Bertumbuh dalam Kristus

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15: 5

Sebagai negara penghasil minuman anggur yang termasuk dalam 10 besar di dunia, Australia mempunyai banyak perkebunan anggur, terutama di negara bagian South Australia. Di lembah Barossa, banyak kebun anggur dan pabrik minuman anggur ternama dikunjungi para turis lokal dan luar negeri yang ingin melihat bagaimana anggur ditanam dan diproses untuk dijadikan berbagai jenis minuman anggur.

Suatu hal yang menarik tentang tanaman anggur ialah sukarnya untuk memperoleh buah anggur yang cocok untuk dibuat minuman. Hanya daerah tertentu di Australia yang bisa menghasilkan buah anggur sedemikian. Perkebunan anggur juga membutuhkan pemeliharaan yang baik; misalnya, para petani harus rajin memotong ranting-ranting yang layu atau tidak sehat agar pohon anggur bisa subur dan berbuah banyak.

Tuhan Yesus dalam ayat diatas menggambarkan orang Kristen sebagai ranting-ranting pohon anggur yang bergantung pada pokok anggur untuk bisa hidup. Tetapi tidak semua orang Kristen yang menyadari ketergantungan mereka kepada Yesus. Dalam kenyataannya, lebih banyak orang yang mengaku Kristen tetapi bergantung kepada diri sendiri atau hal-hal tertentu dalam hidup mereka. Mereka adalah orang yang berpredikat Kristen tetapi tidak menunjukkan sifat dan sikap hidup yang seharusnya ada pada pengikut Yesus. Buah-buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5: 22-23), yang seharusnya bisa terlihat pada orang-orang itu, seringkali tidak dijumpai.

Dengan adanya ranting pohon anggur yang tidak berbuah, pohon anggur akan terhalang untuk bisa menghasilkan buah yang lebih banyak. Pada hakikatnya, ranting yang tidak berbuah adalah seperti benalu yang hanya menyerap sari makanan dari pokok anggur, dan membuat seluruh pohon dan ranting-ranting yang lain menjadi kurang sehat. Seperti itulah, orang-orang Kristen yang hanya mau menerima berkat Tuhan tetapi tidak mau mengubah hidupnya untuk bisa memuliakan Tuhan dan menolong sesama. Mereka adalah ranting-ranting yang akan dipotong dari pokok anggur karena tidak berguna untuk kerajaan Tuhan.

“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Yohanes 15: 2

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan kedudukan kita sebagai ranting-ranting pohon anggur, sebagai bagian dari gereja Tuhan. Sebagai orang Kristen tidak saja kita harus berbuah dalam hal-hal yang baik, tetapi juga harus makin bisa memuliakan Tuhan dan makin bisa melayani sesama. Hari lepas hari, sebagai ranting yang baik, haruslah kita makin banyak berbuah dan tidak hanya mengharapkan berkat dari Tuhan untuk hidup kita sendiri.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15: 6

Hal minta berkat

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Pagi ini setelah bangun saya mendengarkan radio ABC yang kebetulan mendiskusikan keadaan ekonomi Australia. Dalam siaran itu, diungkapkan bahwa keadaan ekonomi Australia saat ini tidaklah sebaik yang dibayangkan karena ada banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, yang membutuhkan bantuan dari badan-badan sosial. Sekalipun ada beberapa badan sosial, jumlah dan kemampuan mereka adalah terbatas dan karena itu masih banyak orang yang hidup dalam kekurangan.

Tantangan hidup memang seringkali berat bagi banyak orang. Semakin banyak penduduk dunia, semakin banyak juga orang yang dalam kesusahan. Walaupun ada kemajuan teknologi dan ekonomi di banyak negara, dalam kenyataannya banyak orang di negara manapun yang harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang dalam posisi lemah: yang masih dibawah umur dan yang sudah berusia senja. Mereka yang belum bisa mendapat pekerjaan dan mereka yang kehilangan sumber penghasilan.

