepentingan anak ini sangat sering terjadi, terutama di negara-negara berkembang. Cara-cara itu dianggap biasa asal tidak terang-terangan melanggar hukum. Bagi orang tua, hal-hal semacam itu sering dilakukan dengan alasan “cinta kasih” kepada anak-anak mereka. Mereka memang sangat berharap agar anak-anak mereka bisa menjadi orang-orang yang sukses di hari depan.

Benarkah upaya orangtua untuk meringankan hidup anak seperti diatas? Mungkin orangtua yang melakukan hal itu tidak pernah memikirkan bahwa semua cara yang sedemikian bukan hanya membuat anak menjadi manja dan kurang bisa berdiri sendiri, tetapi juga bisa membuat masa depan anak menjadi suram karena mereka tidak terbiasa untuk menghadapi tantangan hidup. Celakanya, anak yang dididik sedemikian, mungkin saja akan mendidik anak mereka dengan cara yang serupa.

Bagaimana pula Tuhan mendidik anak-anakNya? Alkitab menulis bahwa Bapa yang baik tidak memanjakan anaknya.

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Tuhan yang mahakasih memberkati umatNya bukannya selalu dengan kenyamanan tapi dengan ketabahan. Ia tidak memberikan kenyamanan yang berlebihan bagi semua umatnya, tetapi dengan apa yang bisa dinikmati dengan rasa cukup dan syukur setiap hari. Yesus memang mengajarkan kita untuk meminta rezeki yang secukupnya untuk hari ini (Matius 6: 11). Ia juga pernah berkata agar kita tidak kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri (Matius 6: 34).

Pagi ini, jika kita merasa hidup kita berat, kita harus sadar bahwa Tuhan tidak ingin memisahkan umatNya dari manusia yang lain dan memberi hidup yang penuh kenyamanan di dunia. Selama hidup di dunia yang penuh dosa ini semua orang akan menghadapi bahaya, tantangan, perjuangan dan masalah. Tetapi bagi umat Tuhan ada satu jaminan bahwa Tuhan tetap akan melindungi mereka. Karena itu kita tidak seharusnya berdoa agar Tuhan membuat hidup kita ringan dan nyaman, tetapi sebaliknya berdoa meminta agar Tuhan memberi kekuatan dan perlindungan dalam menghadapi segala tantangan. Sebab kedamaian, dan bukannya kenyamanan, adalah ciri hidup orang Kristen.

“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13: 5 – 6

Yang paling penting dalam hidup

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16: 26

Sampai tahun lalu, setiap tahunnya Australia menerima sekitar 190 ribu migran dari berbagai negara. Sebagian diantara mereka yang datang adalah para pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri dari peperangan dan penindasan yang ada dalam negara masing-masing. Berdasarkan alasan kemanusiaan atau humanitarian, orang-orang yang sudah terseleksi itu datang ke Australia untuk menjadi penduduk tetap.

Bagi mereka yang datang ke Australia, menyesuaikan diri dengan bahasa, hukum dan kebiasaan di Australia adalah suatu tantangan. Banyak migran yang meninggalkan sanak saudaranya di negara asal mereka, merasa bahwa untuk bisa hidup bahagia di negara baru ini adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Adalah kenyataan bahwa sebagian dari para migran ini tidak dapat beradaptasi dan karena itu terpaksa pulang atau dipulangkan ke tempat asalnya dan kehilangan kesempatan untuk menetap di Australia untuk selamanya.

Sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang terpilih untuk diselamatkan karena kasih Kristus. Kita sudah memperoleh izin menetap di surga bukan karena kebaikan atau keistimewaan kita, tetapi karena belas kasihan Tuhan semata. Kita yang dulunya warga dunia, sekarang menjadi warga surga karena Yesus yang datang dari surga sudah menyelamatkan kita.

“Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Yohanes 17: 16

Sebagai orang yang sudah dipilih untuk menjadi warga surga, seharusnya kita bisa melupakan apa yang menjadi pusat perhatian dunia. Uang, gelar, kemasyhuran, kenikmatan tubuh dan berbagai hal badani seharusnya tidak dapat memikat kita lagi. Tetapi, seperti kata ungkapan tentang rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau dibandingkan dengan rumput di halaman sendiri, orang Kristen yang sudah menjadi warga surga, masih sering tertarik untuk mengejar hal-hal duniawi yang nampak gemerlapan, yang dinikmati banyak orang.

Sering terlihat bahwa dalam hidup sehari-hari, sebagian orang yang mengaku Kristen terlihat lebih mirip seperti warga dunia daripada warga surga. Mereka lebih memusatkan perhatian pada usaha mengejar kesuksesan duniawi daripada memuliakan Tuhan. Malahan ada yang sering mengukur dalamnya iman dengan kesuksesan duniawi yang dipunyai. Jelas bahwa sebagian diantara mereka ada yang belum benar-benar mau menjadi warga surga. Selain itu, mereka yang sudah menerima kesempatan untuk hidup baru, tetapi tidak dapat menyesuaikan hidup dengan ajakan firman Tuhan untuk memuliakan Tuhan diatas segalanya, lambat laun tergoda untuk meninggalkan imannya dan kembali menjadi warga dunia. Mereka melupakan Kristus dan menjadi hamba dunia lagi.

Di tahun baru ini, patutlah kita memikirkan kewarganegaraan kita lagi. Yakinkah kita akan keputusan kita untuk mengikut Yesus dan menjadi warga surga? Ataukah kita masih sering tergoda untuk memakai kesempatan guna mencari kepuasan duniawi? Hati kita tidak dapat mendua, karena kita hanya boleh memilih satu saja.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 25

Tahun baru, harapan baru

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 13: 12

Tanggal satu bulan satu, itulah tahun baru. Tidak terasa 365 hari sudah berlalu, dan semua yang terjadi kini tinggal hanya kenangan. Mungkin diantaranya ada kenangan yang indah dan kita berharap untuk bisa mengulanginya di tahun yang baru ini. Tetapi, apa yang menjadi kenangan buruk, kita berharap agar tidak terjadi lagi.

Apa yang akan terjadi pada tahun yang baru ini tidak ada orang yang tahu. Walaupun begitu, orang Kristen percaya bahwa Tuhan sudah mengatur segala sesuatu dari mulanya. Tuhan yang mahatahu bisa melihat apa yang akan terjadi, dan mampu melakukan apa yang perlu untuk memenuhi rancanganNya. Dengan demikian, walaupun manusia bebas menjalani hidupnya, pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan agar segala sesuatu terbentuk sesuai dengan apa yang dikehendakiNya.

Jika Tuhan mempunyai rencana, itu pasti terjadi. Jika tidak demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa. Hal ini jika dipikirkan dalam-dalam, bisa membuat kita kuatir. Tuhan yang mahakuasa, tentunya tidak dapat kita tentang. Apa yang dikendakiNya? Apakah itu adalah sesuatu kita sukai ? Kapan itu akan terjadi? Itu adalah beberapa pertanyaan yang mungkin ada pada saat kita memasuki tahun baru ini.

Sebagai manusia kita tahu bahwa apa yang tidak bisa kita pastikan, seringkali mendatangkan kegalauan. Berbagai contoh dalam Alkitab menunjukkan adanya orang-orang seperti Abraham dan Simson yang tidak sabar menunggu tindakan dan bimbingan Tuhan. Mereka kemudian melupakan Tuhan dan mengambil keputusan yang salah. Perbuatan seperti itu seringkali berakhir dengan hal yang menyedihkan. Tetapi diantara kekacauan yang dibuat manusia, Tuhan tetap dapat meneruskan apa yang sudah direncanakanNya. Malahan, seringkali Tuhan memakai apa yang dilakukan atau dialami manusia, baik itu yang nampaknya bagus ataupun kurang bagus, untuk mencapai apa yang sudah ditetapkanNya.

