Dipilih untuk berbuah

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Manusia yang memilih Tuhannya, ataukah Tuhan yang memilih manusia? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering diperdebatkan manusia, terutama dikalangan umat Kristen. Pertanyaan yang serupa, tetapi lebih mudah dijawab adalah: manusia yang memilih agama, atau agama yang memilih pengikutnya? Sudah tentu manusia memilih agamanya, tetapi agama tidak sama dengan Tuhan, hidup beragama belum tentu membawa pengenalan yang benar akan Tuhan.

Tuhan dengan sifat dan eksistensiNya sudah tentu tidak dapat dimengerti manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini pernah ke surga dan melihat Tuhan. Segala tindakan Tuhan adalah berdasarkan kebijakanNya, yang sudah barang tentu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Karena itu, sangat sulit diterima pendapat sebagian orang yang merasa bahwa mereka sudah “menemukan” Tuhannya.

Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, pada umumnya diterima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada DiriNya. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak dapat lagi melihat Tuhan dengan mata jasmani.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Kepercayaan bahwa Tuhan sudah memilih kita adalah sebuah hal yang sangat signifikan, karena pikiran manusia tidak bisa membayangkan apa untungnya Tuhan memilih manusia yang penuh dosa yang selalu ingin berontak dari Tuhan. Mengapa Tuhan begitu ingin untuk memilih umatnya? Karena adanya pengurbanan Kristus di kayu salib, barulah kita bisa sadar bahwa itu semua karena kasihNya.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8.

Dari ayat pembukaan diatas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga memilih umatnya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, adalah keselamatan orang lain.

Memulai minggu yang baru ini, kita harus sadar bahwa tidaklah mudah untuk kita bisa mengikut Yesus dan memikul salibNya setiap hari. Penderitaan akan datang karena dunia membenci pengikut Kristus, seperti mereka yang dulu membenci Kristus. Walaupun kita berusaha untuk mengasihi sesama kita, banyak orang yang tidak mau menerima kasih kita, persis seperti mereka yang dulu menyalibkan Yesus.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Bagaimana kalau demikian? Sanggupkah, dapatkah, manusia yang lemah seperti kita mengikut jejak Yesus dan hidup untuk memberitakan kabar baik? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang maha kuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita kuatirkan.

Jangan abaikan firman Tuhan

“Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.” Lukas 8: 10

Kemarin sore saya berjalan-jalan disepanjang pantai di Gold Coast. Terlihat banyak juga orang yang berjalan kaki bersama teman dan keluarga. Agaknya angin dingin yang berhembus tidak membuat orang segan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan. Salah satu pemandangan yang menarik perhatian saya adalah sekelompok burung pelikan yang lagi bermalas-malasan.

Burung pelikan itu rupanya baru saja mendapat jatah potongan ikan yang tidak terjual dari sebuah toko penjual ikan. Karena itu mereka kelihatannya tenang-tenang saja. Memang, jika burung pelikan lagi kenyang, kelihatannya mereka jinak dan tidak menakutkan. Tetapi, jika mereka lagi lapar, mereka tidak segan untuk mencuri atau merebut makanan dari orang-orang disekitar mereka.

Jika seekor burung pelikan bisa membuat kita terkecoh jika kita tidak berhati-hati, burung-burung di udara dalam perumpamaan Yesus diatas adalah burung yang paling berbahaya, yang dapat membuat manusia terpedaya tanpa menyadarinya. Mereka itu telah mendengar firman Tuhan, tetapi mengabaikannya. Kemudian datanglah iblis yang bagaikan burung, mengambil firman itu dari dalam hati mereka; hilang tak berbekas, sehingga mereka tidak bisa percaya dan diselamatkan.

Bagi kita yang sudah percaya, serangan iblis tetap merupakan sesuatu yang harus kita waspadai. Tiap hari Minggu kita ke gereja dan menerima firman Tuhan. Apakah firman itu dapat kita simpan dan gunakan untuk memperkuat kehidupan kita adalah tergantung pada sikap kita masing-masing.

