Mujizat apa yang masih dicari?

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Setiap hari, jika kita membaca berbagai media, kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak diantara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani.

Pada pihak yang lain, dalam media kita juga menemui berbagai kabar baik tentang adanya berbagai organisasi yang bisa membantu mereka yang menderita, bermacam obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan juga berbagai keajaiban yang terjadi dalam hidup manusia. Kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Seringkali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mujizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui pengobatan yang tidak tradisionil, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima dengan pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin bisa merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, seringkali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekedar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apapun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mujizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mujizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, Tuhan hanya ada karena adanya mujizat yang bisa mereka lihat atau alami.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mujizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, yaitu keselamatan jiwa mereka. Mereka yang tidak mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata anda, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu,

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mujizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak mencari mujizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memuliakan mujizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mujizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Sekali merdeka, tetap merdeka!

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5: 1

Sekali merdeka, tetap merdeka! Begitulah semboyan yang kita kenal sejak lama di Indonesia, terutama pada saat kita merayakan hari kemerdekaan bangsa dari penjajahan.

Kemerdekaan (freedom) adalah sebuah hal yang didambakan setiap manusia di dunia, dimanapun mereka berada. Untuk menjadi merdeka (free) orang mungkin mau membayar harga apapun, dan bahkan bersedia berjuang sampai mati.

Memang Tuhan dari mulanya sudah memberikan kemerdekaan kepada manusia ciptaanNya di taman Firdaus, dan dengan itu setiap manusia mengerti perlunya hal itu.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas..” Kejadian 2: 16

Tuhan memberikan taman Firdaus kepada Adam dan Hawa untuk tempat hidup mereka, agar mereka bisa menjadi “manager“, yang mengusahakan dan memelihara taman itu. Mereka bebas untuk menjalani hidup mereka dan boleh memakan buah apa saja, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

“..tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 17

Jelas bahwa sekalipun kemerdekaan itu adalah hak azasi manusia, dengan kemerdekaan ada kewajiban dan batasan. Sayang sekali, karena Adam dan Hawa melanggar batasan itu, mereka kehilangan kemerdekaan mereka dan jatuh kedalam belenggu dosa. Oleh karena itu juga, semua manusia adalah mahluk yang berdosa sejak dilahirkan. Dengan demikian, tak ada satu manusia pun yang bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi, jika Yesus Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Sebagai umat Kristen, kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, dan menjadi manusia merdeka, seperti keadaan Adam dan Hawa pada mulanya. Harga kemerdekaan kita tidak mungkin terbayar oleh usaha kita sendiri. Harga yang termahal itu sudah dibayar oleh Tuhan, dengan mengurbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus.

Sekali merdeka, tetap merdeka! Itu adalah harapan kita. Kita harus bersyukur bahwa dengan adanya satu pengurbanan yang sempurna, semua dosa kita sudah diampuni Tuhan. Dengan kemerdekaan itu, kita harus ingat bahwa tidak ada kemerdekaan yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk mempertahankannya. Karena setiap orang yang sudah merdeka, bisa jatuh lagi kedalam perhambaan dan kehilangan kemerdekaannya, jika tidak berhati-hati dalam hidup dan tingkah lakunya.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai manusia yang merdeka bukanlah berarti bahwa kita bisa dan boleh berbuat apa saja yang kita sukai. Kemerdekaan yang benar adalah kemerdekaan dalam batas-batas hukum yang ada. Kemerdekaan yang tanpa batas adalah sebuah anarki. Bagi kita umat Kristen, segala hukum yang ada bisa disimpulkan dalam dua hukum yang terutama, yaitu untuk menghormati Tuhan dan mengasihi sesama kita.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Hati-hatilah dengan hatimu

“Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 19

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati, kalau menurut pantun lama. Tetapi simbol jatuh cinta adalah sebuah anak panah yang menembus sebuah heart (jantung) dan bukannya liver (hati). Hati berbeda dengan jantung, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kata “hati” sering dipakai untuk menggantikan kata “jantung”.