Sebagai umat Kristen kita dipanggil untuk selalu bekerja untuk memuliakan Tuhan. Sebagai umat percaya kita tidak boleh mempunyai sikap fatalis, yang berserah kepada “nasib”. Tetapi dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang secara keliru menganggap bahwa segala yang kita lihat atau alami pada saat tertentu, seperti untung atau rugi, sakit atau sehat, berhasil atau gagal, sudah ditentukan Tuhan. Dengan demikian peranan manusia sebagai ciptaan Tuhan menjadi kabur, untuk tidak dikatakan musnah. Padahal, apa yang dikerjakan setiap manusia di dunia ini merupakan bagian dari rencana besar dari Tuhan.

Manusia diciptakan Tuhan untuk kemuliaanNya. Karena itu kita tidak boleh bersikap pasrah saja dalam hidup ini. Bagaimana manusia bisa memuliakan Tuhan dengan tidak berbuat apa-apa, atau dengan bekerja asal-asalan saja? Itu mustahil. Sebagian orang mungkin berdalih bahwa Tuhanlah yang dibalik segala masalah dan kegagalan yang dialami manusia. Tetapi, bagaimana Tuhan ingin dimuliakan manusia jika Ia membuat manusia melakukan sesuatu yang tidak memuliakanNya? Itu juga mustahil. Manusia diciptakan menurut gambar Allah sebagai mahluk yang bisa bertanggung jawab atas segala tindakannya. Dengan demikian, manusia harus bisa mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu, merencanakan masa depan, dan berjuang untuk mencapai keberhasilan, demi kemuliaan bagi Tuhan. Kita juga harus percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8: 28).

Pagi ini, ayat diatas mengatakan bahwa dalam hidup kita, seharusnya kita bisa bersukacita dalam pengharapan bahwa Tuhan akan menerima usaha kita untuk memuliakan namaNya. Kita juga harus bisa bersabar dalam kesulitan, sekiranya apa yang kita kerjakan belum membawa hasil yang kita harapkan. Kita harus tetap yakin bahwa Tuhan menghendaki kita untuk tetap berjuang sambil bertekun dalam doa untuk mencari kehendak dan bimbinganNya. Biarlah nama Tuhan makin dimuliakan melalui hidup kita di tahun yang baru ini!

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Roma 12: 11

Tuhan adalah gembalaku

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1 – 3

Hari ini adalah hari terakhir sebelum datangnya tahun baru, hari yang tepat untuk membuat analisa kaleidoskop 2018 dan merenungkan apa yang sudah diperbuat Tuhan dalam hidup kita. Agaknya ayat diatas adalah ayat yang cocok untuk diselami pagi ini. Siapakah yang tidak pernah mendengar atau membaca tulisan pemazmur yang indah itu?

Ayat diatas adalah ayat yang sangat populer dan sering dipakai untuk menyatakan syukur atas bimbingan Tuhan. Walaupun indah bunyinya dan bisa memberi ketenangan, ayat itu mungkin kurang bisa dipakai untuk membesarkan hati seseorang yang menghadapi persoalan hidup karena adanya kemungkinan bahwa orang tersebut justru merasa sedih karena agaknya Tuhan tidak pernah peduli atas hidupnya.

Memang bagi sebagian orang, Tuhan, gembala yang baik itu, serasa belum atau jarang muncul dalam hidup mereka. Tuhan adalah gembala yang baik bagi domba-domba yang hidup dalam keberuntungan, begitu mungkin pendapat sebagian orang. Pendapat itu agaknya tidak salah karena memang kehadiran Tuhan hanyalah bisa terlihat dan dirasakan oleh mereka yang beruntung sudah dicelikkan matanya dan dibukakan telinganya oleh Tuhan.

“Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Matius 13: 16

Tuhan Yesus sendiri pernah berkata bahwa Ia adalah gembala yang baik. Ia mau membimbing domba dimanapun, tetapi tidak semua domba bisa mengenal Dia dan mendengarkan suaraNya.

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Yohanes 10: 15

Domba-domba yang tidak mengenali Yesus dan tidak mendengar suaraNya bukanlah dombaNya. Tetapi karena kasihNya, Yesus mau menjadikan mereka dombaNya jika mereka mau mengikut Dia. Yesus, gembala yang baik, mengasihi seisi dunia sehingga Ia bersedia mati untuk ganti semua dombaNya.