Ada orang Kristen yang mendengar firman, tetapi tidak mau memikirkan, mempelajari dan menggunakannya. Malahan ada yang sudah jemu mendengarkan firman dan karena itu mereka sudah terbiasa mengabaikannya. Ada juga yang selektif, hanya mau mempelajari firman yang disenanginya, apalagi jika disampaikan oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian, firman Tuhan bagaikan biji yang disebarkan, tetapi karena tidak diterima dan sepatutnya digunakan, akhirnya terlupakan. Iblis dalam hal ini adalah bagaikan burung yang dengan sigap mencuri firman yang sudah ditabur dari dalam hati manusia.

Iblis dalam hal ini jelas mempunyai 3 hal yang harus di waspadai: kecepatan, kekuatan dan maksud jahat. Iblis tidak akan berlama-lama untuk membiarkan firman Tuhan berada dalam hati manusia. Iblis mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk mengambil firmanTuhan dari hati manusia. Dan iblis selalu bermaksud untuk menghancurkan hidup manusia dan menggagalkan rencana Tuhan.

Pagi ini, jika kita ke gereja, hendaklah kita mau meneliti maksud dan tujuan kita. Kita ke gereja seharusnya untuk bersekutu bersama saudara-saudara seiman guna memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Lebih dari itu, kita juga ke gereja dengan kemauan untuk menyimpan firman Tuhan baik-baik dalam hati kita, dan memakainya dalam hidup kita. Jangan biarkan iblis mencurinya dari hati kita!

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Kita menderita supaya bisa menguatkan

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1: 3 – 4

Banyak orang yang mengalami penderitaan atau masalah hidup akan mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada mereka. Why me? Pertanyaan sedemikian adalah lumrah bagi setiap orang, dan mungkin menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa segala sesuatu tidak berjalan secara acak, tetapi menurut suatu pola atau maksud tertentu. Pasti ada suatu sebab atau penyebabnya, dan karena itu mereka mempertanyakan hal itu.

Bagi orang yang bukan Kristen, penyebab malapetaka atau masalah mungkin dihubungkan dengan nasib, kehendak Tuhan, hukuman Tuhan, atau kekejian manusia dan iblis. Tetapi, sebagai umat Kristen kita tahu bahwa Tuhan adalah Bapa yang mengasihi dan tidak akan mencelakai anak-anakNya. Tetapi, pertanyaan yang sama tetap tidak terjawab: why me?

Memang dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan dengan itu segala kekejian manusia dan tipu daya iblis bisa mengancam kebahagiaan anak-anak Tuhan setiap saat. Tetapi bukankah Tuhan yang maha kuasa selalu melindungi umatNya? Mengapa Ia membiarkan kita mengalami segala masalah besar yang tidak kita duga? Why me?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa ia dan teman-teman seimannya juga mengalami penderitaan yang sangat besar di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas mereka adalah begitu besar dan berat, sehingga mereka telah putus asa dan bahkan menguatirkan hidup mereka. Saking beratnya masalah yang dihadapi, seolah-olah mereka telah dijatuhi hukuman mati (2 Korintus 1: 8 – 9). Tetapi mereka tidak mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada diri mereka.

Paulus menjelaskan bahwa hal yang buruk itu terjadi, supaya mereka jangan menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dengan adanya berbagai penderitaan, Paulus dan rekan-rekannya justru bisa menaruh pengharapan bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka seperti apa yang sudah terjadi pada saat-saat yang telah lalu.

Paulus dan rekan-rekannya percaya bahwa segala sesuatu ada dalam kuasa Tuhan. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Mereka adalah murid-murid Kristus yang mengalami penderitaan seperti Kristus. Jadi tidak perlu ada pertanyaan “why me”. Seperti Kristus, mereka sudah mendapat bagian dalam kesengsaraan, dan karena itu, seperti Kristus, mereka juga sudah menerima penghiburan berlimpah-limpah dari Allah Bapa.

Pagi ini, jika kita bangun dan sadar bahwa hidup ini tidak seindah yang kita harapkan, tetapi justru jauh lebih buruk dari apa yang kita duga, mungkin kita mempertanyakan kebijakan Tuhan yang mengijinkan semua itu terjadi. Tetapi, seperti Paulus dan orang-orang percaya yang lain, biarlah kita yakin bahwa segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan. Tuhanlah yang bisa menguatkan kita, dan bahkan memakai hidup kita untuk menguatkan orang lain, sehingga mereka beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kita derita. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan!

