Bukan hanya bermanis-manis di bibir

“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Keluaran 20: 7

Di zaman ini, orang agaknya bisa mendengar nama Tuhan disebut-sebut dalam pergaulan sehari-hari dan bahkan juga dalam pidato-pidato para pejabat. Memang dalam kehidupan sehari-hari, nama Tuhan dikaitkan dengan berkat dan kuasaNya. Karena itu, menyebut-nyebut nama Tuhan mungkin bisa membawa kesan baik dalam hubungan antar umat manusia yang mengakui adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Sering kita mendengar orang yang dengan kesungguhan berkata “Tuhan memberkati kamu” atau “semoga Tuhan menyertaimu”. Bisa juga diucapkan “semoga Tuhan membalas kebaikanmu berlipat ganda” atau “puji nama Tuhan”. Dalam sosial media, kita sering pula menjumpai meme yang menyebut-nyebut nama Tuhan, atau pesan-pesan yang diakhiri dengan singkatan “GBU” atau “YLU”. Tetapi selain itu ada orang-orang yang sepertinya “latah”, yang menyatakan rasa terkejut atau heran, dan bahkan memaki, dengan memanggil nama Tuhan. Di negara barat malahan acara komedi dewasa (adult comedy) sering berisi kata-kata kotor dan lelucon yang menyebut-nyebut nama Tuhan.

Ayat diatas adalah bagian yang ketiga dari sepuluh hukum Tuhan yang diterima oleh Musa untuk ditaati bani Israel. Dengan adanya kedua hukum kasih dari Tuhan Yesus (Matius 22: 36 – 40), banyak orang Kristen yang sekarang merasa bahwa sepuluh hukum Taurat itu sudah tidak berlaku, atau tidak penting lagi untuk dibahas. Tetapi itu tidak dapat dibenarkan. Yesus berkata bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5: 17).

Jelas bahwa kita tetap harus berusaha untuk tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan seperti yang ditulis dalam kesepuluh hukum Tuhan yang dinyatakan kepada Musa. Tetapi apa yang dimaksud dengan kata “sembarangan” itu bukanlah sesuatu yang mudah dimengerti, apalagi jika orang mengucapkannya dengan “maksud baik”.

Memang menyebut nama Tuhan secara sia-sia dan tanpa alasan adalah salah. Tetapi ada hal-hal lain yang juga keliru jika kita menyebutkan nama Tuhan:

  • sekedar karena kebiasaan,
  • tanpa adanya kesungguhan,
  • untuk menyenangkan yang mendengar,
  • tanpa mengerti sebab dan akibatnya, dan
  • tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus, tiap kali kita menyebut nama Tuhan itu harus benar-benar dimaksudkan untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Kita menyebut nama Tuhan sebagai wakilNya, dan karena itu harus sadar akan perintah dan kehendakNya. Tidak sepatutnya kita mengeluarkan kata-kata pemanis bibir yang terdengar indah, jika kita tidak benar-benar mengerti apa arti, tujuan dan kebenarannya. Karena itu, setiap kali kita menyebut nama Tuhan, kita harus yakin bahwa Tuhan setuju akan apa yang kita ucapkan. Apa yang kita ucapkan harus selalu berdasarkan firman Tuhan dan bukan berdasarkan kebiasaan saja. Dengan demikian, apa yang kita sampaikan kepada orang lain juga bisa bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3: 16).

Semoga Tuhan membimbing kita dalam melaksanakan perintahNya!

Apakah kita cukup baik untuk Tuhan?

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Apakah anda orang baik? Kalau saja pilihannya hanya dua, orang baik atau orang jahat, di hadapan orang lain mungkin bisa dipastikan bahwa jawaban anda adalah “orang baik”. Memang dalam pengertian umum, orang jahat adalah perampok, pembunuh, koruptor dan sejenisnya. Sudah tentu kita bukanlah seperti mereka yang suka melanggar hukum, the outlaws.