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin sudah dapat diartikan “sangat berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya yang hidup berkekurangan mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Perbedaaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaanNya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena makanan sudah tentu tidak akan jatuh dari surga. Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapapun juga, termasuk Tuhan. Benarkah begitu?

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuranNya. Dengan demikian kitalah yang harus belajar hari demi hari untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dengan apa yang kita terima.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, seringkali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Sebaliknya, mereka yang hidup berkekurangan seringkali hidupnya justru berbahagia karena adanya rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus.

Pagi ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita. Bagi banyak orang yang sudah dikaruniai Tuhan dengan rasa cukup, mereka bisa merasakan bahwa apa yang mereka terima sudah lebih dari cukup, dan karena itu mereka dengan senang hati membaginya dengan orang lain demi kemuliaan Tuhan.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Matius 5: 7

Dari beritanya terlihat orangnya

“Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian ke mari sebagai pemfitnah.” Yeremia 9: 4

Di zaman ini soal menipu dan ditipu orang adalah soal biasa. Tiap hari di media ada berita penipuan ini dan itu, yang pada umumnya menunjukkan bahwa sekalipun masyarakat sudah maju dalam banyak hal dan bisa berkomunikasi lewat berbagai cara, seringkali orang tidak sadar akan adanya trik-trik baru yang bisa menyebabkan kerugian baik materi, perasaan maupun nama baik. Malahan, dalam berbagai media kita bisa menjumpai berbagai berita yang tidak jelas asal-usulnya atau kebenarannya, namun masyarakat menerima itu sebagai sesuatu yang menarik dan bisa dinikmati, setidaknya sebagai lelucon.

Pepatah berbahasa Inggris mengatakan “honesty is the best policy“, yang berarti “kejujuran adalah sikap yang terbaik”. Memang hal yang tidak jujur atau tidak benar, yang diperbuat, dikatakan atau ditampilkan seseorang bisa menimbulkan kesulitan untuk diri orang itu. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa mereka boleh saja tidak jujur atau mengabaikan kebenaran, selama tidak merugikan orang lain. Ada juga yang merasa bahwa mereka bebas untuk menyampaikan berita apa saja yang dianggap menarik, dan tidak bertanggung jawab atas reaksi orang lain atas apa yang mereka sampaikan. Sikap ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita. Dengan demikian, selalu jujur dan waspada atas berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya dan berita-berita yang dapat menyebabkan kegundahan, kekacauan dan penderitaan orang lain. Sebagai orang Kristen kita harus waspada akan adanya kemungkinan bahwa apa yang kita sampaikan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya.

“Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Markus 10: 19

Berita yang tidak benar bukan saja muncul diantara masyarakat umum, tetapi juga sering muncul di kalangan orang Kristen. Malahan, banyak renungan yang dibumbui cerita-cerita yang tidak jelas asal-usul atau kebenarannya. Dalam hal ini, sekalipun maksudnya baik, kekeliruan ini tidak dapat dibenarkan. The end does not justify the means.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16-19

Pagi ini, kita membaca dari ayat pembukaan Yeremia 9. 4 bahwa  kita harus berhati-hati atas apa yang kita dengar dan terima dari orang di sekeliling kita, sebab ada banyak orang yang mempunyai maksud yang kurang baik. Banyak orang yang hanya mencari perhatian orang lain, mencari nama dalam menyebarkan berita-berita yang tidak benar.  Memang kita tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat, tetapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dalam menghadapi hal-hal itu.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Tuhan tidak menjanjikan hidup mulus tanpa derita

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremiah 29: 11

Hari depan yang penuh harapan, semua orang, tua dan muda menginginkannya. Bagi yang muda tentunya keberhasilan dalam mencapai cita-cita, karir dan rumah tangga adalah sesuatu yang didambakan. Bagi yang sudah berumur, mungkin hari-hari yang bisa dinikmati bersama anak-cucu dan bebas dari sakit adalah sesuatu yang diingini. Ayat diatas nampaknya menjanjikan bahwa harapan semua orang percaya untuk memperoleh hari depan yang damai sejahtera akan dipenuhi Tuhan. Tetapi ayat ini adalah ayat yang sering disalah-tafsirkan banyak orang.