Permohonan yang menyenangkan Tuhan

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7: 8

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, terutama di kalangan tertentu. Ayat ini sering dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen untuk rajin berdoa guna memohon kepada Tuhan apa saja yang diinginkan mereka. Baik itu untuk kesuksesan, kekayaan, kesembuhan dan apapun, umat diyakinkan bahwa kalau mereka bersiteguh dalam iman, niscaya Tuhan menuruti permintaan mereka. Karena itu, sebagai orang Kristen, mereka diajarkan bahwa kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan yang maha pemurah haruslah digunakan tanpa keraguan.

Alkisah, pada suatu ketika, ada seorang raja muda yang diberikan kesempatan untuk meminta apa saja kepada Tuhan. Ia bisa meminta kekuasaan, kekayaan dan apapun yang diingininya. Tetapi, bukannya ia meminta apa yang diingininya, ia meminta apa yang dibutuhkannya. Raja itu bernama Salomo.

Salomo kemudian berkata kepada Tuhan: “…. berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umatMu yang sangat besar ini?” (1 Raja-Raja 3: 9).

Apa yang dipikirkan Tuhan setelah mendengar permintaan Salomo itu? Tuhan melihat bahwa Salomo bukannya memikirkan diri sendiri, tetapi ia mementingkan orang lain. Salomo memikirkan bagaimana ia bisa menggunakan dirinya untuk memuliakan Tuhan dan melayani rakyatnya. Berbeda dengan doa dari kebanyakan orang Kristen di zaman ini yang hanya memusatkan perhatian pada kebutuhan diri sendiri, doa Salomo berdasar pada kebutuhan orang-orang disekitarnya. Tuhan sangat senang mendengar doa Salomo. Permintaan Salomo adalah baik di mata Tuhan (1 Raja-Raja 3: 10).

Apa yang dikatakan Tuhan sebagai jawaban atas permohonan Salomo adalah luar biasa. Tuhan menjawab:

“Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu.” 1 Raja-Raja 3: 11 – 12

Siapa bilang Tuhan tidak mendengarkan doa orang yang benar? Tuhan mau memenuhi permintaan kita, jika itu mengenai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita, dan itu sesuai dengan kehendakNya. Lebih-lebih lagi jika doa kita tidak selalu berpusat pada materi dan kenyamanan hidup semata.

Tuhan yang maha pemurah itu juga tahu apa saja yang baik untuk Salomo, sekalipun ia tidak memintanya. Tuhan pada akhirnya memberikan semuanya kepada Salomo sebagai “bonus” atas ketulusan doanya.

“Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja.” 1 Raja-Raja 3: 13

Pagi ini, jika kita berdoa, kita harus sadar bahwa Salomo mendapat jawaban atas doanya karena ia mau memuliakan Tuhan dan melayani sesamanya. Doa yang selalu berpusat pada kepentingan diri sendiri tidak akan membuat Tuhan senang, karena itu bertentangan dengan tujuan Tuhan dalam menciptakan kita.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Batas kesabaran Tuhan

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Yohanes 5: 14

Kebanyakan orang beragama percaya bahwa jika seseorang berbuat dosa, Tuhan akan memberi hukuman kepadanya. Untuk sebagian orang, keyakinan ini bisa memaksa mereka untuk hidup baik menurut ukuran mereka. Karena itu, dalam pandangan umum, penderitaan manusia sering dihubungkan dengan dosa mereka.

Dalam pandangan Kristen, semua orang sudah berdosa dan tidak layak menurut standar Tuhan. Dosa kecil maupun dosa besar menurut pandangan manusia, adalah sama buruknya jika dibandingkan dengan kesucianNya. Jika demikian, semua orang sudah sepatutnya hidup dalam penghukuman Tuhan, jika kita percaya bahwa Tuhan selalu membalas tiap dosa manusia dengan hukuman.

Jika memang Tuhan yang maha suci bertindak sebagai hakim bagi manusia, tidak ada seorangpun yang bisa dibebaskan dari hukuman. Tiap hari, sadar atau tidak, setiap orang berbuat dosa. Jika Tuhan memang menghajar setiap orang yang berdosa, pastilah dunia ini menjadi kosong, tidak ada penghuninya. Siapakah yang dapat berdiri di hadapan Tuhan yang maha suci dengan memanggul dosanya?