Hati dalam arti kiasan adalah pusat perasaan manusia yang bersifat rohani, berbeda dengan otak yang dianggap sebagai alat pemikiran duniawi. Sering jika seseorang mengalami kebingungan, nasihat yang diberikan oleh orang lain adalah “ikuti kata hatimu”. Hati dianggap lebih murni dari otak dan mempunyai kesadaran yang lebih dalam mengenai hubungan antar manusia, antara manusia dengan Tuhan, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Dengan hati juga manusia seolah bisa merasakan cinta, kemarahan (sakit hati) dan kedamaian.

Apa yang dikatakan Alkitab mengenai hati manusia? Hati dalam Alkitab dipakai untuk menggambarkan berbagai hal, seperti kehidupan, jiwa, perasaan, pikiran, tujuan, maksud dan sebagainya. Tetapi hati juga dipakai untuk menggambarkan tempat dimana dan dari mana hal yang baik dan hal yang buruk bisa tinggal dan dipancarkan.

Yesus pernah berkata bahwa dimana harta kita berada, disitu juga hati kita berada (Matius 6: 21). Itu berarti bahwa apa yang menarik perhatian kita di dunia bisa menyeret hidup (hati) kita. Yesus juga pernah menasihati murid-muridNya agar menjaga diri mereka, supaya hati mereka jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (Lukas 21: 34). Dengan demikian, menjaga kesucian hati adalah penting dalam kehidupan orang Kristen.

Lebih lanjut, dari ayat pembukaan diatas kita melihat bahwa Alkitab menulis bahwa hati manusia adalah sumber segala sesuatu yang jahat. Sebab hati yang sudah dikuasai dosa akan mengeluarkan buah-buah yang berupa segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak pernah melakukan pembunuhan, perzinahan dan apa yang kelihatannya sangat jahat dimata manusia. Tetapi, hal berbohong dan memfitnah orang lain juga berasal dari sumber yang sama: hati yang dikuasai dosa.

Adalah kenyataan bahwa sebagai orang percaya kita juga masih bisa jatuh kedalam dosa. Jika demikian, bagaimana keadaan hati kita? Hati kita tetap merupakan sumber segala hal jahat yang tertimbun didalamnya. Semakin banyak hal yang jahat yang kita simpan didalamnya, semakin sering kita melakukannya. Tetapi, jika kita mengisi hati kita dengan hal yang baik, apa yang keluar dari hati adalah hal-hal yang bisa memuliakan Tuhan. Jika kita membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita dengan sepenuhnya, dengan sendirinya hal-hal yang jahat akan terusir keluar, untuk digantikan dengan hal yang baik. Kegelapan diganti dengan terang.

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Lukas 6: 45

Pagi ini kita disadarkan bahwa kita tidak boleh puas dengan keadaan hati kita saat ini. Perjuangan hidup kita sebagai orang percaya tidak pernah berakhir sampai Tuhan memanggil kita. Kecenderungan untuk berbuat dosa selalu ada, dan oleh sebab itu kita harus berhati-hati dalam mendengarkan suara hati kita. Semangat kita untuk menjadi lebih baik dalam hal kemurnian hati tetap harus dipupuk, untuk membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, sehingga hati kita berkelimpahan dengan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yohanes 7: 38

Hidup suci yang bagaimana?

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 14 – 16

Salah satu julukan yang sering diberikan kepada orang Kristen adalah “orang yang sok suci”. Ucapan ini keluar dari mulut seseorang mungkin ketika ada orang Kristen yang menegur cara hidupnya. Bagi orang yang ditegur, adanya sesama manusia yang berani menegurnya seolah membawa kesan kurang ajar. Siapakah dia yang merasa hidupnya lebih suci dari orang lain? Jangan pura-pura suci! Orang munafik!

Memang semua orang di dunia adalah orang berdosa. Orang Kristen pun orang berdosa, tetapi karena penebusan Kristus dosanya sudah diampuni Tuhan. Orang yang sedemikian adalah orang yang merasa beruntung; dan dengan demikian, ia ingin untuk memuliakan Tuhan yang mahakasih dan hidup suci seperti apa yang dikehendakiNya. Ini bukan berarti bahwa orang itu tidak bisa berbuat dosa lagi, tetapi ia sadar bahwa dosa adalah hal yang tidak disenangi Tuhan yang mahasuci.