Sebuah lagu himne yang terkenal “Nyamanlah Jiwaku” yang diterjemahkan dari “It is well with my soul” mungkin bisa membuat kita mengerti apa arti ayat diatas yang sebenarnya. Syair lagu itu adalah karangan Horatio Gates Spafford. Horatio lahir di North Troy, New York pada tanggal 20 Oktober 1828. Pada masa mudanya, Spafford adalah seorang pengacara yang sukses di Chicago. Pada tahun 1870 iman mereka diuji oleh tragedi. Anak laki-laki mereka, yang berumur empat tahun, Horatio Junior, meninggal dunia karena demam berdarah. Tidak hanya sampai di situ saja tragedi yang dialami.  Beberapa bulan sebelum kebakaran besar di Chicago tahun 1871, Horatio menginvestasikan modal yang cukup besar untuk usaha real estate di pinggiran danau Michigan, tapi semua investasinya tersapu habis oleh bencana tersebut.

Pada tanggal 22 November 1873 pukul 2 dini hari, kapal pesiar yang ditumpangi istri Horatio dan 4 orang anaknya ditabrak di atas laut yang tenang oleh sebuah kapal lain. Dalam waktu dua jam Ville du Havre, salah satu kapal terbesar yang pernah ada pada waktu itu, tenggelam ke dasar samudera Atlantik beserta 226 penumpangnya termasuk keluarga Spafford. Sembilan hari kemudian korban yang selamat dari kapal itu tiba di pulau Cardiff, Wales, Inggris dan di antara mereka terdapat Nyonya Spafford. Dia mengabarkan melalui telegram kepada suaminya dengan dua kata, ‘saved alone’ (hanya aku yang selamat). Horatio tentunya merasa terpukul atas tragedi-tragedi yang secara beruntun menimpanya. Baginya tentu sulit untuk membayangkan bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuknya; untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan dan bukannya hidup yang penuh tragedi. Tetapi Tuhan memberi Horatio kekuatan untuk bertahan dalam iman dan kemampuan untuk menulis syair himne yang sangat terkenal itu.

Bila damai mengiring jalan hidupku

Rasa aman di hatiku

Dan kesusahan menimpaku

Tlah Kau ajarku mengingat firmanMu

Nyamanlah jiwaku

Nyamanlah, nyamanlah jiwaku

Ayat diatas sebenarnya berkenaan dengan janji Tuhan untuk memelihara bani Israel setelah mereka mengakhiri masa 70 tahun pengasingan di Babel. Tuhan mempunyai  rancangan-rancangan tertentu untuk bani Israel yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan  hari depan yang penuh harapan kepada seluruh umat pilihan Tuhan. Ayat itu tidak menjanjikan bahwa kita secara perseorangan akan selalu dapat memperoleh hidup yang nyaman. Rencana Tuhan untuk sebuah bangsa, tidaklah sama dengan rencana Tuhan untuk setiap umatNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan yang mengasihi bani Israel adalah Tuhan yang mengasihi kita pada saat ini. Tuhan mempunyai rencana baik untuk semua umatnya, dan sekalipun kita berada dalam keadaan susah atau dalam penderitaan apapun, kita akan mendapat penghiburan didalam persekutuan dengan Dia. Tuhanlah yang memberi kita kekuatan dan ketabahan dalam segala keadaan, hingga saat dimana kita bisa bersatu dengan Dia di surga.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Kalau mata jadi gelap