Jelas bahwa Tuhan yang maha suci, juga Tuhan yang bisa mengendalikan amarahNya. Tuhanlah yang mengirimkan AnakNya yang tunggal ke dunia, untuk menebus dosa manusia. Kepada mereka yang percaya kepadaNya, Ia setia dan adil, dan selalu bersedia memberi pengampunan atas dosa-dosa yang terjadi setiap hari. Kepada mereka yang belum menjadi anak-anakNya, Tuhan juga menunjukkan kasihNya dan selalu menunggu agar mereka mau bertobat, seperti seorang bapa yang menantikan kembalinya anaknya yang hilang.

Walaupun Tuhan maha sabar, tentu ada perbedaan antara perlakuanNya kepada orang yang menurut perintahNya dengan apa yang diperlihatkanNya kepada mereka yang tidak mau beriman kepadaNya.

Mereka yang tidak percaya adalah orang-orang yang bodoh, yang hidup hanya untuk hari ini. Jika mereka ada dalam kelimpahan dan kenyamanan, untuk sementara mereka bisa bangga atas keberhasilan mereka. Tetapi dalam kegagalan, mereka mudah untuk putus asa. Sebaliknya, mereka yang percaya kepada Tuhan bisa dikuatkan dalam setiap keadaan, karena tidak ada sesuatu apapun yang bisa menceraikan hidup mereka dari kasih Tuhan.

Kesabaran Tuhan ada batasnya, baik kepada umatNya maupun mereka yang belum percaya. Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk hidup dalam dosa, dan Roh Kudus sudah diberikan untuk mengingatkan agar mereka tetap berusaha berjalan di jalan yang benar. Terkadang Tuhan juga menghajar anakNya, agar mereka berhenti melakukan dosa yang sama. Mereka yang beriman wajib melalui jalan yang sempit tetapi benar, dan bukannya jalan yang lebar yang membawa kearah kehancuran.

Bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus, dosa adalah lumrah dan tidak membutuhkan penebusan. Mereka mengukur hidup mereka dengan hukum dunia. Mungkin mereka menganggap bahwa hidup adalah sebuah petualangan; selama mereka tidak dipenjara, mereka adalah orang-orang yang benar. Tetapi Tuhan tidak terus tinggal diam menghadapi kedurhakaan manusia. Seringkali, kehidupan yang jauh dari Tuhan berakhir dengan malapetaka.

Pagi ini, ayat diatas bisa diterapkan pada semua orang: kristen maupun non-kristen.

Bagi mereka yang masih belum mengambil keputusan untuk mengikut Kristus, kesempatan masih ada untuk mendapat pengampunanNya, dengan syarat bahwa kita mau mengakui dosa kita dan berjanji untuk tidak tetap hidup dalam dosa. Kesabaran Tuhan ada batasnya.

Bagi mereka yang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, hidup baru berarti meninggalkan hidup lama yang penuh dosa. Sebagai orang yang sudah disembuhkan dari cengkeraman iblis melalui bilur Kristus, kita tidak boleh kembali ke jalan yang salah.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mengapa Tuhan menciptakan pria dan wanita

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Mengapa Tuhan menciptakan dua jenis manusia di bumi ini? Suatu pertanyaan yang mungkin dirasakan aneh oleh sebagian orang. Tentu saja supaya mereka bisa berkembang biak, begitu mungkin jawab mereka. Walaupun demikian, orang mungkin juga menjawab supaya mereka bisa saling melengkapi dan mengasihi. Semua jawaban ini ada benarnya. Tetapi ada jawaban lain yang hanya bisa diberikan oleh orang Kristen: mereka diciptakan sedemikian agar mereka bisa mencerminkan hubungan antara Yesus dan jemaatNya. Suami diperintahkan untuk mengasihi istrinya seperti Yesus yang sudah mengurbankan diriNya untuk keselamatan manusia.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 5: 25

Sebaliknya, istri diperintahkan untuk tunduk (menghormati) suaminya seperti jemaat yang menghormati Kristus sebagai kepala (bahasa Junani: kephalē) gereja.

