Membalas kasih Tuhan

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Kesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di berbagai negara bisa memberi pelajaran kepada siapapun bahwa setiap suku bangsa mempunyai adat istiadat dan etika yang berbeda. Walaupun begitu, ada satu hal yang selalu ada dimanapun kita berada, yaitu ucapan terima kasih. Dimana saja, setiap orang yang mempunyai sopan santun, selalu mengucapkan terima kasih atas pemberian dan pertolongan orang lain. Jika apa yang diterima dari orang lain cukup besar artinya, mungkin juga ada keinginan untuk membalas budi selain mengucapkan terima kasih.

Pernyataan syukur kepada Tuhan adalah wujud rasa terima kasih kita kepadaNya. Alkitab mencatat bahwa dari mulanya, Tuhan menghendaki dan menghargai persembahan syukur dari manusia ciptaanNya. Kain dan Habil mempersembahkan korban syukur dengan caranya masing-masing, tetapi hanya persembahan Habil yang diterima Tuhan (Kejadian 4: 3 – 4). Rupanya Tuhan mempunyai selera tersendiri dalam hal menerima pernyataan syukur manusia. Karena itu, dalam mempersembahkan syukur kita kepada Tuhan, kita tidak boleh melakukannya menurut apa yang kita senangi, tetapi sesuai dengan apa yang Tuhan sukai.

Adalah kenyataan hidup bahwa banyak manusia yang senang menerima, tetapi kurang suka memberi. Ini juga berlaku dalam hubungan manusia Kristen dengan Tuhan. Sebagian besar manusia hanya berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, terutama jika situasi hidup menjadi berat. Namun, manusia cenderung untuk menerima berkat Tuhan yang sudah ada seperti sesuatu yang sudah selayaknya diterima dan lupa untuk bersyukur.

Ayat diatas menyebutkan bahwa ketika kita masih hidup dalam dosa, Kristus sudah mati untuk ganti kita. Kita menerima keselamatan karena Tuhan sudah lebih dulu menyatakan kasihNya. Apa yang bisa kita lakukan untuk menyatakan rasa terima kasih kita?

Paulus dalam kitab Roma menulis tentang persembahan apa yang patut untuk Tuhan:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Jelas bahwa Tuhan yang sudah memberikan berbagai berkat dalam hidup kita, tidaklah menganggap uang, tenaga atau materi sebagai hal yang utama untuk dipersembahkan kepadaNya. Semua itu baik, tetapi terlalu kecil bagiNya. Bagi Dia yang sudah memberikan hidup baru dan keselamatan yang sejati kepada kita, tidak ada yang lebih patut untuk dipersembahkan kepadaNya, kecuali seluruh hidup kita. Biarlah apapun yang kita kerjakan dan jalani dalam hidup ini bisa kita gunakan untuk memuliakan Dia!

Memahami besarnya kasih Tuhan

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Efesus 3: 18 – 19

Pagi ini saya melakukan perjalanan dari kota Vancouver ke pulau Vancouver dengan kapal ferry. Kapal ini cukup besar dan dapat mengangkut kendaraan roda empat, besar dan kecil. Kapal ferry yang terbesar yang beroperasi di daerah Vancouver ini adalah Spirit of British Columbia yang panjangnya hampir 170 meter, beratnya sekitar 19000 ton dan bisa mengangkut 2100 penumpang dan 470 mobil. Tidak dapat diragukan, kapal ferry ini memang cukup besar untuk kelasnya.

Jika besarnya benda-benda serta mahluk di dunia yang bisa dilihat mata dapat ditimbang dengan ukuran panjang, lebar, tinggi maupun berat, apa yang tidak dapat dilihat mata dan bersifat maya, tidaklah dapat diukur atau ditimbang. Karena itu, untuk memperkirakan ukuran sesuatu yang abstrak seperti cinta dan kebencian, orang biasanya melihat akibat atau hasilnya. Jika seseorang merasa dicintai oleh orang lain tetapi tidak pernah menerima perhatian dalam bentuk apapun, perasaan itu mungkin hanya berupa harapan atau khayalan belaka.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menulis bahwa ia berdoa agar mereka bersama-sama dengan segala orang percaya dapat merasakan kasih Kristus. Paulus pada saat itu tahu bahwa jemaat Efesus mengalami kesulitan untuk memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.