Tetapi, apa beda orang baik dan orang jahat di hadapan Tuhan? Dalam Lukas 18: 11 – 14, dikisahkan adanya dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri tegap dan berdoa mengucap syukur karena ia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah. Sebaliknya, pemungut cukai itu tidak berani menengadah ke langit, tetapi memohon agar Allah mengasihani dia karena dosanya. Yesus yang menyampaikan kisah itu kemudian berkata bahwa orang pemungut cukai itu justru adalah orang yang dibenarkan Allah.

Orang Farisi itu merasa yakin bahwa ia orang baik. Begitu pula banyak orang di zaman ini yang merasa sudah banyak berbuat baik. Tetapi, dihadapan Tuhan semua orang adalah orang yang tidak benar, alias orang jahat.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Mereka yang seperti pemungut cukai itu mengaku sebagai orang-orang yang berdosa, sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang sakit, yang memerlukan tabib untuk memperoleh pengobatan. Mereka akan dibenarkan karena Yesus sudah datang untuk menebus dosa mereka.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Darah Yesus sudah menjamin bahwa dosa yang segelap apapun bisa diampuni. Karena itu, mereka yang mengakui dosa-dosanya dan berpaling kepada Yesus akan diterima Tuhan sebagai anak-anakNya, sekalipun jauh dari sempurna.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Walaupun demikian, ada orang-orang yang sering merasa bahwa hidup mereka belum cukup baik untuk bisa menerima keselamatan dari Tuhan. Apalagi jika pengalaman masa lalu muncul lagi dalam pikiran. Dengan segala penyesalan dan rasa malu, setiap hari mereka merasa tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Hidup mereka terasa sengsara, sebab Tuhan terasa jauh dan tidak peduli. Mereka tidak sadar bahwa di dunia ini tidak ada orang yang cukup baik untuk Tuhan, kecuali jika mereka sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat dan mempersilahkan Roh Kudus untuk tinggal dalam hidup baru mereka, dan memperbaiki hidup mereka hari demi hari.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11

Pagi ini, jika kita masih mempertanyakan apakah Tuhan menuntut kita untuk mencapai tingkat kebaikan tertentu untuk bisa diselamatkan, mungkin kita lupa bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar Tuhan yang mahasuci. Hanya karena darah Kristus, kita orang yang jahat ini bisa diterima sebagai orang yang baik dihadapan Tuhan. Pujilah Tuhan selalu karena kasihNya!

Adakah gairah anda untuk berdoa?

“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” Kisah Para Rasul 12: 5

Sering dikatakan, bahwa bagi setiap orang percaya, berdoa adalah bagian dari kehidupan. Benarkah? Belum tentu! Tidak semua orang yang mengaku Kristen mempunyai kebiasaan berdoa setiap hari. Bahkan, menurut survei di banyak negara, hanya sebagian kecil orang yang mengaku Kristen biasa berdoa secara rutin. Berdoa merupakan komitmen untuk berkomunikasi dengan Tuhan, tetapi hanya sebagian orang Kristen yang sanggup mempunyai komitmen ini. Mengapa begitu?

Ada banyak alasan mengapa orang Kristen tidak atau kurang berdoa. Tetapi dalam hal ini mungkin ada 3 penyebab yang utama. Yang pertama adalah soal waktu. Orang seringkali merasa sibuk dengan berbagai aktivitas, dan berdoa tidak dianggap sepenting yang lain. Yang kedua, banyak orang merasa hidup ini tetap berjalan seperti biasa, dengan atau tanpa berdoa. Yang ketiga adalah adanya dosa-dosa tertentu yang menghalangi orang untuk menjumpai Tuhan dalam doa.

Apapun penyebab orang untuk tidak atau kurang berdoa, satu hal yang pasti ada dalam hidup manusia yang kurang berdoa: hati yang dingin. Mereka yang tidak mementingkan doa, sudah kehilangan kehangatan hubungan dengan Tuhan, rasa butuh dan keinginan (gairah = passion) untuk berdoa sudah hilang. Rasa kasih kepada Tuhan dan sesama sudah berkurang atau hilang karena kebanyakan manusia di dunia ini hidupnya semakin jauh dari Tuhan.