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.” Efesus 5: 33

Sekalipun makna dan fungsi penciptaan pria dan wanita itu sudah dijelaskan dalam Alkitab, di zaman sekarang banyak orang yang menganggap semua itu sudah menjadi hal yang kuno. Menurut mereka, keluarga tidak perlu terdiri dari pria dan wanita. Selain itu, mereka menganggap pria dan wanita tidak ada bedanya dalam makna maupun fungsinya, dan juga manusia bisa memilih untuk menjadi (seperti) pria atau wanita sebagaimana yang mereka sukai.

Bagi mereka yang masih percaya bahwa Tuhan hanya menciptakan dua jenis manusia, tidaklah mudah mempertahankan keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga. Iblis selalu bekerja dan berusaha untuk menghancurkan keluarga kristen dengan memutar-balikkan fakta. Karena itu, perceraian diantara keluarga kristen makin meningkat jumlahnya.

Kunci keharmonisan keluarga adalah rasa kasih dan hormat. Tuhan menghendaki seorang suami untuk mengasihi istrinya, dan untuk seorang istri untuk menghormati suaminya. Ini bukan berarti bahwa seorang suami tidak perlu menghormati istrinya, atau seorang istri tidak perlu mengasihi suaminya. Sebaliknya, keduanya harus bisa saling mengasihi dan menghormati. Mengapa demikian?

Bagi seorang pria, menghormati orang lain adalah sesuatu yang mudah dilakukan. Pria mudah untuk menghormati orang lain yang mempunyai kemampuan tertentu. Menghormati rekan seperjuangan atau pimpinan adalah hal yang biasa dan lumrah. Tetapi, suami justru diminta untuk mengasihi istrinya, sesuatu yang tidak biasa atau natural bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk kaum wanita, soal mencintai dan mengasihi orang lain adalah hal yang alamiah. Bagi mereka, melihat orang lain yang menderita dan merasakan adanya simpati dan empati untuk orang itu adalah biasa. Tetapi, Tuhan justru memerintahkan istri untuk menghormati suaminya, sesuatu yang bukan merupakan naluri mereka.

Apa yang diperintahkan Tuhan kepada pria dan wanita adalah bertentangan dengan sifat-sifat alamiah mereka. Inilah yang membuat pria dan wanita sering mengalami kesulitan dalam membina hubungan antar jenis, terutama dalam hidup berumah-tangga. Karena bagi pria, untuk menghormati orang lain adalah lebih mudah; sedang bagi wanita, mencintai orang lain adalah lebih terbiasa. Tuhan ternyata menghendaki pria dan wanita untuk berjuang untuk melakukan apa yang sulit dilakukan. Tuhan menghendaki baik suami atau istri untuk mau berkurban.

Pagi ini biarlah kita sadar, jika kita merasa lebih mudah untuk menghormati daripada untuk mengasihi, tantangan kita adalah untuk berusaha mengasihi. Sebaliknya, jika kita lebih mudah untuk mengasihi daripada menghormati, kewajiban kita adalah untuk beusaha menghormati. Karena baik pria maupun wanita, kewajiban mereka adalah untuk saling menghormati dan mengasihi sekalipun mereka berbeda dalam makna dan fungsi.

“Apa yang diberikan tanpa pengurbanan adalah sesuatu yang murah, mudah didapat dan gampang dilupakan”

Antara dosa, iblis dan pengampunan

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Bayangkan ada sebuah pertanyaan multiple choice (MCQ) yang diberikan kepada seluruh manusia di dunia:

Mengapa manusia sering melakukan hal yang jahat?

  1. Iblis yang menyuruh
  2. Pengaruh orang-orang disekitarnya
  3. Diturunkan dari orang tua
  4. Manusia pada hakikatnya jahat

Menurut anda, jawaban mana yang paling banyak dipilih oleh responden? Mungkin tidak mudah untuk menerka jawaban yang paling “populer”, tetapi jawaban yang paling tidak disukai mungkin adalah pilihan nomer 4.

Banyak manusia yang menolak kenyataan bahwa manusia pada hakikatnya jahat dan karena itu harus selalu berjuang untuk bisa berbuat baik. Berbuat baik bukanlah sesuatu yang secara natural akan dilakukan manusia. Jika tidak ada hukum dan peraturan di dunia, manusia dengan kebebasannya cenderung untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Adam dan Hawa juga berbuat seperti itu, dengan dosa yang pertama.