Bagi orang yang kurang mengerti, hidup suci atau hidup kudus adalah keadaan yang sempurna yang seharusnya terjadi setelah orang menjadi pengikut Yesus. Bukan begitu! Sebenarnya, apa yang terjadi ketika seseorang menjadi orang percaya adalah pembenaran (justification); ketika Tuhan menerima orang itu sebagaimana adanya, dan mengampuni dosa-dosanya. Sejak saat itu, orang yang benar-benar percaya akan berusaha untuk hidup dalam kesucian dengan pertolongan Tuhan (sanctification) sehingga ia mencapai kedewasaan dalam iman (maturity).

Kesempurnaan selama hidup di dunia itu tidak terjadi secara tiba-tiba seperti keajaiban. Hari demi hari pengikut Kristus tetap harus berjuang menghadapi tantangan dan godaan, dalam usaha mereka untuk menjadi suci seperti Kristus dibawah bimbingan Roh Kudus. Perjuangan ini hanya berakhir ketika pada akhir hidup, mereka berjumpa dengan Sang Juruselamat dan menerima kemuliaan dan kesucian yang sepenuhnya (glorification).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3: 2 – 3

Mereka yang benar-benar sudah diselamatkan pasti berubah hidupnya dan tidak mau untuk tetap hidup dalam dosa. Mereka bukanlah orang yang “sok suci”, tetapi orang yang benar-benar tahu apa dosa itu dan membencinya.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Pagi ini, kita diingatkan bahwa cara hidup kita di dunia adalah pilihan kita. Jika kita sudah menerima keselamatan, perubahan hidup kita adalah sesuatu yang seharusnya bisa terlihat karena adanya kesadaran bahwa hidup suci adalah perintah Tuhan. Lebih dari itu, karena kita sudah diselamatkan semata-mata karena anugerah Tuhan, hidup suci juga untuk memuliakan namaNya. Sebagai manusia kita tidak dapat hidup suci dengan kekuatan kita sendiri. Biarlah Roh Kudus membimbing hidup kita hari demi hari, supaya hidup kita makin lama makin menyerupai hidup Kristus!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Hal menjadi saksi dusta

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.” Keluaran 23: 1

Di zaman ini, berbagai berita muncul di sosial media seperti Whatsapp, Facebook dan Twitter setiap hari. Banyak diantara berita itu hanyalah kabar bohong atau setengah bohong, tetapi masyarakat umum tetap gemar membacanya. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang yang sengaja menggunakan sosial media sebagai landasan untuk mencapai tujuan mereka, baik tujuan yang benar maupun tujuan yang salah.

Dari sumber berita yang dapat dipercaya, ternyata banyak tokoh masyarakat yang menggunakan cara yang serupa untuk melakukan perang propaganda, psywar, guna menaklukkan saingan atau lawan politik mereka. Bahkan mereka mempunyai penulis-penulis dan artis-artis tertentu yang mendukung mereka dengan mengedarkan berita-berita dan meme yang “miring”, yang tidak jelas kebenarannya.

Bagi banyak orang Kristen, ikut-ikutan membaca dan menyebarkan berita-berita semacam itu mungkin dianggap lumrah. Selama apa yang diungkapkan dalam tulisan itu sesuai dengan selera dan pandangan mereka, barangkali itu dianggap bisa diterima. Sekalipun mereka tahu bahwa ada kemungkinan apa yang disampaikan adalah tidak benar, mereka mungkin berpendapat bahwa kebenaran bisa ditegakkan dengan cara apapun. Mereka mungkin juga percaya bahwa maksud baik boleh menghalalkan cara. Apa kata firman Tuhan dalam hal ini?

Dari ayat pembukaan diatas kita bisa membaca bahwa dari awalnya bani Israel diperintahkan untuk tidak menyebarkan kabar bohong; atau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak pernah melakukan hal-hal itu dengan sengaja. Tetapi dengan ikut-ikutan menyebarkan, kita sebenarnya membantu orang lain untuk melakukannya.