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Sebagai orang Kristen kita seharusnya menyadari bahwa keadaan disekeliling kita saat ini tidaklah bisa membuat hati kita untuk mempunyai gairah yang lebih besar untuk berdoa. Di zaman modern ini, dorongan untuk berbuat sesuatu (action) mungkin justru lebih besar bagi kita, untuk menentukan “nasib” kita sendiri.

Pagi ini kita mempelajari keadaan murid-murid setelah Yesus meninggalkan dunia ini, yang bisa memberi gambaran bagaimana peranan doa dalam hidup mereka. Ayat diatas mencatat bahwa pada waktu Petrus berada dalam tahanan, jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Mereka mempunyai gairah untuk menjumpai Tuhan dan berdoa untuk orang lain.

Apakah hasil ketekunan mereka dalam berdoa? Ayat 6 dan 7 mencatat bahwa pada malam sebelum Herodes menghadapkan Petrus kepada orang banyak untuk diadili, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu kemudian membuat rantai itu gugur dari tangan Petrus. Petrus kemudian bebas dan bisa kembali menjumpai mereka yang berdoa untuknya. Dan tentu saja mereka yang sudah mendoakan Petrus merasakan betapa besar kasih Tuhan kepada mereka.

Mengapa kita harus berdoa dengan tekun? Satu hal yang bisa kita simpulkan dari pengalaman murid-murid Yesus diatas adalah kenyataan bahwa dengan adanya gairah untuk berdoa, kita akan mempunyai semangat yang lebih besar untuk menghadapi tantangan kehidupan. Lebih dari itu, kita bisa menyatakan kasih kita kepada orang lain; sekalipun kita tidak bisa menolong orang lain, kita bisa meminta Tuhan kita untuk menolong mereka sesuai dengan kebijaksanaanNya. Dan dengan doa, kita juga dipersiapkan untuk bisa menerima apapun yang terjadi, karena kita yakin akan kasih Tuhan. Adakah gairah anda pagi ini untuk berdoa?

Berbuat baik untuk orang lain

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Baru-baru ini saya melihat video presentasi seorang motivator yang membahas hal berbuat baik. Presentasi itu tampak cukup menarik dan dibuat secara profesional. Isinya juga cukup bagus untuk didengar, yang antara lain menyebutkan bahwa:

  • Orang tidak selalu menghargai perbuatan baik kita.
  • Orang mungkin saja membalas kebaikan kita dengan kejahatan.
  • Walaupun begitu, perbuatan baik kita akan mendapat balasan dari Tuhan.
  • Karena itu kita harus selalu berbuat baik.

Bagi kebanyakan orang semua nasihat itu kelihatannya baik. Walaupun demikian, bagi umat Kristen, itu belumlah lengkap. Mengapa? Apa yang kurang justru adalah yang paling penting dalam iman Kristen.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 19

Menurut iman Kristen, kita harus berbuat baik bukan karena mengharapkan agar Tuhan membalas perbuatan kita, tetapi karena Tuhan sudah lebih dulu berbuat baik kepada kita, terutama dengan mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita.

Selain itu, seperti apa yang ada dalam ayat pembukaan diatas, kita harus berbuat baik karena itu diperintahkan Tuhan kepada semua umatNya agar orang yang melihat perbuatan kita, akan memuji Dia yang menyuruh kita. Perbuatan baik adalah bagian hidup Kristen yang berfungsi untuk mengabarkan kasih Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Berbuat baik adalah bagian dari tugas mengabarkan injil keselamatan, sebagaimana diperintahkan Yesus kepada semua pengikutNya dalam amanat agungNya (Matius 28: 19 – 20).

Banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa kita yang berbuat baik akan mendapat upah dari Tuhan. Salahkah pengajaran seperti itu? Tentu tidak! Ada ayat-ayat Alkitab yang memang menyatakan hal itu.