“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Kejadian 3: 6

Mungkin sebagian orang selalu menuduh iblis sebagai biang keladi dosa. Jika tidak ada iblis, tentu manusia tidak berbuat dosa. Ini ada benarnya, karena dari mulanya iblis selalu berusaha mempermalukan Tuhan dengan mendorong manusia untuk melawan perintah Tuhan. Tetapi manusia dengan kebebasannya tidak harus menuruti bisikan iblis. Iblis tidak tinggal didalam diri semua manusia di dunia dan membuat mereka melakukan dosa diluar kemauan mereka. Manusia bukan robot-robot iblis.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 14

Ada juga mereka yang percaya bahwa manusia berbuat jahat karena pengaruh orang lain. Seperti Adam yang dipengaruhi oleh Hawa. Mereka mungkin selalu menyalahkan orang lain atau lingkungan disekitarnya, sebagai penyebab kesalahannya. Tetapi baik Adam dan Hawa dihukum oleh Tuhan sebab keduanya sudah berdosa.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Ada juga orang yang percaya bahwa manusia bisa hidup dalam kegelapan karena apa yang sudah dilakukan oleh orang tua dan nenek moyang mereka pada zaman dulu. Ini ada benarnya, karena semua manusia dari lahir sudah membawa dosa, akibat dosa yang diperbuat Adam dan Hawa. Seorang yang hidup bergelimang dalam dosa juga bisa menyebabkan anak cucunya menempuh cara hidup dan mengalami penderitaan yang serupa di masa depan. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa bebas dari pengaruh masa lalu. Karena Tuhan menjanjikan kepada siapa saja, tanpa memandang asal usulnya, untuk bisa diselamatkan. Adanya dosa nenek moyang tidak memerlukan penebusan yang lebih besar dari kematian Yesus Kristus. Darah Yesus Kristus saja sudah cukup untuk melepaskan kita dari belenggu dosa.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa dosa pada hakikatnya adalah tanggung jawab kita pribadi. Kita tidak bisa menyalahkan apapun dan siapapun atas dosa yang kita perbuat. Kita tidak bisa meminta orang lain untuk memberikan kita pembebasan (deliverance) dari belenggu dosa. Kita tidak bisa minta pengampunan atas dosa orang tua kita atau atas perbuatan iblis yang mungkin mempengaruhi kita. Tetapi, bagi kita yang mau mengaku dosa kita, langsung kepada Tuhan, Tuhan adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Dalam hal ini, pengakuan dosa yang benar selalu disertai dengan kemauan untuk tidak hidup dalam dosa lagi karena kita sudah menjadi pengikut Kristus dan bukan pengikut iblis.

“Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.”1Yohanes 3: 8a

Biar singkat bisa berguna

“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” Mazmur 103: 15 – 16

Sewaktu berada di Canadian Rockies, saya sangat terkesan melihat pemandangan gunung-gunung berlapis salju yang mengitari danau-danau yang airnya berwarna biru muda. Sayang, pada waktu itu bunga-bunga liar tidaklah banyak terlihat.

Bunga-bunga liar yang warnanya indah banyak ditemui pada musim tertentu, tetapi umurnya tidak panjang. Hal ini tidak menjadi persoalan jika kita datang ke tempat ini untuk mengagumi gunung-gunung batu dan danau-danau yang ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Pemazmur dalam ayat diatas agaknya menjumpai keadaan yang serupa dengan apa yang saya lihat. Bahwa bunga-bunga di padang rumput itu terlihat indah untuk sesaat saja dan setelah itu hilang tertiup angin. Sebaliknya, gunung dan danau tetap tidak berubah dan dikagumi banyak orang setiap hari.

Hidup manusia menurut pemazmur, adalah singkat saja – seperti rumput atau bunga di padang. Mungkin sebagian kecil manusia bisa mencapai umur 100 tahun, tetapi kebanyakan orang sudah dapat dikategorikan berumur panjang jika bisa mencapai umur 80 tahun. Dibandingkan dengan hewan seperti kura-kura dan ikan paus yang bisa mencapai umur ratusan tahun, manusia memang tidak panjang umurnya.