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Matius 6: 22-23

Istilah mata gelap atau gelap mata sering dipakai dalam percakapan sehari-hari untuk menunjukkan keadaan dimana seseorang tidak dapat berpikir terang; atau keadaan dimana seseorang mengamuk karena marah sekali. Jika hal ini terjadi, seringkali hal yang menyedihkan akan terjadi sebagai akibatnya, entah kepada dirinya sendiri atau orang lain; sebab jika pikiran sudah tidak dapat bekerja dengan baik, keputusan yang diambil seringkali keliru. Apalagi orang yang mudah menjadi mata gelap seringkali mempunyai pribadi yang kurang stabil. Memang hal ini bisa disebabkan oleh faktor eksternal yang memicu orang untuk menjadi mata gelap, tetapi pada umumnya ada faktor internal dalam hidup orang itu sehingga ini mudah terjadi. Dalam keadaan mata gelap, seseorang tidak bisa melihat keadaan disekitarnya dengan obyektif dan bahkan tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

Dalam ayat diatas, Yesus mengatakan bahwa mata rohani kita membimbing tubuh kehidupan kita. Jika mata kita baik, teranglah seluruh kehidupan kita; tetapi, jika mata rohani dan pikiran kita keliru, gelaplah kehidupan kita. Dan kalau kehidupan kita juga gelap, seluruh yang ada menjadi gelap sepenuhnya. Mengapa mata rohani kita bisa menjadi rusak dan kita menjadi “mata gelap”? Yesus membicarakan masalah ini sebenarnya dalam konteks “mata duitan”; orang yang hidup hanya untuk mengejar harta duniawi. Mereka yang hanya hidup untuk mengejar kemakmuran dan kesuksesan mudah dikuasai oleh keinginan untuk hal-hal itu saja, sehingga dalam hidup di dunia ini mata rohani mereka (hati dan pikiran) hanya terisi oleh keinginan materi. Inilah yang membuat perspektif hidup mereka menjadi seperti kegelapan total, mereka tidak bisa melihat jalan yang benar, yang menuju kepada pengenalan akan Tuhan.

Manusia memang membutuhkan materi untuk hidup di dunia, tetapi jika fokus mata kita hanya tertuju kearah materi, mata kita tidak bisa melihat hal-hal yang baik, yang berada diluar materi. Bukan saja orang yang belum Kristen yang bisa terjebak kedalam situasi ini, orang Kristen pun banyak yang mempunyai falsafah hidup yang berpusat kepada kenikmatan materi. Bukan hanya orang yang kaya saja yang terpikat oleh materialisme, orang yang kekurangan pun bisa terjebak kedalam keinginan untuk mengumpulkan materi sebanyak mungkin dalam hidup mereka. Tentu kita ingat bahwa ada saat tertentu di tahun ini, dimana orang saling mengucapkan “semoga banyak untung” atau “semoga banyak rezeki”. Walaupun tidak ada salahnya untuk mendapatkan banyak untung atau rezeki, ayat Matius 6: 21 mengatakan adanya bahaya karena dimana harta kita berada, disitu juga hati kita berada. Adanya kemungkinan bahwa mata rohani kita dibutakan oleh keinginan materi.

Mereka yang sudah buta mata rohaninya bukan saja tidak dapat  melihat apa yang baik, tetapi mereka juga tidak dapat melihat diri sendiri yang berada didalam kegelapan. Akibatnya, tambah lama mereka akan makin tersesat sehingga mereka jatuh ke dalam berbagai pencobaan.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Pagi ini kita diperingatkan akan bahaya kebutaan rohani dan hati. Mungkin pada saat ini kita belum pernah menjadi “mata gelap” karena faktor materi. Tetapi, iblis adalah oknum yang cerdik dan jahat, yang berusaha membutakan kita dari firman Tuhan. Mungkin saja kita sudah tidak dapat lagi menyadari apa yang keliru dalam hidup kita karena kita tidak pernah atau jarang untuk mengarahkan mata kita kepada Yesus Kristus. Terlalu sibuk dengan segala kegiatan, pekerjaan, bisnis, harta dan usaha mencari kesuksesan membuat kita buta akan cara hidup yang dikehendaki Tuhan. Marilah kita memohon agar Tuhan mau mencelikkan mata rohani kita!

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Bagaimana cara kita bersyukur?