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” Matius 10: 42

Memang Tuhan yang mahakasih dan mahaadil, tidak akan melupakan perbuatan baik yang kita lakukan untuk sesama kita. Yesus malahan mengajarkan kita untuk mengasihi semua orang, termasuk orang non-kristen, orang yang menderita, dan orang yang dikucilkan masyarakat. Sekalipun kita mungkin tidak menyukai kelakuan dan cara hidup seseorang, kita tetap harus mengasihinya. Untuk perbuatan baik kita, Tuhan akan memberi upah, kalau tidak di dunia ini, kita pasti akan menerimanya di surga. Walaupun demikian, upah dari Tuhan tidak seharusnya menjadi suatu insentif atau motivasi buat orang Kristen untuk berbuat baik.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita berbuat baik semata-mata karena Tuhan sudah lebih dulu berbuat baik. Kita tidak dapat membalas kasihNya, tetapi kita tetap berbuat baik sesuai dengan perintahNya yaitu dalam rangka pemberitaan kabar baik injili, dan agar nama Tuhan dipermuliakan.

“Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.” 1 Korintus 9: 17

Apakah anda mencari Yesus?

“Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada.” Yohanes 7: 34

Pernahkah anda merasakan kesulitan hidup yang luar biasa? Mungkin pada waktu itu anda lagi sakit, terancam bahaya, atau membutuhkan pertolongan. Anda mungkin membayangkan betapa enaknya jika Yesus ada disamping anda, secara nyata bersama anda menghadapi kesulitan itu. Atau, sekiranya Yesus lagi sibuk, barangkali Ia mau mengirimkan malaikatNya untuk melindungi anda?

Memang, jika dibayangkan, kalau saja Yesus itu seperti seorang penguasa dunia yang tidak ada tandingnya, kaya-raya, bijak dan murah hati, sungguh enak hidup orang Kristen jadinya. Setiap kali kita mengalami kesulitan, kita akan bisa menelepon atau menjumpai Dia untuk minta pertolongan.

Pada zaman Yesus di dunia, masyarakat Israel hidup dalam penindasan Roma. Mereka mengharapkan bahwa Mesias akan datang sebagai seorang pahlawan perkasa yang dengan pedang akan menumbangkan kuasa kaum penjajah. Dengan demikian, sebagian orang menduga bahwa Yesus akan membuat suatu revolusi melawan kerajaan Romawi. Tetapi, dalam ayat diatas Yesus menyatakan bahwa Ia bukanlah seperti yang mereka harapkan.

Di zaman ini, orang mungkin tidak lagi mendambakan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain, walaupun masih ada beberapa negara di dunia yang dijajah, baik oleh bangsa lain maupun bangsa sendiri. Kebanyakan orang ingin mendapatkan kemerdekaan dari kemiskinan, penyakit dan penderitaan jasmani lainnya. Mereka menginginkan kemakmuran, kesuksesan, kesehatan, umur panjang, penampilan yang mempersona dan hal-hal duniawi lainnya. Dan dengan demikian, banyak orang yang mengharapkan bahwa Tuhan akan memenuhi keinginannya.

Seperti apa yang terjadi pada saat Yesus di dunia, banyak orang yang mengira bahwa Tuhan ada untuk memberi kenyamanan hidup di dunia. Mereka menyembah tuhan mereka dengan tujuan untuk mendapat berkat materi. Begitu juga banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan adalah sumber kemakmuran, dan kemakmuran adalah tanda iman yang teguh. Mereka yang berpandangan sedemikian, tidaklah dapat menemukan Yesus dalam hidup mereka.

Pagi ini, Yesus berkata dalam ayat diatas bahwa jika kita mencari Dia untuk mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan jasmani, kita tidak akan bertemu dengan Dia, karena kita tidak tahu siapa Dia dan dimana Dia berada. Yesus adalah Tuhan yang sudah datang ke dunia, mati disalibkan dan bangkit agar kita mempunyai harapan masa depan.