Dari umur 80 tahun yang mungkin bisa dicapai manusia, mungkin 20 tahun pertama dan 20 tahun terakhir adalah masa yang mungkin tidak produktif. Dengan demikian, paling banyak hanya separuh umur manusia yang biasanya bisa dipakai untuk berkarya. Untuk orang-orang yang tenar, seperti pemain sepakbola atau tenis ternama, masa jaya mereka malahan bisa lebih singkat.

Kebanyakan orang menggunakan umur produktif itu untuk mencari nafkah dan membina karir dan rumah tangga, dan seusai masa bekerja, hidup yang tersisa mungkin bisa dipakai untuk membantu anak cucu sebelum usia tua. Itulah garis besar hidup manusia yang mirip dengan bunga di padang. Haruskah sedemkian? Adakah cara hidup lain yang lebih baik, yang tidak seperti bunga rumput di padang?

Jika kita ingin untuk hidup lebih panjang, seperti banyak orang di zaman ini berusaha dengan segala cara, itupun tidak mengubah hidup kita untuk lebih berguna. Seperti bunga di padang, saat dimana kita bisa membanggakan diri kita adalah terbatas. Tetapi, Alkitab menulis bahwa kemuliaan Tuhan itu kekal, ada dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Karena itu, hidup kita akan jauh lebih baik dari bunga di padang jika kita memakainya untuk memuliakan Tuhan dari awal hingga akhirnya. Sekalipun kita pada akhirnya harus meninggalkan dunia ini, kemuliaan yang kita punyai tidak akan hilang, sebab itu adalah kemuliaan Tuhan yang tercerminkan dalam hidup kita. Manakah yang anda pilih?

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” 2 Korintus 3: 18

Kekuatiran yang sia-sia

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?” Lukas 12: 25

Perjalanan pulang ke Australia semalam memakan waktu sekitar 13 jam. Duduk di pesawat selama itu memang bisa cukup membosankan. Untunglah tiap penumpang mempunyai sebuah layar monitor kecil yang bisa dipakai untuk menayangkan berbagai film, termasuk film perang dan petualangan. Agaknya sebagian orang senang menonton film bertema “keras”, tetapi orang lain menganggap film semacam itu mendatangkan rasa takut dan kuatir.

Tanpa menonton film semacam itu, sebenarnya kita bisa juga menjumpai berita-berita menakutkan yang ada dimana-mana. Melalui koran dan TV, kita bisa menemukan berita tentang kejahatan, kecelakaan, penyakit ataupun bencana alam. Agaknya kabar buruk selalu menjadi topik populer, sedangkan kabar baik kurang mendapat perhatian. Dengan demikian, tidaklah mengherankan makin banyak orang di zaman ini yang selalu kuatir akan hal sekecil apapun. Karena berita buruk sudah menjadi konsumsi harian, dan kekuatiran sudah menjadi penyakit kronis manusia modern.

Ayat diatas sering dipakai untuk menasihati orang Kristen bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memperpanjang hidupnya dengan kekuatiran. Dengan demikian, jika kita kuatir akan apa yang akan terjadi pada diri kita, itu adalah sia-sia. Tetapi, kekuatiran adalah sesuatu yang sulit dihilangkan, kecuali jika ada jaminan bahwa apa yang dikuatirkan itu pasti tidak akan terjadi; atau jika itu memang terjadi, akibatnya tidak signifikan. Sayang sekali, kedua hal ini tidak bisa dipastikan selama kita hidup di dunia. Masalah besar bisa muncul dan setiap orang, termasuk orang Kristen, bisa mengalami penderitaan.

Walaupun banyak orang yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak membiarkan orang yang benar-benar beriman untuk mengalami penderitaan, dalam kenyataannya orang Kristen tidak bisa luput dari berbagai masalah. Yesus tidak pernah berkata bahwa hidup sebagai anak Tuhan itu selalu indah dan mudah. Sebaliknya, kita harus sadar bahwa selain penderitaan yang umum yang ada di dunia, kita bisa mengalami penderitaan khusus untuk para pengikutNya. Dengan demikian, untuk bisa bertahan dalam hidup, orang Kristen seharusnya mempunyai kekuatan dan keteguhan yang lebih besar dari orang lain. Bagaimana itu mungkin?