Jika mereka yang melihat Yesus disalibkan belum tentu bisa mengerti arti pengurbananNya, apalagi mereka yang hanya mendengar beritanya. Karena mereka tidak melihat pengurbanan Kristus dengan mata kepala, mereka tentunya lebih sukar untuk memahami atau mengukurnya, jika tanpa bimbingan Tuhan. Karena itu ia berdoa agar mereka dapat mengenal kasih itu, sekalipun itu melampaui segala pengetahuan.

Bagi sebagian orang Kristen, memang kasih Tuhan adalah suatu yang kurang nyata. Mereka mengharapkan dan mengkhayalkan kasihNya dalam bentuk nyata seperti materi dan kesehatan, dan jika itu tidak terlihat mereka mudah kecewa dan putus asa. Paulus menggunakan ukuran manusia: lebar, panjang, tinggi dan dalam untuk membayangkan besarnya kasih Kristus. Tetapi sudah tentu kasih Tuhan tidak dapat diukur dengan akal pikiran kita.

Pagi ini, jika kita merasakan adanya kesangsian akan kasih Tuhan dalam hidup kita, biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita. Kita yang seharusnya binasa karena dosa-dosa kita, sekarang mendapatkan pengampunan dan keselamatan dari Tuhan. Adakah sesuatu yang lebih besar dari kasihNya?

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Menghadapi kekalahan

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Demam bola agaknya menguasai banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, masing-masing mempunyai tim favoritnya sendiri. Mereka berharap, dan bahkan berdoa, agar tim kesayangan mereka menang; bukan karena tim lain disponsori oleh perusahaan yang tidak mereka sukai, dan bukan juga karena tim mereka adalah tim orang Kristen. Berharap untuk sukses atau menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.

Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak bersifat egosentris, memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkatNya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?

Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Pagi ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyaiTuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Sulitnya mendengar suara Tuhan ditengah keramaian

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 1 Timotius 6: 6

Hari ini saya bermobil meninggalkan kota kecil Banff, menuju kota Calgary untuk terbang kembali ke kota Vancouver. Banff terletak dalam taman margasatwa nasional, karena itu jumlah penduduknya tidak banyak dan kita bisa menjumpai berbagai hewan seperti tupai, rusa dan bahkan beruang. Lingkungan yang relatif sepi memungkinkan kita mendengar suara burung-burung dan menghirup udara segar.

Berbeda dengan Banff, kota Vancouver di provinsi British Columbia adalah kota kosmopolitan yang besar dan karena itu kota ini cukup ramai dengan banyaknya penduduk yang menggunakan jalan raya dan menjalankan tugas pekerjaan mereka. Di tengah kesibukan kota besar biasanya lebih sulit bagi kita untuk bisa mendengar suara burung dan hewan liar lain.

Tempat yang sepi memang bisa membawa suasana damai, dan dengan demikian kita bisa merasa lebih dekat dengan alam disekitar kita. Yesus pun, jika berdoa biasanya mencari tempat yang sepi supaya bisa berkomunikasi dengan Allah Bapa dengan lebih baik.

“Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” Matius 14: 23

Lingkungan yang sepi dan tenteram memang membantu ibadah kita, baik itu untuk mempelajari firman Tuhan, berdoa ataupun merenungkan kebesaranNya.

Suasana yang sepi dan hening tidak selalu berhubungan dengan absennya bunyi. Seringkali, sekalipun di tempat yang sepi, pikiran kita ramai diisi dengan berbagai kekacauan dan kegundahan, atau mungkin juga tubuh kita berada dalam keadaan lelah dan perut kita keroncongan. Dalam keadaan demikian, sukarlah kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan mencari kehendakNya. Bagaimana pula dengan orang-orang yang hidup dalam berkelimpahan? Apakah mereka mempunyai keuntungan dalam beribadah? Belum tentu! Mereka yang nampaknya jaya, belum tentu merasa cukup. Selama mereka tidak merasa puas atau cukup, hidup dan pikiran mereka terus dipusatkan pada bagaimana mereka bisa merasa puas, lebih jaya, dan mencapai apa saja yang diinginkan mereka.