Yesus sudah menyelamatkan jiwa kita, dan sekarang dipermuliakan di surga. Tetapi, Yesus jugalah yang sudah memberi seorang penolong yaitu Roh Kudus yang tinggal didalam hati setiap orang yang percaya. Hidup ini tidaklah mudah, dan memang penuh dengan perjuangan. Jika kita mencari Tuhan dalam bentuk berkatNya, kita tidak bisa menemukan Dia. Tetapi jika kita merasakan kehadiranNya dalam hati kita, kebahagiaan dan kecukupan akan datang dengan sendirinya.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3: 1 – 2

Tuhan itu mahakasih dan mahaadil

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apakah Tuhan mencintai setiap orang? Pertanyaan ini kelihatannya tidak sukar dijawab, tetapi sebenarnya bisa dan sudah menyebabkan kebingungan diantara banyak orang. Mereka yang belum percaya kepada Kristus mempertanyakan sifat mahakasih dari Tuhan, karena kalau Ia mahakasih, tentunya kasihNya adalah tanpa syarat (unconditional). Jika Tuhan mengharuskan mereka untuk percaya kepada Yesus agar tidak binasa, itu sepertinya tidak menunjukkan sifat mahakasihNya. Bagi sebagian orang Kristen, ayat diatas menyatakan sifat Tuhan yang mahakasih, tetapi juga yang mahakuasa, yang berhak menentukan siapa di dunia ini yang bisa percaya kepada Kristus untuk menerima keselamatan.

Terlepas dari apa yang dikerjakan Tuhan secara khusus pada diri setiap individu di dunia ini, ayat diatas merupakan kasih Tuhan yang tidak bersyarat: bahwa Ia pada hakikatnya ingin menyelamatkan seisi dunia. Ia memberikan AnakNya yang tunggal kepada seluruh umat manusia di bumi ini, baik pria atau wanita, kaya atau miskin, pandai atau tidak pandai, yang muda dan juga yang tua. Bahkan Ia mengirimkan Yesus kepada mereka yang sudah mempunyai kepercayaan lain.

Injil keselamatan sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia, seperti apa yang sudah diperintahkan Yesus kepada seluruh muridNya dalam Amanat AgungNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Dalam Amanat Agung ini, nyatalah bahwa uluran tangan kasih penyelelamatan Tuhan ini ditujukan kepada semua bangsa, seluruh umat manusia. Dalam usahaNya untuk menyelamatkan seisi dunia, Tuhan memerintahkan umat Kristen untuk pergi mengabarkan Injil, agar siapa saja yang percaya bisa mendapatkan hidup kekal.

Sekalipun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dalam hal memberi kesempatan bagi siapa saja untuk mendengarkan panggilanNya, tidak semua orang akhirnya menjadi pengikutNya. Tetapi, bagi orang-orang yang mau mendengar firmanNya, firman Tuhan serupa dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Mereka adalah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (Lukas 8: 15). Mereka menjadi orang yang benar-benar beriman, karena mereka menyambut uluran tangan Tuhan.

Bagi mereka yang benar-benar beriman, hidup lama mereka sudah diganti dengan hidup baru yang berpusat kepada Kristus, dan bukannya kepada hal-hal duniawi. Dari buah-buah kehidupan mereka, dapat terlihat apakah mereka benar-benar sudah mempunyai hidup baru (Galatia 5: 22 – 23). Mereka yang mengaku percaya tetapi tetap hidup dalam kedurhakaan, adalah orang-orang yang dengan sengaja menolak kasih Tuhan dan memilih untuk hidup diluar hukum Tuhan. Kepada mereka ini, murka Tuhan akan datang.

“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Roma 1: 18

Tuhan memang mengasihi setiap manusia dan ingin agar mereka diselamatkan, tetapi keselamatan tidak bisa diberikan kepada semua orang. Apakah sifat mahakasih Tuhan bisa menjadi berkurang karena adanya kesalahan manusia? Apakah Tuhan harus membiarkan manusia untuk bisa bebas berbuat semau mereka agar Ia bisa mempertahankan sifat mahakasihNya? Sudah tentu tidak, karena sifat mahakasihNya tidak dapat dipisahkan dengan sifat mahaadilNya yang juga berlaku untuk setiap orang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus mencintai semua bangsa di dunia. Semua bangsa di dunia, walaupun berbeda dalam agama, budaya dan bahasa, bagi Yesus mereka adalah sama dan tidak dibeda-bedakan. Mereka sudah diberikan kesempatan untuk melihat kasihNya dan menjawab panggilan keselamatanNya. Kita yang sudah pernah merasakan kasihNya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat bukanlah orang-orang yang istimewa, tetapi adalah orang-orang yang sudah seharusnya bersyukur atas kemurahanNya setiap hari.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Roma 5: 8 – 9

Harus makin cerdik

“Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan.” Amsal 13: 16

Salah satu meme yang lucu dan menarik perhatian saya baru-baru ini adalah “We live in the era of smart phones and stupid people” yang berarti “Kita hidup di zaman ponsel cerdas dan orang bodoh”. Betapa tepat dan akuratnya apa yang diutarakan meme ini!