Pagi ini, kita harus merenungkan apakah selama tahun yang hampir lalu ini kita sudah bisa merasakan kehadiran gembala yang baik, Yesus Kristus. Apakah selama ini sudah ada rasa cukup dan damai dalam hidup kita? Ataukah kita belum merasakan kehadiran gembala kita dan karena itu sering timbul berbagai rasa kuatir dan takut? Dalam hal ini, apakah kita seringkali terlalu sibuk dalam hidup kita sehingga mata kita seperti buta dan telinga kita seperti tuli terhadap kasih pemeliharaan dan kebesaran Tuhan?

Tahun yang baru akan datang esok hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi besar kemungkinan bahwa kita harus menyeberangi berbagai jurang dan mendaki banyak gunung. Dimanakah gembala yang baik itu? Biarlah kita mau berdoa agar Tuhan mau membuka mata dan telinga rohani kita sehingga kita bisa mengenali Yesus, dapat merasakan kehadiranNya dan mendengar suaraNya pada setiap saat. Semoga dalam memasuki tahun yang baru ini kita bisa lebih bisa mempercayakan hidup kita kedalam bimbingan Tuhan kita. Selamat tahun baru!

Memikirkan masa depan

Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9: 15

Apa yang akan terjadi di dunia pada tahun 2019? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan kepastian, karena tidak ada yang tahu. Jangankan di dunia, apa yang terjadi pada diri kita sendiri pun tidak ada yang bisa menerka. Bagaimana dengan keuangan kita? Sekalipun kita siap untuk bekerja lebih keras dari tahun yang lalu, kita tidak bisa memastikan bahwa hasilnya akan lebih baik. Apalagi ekonomi dunia sekarang ini agaknya sedang sakit. Jika demikian, adakah gunanya kita untuk berbuat baik, bekerja keras dan berhati-hati?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang nyaman untuk umatNya. Sebagian lagi percaya bahwa bagi mereka yang benar-benar beriman tidaklah ada kegagalan dan penderitaan. Tapi pandangan semacam itu hanya membuat Tuhan itu seperti sesuatu yang hanya memiliki satu dimensi, yang dapat diukur manusia. Lebih-lebih lagi, jika pikiran Tuhan dapat diterka manusia, Ia bukanlah Tuhan yang mahakuasa. Kalau pikiranNya mudah diterka, manusia bisa mengelak dari keputusan Tuhan dan bisa berbuat seuatu untuk mengubah keputusanNya. Hidup manusia dengan demikian mungkin bisa dijalani sebagai suatu eksperimen untuk mencari jalan agar Tuhan selalu memberi kelimpahan. Ini adalah pandangan yang jelas keliru.

“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 34 – 35

Lebih dari itu, ayat pembukaan dari Roma 9: 15 menyatakan bahwa Tuhan berhak untuk memberkati atau membenci orang-orang tertentu, sesuai dengan kehendakNya.

Dari uraian diatas, jelas bahwa Tuhan yang mahabijaksana mengambil keputusan tanpa dipengaruhi usaha manusia. Tetapi, hal ini bisa menyebabkan timbulnya dua pertanyaan. Yang pertama, jika Tuhan agaknya berlaku semena-mena kepada mahluk ciptaanNya, dapatkah kita katakan bahwa Tuhan itu adil?

Alkitab berkata bahwa jika Tuhan itu mahakuasa, tentunya Ia bisa melakukan apa yang dihendakiNya. Berbagai contoh dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan bisa memudahkan, membuat sukar atau membiarkan hidup kita. Tetapi, kita sebagai manusia harus menerima apa saja yang diputuskanNya.

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Roma 9: 20

Pertanyaan kedua, yang sehubungan dengan usaha manusia, adalah mengapa kita harus bekerja keras menurut rencana yang baik jika Tuhan pada akhirnya menentukan hasilnya. Bukankah hidup kita bergantung pada apa yang diputuskan Tuhan?