Pagi ini, Paulus dalam suratnya kepada Timotius menjelaskan bahwa hubungan kita dengan Tuhan akan diperkokoh jika kita mempunyai rasa cukup, rasa damai dalam hidup kita. Sekalipun hidup kita berkekurangan, atau mengalami berbagai masalah, namun jika kita bisa merasakan bahwa Tuhan mengasihi kita, kita akan yakin bahwa Ia selalu menyertai kita. Dengan rasa cukup, kita memperoleh ketenangan yang kita butuhkan untuk bisa mendengarkan suara Roh Kudus dalam mencari kehendak Tuhan.

Dapatkah kita mengerti kehendakNya?

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33

Hari ini kita memasuki minggu yang baru. Setiap hari Senin, kita tentunya memikirkan tugas-tugas yang harus kita lakukan pada minggu ini. Memang, jika dibayangkan, betapa enaknya jika kita tidak perlu menghadapi tantangan kehidupan. Setiap hari berjalan seperti weekend, dimana kita bisa menikmati hari libur yang santai. Tetapi, apa boleh buat, setiap manusia harus bekerja; jika tidak untuk mencari sesuap nasi, pastilah itu untuk memenuhi kewajiban lainnya.

Jika dipikirkan dalam-dalam, hal yang paling berat dalam hidup ini sebenarnya bukan soal berjuang atau bekerja, tetapi soal apakah kita akan memperoleh apa yang kita upayakan. Banyak keraguan akan masa depan atau kekuatiran atas apa yang akan terjadi timbul karena tidak ada orang yang bisa menjamin bahwa kita akan berhasil dalam mencapai tujuan kita.

Memang jika kita percaya bahwa Tuhan itu adalah oknum yang maha kasih, seharusnya dari apa yang terjadi dalam hidup kita, kita bisa mengenali kasihNya. Dalam kenyataannya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita adalah kurang menyenangkan, rasanya sulit untuk kita bisa mengerti bahwa apa yang terjadi adalah dengan seijin Tuhan yang maha kasih. Kalau begitu, benarkah kita mengenal Dia?

Ada orang Kristen yang percaya bahwa jika Tuhan itu maha kasih, tentunya hidup umatnya akan penuh dengan hal-hal yang menyenangkan. Tuhan yang maha kuasa dan maha kaya tentu akan memberikan apa yang terbaik. Tetapi, pikiran yang sedemikian adalah membuat Tuhan setara dengan kita, sehingga apa yang kita senangi dan kehendaki, adalah selalu sama dengan apa yang Tuhan senangi dan kehendaki. Pendapat sedemikian juga mengklaim bahwa kita mengenal Tuhan dengan sepenuhnya, dan bahwa kehendak kita selalu sesuai dengan kehendakNya.

Pagi ini firman Tuhan diatas berkata bahwa kita tidak dapat menyelami dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Jika kita mengakui Dia sebagai Tuhan yang maha besar, kita tidak perlu gundah jika kita tidak mengerti keputusan-keputusanNya dan tidak dapat menyelami jalan-jalanNya. Apa yang kita tahu ialah bahwa Ia maha kuasa dan maha kasih. Karena itu, sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, kita tetap bisa bersandar kepada Tuhan dan tetap mau mencari kehendakNya. Semoga saja pengenalan kita akan Tuhan membuat kita percaya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tetap mengasihi kita.

Hal menggunakan kesempatan

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Saat ini saya masih berada di Canada, di daerah pegunungan British Columbia. Sebuah kesan yang saya peroleh selama melakukan perjalanan berkereta api disini adalah luasnya negara ini. Canada adalah negara kedua terbesar di dunia berdasarkan luas tanahnya. Kesan lain yang saya peroleh adalah penduduk Canada umumnya terlihat cukup makmur dan bahagia.

Bagi penduduknya, Canada adalah free country dengan adanya kemerdekaan atau kebebasan seseorang untuk melakukan apa yang disenanginya. Walaupun demikian, kebebasan seseorang tentunya harus dalam batas hukum agar tidak mengganggu orang lain.

Ayat diatas, yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Korintus, adalah bersangkutan dengan kehidupan warga kota itu yang agaknya bebas untuk berbuat apa saja. Korintus misalnya, mempunyai kuil-kuil untuk berbagai dewa, dan juga terkenal dengan pesta seks dengan para pelacur. Dalam situasi yang demikian, orang Kristen disana juga ikut merasakan adanya kebebasan untuk melakukan apa saja, selama itu tidak menggangu orang lain atau melanggar hukum Tuhan. Tidak ada salahnya bukan? Mengapa Paulus justru menegur mereka?

