“Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20
Sebuah survei acak yang dilakukan oleh by Win-Gallup International pada tahun 2012 menemukan 48% penduduk Australia mengaku tidak mempunyai agama; 37% beragama; dan 10% yakin bahwa mereka ateis. Sebelum itu, dari penyelidikan Pippa Norris and Ronald Inglehart (2004) diperkirakan 25% penduduk Australia tidak mengenal adanya konsep tuhan. Pada pihak yang lain, sensus nasional tahun 2016 menemukan bahwa kira-kira 30% penduduk Australia (atau sekitar 7 juta orang) mengaku tidak beragama, dan 52% dari penduduknya mengikuti berbagai ragam ajaran kekristenan.
Bagaimanapun juga, Australia pada saat ini tidak dapat digolongkan sebagai negara Kristen ataupun negara yang beragama. Memang di dunia, Australia menempati kedudukan nomer 14 dari bawah untuk keagamaan dan urutan 11 dari atas untuk ateisme. Australia adalah negara sekuler. Seiring dengan keadaan itu, Australia mengalami banyak masalah sosial dengan tingginya angka perceraian, angka bunuh diri kaum muda, pemakaian narkoba dan kebebasan seks.
Jika kita membaca ayat diatas, mungkin dapat kita bayangkan bahwa Yesus akan mengatakan hal yang serupa kepada penduduk Australia yang nampaknya kurang berhasil mengatasi berbagai masalah sosial itu. Sudah tentu Yesus menggunakan kata “gunung” sebagai metafor untuk menyatakan masalah hidup yang besar. Yesus menyatakan kepada kita bahwa banyak persoalan hidup kita disebabkan oleh iman yang sangat lemah. Jika kita mempunyai iman yang sekecil biji sesawi (sebagai metafor), tentu kita akan dapat mengatasi masalah. Pesan inilah yang sering disampaikan di gereja.
Iman yang lemah, iman yang terlalu kecil, adalah iman yang tidak bekerja. Itu adalah apa yang sering dikatakan orang jika apa yang diharapkan orang lain tidak kunjung terjadi. Bagi mereka yang mengharapkan pertolongan Tuhan, “vonis” ini bukannya memperbaiki suasana, tetapi malahan bisa menambah duka. Karena mungkin beribu doa dalam nama Yesus sudah disampaikan, tetapi apa yang diminta tidak terjadi. Mungkin dalam hal ini, orang lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih bisa mempunyai rencana yang berbeda dengan harapan manusia. Selain itu, orang lupa bahwa iman bukanlah hasil usaha sendiri, tetapi adalah pemberian Tuhan. Karena itu iman harus dipakai sejalan dengan kehendakNya.
Tuhan sudah memberikan iman sebagai karunia bagi umatNya, sehingga mereka mau meninggalkan hidup lama dan menyerahkan hidup kepada Tuhan. Tuhan jugalah yang menambahkan iman dan membimbing hidup orang Kristen untuk bisa hidup sesuai dengan perintahNya. Dalam hal ini, bukanlah ukuran iman yang penting, tetapi bagaimana kita mau untuk memakai iman yang ada guna menjalani hidup kita hari demi hari. Dengan itu, keyakinan kita akan bertambah hari lepas hari, bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana.
Dalam hidup ini memang kita harus menghadapi berbagai gunung rintangan dan masalah. Tuhan bisa memindahkan gunung rintangan itu ketempat lain, tetapi Ia seringkali memberi kita iman untuk kuat mendakinya. Memang jika kita berhasil mencapai puncak gunung, gunung yang sebelumnya kita hadapi menjadi lenyap.
Pagi ini, apa yang harus kita lakukan adalah mempercayakan semua tantangan hidup kita kedalam tangan pemeliharaan Tuhan dan memohon agar Ia tetap menambahkan iman kita sehingga makin lama kita makin mampu menghadapi hidup ini dengan penyerahan total kepada kuasa dan kasihNya. Total surrender.
Berserah kepada Yesus,
tubuh, roh, dan jiwaku.
Aku ingin s’lalu hidup,
bagi Yesus Tuhanku.
Aku berserah,
aku berserah,
pada Yesus, Jurus’lamat,
aku berserah.
Be happy! Bergembiralah! Begitulah anjuran banyak motivator kepada mereka yang merasa susah atau tertekan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak semua orang, dan karena itu setiap orang seharusnya mencari dan bahkan berusaha keras untuk memperolehnya. Mereka yang tidak mau mencarinya akan mengalami kerugian karena setiap orang berhak untuk bahagia. Betulkah begitu?
Adakah orang yang sempurna di dunia ini? Kebanyakan orang berpendapat bahwa tidak ada orang pun yang sempurna, sekalipun mereka belum tentu percaya bahwa semua orang berdosa. Walaupun begitu, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa kesempurnaan dapat dicapai manusia dengan melakukan hal-hal tertentu. Selain itu, ada yang percaya bahwa orang-orang tertentu adalah penjelmaan dewa-dewa, dan karena itu mereka adalah manusia yang sempurna.

Dalam perkembangan gereja akhir-akhir ini, melalui pengamatan media saya mendengar datangnya praktik-praktik kehidupan yang nampaknya bermanfaat bagi umat Kristen. Jika pada waktu yang silam orang Kristen lebih memusatkan perhatian pada hal-hal yang rohani, praktik-praktik Kristen yang nampaknya modern menampilkan pendekatan “holistic” yang menggabungkan pendekatan rohani dan jasmani. Menurut pengertian holistik ini, sebagai orang percaya kita harus berusaha untuk menjalani hidup yang baik dalam hal jasmani maupun rohani. Orang Kristen dianjurkan untuk mencapai kesuksesan dalam keduanya.
Sejak umur berapa seseorang bisa merasakan penderitaan orang lain? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena tiap orang mempunyai perkembangan pikiran, emosi dan spiritual yang berbeda. Selain itu, tiap orang juga mempunyai pengalaman yang berlainan. Kita mungkin melihat bahwa seorang anak bisa memiliki rasa sayang terhadap hewan peliharaan keluarga seperti anjing, kucing dan ayam sejak umur 3 tahun dan bahkan lebih awal dari itu. Walaupun demikian, seorang anak yang berumur 5 tahun belum tentu memiliki rasa belas kasihan atau compassion kepada orang lain.
Bagi orang yang ingin memelihara kesehatannya, kunjungan ke dokter untuk full check-up adalah perlu, setidaknya setahun sekali. Jika pemeriksaan dokter menunjukkan adanya gejala penyakit tertentu, dokter biasanya akan melanjutkan pemeriksaan rutin itu dengan pemeriksaan khusus dan pengobatan sampai penyakit yang ada bisa disembuhkan atau diatasi.