Masalahnya, di zaman ini kita sering tidak bisa dengan mudah membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Kita juga sering tidak tahu pendapat siapa yang benar dan ucapan siapa yang salah. Tambahan pula, pengetahuan manusia adalah sangat terbatas dan karena itu kita tidak dapat membaca pikiran dan hati orang lain. Hanya Tuhanlah yang tahu segala apa yang tersembunyi dari mata manusia.

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Pagi ini, sebagai umat Kristen kita dipanggil untuk menjadi terang dunia yang menyinarkan kemuliaan Tuhan dalam segala tindak tanduk kehidupan kita. Sebagai orang percaya, kita harus berbeda dengan orang yang tidak mengenal Kristus. Karena itu, sudah seharusnya kita tidak ikut-ikutan terpancing dalam mengeluarkan atau mengedarkan berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, atau hal-hal yang menimbulkan kebencian dan kekacauan dalam masyarakat.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Jangan membahayakan dirimu atau orang lain

“Apabila engkau mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya.” Ulangan 22: 8

Di zaman modern ini manusia pada umumnya sudah mempunyai kesadaran akan perlunya keselamatan fisik (safety) dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas kehidupan. Hari-hari dimana kita boleh mengendarai motor tanpa memakai helm, atau mengendarai mobil tanpa sabuk pengaman, dan juga memakai ponsel sambil menyetir mobil sudah berlalu, dan sekarang kita bisa didenda polisi jika melakukan hal-hal semacam itu. Walaupun demikian, setiap hari mungkin kita masih bisa melihat adanya orang-orang yang melanggar peraturan keamanan, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai tempat di dunia.

Angka kecelakaan di banyak negara pada saat ini masih sangat tinggi, baik di jalan raya, industri maupun rumah tangga. Karena banyaknya kecelakaan, mungkin orang merasa biasa, dan bahkan kebal, dalam melihat apa yang seharusnya terasa menyedihkan, yang terjadi dalam masyarakat. Begitu juga orang Kristen, banyak diantara mereka yang kurang sadar akan peran mereka dalam mengurangi angka kecelakaan.

Masalah safety adalah masalah yang sangat penting, tetapi jarang dibahas di gereja. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan bahwa hal ini termasuk dalam domain hukum, bukan agama. Walaupun begitu, ayat diatas jelas menunjukkan bahwa kita harus memikirkan hal keselamatan orang lain dalam setiap tindakan kita. Itu karena Tuhan berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 39).

Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, sudah cukup baik untuk orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita rasakan baik untuk diri kita akan membawa kebaikan untuk orang lain. Tidaklah mengherankan jika banyak orang berpendapat bahwa apa yang aman untuk dirinya, juga aman dan tidak berbahaya untuk orang lain.

Memang, untuk bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa dengan secara benar mengasihi diri kita sendiri, seperti Kristus yang sudah mengasihi umatNya.

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” Efesus 5: 29

Mereka yang serampangan dengan hidupnya, tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Mereka yang sering membahayakan diri sendiri, sering juga membahayakan orang lain. Mereka yang sering berani mengambil resiko, pastilah kurang bisa mempertimbangkan resiko bagi orang lain, terutama resiko bagi mereka yang kurang dalam hal kepandaian, ketrampilan dan kemampuan.

Pagi ini, sebelum kita mulai mengerjakan kegiatan kita sehari-hari, marilah kita memikirkan perbuatan apa saja yang kita biasa lakukan, yang bisa membahayakan diri kita. Lebih dari itu, kita harus mengerti apa saja yang bisa membahayakan orang lain. Selain itu kita harus bisa memperhitungkan hal yang terburuk, yang mungkin terjadi pada diri kita dan orang lain. Jika kita enggan untuk memikirkan hal-hal itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Benarkah kita mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri?

Jadilah penjala manusia

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Matius 4: 19

Kemarin pagi, selagi saya berjalan menyusuri pantai Broadwater di Gold Coast saya melihat pemandangan yang menarik. Ratusan burung camar dan bangau bakau berlomba terbang dan terjun ke laut untuk menangkap ikan. Kelompok ikan yang kebetulan berenang dalam jumlah besar disepanjang pantai itu merupakan makanan empuk untuk burung-burung liar yang kelaparan itu.