Dalam kehidupan zaman kini, banyak orang Kristen yang juga mengalami hal yang serupa. Dengan rasa syukur atas hidup baru, dan keyakinan bahwa mereka diselamatkan oleh iman dan bukan karena perbuatan, mereka mungkin merasa bahwa adalah baik jika mereka bisa menikmati segala yang ada, makan minum dan bersuka-ria, selagi masih bisa. Walaupun demikian, Paulus mengingatkan bahwa tidak semua yang kita lakukan ada gunanya, atau membangun. Banyak yang dilakukan manusia zaman ini adalah perbuatan yang tidak ada gunanya untuk Tuhan, untuk mereka sendiri dan untuk orang lain. Sebuah futility, kesia-siaan saja.

Pagi ini, jika kita mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu, ayat diatas mengingatkan bahwa tujuan hidup baru kita adalah untuk memuliakan Tuhan, untuk mengasihiNya dan juga untuk mengasihi sesama kita. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan yang tidak atau kurang berguna, yang hanya membuang waktu dan tidak membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Kita harus sadar bahwa segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna untuk Tuhan atau sesama. Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu bisa menghasilkan sesuatu yang baik.

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Kembalinya hidup lama, atau hidup baru yang tidak berkembang?

“Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.” 2 Petrus 2: 20

Sering orang bertanya mengapa menjadi Kristen begitu mudah jika dibandingkan dengan menjadi pengikut kepercayaan lain. Orang Kristen cukup mengaku percaya kepada Yesus dan keselamatan kemudian tersedia bagi mereka. Sungguh berbeda dengan mereka yang harus berusaha keras untuk berbuat baik seumur hidup untuk dapat memenuhi syarat kesucian Tuhan.

Mereka yang mengira bahwa keselamatan menurut ajaran Kristen adalah mudah, tentunya keliru. Sebab agar manusia bisa menerima keselamatan, anak Allah harus membayarnya dengan nyawaNya. Lebih dari itu, walau untuk bisa diselamatkan orang cukup untuk percaya kepada Yesus Kristus, kepercayaan atau iman itu tidak dapat dipisahkan dari perbuatan yang memuliakan Tuhan, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 17).

Hal lain yang mungkin lebih sulit dimengerti adalah, seperti yang dikatakan ayat diatas, bahwa jika seseorang sudah mengenal Kristus dan telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, masih ada kemungkinan bahwa ia bisa terlibat lagi dalam hal-hal yang jahat di masa depan. Lebih lanjut dikatakan bahwa mereka yang setelah mengenal Kristus dan kemudian menjauhiNya, keadaan mereka akan lebih buruk dari pada yang semula. Dengan demikian, mereka yang sudah mengenal Kristus, tetapi dengan sengaja melibatkan diri dalam dosa-dosa lama dan menolak untuk menjalani hidup barunya, akan sulit untuk benar-benar menjadi pengikut Yesus.

Seringkali, kemunduran seseorang dari hidup barunya dan kembalinya hidup lama, tidak terjadi secara mendadak. Sedikit demi sedikit, perubahan terjadi dalam hidup seseorang sehingga akhirnya keadaannya menjadi lebih buruk dari mulanya. Jika pada mulanya ada kemauan untuk mengenal Tuhan dan menjadi lebih baik, dengan kembalinya dosa-dosa lama, adanya Tuhan mulai diabaikan dan akhirnya dilupakan.

Pagi ini, terlepas dari perdebatan teologis mengenai mungkin atau tidaknya keselamatan itu bisa hilang, ayat diatas menunjukkan bahwa jika kita mengaku pengikut Kristus tetapi hidup kita tidak menunjukkan perbaikan dalam hal usaha menghindari dosa dan kecemaran, perlulah kita memikirkan apakah kita benar-benar sudah menjadi muridNya. Biarlah tiap-tiap orang mau menguji dirinya!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Hal menghadapi kebosanan

“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.” Amsal 4: 25

Pagi ini saya harus check-out dari sebuah hotel di Meksiko jam 10 pagi sedangkan pesawat yang akan membawa saya kembali ke Canada baru akan berangkat jam 3.30 sore. Karena tidak ada pilihan lain, saya memutuskan untuk duduk menunggu di lobby hotel sampai saat untuk berangkat ke airport karena suhu diluar sudah mencapai 30 derajat Celsius.