Alkitab mempunyai banyak contoh dimana mereka yang menurut firmanNya dan yang selalu mengikuti kehendakNya, memperoleh berkat yang berkelimpahan dalam hidup. Tetapi Alkitab juga menulis bagaimana mereka yang setia kepadaNya, memperoleh kekuatan dalam menghadapi berbagai penderitaan di dunia. Tuhan bisa memberkati mereka yang bekerja dengan giat dan jujur, tetapi lebih dari itu Ia bisa memberi rasa cukup dan ketenteraman kepada umatNya dalam segala keadaan.

Memang perlu kita sadari, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu nyaman, tetapi Ia berjanji akan menyertai dan menguatkan kita dalam menghadapi berbagai tantangan. Lebih dari itu, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu semua rencana dan kehendakNya adalah baik untuk mereka yang mau dipimpinNya.

Adakah kekuatiran anda dalam memasuki tahun yang baru? Mereka yang hanya mengenal kemahakuasaan dan kemahasucian Tuhan mungkin akan sering menghadapi hidup dengan kemuraman atau kekuatiran, tetapi siapa yang mengerti bahwa Tuhan juga mahaadil, mahabijaksana dan mahakasih, akan dapat menghadapi tahun yang baru dengan optimisme, kedamaian dan rasa syukur.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Harapan masa lalu dan harapan masa depan

“Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” Yesaya 33: 15 – 16

Tidak terasa tahun 2018 sudah hampir berlalu, dan bersamaan dengan itu semua yang sudah terjadi akan menjadi kenangan. Memang dengan lewatnya tahun ini, beberapa harapan yang kita punyai di awal tahun mungkin tinggal harapan dan tidak menjadi kenyataan. Dengan datangnya tahun baru, orang mungkin mempunyai harapan baru, untuk memperoleh apa yang lebih baik dari keadaan yang sekarang.

Ayat diatas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering disebut dalam khotbah di gereja-gereja, untuk menganjurkan agar umat Kristen mempunyai hidup yang baik, yang sesuai dengan firman Tuhan. Ayat itu seolah menyatakan bahwa mereka yang hidup jujur dan tulus, akan terjamin hidupnya, dan kebutuhan hidupnya akan terpuaskan. Karena itu, banyak orang yang berpikir bahwa hidup dalam Tuhan itu adalah jaminan kenyamanan hidup di dunia. Dalam kenyataannya, menjadi umat Tuhan tidaklah selalu bisa bebas dari kesusahan, kekurangan dan penderitaan.

Pada waktu itu, kerajaan Yehuda di bagian selatan berada dalam penderitaan karena serangan bangsa-bangsa asing. Mereka mungkin bertanya-tanya mengapa mereka harus menderita begitu besar. Tetapi dalam ayat diatas, nabi Yesaya menyatakan nubuat yang diterimanya dari Tuhan agar bani Yehuda mau taat kepada Tuhan, jika mereka mengharapkan pertolonganNya. Mereka yang sedang menderita dalam kekurangan akan dipuaskan jika mereka mau berjalan sesuai dengan perintah Tuhan. Sayang, ini tidak diturut oleh bani Yehuda. Sejarah mencatat bahwa seluruh orang Yahudi baik di bagian selatan maupun utara kemudian dihancurkan bangsa-bangsa lain. Nubuat itu seolah tidak terjadi bagi orang Yahudi. Betulkah?

Bagi kita nubuat Yesaya itu tetap berlaku karena adanya arti yang lebih dalam. Memang kita tidak hidup pada zaman dan situasi yang sama. Kita tidak hidup sengsara seperti bani Yehuda pada waktu itu, yang hidup dalam ancaman dan serangan bangsa lain. Walaupun begitu, setiap tahun kita mengharapkan agar Tuhan lebih melimpahkan berkatNya agar hidup sehari-hari kita lebih bisa dinikmati. Dengan demikian, mungkin kita masih merasa belum puas dengan apa yang ada. Dalam hal ini, sebenarnya bagi kita orang percaya, belajar untuk merasa cukup dalam setiap keadaan adalah suatu cara hidup yang lebih baik (Filipi 4: 11 – 13). Karena itu harapan yang lebih baik adalah untuk bisa selalu bersyukur atas hidup kita dan makin taat kepada firmanNya, dan bukannya untuk meminta berkat dan kenyamanan yang semakin besar untuk memuaskan keinginan kita.