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 27

Semenjak kecil seorang anak biasanya dibiasakan untuk bersopan-santun, terutama jika berhadapan dengan orang dewasa. Dalam bahasa Inggris, sedikitnya mereka diajarkan untuk berkata “please” untuk meminta, dan “thank you” sesudah menerima sesuatu. Dalam bahasa Indonesia tidak ada kata yang sama dengan kata “please”, tetapi biasanya nada permintaan bisa dibuat sedemikian rupa untuk memberi kesan sopan. Ucapan terima kasih sebaliknya harus diucapkan setiap kali seseorang menerima kebaikan orang lain.

Bagi orang Kristen, soal memohon kepada Tuhan adalah soal biasa. Tetapi ada berbagai sikap dan bahasa yang dipakai manusia dalam meminta sesuatu kepada Yang Maha Kuasa. Ada yang sujud dalam kerendahan hati, ada yang acuh tak acuh, tapi ada pula yang berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan apapun yang diminta. Dalam hal berterima kasih, ada yang bersyukur dengan rendah hati sekalipun tidak memperoleh apa yang diminta, ada yang hanya asal-asalan bersyukur, tetapi ada juga yang bersyukur sambil berbangga karena merasa bahwa Tuhan sudah menuruti kemauan mereka.

Dalam bersyukur, apa yang sebenarnya harus kita lakukan? Mengucapkan terima kasih dalam doa yang indah? Mempersembahkan puji-pujian? Memberi persembahan? Ataukah ada jalan lain? Hal ini kelihatannya kurang mendapat perhatian yang khusus di kalangan sebagian orang Kristen.

Jika mengucap syukur hanya melalui doa, sekalipun baik, itu hanya beberapa menit saja dalam sehari. Kalau ke gereja dan menyanyikan pujian, itu pun hanya sejam atau dua jam dalam seminggu. Padahal kasih Tuhan kepada kita ada di setiap saat dalam kehidupan kita. Secara jasmani, manusia bisa hidup dan melakukan segala sesuatu hanya karena berbagai karunia Tuhan. Lebih-lebih lagi, umat Kristen sudah menerima anugerah terbesar, yaitu keselamatan melalui pengurbanan Anak Allah, Yesus Kristus.

Mungkin ada yang merasa bahwa mengucapkan syukur harus melalui persembahan. Memang ada orang yang mampu memberikan persembahan, baik uang atau waktu dan tenaga, yang berjumlah besar untuk gereja dan masyarakat. Tetapi, sebenarnya semua itu adalah pemberian Tuhan semata. Persembahan apapun hanyalah usaha mengembalikan sebagian kecil dari apa yang kita terima dari Dia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa mengucap syukur bukanlah gampang melakukannya. Karena Tuhan itu maha kasih, sudah seharusnya kita mengasihi Dia dan berterima kasih kepadaNya segenap hati dan dengan segenap jiwa, serta dengan segenap akal budi kita. Karena itu, dalam hidup kita, segala sesuatu yang kita lakukan setiap saat haruslah sesuai dengan firman Tuhan dan merupakan pernyataan syukur kepadaNya. Lebih dari itu, seluruh hidup kita haruslah dipersembahkan dengan rendah hati sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan yang maha kasih.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Siapa idola anda?

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Ibrani 13: 7

Sekarang ini, orang di seluruh dunia suka menonton acara TV seri “Idol” yang merupakan seri perlombaan menyanyi. Begitu juga di Indonesia, “Indonesian Idol” sudah ada sejak tahun 2004. Sesuai dengan judulnya, penyanyi yang memenangkan perlombaan ini seringkali menjadi penyanyi tenar idola publik, sekalipun dulunya tidak dikenal.

Judul acara yang memakai kata “idol” atau “idola” memang menarik. Apa artinya menurut kamus?

ido·la n, orang, gambar, patung, dsb yg menjadi pujaan: ia senang sekali krn penyanyi — nya tampil dl pertunjukan itu;

Idol atau idola adalah orang yang menjadi pujaan orang lain.