Bagi banyak orang, termasuk saya, menunggu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kebosanan mungkin datang dan waktu yang sejam saja mungkin terasa seperti seminggu. Mengapa timbul kebosanan? Kebosanan adalah keadaan emosi atau psikologis yang gundah karena tidak adanya sesuatu yang bisa dinikmati atau dikerjakan.

Kebosanan bisa timbul pada setiap orang, baik yang sibuk atau pun yang menganggur. Bagi yang sibuk tetapi kurang bisa menikmati kegiatannya, kebosanan bisa datang. Sebaliknya, mereka yang tidak mempunyai kegiatan tertentu, sudah tentu mudah menjadi bosan. Selain itu, mereka yang mengalami penderitaan berat, mungkin saja merasa bosan hidup (Ayub 10: 1).

Kebosanan dapat mendorong seseorang mencari sesuatu yang lebih berguna untuk dirinya ataupun orang lain, dan juga untuk menciptakan suasana baru. Kebosanan bisa membawa seseorang untuk lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi, kebosanan bisa juga membuat orang jatuh dalam dosa.

Satu contoh kebosanan yang membawa dosa adalah pengalaman Raja Daud. Ketika Daud bertambah tua, ia menjadi kurang aktif dalam memimpin bani Israel. Tak terasa, hidupnya menjadi membosankan dan karena itu ia membuat petualangan cinta dengan Batsyeba, istri seorang prajuritnya yang bernama Uria. Dengan usaha Daud, Uria gugur di medan perang. Setelah itu, Daud mengawini Batsyeba. Dosa besar raja Daud ini berawal dari kebosanannya.

Bagaimana dengan hal mengikut Kristus? Apakah kita juga bisa bosan menjadi umatNya? Sudah tentu! Jika hubungan kita dengan Tuhan tidak berkembang baik, komunikasi dengan Dia menjadi jarang dan hidup kekristenan kita menjadi membosankan. Dalam keadaan sedemikian, iblis justru dengan tidak bosan-bosannya berusaha menjerumuskan kita kedalam dosa. Selain itu, jika kita lengah, dalam menghadapi persoalan hidup yang bertubi-tubi, iblis mungkin membisikkan pesan bahwa hidup ini tidak lagi ada gunanya.

Pagi ini, jika kita merasa hidup ini mulai membosankan, dan mata serta pikiran kita mulai mencari-cari sesuatu yang bisa menghilangkan kebosanan kita, ayat diatas mengajarkan agar kita tetap memandang terus ke depan dan tatapan mata kita tetap ke muka. Dalam keadaan apapun, kita harus selalu memusatkan perhatian kita apa yang baik dan benar menurut perintah Tuhan.

“Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” Amsal 4: 26 – 27

Kita harus berubah

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Hari ini saya sempat mengunjungi Chichén Itzá di Meksiko yang adalah suatu tempat peradaban suku Maya di sekitar tahun 800 SM. Piramida Kulkucan (El Castillo) di kompleks bersejarah ini diperkirakan merupakan pusat kegiatan politik dan ekonomi suku Maya pada waktu itu.

Di candi Chichen Itza juga terdapat dua cenotes (sumur alami) yang dijadikan tempat menaruh korban persembahan kepada dewa-dewa suku Maya. Konon, suku Indian Maya yang mendiami kota itu mempersembahkan batu-batu berharga, dan bahkan manusia yang dimasukkan kedalam sumur itu. Selain itu, pemimpin agama suku Maya waktu itu sering juga memerintahkan penyiksaan dan pembunuhan manusia demi dewa mereka.

Mengapa manusia dapat melakukan kekejaman terhadap sesamanya? Lebih buruk lagi, mengapa orang bisa berlaku sangat jahat dengan alasan agama? Tuhan manakah yang demikian kejam, yang menghendaki manusia menganiaya dan membunuh sesamanya?