Di zaman ini, memang mereka yang memiliki ponsel menerima banyak berita setiap hari, entah itu dari teman, atau pun dari orang lain yang berisi cuplikan berita, foto atau film yang kebenarannya seharusnya diragukan. Tetapi, seringkali berita tentang politik, kesehatan, ekonomi, dan bahkan hal mengikut Tuhan itu diteruskan dari orang yang satu ke orang lain tanpa disimak konteksnya atau hal benar salahnya. Semua orang agaknya menggemari aktivitas “share” dalam sosial media.

Bagi sebagian orang, menerima dan menyampaikan sesuatu ke orang lain hanyalah sekedar tindakan otomatis tanpa dipikir. Tetapi, hal sedemikian tentunya tidak dapat dibenarkan, sekalipun tidak bermaksud buruk. Bukan saja membagi berita palsu (fake news) itu membuang waktu, kegiatan itu sebenarnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan yang menyatakan bahwa kita harus melakukan apa yang betul-betul baik dalam hidup kita dan bukan sekedar ikut-ikutan saja. Lebih-lebih lagi, informasi yang keliru bisa saja membahayakan atau menyulitkan orang lain.

Mungkin ada orang yang berkukuh bahwa apa yang mereka sampaikan mungkin bisa berguna untuk orang lain, atau setidaknya bisa membuat orang tertawa geli. Tetapi, sebagai orang Kristen kita tidak boleh menyebarkan sesuatu yang kita sendiri tidak yakin hal benar salahnya, atau menyampaikan omong kosong yang bisa merendahkan atau menyinggung perasaan orang lain, karena semua itu bertentangan dengan etika Kristen yang berlandaskan kasih. Dalam hal ini, nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi dapat kita gunakan sebagai pemandu.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Pagi ini, sebagai orang Kristen kita diingatkan bahwa panggilan kita adalah memberitakan kabar baik tentang penebusan dosa dan keselamatan, bukan kabar palsu atau kabar buruk yang bisa mengacaukan pikiran pembaca. Karena itu, kita harus dengan bijaksana memastikan kebenaran dan faedah dari apa yang kita terima, sebelum meneruskannya kepada orang lain.

“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Roma 14: 19

Hal memberi nyawa untuk orang lain

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15: 12 – 13

Dua dokter Australia baru-baru ini menerima penghargaan Star of Courage dari pemerintah Australia untuk keberanian mereka dalam usaha menyelamatkan beberapa orang dari sebuah gua di Thailand. Kisah penyelamatan tim sepakbola yang terdiri dari anak-anak remaja dan seorang pelatihnya itu sudah disiarkan melalui berbagai media di seluruh dunia, dan bahkan kabarnya akan dituangkan dalam sebuah film.

Mengapa rescue mission, misi penyelamatan semacam itu sangat menarik perhatian publik? Ada beberapa penyebabnya, diantaranya adalah adanya kemungkinan hilangnya nyawa orang dan adanya orang yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Dalam ayat diatas, Tuhan Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk saling mengasihi, seperti Ia sudah mengasihi mereka. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Dalam Alkitab memang ada tertulis bahwa ada dua hukum yang harus kita taati yaitu untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita, dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri (Matius 22: 37 – 39). Kita harus menjalankan kedua hukum ini, yang merupakan inti seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Dengan adanya ayat-ayat diatas, haruskah kita selalu bersedia mengurbankan nyawa kita untuk orang lain? Tentu saja tidak. Secara umum, umat Kristen tidak dipanggil untuk itu, walaupun ada kalanya seseorang harus mengambil keputusan untuk bersedia mati untuk Tuhan dan juga demi keselamatan orang lain.