Dalam kenyataannya, banyak orang yang menjadi idola orang lain. Biasanya, seorang idola adalah orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam bidang tertentu, sehingga ada orang lain yang ingin seperti dia, atau setidaknya mengagumi kesuksesannya.

Idola tidak hanya untuk pribadi-pribadi saja, masyarakat pun sering mempunyai idola, dan ini biasanya tokoh-tokoh negara. Ditengah mereka yang merindukan adanya seseorang yang bisa dikagumi, adanya seseorang yang terlihat tegas, cerdas dan jujur bisa membuat banyak orang yang mengidolakannya.

Alkitab secara jelas menolak konsep idol atau idola karena dalam sepuluh hukum Tuhan ada tertulis bahwa Allah melarang adanya ilah-ilah lain (Keluaran 20: 3). Idola-idola manusia modern memang bisa menjadi seperti ilah-ilah zaman dulu. Tetapi, seperti ilah-ilah zaman dulu yang datang dan pergi, idola-idola kita bisa muncul tiba-tiba dan menghilang dalam kabut kesuraman. Dengan lewatnya waktu, orang yang kita idolakan seringkali tidaklah sebaik yang kita harapkan.

Walaupun demikian, sebagai orang Kristen kita boleh dan seharusnya mengingat dan menghormati para pemimpin kita. Ayat Ibrani 13:7 diatas menyuruh kita untuk mengingat orang yang baik, yaitu mereka yang sudah memimpin kita dalam berjalan dalam kebenaran menurut firman Tuhan, dan karena itu kita harus memperhatikan akhir hidup mereka dan mencontoh iman mereka.

Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita saat ini. Adakah idol atau idola dalam hidup kita yang mengisi hidup kita lebih dari Tuhan? Mungkinkah itu pekerjaan, keluarga, harta dan penampilan kita? Ataukah itu orang lain atau benda-benda yang kita hormati dan cintai lebih dari Yesus? Mungkinkah ada orang yang kita kagumi karena kepandaian, kesuksesan dan penampilannya? Ataukah ada yang sudah sering dikecewakan oleh idola-idola mereka sehingga sekarang tidak mau mengikuti bimbingan siapapun? Marilah kita kembali mengenal Pemimpin kita , Yesus Kristus, yang selalu hidup dalam kebenaran!

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Apa yang bisa kita sombongkan?

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Rendah hati adalah salah satu sifat yang diminta Tuhan dari setiap orang Kristen, tetapi adalah satu hal yang tidak terlalu sering dibahas di gereja. Sikap rendah hati ataupun sebaliknya, umumnya adalah sesuatu yang bisa dilihat oleh orang lain tetapi agak sensitif untuk dibicarakan karena adanya orang-orang yang bisa tersinggung. Sebenarnya memang sejak Adam dan Hawa manusia cenderung sombong. Semua orang selalu mempunyai kesombongan dalam hal tertentu; dan diantara hamba-hamba Tuhan pun ada yang terlihat sombong dalam berkhotbah dan gaya hidup mereka.

Untuk menghindari kesombongan, umat Kristen selalu diingatkan bahwa segala sesuatu yang baik, yang mereka punyai, datang dari Tuhan. Selain itu, setiap orang harus mengerti bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta dan manusia diciptakanNya dari debu. Manusia adalah mahluk yang kecil dan tidak berarti jika dibandingkan Tuhan.

Kita mungkin berdalih bahwa karena kita bukan robot Tuhan, kita tentu saja bisa berbuat baik, menciptakan sesuatu yang berguna, mencapai prestasi tinggi dan sebagainya. Tidak bolehkah kita merasa bangga atas prestasi dan hasil jerih payah kita? Salahkah jika kita membanggakan apa yang kita punyai, termasuk keluarga yang kita bina dan anak-anak yang kita besarkan?

Sebagai orang Kristen kita menyadari bahwa kita harus melakukan segala sesuatu yang baik. Melayani sesama, aktif di gereja, memelihara keluarga dan anak, dan menolong orang lain adalah sebagian tugas kita. Walaupun demikian, perbuatan baik sebenarnya bukanlah sesuatu yang bisa kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18-19

Jika manusia pada dasarnya tidak mampu berbuat baik, bagaimana pula Tuhan menyuruh umatNya untuk selalu berbuat baik? Bukankah ini aneh? Bagaimana kita bisa melaksanakan perintahNya?