Dalam memasuki tahun 2019, apa yang bisa kita harapkan berdasarkan nubuat nabi Yesaya diatas adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari makanan dan minuman jasmani. Bagi kita, ayat diatas jelas adalah ajakan agar kita mau menuruti firman Tuhan agar kita benar-benar mempunyai hidup baru. Bagi mereka yang sudah diperbaharui hidupnya, keselamatan jiwa adalah jauh lebih penting dari kepuasan jasmani. Kebahagiaan dalam hidup pasti terjadi karena Yesus sudah datang di dunia sebagai Air dan Roti kehidupan yang akan memberi kepuasan yang kekal kepada setiap umatNya. Biarlah ini yang menjadi harapan dan kenyataan bagi kita dalam memasuki tahun yang baru.

Kapan kita perlu beristirahat?

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.” Markus 6: 31 – 32

Hari Natal sudah lewat dan Tahun Baru mendatangi. Bagi banyak orang saat ini adalah liburan akhir tahun. Tetapi, karena kesibukan yang ada, seringkali liburan ini tidak terasa sebagai kesempatan untuk beristirahat. Malahan, sesudah acara-acara selesai dan orang harus kembali bekerja, tubuh dan pikiran menjadi lebih lelah jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Memang dalam seminggu kita bekerja, kita setidaknya harus beristirahat pada hari yang ketujuh. Di banyak negara, rakyat malahan hanya bekerja lima hari seminggu. Walaupun demikian, manusia pada umumnya membutuhkan istirahat lebih dari yang ada pada tiap minggu. Kapan kita perlu beristirahat sebenarnya mudah dijawab: ketika tubuh dan jiwa kita lelah. Tetapi itu tidak mudah dilaksanakan.

Sebagai orang Kristen kita terpanggil untuk memakai hidup kita untuk memuliakan Tuhan. Jika kita bekerja, kita bekerja untuk Tuhan. Karena itu, kemalasan dan kurangnya rasa tanggung jawab dalam bekerja, dipandang sebagai dosa. Banyak orang Kristen yang kemudian terjerumus dalam keadaan yang sebaliknya, yaitu sibuk bekerja tanpa mengenal waktu. Dalam hal ini, seorang workaholic adalah seorang yang “gila” dalam hal bekerja, yang belum tentu karena senang bekerja, tetapi karena merasa harus bekerja terus menerus.

Bagaimana tanggapan Yesus akan hal hidup dan bekerja? Kata workaholic yang mempunyai konotasi yang jelek itu tidak ada dalam Alkitab. Alkitab tidak secara khusus membahas kasus orang yang gila kerja. Walaupun begitu, ayat diatas mengungkapkan apa yang terjadi dalam satu hari kerja Yesus, dan yang bisa terjadi dalam hidup kita. Pada saat itu, Yesus dan murid-muridNya begitu sibuk melayani orang yang membutuhkan penghiburan, penguatan, kesembuhan dan sebagainya. Karena begitu banyak orang yang datang, Yesus dan para murid tidak sempat makan. Yesus yang melihat bahwa begitu banyak orang yang terus menerus datang, kemudian mengajak murid-muridNya untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sepi. Bekerja itu perlu, begitu juga istirahat.

Pagi ini, panggilan Tuhan adalah agar kita menganalisa hidup kita. Jika kita bekerja, sekalipun itu untuk hal yang baik, kita tidak boleh mengabaikan kesehatan kita, baik jasmani dan rohani. Begitu banyak orang yang ingin memuliakan Tuhan dengan bekerja keras, tetapi lupa bahwa mereka juga harus mengasihi diri mereka sendiri. Akibatnya, bukan saja kesehatan tubuh mereka terganggu, tetapi kerohanian mereka juga mengalami kehausan. Tambahan lagi, dengan hidup yang terlalu sibuk dan kurangnya istirahat, keadaan dalam keluarga juga bisa ikut terpengaruh.