Orang Kristen tidak dipanggil untuk mengurbankan nyawanya, kecuali itu adalah kehendak Tuhan dalam keadaan khusus tertentu. Tetapi, apa yang diperintahkan Yesus adalah kesediaan setiap pengikutnya untuk bersedia memberikan apa yang terbaik untuk kehidupan orang lain, karena setiap orang Kristen sudah menerima anugerah yang terbaik melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Sebuah contoh bagaimana kita bisa berkurban secara maksimal untuk orang lain ada dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10: 30 – 37). Dalam perumpamaan Yesus itu, ada seorang Yahudi yang dirampok dan dipukuli di sebuah jalan yang sepi dan yang tidak aman. Dua tokoh agama Yahudi yang melihat korban perampokan itu terbaring setengah mati, tidak mau berhenti menolongnya. Sebaliknya, seorang Samaria yang tidak disukai orang Yahudi, justru tidak segan-segan menolong. Ia tidak takut untuk berhenti di tempat yang tidak aman untuk menolong sesamanya. Ia merawat luka-luka sang korban, dan kemudian menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan. Orang Samaria itu sudah menjalankan perintah Yesus.

Pagi ini kita belajar 3 hal praktis tentang kasih:

  • Kasih tidak mementingkan diri sendiri, tetapi selalu memikirkan kebutuhan orang lain.
  • Dalam kasih tidak ada ketakutan, Tuhanlah yang menguatkan dan melindungi kita dalam berbuat baik untuk sesama.
  • Karena Tuhan sudah menyatakan kasihNya untuk seisi dunia dan mengurbankan AnakNya, kita juga mau mengasihi semua orang semaksimal mungkin.

Semoga kita bisa makin hari makin bertumbuh dalam hal mengasihi.

Setia dalam suka dan dalam duka

Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2: 10

Membaca kitab Ayub 2, mau tidak mau kita membayangkan bagaimana hubungan Ayub dengan istrinya sebelum Ayub tertimpa berbagai musibah. Apakah istri Ayub hanya mencintainya dalam suka? Mengapa dengan datangnya duka, istri Ayub menyuruh Ayub untuk meninggalkan Tuhan dan mati (ayat 9)?

Bagi mereka yang pernah menghadiri upacara pemberkatan nikah di gereja, tentunya ingat akan isi janji pernikahan yang diucapkan kedua mempelai:

“Saya mengambil engkau menjadi istri/suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”

Dengan janji sehidup-semati ini, kedua sosok manusia itu kemudian diteguhkan sebagai suami dan istri untuk seumur hidup.

Jika pernikahan adalah antara dua manusia yang berbeda jenis dan latar belakangnya tetapi saling mengasihi, umat Kristen atau gereja bisa dibayangkan sebagai calon mempelai Kristus (Wahyu 21: 2). Sebagai orang percaya, kita mempunyai tekad untuk mengikut Yesus dalam segala keadaan, sekalipun kita mungkin tidak pernah diminta untuk mengucapkan janji untuk tetap setia kepada Yesus waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Yesus sendiri berkali-kali berjanji untuk menyertai umatNya untuk selamanya, dan bahkan memberikan Roh Kudus untuk menguatkan kita (Yohanes 14: 16).

Seperti banyak pernikahan manusia yang menjadi hancur karena adanya godaan, tantangan dan kesulitan hidup, banyak orang yang mundur dari imannya karena adanya berbagai persoalan hidup. Walaupun demikian, bagi kita, untuk tetap berpegang pada janji kesetiaan Tuhan dalam menghadapi kesulitan hidup, bukanlah hanya harapan. Bahwa Ayub yang hidupnya diterpa badai kehidupan yang begitu besar dan bahkan untuk sesaat seolah kehilangan dukungan istrinya, tetapi tetap setia dan beriman kepada Tuhan, adalah sebuah contoh bahwa mereka yang sudah pernah merasakan besarnya kasih Tuhan dalam hidup mereka, tidaklah mudah untuk mengingkari iman kepadaNya. Menarik sekali untuk menyimak bahwa karena kesetiaan Ayub kepada Tuhan dan kesetiaan istri Ayub kepada Ayub, Tuhan pada akhirnya memberkati Ayub dan istrinya dengan berkelimpahan (Ayub 42: 12 – 16).