Di zaman modern ini, kekejaman seperti yang terjadi dalam suku Maya mungkin sudah jarang terjadi karena majunya pendidikan dan adanya hukum pemerintah. Walaupun demikian, itu bukan berarti bahwa manusia tidak lagi bisa berlaku jahat kepada sesamanya. Mungkin bentuk kekejaman manusia sudah berubah, menjadi lebih tersamar dan tidak terlalu mengerikan, tetapi manusia pada hakikatnya tetap bisa dan mampu melukai, menyiksa dan bahkan membunuh sesamanya dengan perkataan, tingkah laku dan cara hidup mereka yang tidak benar. Orang yang menyebut dirinya Kristen pun seringkali menunjukkan sifat-sifat yang tidak jauh berbeda dari orang lain.

Ayat diatas menyebutkan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya berbeda dari orang lain karena kita tentunya sudah berubah dari hidup lama kita; itu jika kita membiarkan Tuhan memimpin hidup kita. Dengan demikian, kita seharusnya dapat membedakan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dari apa yang jahat. Tuhan kita selalu menghendaki apa yang baik, dan apa yang berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. Jika hal-hal yang jahat dan keji yang pernah dilakukan manusia mungkin ada hubungannya dengan sifat-sifat tuhan yang mereka sembah, kita tidak bisa beralasan apapun karena Tuhan kita adalah Tuhan yang maha suci dan maha kasih. Kita harus berubah untuk menjadi seperti Dia!

Hari baru, harapan baru

“TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.” Mazmur 5: 3

Jika anda adalah penggemar drama, tentulah judul “Waiting for Godot” tidaklah asing. Naskah drama karya Samuel Beckett ini pernah meraih hadiah Nobel pada tahun 1969 dan merupakan refleksi penantian manusia akan akhir perang dunia ke dua. Dalam kisahnya, Vladimir dan Estragon bertemu dan mengaku sedang menunggu seseorang yang bernama Godot. Cerita ini menarik karena mereka yang menunggu tidak tahu siapa dan seperti apa sosok Godot yang tidak kunjung datang itu.

Seperti drama “Menunggu Godot” itu, dalam kehidupan manusia, jika ada persoalan berat, manusia manapun berharap adanya seseorang atau sesuatu yang bisa mengubah keadaan. Mereka yang tidak mengenal Tuhan akan menunggu munculnya nasib mujur atau keajaiban. Mereka menunggu perubahan nasib, sekalipun tidak tahu siapa dan apa yang bisa membuat itu terjadi.

Pada pihak lain, mereka yang percaya adanya kuasa ilahi mungkin bisa berdoa untuk memohon pertolongan, sekalipun mereka mungkin tidak benar-benar mengenal siapa tuhan mereka. Karena adanya pertanyaan tentang siapa yang ditunggu dan apa yang akan dilakukannya, menunggu tetap merupakan penderitaan tersendiri.

Ayat Mazmur diatas menunjukkan bagaimana penulisnya bergumul dalam hal menunggu. Sebelum ia mulai bekerja, pada pagi hari ia sudah memohon agar Tuhan ikut campur dalam hidupnya. Pemazmur tidak menunggu sampai hari siang untuk meminta tolong kepada Tuhan. Setelah itu, penazmur bisa menunggu dengan penuh harap karena ia yakin Tuhan yang dikenalnya mempunyai cara, rencana dan waktu yang khusus untuk dirinya.

Bagi kita, hal menunggu pertolongan Tuhan seharusnya lebih mudah lagi untuk dilakukan. Tuhan yang dulunya tidak dikenal atau sukar dikenal itu sudah turun ke dunia sebagai manusia yang bernama Yesus. Tidak seperti orang lain, orang Kristen tahu siapa dan seperti apa sosok Yesus itu. Seperti Yesus, Anak Allah itu, Allah juga sosok yang maha kasih. Yesus adalah Allah, dan Allah adalah Yesus.

Pagi ini, mungkinkah anda berada dalam kesulitan besar? Apakah anda tak yakin bahwa kesulitan itu bisa teratasi? Mungkinkah anda sudah berusaha cukup lama untuk memperoleh penyelesaiannya? Biarlah anda mau berseru kepada Tuhan pagi ini, agar Ia segera mendengar seruan anda dan menolong anda. Jika itu sudah dilakukan, seperti pemazmur diatas anda bisa menunggu dengan penuh keyakinan akan pertolonganNya. Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih bukanlah suatu sosok yang tidak anda kenal!

Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!” Mazmur 84: 12