Apa yang saya lihat kemarin sering terjadi di danau Galilea yang dihuni banyak burung camar dan berbagai burung pemakan ikan lainnya. Israel adalah tempat dimana berbagai burung yang melakukan migrasi tahunan dari negara lain berkumpul pada musim tertentu di danau-danaunya. Mungkin saja pada saat Yesus masih di dunia, burung-burung itu sudah bersaing dengan para nelayan dalam hal menangkap ikan, seperti apa yang terjadi sekarang.

Ketika itu Yesus sedang berjalan menyusur danau itu, dan Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus kemudian mengajak mereka berdua untuk mengikut Dia dan meninggalkan pekerjaan mereka, untuk menjadi penjala manusia. Dan keduanya, tanpa membantah, menuruti ajakan Yesus!

Seperti apa yang dikatakan Yesus kepada Simon dan Andreas pada waktu itu, ajakan untuk menjadi penjala manusia masih tetap dikumandangkanNya kepada setiap orang percaya. Yesus sebelum meninggalkan dunia ini berkata:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Menjadi penjala orang, menarik manusia kepada Kristus adalah tugas yang sangat penting, yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku pengikutNya. Di dunia ini masih banyak orang yang perlu diperkenalkan kepada Injil keselamatan, agar mereka mau menerima Yesus sebagai Juruselamat. Yesus adalah satu-satunya jalan, dan itu harus diberitakan agar bukan diri kita saja yang memperoleh keselamatan.

Memberitakan Injil bukan hanya berarti menjadi penginjil dan pendeta, tetapi juga bisa berarti menjadi orang-orang yang mau mengamalkan firman Tuhan dalam hidup mereka, sehingga orang lain bisa mengenal Tuhan yang hidup dalam hati mereka. Memberitakan firman tidak hanya melalui mimbar, tetapi di zaman ini bisa melalui berbagai media, pendekatan dan cara.

Sewaktu Simon dan Andreas masih menjala ikan, burung-burung liar bersaing dengan mereka. Sebagai penjala manusia, mereka kemudian mendapat saingan dan bahkan musuh berbahaya yang berusaha mencuri kabar keselamatan yang mereka sampaikan, bagaikan burung-burung liar yang mencuri benih yang ditaburkan (Matius 13: 3 – 4).

“Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.” Matius 13: 19

Pagi ini kita diingatkan untuk bisa menjadi penjala manusia dimanapun kita berada. Kita juga diingatkan bahwa kita akan bersaing dengan iblis yang berusaha untuk mencuri perhatian manusia dan membuat mereka melupakan firman Tuhan yang sudah ditaburkan.

Adakah perasaan belas kasihan dalam hati kita, ketika melihat begitu banyak orang disekitar kita, dan bahkan sanak keluarga, yang belum benar-benar menerima hidup baru didalam Kristus? Bahwa mereka akan akhirnya menemui kebinasaan? Yesus sudah memanggil kita: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Maukah kita menjawab dengan “ya”?

Apa rencanamu?

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14

Hari kemarin adalah hari berkabung. Seorang teman sejawat yang kantornya bersebelahan dengan kantor saya meninggal dunia. Sedih memang, karena kejadian itu tidak disangka. Minggu lalu beliau masih bekerja seperti biasa, hari Senin di awal minggu ini masuk ke rumah sakit untuk dioperasi; tetapi belum itu sempat dilakukan, beliau meninggal sewaktu tidur.

Buat banyak orang, meninggalnya seorang teman atau sanak adalah hal yang membawa kesedihan. Tetapi, untuk orang Kristen hal yang benar-benar menyedihkan adalah jika orang yang dikenalnya meninggalkan dunia ini tanpa mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mengapa begitu? Karena mereka tidak mungkin berjumpa lagi untuk selamanya. Perpisahan itu adalah perpisahan yang abadi.

Walaupun hal meninggalkan dunia ini adalah bagian dari kenyataan hidup, sebagian besar manusia tidak mau memikirkannya. Mungkin karena kematian adalah hal yang menakutkan, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah itu.