Apa yang harus kita sadari adalah Tuhan ikut bekerja bersama kita jika kita memang mau memuliakan namaNya. Ia tidak membiarkan usaha kita menjadi mundur atau hancur jika kita menyerahkan semuanya kedalam tanganNya. Biarlah Tuhan memberi kita kebijaksanaan untuk bisa mengatur hidup kita dengan lebih baik di tahun yang baru!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Siapkah anda untuk menerima damai sejahtera?

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2: 14

Akhir pekan ini adalah weekend sebelum hari Natal. Kemarin adalah hari kerja terakhir bagi para pekerja di Australia, dan banyak diantara mereka yang sekarang pergi menuju ketempat liburan atau kampung halaman mereka untuk menikmati liburan Natal, Christmas holiday. Berada di Brisbane Airport, saya melihat orang tua dan muda yang bersiap untuk terbang, dan kelihatannya mereka semuanya berada dalam suasana gembira. Benarkah begitu?

Walaupun hari Natal adalah hari peringatan kelahiran Yesus dan karena itu biasanya disambut dengan rasa sukacita, bagi sebagian orang hari itu seolah mengingatkan mereka akan kesendirian atau penderitaan yang mereka alami. Hari Natal dengan demikian bisa membuat banyak orang mengalami kesepian dan depresi, terutama mereka yang melihat orang lain bisa berbahagia, sedangkan mereka sendiri berada dalam penderitaan. Apa yang tidak mereka sadari adalah bahwa mereka yang kelihatannya bersuka-ria, belum tentu benar-benar berbahagia. Lepas hari Natal dan tahun baru, jika semua pesta dan makan-minum sudah berakhir, setiap orang harus menghadapi tantangan hidupnya lagi.

Alkitab menyatakan bahwa bagi Maria dan Yusuf, kelahiran Yesus bukanlah suatu hal yang bisa disambut dengan kegembiraan seperti layaknya ketika orangtua menyambut kelahiran bayi pertama. Perjalanan yang jauh dengan keledai dan tidak adanya tempat penginapan yang layak, adalah sebagian kesulitan yang mereka alami. Seperti apa yang terjadi pada zaman ini, jika dukungan sanak keluarga dan biaya tidak tersedia, orang harus berusaha untuk bisa bertahan dengan apa yang ada. Walaupun demikian, Maria dan Yusuf tahu bahwa kelahiran Yesus adalah membawa sukacita yang besar bagi umat manusia. Mereka, orang-orang sederhana itu, bersukacita karena Yesus adalah bayi yang istimewa, Anak Allah yang turun ke dunia.

Siapakah orang-orang lain yang diberikan kesempatan pertama oleh Tuhan untuk menerima kabar sukacita itu? Bukannya mereka yang kaya-raya dan raja-raja yang berkuasa, tetapi gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tuhan kita ternyata bukanlah Tuhan yang pro mereka yang ada di posisi enak, tetapi mengutamakan mereka yang lemah dan tertindas. Bagi mereka yang berkenan kepadaNya, Tuhan Yesus akan memberi damai sejahtera.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Lukas 4: 18 – 19

Pagi ini, bagaimana perasaan anda dalam menyambut perayaan Natal yang akan datang? Biasa saja? Atau penuh dengan pengharapan? Adakah persoalan berat yang sedang anda hadapi? Ataukah anda merasa hidup anda sudah sangat beruntung? Apapun keadaan anda, Yesus datang untuk memberikan damai sejahtera bagi mereka yang menyadari bahwa perlunya seorang Juruselamat untuk menebus dosa mereka. Mereka yang sadar bahwa kasih Tuhan begitu besar hingga mengurbankan AnakNya yang tunggal, dan karena itu mau hidup menurut firmanNya, adalah orang-orang yang paling berbahagia dalam menyambut hari Natal ini.