“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Amsal 8: 13
Apakah anda takut akan Tuhan? Pertanyaan ini mungkin dijawab oleh orang Kristen dengan kata “ya” dengan penuh keyakinan. Bagaimana tidak? Tuhan kita adalah mahakuasa dan tentunya kita tidak mau membuat dia marah. Sekalipun Tuhan itu mahakasih, kita mengerti bahwa Ia yang mahasuci tidak suka untuk diabaikan oleh manusia. Sekalipun Tuhan itu tidak terlihat mata, kita mengerti bahwa Ia adalah mahatahu.
Dengan memikirkan keyakinan diatas, kita mungkin bisa merasa heran bahwa ada orang-orang Kristen yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Berita dalam media memang sering menyebutkan adanya hal-hal yang jahat yang dilakukan mereka yang percaya adanya Tuhan. Bagaimana orang bisa pada satu pihak percaya dan takut akan Tuhan, tetapi pada pihak yang lain mempunyai sikap yang kurang baik terhadap sesamanya?
Kita sebenarnya tidak perlu berpikir jauh-jauh sebab semua orang cenderung mempunyai kelakuan yang sama. Kita pun sering melakukan hal yang serupa! Takut kepada Tuhan seringkali hanya dalam konteks hubungan pribadi secara vertikal dengan Tuhan, tetapi melupakan hubungan horisontal dengan sesama manusia.
Sejarah mencatat bahwa bagaimana misionaris yang pergi mengabarkan injil ke negara lain, menjalankan tugas itu dengan menempatkan diri mereka sebagai penguasa dan memperlakukan penduduk setempat secara kejam dan semena-mena. Mungkin kita berpikir bahwa itu terjadi pada zaman dulu, sewaktu hukum dan etika belum berkembang; tetapi sesungguhnya kita pun bisa melakukan hal yang serupa di zaman modern ini dengan mengabaikan perasaan , penderitaan, kebutuhan dan hak azasi sesama manusia. Keadaan yang lebih buruk malah bisa terjadi jika faktor kedudukan, politik dan uang ikut berbicara.
Ayat diatas memperingatkan apa yang perlu kita sadari dalam hidup kita sebagai orang yang takut akan Tuhan. Bahwa takut kepada Tuhan bukan hanya sekedar konsep untuk mengasihi dan menghormati oknum Tuhan itu saja, tetapi juga mengasihi dan menghormati sesama kita, baik itu orang Kristen maupun bukan Kristen. Kita harus mengasihi semua orang tanpa memandang bulu, dan menghargai orang lain tanpa memandang muka, dan berlaku jujur kepada orang lain. Itu karena takut akan Tuhan berarti membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan dan kebohongan.
“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” 1 Yohanes 4: 20
Siapa yang tidak suka beromong kosong? Di zaman ini, agaknya semua orang melakukannya. Bukan hanya rakyat jelata yang duduk di warung kopi, atau mereka yang “gaul” dan yang sering pergi ke mal, tetapi juga mereka yang sibuk bekerja. Mereka yang bisa menggunakan berbagai gadget sekarang bahkan bisa beromong kosong melalui media. Agaknya berbincang-bincang tanpa tujuan yang pasti itu memang ciri manusia modern yang mengaku sibuk tetapi masih mempunyai banyak waktu untuk membicarakan hal apa saja.
Sehidup semati. Semboyan yang lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Mereka yang menikah, biasanya berjanji untuk hidup bersama sampai mati, untuk melewati hari baik dan hari buruk, selagi kaya atau miskin, pada saat sehat atau sakit. Tetapi, dalam kenyataan hidup ini banyak orang yang begitu mudah untuk bercerai ketika keadaan rumah tangga mulai berantakan. Apalagi di kalangan orang ternama dan mereka yang mampu, untuk mendapatkan yang terbaik seringkali diartikan membuang yang lama dan membeli yang baru, karena adanya banyak pilihan yang bisa dicoba.
Emas dan perak adalah dua jenis logam berharga yang dipakai untuk membuat berbagai perhiasan. Logam ini biasanya diperoleh dengan cara menambang dari perut bumi. Data dari tahun 2016 menunjukkan bahwa Australia menghasilkan sekitar 300 ton emas yang menempatkannya dalam posisi kedua sedunia. Sebaliknya, pertambangan di Australia tidak menghasilkan perak dalam jumlah yang besar.
Berzina. Perbuatan yang dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang dimana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanianpun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka.
Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaanNya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.
Tuhan Yesus datang dari surga sebagai Anak Allah untuk menebus dosa manusia. Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia sepenuhnya, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai manusia ia dilahirkan sebagai seorang bayi melalui anak dara Maria, dan tumbuh menjadi dewasa. Tidak banyak yang kita ketahui mengenai masa kecil Yesus, selain Ia tentunya ikut bekerja sebagai tukang kayu seperti ayahNya, Yusuf (Markus 6: 3). Yesus sebagai manusia adalah orang biasa yang sederhana, bukan orang kaya ataupun orang yang berkuasa.
Pernahkah anda mendengar permintaan seseorang agar kita mendoakan mereka? Seringkali permintaan itu hanya sekedar basa-basi, tetapi memang ada orang-orang yang dengan serius ingin agar kita mendoakan mereka yang sedang mengalami masalah.
Manusia adalah makhluk sosial dan karena itu membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Mereka yang mempunyai keluarga dan yang masih aktif berkarya tentunya bisa mempunyai banyak kesempatan untuk menjumpai orang lain dan berkomunikasi muka dengan muka. Tetapi, banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan yang serupa; mereka yang hidup jauh dari keluarga, mereka yang hidup sendirian, ataupun mereka yang terkucil dari masyarakat, sering merasakan sepinya hidup.
Suatu kelebihan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi derajatnya di bumi ini adalah rasa ingin tahu akan segala sesuatu: ingin tahu akan asal usul, pelaku, alasan, akibat, tujuan dan guna dari segala yang ada di bumi. Makhluk lain mungkin ada yang memiliki rasa ingin tahu, tetapi itu hanya sangat terbatas dan tidak muncul pada setiap saat. Manusia memang menggunakan sifat ingin tahu, curiosity, itu sehingga ilmu pengetahuan, budaya dan juga agama bisa berkembang.