Sebaliknya, bagi umat Kristen kematian seharusnya disambut dengan sukacita; karena dengan itu, kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan akan menjadi kenyataan. Tetapi, tidak semua orang Kristen bisa berpikir seperti Paulus yang menerima hidup sebagai pengabdian untuk Kristus dan kematian sebagai keuntungan.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Bagi kebanyakan orang, termasuk orang Kristen, hidup justru kesempatan untuk mencari untung. Untuk memperoleh kesuksesan, kekayaan, kepandaian, kenikmatan dan berbagai kenyamanan pribadi. Mumpung bisa, selagi masih hidup. Mereka lebih suka memikirkan hal-hal duniawi daripada memikirkan hal-hal surgawi. Padahal Yesus pernah berkata bahwa adalah lebih baik jika kita mengumpulkan harta di surga.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19 – 20

Memang sepandai-pandainya manusia, ia tidak berarti di hadapan Tuhan. Mereka yang merasa bijak dengan menggunakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mencari keuntungan duniawi, adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti bahwa Tuhanlah yang akhirnya menentukan apa yang akan terjadi pada hidup mereka. Ayat pembukaan diatas menggambarkan hidup manusia yang seperti uap, tiba-tiba bisa lenyap.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk jangan terlena dalam hidup ini. Jangan sampai pandangan hidup kita dipusatkan pada hal mencari keberhasilan di dunia, seperti yang diajarkan oleh banyak motivator dan ditunjukkan oleh beberapa pemuka agama kaliber dunia. Sungguh menyedihkan kalau itu terjadi dalam hidup orang Kristen.

Apa yang seharusnya kita lakukan? Bukankah sebagai orang beriman kita harus memberi teladan kepada masyarakat di sekeliling kita dengan hidup kita? Benar! Memang setiap orang Kristen harus mempunyai rencana yang baik dan bekerja keras dalam hidupnya, tetapi itu haruslah disesuaikan dengan kehendak Tuhan dan dipakai untuk kemuliaanNya.

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Manusia berusaha, Tuhan menentukan

“Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” Efesus 1: 11

God is in control. Ungkapan ini sering kita dengar, tetapi tidak dapat diterjemahkan secara tepat dan singkat kedalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang mengartikan “Tuhan yang menentukan” , “Tuhan yang berkuasa” atau “Kehendak Tuhan jadilah” ; tetapi semua itu tidak sama dengan “Tuhan yang memegang kemudi”.

Dalam kehidupan, manusia berusaha; tetapi Tuhan yang mempunyai rencana, akan mewujudkan rencana itu. Kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya terjadi, sekalipun manusia melakukan apa saja yang diingininya. Manusia dengan akal budinya bekerja dan menempuh perjalanan hidup yang berliku-liku, tetapi Tuhan bisa mengakomodasi semua apa yang terjadi untuk mewujudkan semua kehendakNya.

Banyak orang yang dengan mudah berkata bahwa apapun yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Tuhan. Tetapi, sekalipun maksudnya baik, ucapan itu tidak selalu tepat. Manusia sebagai ciptaan Tuhan bisa berbuat apa saja, tetapi belum tentu apa yang diperbuat mereka sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena itu adalah dosa, jika manusia berjalan menurut jalannya sendiri. Tetapi, ayat diatas menunjukkan bahwa Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang memungkinkan orang yang percaya kepadaNya untuk bisa pada akhirnya menerima keselamatan melalui darah Yesus, sesuai dengan kehendakNya dari semula.

Seperti apa yang terjadi dalam hidup rohani kita, apa yang terjadi dalam hidup jasmani kita dan juga apa yang terjadi di dunia, belum tentu indah. Manusia bisa jatuh sakit, entah itu karena pembawaan atau kelalaian, tetapi kehendak Tuhan yang mahakuasa pasti terjadi pada akhirnya. Malapetaka bisa terjadi di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, baik karena kebodohan manusia maupun hukum alam, tetapi Ia jugalah yang memegang kemudi, dan pada akhirnya mencapai apa yang direncanakanNya.

Apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari seringkali membuat kita merenung. Apakah hal ini dan hal itu adalah kehendak Tuhan? Sebagai manusia kita mungkin tidak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Apa yang dipikirkan manusia tidaklah sama dengan apa yang dipikirkan Tuhan. Kehendak Tuhan seringkali tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Walaupun demikian, setiap orang beriman harus tetap setia untuk berkomunikasi dengan Tuhan untuk mencari kehendakNya. Hidup kita akan berjalan lebih lancar jika kita mengerti dan menuruti apa yang dikehendaki Tuhan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa hidup di dunia ini adalah seperti perjalanan sebuah perahu. Kita mungkin ingin mengemudikan perahu itu karena merasa paham dan sanggup. Kita mungkin ingin mengabaikan rambu-rambu Tuhan dalam perjalanan, karena itu seolah cara yang cepat dan tepat untuk mencapai tujuan. Tetapi apa yang kita lakukan selalu membawa akibat dan resiko yang harus kita tanggung sendiri. Karena itu, adalah bijaksana jika kita selalu menuruti apa yang dikehendaki Tuhan dan membiarkan Dia memegang kemudi kehidupan kita, sebab kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya terjadi.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 17

Keselamatan kita dijamin Tuhan

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1: 3 – 5

Pernahkah anda mengalami kesulitan besar dalam hidup anda, sedemikian rupa sehingga anda merasa bahwa hidup ini terlalu sulit untuk ditempuh dan barangkali lebih enak kalau anda bisa ke surga sekarang juga? Mungkin anda belum pernah mengalami perasaan semacam ini. Walaupun demikian, setiap hari di dunia ini ada banyak orang Kristen yang membandingkan pilihan untuk terus hidup dalam perjuaangan dan penderitaan di dunia, dengan kesempatan untuk ke surga. Rasul Paulus pun pernah membandingkan hal hidup dan mati baginya.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Filipi 1: 21 – 22

Sudah tentu Paulus tidak bisa menentukan kapan ia akan dipanggil ke surga; karena itu, ia memutuskan bahwa selama masih hidup, ia akan berjuang untuk memuliakan nama Tuhan.

Memang, adalah baik jika kita bisa seperti Paulus, tetap kuat menghadapi hidup di dunia ini. Tetap bisa memakai kesempatan apapun untuk melayani Tuhan dan sesama. Tetapi, ada kalanya hidup ini sangat berat dan kita merasa lelah dan berputus asa.

Mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana dalam perjuangan hidupnya, Paulus bisa tetap bisa tabah dalam iman dan yakin bahwa ia akan bisa menerima keselamatan. Banyak umat Kristen yang menjadi ragu untuk keselamatan yang dijanjikan Tuhan, bukan karena kuatir bahwa Tuhan akan melupakan janjiNya, tetapi karena keraguan apakah mereka tetap bisa hidup bertahan menghadapi segala persoalan. Hidup memang bisa menjadi sangat berat, dan jika Tuhan tidak menolong mereka, bagaimana mereka bisa bertahan dalam iman dan tetap diselamatkan?

Ayat-ayat pembukaan diatas adalah tulisan rasul Petrus yang ditujukan kepada jemaat Kristen di beberapa tempat yang mengalami berbagai pencobaan. Petrus menulis bahwa Yesus Kristus dengan kasihNya yang besar, melalui kematian dan kebangkitanNya, akan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima hidup yang kekal. Petrus lebih lanjut menulis bahwa kita akan dipelihara Allah karena iman kita sementara kita menantikan keselamatan yang telah tersedia.

Pagi ini, jika kita meragukan apakah keselamatan itu akan tetap tersedia untuk kita karena hidup kita saat ini bagaikan perahu yang diombang-ambingkan ombak, firmanNya berkata bahwa Tuhanlah yang akan memelihara kita. Iman bukanlah hasil jerih payah kita; iman berasal dari Tuhan yang sudah diberikan kepada kita, besar ataupun kecil, menurut ukuran yang sesuai dengan kehendakNya (Roma 12: 3). Selama kita tetap berpegang pada iman itu, Tuhan akan memelihara dan melindungi kita sehingga keselamatan itu tidak bisa lenyap. Tuhan tidak berjanji untuk menghilangkan ombak kehidupan kita, tetapi Ia berjanji untuk memelihara kita sampai akhir zaman!

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6