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Ibrani 10: 24

Jelas bahwa untuk bisa berbuat baik dan menghasilkan apa yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan, kita membutuhkan karunia Tuhan. Tuhanlah yang memberikan kebijaksanaan, kemampuan, kekuatan dan kesabaran untuk bisa melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa apapun yang baik yang sudah kita lakukan adalah suatu tugas yang harus kita lakukan sebagai umat Kristen. Sebagai orang percaya, kita harus mau mengakui bahwa kita adalah hamba-hamba Tuhan yang harus memberikan segala rasa syukur dan hormat kepada Dia yang memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk berbuat baik. Soli Deo Gloria, segala puji hanya untuk Tuhan!

Hidup sesuai dengan panggilan

“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Efesus 4: 1

Hari ini saya sempat mengunjungi Port Arthur, yaitu sebuah desa kecil berpenduduk sekitar 250 orang yang terkenal karena adanya penjara dari tahun 1830 yang pernah dipakai untuk menyekap orang-orang yang sudah diberi hukuman penjara di Inggris. Karena mereka tidak bisa ditempatkan di penjara yang ada di Inggris, para narapidana itu di “ekspor” ke benua Australia dan ditempatkan di Port Arthur. Sekarang penjara ini tinggal reruntuhan saja dan menjadi obyek turisme terkenal di Tasmania.

Menyusuri jalan setapak di Port Arthur dan melihat bekas ruang penjara yang ada, mau tidak mau saya merasa ngeri membayangkan bagaimana narapidana diperlakukan didalam penjara pada saat itu.

Jika narapidana Port Arthur adalah penjahat yang terjerat hukum, Paulus pernah dipenjara karena ia terjerat kasih Kristus. Ia diperlakukan seperti seorang penjahat walaupun ia tidak melakukan kejahatan. Tetapi apa yang dialaminya diterimanya dengan kerelaan sebab Yesus sudah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari itu karena dosa manusia. Paulus sadar bahwa Yesus, Anak Allah, sudah mati untuk ganti dosa yang diperbuatnya.

Pengalaman Paulus yang secara pribadi menemui Yesus dalam perjalanan ke Damaskus tentu tidak bisa dilupakannya (Kisah Para Rasul 9: 1-20). Pada waktu itu Yesus mengingatkan Paulus bahwa ia sudah menganiaya Yesus melalui kejahatan yang diperbuatnya kepada pengikut Yesus. Paulus menjadi buta selama tiga hari, dan hanya menjadi celik ketika Ananias mendapat perintah Tuhan untuk menumpangkan tangan atas Paulus.

Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Kisah Para Rasul 9: 15-16

Seperti Paulus, setiap orang percaya dulunya adalah orang yang sudah sesat dan selalu membuat Yesus sedih karena kehidupan dalam dosa. Sebelum kita berjumpa dengan Yesus dan bertobat, kita tidak mengenalNya dan hanya hidup menurut apa yang kita sukai saja. Tetapi, seperti Paulus, kita dipanggil untuk meninggalkan hidup lama kita dan ikut memberitakan kabar keselamatan. Bahkan, setiap orang percaya harus siap dan mau berkurban dan menderita untuk Yesus. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, karena selain harus berjalan dalam terang, kita juga harus menjadi terang dunia.

Pagi ini kita diingatkan Tuhan melalui pengalaman Paulus bahwa hidup kita setelah menerima Yesus tidak mungkin untuk tidak berubah, karena tiap orang secara pribadi sudah dipanggil Tuhan untuk hidup guna kemuliaan namaNya. Kita tidak bisa hanya hidup untuk diri kita sendiri. Marilah kita mau belajar dari contoh perjuangan Paulus untuk mau bekerja dan membaktikan diri untuk Tuhan!