Kunci kekuatan orang Kristen adalah Tuhan yang maha kuasa, yang mutlak berkuasa atas segala sesuatu. Ia tahu apa yang akan terjadi pada diri setiap orang dan memegang kontrol atas segala keadaan. Bagi Tuhan, orang yang percaya kepadaNya adalah anak-anakNya. Karena itu, Ia selalu memelihara, melindungi dan menguatkan kita dalam setiap persoalan. Dengan menyadari hal itu, adalah pilihan kita untuk tidak hidup dalam kekuatiran dan ketakutan.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Sepanjang jalan kenangan

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” 2 Timotius 3: 15

Hari ini adalah hari terakhir saya di Canada, dan tepat pada tengah malam saya akan terbang kembali ke Australia. Masa berlibur sudah habis dan masa bekerja akan dimulai lagi. Membayangkan hari-hari yang baru lalu, saya merasa bersyukur atas berkat dan perlindungan Tuhan. Semua akan menjadi kenangan yang mungkin muncul lagi sebagai nostalgia di masa mendatang.

Nostalgia dapat diartikan sebagai kerinduan (yang kadang-kadang berlebihan) pada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang; atau kenangan manis pada masa yang telah lama silam. Semua orang umumnya mempunyai nostalgia, entah itu sehubungan dengan masa kecil, masa remaja, masa bersekolah, masa bekerja ataupun saat bertamasya dan sebagainya.

Nostalgia sebenarnya tidak muncul dengan cara otomatis tanpa kesadaran. Pada umumnya orang mempunyai rasa subyektif, menyenangi dan memilih kenangan tertentu, tetapi berusaha melupakan hal-hal yang kurang disenangi. Untuk kenangan yang indah, orang senang bernostalgia, membayangkan dan bahkan mencoba untuk mengulangi pengalaman itu di sepanjang jalan kenangan.

Nostalgia yang berlarut-larut tidaklah baik karena itu membuat orang hidup dalam impian. Nostalgia juga bisa membuat orang kecewa dengan keadaan hidupnya yang sekarang. Sebagai orang Kristen, seharusnya kita tidak tenggelam dalam nostalgia; tetapi seperti Timotius, kita harus selalu ingat bahwa pada suatu saat yang telah silam melalui Alkitab kita sudah diperkenalkan bahwa Tuhan itu ada, dan bahwa Yesus itu Juru Selamat kita. Kita harus sadar bahwa Alkitab yang diilhamkan Allah itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3: 16).

Apa yang sudah terjadi dalam hidup kita setelah diperkenalkan kepada firman Tuhan seharusnya juga tidak bisa dilupakan, karena makin hari kesadaran kita akan pentingnya hidup dalam kebenaran seharusnya bertambah besar. Tetapi bagi banyak orang Kristen, perubahan hidup sedemikian mungkin tidak terjadi karena mereka terlalu sibuk dengan segala kegiatan sehari-hari. Membaca dan mempelajari Alkitab mungkin sudah lama terlupakan. Hal menerima Yesus sebagai Juru Selamat hanyalah sebuah nostalgia. Masa lalu yang penuh semangat untuk mengikut Kristus sudah menjadi kenangan manis saja. Itulah sebabnya Paulus menasihati Timotius untuk selalu ingat akan masa lalunya dan didikan ibunya, dimana firman Tuhan sudah memberi hikmat dan menuntun dia dari kecil menuju keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Pagi ini jika kita bangun tidur dan bersiap untuk menghadapi tugas kehidupan kita, sempatkah kita memikirkan saat dimana kita mulai mengenal Yesus sebagai Juru Selamat kita? Apakah rasa sukacita dan keinginan untuk mengikut Dia masih ada sekarang ini, seperti apa yang kita rasakan dulu? Ataukah hubungan kita dengan Tuhan sekarang sudah menjadi hambar, dan kita tidak lagi tertarik untuk memahami firman Tuhan yang telah menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus? Semoga kita tetap mau mengingat saat yang indah dimana Tuhan membuka mata rohani kita, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk bisa makin hari makin giat dalam mempelajari firmanNya, untuk menjadi makin baik dalam kehidupan iman kita.