Pagi ini, jika hidup kita mengalami persoalan besar, biarlah kita ingat akan janji Tuhan untuk menyertai kita. Dengan keyakinan akan kasihNya,sekalipun keadaan dan orang-orang di sekitar kita pada saat ini tidak bisa membantu kita, biarlah kesetiaan kita kepada Tuhan tetap kuat sebab Ia adalah Tuhan yang setia.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 8: 38 – 39

Pernah dikecewakan?

“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Matius 5: 11

Pernahkah anda merasa bahwa apapun yang anda kerjakan tidak mendapat sambutan yang baik dari orang lain? Dalam cerita-cerita klasik banyak dijumpai hal-hal semacam itu. Misalnya, seorang istri yang sudah seharian sibuk bekerja di rumah, mungkin mendapat celaan dari suami setelah ia pulang dari kantor. Demikian pula, seorang suami yang sudah bekerja keras mencari nafkah, masih menerima omelan istri. Hal-hal semacam ini memang bisa membuat orang merasa sedih dan bahkan frustrasi.

Diluar kehidupan rumah tangga, adanya celaan orang lain adalah umum. Seorang pekerja mendapat teguran dari boss nya karena membuat kesalahan adalah lumrah, tetapi jika ia dituduh melakukan kesalahan secara semena-mena, itu adalah hal yang menyakitkan. Walaupun demikian, hal sedemikian bukanlah sesuatu yang mengherankan karena dunia ini penuh dengan hal-hal yang jahat, yang tidak adil, dan yang tidak benar.

Ayat diatas menyatakan bahwa kita justru harus berbahagia jika kita dicela, dianiaya dan difitnahkan segala yang jahat karena mengikut Yesus. Mengapa demikian? Ayat berikutnya berbunyi:

“Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Matius 5: 12

Dari kedua ayat diatas, dapat disimpulkan jika kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan nama Tuhan, tetapi mendapat perlakuan yang tidak baik dan bahkan dijahati orang lain, kita tidak perlu berkecil hati karena hal semacam itu sudah pernah terjadi pada saat yang lalu. Tuhan akan menghargai jerih payah kita.

Memang, jika kita mau menderita demi Kristus, kita akan dimuliakan bersama Dia di surga. Masalahnya adalah dalam hidup ini, kita juga bisa dicela dan dianiaya dan difitnah karena hal apapun. Apakah ada gunanya bagi mereka mengalami penderitaan semacam itu? Jawabnya: bisa ada atau tidak ada.

Mereka yang dicela dan difitnah mengenai hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kemuliaan Tuhan, sudah tentu harus bisa menanggungnya sendiri. Apalagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, mereka adalah individu yang percaya bahwa mereka hidup dan bekerja untuk dirinya sendiri. Jika mereka mendapat keberhasilan, itu adalah untuk diri mereka; dengan demikian, jika mereka mendapat kegagalan, kesulitan ataupun penganiayaan, itu adalah persoalan yang harus mereka selesaikan sendiri. Tentu saja hal ini tidak bisa mendatangkan kebahagiaan.

Sebaliknya, mereka yang percaya kepada Tuhan yakin bahwa dalam hidup mereka tidak berjalan seorang diri. Tambahan pula, segala yang dilakukan mereka adalah untuk kemuliaan Tuhan.

“….Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dengan demikian, jika apa yang mereka perbuat tidak mendapatkan tanggapan yang baik dari orang lain, mereka tetap yakin bahwa semua itu tidak sia-sia di mata Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita teringat berapa banyak kita pernah dikecewakan orang lain. Mungkin sering maksud baik kita justru membuat orang lain marah dan dendam kepada kita. Tetapi semua itu tidak perlu membuat kita sedih atau kecewa, jika kita memang hidup untuk Tuhan di setiap saat.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17